What do you think?
Rate this book


224 pages, Paperback
Published June 1, 2014
"Ada dua macam dosa yang dimiliki oleh manusia. Dosa-dosa yang lain akan muncul karena dua hal ini, yaitu sifat tidak sabaran dan rasa malas. Kafka mengingatkanku bahwa Adam dan Hawa dulu diusir dari surga karena tidak sabaran. Mereka juga tidak bisa lagi kembali ke surga karena rasa malas." --- hlm. 32
Cakep! Demikian kesan pertama saya saat membaca buku ini. Rada melenceng dari bayangan semula ketika membaca blurb-nya. Buku ini ternyata lebih dari sekadar cerita kehidupan cinta pasangan Pape dan Popo. Kisah-kisah cinta yang terangkum di dalam buku ini adalah cinta yang universal.
Diawali dengan cerita tentang ikan paus yang menemukan "jati dirinya" saat berjumpa lautan, membuka lembar-lembar berikutnya kita akan disuguhi sejumlah kisah kehidupan yang berwarna-warni. Sebagaimana penamaan tiap bab dalam buku ini yang menggunakan warna-warna pelangi.
Ada cerita tentang keluarga, pasangan, orangtua, persahabatan, kenangan masa kecil, guru kesayangan, sedih, senang, jatuh cinta, kecewa, dan banyak lagi cerita yang mengajarkan tentang arti cinta sejati. Kesemuanya disampaikan dengan bahasa yang liris dan filosofis, serta gambar-gambar dengan warna yang lembut membuat mata sejuk.
"Kita memerlukan orang munafik yang berbuat baik, mau itu tulus atau tidak. Daripada orang yang sekadar ingin melakukan kebaikan saja." --- Hlm. 151
"Keberuntungan akan didapatkan oleh mereka yang menyambutnya dengan tangan terbuka." --- Hlm. 213
Tidak ada yang namanya "cinta masa depan".
Cinta itu tindakan yang hanya dilakukan pada masa sekarang saja.
Kalau saat ini kita tidak dapat melihat cinta,
itu karena kita tidak punya cinta.
-Tolstoy
(hlm. 35)
(aku suka sekali bagian "cinta itu tindakan yang dilakukan pada masa sekarang saja")
Pada hari pertama tahun ajaran baru,
aku punya seorang teman yang ramah.
Dia selalu terbuka, berbeda dengan diriku yang pemalu.
Hubungan kami semakin akrab.
Namun, seiring berjalannya waktu, temannya bukan hanya aku.
Dia juga akrab dengan teman-teman yang lain.
Saat melihatnya akrab dengan mereka, aku merasa kecewa.
Perasaan itu terus kupendam.
Akhirnya hubungan kami tidak seakrab dulu.
(hlm. 39)
(Aku merasakan perasaan ini, karena aku pernah mengalaminya. Sangat mengena sekali)
Cinta itu seperti cermin.
Ketika kita berdiri di depan cermin, kita akan melihat bayangan kita sendiri.
Karena itulah, kita harus selalu tersenyum.
Kita harus lebih dulu bahagia,
jika ingin membahagiakan orang yang kita cintai.
Kita harus mengasihi diri kita sendiri dulu,
jika ingin mengasihi orang yang kita cintai.
(hlm. 43)
Ketika ketulusanku disalahtafsirkan,
ketika yang terjadi berbeda dari yang kuharapkan,
ketika teman yang kucintai pun berpaling,
ketika aku ingin menyerah karena beban yang kutanggung terasa begitu berat,
ketika aku tidak bisa berharap kepada siapa pun,
ketika aku merasa kesepian di dunia ini ....
Pada saat-saat seperti itu, diam-diam kupanggil diriku sendiri.
Kuhibur diriku sendiri sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan hati diiringi air mataku yang mengalir.
"Aku ingin menghapus bersih segala kebencian dan kesedihan yang ada di dirimu."
"Aku ingin membersihkannya hingga kau kembali ceria."
(hlm. 84)