Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Permasalahan yang dihadapi Frea, Liquor, dan Night semakin rumit saja. Ketiganya harus membenahi kekeliruan yang mereka lakukan, sekaligus bertarung dengan perasaan masing-masing.

Di lain sisi, Frea semakin mengenal Liquor, sedikit demi sedikit. Dia memahami luka pemuda itu, mengetahui masa lalunya, juga terus berusaha mengobati hatinya.

Namun, tepat saat Frea menyadari betapa dia mencintai Liquor, sesuatu terjadi. Masalah baru yang luput dari perhitungannya.

242 pages, Paperback

First published February 1, 2016

3 people are currently reading
141 people want to read

About the author

Prisca Primasari

37 books678 followers
English Literature graduate. A sleeping witch who loves pastel goth, sugar, spice, and everything nice.

Her hobbies are writing, traveling, reading all kinda literary works, watching movies and anime, and listening to music.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (29%)
4 stars
71 (47%)
3 stars
26 (17%)
2 stars
7 (4%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 62 reviews
Profile Image for Maggie Chen.
145 reviews85 followers
July 11, 2017
EDIT: Tonton wawancaraku dengan Kak Prisca Primasari yang membahas seputar Love Theft di >> https://youtu.be/YzQFU_FbzHA << Ayo yang kepo sama Liquor, Night, Frea! ♥

Review juga dapat dibaca di >> http://iamnumberthirteen.blogspot.co....

Buku ke-2 Love Theft bercerita mengenai kelanjutan kisah Coco Kartikaningtias dengan kalung Tiffany&Co. miliknya yang dicuri oleh Liquor. Jujur, aku tidak menduga ceritanya akan berkembang menjadi seperti ini. Selagi menunggu buku ini terbit, aku membayangkan cerita akan dipenuhi dengan adegan action atau tipu daya. Setelah membaca berlembar-lembar halaman awal pun aku masih yakin bahwa cerita akan dipenuhi adegan action menjelang chapter-chapter akhir. Dan ternyata, aku salah besar. Setelah mencapai pertengahan buku, aku langsung menyadari bahwa 'Ah,.. pada akhirnya memang buku ini lebih menitikberatkan unsur romance.'

Anehnya aku malah suka, walau alurnya tidak sesuai dengan dugaanku. Aku suka bagaimana buku ke-2 Love Theft lebih sentimentil dari buku pertama. Buku ini tidak menitikberatkan pada action, melainkan perkembangan karakter-karakter di dalamnya. Melalui buku ini, kita akan jauh lebih mengerti karakter Liquor, Night, dan juga Frea sendiri. Dan lagi-lagi anehnya, walau di buku pertama aku jauh lebih memilih Liquor daripada Night. Di buku kedua, aku malah lebih tertarik pada Night (maafkan aku, Liquor).

Karakter Night yang pintar mengendalikan emosi di berbagai keadaan, bijaksana, cerdik, dan juga seorang pemikir, sangat terlihat di dalam buku ini. Dan kurasa hal itulah yang membuatku jatuh cinta pada Night.

Berbeda dengan Liquor, yang justru di buku ini terlihat sangat tidak stabil. Jika di buku pertama ia terlihat kaku dan sedingin es, di buku ini ia banyak menampilkan kerapuhannya. Banyak sekali hal tentang Liquor yang diungkap dalam buku ini. Mulai dari hal kecil seperti mengapa ia memilih jaket bermotif garis-garis hitam putih. Hingga hal besar seperti, nama asli Liqour. (PENASARAN, KAN? :D) Yang jelas, setelah tahu lebih detail mengenai asal-usul Liquor, mendadak bayangan Liquor di benakku bertambah ganteng 100x lipat.

Sementara Frea di awal buku ini berubah menjadi sedikit menyebalkan bagiku. Maklum, aku selalu membenci karakter yang buta akan cinta. Maksudku, ia tahu bahwa ia mencintai orang itu, tapi ia selalu menolaknya, selalu mengatakan bahwa itu bukan cinta. Haduh Frea, aku di sini menanti cinta datang dan kamu malah menepis cinta jauh-jauh... (((LOL))) Jika di buku pertama aku mengeluh karakter Frea 'tertutup' oleh Night dan Liquor, di buku ini Frea sudah terasa lebih mencolok.

Tarantula masih muncul (syukurlah) walau sama seperti buku pertama, kemunculannya sangat minim. Dan aku semakin positif ingin membaca side story atau novel khusus tentang Tarantula. Sekali lagi, Hacker is kinda hot. Jadi, Kak Prisca Primasari, tolong ya novel khusus Tarantula-nya. Ditunggu. :))

Ada karakter baru dalam bagian ke-2 Love Theft ini. Karakternya adalah seorang wanita bernama samaran Grasshoper yang dijelaskan sebagai penderita manik-depresif (bipolar). Dan lagi-lagi, aku dibuat penasaran oleh karakter sampingan lainnya selain Tarantula. Aku ingin tahu apa yang menyebabkannya menderita gangguan bipolar? Masa lalunya terlihat begitu menarik.

For your information, untuk kalian semua pecinta Liquor, ada banyak sekali adegan di dalam buku ini yang tentunya akan membuat kalian tersenyum sendiri. Dan ada satu adegan yang benar-benar menjadi favorit-ku dari keseluruhan seri! Itu adalah adegan dimana Liquor menunjukkan kepada Frea keindahan dari ngengat. Bahwa ngengat tidak kalah indahnya dari kupu-kupu. Entah mengapa, adegan itu menjadi adegan favoritku dari keseluruhan seri. Mungkin karena aku sendiri jauh lebih memilih kupu-kupu daripada ngengat. Dan kini pandanganku akan hal tersebut berhasil diubah oleh Liquor.

Menurutku Kak Prisca cerdik dalam mengasosiasikan binatang tertentu dengan karakternya. Karena sekarang setiap kali aku melihat kupu-kupu atau ngengat, aku akan langsung teringat Night dan Liquor! Walau aku harap, aku tidak akan pernah melihat tarantula atau belalang sembah sih... Gak usah deh kalau yang itu :")

Sama seperti aku yang tidak dapat menebak perkembangan alur, aku juga tidak dapat menebak ending ceritanya. Aku benar-benar tidak pernah membayangkan cerita akan dibawa ke arah sini. Menarik, sungguh. Dan juga merupakan ending yang tepat menurutku. For the sake of memberikan pesan moral tambahan pada cerita. Walau jujur, aku merasa ending-nya sedikit dragging. Aku akan lebih menikmati buku ini seandainya cerita dikurangi sekitar 50 halaman.

Aku juga menyukai penyelesaian masalah Frea. Ya, masih ingat kan masalah Frea yang diungkapkan di awal buku Love Theft #1? Frea yang kesulitan beradaptasi di sekolah musiknya, yang enggan untuk bermain biola lagi. Penyelesaian masalahnya menurutku tepat. Dan tentunya aku senang sekali Kak Prisca tidak melupakan masalah ini dan tetap memberikan fokus yang pas pada kehidupan 'normal' Frea.

Aku lagi-lagi dikejutkan dengan pengetahuan musik Kak Prisca. Walau buku ke-2 ini tidak memungkinkan Kak Prisca untuk mengeksplorasi musik lebih jauh, tapi tetap saja ada beberapa judul lagu klasik yang asing di telingaku. Merupakan kesenangan tersendiri jika dapat menambah koleksi lagu klasik ketika membaca atau menonton sesuatu yang mengandung unsur musik klasik.

Jika di review Love Theft #1 aku tidak terlalu memperhatikan mengenai cetakannya, sekarang aku ingin memberikan pujian kepada Kak Prisca. Salut karena dapat menerbitkan buku dengan cetakan sekelas penerbit mayor!

4 bintang untuk Love Theft #2 karya Prisca Primasari

1 bintang untuk Liquor
1 bintang untuk Night
1 bintang untuk Frea
1 bintang untuk Tarantula

P.S. Kalau Kak Prisca menciptakan satu lagi karakter cowok keren mungkin aku akan memberikan 5 bintang untuk Love Theft #2. (((Bercanda)))

P.P.S 275 hari lagi Liquor!!!!

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian yang menyukai cerita manis, cerita dengan karakter-karakter yang menarik, cerita romance anti-mainstream, dan juga cerita yang terasa sedikit manga-ish.
Profile Image for larashati.
94 reviews7 followers
June 12, 2021
okee, jadi kalo dibandingin dengan buku pertamanya jelas aku lebih suka ini, karena disini terdapat latar belakang tokoh-tokohnya, dan yang jelas lebih heboh. sebenarnya aku kepengen banget ngasih bintang 4 untuk buku ini, tapi ternyata cukup di 3.5 aja :') karena ada beberapa alasan, seperti penggunaan 'sayah' alih-alih 'saya' pada dialog Coco (mungkin ini agar terdapat kesan 'kemayu' di coco nya, tapi aku lebih suka bahasa yg baku saja), penggunaan 'Coco Kartikaningtyas' alih-alih 'Coco (saja)' (untukku ini rada aneh, karena disini hanya ada 1 Coco, sehingga tidak perlu penegasan ulang agar pembaca paham Coco mana yang dimaksud), lalu pada bagian scene polisi saat menangkap, jujur ini khas sinetron indo banget,"tangkap dia pak", "kan benar kalian blablabla", etc, dan yang terakhir, penyelesaiannya terlalu simple, kurang heboh, kurang sesuai dengan kehebohan awalnya.
Profile Image for Lelita P..
630 reviews59 followers
March 27, 2016
Begini. Saya bukan orang yang sangat cerah maupun sangat gelap. Namun, perjalanan hidup membentuk saya menjadi orang yang sangat rasional. Saya selalu toleran untuk cerita-cerita fantasi atau anime atau cerita fiksi, tapi.... saya merasa Love Theft #2 ini too good to be true. Dan jujur, itu agak menyakiti hati saya yang tahu bahwa hidup tidak semudah itu, bahwa berdamai dengan perasaan tidaklah semudah itu.

Saya suka Love Theft #1. Sangat komikal, dan seperti yang telah saya tulis di review, saya nggak keberatan dengan segala kemustahilannya karena--sekali lagi--saya anggap itu komikal saja. Tapi di Love Theft #2 ini... wah. Bagaimana ya. Ending-nya memang rapi dan clear, seluruh masalah selesai dengan baik... tapi itu bukan ending yang saya bayangkan. (Sebetulnya saya juga nggak tahu ending apa yang saya bayang/harapkan.)




Saya kagum Mbak Prisca bisa menulis buku yang ada kriminal-kriminalnya tapi tetap berbalut rasa manis lembut khas tulisannya. Saya bisa merasakan Love Theft bukan sekadar karya, melainkan suatu proyek pribadi yang memang Mbak Prisca mencurahkan seluruh dirinya ke dalamnya. Pasti senang banget ya bisa mewujudkan novel impian... apalagi sambutannya bagus. ^^

Terlepas dari kekurangan ini-itunya, dan dari segala kemustahilannya yang lagi-lagi saya toleransi karena saya anggap kayak baca komik aja, saya menikmati novel ini. Mbak Prisca masih punya sihir itu, kekuatan untuk membuai pembaca dengan kalimat-kalimatnya yang lembut dan manis. Saya paham Mbak Prisca suka akhir bahagia dan saya pun begitu, jadi meski saya tidak terlalu terkesan dengan ending di antara Liquor dan Frea (entah kenapa), saya tetap menyukai novel ini. Bacaan ringan dan pastinya menyentuh bagi mereka yang hatinya lebih lembut daripada saya.

Makasih sudah menulis dua buku ini, Mbak Prisca. Ditunggu karya-karya selanjutnya. Berharapnya sih yang setipe Priceless Moment. :)



Profile Image for Dini Afiandri.
Author 4 books17 followers
March 3, 2016
Saya cukup beruntung karena berhasil memesan buku ini di masa pre-order dan mendapat bonus pembatas buku kain felt yang manis dan khas buatan tangan.

Sebelumnya, saya sudah membaca buku pertamanya, dan ada banyak pertanyaan dan ketidakpuasan setelah membaca buku itu. Di buku kedua ini, ternyata seluruh pertanyaan dan ketidakpuasan saya terjawab sudah. Saya sangat puas membacanya, ada banyak kalimat yang terasa dramatis dan powerful untuk saya. Karakter-karakternya semakin indah, dan dialog serta narasinya terasa lebih cerkas (witty) dibanding novel sebelumnya, misalnya Evergreen. Penggunaan ngengat yang lekat dengan Liquor akhirnya menjadi masuk akal di buku ini, dan semua misteri di buku pertama terjawab.

Yang menjadi sorotan utama saya di buku ini adalah bahwa karakter Night menjadi semakin indah saja. Mengutip kata-kata mbak Prisca, Night adalah "karakter yang indah baik secara fisik, karakteristik, maupun hati." :')
Rasanya sulit membayangkan ada pria cantik yang seramah, selembut, dan sesempurna Night. Saya termasuk fangirlnya, (Ehem...) dan ada banyak momen di buku ini tentang Night yang bikin saya heboh sendiri.

Saya senang sekali karena kemampuan pencurian di buku ini naik level. Night jadi terlihat sangat keren di mata saya, dan masa lalu Liquor sebelum bergabung dengan sindikat Arthropods pun dikisahkan dengan bagus.
Berbicara tentang Liquor, di buku ini Liquor sangat menakjubkan dengan kerapuhannya. Sikap dingin dan cuek Liquor adalah topeng baginya untuk menutupi sisi rapuhnya yang takut untuk mencintai karena takut kehilangan. Karakter Frea pun tergambarkan dengan lebih mantap, lebih dari sekedar gadis melankolis yang menjadi sidekick Night dan Liquor.

Buku kedua ini sangat menguras emosi pembaca. Saya tidak bisa membayangkan banyaknya drama yang dialami mbak Prisca saat menulisnya. Kisah Frea dan Liquor sangat menyentuh, pahit manis, dan juga tragis. Saya mampu bersimpati dan mengagumi para tokohnya, juga kesal setengah mati pada karakter antagonisnya, Coco (yang ternyata logat Sundanya dibuat-buat agar seakan dia polos, padahal....) dan ini jarang saya temui pada novel-novel roman yang pernah saya baca.

Akhir kata, saya sangat mendukung seri Frea Rinata untuk dilanjutkan ke buku ketiga dan keempat. Saya ingin melihat pernikahan Frea dan Liquor, konser kolaborasi Frea dan Night, anggota Arthropods yang lain seperti Sand dan Dick, bahkan mungkin pasangan untuk Tarantula (sepertinya dia cocok dengan Grasshopper). Saya akan langsung masuk ke antrean pembeli, semoga dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi. Semangat terus mbak Prisca, semoga buku selanjutnya bisa lahir dengan selamat.

Salam dari penggemar setia Night dan pembaca yang bersimpati pada Liquor. :)
Profile Image for Denilasari.
44 reviews2 followers
March 2, 2016
Waaahh this book just make my day! Gak seperti buku yang pertama, buku kedua jauh lebih baik karena lebih memiliki plot dan konflik yang nyata.
Masih dengan konflik yang sama, coco kartikaningtias, namun dengan konflik yang lebih berat.
Dan seperti yang di janjikan mbak Prisca, di buku kedua ini kita akan tahu siapa nama asli night dan liquor, beserta kelamnya masa lalu mereka. Tokoh2 dengan nama alias lainnya juga muncul walau porsinya sedikit, tapi tetap membuat buku ini semakin menarik, apalagi kita juga berkenalan dengan istri night yang selama ini, jujur saja, membuat saya penasaran setengah mati haha.

Saya gak akan bercerita bagaimana kisah ini dimulai, karena yang baca love theft 1 pasti tau permasalahannya apa, dan buku ini masih menjadi kelanjutan di konflik buku pertama, jadi terkalah...
Selalu dalam setiap buku mbak prisca, saya selalu dilingkupi perasaan hangat setelah selesai membacanya. Hangat seperti teh aroma chestnut yang disuguhkan night kepada frea, yang bikin saya susah sekali merelakan buku ini untuk tamat.

Saya bisa saja memberi buku ini 5 bintang, tapi saya memilih memberi 4 bintang karena masih ada beberapa kebetulan yang gak masuk akal yang gak sewajarnya menjadi kebiasaan pencuri ulung, seperti night tidak mengunci pintu studionya atau grasshopper yang tidak mengunci pintu belakang rumahnya, dan lagi-lagi hal itu di jelaskan oleh penulis sebagai hal kebetulan. Dari buku pertama, terlalu banyak "kebetulan2" ceroboh seperti itu, kalau orang biasa yang menjadi tokoh utamanya mungkin saya maklum akan hal itu, tapi karena pencuri ulung yang melakukannya... Wah, mereka baru aja membuat kesalahan fatal.
Ah iya satu lagi, aku gak tau alasan mbak prisca bikin love theft ini dalam 2 jilid. Tapi menurut aku, buku ini bisa saja di kemas dalam 1 jilid walaupun jadinya akan tebal, namun keseluruhan cerita akan terbungkus baik jika hanya 1 jilid. Honestly, book #1 left me very unsatisfied. Alasannya kenapa, baca aja review aku di love theft #1
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
March 8, 2016
Yang sudah baca buku pertamanya Love Theft #1 pasti penasaran tahu kelanjutan kisah Frea, Liquor dan Night. Setelah selesai membaca novel ini, makin jatuh cinta dengan tulisan Kak Prisca...

Review selengkapnya menyusul ya :)
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
March 24, 2016
"Aku tahu dia tidak mimpi menyedihkan, karena di dahinya tidak ada kerut samar seperti yang dimiliki Night, dan wajahnya tidak gelisah seperti kapan hari. Dia pun pasti tidak bermimpi indah, karena bibirnya tidak dibayangi senyuman.
Dia begitu hampa. Kosong."
Sejak menyelesaikan buku pertama dari duologi Love Theft ini, aku sangat menantikan kelanjutan ceritanya karena masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Dan untungnya Prisca Primasari memuaskan rasa penasaranku di buku kedua ini. Pada bagian awal buku ini penulisnya merekap kembali apa yang terjadi di buku sebelumnya bagi pembaca yang mungkin lupa. Masih tetap ditulis dengan sudut pandang pertama Frea, ceritanya melanjutkan konflik dari buku pertamanya—yaitu kasus pencurian yang melibatkan kalung Coco Kartikaningtias. Alur ceritanya berjalan sedikit lambat karena di sisi lain ceritanya juga menggali karakter Night dan Liquor lebih dalam lagi. Aku tidak akan menceritakan terlalu banyak tentang alurnya dalam review ini agar tidak spoiler bagi yang belum baca; yang jelas aku dibuat cukup terkejut dengan identitas Coco Kartikaningtias yang sama sekali tidak aku duga. Semakin ke belakang, ceritanya semakin terfokus pada kisah percintaan Frea dan Liquor; serta keputusan besar yang mereka ambil setelah melalui berbagai masalah yang pelik. Buku ini ditutup dengan sebuah ending yang manis dan keseluruhan ceritanya berhasil menjawab semua rasa penasaran yang aku miliki di buku pertama.
"Itulah yang dia takutkan... ditinggalkan, dilupakan. Dia takut masa lalunya akan terulang dan menghantuinya lagi."
Para penggemar Liquor akan sangat puas dengan buku ini, karena masa lalunya yang kelam dan penuh luka diungkapkan secara detail. Bahkan kali ini pembaca dapat mengetahui nama Liquor yang sesungguhnya. Aku sangat menyukai perkembangan karakternya yang perlahan-lahan mulai berhasil bangkit dari segala keterpurukan dan mulai menyembuhkan hatinya. Dimulai dari memaafkan orang yang pernah melukainya dan juga memaafkan dirinya sendiri atas apa yang pernah ia lakukan. Aku juga turut senang untuk karakter Night! Di antara ketiga karakter utama, aku rasa aku paling menyukai Night. Walaupun ada adegan yang sedikit membuatku tegang dan khawatir, aku bersyukur karena semuanya berakhir dengan baik :))
"Tidak ada ucapan selamat tinggal. 'Selamat tinggal' berarti penghormatan terhadap sesuatu yang dicintai, sementara yang dia tinggalkan hanyalah rasa sakit, rasa kecewa, dan kepahitan.
Dia tidak mencintai itu semua."
Duologi Love Theft ini menyuguhkan kisah cinta yang cukup unik karena dibumbui aksi pencurian yang menegangkan. Meskipun aku tidak sepenuhnya puas dengan alur ceritanya, aku tetap menikmati cara penulisnya yang berhasil terus membuatku penasaran. Pembaca yang menikmati karya-karya terdahulu Prisca Primasari pun pastinya akan menyukai tulisannya dalam duologi ini. Akhir kata, aku ingin berterimakasih pada Prisca Primasari yang sudah berbaik hati mengirimkan buku ini untuk aku baca dan review. Semoga ke depannya dapat terus menerbitkan karya yang bisa dinikmati oleh pembaca ;)

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2016/0...
Profile Image for Wardah.
952 reviews171 followers
September 18, 2017
Buku 1 masih saya nikmati, tapi buku 2 ini saya nggak begitu suka.

Pertama, Frea. Di buku satu saya merasa oke, tapi di buku dua entahlah too good to be true.

Lalu, akhirnya. Konflik-konflik terselesaikan dengan terlalu mudah dan cepat. Belum lagi akhir yang dipilih bagi tokoh-tokohnya. Rasanya nggak memuaskan.

Terakhir, saya kurang merasakan gejolak para karakter ketika penyelesaian konflik, apalagi Liquor. Padahal sedari awal saya pikir bakal bergejolak karena karakter​isasi Liquor.

Ulasan lengkap nanti sekalian di versi baru!
Profile Image for Rere.
192 reviews
June 11, 2016
I started reading it in April but just finished it! Well, I've got a pile of work to do so yeah it takes some time, tapi akhirnya saya bisa menyelesaikan Love Theft #2. Kisah Love Theft masih berlanjut ke buku kedua, dengan buku pertama berakhir pada kasus pencurian kalung sosialita bernama Coco yang - menurut saya - tipe yang cukup saya tidak sukai. Just in my opinion though.

Di buku kedua ini kita juga tidak hanya akan disajikan kisah Liquor dan Frea, tapi juga Night dan istrinya, Akiko. Apa yang menyebabkan perceraian mereka sebenarnya dan apa yang terjadi, kalian bisa membacanya langsung. Yang pasti saya cukup terharu membaca bagian hampir akhir buku ini. Dan juga, ada pelajaran yang saya sukai dari buku kedua ini. Tentang memaafkan dan dimaafkan. Tentang mulai menghargai mereka yang ada di sekitar kita. Tentang seseorang yang tidak akan menyerah pada orang yang disayanginya. Dan tentang mulai mempercayai orang lain tanpa harus meragukan niat mereka.

Saya pernah bilang kalo mbak Prisca punya cara unik menggunakan kata-kata, seperti karya Lauren Oliver, Liesl & Po . Her stories are a combination of sweetness and bitterness, light and dark, permen, cokelat dan kopi pahit, dan sebagian besar - yang sudah saya baca selama ini - memang begitu. Novel ini memang sangat mbak Prisca, if you know what I mean.

So I quite like this novel and I think this novels deserves to get 4.5 stars. Favorit saya, tetap dari buku pertama dan tidak berubah, si gadis tegar Frea dan musisi jenius yang cantik Night. Oh dan juga si bad boy Tarantula. Menurut saya Tarantula bertindak seperti seorang kakak bagi Frea, and I like their interaction. Buat yang penasaran dan pengen baca, kalian nggak akan menyesal. Agak dark, tapi tetap menarik dibaca.

Akiko-san bilang, hidup adalah tentang menunggu. Dan, itulah tepatnya yang kulakukan sampai Liquor bebas nanti, sampai kami bisa bersama setiap hari, saling mengikat janji, menua bersama, dan hidup dengan jauh lebih baik. (Frea - Love Theft #2, hal. 211)

Thank you for making such amazing work. I'm always in love with your works. Dan bagi para pembaca yang lain, May Night steal your heart .
Maaf, Saya nggak bisa mengatasi charm Liquor, jadi Night aja deh.

P.s.: Mbak Prisca, saya tunggu lagi karyanya yang katanya bakalan terbit di tahun 2016 ini. From one of your fans.

P.s. lagi: Saya sudah ketemu Night versi manusia, alian Hyde dari Laruku, si om yang awet muda. Masih belum ketemu Liquor versi manusia sih. :D
Profile Image for Autmn Reader.
882 reviews92 followers
July 16, 2020
Ini beneran 5 🌟 banget, sih. Kenapa ya, baca yang kedua kalinha dan menurutku kerasa lebih emosional. Akhir-akhir bukunya tuh bikin aku berkaca-kaca mulu. Kayaknya sekarang aku udah berubah jadi cewek yang gampang terharu. Baca side storynya aja ku sedih. Yampuuuuun, wkkwkw

Bahkan, nih, bagian Klimaks. Pas si Coconya kurang asem ama Liquor, aku sedih.

Ngomongin soal Coco Kartikaningtias, dia ini... Ampun deh, gak berpikir panjang. Ceroboh banget kalau menurutku. Kayaknya asyik ya kalau ada kelanjutannya soal Coco, gmna kalau dia ketemu lagi sama 3 serangkai ini. Ahahaha

Karakter yang dibangun pun berkembang seiring berjalannya cerita. Aku bisa ngerasain perkembangan karakter Frea, Liquor, dan Night di cerita ini. Kak Prisca bisa memberikan kekurangan serta kelebihan pada karakter-karakternya sehingga karakter yang ada dalam cerita terasa manusiawi. Walaupun kadang ngerasa terganggu ama pengulangan deskripsi tentang betapa cantiknya Night atau kelamnya Liquor. Walaupun gak terganggu banget, sih. Biasa aja.
Profile Image for Rifani Magrissa.
129 reviews6 followers
May 29, 2018
Re-read

Review lengkap di sini : Love Theft

Setelah membaca dua novel ini, satu memahami bahwa setiap dari kita selalu mempunyai kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik.

Novel kak Prisca yang satu ini terlalu manis😍😍 lama kelamaan kok saya jadi suka si Night dan Tarantula. Haduh.
Profile Image for Air.
154 reviews13 followers
October 31, 2016
nggak sabar nunggu Lovely Heist! :-D
Profile Image for Shelly.
Author 2 books44 followers
December 11, 2016
Elegan.

Satu kata itu sayah rasa sudah cukup mewakili cerita Love Theft. Kalau di novel pertama lebih fokus pada unsur crime-action-misteri, di novel kedua ini cerita memiliki elemen tambahan romance yang cukup kuat. Bagaimana pun juga, bahkan sampai halaman terakhir buku ini, kesan elegan tetap tak pudar (halah). Maklum, LT ini adalah karya pertama kak Prisca yang sayah baca dan sayah sudah jatuh cinta dengan gaya kak Prisca dalam LT. Fix lah kak Prisca juga jago 'mencuri' hati pembaca xD

Plot-nya cukup kompleks. Sayah rasa novel ini bukan hanya menggunakan plot driven, tapi juga character-driven. Artinya, cerita nggak hanya berkembang dalam plot, tapi juga dalam karakter.

Karakter yang paling sayah suka adalah Night >,< (omg he's so damn perfect) dan bagian Night yang paling sayah suka adalah ketika Night mencuri sekaligus mengendarai mobil Ferrari sambil dadah-dadah ke lautan manusia di sekitarnya HAHAHAHAHAHAHA. Bagian paling favorit itu waktu Night, Liquor, dan Frea mencuri dan kepergok oleh anak kecil, akhirnya Night membuka topeng dan bilang, "Kami peri kupu-kupu." sambil mengeluarkan kupu-kupu putih dari mason jar. Lalu, sayah bisa membayangkan bagaimana ekspresi Liquor waktu membuka topeng dengan enggan karena disuruh oleh Night. HAHAHAHAHAHA di situ sayah ngakak.

Kalau momen Frea-Liquor, sayah suka adegan mereka berdua bertemu untuk yang pertama kalinya. Di situ Frea keren. Banget. Liquor juga, sih. Hehe.

Buat yang bertanya-tanya ada apa di balik kata 'sayah' di sini yaitu karena karakter Coco Kartikaningtyas (mudahan sayah nggak salah nulis nama ini) memang bicara dengan gaya yang demikian, yang mana kata 'saya' dia ucapkan 'sayah'. Sebegitu kuatnya cerita LT memengaruhi sayah, ya? Tapi memang begini adanya. Sayah suka dengan semua karakter di LT, tbh. Dan karakter Coco ini unik, asik, sekaligus minta dicekik HAHAHAHA. Salut pokoknya buat character development semua tokoh dalam LT. Matang.

Ada sayah, ada labah-labah. Mungkin kata 'labah-labah' di sini sengaja dibuat seperti ini alih-alih menjadi 'laba-laba', tapi karena sayah udah menikmati cerita ini dari awal, hal ini nggak masalah buat sayah.

Gaya bahasa para tokoh dalam dialog menggunakan 'saya-kamu', tapi uniknya semua dialog nggak ada yang terkesan kaku. Justru keren, loh. Belum lagi unsur musikal yang seolah dapat sayah dengar melalui biola Frea dan piano Night. Tambah lengkap aja nih kualitas Love Theft.

Ah, Love Theft keren pokoknya. Oya, satu lagi. Ada momen gereget tentang Tarantula. Tarantula yang adalah seorang hacker ternyata sampai memasang cctv di mobilnya segala. Di situ sayah rasanya pengin bilang ke Tarantula, 'kamu itu hacker apa pemburu hantu, Tar?'

Oke. Abaikan. Itu hanya pemikiran absurd sayah :v Di satu sisi, tokoh Tarantula sangat manis dan romantis huhuhuhu. Jadi pengin punya pacar macem Tarantulaaaa huaaa.

Selebihnya, ehem, mungkin tentang cover. Warna pink-nya menurutku menimbulkan kesan romance yang dominan, padahal kan nggak juga. Itu aja, sih. Hehe.

Sekian ulasan sayah. Oya, DITUNGGU BANGET LANJUTAN LOVE THEFT ALIAS LOVELY HEIST-NYA YA, KAK PRISCA <3 :D :D :D






















Profile Image for Stella Wenny.
464 reviews143 followers
June 14, 2017
2,5 bintang. Ini preferensi saya aja ya :') Ngga bisa naik juga ratingnya dari buku 1 u__u Sudah lebih bagus dari buku 1, tapi tetep aja, this series could be really really gooood, tapi eksekusinya berasa jatuh terlalu jauh dari pohonnya... Oke, saya seneng banget Coco sampe pasang reklame karena kalung itu karena kalung itu memang bukan sekadar kenang-kenangan. Seneng banget karena masih jadi ga sedangkal yang saya sempat kira. Tapi lalu alasan Coco ingin menembak Liquor apa? Kayak cuma iseng gitu mungkin ya Coconya, atau biar angst aja—saya suka banget angst tapi butuh alasan jelas u__u Lalu dipenjara, kalau sindikat kayak gitu saya mikirnya bakal bisa kabur dari penjara, either usaha sendiri atau dibantu sindikat, tapi nggaaaaak (tapi kemungkinan di buku ketiga bisa jadi sih). Rasanya yang semula keren banget sindikatnya jadi gitu-gitu aja... Trus gatau kenapa adegan-adegan yang mestinya bikin galau dan baper aku gagal menghayati, berasa terlalu cepet kurang dibangun dulu suasananya, tapi entahlah mungkin sayanya aja. Masa lalunya Liquor yang bikin hatinya patah ternyata ngga seberapa destruktif, saya mikirnya sesuatu yang bikin trauma banget, tapi diceritainnya juga cuma sekilas2 di sini... Masalahnya Akiko sama Night yang sebelumnya kayak pelik banget juga beresnya relatif cepet, dan ngga diceritain sama sekali Akiko yg dari Jepang gimana nyesuaiin diri sama kehidupan di Indo... Jadi ya begitulah, masalah utama saya masih soal semua hal di novel ini terlalu menggampangkan banyak hal dan kayak komik Jepang b a n g e t, sampe ke nama-nama fancy-nya juga, padahal kalau lebih diseriusin, novel ini bisa jauh juauh lebih dari ini.
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book277 followers
August 5, 2017
[NO SPOILER]
Aku masih menangkap ciri khas Mbak Prisca di buku ini--di seri ini. Hangat dan lembut. Heartwarming, my cup of tea.

📖 Crime, romance, angst
📖 Young adult
📖 Latar kota Jakarta
📖 POV 1 Frea Rinata
📖 Mengusung hal-hal kelam (dunia pencurian, masa lalu gelap), juga hal-hal berbau musik (permainan musik, alat musik, pemain-pemain musik)
📖 Alur maju (tapi beberapa bab ada flashback)

[cuplikan singkat ala aku]
Masalah Frea, Liquor, dan Night semakin pelik. Selain menghadapi konflik yang berhubungan dengan pencurian, ketiganya juga harus disibukkan dengan rongga nyeri di hati. Night dengan kekecewaan, Liquor dengan kebencian, sedangkan Frea dengan kebimbangan.

"Hidup selalu tentang menunggu."

[kesanku]
Semua selesai di akhir, tapi aku masih merasa kurang. Bukan karena ada plot holes, tapi karena aku belum rela pisah sama Liquor. OMG, NAMA ASLI LIQUOR BAGUS BANGET. Tapi nggak boleh bilang karena itu spoiler 🙊

To be honest, cerita ini agak too good to be true, tapi bukan berarti aku kurang bisa menikmatinya. Aku justru enjoy sekali baca seri ini.

Temanya menarik. Kriminalis, antihero. Narasinya ngalir daaan apik. Bahasan beberapa judul buku, film, aktor, artis, musik, wah rasanya seperti menemukan banyak hal di buku ini. Satu kata: ELEGAN.

(terus ya, gara-gara polisi Abbe, si aku jadi pengen baca buku Silence of the Lambs) ((langsung buka tokbuk online ))

okey, back to review.

Dialognya intens sekali. Hangat. Kalau katanya Mbak Prisca bener-bener mencurahkan banyak hal ke buku ini, aku berhasil merasakan itu. God job, Mbak :")
.
Oh, satu lagi. AKU TUNGGU LOVELY HEIST-NYA. Dan kutunggu karya-karya yang lain.

((masuk jajaran fans Mbak Prisca))
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books238 followers
May 29, 2017
(PERINGATAN: review ngaco)

Tararam tararam~

Dibandingkan Love Theft pertama yang bacanya lemot banget, buku kedua ini berhasil kuselesaikan kurang lebih dalam 12 jam, haha! Well, termasuk lama sih, karena sambil ngerjain yang lain, tapi itu seharusnya enggak jadi alasan ya.

Ketegangan meningkat dan kemuraman mengental di buku ini. Sambil mengejar apa yang diinginkan Coco sebenarnya, masa lalu Liquor terkupas sedikit demi sedikit. Penguakan misterinya benar-benar mencengangkan dan menguras emosi. Yah, tapi keseluruhan buku ini memang menguras emosi. Aku bacanya sampai jerit-jerit dan merasa kembali jadi anak SMA yang cekikikan pas baca bagian ciuman.

Aku suka bagaimana karakter tokohnya berubah sedikit demi sedikit, dan aku suka di bagian epilog tentang Liquor. Serasa nonton Zankyou No Terror, deh, di mana para terorisnya justru terpaksa menjinakkan bom yang dipasang oleh teman lama mereka sendiri.

So, well done, Prisca. This book is really breaking my heart into pieces but I also happy for Liquor. And, Longfellow? Aku jadi ingin membaca puisi. Hm hm...
Profile Image for Erika Reieru.
124 reviews15 followers
November 28, 2022
Tentang sekelompok organisasi pencuri yang mencuri demi membagikan hasil curian mereka untuk orang-orang yang membutuhkan. Di buku sebelumnya Liquor dan Night telah mencuri sebuah kalung berlian Tiffany & Co. milik seorang sosialita bernama Coco Kartikaningtias. Namun Coco bersikeras untuk mendapatkan kembali kalung tersebut apa pun yang terjadi, walaupun kalung tersebut telah terbukti hanya imitasi. Konflik muncul saat perbedaan pendapat diantara kedua pencuri tersebut. Liquor mempunyai prinsip, barang yang dicurinya tidak akan pernah dia kembalikan. Bertentangan dengan Night yang lebih memilih mengembalikan kalung tersebut dan mengakhiri permasalahan itu lebih cepat.
Ternyata kalung tersebut bukan hanya sekedar kalung imitasi biasa. Kalung itu ada kaitannya dengan Tokarev. Apa itu Tokarev? Dan apa hubungan sebenarnya dengan Coco Kartikaningtias? Benang merah itu saling terhubung, dan temukan ujung dari benang merah itu hingga akhir.
Temukan juga masa lalu Liquor sebelum ia bergabung dengan organisasi pencuri tersebut.
Profile Image for Gabriella Halim.
194 reviews13 followers
October 18, 2017
Review lengkap : https://whatsgabyread.blogspot.com/20...

Masih dengan Frea, Night dan Liquor. Kali ini masalah bertambah runyam, karena kalungnya sudah terjual! Wah wah, makin kacau kan jadinya. Padahal Frea menjanjikan memberi waktu lima hari lagi untuk mendapat kepastian dari Night dan juga Liquor. Bertanya pada pamannya pun, tak akan mendapat jawaban.

Belum lagi Coco yang sepertinya bermain tarik ulur pada kehidupan Liquor dan Night. Di sisi lain, perlahan-lahan mulai terkuak. Siapa Night dan Liquor sesungguhnya. Bagaimana masa lalu mereka, dan apa yang membuat mereka menjadi yang seperti sekarang ini. Kehidupan mereka menarik banget buat diikutin. Tapi, tiba-tiba ada kejadian yang nggak mereka perhitungin! Wah, wah, gimana ya?
Profile Image for Afifah.
409 reviews17 followers
May 7, 2017
Meskipun awalnya agak lambat, tapi semakin ke belakang jadi semakin menarik. Lumayan suka dengan twist dan ending buku ini. Meskipun aku belum sepenuhnya 'mengerti' sikap Frea, tapi sudah jauh lebih baik dibanding buku pertamanya. Jadi 3.5 bintang untuk buku ini.
Profile Image for Tyas Pramudita Viandari.
12 reviews
August 11, 2017
Bener bener asik, penulis mengajak pembaca untuk larut ke dalam ceritanya.
Avicenna Ananta Longfellow, nama yang keren dan juga karakternya yg dominan membuat cerita ini semakin menarik.
Mulai detik ini akan coba baca buku-buku mbak Prisca yang lain. Semoga sama kerennya :)
Profile Image for Stere Lizia.
149 reviews
December 6, 2021
Minor spoilers ahead!

INI BUKAN REVIEW! INI RANT!

"Mereka tidak perlu mengerti, yang penting mereka anggap kamu mengerti."

Begitu rasanya ngebaca buku ini. Awalnya kusuka kepenulisannya lama-lama muak juga. Terlalu info dump, interior Swedish sampe Venezuela lah, artis apalah, music piece apalah. Seolah authornya kayak mau bilang: "Liat seberapa banyak pengetahuan gue soal hal-hal yang 100% irrelavant ke plotnya ini!".

Tanpa bermaksud merendahkan Author terkasih. Semua info dibuku ini rasanya kayak anda ngehabisin riset 10 menit di google, kayak; Biola termahal di dunia, Lagu piano tersusah, novel thriller terbaik. Sialnya, info-info irrelavant dan jokes yg ngl cringe itu malah ngebentuk plot hole plot hole mini yang cukup untuk bikin orang triphobia kencing di celana.

Karakter
Frea
Your typical weak, mad for love, female protagonist. Tadinya gue pikir dia bakal jadi femme fatale mumpung gaul sama kriminal. Ternyata malah stereotipikal cewek cemburuan tapi nggak mau jujur.
Liquor
Ini orang persis 90% badboy wattpad dibedain dikit. Punya style sama personality. Tipe cowok womanizer yang mendadak sadar karena protagonis cewek. Demi apa romancenya klise banget.
Night
Sebagai orang yang belajar sastra Jepang. Night nggak kedengaran kayak orang Jepang, tapi kayak wibu chunni yang cosplay kemana mana. Dan seumur hidup kayaknya nggak pernah gue denger ada ortu Jepang namain anaknya Kyandoru / Lilin. Ini namanya TL google ato ke website nama bayi Jepang? Kalo nggak tau seaneh apa itu bayangin aja namain anakmu Obor ato Lilin deh. Dan kenapa gue bilang Night kedengaran kek wibu? Ya karena dia bicaranya persis kek gitu. Untuk kata-kata simpel dia pake bahasa Jepang, ok normal lah. Tapi buset dude, ini orang bicara kayak anak milenial Jakarta padahal baru setahun tinggal disini. Orang yang les sehari semalem aja belum tentu sejago itu.
Tarantula
Ini hasilnya kalo orang terpengaruh nonton film hacker. Buset gampang kalik dikira ngehack keamanan sindikat kriminal gede. Padahal runtuhin fire wall aja bisa enam bulanan LMAO.

World Building
Sindikat kriminal di buku ini adalah KW China dari Ocean series. Masih misteri kenapa nggak ketahuan padahal bodoh banget semua anggotanya.

Masak tiap nyuri anggotanya lemparin serangga sana sini. Kagak curiga orang-orang Jakarta? Bego semua rakyat sama polisinya?

Gue pengen ngeracau soal plotnya tapi apa yang mau diracauin? Ladies and entities this is your typical wattpad story with some spice added.
Profile Image for Linda.
Author 33 books23 followers
April 9, 2016
Sebenernya baca-cepatnya udah selesai dari hari buku ini nyampe di tangan, tapi baca benerannya baru selesai sekarang karena banyak kesibukan (jiah...). Seperti para pembaca lain, saya lebih menikmati alur buku kedua ini dibanding yang pertama. Mungkin karena buku kesatu lebih fokus ke character building dan setting cerita. Kalau di buku kesatu saya dibikin penasaran dengan karakternya, tetapi belum merasakan keterlibatan emosi atau greget dengan mereka, di buku kedua ini saya lebih antusias membalik halaman. Ikut pedih dengan derita yang dialami Liquor dan Night (meskipun, jujur aja nih, agak kecewa liat si Liquor bisa dijatuhkan mentalnya begitu gampang dengan omongan tajam seorang cewek, dan si Night yang terlalu emosional sama si istri sampe jadi zombie, padahal kalo diliat konflik mereka ga akan jd segitunya jika mereka bicara baik2. Tapi ya namanya juga cerita...). Konflik dengan Coco Kartikaningtias juga terbangun dengan baik sampe ke klimaks yang mengejutkan dan menegangkan, diikuti akhir yang bittersweet. Saya jadi mengerti kenapa penulis membagi cerita ini jadi dua buku. Suspensenya jadi lebih kerasa dengan adanya jeda di tengah cerita, dan membuat orang lebih penasaran nungguin kelanjutan hubungan Frea-Liquor. Pada akhirnya sih ini tetap novel escapism, unik tapi ga bikin pusing, seru tapi gak jelimet, menyentuh tapi gak menguras emosi. Lengkap dengan latar belakang yang bikin kita merasa seolah di kota khayalan, bukan di Jakarta (di sini mana bisa jalan2 di atap terus tau2 nyampe di kafe? Hihi...). Seperti cokelat Jepang kesukaan Frea: pahit-manis, ada alkoholnya dikit, tapi gak berat dan enjoyable. Novel yang cocok buat dibaca pas wiken, apalagi kalo hari hujan sambil nyeruput teh (tsah...). Tokoh2 pendukungnya juga menarik, khususnya si Tarantula yang mengingatkan saya sama tokoh anime tertentu yang ngeselin namun ternyata baik *kedipin Prisca*. Tapi buat ukuran novel ringan, saya dibuat cukup penasaran untuk pengen tahu kelanjutan kisah mereka. Mudah2an ada sekuel ketiga dan seterusnya *senggol penulis*. All in all, an enjoyable story!
94 reviews3 followers
May 15, 2016
Masalah pencurian kalung milik sosialita kaya raya yang manja, Coco Kartikaningtias, masih berlanjut. Seperti kecurigaan Frea, Coco bukanlah gadis manja biasa. Di luar dugaan, gadis itu merupakan putri dari salah satu sindikat gelap ternama.
Coco dengan mudah mendapat informasi tentang Frea, Liquor, dan Night. Kali ini ia tidak melepaskan mereka dengan begitu mudah. Ada harga yang harus dibayar karena telah berani bermain dengan Coco.
Di sisi lain, baik Frea dan Night akhirnya berani mengakui perasaan masing- masing. Liquor bahkan tidak sedingin sebelumnya lagi. Ia lebih lembut, lebih perhatian, dan bersedia berbagi kisah masa lalunya yang suram dan pedih kepada Frea.
Saat masalah ini sudah bergulir ke ranah hukum, apakah yang terjadi pada Night dan Liquor? Ke manakah hubungan Frea dan Liquor akan berjalan? Apakah Frea akan patah hati sekali lagi? Ikuti kisah mereka dalam Love Theft 2 ^^

Setelah menutup buku ini, rasanya sulit untuk berpisah dari tokoh- tokoh yang ada di dalamnya. Liquor yang pendiam tapi menyimpan begitu banyak luka dan masa lalu yang kelam, Night si cantik yang sangat mencintai istrinya,dan Frea yang kuat yang selalu mendukung Liquor.
Ada satu tokoh favorit saya yang mungkin akan seru jika dituliskan juga kisahnya *kode untuk penulis*. Dia adalah Tarantula. Dalam review tidak saya bahas karena akan lebih seru jika baca langsung ya bagian Tarantulanya. Keren juga cowok playboy satu ini.
Buku kedua lebih tebal, sedikit. Ceritanya berkembang jauh lebih kompleks dan saya jauh lebih menikmati buku kedua ini. Banyak kejutan yang tidak terduga sebelumnya. Tokoh- tokohnya terasa lebih menyenangkan dan tidak bikin sepenasaran sebelumnya. 4 bintang untuk ngengat dan kupu- kupu yang telah berhasil mencuri hati pembaca :)

Baca juga review novel yang lain di http://ertalin.blogspot.com
29 reviews
May 5, 2024
[Review ini mengenai buku Love Theft #1 dan #2]

A diamond in the rough.

Banyak sekali hal yang dapat diacungi jempol dari buku Love Theft ini. Plotnya sangat menarik dan menjadikan buku ini berbeda dengan kebanyakan novel bergenre romance lainnya. Cara penulis menggambarkan ketiga karakter utama (Frea, Liquor, dan Night) juga seakan menjadi refleksi rasa cinta penulis kepada ketiga karakter tersebut, sehingga aku sebagai pembaca juga mau tidak mau ikut-ikutan jatuh cinta kepada mereka bertiga. Character development juga berkembang secara organik. Aku menyimpulkan bahwa kelebihan penulis dalam buku ini memang terletak dalam karakter-karakternya yang cukup solid, relateable, dan dapat menjadi pelengkap satu sama lainnya.

Sayangnya, buku ini juga tidak luput dari berbagai masalah yang bisa dibilang cukup mendasar - dan pada akhirnya menyebabkan aku sedikit mengernyit ketika membaca buku ini. Menurutku, masalah terbesar dalam buku ini adalah cara penulis menyampaikan emosi karakter. Kalimat "...aku melihat kesedihan di matanya..." mungkin bisa menjadi cara yang cukup efektif untuk memberitahu kepada pembaca bahwa karakter itu sedang bersedih. Namun, ketika kalimat sejenis itu terus-menerus muncul, aku pada akhirnya mau tidak mau menjadi berpikir, "Iya sih, kita bisa tahu emosi seseorang dari matanya. Tapi kayanya nggak sesering dan segampang ini deh." Beberapa adegan yang sepertinya dapat disampaikan dengan teknik 'show' justru disampaikan dengan 'tell', sehingga adegan-adegan itu menjadi terasa janggal dan tidak tergali dengan baik.

All in all, terlepas dari kekurangannya, Love Theft tetap menjadi one of my comfort books dan buku yang bisa kucari untuk menemaniku di kala aku sedang bosan. Love Theft juga cukup berhasil dalam membangun antisipasiku akan buku-buku selanjutnya di seri yang sama.
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews202 followers
April 24, 2016
"Itu bukan karena aku cemburu. Aku tidak cemburu. Karena aku tidak mencintai Liqour. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pemuda yang suka mempermainkan wanita seperti dia." – halaman 12

Frea Renata, Liqour, dan Night menghadapi masalah besar setelah mencuri kalung milik Coco Kartikaningtias. Gadis manja itu menyimpan banyak rahasia dari yang mereka perkirakan sebelumnya. Liquor menolak mengembalikan barang tersebut karena hal itu bertentangan dengan prinsipnya sebagai pencuri professional. Sedangkan Night stres dengan surat perceraian dari istrinya. Frea ikut pusing memikirkan nasib mereka, terlebih lagi dia menyadari perasaannya untuk Liquor. Tetapi kejadian dari masa lalu memerngaruhi masa depan mereka.

--

Love Theft #2 menghadirkan kejutan-kejutan dalam pencurian yang dilakukan Frea, Liqour, dan Night. Ternyata banyak sekali cerita dari sebuah kalung dan bikin semuanya makin ribet sekaligus seru hehehe. Ceritanya juga lebih melankolis di sini, terutama soal hubungan Frea dan Liqour. Hatiku berasa disiletin pelan-pelan saat mereka mencoba mencari jalan untuk bersama. Puncaknya adalah cerita flashback ke pertemuan pertama mereka. Setelah itu, aku nggak kuat untuk lanjut baca. Sempat libur dua harian terus maksain buat baca lagi. Aku suka ending-nya! Terutama bagian yang diceritakan dari sudut pandang Liqour. Dia ternyata begitu polos dan sederhana. Aku ‘menuntut’ penulisnya untuk menulis ulang ceritanya dari sudut pandang Liqour. Novel seri luar biasanya bikin versi tersebut untuk buku ketiganya. Aku juga ingin Liqour punya bukunya sendiriiiii. Tak disangka aku bisa terpikat juga sama si ngengat ini. Maaf, Night ;p

Baca review lengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2016/...
Displaying 1 - 30 of 62 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.