Dalam setiap acara membeli buku, gue selalu menyediakan budget untuk pembelian impulsif. Artinya selalu ada ruang untuk membeli buku yang belum gue pernah dengar, tapi tertarik untuk membacanya. Buku ini akhirnya tercomot karena alasan yang konyol: nama tokoh utamanya kembaran dengan gue. -> cetek, jangan ditiru.
Anyway, so imagine my (pleasant) surprise when i found out that i actually enjoyed reading it! (dan ya, gue juga baru tau kalau buku ini udah 6x cetak ulang, berarti udah bertahun-tahun wara wiri di toko buku kan? Maafkan, sering nggak apdet dengan perkembangan. Thus, thats why i go crazy in bookstores setiap pulang ke Jakarta!)
Enuff melantur!
Ayuk kupas senengnya:
1. Gaya tulisannya kena di gue, juga sesuai dengan karakter Nina yang gloomy-gloomy penyendiri. Nggak tau deh buku Mariskova lainnya juga seperti ini atau nggak, tapi untuk To Tokyo To Love ini terasa PAS.
2. Informasi diberikan pelan-pelan banget, saking pelannya seolah paragraf per paragraf ditulis tentang nothing but its actually something. I like it.
3. Diksinya okay. I learned one or two new words.
4. Chemistry Nina dengan tokoh-tokohnya oke.
5. Deskripsi tokoh dan tempat sip lah. Made me wonder if the writer ever actually been to Tokyo or not. Yes, that shows you somehing.
Lima poin, cukup banyak lah.
Kritiknya di buku gue minor banget, tapi perlu gue keluarin juga. Selain jadi bisul kalau dipendam sendirian, kali aja penulis berbaik hati membaca review gue dan bisa ikut belajar juga. Here they are:
1. Ada beberapa adegan yang bisa dipotong, seperti nggak menambah value apa-apa pada cerita. Seperti: Nina dan dua teman kampus (cowok) yang lagi ngobrol di atas rumput di tengah lapangan. Terus terang di bagian tengah gue mulai agak-agak skim read.
2. Tokoh Nina yang suka pengsan lalu mendadak 'amnesia' sama orang. Ketemu Ian pertama kali dia 'amnesia'. Ditolong MIB dia juga 'amnesia'. --> Sekali terjadi, oke lah. Lebih dari itu, uhm... really? Jadi fiksi banget, walaupun ini emang fiksi ya.
3. I have no problem with main character with a dark side, tapi si Nina ini bener-bener stressss bacanya. Secara gaya bercerita, tandanya Mariskova sakses banget menggambarkan Nina sedemikian menderita. Tapi sebagai pembaca gue agak terganggu, butuh piknik dikit kalau udah kelamaan bacanya.
4. Endingnya oh ending. Not that i dont like it. No, i do.
Tapi kalau sepanjang novel ini informasi dengan sabar diberikan sedikit demi sedikit, rasa penasaran diulik-ulik pelan-pelan, nah endingnya kayak penulis mendadak kehabisan kertas dan tinta lalu SRET dalam satu bab disimpulkanlah konflik yang sudah sekian ratus halaman dibangun itu. Lalu si antagonis kemana? Nasib mereka gimana? It feels... unfinished. Or finished in a hurry.
But hey, bacalah buku ini.
In my humble opinion its a little gem in bookstores.
sekian.