Jump to ratings and reviews
Rate this book

男子啦啦隊!

Rate this book
「男子啦啦隊是什麼東西啦?全部都是男生的啦啦隊是有什麼好看的?」

生長於柔道世家的晴希,從小看著優秀的姊姊一次次奪下柔道冠軍與眾人的讚賞。但那種渴望追上姊姊的心情,隨著發現自己才能不足而漸漸轉變成想要逃離柔道的世界。

與奶奶相依為命的一馬,和晴希一起練柔道長大,在晴希決定拋開柔道的那天,他們倆開始了一種完全不同的運動:由七個臭男生組成的男子啦啦隊。不過,要肌肉沒肌肉、要體力沒體力,竟然還妄想參加全國大賽!科科!

在毫無經驗下,一群大學中的離散份子,開始了啦啦隊練習。沒有教練培訓,土法煉鋼,每天逼自己倒立再倒立、翻轉又翻轉,甚至跑去沒選修的體操課上找新血。終於站上校慶舞台。

殊不知,校慶舞台只是中繼站,他們七個人不怎樣的表演,卻吸引了其他各具特色的成員加入,人數瞬間翻倍爬升。不知不覺湊齊了正規啦啦隊人數十六人,這下可好,下個目標竟然是到全國錦標賽拿冠軍!

啦啦隊是一種需要彼此信任的團體運動,是要讓觀眾露出笑容,感受驚喜的運動。但這群性格不同、背景各異,各有各自煩惱的男大生:缺乏信心的佐佐、體力差的阿遠、人生首次嚐到失敗滋味的阿一、害怕練習的阿健,他們是否能夠藉此突破自身弱點,互相激勵,獲取勝利?

晴希又能否鼓起勇氣邀請姊姊觀賽,為自己也為重要的人表演一場完美的啦啦隊?至於促成這個男子啦啦隊的一馬,他組隊的理由又是什麼,知道真相的大夥兒,還能彼此信任,繼續完成這個不可能的任務嗎?

這是每個人都該感受一次的作品,一本結合青春熱血與人性弱點的故事。不論從運動的角度或是人生的視野,男子啦啦隊都能鼓舞我們,帶我們向上爬升!一起共享這段一輩子僅此一次的青春熱血吧!

360 pages, Paperback

First published January 1, 2010

16 people are currently reading
123 people want to read

About the author

Ryo Asai

36 books14 followers
Ryo Asai (朝井リョウ ) began creating picture books at the age of six and writing stories while still in grade school; soon he was submitting manuscripts to new-writer contests as he dreamed of publishing a book of his own. He made his literary debut as a student at Waseda University, when his novel Kirishima, bukatsu yamerutte yo (Kirishima Says He's Quitting the Team) took the 2009 Shosetsu Subaru New Writers' Award. He has kept up a constant stream of publications since his debut. When his novel Nanimono (Somebody) was awarded the Naoki Prize for the second half of 2012, he was only 23, making him the youngest male author to have ever won the award. His other works include Chia danshi!! (Guy Cheerleaders!!), Mo ichido umareru (To Be Born Over), and Shojo wa sotsugyo shinai (Girls Don't Graduate).

source:http://www.booksfromjapan.jp/authors/...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (9%)
4 stars
51 (38%)
3 stars
50 (38%)
2 stars
17 (12%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 40 reviews
Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
June 30, 2018
“Ada lho, olahraga di mana kita bisa menjadi pemeran utama dengan mendukung seseorang.”

Novel young adult yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Termasuk pemenang penghargaan literatur di Jepang, dan konon kabarnya terinspirasi kisah nyata tim pemandu sorak cowok yang melampaui stigma bahwa cheerleading adalah olahraga khusus kaum cewek.

Ada banyak alasan mengapa saya sejak kecil sudah jatuh cinta dengan fiksi Jepang, dan salah satunya adalah tema ‘pengejaran hobi/passion’ yang sering muncul. Kalau biasanya saya menemukan tema ini di komik, sekarang dalam bentuk novel…. tapi polanya tetap familiar: tokoh utama memutuskan untuk menekuni sesuatu yang baru, mengumpulkan teman-teman setim, dan akhirnya berkompetisi. Yang membuat unik adalah usia karakternya yang sudah di bangku kuliahan (cerita semacam ini biasanya berlatar di SMA), dan jenis olahraganya.



Sebelumnya, saya hampir tidak tahu-menahu tentang cheerleading. Selain tidak pernah adanya kegiatan itu di setiap jenjang sekolah saya, kesan saya pun agak ‘tercemar’ karena pengaruh beberapa media Barat dan Indonesia yang seringkali menampilkan cheerleader sebagai cewek-cewek seksi tapi nyinyir yang kerjaannya rebutan cowok, hahaha….

Namun, begitu membaca Cheer Boy, saya merasa ‘tercerahkan’. Rupanya, jadi cheerleader sangat memerlukan kemampuan fisik & teknik mumpuni. Melihat perjuangan mati-matian karakternya di setiap latihan mereka, saya jadi salut dengan cheerleader betulan yang harus menguasai banyak sekali aspek sebelum bisa tampil memukau—kelenturan badan, kekompakan, stamina, kemampuan bergerak sesuai irama, dan faktor mental seperti keberanian dan kepercayaan pada teman setim. Keren sekali.

Tantangan utama di novel olahraga adalah bagaimana caranya menunjukkan keseruan olahraga tersebut melalui hanya tulisan. Menurut hemat saya, Ryo Asai berhasil mencapainya melalui penggambaran berbagai pose & dinamika gerakan secara detil, diselingi deskripsi batin karakter-karakternya sehingga kita turut merasakan semangat, kegelisahan, maupun kepuasan mereka. Ada pula halaman khusus untuk penjelasan istilah teknis + ilustrasi bagi pembaca awam. Keinginan Asai-sensei agar pembaca tertarik pada dunia cheerleading benar-benar terasa sepanjang novel ini.

Saat berdiri menyaksikan Kakak berlaga, aku juga merasa seperti itu. Ingin memberikan semangat pada seseorang sampai seperti diriku sendiri. Yang paling kuinginkan adalah memberi semangat pada Kakak.

Poros awal dramanya adalah keputusan si tokoh utama, Haruki, untuk meninggalkan judo yang sudah ia tekuni sejak kecil setelah tenggelam di bawah bayang-bayang kakak ceweknya yang lebih berprestasi. Bersama sahabatnya, Kazuma, mereka merintis tim cheerleading khusus cowok di universitas mereka... sehingga akhirnya terkumpul tim sebanyak 17 orang. Jumlah karakter sebanyak itu belum termasuk tokoh-tokoh pendukung seperti pelatih, kakak cewek Haruki, gadis ekor kuda yang ditaksir Haruki, paman pemilik kedai langganan, kapten tim rival, sanak keluarga lainnya, dll.

Hebatnya, dengan karakter sebanyak itu, penokohannya tidak jadi berantakan. Jumlah halaman dan pace memang terasa banyak & lambat untuk ukuran novel YA, tapi saya tidak keberatan karena kepintaran penulisnya dalam merotasi perspektif dan menekankan ciri khas masing-masing karakter. Saya jadi tidak tertukar-tukar antar tiap karakter dan gampang teringat, “ah ya ini si yankee yang gaya ngomongnya sopan”, “ini si kacamata yang doyan mengutip kata-kata orang terkenal”, “ini si mungil yang gemulai seperti penari balet”, dsb.

”Kalau sudah selesai makan, diskusinya kumulai ya!” seru Pelatih bersamaan dengan Mizoguchi yang datang membawa panci besar sambil berkata, “Semuanya! Tambah lagi yuuuk!” Mereka bersorak dan langsung mengerumuni panci, tanpa mengacuhkan ucapan pelatih barusan. Pelatih Takagi melongo.

^Jenis adegan jenaka yang sering muncul di Cheer Boy: terasa akrab dan gampang dibayangkan di dunia nyata.

Novel ini banyak memakai halaman untuk menggambarkan interaksi sehari-hari para karakternya. Kadang garing (dan ada beberapa adegan yang saya rasa lebih efektif kalau dalam bentuk komik alih-alih novel), tapi secara umum taktik penokohannya efektif: perkenalkan tokoh baru melalui kekoplakannya, lalu perlahan tunjukkan konflik pribadi dan segala keresahan di balik ‘topeng canda tawa’ tersebut. Ada banyak momen bagus, seperti saat seorang karakter muncul pertama kali dengan kesan ‘sok akrab & sok asyik nimbrung pembicaraan orang’…. sebelum kita belakangan melihat perspektifnya akan kejadian itu, bahwa ternyata saat itu ia amat grogi dan takut dianggap orang aneh. Hal-hal semacam itu membuat pembaca mudah bersimpati dan mendukung karakter-karakter di sini.

Seperti lazimnya cerita dengan tokoh anak muda, ada sentuhan sub-plot romance di sini. Menurut saya takarannya sudah sangat pas tidak seperti kebanyakan novel remaja yang terlalu menitikberatkan pada cinta, cinta, dan cinta melulu, tapi penikmat romance konvensional mungkin tidak akan puas karena ….

Bisa bertemu dengan orang-orang seperti mereka, sungguh membuatku bahagia. Mulai dari makan bersama, pulang kuliah sampai menyelinap ke pelajaran olahraga, semuanya sangat menyenangkan. Memang banyak hal yang tidak bisa kulakukan, tapi tetap saja menyenangkan

Pada akhirnya, ini cerita tentang kebersamaan dalam melakukan sesuatu.

Jujur, kenikmatan saya dalam membaca Cheer Boy memang tak bisa dipisahkan dari faktor subjektivitas…. yaitu bahwa ceritanya membuat saya bernostalgia habis-habisan tentang aktivitas di masa kuliah dulu. Latihan teater sampai pukul 2 pagi dan diteruskan makan-makan di angkringan pinggir jalan. Mengagumi teman-teman yang datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Diskusi rutin untuk meningkatkan kemampuan masing-masing. Tampil di depan penonton dan mencari-cari wajah tertentu yang paling memotivasi kita untuk memberi yang terbaik. Melihat teman melakukan kesalahan di atas panggung dan mati-matian mengirim ‘pesan telepati’—Nggak apa-apa. Nggak apa-apa kok. Ayo teruskan lagi.

Novel ini menggambarkan kebahagiaan saat mencurahkan segenap hati & tenaga untuk menghasilkan sesuatu bersama kawan-kawan yang seminat. Seakan jadi pengingat dan penyemangat bahwa.... kalau masih ada kesempatan, selalulah syukuri & nikmati momen-momen itu.
Profile Image for Zita  Azlina.
236 reviews21 followers
September 12, 2021
DISCLAIMER : this review will probably sounds a little bit rough but i appreciate the effort of the writer who, i believe, has seriously do a research about cheerleader and their effort to write this.

2.5/5

There are a lot of things that making me go UGHHH when i read this.

1. Sport is definitely not my thing. You see, i hate sport so much like really HATE IT. All the names in my death note are probably a list of my P.E. teachers. But this is just a problem of my cup of tea, thus it's probably just on me. Maybe if y'all liked Haikyuu! or Re-Main or Free! this book would be an okay tier for y'all.

2. WEREN'T THEY SUPPOSED TO BE 18??? WERENT THEY SUPPOSED TO BE 18??!!! WHY the holy moly do they act like they're 13??? They act, talk, and interact like they are a bunch of high schoolers! I know that this book is rated 13+ for whatever reason, but then why university student??? Weren't it would be better if they're potrayed as high schoolers??? In university, who would had the time to think about cheerleading???? i know the key point of the story is cheerleader is good, bla-bla-bla, but.. like it can't get anymore relatable then?

3. An addition to the second problem, the writing is oh my god so fucking weird. The description and the characters feeling are all described in such an overly-exaggerated way. Like this book is certainly for 5 years old to read. The author uses a lot of methapors and hyperbole that doesn't even make any sense. It's almost like it was thrown down any fucking where right after the author learnt it for once. Holy shit, it's so cringe. I really can't read Haruki's feeling especially when the Kanigawa tournament with his weird ass, over exaggerated sister complex. Like please shut up??

4. The plot? Kinda bland if you ask me. The conflict is okay, realistic maybe. But there are TONS of unnecessary scenes in this book like TONS. The matter of Chihiro, why should she even be here?? The elaborate explanation of the cheerleading movements, that... uh,,, i dont really think you should go all detailed like that? We are kinda missing any points because of it? Also their struggle is... Like... Only some of theirs are relatable. The others is just pure drama or made-up bs that i can pretty much sure didn't happen irl.

Anyway besides all the problem above, the humours are good and the author did a good job by correctly potraying toxic masculinity, fatphobia/body shamming, and homophobia (because thank god this book is not as queerbait as the other kinds for it actually has one real lgbtq rep here). And i mean.. i finished it anyway so that means ya at least it could still be read.

Tbh kinda dissapointed tho. 2.5 definitely enough
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for LiLa.
317 reviews12 followers
January 20, 2022
Jadilah pemeran utama dengan mendukung orang lain.

Begitu bunyi selebaran yang ditulis Kazu untuk merekrut anggota baru klub cheerleading cowo. Cheerleading? Cowo? Menarik bukan? Saya pertama kali baca mengenai cheerleading cowo itu di Fairish dan seinget saya cuma jadi sekedar lawakan, sempilan ringan cerita. Sama pernah ada komik yang membahasa cheerleading juga seinget saya: Yuki Loves Yell tapi saya lupa apakah pembahasan secara general atau secara detail.
Selebihnya, yang ada di otak saya tentang cheerleading berkat pengalaman di masa SMU: sekelompok cewe judes dan menjurus ke arah genit yang selalu pakai rok paling pendek di sekolah. Jujur, saya ga pernah liat mereka latihan atau tampil, jadi kurang tahu seperti apa mereka saat tampil. Cuma keburu dapat image kurang baik tentang ekskul satu ini. Dan novel ini serasa mencerahkan.
Ternyata ada loh cheerleading yang anggotanya campuran cowo-cewe, contoh di novel ini: Sparks. Atau cheerleading yang anggotanya cowo semua, contoh di novel ini: The Breakers yang konon terinspirasi dari Shocker, klub cheerleading cowo dari Universitas Waseda. Daaaaaaaaaan... gerakan cheerleading itu keren yah, benar-benar berbeda dengan gambaran negatif yang muncul berupa adegan sekelompok cewe jerit-jerit sambil goyangin pom-pom dan pamer paha.
Motion. Tumbling. Stunts. Itu nama gerakan-gerakan dalam cheerleading. Base. Spot. Top. Kalau ini nama posisi-posisi dalam cheerleading.
Di halaman awal buku ini ada bagian yang menjelaskan tentang aturan cheerleading dan ilustrasi gerakan-gerakan dalam cheerleading. Beberapa ilustrasi gerakan terasa mudah banget menerbitkan suara "Ooooooooo" dari mulut. Sementara saya masih sibuk meraba-raba ilustrasi gerakan lain. Tapi begitu saya menonton video penampilan Shocker di youtube dan MV dari OST anime ini di youtube, saya mulai tercerahkan.
Anggota cheerleading itu mengagumkan yah. Mereka melakukan banyak gerakan-gerakan sulit sambil tetap tersenyum dan sama sekali tidak merasa takut. Salto, dilempar ke udara lalu salto atau berputar 360 derajat, menjadi piramida hidup dengan memanjat bahu anggota tim yang lain. Mereka percaya satu sama lain. Top percaya kalau saat mereka turun nanti, base dan spot akan siap menangkap mereka. Base juga percaya kalau saat top memanjat atau menjatuhkan diri, mereka tidak akan dicederai (walau kemungkinan untuk cedera itu tetap ada). Saya benar-benar dibuat kagum sampai merinding saat membaca novel ini (dan menonton anime-nya).

Tapi apakah ini masih bisa disebut cheerleading bila yang melakukannya sendiri tidak bisa menikmatinya.

Tidak hanya menggambarkan ikatan yang kuat, novel ini juga menggambarkan ada saat-saat dimana ikatan antar tim itu mulai retak dan terancam hancur berantakan. Dan kata-kata yang diucapkan Takeru ini sekaligus menjadi tamparan buat saya. Rasanya sudah lama sekali saya tidak menikmati semua yang saya kerjakan; baik pekerjaan formal saya maupun hobi. Semakin hari rasanya saya semakin banyak mengeluh, mengeluh dan mengeluh.
Dalam kasus Takeru, saya cukup mengerti alasannya. Semakin ke belakang, saat tujuan dan ambisi klub semakin besar, latihan menjadi semakin intens. Dan Sho mulai "memaksakan" gerakan-gerakan yang lebih sulit. Bahkan di bagian akhir, saya merasa Sho menjadi karakter yang sangat menyebalkan dengan teguran-tegurannya ke anggota lain. Di bagian ini, saya merasa hangat sekaligus sedih dengan komentar Ichirou.
Tapi justru retakan-retakan ini membuat saya semakin jatuh hati sama The Breakers. Karena pada kenyataannya, hampir tidak ada tim yang selalu solid, selalu bersatu, selalu baik-baik saja. Akan ada masa-masa ketika keretakan itu muncul. Kadang keretakan itu semakin membesar hingga akhirnya menghancurkan semua yang sudah dibangun. Tapi terkadang, keretakan itu justru semakin mempererat hubungan antar anggota.

Eeeeeeeeeeeh? Jadi ini novel semi homo yah? Bahas cheerleading cowo, berarti cuma ada interaksi antar cowo kan? Maho gitu 'kan?
Njiiiiir! Ga gitu juga keles! Ada karakter cewenya juga kok. Ada Haruko, anggota klub judo perempuan, pelatih Takagi, Sakura, Chihiro, anggota Dreams, dan masih ada lagi yang lain. Tapi memang tidak ada adegan pacarannya. Ada sich pembahasan relasi Haruki sama salah seorang anggota Dreams... tapi malah bikin saya kasihan sama Haru (di sisi lain, saya pengen ngakak juga sich pas baca adegan V-day itu).
Jadi, kalau yang kalian cari itu cerita tentang cheerleader cewe pacaran sama kapten tim basket atau mungkin cerita tentang para anggota cheerleading pacaran (The Breakers vs Dreams misalnya), kisah itu ga ada di novel ini. Cheer Boys berkisah tentang perjuangan Kazu - Haru dalam membentuk klub cheerleading yang anggotanya cowo semua dan bagaimana mereka berjuang untuk mematahkan semua stigma yang ada. Cowo juga bisa jadi pemandu sorak loh! Dan cowo pemandu sorak itu bukan banci: mereka ga pakai rok pendek dan gerakan mereka juga bertenaga bukan "melambai". Pemandu sorak yang isinya cowo semua ga kalah keren dibanding pemandu sorak yang isinya cewe semua atau gabungan cewe - cowo.

Positif semua nich?
Ga juga sich. Di bagian awal, saya sempet kewalahan nebak: dialog ini diucapkan siapa sich? (Di bagian belakang-belakang juga masih sempet bingung).
Ada typo. Terutama nama keluarga Haruki yang ganti-ganti antara Bando dan Banjo hahaha (dan typo lain tentu saja).
Terasa lambat dan sedikit membosankan di awal.
Tapi semuanya cukup terbayarkan sich dengan proses perjuangan The Breakers. Rasanya ada bumbu rujak diulek di hati saya, campuran rasa manis, asam, asin dan sedikit pedas. Ada rasa haru, merinding disko, melonjak bahagia, sedih, macam-macam d.
Dan... dan... saya suka di bagian ritual terakhir itu. Membaca satu per satu masalah yang dialami tiap anggota juga perkembangan mereka. Bagaimana tiap orang berjuang dan berusaha "menghancurkan" dirinya yang lama supaya bisa menjelma menjadi individu baru yang lebih baik. Semuanya. Saya jadi terketuk untuk ikut "menghancurkan" diri saya yang lama dan menjelma menjadi individu baru yang lebih baik lagi; lebih berani; lebih baik lagi.
Go! Fight! Win! We are number one!

Soal anime:
Profile Image for Rie_dominique.
664 reviews66 followers
May 22, 2014

3.5*

Haruki sangat mengagumi kakaknya, Haruko. Haruko yang sangat ahli dalam judo merupakan idolanya. Tetapi dengan memandang Haruko, Haruki jadi menyadari keterbatasannya sendiri. Ia tidak sehebat Haruko. Dan ketika Haruki mengalami cedera bahu, ia merasakan bahwa mungkin judo bukanlah untuknya.

Kazuma adalah sahabat Haruki sejak kecil. Orangtua Kazuma telah meninggal dan ia diasuh oleh neneknya. Ibu Kazuma dulunya adalah seorang cheerleder dan ayahnya adalah pelatihnya. Melihat sinar di mata neneknya yang sedang sakit saat melihat seorang cheerleader di TV, Kazuma-pun kemudian membuat rencana.


Full review lihat disini
Profile Image for mira larasati.
100 reviews2 followers
May 1, 2022
This book is kinda bias for me. Krn sy fujo, maka sy langsung cus beli *heh*

Oh jangan cemas, sy tetep komentar seobjektif mungkin (kecuali tanggepin fs nya *cough*)

1. Buku ini menceritakan tentang perjuangan Haruki n Kazuma, sahabat dekat yang akhirnya membentuk sebuah tim cheers khusus laki laki. Dua orang keren yg dr pemain judo jd pemain cheers, jomplang tp tindakan yang amat berani. Aku suka gimana mrk mencoba dari 0 menjadi tim cheers lolos tim nasional.

2. Bunch of weirdos bestie. 7 orang (menuju 16) lebih saling membahu untuk membentuk tim cheers terbaik. Krn banyak peran nya, banyak pemainnya, aku bs wajarin kalo per dialog tdk dikasih jeda. Aku rasa makin malam akan terbiasa yg ngomong ini siapa dan siapa krn sudah mulai menyerap karakter smuanya. Apalagi krn sy pro cerita cerita friendship kentel gini, aku bs enjoy skali sama interaksi mrk. LUCU banget. GEMES. aku paling suka karakter Ichiro... Dia itu... The dorky one tp kalo dah serius eung banget❤ trus Kazuma yg super cheerful dan positif, tp serius kalo jd Kapten. Dan main supporter buat Haruki. Aku suka dia membundle temen temennya yg sebanyak itu jd tim kuat skaligus keluarga terbaik.

Setiap interact mrk berhasil bikin senyum lebar buat sy. Ga jarang sy ketawa sama tingkah mrk. Baca aja dah gemes apalagi nonton animenyaa.. Kalo kalian suka nonton anime genre sport, kalian akan seperti saya.

3. Quite sad. Ga banyak sih, tp beberapa momentum pasti ada sedihnya. Genre sport tanpa garam tuh kosong banget. Dan iya, beberapa perjuangan dan pengorban yg mrk tuturkan itu cukup menyentuh hati sy.

4. Makasih untuk Mizoguchi yg slalu siap ngasih kata kata pusaka nya buat di Quote haha... Ga hambar hambar banget jd nya.

5. Fokus nya lebih ke proses pelatihan > pertandingan. Krn banyak orang awam di tim cheers ini jelas pelatihan mrk disini sangat difokusin. Aku kadangkala berpikir kayaknya rada rush buat mrk berlatih langsung bisa sama gerakan cheers yg amat susah. "Hmm emang segampang itu cheers? " kadang sy terbesit pikiran gitu. Walau begitu, yg ingin sy tekankan adalah proses pelatihan mrk yg terkesan fun dan tidak tegang... Tidak keras jg. Kan moto mrk "menikmati apa yang mereka perjuangkan". Jd intinya mrk berlatih untuk menikmati dan membuat sebuah pengalaman. Sy senang sama moto gini, mrk memang dideskripsikan terlihat bersenang2!

6. Inside romance, and bromance. Ini adalah unsur yg amat belakangan krn sesungguhnya cmn sepelintir aja. Romance nya itu doki dokian seseorang ke cwek.... Sempet sy prediksi menjadi pusat romance yg mau dibentuk.... Ternyata hahahaha....


Bromance nya ini tergantung gimana pandangan pembacanya sih. Kan sy fujo, jd sy anggap bromance di buku ini cukup kuat hahaha. Sy tandai banyak moment yg bromance bait sekali, dan kalian yg suka bromance, bener bener bakal dimanjakan. Dijamin

7. Ending menggantung. Endingnya ternyata hanya sampai situ ya? Entah disengaja atau ga.. Tp mengingat bahwa inti mrk bermain cheers itu untuk bersenang senang, sy pikir endingnya sudah memuaskan. Cmn paling ga dilanjutin sama hubungan terusan per anggota nya itu loh. aku sulit melepas mrk secepat itu :((( *untung blm nonton animenya huhu...

8. Terjemahannya cukup baik. Menurutku terjemahan mrk tdk buruk buruk amat, bs masuk smua. tdk bikin cringe dan bingung. Malah aku suka sama masukan kata kata yang "Indo banget". ada kok kata kata g*blog dll. Itu menghibur skali sampe bikin ketawa.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
July 22, 2023
Have you ever imagined what it would be like if the cheerleading team was made up of only boys? This one of perfect opening to pictures the whole book "Jadilah pemeran utama dalam mendukung orang lain."

This book tells the story of Haruki's injury that made him question his decision to become a judoka just because he was born into a judoka family. This injury caused him to quit the judo club at his college. Unexpectedly, his decision is followed by his best friend, Kazuma, who has other reasons. The day after, they are busy preparing their new club, the cheer team, to invite minimum members and practice and perform in the summer event at their university. On the other hand, the campus pride cheer team will also perform simultaneously.

On page 15, I decided to fall in love, my chest beating with excitement, my eyes glistening with happiness. This book made me feel a spark I hadn't felt in a long time. It made me feel "warm" by the engagement between characters who are very many but distinguishable. The writing of each character shows the problems they face and how they have to survive for the team. This book teaches a lot about the meaning of courage to start new things, tolerance and empathy in teamwork, solution, non-judgment, and kinship because of the intensity of their meetings in training.

This book made me realize what the cheers team does and how hard they have to learn new moves with the right tempo and background music. This book made me feel the fear, tension, exhaustion, and satisfaction that the cheery team thought in this book.

This reasonably thick book feels so short of finishing, but it perfectly bewitches the reader with all the narratives and characters that support each other. One of my favorite scenes is when they always eat lunch at the Himawari cafeteria, the bowl of curry is described as so delicious, and their conversation feels close to what readers usually face, making us feel like we are part of it.

Many characters' statements are also extremely quotable, beautiful, poetic, and answer or slap the heart. For example, the sentence below hits me hard with how perfectionist I am and how others should be too.

"Belum tentu orang lain bisa melakukan sesuatu hanya dengan alasan kau bisa melakukannya dengan baik. Sesuatu yang bagimu benar, belum tentu benar untuk orang lain"

Some make me feel like I'm no longer alone because I feel like no one cares, and I can feel the warmth again.

"Masih ada kok orang yang mengingatmu, Banyak, malah! Masih banyak orang yang mengingatmu. Banyak, banyak sekali! Lai tidak sendirian seperti yang kau pikirkan!"

This is definitely a book I will return to next time; with its beautiful cover and fantastic content, one can't resist the temptation to reread it and feel the sparks!
Profile Image for Nisa.
327 reviews18 followers
September 4, 2020
Fiuh!

Emang agak susah ya kalau baca buku yang banyak 'bergerak'-nya. Mana banyak istilah yang belum kupaham betul-betul pula. Tapi, terlepas dari itu, sesungguhnya Cheer Boy!! punya plot cerita yang manis. Meskipun, yah, ada sih beberapa chapter yang terasa flat dan bikin gue mikir 'hm, skip aja kali ya.'

Tau anime Free! yang aesthetic pleasing itu? Nah, Cheer Boy!! vibe nya sama tuh. Mendayu-dayu so sweet gimana gitu. Tapi, tetep ya, problem gue cuma satu; terjemahannya yang kurang rapi. Nggak ngerti sih, ini udah ada proofreadingnya juga tapi gue masih ngerasa nggak asik aja bacanya.

Anyway, waktu kubeli novel ini, aku sama sekali nggak baca review apapun di Goodreads. Pure bener-bener beli karena tertarik sama deskripsi dan harganya yang lagi diskon. Baru tau juga tuh ternyata ada animenya cuy.

Saran sih, lebih enak nonton animenya daripada baca novelnya. Mungkin karena visualisasinya yang lebih jelas gitu ya daripada di novel yang sering nyebut-nyebut teknik cheers yang nggak familiar hehe
Profile Image for Suci.
154 reviews5 followers
October 19, 2023
- The characters are all in college but they act like middle schooler.
- It is very anime-ic to the core. The format is more like an anime screenplay than a novel. You can picture each scene as if it's an anime, like the alternating scene between the past and the present on the last chapter.
- It's a typical extracurricular activity genre like K-ON! or Love Live!
- There are lots of obnoxious dialogues, can y'all be serious and focused on the conversation?!
- There are many characters (16 on the team alone) and despite having different personal problems and the , their characterization is not very prominent. I barely see any real personality.
- It ends like Spongebob's "Band Geeks" episode ;)
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
September 22, 2020
actual rating: 3,5 star

bulan maret baca jump, novel bertema cheerleader karya moemoe rizal, tapi dengan tokoh utama yang lazim yaitu perempuan dengan jalan cerita yang mirip sama film bring it on-nya kirsten dunst.

cheerboy, tema cheerleader juga, tapi berbeda. tokoh utama adalah laki-laki, tidak serta-merta dari awal mereka berniat membentuk cheer, bahkan ada yang berawal dari olahraga keras: judo. jalan cerita mirip template from zero to hero, meskipun tidak dibuat yang fenomenal.

mengikuti perjuangan merekrut anggota, latihan tiap saat, hingga persiapan mengikuti kejuaran dibarengi drama masing-masing, cukup membikin penasaran. cuma lagi-lagi, kalau baca buku-novel jepang itu feel-nya serasa datar ya. entahlah. kayak lambattt aja gaya penceritaannya. aku sempat mau dnf.
Profile Image for Stere Lizia.
150 reviews
June 29, 2021
3.5 star

Rasa rasanya ini lebih cocok dijadiin manga bervolume-volume kayak Haikyuu! dsbg daripada novel 420+ halaman. Pasalnya ini novel banyak geraknya dan panduan awal di novel nggak cukup. Butuh visual yang lebih hidup biar lebih kerasa ketegangannya. Selain itu panjang novelnya nggak cukup buat nge-wrap semua konflik di dalam buku. Protagonisnya memang cuma Haruki tapi karakter-karakter yang lain juga punya konflik masing-masing. Dan semua konflik itu dipaksain banget di bagian akhir. Endingnya juga gantung banget. Gue nggak masalah soal keputusan akhir lombanya tapi masak resolusi konfliknya terbatas di POV Haru doang!?
Profile Image for Neemumars.
139 reviews2 followers
March 3, 2019
Solid 4 star

Bercerita tentang Kazuma dan sahabatnya Haruki membentuk sebuah Tim yang cukup jarang yaitu Cheerleading Danshi a.k pemandu sorak laki-laki. Penulis dengan detail menjelaskan setiap pemikiran karakter, alasan-alasan para member bergabung, hingga teknik-teknik cheerleading yang membuat novel ini semakin "padat", namun untuk pesan moralnya tetap menjurus, berusahalah sekeras mungkin, jangan menyerah, tidak perlu malu, berani dengan tantangan, Serta pertemanan dalam tim.
Profile Image for Amelia.
8 reviews
July 15, 2022
Personally, I think the story is pretty flat. Pemaparan masalah/konflik nya cukup bagus, dan untuk penjelasan olahraga pemandu sorak nya juga cukup detail. Buatku serasa kayak terlalu detail, jadinya agak susah bayangin adegannya. Mungkin karena aku ga pernah liat atau nonton pemandu sorak gitu, jadi susah visualisasi penjelasan penulis. Cerita masing-masing karakter enak buat diikuti, kadang bikin ketawa sendiri juga.
Profile Image for Naila Mel0njus.
39 reviews
June 9, 2020
Sejak aku SMA aku selalu kagum dengan anak-anak Cheerleading, dan sekarang akhirnya aku bisa baca cheer boy. Sungguh senang rasanya bisa tahu apa yang terjadi di balik penampilan memukau cheerleader. Semangatnya, usahanya, kerja kerasnya, pengorbanannya. Benar-benar novel yang memotivasi kita untuk tetap semangat dan tidak mudah berputus asa!
Profile Image for Alicia Martha.
118 reviews8 followers
March 20, 2021
Ceritanya segar dan seru, sangat menyenangkan membaca novel ini. Bahasa yang digunakan terasa ringan sehingga mudah dipahami. Kebanyakan cerita olahraga yang kutahu hampir semuanya menunjukkan sisi kompetitif dari olah raga tersebut, tapi cerita ini berbeda karena juga mengangkat persahabatan antar anggota tim dan dukungan keluarga mereka.
Profile Image for BaiLing.
1,010 reviews
March 30, 2024
就如書名所言,這是一本講述純由男子組成的啦啦隊。主要核心人物是兩個從小一起長大的大一生,晴希和一馬。晴希生長在柔道世家,雖從小就學柔道,但他卻沒有姊姊在柔道上的天份和能力;一馬的父母雙亡,但想要效法母親年輕時的啦啦隊表演,成了他以為可以喚醒漸漸老年癡呆的外婆的唯一希望。

因為啦啦隊比賽參加人數最少得是16人,於是湊齊各路人馬就成了一大重心,接著是把大家都還算挺陌生的啦啦隊的動作、規則等等寫進去,最後佐以青春、熱血、奮鬥、勵志的革命情感,就這樣,一本三百多頁的小說燦爛沸騰地完成了。

並不介意青春激昂的題材,但有時這等「通篇光明磊落到甚至得戴墨鏡找字裡行間隱約存在的人性黑暗面卻完全找不到」的小說,因為很難信服,所以只能是──

看完,就看完了。



Profile Image for Yusuf Firdaus.
418 reviews3 followers
May 26, 2021
Temanya menarik, semuanya juga oke.
Cuman mungkin karena ini sesuatu yang baru, tentang cheerleader jadi lumayan sering bingung dan harus sering sering cek halaman depan lagi untuk baca pengertian tiap gerakannya.
Profile Image for Zbookz.
59 reviews3 followers
June 19, 2021
"waaaaaaaahh"

Menurut gw pribadi, buku ini sangat hangat. Buku ini melibatkan emosi berbagai macam karekter orang yang tergabung dalam sebuah tim. selain itu, pencarian makna dalam melakukan sesuatu dalam buku ini juga bisa menjadi referensi pembaca mengenai pentingnya untuk mencari tahu terlebih dahulu tujuan kita untuk melakukannya.

selanjutnya, nasihat yang paling penting dalam buku ini adalah perkataan "tidak apa-apa untuk memulai hal yang baru. walaupun kita ragu dan merasa takut, hal yang terpenting adalah bergerak dulu dan kepuasan akan didapatkan setelah kita merasakan penderitaan terlebih dahulu".

Kekurangan :
menurut gw yg awam akan dunia cheerleaders, buku ini adalah buku dengan tema yang sangat baru. Karena cheerleading adalah hal yang baru, gw memiliki masalah dalam memahami istilah-istilah di dunia cheerleading tersebut. Walaupun begitu, gw masih seneng karena di bagian pembukaan, penulis masih memaparkan istilah-istilah seputar dunia cheerleading dengan rapi dan menurut gw pribadi penulis benar-benar melakukan riset yang mendalam mengenai dunia cheerleaders.
Profile Image for Tanto Maulana.
26 reviews
December 20, 2023
Waktu baca buku bagian awal, banyak sekali penjelasan tentang apa apa di Cheerleader. Tapi ku hiraukan dan ternyata istilah itu banyak muncul di sepanjang cerita. Ugh, PR banget harus bulak-baliknya huaa. Terus karakter nya banyaaaaak banget. Sampe gak bisa hafal semua dan nyerah haha
Profile Image for Yuzuki.
25 reviews
December 29, 2022
Menceritakan kekompakan mereka yang seru, banyak pelajaran yg bisa diambil darinya
6 reviews
August 3, 2025
Idgaf if most of the reviews of here are negative bc I was blessed enough to read it inJapanese. YOU READ A BADLY TRANSLATED BOOK!!!!!!!!!!!!! Anyways I love Asai Ryo’s writing so much, too bad it doesn’t translate well. Yeah it does feel like you’re watching a sports anime instead of reading a fictional story, but that’s Asai’s appeal I think. Also the way his books are consistent with the way the story concludes; main characters tracing each step that other character(s) takes and discovering what they felt in each moment (何者 archived this by using Twitter, here Asai used a diary) and you never really know what happens after the ‘main’ event (Did the Breakers win?), etc. I also love the characters in this book more than any other books by Asai and the aforementioned point probably contributes to this. Asai said that he wrote this book hoping that the readers would finish this without any negative feelings, and I say he archived this :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
February 14, 2015
Judul: Cheer Boy!!
Penulis: Ryo Asai
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 428 halaman
Terbitan: November 2013

Haruki cedera. Cowok itu menggunakan cederanya sebagai alasan untuk berhenti dari Judo karena menyadari batas kemampuannya. Padahal Haruki lahir dalam keluarga pejudo dan kakak perempuannya selalu jadi pemenang dalam setiap kejuaraan Judo.

Kazuma, teman sepermainan Haruki tiba-tiba ikut berhenti Judo dan menyarankan hal gila. Mereka akan membentuk tim cheerleading cowok!! Padahal, olah raga itu kan olah raga cewek!

Tapi, saat anggota berhasil mereka kumpulkan, ternyata mereka adalah cowok-cowok dengan masalah masing-masing.

Saat masalah itu saling berbenturan, akankah cheerleading bisa membuat mereka tetap bersatu? Akankah cheerleading bisa menyelesaikan semua masalah?

Review

"Cheerleader.... Biasanya cewek yang melakukannya, kan?"

"Biasanya sih begitu. Tapi tidak ada peraturan yang melarang cowok untuk melakukannya, kan? Kau tahu tidak, tim cheerleader universitas paling terkenal saat ini adalah campuran cowok dan cewek." (hal. 54)


Sudah lama banget saya pengin baca novel ini. Mungkin sejak terjemahannya pertama kali keluar. Hanya saja, entah kenapa, saya batal beli terus dan akhirnya baru kesampaian pas Mbak Tammy jual buku murah.

Butuh kesabaran ekstra saat membaca Cheer Boy ini. Cerita dimulai dengan Haruki dan Kazuya, anggota klub judo yang sudah bersahabat lama, yang memutuskan untuk berhenti dari judo dan memulai tim olahraga baru. Ceritanya kemudian berputar pada soal mencari anggota baru, latihan, persiapan untuk tampil di acara kampus, hingga kemudian berkembang menjadi sebuah tim beranggotakan 16 orang, latihan, latihan, latihan, turnamen penyisihan, latihan, latihan, latihan, latihan, saya sudah bilang latihan belum? Lalu turnamen tingkat nasional.

Iya, novel ini banyak banget adegan latihannya. Ada banyak juga penjelasan dan istilah-istilah yang sifatnya sangat teknis. Buat orang yang tidak terbiasa dengan cheerleading, seperti saya, pasti bakal kagok bacanya.

Tapi, saya juga sebenarnya suka dengan banyaknya sesi latihan yang ditampilkan. Di sana pembaca bisa melihat perjuangan Breakers, nama tim cheer yang dibentuk Haruki dan Kazuya. Mulai dari latihan teknik, hingga benturan antar anggota serta konflik internal tokoh-tokohnya.

Bagian favorit saya waktu mereka tampil di pertandingan nasional. Soalnya di sana kelihatan banget hubungan antar karakter, serta kekompakan mereka. Sayang akhir ceritanya ini terkesan terpotong. Saya tidak keberatan kalau ini sedikit dipanjangkan lagi. Mungkin sedikit bagian epilog, gitu.

Secara keseluruhan, Cheer Boy ini memang murni novel olahraga. Tidak ada soal cecintaan (ada sih, tapi porsinya kecil banget). Yang ada hanya perjuangan Breakers untuk tampil di tingkat nasional, persahabatan, serta konflik pribadi para tokoh utamanya. Disarankan untuk sedikit sabar dalam membaca buku yang memang cukup lambat ini.

"Dalam turnamen, setiap tim bisa menyajikan penampilan lebih baik daripada latihan selama ini, Itu karena ada tim lain. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai kawan bertekad sama. Selama bisa merasakan kesenangan seperti itu saat melakukannya, tak seorang pun yang sanggup berhenti dari olahraga ini." - Pelatih Takagi


Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
Profile Image for F3t.
167 reviews12 followers
August 24, 2014
Haruki Bando, seorang anak laki-laki yang diharapkan dapat meneruskan dojo judo orangtuanya. Namun Haruki tidak merasa seperti Haruko, kakaknya yang tampil selalu gemilang layaknya pejudo sejati. Haruki memutuskan untuk berhenti dari judo...
Kazuma, mempunyai hanya seorang nenek sebagai keluarganya, karena ayah dan ibunya telah meninggal. Penyakit tua yang menyerang neneknya membuat Kazuma terdorong untuk menciptakan tim cheerleader pria satu-satunya di universitasnya.
Tidak hanya itu, ketika ia mengetahui tentang keputusan Haruki, temannya sejak kecil untuk berhenti judo, olahraga yang pernah ia geluti juga, Kazuma langsung menarik Haruki sebagai anggotanya.
Selain Haruki, ada pula 5 anggota lain yang terbentuk sebagai formasi awal tim ini. Walaupun awalnya mereka tidak mempuyai bakat, dan sangat kesusahan melakukan handstand sekalipun, tapi niat mereka mantap dan tidak menyerah untuk tampil perdana pada pembukaan pesta olahraga sekolah mereka.
walaupun hanya dibantu oleh video rekaman dari ibu Kazuma dulu, ibu Kazuma juga adalah seorang cheerleader, mereka berlatih giat dan akhirnya dapat tampil di panggung.
Dengan banyaknya kesalahan, mereka tetap dapat menarik 9 anggota berikutnya sehingga mereka berjumlah lengkap16 orang, juga adanya pelatih Takagi yang membantu mereka untuk maju dan lebih baik.
Dalam tiga bulan berikutnya mereka harus tampil di penyisihan Kanagawa untuk mendapatkan nilai 80+. Karena untuk melanjutkan ke Turnamen Nasional Cheerleading, mereka harus mendapatkan nilai diatas 80 saat babak penyisihan.
Dapatkah Kazuma & kawan-kawan mendapatkan nilai tersebut dan maju ke tingkat nasional dengan waktu latihan yang singkat?
Bagaimana dengan hubungan Haruki dan kakaknya setelah meninggalkan dojo? Serta hubungan tiap anggota terhadap masalah mereka sendiri dan mengatasi kekompakan?

Buku ini memberikan pandangan pemuda umur mahasiswa dalam menghadapi suatu tantangan baru. Hal yang pernah mereka lalui, latihan yang berat, kebersamaan bersama teman, juga hal-hal yang berkaitan dengan pribadi mereka yang terpapar mendekati kenyataan. Sehingga buku ini sangat cocok bagi pembaca yang ingin mendapatkan dorongan semangat. Sangat menyenangkan.
224 reviews
December 28, 2013
Kisah dalam buku ini mengalami pergantian berbagai sudut pandang tokoh, namun tokoh utama yang paling sering dipakai sudut pandangnya adalah sudut pandang dari Haruki. Kazuma dan Haruki sudah 10 tahun bersahabat. Sebelum Haruki sempat bilang ke Kazuma kalau dia ingin keluar dari klub Judo, Kazuma justru sudah mendahuluinya keluar dari klub Judo dan mengajak Haruki untuk membuat klub baru.

Kemudian dimulailah pencarian anggota klub cheerleading mereka. Mulai dari menyusup ke kelas olahraga, sampai menyusup ke klub tenis demi mencari anggota baru. Akhirnya, terkumpulah 7 orang, mulai dari Kazuma dan Haruki sendiri, lalu Mizoguchi yang pintar dan suka mengutip kalimat-kalimat orang terkenal, Ton yang gendut tapi nggak ada tenaganya sama sekali, Ichiro dan Gen duo sahabat yang rame berhasil diculik dari klub tenis, dan terakhir Sho yang tampan tapi selera berpakaiannya sangat buruk.

Biarpun hanya 7 orang saja, tapi mereka memiliki tekad keras untuk bisa tampil di festival kampus dan berhasil mengumpulkan 9 anggota baru yang kemudian sama-sama berjuang untuk mengikuti pertandingan Cheerleading Nasional. Perjalanan mereka menuju nasional tidak selalu mulus. Dengan bertambahnya anggota baru, maka muncul pula konflik-konflik di dalamnya.

Yang saya suka dari karya literatur jepang, plotnya selalu rapi dan penyampaiannya yang sederhana namun bermakna dalam. Begitu juga yang saya dapatkan dari Cheer Boy. Saya bisa melihat betapa orang-orang jepang selalu mengupayakan yang terbaik dan bekerja keras, tidak pernah setengah-setengah untuk hal-hal sederhana. Bahkan disaat serius pun sering diselipkan komedi yang komikal jadi buku ini nggak melulu serius.


Review super panjang dan lengkap di http://www.okydanbuku.com/2013/12/che...
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
December 17, 2013
"Rasanya, aku belajar judo hanya karena aku lahir di dojo. Kalau misalnya aku lahir di keluarga pianis, rasanya aku juga akan belajar piano."

Haruki lahir di tengah keluarga judoka - Ayah dan Ibunya memiliki sebuah dojo dan kakak perempuannya, Haruko, memiliki prestasi yang luar biasa dalam judo. Namun semenjak Haruki mengalami cedera pada pundaknya dalam suatu pertandingan, Haruki mulai ragu dengan jalan hidupnya. Meskipun dengan hati yang berat, Haruki akhirnya memutuskan untuk keluar dari tim judo - dan hal itu membuat hubungannya dengan Haruko berubah dingin. Sahabat Haruki yang bernama Kazuma pun mengikuti jejaknya dengan keluar dari tim judo. Bersama-sama, mereka berdua berjuang untuk mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda: cheerleading.
"Cheerleader... . Biasanya cewek yang melakukannya, kan?"
"Biasanya sih begitu. Tapi tidak ada peraturan yang melarang cowok untuk melakukannya, kan? Kau tahu tidak, tim cheerleader universitas paling terkenal saat ini adalah campuran cowok dan cewek,"
....

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2013/1...
Profile Image for Siti Robiah A'dawiyah.
174 reviews23 followers
May 26, 2014
"Rasanya, aku belajar judo hanya karena aku lahir di dojo. Kalau misalnya aku lahir di keluarga pianis, rasanya aku juga akan belajar piano"
-Haruki-

"Sejak kecil aku sering mendengar perkataan ini sampai hafal. 'Cheerleader adalah sosok yang mendukung seseorang dengan senyum, tak peduli penonton atau atlet. Cheerleader adalah orang yang takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk berusaha lebih lagi'..."
-Kazuma-

Sebuah ide muncul secara tak terduga, saat Kazuma melihat nenek yang telah lama sakit dan mulai jarang berbicara menyebut nama ibunya, Kazumi. Ini terjadi saat nenek menonton pertandingan bisbol di televisi. Bukan pemain bisbol yang menjadi perhatian nenek, tapi para cheerleader (pemandu sorak) yang membuat nenek secara tiba-tiba menyebut Kazumi. Kazuma yang melihat hal ini tak terkira senangnya, sudah lama nenek tak bicara. Dan yang membuat nenek bicara adalah kenangan ibu Kazuma yang seorang cheerleader. Ya, cheerleader dalam tv itu mengingatkan nenek pada Kazumi.

Review Lengkap
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
December 15, 2013
Novel ini cowok banget! Tentang persahabatan cowok-cowok dan cara mereka membuktikan bahwa mereka bukan pecundang, meski sempat gagal di bidang yang mereka tekuni sebelum jadi cheerleader. Karena settingnya di Jepang, maka banyak hal tentang Jepang yang banyak kita tahu, seperti budaya, tata krama, dan tentu makanannya yang bikin lapeeer! ^^ Yang bikin agak bosan mungkin deskripsi-deskripsi tentang cheerleadingnya ya lumayan banyak. Terjemahannya juga sudah oke menurutku. ^^

Resensi lengkap ada di sini:

http://t.co/uQN47cCqqA
Profile Image for Nana Petronika.
Author 1 book6 followers
August 8, 2014
Melelahkan.
Itulah kesan aku baca novel ini. Mungkin karena aku emang buta banget sama dunia cheerleader. Terlampau banyak penjelasan tentang cheers yang mendetail. terlalu banyak latihan. Sampai-sampai aku ngerasa, aku pasti bakal suka banget cerita ini dalam bentuk tontonan, bukan bacaan. Nah, kalau dalam bentuk tontonan, segala bentuk latihan mereka kan bisa dicepetin jadi potongan-potongan adegan, jadi aku gak bakalan bosen ngeliatnya.
Profile Image for Naomi Chen.
229 reviews14 followers
August 13, 2014
This is motivation-type story. I was really curious about the theme, but actually I feel so-so when reached the ending. Well, Asai Ryo-san never described the "exact" ending, and I think this novel not so worth to read if you don't really like that kind of story. Ah, maybe I will recommend this novel for people who interested with cheerleading, because there's so many information about that world.
Profile Image for Ari.
1,041 reviews116 followers
November 17, 2014
2,75*
Kisah persahabatan para cowok itu selalu jadi favorit saya.
Tapi sayangnya saya kurang menikmati Cheer Boy!! ini.
Mungkin karena bahasanya kadang "lebay", mungkin juga karena saya merasa flow story nya gak smooth.
Di beberapa bagian saya berkali-kali baca ulang, bolak-balik halaman, "Am I missing something here?", seperti itu. Rasanya seperti komik yang kemudian diubah ke bentuk prosa.


Profile Image for Sisca wiryawan.
59 reviews
March 7, 2015
Cheer Boy!! merupakan novel bergenre remaja. Kisah ini menceritakan tentang persahabatan, terutama di antara anggota tim cheerleading cowok. Konflik yang muncul merupakan problem remaja, yaitu mencari jati diri, masalah keluarga, maupun perselisihan antara teman. Kisah cintanya ala remaja dengan ending tak terduga. Kisah ini penuh dengan energi dan semangat (passion)!

Read more in :
http://bookluvluv.blogspot.com/2015/0...
Displaying 1 - 30 of 40 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.