Puisi-puisinya membawa kita kembali dekat dengan alam. Kesan virtual yang diciptakannya sangat kuat. Penggambaran alam ini merupakan cara yang efektif untuk melepaskan khayal kita agar mengepakkan sayapnya dan berkelana. Kesan lain yang layak dicatat adalah kejernihan bahasa dan kesederhanaan ungkapan. Kesederhanaan ini datang dari keikhlasannya dalam berkarya. Ia menulis karena dorongan murni untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan dengan sebaik-baiknya, terbebas dari alasan-alasan sampingan. ( Saini K.M. )
Membaca puisi Edi Sedyawati saya merasa diajak melihat puisi oleh seorang yang memiliki kepekaan terhadap puisi. Saya terharu oleh keindahannya yang bersahaja. Saya seperti mendengar getaran sayup capung dalam sunyi. Bagai gemericik air atau bunyi belalang yang tidak berpretensi apa-apa, kecuali menandai perubahan dalam bait-bait yang menggigit, menyebabkan sesuatu yang terjadi setiap hari di sekeliling kita tiba-tiba menjadi indah. ( Putu Wijaya )
Edi Sedyawati is an Indonesian archaeologist and historian. She is a professor of archaeology at the University of Indonesia, Chairperson of the university's Department of Javanese Letters and Center for Humanities and Social Sciences and also Chair of the Department of Dance at the Jakarta Institute for Arts. She also served as Indonesia's Director General of Culture in the Ministry of Education and Culture from 1993 to 1999.
Sedyawati studied various forms of Indonesian dance in Ikatan Seni Tari Indonesia, and in 1961 she performed in the Indonesian culture mission to China, North Korea, North Vietnam, and the USSR. Although the primary purpose of the culture mission was soft diplomacy to Indonesia's allies, in 2006 Sedyawati wrote in a reflection that the performers primarily benefitted by networking with Indonesians from diverse cultural backgrounds and learning about the various styles of dance and performance art in the archipelago.
In 1960, Sedyawati's work on dating carved statues near Karawang contributed toward proving that the ancient Tarumanagara kingdom embraced Hinduism.
Buku puisi pejabat yang diantar dan ditutup oleh dua orang yang punya nama di bidangnya. Buku Edi Sedyawati ini dibuka oleh prolog dari Saini K.M. dan ditutup dengan epilog dari Putu Wijaya.
Untung saya tidak tahu bahwa Bu Edi ini pejabat, jadi tidak perlu curiga, seperti Putu Wijaya curiga pada buku puisi yang ditulis oleh pejabat. Berikut petikannya,
“Ketika menerima sejumlah sajak dari seorang doktor professor, mantan dirjen, dan pemrakarsa Art Summit Indonesia, mau tak mau saya curiga. Ini keisengan dan kegenitan apa lagi. Banyak pejabat dan juga orang beken menganggap puisi sebagai tempat yang aman untuk mengeluh, menumpahkan rasa, bernostalgia, atau melontarkan pikiran-pikiran yang “gila”, “tak bertanggung jawab” dan “radikal”. Puisi menjadi semacam ruang pembebasan bagi penulisnya.”
Namun, komentar Putu dalam lanjutan epilognya itu berubah. Bukan karena telah mengenal penulisnya sebagai kritikus tari dan sekaligus penari, Putu tidak mengatakan puisi Edi Sedyawati sebagai sesuatu yang hebat, tetapi ia mengatakan, “saya terharu oleh keindahannya yang bersahaja.”
Saya sendiri menyukai dan tersentuh dengan dua puisi dalam buku ini, “Subakastawa” dan “Jarak”. Yang pertama karena ada dua kata didalamnya, subakastawa dan mideringrat, yang membuat saya bertanya kepada orang tua saya di rumah. Sedangkan yang kedua menjadi perenungan buat saya yang saban hari jadi komuter di Jakarta ini. Saya kutipkan dua puisi itu dibawah ini (tipografi saya abaikan, karena susah hehehe)
Subakastawa
Arjuna yang kukenal Menghentakkan pada alam mati yang Menjerat lagumu Maka senandungkan pelan subakastawa Dari dasar hati yang sarat mideringrat Antara tantangan dan penerimaan
SMA Kelas 2, 1956
Jarak
Berdesakan di trotoar dan bis kota di kereta api dan di pasar-pasar kita menghisap daya dan mencuri pluang dan di situ juga ditimba dan diduga kedalaman dan kedangkalan rasa
Di desa Paga di belakang Maumere Seorang ibu cendikia Melintasi tiga bukit Untuk menemui murid-muridnya.
24 Oktober 2003.
Selepas membaca buku kumpulan buku puisi ini hingga lewat epilog dari Putu Wijaya, saya malah sedikit ngelantur, “apa yang akan ditulis Putu Wijaya jika ia diminta untuk membuat epilog untuk sejumlah syair yang dikemas dalam sebuah lagu karya seorang doktor yang lain?”
Ah, itu kan sebuah cetusan saja ketika saya ber<mideringrat antara kerjaan dan menulis di goodreads. :D