Keragaman tema yang disajikan oleh penulis dalam kumpulan cerpen ini setidaknya memberikan kesegaran bagi pembaca dalam melihat fenomena kehidupan. Khususnya kehidupan pada masa Orde Baru. Dengan latar belakang sebagai pengajar dan wartawan. Harris Effendi Thahar dapat menyajikan berbagai ironi kehidupan yang dibuat oleh sebuah rezim yang berkuasa selama 32 tahun. Cerita-cerita dalam buku ini dapat menjadi ukuran apakah korupsi dan kekerasan dinegeri kita saat ini sudah hilang atau malah sebaliknya.
Jujur saya suka gaya-gaya sederhana Haris Effendi Thahar menulis cerpen. Tidak neko-neko dan terkesan sangat jujur. Tetapi apabila dibandingkan dengan Si Padang terasa intensitas dan kedalaman tema lebih mengena di Si Padang. HET masih berkutat pada kondisi sosial masyarakat dan kehidupan orang desa atau orang terpinggirkan.
Kalau diamatai secara detail, bahwa cerpen-cerpen yang dimuat dibawah tahun 90-an, selalu dimulai dengan paparan pemandangan. Ini adalah gaya klise masa itu. Ini dapat dibaca pada cerpen Kebulatan Tekad dan Kopi Pahit. Pasca itu HET tidak selalu membuka dengan gaya papaparan pemandangan dan suasana.
Keberagaman tema dan hentakkan pada akhir cerita membuat kita seperti macam roti Khong Guan. aneka rasa dan bentuk tapi seru. Aku suka cerpen yangdijadikan judul Anjing Bagus
Soal menyoal kehidupan sosial politik yang dirangkum dalam kesederhanaan deskripsi. Tapi, tidak sesederhana isi dan pelajaran yang bisa dipetik. Boleh dibilang, ini buku pintar yang dirangkum dengan kesederhanaan yang ciamik.
Bagian favorit adalah di setiap ending cerpen. Penulis selalu punya "pakem" yang membuat kita—sebagai pembaca—termangu sesaat. Berhenti membalik lembaran dengan pikiran-pikiran: ... jadi ... begitu? Eh, begitu?
Tipe open ending yang nampol-nampol gitu. Yang sometimes terasa penuh filosofis.
Pokoknya, suka sekali dengan pengeksekusian di setiap ending cerpen-cerpen di sini!