Tertawa bersama Superman yang mendedahkan nama Tuhan Yang Mahahumoris
Oleh Nant’S
- Ini buku blog?
+ Bukan…
- Ini buku filsafat?
+ bukaaaaaaan..
- ini buku relijius?
+ Bisa jadi…
- Ini buku tentang superman?
+ ya, anda ngaco.... dan benar....!
Di atas adalah tebak-tebakan yang ada di kepala saya begitu membuka buku ini. Membolak-balik halamannya, ketika disodori oleh rekan saya di kantor untuk membacanya. Melihat tawaran buku yang ia sodorkan, tercetus dari mulut saya, “elo peneliti apa sih?” hehehe buku antik, jauh lebih antik dari dugaan terliar di kepala saya sendiri. Namun pertanyaan terakhir memang benar. Buku ini adalah buku tentang superman, begitu Pidi Baiq menyebut dirinya ketika sakit flu. Bolehlah disebut ini buku superman yang sangat manusiawi karena dengan tawanya tergetar pintu langit. Superman yang mendedahkan nama Tuhan Yang Mahahumoris bagi telinga-telinga yang terbiasa dengan kebenaran biasa-biasa saja.
Begitulah kalau sibuk berasumsi hingga lupa untuk tertawa. Tertawa yang merupakan buah damai dari permainan yang tulus dalam hidup ini. Saya dulu pernah begitu. Saat itu di kampus saya, angin yang siut sepoi adalah tawaran musik yang paling damai. Sejuk siut angin itu bisa dinikmati saat saya suntuk dan memilih kabur ke Pojok Nanang. Nanang’s Corner, yang menu utamanya adalah risoles, kue sus, kue bakso, susu ultra dan teh botol, merupakan tempat saya lari dari suntuk ceramah dosen. Saya di situ ketika teman lain yang juga suntuk bertanya, ”lo kuliah buat apa sih, to?” ”Kuliah itu kayak taman kanak-kanak, lo bermain sampai senang dan berteman sebanyak mungkin. Ceramah di kelas itu dongeng yang perlu lo denger kalo lo lagi susah tidur!” Jawaban saya sekenanya. Namun jujur saja, saya serius menjawab kesuntukan teman itu. Salah satu kunci keberhasilan pendidikan buat saya pribadi adalah seberapa teman berhasil saya dapatkan dalam setiap jenjang pendidikan. Sejauh ini SMP adalah masa terburuk saya. Saya hanya berhasil berkawan dengan sedikit orang pada masa seragam putih-biru itu.
Berteman dan tertawa, itu kuncinya dalam bermain. Begitulah Pidi Baiq buat saya berceloteh dalam buku ini. Buku yang sangat berat isinya meski reaksi buat pembacanya bisa jadi tertawa, atau senyum getir atau muka mual menahan muntah karena menganggap penceritanya orang gila.
Gila dalam arti bermain bukanlah penyakit. Wuih, ucapan megah itu meluncur di pengantar buku ini. Ditulis oleh seorang bergelar profesor doktor pula. Mengajar filsafat di Universitas Parahyangan dan ITB bisa nambah bergidik toh! Tapi bukan itu yang membuat saya bergidik. Pak Bambang Sugiharto, buat saya, hanya mengantar sampai permainan kata Pidi Baiq yang sangat jazzy. Penulisnya sendiri yang mengantarkan dengan sangat tajam ketika ia mengeluh kepada wastafel di toilet rumahnya. Dialog singkat tentang ketakutan Pidi Baiq pada orang yang akan marah kepada apa yang ditulisnya. Karena “mereka” itu adalah orang yang merasa dalam hidupnya selalu berbuat baik, dan pemegang mutlak Kebenaran! Karena mereka akan marah kepada Pidi Baiq yang dianggap bertingkah laku tidak sesuai dengan “seragam” kebenaran mereka.
Gong!!! Saya disitu terhenyak. Diam. Buku ini bukan buku lucu seperti iklan tutur tinular pemilik buku ini. Buku ini buku langut bersama secangkir kopi dalam kategori rak buku dunia maya saya. Diujung dialog singkat di bab “Semacam Pendahuluan” itu, Pidi masih sempat berterimakasih kepada wastafel broken whitenya. Terimakasih yang tulus, bukan basa-basi dari seorang pembelajar kepada benda yang barangkali remeh dalam sebuah proses pembelajaran itu. Sketsa grafisnya yang “lucu” tidak bisa menyembunyikan itu.
Saya memilih untuk melanjutkan membacanya...
Benar, kata Pak Bambang Sugiharto: Kata-kata Pidi sangat jazzy sekali, pun susunan ceritanya. Tapi jangan bilang ia semata bermain dan ngelindur. Ia suka tertawa, pasti itu. Ia sayang istri, duh romantis tepatnya. Ia sayang anaknya, mendongengkan cerita untuk mereka. Sambil mempersiapkan mereka untuk membaca keseragaman dengan cara yang lebih canggih. Mengenalkan kacamata postmo untuk membaca keseragaman tanpa membuat mereka jumud hingga menjadi postmo by book. Tanpa lupa akan esensi mendekonstruksi dunia yang semakin bangga dengan kemegahannya yang kumuh (Mangga Monyet). Ia bercerita tentang cinta platonis seorang Dayat setelah sebelum menyelinginya dengan tebak-tebakan yang sarat penghargaan kemanusiaan bagi seorang Dayat. Sehingga seorang Dayat yang hanya pesuruh ditengah badai cintanya, ketika ditanya Bosnya (Pidi), tetap bisa berkata memilih Peterpan daripada band baru, Rolling Syaiton. Duh, Kang Dayat top markotop lah! (Dayat). Masih ada persoalan mentertawakan ruang publik bernama kafe melalui pelajaran memberi dan bersilaturahmi dengan egaliter bersama tiga orang tukang becak (Mangga Mimo). Menikmati berkah bulan Ramadhan melalui sepiring nasi goring bersama tukang ronda dan pedagang nasi goring keliling dengan pesan tentang hukum sebab-akibat yang biasa orang tua kita sebut dengan singkat, kualat (Ronda). Hubungan antar bangsa, Indonesia-Malaysia yang memanas dalam menyoal kekayaan budaya, Pidi berperan sebagai duta bangsa yang tetap ramah kepada sahabatnya dari negeri tetangga. Konflik antar bangsa ternyata bisa dilakukan dalam canda yang sangat indah ternyata (Noor Rosak).
Belum lagi, tentang pelajaran mencapai tujuan akhir yang bisa jadi penuh liku ketika ia menjadi supir Angkot menggantikan Bang Ginting. Tentang betapa terbuka dan egaliternya angkot itu. Semua diangkut asal tertib dan tidak merugikan orang lain. Persoalan agama dan tidak beragama, persoalan etnisitas, tua-muda, cantik-jelek, selesai. Semua diajak asal sepakat, membayar ketika turun. Tiba-tiba saya menutup muka dan berkata dalam hati, “saya ingin negara ini seperti Angkot Ginting”. Lihat pula ujung bab tentang Angkot Bang Ginting itu, “Terimakasih Ginting. Bilang sama Pak Satpam kalau dia tanya nanti. Kamu adalah guru saya.”
Di akhir buku ini, Pidi menulis, “sekian sampai kita berjumpalitan.” Saya tidak berjumpalitan. Bahasa Pidi, plot Pidi, memang berjumpalitan. Saya hanya berguling-guling tertawa. Kebenaran ditertawakan hingga menetas kebenaran yang lebih bersahaja. Kebenaran itu hadir ketika kita sanggup mentertawakan diri sendiri. Hingga mengejawantah Tuhan yang Mahahumoris!
Dunia yang tertawa, tempat ramah bagi para musafir yang letih bermain. Jika itu tercapai sebagaimana ide yang dikemas buku ini tercapai: Pidi Baiq layak dapat Nobel Perdamaian! Hahahaha lebay[dot:]kom.