Memberi inspirasi tidak dengan cara yang biasa-biasa saja. Di dalam buku ini pemikiran para filsuf dunia digali untuk memberi pencerahan bagi para profesional.
Penilikan akan menyingkap bahwa kita saling menolong sebagai sesama manusia lewat profesi yang kita emban. Jadi, profesi bukan alat mata pencarian belaka, juga bukan kendaraan bagi ambisiambisi dan kepongahan manusia.
Penyelidikan lebih lanjut akan memperlihatkan bahwa profesi ikut membentuk identitas dan karakter, menjadi bagian pencarian makna hidup dan kebahagiaan, dan akhirnya juga menunjukkan manusia macam apa yang menyandangnya. Profesi adalah sarana untuk mengolah hidup yang baik dan menempa keutamaan. Ada jejak religius dalam kata profesi, yakni panggilan Tuhan.
Tilikan filosofis memang tidak selalu menghibur, cukup kerap menelanjangi pembenaran-pembenaran, dan tidak jarang menggelisahkan. Sesaat sesudah mengerutkan dahi, kita ditantang untuk meninggalkan zona-zona nyaman kita dan menata hidup kembali dengan lebih bijak. Sebuah buku yang menantang para profesional untuk merenungkan sisi kemanusiaan dalam profesi mereka.
ada 10 tulisan dalam buku ini, yang diawali "Platon dan Komitmen Profesi" Romo Setyo lalu dipungkasi "Heidegger dan Para Pensiunan" Hardiman. 10 tulisan itu bermodelkan berikut: relevansi gagasan filsuf X atas profesi Y. model macam itu banyak ditemukan dalam skripsi jurusan filsafat di Indonesia. pencarian relevansi gagasan filosofis kadang terlalu dipaksakkan sehingga terasa ganjil atau dalam lazimnya dikenal "cocoklogi".
saya bertemu keanehan itu di tulisan kedua "Epikuros untuk Para Konsultan". Henry-Priyono, penulisnya, mengurai panjang-lebar bagaimana menjalani hidup agar meraih kebahagiaan ala Epikuros, yang sama sekali tak ada kaitanya dengan diet dan memang terkesan cocoklogi bila dikaitkan dengan diet, dan tiba pada pada kesimpulan bahwa apa yang disarankan Epikurus sebenarnya adalah sebentuk diet; "diet kini dimengerti hanya terkait soal makan/minum, tetapi diet sebenarnya menyangkut aneka konsumsi yang diperlukan untuk hidup sehat dan bahagia (Yunani: diaita berarti "cara hidup").
selain itu beberapa tulisan terlalu menumpukan uraian gagasan filosofisnya sehingga bagian profesinya kurang mendapatkan ruang, kecuali sebagai penutup kesimpulan dengan bilang: "karena itu, profesi Y harus menghidari pandangan A, B, dan C sebagaimana kritik filsuf X." itu ada dalam "Marleau-Ponty untuk Para Perawat Tubuh" Thomas Hidya dan Hery-Priono tadi.
Ada tulisan yang cuma bicara gagasan filosofis dan kritiknya, seolah lupa bagian relevansi. Itu ada dalam "Rorty untuk Para Sastrawan" Sudarminta. tulisan Rorty, dalam terang Sudarminta, mencanangkan proyek sastrawisasi filsafat dan Sudarminta menyangkal tak sepenuhnya sastrawinasi filsafat itu benar; karya filsafat yang eksplisit dan logis punya nilainya sendiri dan begitu pula karya sastra-filosofis yang implisit dan ambigu punya nilai sendiri. tulisan ini tak ada relevansinya bagi sastrawan.
karena model 'relevansi gagasan filosofis X atas profesi' yang diambil, secara umum tiap tulisan diawali bigorafi singkat, lalu gagasan filosofis, lalu refleksi/kritik. jika bagian refleksi/kritik itu dibuang, maka buku ini hanya akan menjadi pengatar filsafat atau antologi rangkuman pemikiran filsuf.
Sebagaimana judul yang tertulis, buku ini adalah ulasan pemikiran para filsuf yang diterapkan pada sejumlah profesi tertentu (ada 10 macam profesi), misalnya PRT, konsultan diet, agamawan, pialang saham, agency iklan, turis, pensiunan, sastrawan, dan lain-lain. Tiap babnya ditulis oleh orang yang berbeda-beda, sebab buku ini merupakan kompilasi dari tulisan beberapa penulis di bidang filsafat. Aslinya tulisan di buku ini merupakan materi dari Extension Course STF Driyakarya 2013/2014 (Filsafat Untuk Para Profesional)
Awalnya saya suka membaca bagian pengantarnya. Terkhusus pada bagian bagaimana orang Yunani sudah memikirkan tentang profesi sebagai suatu tidak hanya sebagai suatu mata pencaharian, tetapi sebagai suatu panggilan (bahasa Jerman, Beruf, artinya adalah profesi. Ada jejak 'rufen' yang artinya adalah memanggil), yang mana yang memanggil adalah Allah. Dengan kata lain, menjalani profesi sebaik mungkin adalah salah satu bentuk upaya menjawab panggilan Tuhan. Profesi turut membentuk identitas dan karakter diri kita, menjadi bagian dari pencarian makna hidup dan kebahagiaan, dan akhirnya menunjukkan manusia macam apa yang menyandangnya. Profesi memungkinkan seseorang untuk mencapai "untuk apa dia ada"
Tapi bagian belakang-belakangnya saya kurang suka, karena ditulis dengan gaya bahasa akademisi yang sulit dipahami, apalagi bila benar-benar dibaca oleh pengemban profesi yang dimaksud.
Buku ini berusaha membumikan filsafat dengan mengambil pekerjaan tertentu sebagai acuan. Asyik, sih. Karena jadi tahu bagaimana sebuah pekerjaan dikaji secara lebih filosofis.
Cuma, kok, rasanya masih terlalu serius gaya bahasanya. Seharusnya bisa lebih santai dan ngepop. Apalagi jika buku ini memang ditujukan untuk orang awam, bukan penggemar filsafat.