Buat Anda yang masih ragu untuk membeli dan membaca buku ini : sebagian besar isi buku ini, diambil dari pertunjukan stand up comedy Soleh Solihun yang berjudul "Majelis Tidak Alim." berbeda dengan membaca buku lain, membaca buku ini Anda akan langsung merasakan faedahnya. Membaca buku berbahasa Inggris, sedangkan Anda tak bisa berbahasa Inggris, Anda merasakan pusing. Membaca buku ini, tidak akan menimbulkan pusing, kecuali Anda membacanya dalam keadaan kurang makan, kurang tidur, dan kurang tekanan darah.
Setengah berharap buku ini berisi bit-bit SUC-nya Soleh Solihun, tapi sebagian besar isinya cenderung berupa memoar alias semibiografi. Dan membaca cerita masa kecil Soleh di sini, seakan membaca buku Generasi 90-an.
I think it's better for a stand up material than a book. And the editor clearly love the books too much cause he/she doesn't mind putting it several same joke twice
Entah dianggap kelemahan (atau malah kelebihan?) aku itu orangnya susah dibuat ketawa, apalagi kalau niat orang itu sejak awal emang mau ngelucu.
Orang ketawa, aku bengong. Orang bengong, aku mengguncang lemak.
Ya, selera humorku agak payah (atau malah, agak "sultan"?), yang jelas, kalau nonton acara lawak, aku kurang suka. Kalau nonton yang bunuh-bunuhan malah seneng. Apaan sih, Yan!
Hwhw.
Sebab itu, aku nggak tahu siapa Soleh Solihun ini. Ya, namanya sih samar-samar terdengar, ya. Tapi aslinya aku nggak tahu kalau dia seorang komika (stand up comedy) dan udah main film buanyak pula (walaupun cuma figuran. Eh in aku bukan ngenyek, tapi dia sendiri yang bilang).
Majelis Tidak Alim ini rupanya memuat materi komik-nya SS. Dan, sesuai stempel 18+ di sampul buku, isinya ya emang gak cocok dibaca anak balita hwhw. Topik ngeresnya bejibun. Nyentil-nyentil agama juga gak sedikit. Oh, berarti selain 18- dan balita, orang-orang yang terlalu fanatik soal agama juga baiknya gak usah baca. Ketimbang masuk neraka yekan banyak ngumpat. Pufftt.
Setelah tuntasin, alih-alih isinya materi manggung, buku ini banyak bercerita tentang masa kecil, remaja, keluarga bahkan anak dan istri. Bagus sih, jadi tahu kehidupan anak Gunung Putri pinggiran Bogor sana di tahun 1990-an hwhw.
Banyak kutipan (dan tentu saja pengalaman) SS yang menarik. Sepanjang baca, aku rajin sih bagiin ke IG story, walau sebagian besar masuk ke IGS Close Friend aja. Sebab ya itu, aku yang di luar tampak soleh ini takut langsung turun harga saham pas netijen tahu aslinya aku suka bahas topik beginian muahahahaha *nanges, makin lama jomlo.
Kisah kehidupan SS di sekolah dan zaman kuliah juga banyak yang relate denganku. Zamannya cinta monyet, pengalaman pertama nonton filmnya Rocco Siffredi, gemesnya menghadapi panu di muka dan jerawat. Kalau yang agak beda, paling soal tawuran. Seumur-umur aku gak pernah tawuran soalnya. Maklum, anak baik-baik yekan.
So, untuk menutup celotehanku terhadap buku ini, mau bagi satu kutipan yang (cenderung) aman saja.
"Menyiapkan pernikahan adalah salah satu ujian kehidupan. Ujian pertama adalah uang. Semurah-murahnya menikah, tetap butuh uang. Minimal buat bayar akad nikah dan mas kawin."