Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia.
Bila kamu ingin orang lain bahagia, praktikkan belarasa. Bila kamu ingin bahagia, praktikkan belarasa. -- Dalai Lama --
Kebahagiaan adalah milik orang yang merasa diri kecukupan. -- Aristoteles --
Kebahagiaan akan memelukmu bila karya dan katamu menguntungkan dirimu dan orang lain. -- Buddha --
Kebijakan adalah bagian terpenting dalam Kebahagiaan. -- Sophocles --
Anand Krishna (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 September 1956; umur 57 tahun) adalah seorang spiritualis lintas agama, nasionalis, humanis, budayawan dan penulis yang tinggal di Jakarta, Indonesia. Walaupun berdarah keturunan India, tapi semangat kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangatlah tinggi. Kepeduliannya itu dituangkan dalam membentuk organisasi-organisasi yang peduli dalam berupaya membangun jiwa-jiwa manusia Indonesia lewat upaya-upaya pemberdayaan diri. Salah satunya adalah National Integration Movement atau Perkumpulan Gerakan Integrasi Nasional, 11 April 2005, yang sangat peduli dengan kondisi persatuan dan kesatuan NKRI.
Kepeduliannya terhadap kondisi jiwa spiritual masyarakat tidak hanya berhenti pada masyarakat Indonesia, tapi juga pada masyarakat dunia yang dituangkan dituangkan dengan pendirian Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa – Department of Public Information sejak 15 Desember 2006) sebagai Centre for Holistic Health and Meditation sejak tahun 1991.
Love is the Only Solution adalah satu-satunya cara yang digunakan Anand Krishna dalam menyikapi hidup di dunia ini untuk mewujudkan masyarakat yang tercerahkan melalui Inner Peace, Communal Love, dan Global Harmony dalam Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia (One Earth One Sky, One Humankind)
Judul buku: Be Happy! jadilah Bahagia dan berkah bagi Dunia Penulis: Anand Krishna Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I, 2008 Tebal : xv + 177 halaman
Judul di atas terinspirasi oleh lagu Slank : Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Syair aslinya berbunyi, "Hak manusia ingin bicara, hak manusia ingin bernyanyi, kalau sumbang janganlah didengarkan, kalau merdu ikutlah bernyanyi..."
Saya bukan anggota Slankers, tapi kagum dengan konsistensi grup musik yang dipungawani Kaka dan Bimbim tersebut dalam menyuarakan pesan-pesan perdamaian di Bumi Nusantara tercinta, utamanya di kalangan orang muda.
Buku ini memuat penelitian BBC berkaitan dengan tiga penyebab manusia bahagia. Yakni kesehatan, persahabatan, dan kepuasan/ketenangan batin.
Misalnya seputar kesehatan, acapkali orang tidak mensyukuri anugerah tersebut apabila masih segar bugar. Tidak pula merasa perlu untuk mempraksiskan pola hidup sehat. Lewat buku ini Anand Krishna membagi pengalaman seputar kesadaran dan kesehatan holistik.
Selama 31 satu tahun mantan pengusaha garmen tersebut tak pernah diopname. Tapi sekali sakit ia langsuang mondok di rumah sakit selama berbulan-bulan karena pria keturuanan India kelahiran Surakarta tersebut mengidap leukemia akut pada 1991.
Saat itu, pengobatan kanker belum secanggih sekarang, alternatif yang ada ialah cangkok sumsum tulang belakang. Ironisnya metode pengobatan tersebut hanya tersedia di luar negrei. Nah baru saat itu penulis produktif 110 buku laris itu sadar makna hidup sehat.
Selain itu lebih dari 48 persen responden lain memprioritaskan persahabatan sebagai kebutuhan utama manusia. Mereka menyayangkan minimnya interaksi intra dan antarpersonal di kota-kota besar. Banyak orang mertindukan nuanasa hangat pedesaan, misalnya dengan memiliki rumah "mewah" (mepet/dekat sawah). kenapa? karena konteks tersebut lebih memfasilitasi terjalinnya hubungan mesra dengan para tetangga dan lingkungan alam sekitar.
Awal tahun ini The Jakarta Post juga mengadakan jajak pendapat senada. Apa yang paling membahagiakan manusia Indonesia? jawabnya berbanding terbalik dengan hasil penelitiaan di muka. Ternyata yang paling membahagianan ialah Tuhan dan uang.
Ironisnya, pemahaman - meminjam istilah Romo Mangun - religiusitas kita masih terkotak-kotak. Karena orang cenderung menganggap agamanya yang paling benara. Istilah toleransi sinonim dengan interpretasi sepihak,"Oke kamu saya toleransi, tapi tetap agama saya yang paling benar."
Padahal esensi semua agama dan kepercayaan di dunia ini menandaskan kasih, perdamaian dan apresiasi terhadap pelangi kebhinekaan sebagai sebuah keniscayaan hidup. Ibarat aliran sungai semuanya bermuara di samudera yang satu adanya. Mislanya, di Yogyakarta ini, di sini ada Sungai Code, Kali Gajah Wong, dan Progo, toh semuanya bersatu di Segoro Kidul (Laut Selatan).
Sekitar 145 tahun silam, seorang sufi bernama Mirza Ghalib melawat di New Delhi. Konon, ia menghadiri upacara Hindu, perayaan Deepavali alias malam 1.000 cahaya. Di sana ia dijamu temannya itu. Ia makan beberapa potong kue kering. Lantas begitu pulang di jalan ia bertemu dengan seorang pemuka agama. Ulama itu berang dan berkata,"Ghalib kamu keterlaluan, sudah ikut upacara orang Hindu dan makan kue orang Hindu pula. Apakah kamu tidak takut pada murka Tuhan?"
Ghalib menjawab dengan santai,"Waduh celaka benar aku, tolong Bapak memberikan daftar, mana kue orang kafir dan mana kue orang beriman." Hidup ini pendek, "urip mung mampir ngombe," kata peribahasa Jawa. Oleh sebab itu seyogyanya manusia menjalani lawatan kali ini dengan penuh keceriaan dan semangat persaudaraan.
Mangkunegoro IV pernah berpesan lewat Serat Wedhotomo. Sudahlah tidak perlu berbahasa asing kalau mau berhubungan dengan Tuhan. Sudah jadi wong Jowo, ya pakai saja bahasa Jawa. Misalnya, coba dalam sehari minimal tiga kali berkata pada-Nya,"Gusti, kulo tresno marang slira-Mu". Artinya,"Tuhan aku cinta pada-Mu," Niscaya mata air kebahagiaan dan rasa syukur mengalir dari dalam diri ini.
Ironisnya, manusia Indonesia justru banyak menderita karena lupa belajar seni hidup yang satu ini. Orang melakukan tindak kekerasan di Monas pada hari lahir Pancasila ke-63 karena sedang mencari kebahagiaan. Tapi, dengan cara yang kurang tepat. Mereka mencari kebahagiaan di luar diri.
Ibarat anak kecil, mereka mencari perhatian dari orang tua dan lingkungan sekitar. Mereka lupa bahwa dengan merusak sesuatu di luar diri niscaya merusak pula segala sesuatu yang di dalam, termasuk eksistensi kemanusiaannya pun turut terkoyak.
Memang hak semua ornag untuk bahagia. Oleh sebab itu, pertama dan utama marilah menjunjung tinggi hak orang lain untuk berbahagia. Secara psikis, kenapa orang menjadi keras? karena kurang cinta. Orang yang keras dan melakukan tindak kekerasan ialah orang yang sakit. Kita musti mengasihani dia, tidak perlu mengomeli dia. Kita masukkan saja ke "rumah saki" (baca:penjara). Lantas suatu ketika kita bisa jenguk dan ceritakan seputar seni hidup bahagia dalam cinta.
Selanjutnya, buku ini memamaprkan pula tips untuk mencecap anggur kebahagiaan sejati. pepatah lama mengatakan, experience is the mother of wisdom. Oleh sebab itu, kita diajak untuk belajar dari para pendahulu zaman yang pernah mengguyuri bumi biru ini dengan hujan kesadaran. Misalnya, Sang Buddha, 3.000 tahun silam beliau "merayu" umat manusia untuk menjadi bahagia dan berbagi pencerahan dengan apa dan siapa saja. Sebaliknya bapak psikologi modern Carl Jung mengatakan kebahagiaan tak bisa eksis tanpa pembandingnya, yakni kessusaha.
Dua hal di muka tampak berseberangan, secara redaksional berbeda, tapi sejatinya rapat bertautan. Para Buddha kontemporer niscaya menjadi bahagia hanya (dan hanya jika) telah menerima penderitaan sebagai penderitaan. Miliki yang kumiliki, inilah dia aku puas!
Sekarang kita maunya apa? menjadi bahagia atau bermuram durja? semuanya ialah pilihan bebas saya, Anda, Kita! Salam Indonesia!