Memadukan disiplin kerja dalam jurnalisme dan prosa yang khas dari penuturnya, kedelapan belas naskah ini menjelajahi beragam topik dan tema yang bisa kita nikmati selayaknya cerita dalam fiksi.
Perjalanan ke komunitas Indian-Amerika, catatan personal laga sepak bola di pulau jawa, sosok minoritas Tionghoa dan Papua, riwayat pengidap Skizofrenia, dan kisah seorang ibu yang rutin menuntut negara dalam Aksi kamisan. Dari kekerasan terhadap kelompok agama, konflik argaria, hingga reportase tentang pertanian dan pangan lokal. Perbudakan sexual di zaman Jepang dan era pendudukan di Timor Leste, kekejaman perang Aceh, kasus korupsi, analisis bisnis media, dan hikayat skena musik independen di Jakarta.
Judul #narasi adalah artikulasi untuk genre jurnalisme naratif yang dikenali lewat tagar #longform atau #longreads dalam bahasa Inggris. Inisiatif membukukannya untuk menengok dan mendorong lagi kelak ada banyak terbitan serupa yang mengusung genre ini dalam bahasa Indonesia, baik dalam buku utuh maupun prosa juranlisme di ranah daring.
Salah seorang korban kekerasan seksual pernah meminjamkan saya buku ini, setelah kami mediskusikan format tulisan semacam apa yg tepat untuk laporan jurnalistik saya mengenai kasusnya. Meskipun akhirnya saya tidak jadi menggunakan pendekatan sastra dalam laporan yg saya tulis, akan tetapi artikel-artikel dalam buku ini masih saya ingat betul sebagai salah satu kumpulan karya jurnalistik terbaik (dengan demikian mempermudah saya membacanya).
Setahun setelahnya, Mas Wisnu Prasetya Utomo memberikan buku ini (baru) pada saya. Tentu saya beruntung karena ini sudah tidak dicetak lagi. Review saya pada buku ini sepertinya masih belum pantas untuk mewakilkan mengapa buku ini layak dibaca. Tetapi, itulah yg bisa saya katakan sejauh ini: buku ini sangat layak untuk dibaca.
Di jaman reportase 600-1200 kata, kumpulan reportase bentuk panjang yang terdapat dalam buku ini akan menjadi kurang menarik dan melelahkan. Bagaimanapun, cara bertutur seperti ini sangat penting agar kita tidak menjadi manusia sumbu pendek terlalu cepat.
Beragam reportase menarik dan mendalam khas jurnalisme naratif dirayakan dalam buku ini. Minggu malam memasuki bulan Agustus tuntas sudah #Narasi saya baca. Buku ini jauh-jauh hari saya pesan saat baru dirilis awal tahun 2016. Tebalnya halaman yang ada membuat beberapa kali saya menunda menghabiskan kumpulan narasi milik para penulis mumpuni di Indonesia. Mulai dari Zen RS hingga Andina Dwifatma yang terkenal pula dengan novelnya “Semusim, dan Semusim Lagi”.
Masih cukup jelas dalam ingatan saya, buku yang lahir dari Pindai ini bertepatan dengan munculnya istilah "senjakala media" yang cukup menghebohkan dan mendapat tanggapan luas di banyak kalangan. Dalam post ini saya tidak akan berpanjang lebar berpolemik tentang hal tersebut. Bagi saya pribadi membaca liputan media yang mengusung jurnalisme naratif jauh lebih menyenangkan. Selain asupan informasi yang digali jauh lebih dalam, penyampaian gagasan yang lebih mendetail kepada pembaca, di beberapa bagian kita serasa turut serta di dalam liputan tersebut. Sesuatu yang memakan cukup banyak tempat sehingga dapat dimaklumi bentuk ini jarang terlihat di media cetak.
#Narasi memiliki beragam kisah yang menarik. Pengalaman membacanya adalah salah satu yang paling menyenangkan di tahun ini. Saran saya ketika hendak membacanya. Anda dapat melahap buku ini dari artikel pertama hingga terakhir, secara berurutan. Bisa juga memilih topik yang Anda anggap paling menarik. Seperti saya yang memulai #Narasi dengan “Jurnalisme Pedagang Asongan” milik Coen Husain Pontoh. Musababnya adalah rasa penasaran saya dengan kiprah harian Rakyat Merdeka. Yang saat ini dapat diakses di RMOL(dot)CO. Pertama kali saya melihat wajah koran ini yang berani memuat headline yang “mengundang” rasa ingin tahu dan kumpulan tweet terpilih.
Secara keseluruhan buku ini berhasil mengundang minat pembacanya untuk menelaah dan bertemu dengan gaya jurnalisme yang berbeda, dibandingkan liputan khas media arus utama yang menitik beratkan hardnews dan paling banter kolom milik analis yang serba terbatas. Seperti yang saya singgung di depan, pembaca akan diajak berkenalan dengan isu-isu yang beragam. Dan sayangnya juga mulai sedikit demi sedikit terlupakan oleh banyak orang.
Mendedah satu persatu tulisan di #Narasi rasanya akan mengurangi kenikmatan membaca Anda. Saya menganjurkan tiap artikel dapat Anda selami sendiri sembari menikmati segelas kopi dan cemilan di teras rumah.
Namun saya akan berbagi dua judul yang menarik. Pertama haruslah saya menyebutkan narasi milik Andreas Harsono. Membaca sosok yang diceritakan hingga penggalan kata terakhir milik wartawan sekaligus aktivis HAM ini memiliki keseruan tersendiri. Jalinan kisah yang dirangkai begitu intens. Serasa menikmati kisah yang mendebarkan. “Hoakiao dari Jember” membuat saya tertantang ingin dapat menulis sebagus yang saya baca. Terlebih dari hal itu, penulis memberikan narasi yang memikat dengan pelintiran yang membuat saya berdecak kagum.
Saut lagi naskah yang saya anggap menarik adalah kisah suku Indian Amerika. Narasi gubahan penulis novel “Raden Mandasia Si Pencuri Sapi” ini terasa lebih personal dibanding yang lain. Berkisah tentang perjalanannya ke Amerika, bersentuhan dengan suku Indian yang menggantungkan penghidupannya kepada bisnis kasino. Di sini Paman Yusi menceritakan kesan selama di sana. Mengundang senyum dan gelak tawa saat membacanya.
Beberapa narasi yang lain saya pandang sama bagusnya. Buku #Narasi direkomendasikan bagi Anda yang tertarik dengan dunia jurnalistik, calon penulis yang ingin menikmati bacaan yang bergizi, dan calon anak mantu seorang wartawan (juga boleh).
Seperti sebuah album kompilasi, ada yang benar-benar kuat, ada yang biasa saja. Beberapa tulisan memang menggugah semangat membaca, namun beberapa naskah tak terlalu berhasil menarik minat saya untuk segera menyelesaikan buku ini.