Cinta dalam terminologi Rumi, menyembuhkan kebanggaan dan kesombongan, serta obat bagi seluruh kelemahan diri. R.A. Nicholson
Ketika dunia peradaban manusia yang kini mulai memasuki tahapan glogal dan terperangkap pada materialisme dengan segala bentuk kebaruannya, jalan sufi itu menjadi penting untuk dipertimbangkan. Suatu jalan sufi yang mungkin bisa membawa pembebasan peradaban dunia yang serba penuh kerakusan, ketidakjujuran, dan penindasan satu atas yang lain. Namun penting disadari bahwa jalan sufi bukanlah jalan yang anti segala hubungan bendawi, melainkan sebuah jalan pembebasan . . . Sebagian dari sekian banyak karya-karya Rumi itu kini hadir ke hadapan pembaca melalui buku suntingan terjemahan ini. Selamat membaca dan menikmati kehalusan, kesyahidan sekaligus keperkasaan cinta yang jauh melampaui segala batas cinta keduniaan. Dr. Abdul Munir Mulkhan
Buku ini mengemas Fihi ma Fihi Rumi menjadi renungan sufistik sehari-hari. Hendak mengisi ruangan jiwa manusia yang sekian lama kering oleh peradaban yang dibangun dengan kedangkalan nilai.
Sufism inspired writings of Persian poet and mystic Jalal ad-Din Muhammad ar-Rumi; these writings express the longing of the soul for union with the divine.
Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī - also known as Jalāl ad-Dīn Muhammad Balkhī, Mevlânâ/Mawlānā (مولانا, "our master"), Mevlevî/Mawlawī (مولوی, "my master") and more popularly simply as Rumi - was a 13th-century Persian poet, jurist, Islamic scholar, theologian and Sufi mystic who lived in Konya, a city of Ottoman Empire (Today's Turkey). His poems have been widely translated into many of the world's languages, and he has been described as the most popular poet and the best-selling poet in the United States.
His poetry has influenced Persian literature, but also Turkish, Ottoman Turkish, Azerbaijani, Punjabi, Hindi, and Urdu, as well as the literature of some other Turkic, Iranian, and Indo-Aryan languages including Chagatai, Pashto, and Bengali.
Due to quarrels between different dynasties in Khorāṣān, opposition to the Khwarizmid Shahs who were considered devious by his father, Bahā ud-Dīn Wālad or fear of the impending Mongol cataclysm, his father decided to migrate westwards, eventually settling in the Anatolian city Konya, where he lived most of his life, composed one of the crowning glories of Persian literature, and profoundly affected the culture of the area.
When his father died, Rumi, aged 25, inherited his position as the head of an Islamic school. One of Baha' ud-Din's students, Sayyed Burhan ud-Din Muhaqqiq Termazi, continued to train Rumi in the Shariah as well as the Tariqa, especially that of Rumi's father. For nine years, Rumi practised Sufism as a disciple of Burhan ud-Din until the latter died in 1240 or 1241. Rumi's public life then began: he became an Islamic Jurist, issuing fatwas and giving sermons in the mosques of Konya. He also served as a Molvi (Islamic teacher) and taught his adherents in the madrassa. During this period, Rumi also travelled to Damascus and is said to have spent four years there.
It was his meeting with the dervish Shams-e Tabrizi on 15 November 1244 that completely changed his life. From an accomplished teacher and jurist, Rumi was transformed into an ascetic.
On the night of 5 December 1248, as Rumi and Shams were talking, Shams was called to the back door. He went out, never to be seen again. Rumi's love for, and his bereavement at the death of, Shams found their expression in an outpouring of lyric poems, Divan-e Shams-e Tabrizi. He himself went out searching for Shams and journeyed again to Damascus.
Rumi found another companion in Salaḥ ud-Din-e Zarkub, a goldsmith. After Salah ud-Din's death, Rumi's scribe and favourite student, Hussam-e Chalabi, assumed the role of Rumi's companion. Hussam implored Rumi to write more. Rumi spent the next 12 years of his life in Anatolia dictating the six volumes of this masterwork, the Masnavi, to Hussam.
In December 1273, Rumi fell ill and died on the 17th of December in Konya.
akhirnya saya berhasil menemukan buku ini. kertasnya sudah menguning dan sampulnya sudah robek. tapi, saya senang. toko buku mas jose rizal di TIM akhirnya saya 'ubek-ubek'. buku lama yang membuat saya memaklumi jika di goodreads, bahkan google sekalipun, sulit untuk mencari gambar sampul aslinya.
ini kumpulan kasidah jalaluddin rumi. (ups, saya sempat ditegur seorang afganistan ketika menyebutnya 'rumi' saja. seharusnya memanggilnya lengkap, 'maulana jalaluddin rumi'). kasidah klasik dengan untaian kata yang dahsyat. bercerita tentang Cinta (dengan C kapital) dan cinta, rumi berhasil mengobrak-abrik perasaan pembaca dan pengikutnya. inilah kasidah yang indah. terjemahan dari Parsi di Bahasa Indonesia pun baik sehingga maknanya bisa diterima dengan runut tanpa kehilangan daya kontemplasinya.
Tidak bisa dapat feel-nya :( .Jelas karena saya tidak bisa menikmati puisi. Tapi setidaknya ada beberapa baris yang saya kasih post it.
Favorit saya adalah baris-baris puisi yang ini:
Diam! Karena ucapanmu buah kurma yang matang, hanya, tidak setiap burung angkasa cocok dengan buah kurma
---hlm. 140
Oke, itu saja. Tidak bisa "ngomong" banyak-banyak karena saya benar-benar tidak paham. Daripada ntar dibilang sotoy *sigh*.
Sejak sekolah dulu, saya memang lebih memilih memecahkan soal matematika ketimbang menguraikan makna sebuah puisi. Dan at last, saya beri 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Untuk baris-baris puisinya yang saya kasih post it. I liked it ^^.
Kumpulan matsnawi Rumi setelah mendapatkan "pencerahan" lewat Syam Al-Dien, seorang darwis yg akhirnya menjadi guru beliau, dimana banyak mengisahkan tentang cinta Sang Kuasa terhadap makhluk-Nya hingga bagaimana seharusnya mencintai-Nya. Salah satu matsnawi yg gw suka di sini:
Tak peduli engkau suci atau tidak, hendaknya jangan lari! Justru mendekatlah, karena kedekatan dengan-Nya menambah kesucian [7096]
Epilognya keren. Membuka mata tentang efek kehidupan modern terhadap tasawuf Islam di era canggih ini. Patut dijadikan renungan.
Buku ini harus dibaca ketika merasa jatuh cinta, dan kemudian patah hati, baru dapet feelnya, dan jadi mengerti sedikit banyak arti-arti puisinya. Kalau gak, buku ini jadi terasa lebih ke orang yang patah hati dan gagal move on hehehe, yah patah hati kan bukanlah keruntuhan alam semesta. Tapi di puisi-puisi ini, patah hati seperti gempa sejuta kali..
Mungkin Rumi memang tipe yang sentimental ya...
'Pernah kau lihat, sebuah wayang yang pergi dari pengukirnya? Pernah kau lihat Wamig memohon pada Adhra? Saat berpisah, para pecinta ibarat nama tanpa arti......'
'Bayang-bayangmu laksana Sultan yang sedang tamasya di hatiku, laksana Sulaiman saat berjalan ke masjid Al-Aqsa di Yerussalem' (hal 10)
Tapi satu hal ini bukan antara sepasang kekasih, karena Rumi dan Tabriz itu sama-sama pria, nah so my question is bisa kah hubungan antara dua pria seerat ini? Mungkin bisa yaa..Seperti yang dikatakan Rumi untuk sahabatnya..
"Demi kau, aku berjanji, o nyawa rohku, tak ada di dunia sahabat yang dapat membangkitkan keceriaan hatiku kecuali kau, anggur pun tak dapat membuatku jadi mabuk"
buku ini mengajakan upaya tentang burung yang terikat, tentang hidup yang berteman kematian, dan mati yang berkawan kehdiuapn.....tentang cinta yang di cinta dan mencinta yang tercinta, the best book from maulah jalal al din rumie what do you think about this book ....???
" jika ada sepuluh orang yang ingin memasuki rumah, dan sembilan di antara nya sudah mendapati jalan untuk masuk hendak nya yang ke sepuluh tidak berkata " ini sudah takdir tuhan" melainkan harus melihat kekurangan nya. " ..." ikatlah dua burung dalam satu tali dan lihat lah ia tak kan bisa terbang walau sadar memiliki empat buah sayap" " hanya burung yang bersuara bagus yang di beri sarang sedangkan burung hantu tidak di beri sarang ..........." tuhan menciptakan syurga neraka, dunia dan akhirat, hidup dan mati berdiri atas satu dasar yaitu cinta , semua nya selalu berjalan bersamaan seperti hidangan di atas meja panjang mengambil satu dan yang lain nya bersiap siap untuk di ambil, .......
bahasa tingkat tinggi. bikin pusing. ga nyambung. mana kebanyakan catatan kaki. dikit2 ada penjelasan lihat ini hal. ini. lihat QS. surat sekian ayat sekian. doch. masa mau baca aja kok hrs bawa ensiklopedia n al qur'an segala yaks?
trs satu hal bikin gw pnasaran. siapa sih sbnernya Shams al'Din? kok sering bgt disebut2 dlm syair2 rumi? hubungan mereka mesra bgt yaks? dia itu laki2 juga kan?? hmm...doch, kok jadi punya pikiran aneh2 sih :D peace ah
sorry, bkn bmaksud melecehkan. tp buku ini memang bukan untuk saya sepertinya :D