Jump to ratings and reviews
Rate this book

Travel Stories #30

Dan Damai di Bumi!

Rate this book
“Ternyata selama ini saya hidup di tengah wabah yang mengerikan. Penyebabnya adalah prasangka….”
***
Inilah salah satu novel paling gemilang karya penulis cerita petualangan terkemuka dunia, Karl May (1842-1912). Sedikitnya dari proses penulisan dan segi penceritaan, Dan Damai di Bumi! boleh dibilang amat berbeda dengan kisah-kisah petualangan Karl May sebelumnya, termasuk yang pernah terbit dalam bahasa Indonesia. Novel ini tidak lagi bertumpu pada data pustaka, tapi pengalaman Karl May selama berkunjung ke negeri-negeri Timur, mulai Mesir, Pakistan, Sri Lanka, Semenanjung Malaya, sampai Tiongkok, Maret 1899 hingga Juli 1900. Dari segi penceritaan, novel ini juga jauh lebih matang: tidak melulu mengandalkan aksi fisik, tapi juga mengolah pergolakan batin tokohnya.

Dengan gaya bertuturnya yang menawan, Karl May mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat sisi kelam kolonialisme. Ia juga berhasil menghidupkan sikap toleran dan lapang dada dalam perbedaan, baik budaya, agama, maupun warna kulit. Membaca Dan Damai di Bumi!, Anda tidak hanya terhibur tapi juga akan memperoleh semangat baru untuk menghadapi kehidupan yang hingga kini masih diliputi rasa prasangka dan curiga.

605 pages, Paperback

First published January 1, 1904

27 people are currently reading
193 people want to read

About the author

Karl May

1,452 books441 followers
Karl Friedrich May (also Karol May) was one of the best selling German writers of all time, noted mainly for books set in the American Old West, (best known for the characters of Winnetou and Old Shatterhand) and similar books set in the Orient and Middle East. In addition, he wrote stories set in his native Germany, in China and in South America.

May also wrote poetry and several plays, as well as composing music; he was proficient with several musical instruments. May's musical version of "Ave Maria" became very well known.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
76 (22%)
4 stars
119 (34%)
3 stars
100 (29%)
2 stars
39 (11%)
1 star
8 (2%)
Displaying 1 - 30 of 40 reviews
Profile Image for Nyimas Gandasari.
39 reviews7 followers
August 18, 2021
Meski ada part dimana Karl May melalui tokoh "aku" puja puji kita--sastra Nusantara yg katanya beragam dan bagus, tepatnya--tapi kesannya cuma dari hasil riset ditemplokin ke narasi gitu aja. Semacam endorse yang nggak natural jadinya. Hehe.

Well, mungkin karena saya lebih menikmati Winnetou aja kali ya. Tapi kesan yang dapat saya tangkap soal dia membalikkan anggapan sebagian besar orang Eropa (Barat) soal orang Timur yang terbelakang, boleh lah...
Profile Image for Muhammad Akhyar.
Author 1 book39 followers
March 4, 2017
Meskipun novel ini tebal, tetapi tak terlalu banyak energi untuk menyelesaikannya. Adegan kuda yang berkejaran di padang pasir, dan hal-hal mirip seperti itu, terlalu menyenangkan untuk membuat saya meletakkan buku ini dan pura-pura tak ingin mengetahui lanjutannya. Di novel ini May tak sungkan-sungkan mengolok-olok kepercayaan umum di Eropa bahwa hanya merekalah yang bisa dikatakan sebagai manusia yang sempurna, bangsa-bangsa lain hanyalah orang-orang barbar, tak mengenal ilmu pengetahuan dan tak tahu kesopanan. May, pelan-pelan menunjukkan bahwa bangsa Arab yang diwakili Sejjid Omar (saya membaca buku pada saat marak isu mengenai hal-ihwal per-syaid-an dan per-habib-an), orang-orang Cina, bahkan puak Melayu memiliki kebijaksanaan hidup yang tak kalah dari orang-orang Eropa, bahkan di banyak sisi malah lebih unggul.

Lebih lanjut, saya menulis ulasan mengenai buku ini di http://muhammadakhyar.tumblr.com/post...
Profile Image for Fathiyah Azizah.
107 reviews34 followers
March 18, 2021
Dan Damai di Bumi, di blurb yang "dihighlight",

"Ternyata selama ini saya hidup di tengah wabah yang mengerikan. Penyebabnya adalah prasangka...."

Auto ingat

“Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)” (Q.S. Al Hujuraat: 12).

Iya, memang sulit tidak berprasangka, tapi tak mustahil dilakukan. Aku aja kalau ga diingetin lewat bacaan bakal berprasangka terus, mana diriku suka menyambungkan segala fakta yang nampak pada mata, emang dipengaruhi bias 🤣. Ketika otak ini berputar untuk mengaitkan fakta demi fakta, aku coba diam, "hei diri, apa gunanya?"

Buku ini adalah novel perjalanan di daerah Timur, yang mana pelakunya orang Barat. Kita disuguhi segala gagasan atau stigma mengenai Timur dan Barat, yang lambat laun tembok stigma terdobrak, menyisakan "Shen" atau Jiwa Manusia.

 "Jika seseorang begitu dikuasai prasangka sehingga tak mampu lagi menilai sekelilingnya secara adil." (178) Buku ini tuh mengajak pembaca untuk mengesampingkan ego, menundukkan ke-Aku-an.

"Orang yang menganggap dirinya sempurna takkan mau mendengarkan suara lain, bahkan suara malaikat sekalipun. Paling-paling ia akan diam sambil menertawakannya dalam hati." (284)

Lalu bagaimana jika ditarik dalam ruang keyakinan agama? Jelas, setiap pemeluk Agama ataupun kepercayaan, musti yakin dengan apa yang dipilih untuk diyakini. Penting lagi bukan percaya karena ikut-ikutan orang tua ya. Yang kenal Ust Nouman Ali Khan pasti tahu beliau pun ada masa "tak percaya" karena agama ditanamkan dengan doktrin. Betul lah kata ust Budi Ashari Iman sebelum Qur'an. Iman itu dicari, ada perjalanan spiritual yang akan mengawetkan iman itu. Nah gimana cara? Salah satu teman penulis ada yang mengumpulkan perjalanannya di @pencarian.iman

Balik ke buku, dengan kita mengetahui latar belakang orang diluar kita, kita akan banyak menemukan hal yang sebelumnya tak pernah kita duga. Kita bisa lebih memahami, dan makin mantap dengan konsep "Sepakat untuk tidak sepakat". Benar memang ada wajib dakwah, tapi tak ada wajib untuk memaksa. Terbukalah untuk ruang diskusi. Jangan sampai perbedaan pendapat kita anggap sebagai penghinaan.
Profile Image for Askell.
81 reviews68 followers
July 26, 2021
saya putuskan berhenti baca. sampai setengah halaman saya hanya membaca ceramah. bila ini pure sebuah autobiografi saya masih bisa maklum, namun bila ditulis sebagai suatu novel, ini benar-benar bikin mual. ada kalanya menaruh bumbu tertentu membuat sebuah hidangan enak disantap, namun bila terlalu banyak malah mengganggu. terlalu naif, sentimentil, romantik dan self-praising. buku ini punya ide besar dan pikiran cemerlang, sayang ide besar dan pikiran cemerlang tak cukup untuk menghidupkan sebuah cerita. konflik yang terjadipun punya struktur dan alur berulang, tak ada perkembangan, seperti jalan di tempat. masalah yang sama saja diputar-putar dan diulang-ulang dengan nama-nama dan tempat-tempat baru.
Profile Image for Serkan.
13 reviews
March 7, 2025
KİTAP'TAN BAĞIMSIZ KENDİ YORUMUM
1. Dünya savaşında 1914/1918 te 16 milyon kişi hayatını kaybetti.Asker ve sivil dahil.
2.Dünya savaşında 1939/1945 te 70 ile 85 milyon kişi hayatını kaybetti. Asker ve sivil dahil.(TÜRKİYE BU SAVAŞA GİRMEDİ)Bu sadece iki savaşın bilançosu

Dünya Savaşı olmamakla beraber bunların dışında 32 savaş daha var.Araştırdım, onlarıda buraya eklersek,sınırlı karakter sayısı yetmez. Sadece size şöyle bir bilgi verim tarih boyunca yapılan savaşlarda resmi olarak 170 ile 200 milyon insan hayatını kaybetti, gayri resmi olarak 200 ile 325 milyon kişi hayatını kaybetti.Kayıp insanlardan hiç bahsetmiyorum.

Şimdi;bu savaşların tümünde Osmanlı ve cumhuriyet olarak hesaplarsak 5 savaşta varız.İki düşman arasında toplam 1,5/2 milyonu bile bulmuyor hayatını kaybedenler.

Siz Avrupa ve diğer ülkeler gayri resmiler ve kaybolan kişileri de hesaplarsak yaklaşık 400 milyon insanın hayatını kaybetmesine sebep savaşlar açmışsınız.Hala kitaplarınızda vay Türkler hamile kadınların karınlarını yardı bebeklerini süngülere taktılar, diri,diri yaktılar,tecavüz ettiler gibi gibi.Deli zırvası idaalarda bulunuyorsunuz.
Unutmadan bunu Türkler ve Kürtler birleşip ortak yapmışız.Hiç bir Türk ve Kürt bunu yapmaz.
KAZIKCI VOYVODA hariç.

Savaş ayrı soykırım ayrı derseniz. Nazilerin Yahudi,lere,Hastalara,sakatlara,Polonya'lılara,Romenlere,Amerikanın Kızılderililere,Siyahilere,Daha dün İsrail in Gazze'ye yaptıklarından da bahsedelim mi.Rakamlar dan
Size Hiroşima dan ,Nagazaki den,Viyetnam dan,Kore den de haber verelim mi

SON NOT:babaannelerinizin,anneannenizin,annenizin çocukları korkutmak için anlattığı masallarları yazmayın.Biz size belgelerle gelmeyelim isterseniz.
Profile Image for Ardina Alth Mora.
486 reviews16 followers
December 12, 2020
🌿Ya cerita Dan Damai di Bumi ini menurutku cukup ringan dan tidak membuat bosan walau pun cukup tebal. Membaca buku ini seperti sedang travelling 🗺 ke negeri-negeri Timur🥰.
Bagaiamana tidak seperti sedang travelling si Sihdi “Karl” dalam kisah ini melakukan perjalanan yg mengelilingi mungkin separuh dari bumi ini. berharap bisa juga seperti itu 🥰😄
.
🌿Lewat kisah ini kita dibawa bertemu, mengenal berbagai bangsa, ras, suk, kepercayaan/ agama, kebudayaan suatu negara, kota, bangsa juga keragamaan bahasa. Bukan hanya tentang keragamaan bangsa saja yg akan kita temukan dalam kisah ini, tetapi begitu banyak pesan moral yang disampaikan disini.
.
🌿Seperti belajar tentang toleransi, toleransi beragama/ kepercayaan. Terlepas dari bagaimana dan ajaran seperti apa yang diyakini setiap orang, suku, ras kita tidak boleh lupa bahwa kita semua bersaudara di Bumi ini. Hanya beda keimanan bukan menjadikan kita berbeda, lebih baik dari yg lainnya. Semua agama/ kepercayaan itu baik dan tujuannya sama hanya caranya berbeda. Lalu, kebijaksanan dalam menyikapi perbedaan budaya, ras dan pendapat. Satu lagi yang langsung mengena dihati tentang prasangka, prasangka yg bisa membuat manusia saling menghancurkan🤭.
.
🌿Buku ini sangat rekomendasi bangat👍👏. Selain kita diajak mengenal beragam kebudayaan, ras dan banyak lagi setiap negara, hati kita juga dibuat tergugah tentang toleransi. Aku langsung merasa related dengan sekitar terutama tentang keyakinan🤔.
.
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
June 12, 2009
Dan Damai di Bumi.
Salah Kisah petualangan Karl May yang ditulis dalam bentuk Novel. Perjalanannya mulai dari Cairo, Ceylon (Sri Lanka), Penang, Atjeh, dan Tiongkok terangkum dalam novel ini. Bersama dengan pelayannya Sayyid Omar, ia menghadapi banyak peristiwa yang sangat mengejutkannya sebagai seorang manusia, penulis, dan sebagai petualang dunia. Perjalanannya ke Timur seperti layaknya perjalanan ziarah menyusuri awalnya peradaban manusia di dunia. Penulisan novel ini lebih tepatnya adalah perjalanan batin bukan perjalanan seperti "Jejak Petualang."

Menyingkirkan persepsi apalagi merubahnya, adalah pekerjaan yang sangat sulit. Apalagi selubung persepsi telah begitu lama menutupi seseorang. Jadi harap maklum, persepsi akan begitu membutakan seseorang dan boleh jadi membuat seseorang tidak dapat berpikiran jernih. Hal itu juga yang menghinggapi Karl May. Pada novel-novelnya yang lain, ia menggambarkan perjalanannya dengan begitu detil dengan topografinya. Namun, lewat novel ini ia tidak mementingkan hal itu. Pemicu utamanya adalah ketika perjalanannya ke Timur pada 1899-1900 yang hingga sampai ke Sumatra, ia menemukan kenyataan yang berbeda dengan khayalannya selama ini.

Dalam novel ini, ia disapa dengan Charley oleh seorang Gubernur Inggris dan keponakannya, John Raffley. Ia juga dipanggil Sihdi oleh pelayannya, Sayyid Omar, yang dibawanya dari Kairo.

Suatu kebetulan yang dianggap sebagai hal yang wajar dalam misteri kehidupan. Pertemuannya dengan misionaris Amerika, Waller dan putrinya Mary, menjadi rangkaian kisah yang menegangkan. Sang misionaris rupa-rupanya terjerumus dalam suatu problem yang sangat pelik. Sang misionaris melakukan tindakan yang hampir merenggut nyawanya. Di Mesir, ia hampir dijatuhi hukuman mati, namun akhirnya berhasil diselamatkan berkat kerjasama Karl May dan pelayannya, Sayyid Omar. Perjalanan selanjutnya adalah ke Srilanka dan ke Penang. Sebelumnya, pertemuannya dengan Ayah-Anak, Fu dan Tsi, menjadi modal besar untuk melakukan pekerjaan besar. Tak disangka, akhirnya ia harus "berurusan" lagi dengan sang misionaris ini, ketika ia bertemu dengan putri misionaris di sebuah bank di Penang. Mary sedang berusaha mengambil uang tebusan sebab ayahnya, Waller sedang ditawan oleh suku Melayu di pedalaman Aceh. Beruntungnya saat itu ia sedang bersama dengan Gubernur Inggris dan keponakannya, John Raffley. Berkat pengaruh Sang Gubernur, Mary memeroleh uang tebusan itu dan segera berangkat menuju Aceh. John Raffley menawarkan bantuan dengan kapalnya untuk berangkat ke Ulele, pelabuhan Aceh.

Kapal yang mereka tumpangi adalah kapal yang sangat bagus dan modern. kapal itu diberi nama "Yin." Nama itu ternyata adalah nama istri John Raffley, seorang wanita dari Tiongkok yang menuntut ilmunya di Eropa di bidang arsitektur. Dalam rombongan tersebut, ikut pula Tsi, seorang dokter muda lulusan Eropa, ia dan Ayahnya, Fu sempat bertemu dengan Karl May ketika di Kairo. Tsi dan ayahnya juga mengenal sang misionaris dan putrinya, ia sangat terbeban untuk ikut ambil bagian dalam pembebasan Sang Misionaris ke Sumatera.

Sang Gubernur adalah sosok orang Eropa pada umumnya, dalam benaknya ia menganggap bahwa orang Timur itu adalah orang bodoh dan sepatutnya tunduk pada ras kulit putih. Baginya, kepercayaan orang Timur adalah kekafiran. Satu-satunya yang benar di dunia ini adalah kristen. Namun, perkenalannya dengan Sayyid Omar, Tsi, dan pemuka suku Melayu di Aceh membuatnya berubah. Ia melihat bahwa yang dalam dunia ini ada suatu hal yang mempersatukan umat manusia. Kasih, cinta, dan perdamaian. Itulah agama universal. Itulah yang dilihatnya dalam diri Sayyid Omar, Tsi, dan pemuka suku Melayu. Sungguh, baru kali itu ia bertemu dengan sesuatu hal diluar dirinya yang membuatnya mengubah pandangannya akan dunia secara total.

Pembebasan Sang Misionaris ternyata tidak sampai harus menebusnya dengan sejumlah uang yang dibawa dari Penang. Namun pembebasan yang sesungguhnya adalah pembebasan akan "sesuatu" dalam diri Misionaris itu. Sepulang dari Aceh, mereka melanjutkan perjalanan ke Tiongkok sembari menyembuhkan penyakit si Misionaris. Penyakit disentrinya berangsur sembuh berkat pengetahuan kedokteran yang baik dari dokter Tsi. Namun yang paling utama adalah penyembuhan jiwa misionaris itu. Perilakunya tak ubah seperti orang tidak waras. Berbagai rupa "roh" merasuki jiwanya. Tsi yang juga penggemar ilmu psikologi menceritakan tentang legenda cina, bahwa ada baju selam yang digunakan penyelam agar bisa digunakan menyelam di laut. Baju selam itu punya masing-masing tugas khusus. Ada baju selam untuk mencari mutiara, ada baju selam buat mencari ikan, dan sebagainya. Penyelam akan menggunakan baju selam yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika ia tidak berhasil menunaikan tugasnya dengan baju selam itu, maka ia harus menanggalkan baju selamnya, dan beralih ke baju selam lain sesuai dengan tugasnya. Kejadian yang menimpa misionaris, ibarat baju selamnya ditinggalkan sang penyelamnya. Selama ini misionaris berjuang untuk menyebarkan ajaran kristen, tapi bukan menyebarkan kasih. Pekerjaan misionarisnya adalah pembuktian untuk mempertaruhkan nama baik keluarga, bukan karena ingin menciptakan perdamaian. Ia menganggap semua orang Timur dengan segala kebudayaannya adalah suatu yang kafir dan najis. Namun ia sendiri tidak menyadari siapa yang sebenarnya tidak punya hati nurani.

Perjalanan ke Timur bukan saja berdampak pada Waller,namun pada sang Gubernur Inggris. Persepsinya tentang dunia timur yang kuno dan tidak bersahabat, menjadi luluh. Apalagi ketika mengetahui bahwa keponakannya John Raffley menikahi Yin. Ia sangat mengagumi spiritualitas orang Melayu dan Tiongkok, dimana sangat menghargai persahabatan dan perdamaian manusia, kerendahan hati, dan ketulusan sangat dijunjung tinggi.

Novel klasik karya pengarang yang dikagumi Hitler ini sangat baik dibaca. Didalamnya terdapat nilai-nilai spiritual yang membuat manusia seharusnya tidak menjadi "penguasa" sesamanya.Novel ini menjadi agak berat, karena pengetahuan saya yang terbatas mengenai konteks sosial budaya masyarakat Tiongkok dan Melayu. Syair-syair yang dibuat sangat indah, membawa pesan kemanusiaan dan perdamaian. Namun mengapa syairnya tidak dapat membawa pesan perdamaian itu pada Adolf Hitler, yang notabene sama-sama orang Jerman?
Profile Image for Gama Ramadhan.
157 reviews5 followers
November 13, 2017
Dan akhirnya menyelesaikan Dan Damai di Bumi! dalam Argo Parahyangan menuju Bandung.

Kisah yang menarik, penuh dengan perenungan batin juga pikiran yang dilakukan oleh Karl May, walau tentu saja, banyak yang tidak begitu saya pahami #failed. Mulai dari Mesir, Sumatera, hingga Tiongkok. Saya tidak tahu persis seperti apa Karl May, namun nampaknya ia menuliskan suatu perjalanan religius mengenai pergolakan ke-kristen-an pada masa itu. Yang akhirnya membawa sebuah kritik sosial bagi bangsa Eropa bahwa mereka tidak lebih superior dibanding bangsa lain. Pesan besar yang dibawa kisah ini tidak lain merupakan nilai universalitas, kesamaan hak setiap bangsa.

Mungkin saya boleh mengutip ucapan yang katanya disandarkan kepada Ali bin Abi Thalib (saya belum mengetahui kesahihannya), "Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan".
687 reviews7 followers
March 17, 2025
Ein Stern für den Mayster. Eigentlich nur drei für das Buch. Noch nicht Ardistan. Noch sehr viel Gerede, Pseudogeschnacke und religiöses Getöse. Aber spannend, da es am Anfang wirkliche Reiseerinnerungen an die Orte enthält. Darüberhinaus viele wahre Gedanken, die aber noch nicht so sortiert sind. Durch das Selbstreflexive auf die eigenen Werke auch etwas eingebildet, aber auch erklärend, woher Mays „Bisher waren alles Vorstudien“ kommt und was er damit meint. Und einige Gedanken sind sehr modern und würden Trump nicht gefallen.
Nicht so flüssig zu lesen wie Ardistan, aber faszinierend. Und etwas von sich eingenommen, war ja der Karl schon, wenn seine Gedichte den Wahnsinn besiegen…
Profile Image for Misbah.
2 reviews1 follower
March 5, 2015

Karl May berhasil dengan cemerlang mengambarkan dalam novel Dan Damai di Bumi! bahwa prasangka telah menghilanglan sikap toleran dan bijaksana kita dalam menyikapi perbedaan ras, budaya, bahkan agama. Pendongeng ulung kelas dunia ini sukses menghadirkan karakter-karakter istimewa berwawasan luas nan bijaksana dari tradisi Arab, Eropa, Amerika, Cina dan Melayu. Juga mengajak kita melihat lebih dekat sisi kelam kolonialisme. Dan Damai di Bumi! (Und Friede Auf Erden!) ditulis berdasarkan catatan perjalanan Karl May saat melancong ke Bumi Timur, mulai Mesir, Pakistan, Srilangka, Sumatra, Semenanjung Melayu sampai negeri Cina.

Tentang orang Cina, Karl may menampilkan sosok dua orang anak beranak (Fu dan Tsi) yang berasal dari kalangan berpendidikan dari tradisi Konghucu. Tentang orang Arab, Karl May menghadirkan sosok Sejjid Omar, seseorang yang masih memiliki silsilah dengan Nabi Muhammad SAW, anak muda gembala keledai yang baik budi, berperawakan bagus dan kekar. Sosoknya menarik perhatian, serius dan berwibawa. Tentang sosok orang Eropa, Karl May menghadirkannya dalam sosok Rafley dan Charley (sepertinya Karl May sendiri). Tentang orang Amerika, kita akan menemukan sosok Pendeta Waller dan anaknya Mary.

Dalam buku ini, Karl Maya menulis latar belakang tradisi Barat bangsa Amerika dengan menghadirkan karakter Waller yang percaya diri, optimis. Dalam percakapan dengan anaknya Mary, perempuan muda berwajah menawan dengan mata bening dan berkilau;

“engkau tukang mimpi, persis seperti ibumu dahulu! Kenyataan-nya berbeda jauh dengan angan-anganmu. Negeri Timurlah yang membuat kita kehilangan taman Firdaus. Negeri Timur pula yang menyalib sang penebus dan hingga hari ini tidak mau menyambut perdamaian yang dibutuhkannya. Dan sekarang kita datang sebagai utusan Ilahi untuk menawarkannya kembali. Jika tawaran kita diterima, maka Negeri Timur akan damai; tetapi jika ditolak, maka segala upaya kita takkan mampu menyelamatkannya.pandanglah ke bawah dan lihatlah apa yang terhampar di sana! Segala suatu yang berasal dari peradaban Timur nyaris hilang ditelan debu. Tetapi segala sesuatu yang baru, yang praktis, yang baik, diperoleh negeri ini dari Barat. Biasanya saya tak ada urusan dengan Karl May-mu, tetapi kali ini dia benar. Kalau negeri Timur memang pangeran Dongeng seperti yang saya sebutkan tadi, hanya kita para utusan Ilahi yang dapat membangunkannya dari tidur. Hanya kita yang dapat membebaskannya, kita berpijak di dunia nyata, “ Puteri Negeri Barat” hanyalah buah daya khayal. “ (hal 14).

Khusus tentang Melayu, pemuka adat dari salah satu suku Melayu di Sumatra dihadirkan Karl May untuk mewakili kearifan dan keluhuran bangsa ini. Bangsa Melayu disebutkan sebagai bangsa terbaik yang gagah, cerdas, bertenggang rasa, lembut, pemaaf, tidak egois, adil dan terutama ramah. Bangsa Melayu juga disebutkan sebagai bangsa yang sudah maju dan menguasai hukum laut.

Membaca Dan Damai di Bumi!-nya Karl May membawa fantasi tentang setiap bangsa di atas bumi yang memiliki keragaman untuk bisa dipelajari. Kita diajak memasuki dunia Timur yang eksotik. Novel ini mengajak belajar tentang karakter-karakter khas, etos, serta budaya beragam bangsa. Mengapa tak menjadi anggota perkumpulan Shen saja? perkumpulan seperti yang disebutkan penulis novel ini. Hidup damai bersama di bumi saling menghargai, memahami, belajar dari kekurangan dan kelebihan bangsa lainnya.

Membaca novel ini akan membuka wawasan dan sedikit menghapus pandangan stereotif tentang etnis Cina yang oportunis, licik, serakah, hanya memikirkan duit, suka makan babi, menjalin hubungan sosial hanya berdasarkan bisnis, pelit, asosial dan seterusnya.
Profile Image for Zaldi.
57 reviews5 followers
December 14, 2011
Akhirnya bisa bernapas lega setelah ngabisin ni buku, yang karena tebelnya (bukan cuma kiasan) tapi emang bener saya jadiin bantal waktu baca sambil tiduran di lantai, saking ngantuk tiap kali bacanya.

Kebut diawal lalu mandek ditengah tengah dikarenakan plot ceritanya yang ngebosenin, ngabacanya kok berasa kaya lagi dengerin guru pmp didepan kelas..ngajarin tentang moral, cinta kasih, etika ini itu >.<
okelah pesennya emang bagus, cuma plotnya malah jadi datar datar aja karena ga ada klimaksnya. Deskripsi Karl Marl ini jadi kaya utopia diera sekarang ini. bayangin aja si Waller yang uda membakar tempat peribadatan penduduk setempat, didaerah yang asing dan jauh dari negara asalnya, masih diampuni, dirawat ketika sakit bahkan barang2 miliknya tidak disentuh sama sekali..Superb!

Akhirnya saya cuma berandai andai..kalo dunia bisa aman tentrem kaya Dan Damai di Bumi, seperti kata John Lennon
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

You, you may say
I'm a dreamer, but I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one
Profile Image for Muhammad Ridha Ar-Rasyid.
95 reviews12 followers
October 1, 2016
Perlu beberapa hari untuk menyelesaikan buku ini, mengesampingkan beberapa buku lainnya yang sedang saya baca. Mungkin mood yang membawa saya "turut serta" dalam "petualangan" seorang Karl May, dari Mesir hingga sebuah pulau di seberang daratan China.

Novel ini diambil dari catatan perjalanan May sekitar tahun 1899-1900, yang kemudian direkonstruksi menjadi sebuah novel, yang berbeda dengan karya-karya May yang lainnya.

Secara garis besar, novel ini bagus. Tuturannya lembut, mengalir, pesannya pun jelas. Hanya mungkin penekanan-penekanan May terhadap tokoh dan etnis tertentu terkesan kurang adil dan dilebih-lebihkan.

Soal bukunya sendiri, buku ini kelewat tebal, sekitar 605 halaman, tempo hari harganya naik sekitar 10%, dan di halaman-halaman terakhir ada beberapa margin yang tampaknya tidak sesuai, yang ketika margin yang "aneh" ini ditemukan, bagi saya agak kurang enak dibaca. Tidak mengganggu, memang.
Profile Image for Santh memories.
100 reviews14 followers
February 11, 2008
it took almost a month for me to finish reading this book, but it's worth!
talks about the author's journey to "East world", that has changed his point of view in seeing the world, the people, religion, peace, and even God.
the magnificent setting of Egypt, Asian countries (including one island of my country :)), ship trip, psychological matter, tolerance, and prejudice.
the main idea is the harmnony of west and east world, regradless the nations, races, complexions, religions, and even personalities.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
August 31, 2009
After struggling for over 3 years, I finally finished reading this complicated book, layered with philosophical narratives and long passages from the characters. Sometimes it feels ethereal I suspected one might be stoned. Definitely not a summer read.
Profile Image for Isal.
6 reviews5 followers
March 27, 2008
Mengajarkan kita tentang kesetaraan semua umat manusia di dunia. Tentang petualangan sang penulis ke berbagai penjuru dunia, bertemu segala jenis manusia dan belajar bagaimana saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. (Karl May juga cerita tentang pengalamannya ke Nusantara di buku ini bow)
Profile Image for Jelantik.
47 reviews3 followers
April 6, 2008
after being impressed by Winnetou seri, I merely would like to read more of Karl May books.

Even the story is about a journey but I found it so boring. not thrilling like Winnetou. I don't remember if I finsihed reading the book or not ................
Profile Image for Ahmad Rajiv.
120 reviews2 followers
November 27, 2016
Kisah yang sangat menginspirasi. Narasi tentang Kedamaian dan bagaiama Kedamaian itu mungkin terwujud jika kita mau untuk memulainya. Ini buku Karl May pertama yang aku baca, dan aku sungguh ingin membacanya lagi dan lagi.
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
July 23, 2007
Dan damai d Bumi...
yang kuingat dari buku ini adalah kata2 bila kita lihat rumah ibadah, itu lambang kedamaian...peacefull!!!
Profile Image for Nini.
212 reviews8 followers
August 17, 2007
Not yet finished, borrowed it since last year... And my friend already ask me to return it :D Dunno why... maybe because the translation or the slow pace. Nice setting actually...
Profile Image for nu2nk.
12 reviews
September 26, 2007
Skg jadi ngerti, kenapa bangsa Indian bisa lenyap sementara Cina tidak. hehehe.... siapa yg bodoh n yg pinter?? ^_^
Profile Image for Sekar.
31 reviews6 followers
October 21, 2007
salah satu karya Karl May yang menurutku "sangat Kristen" dan religius dibanding karya-karyanya yang lain yang berbau petualangan.
Profile Image for Lisdiawati.
70 reviews5 followers
September 18, 2008
It's enjoyable untuk mengetahui sudut pandang orang lain yang dalam buku ini adalah seorang Karl May tentang Indonesia pada jaman penjajahan dolo.
Displaying 1 - 30 of 40 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.