Jump to ratings and reviews
Rate this book

17:17

Rate this book
Aku senang melihat angka-angka berdampingan dengan selaras, ketika ada banyak probabilitas yang bisa menunjukkan angka yang berbeda. Pada akhirnya, ada angka yang sama bertumpu pada satu titik. Sebelas dengan sebelas. Nol dengan nol. Tujuh belas dengan tujuh belas.

Raka dan Sara bertemu pada hari yang serba ganjil. Pada hari ketiga dalam suatu minggu di sebuah ruang tunggu wawancara. Di antara hujan deras serta lampu padam, menambah kenahasan hari keduanya yang gagal mendapat kerja.

Rupanya benar apa kata orang: bahwa jawaban ditemukan pada proses perjalanan. Raka dan Sara menemukan sesuatu yang menggenapkan hari mereka yang ganjil, di sela-sela musik, canda tawa, dan riuhnya Ibu Kota. Keduanya menikmati Jakarta yang sibuk. Menyusuri tiap jalan seolah waktu berjalan begitu lamban. Raka dan Sara mengobrolkan apa saja, sepanjang itu menahan kebersamaan mereka.

Akan tetapi, malam tidak pernah datang terlambat. Hari akan segera usai. Dan, di atas segala ketidakpastian yang ada di muka bumi, akankah keduanya bertemu kembali suatu hari nanti?

192 pages, Paperback

Published March 14, 2016

4 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Sheva Thalia

6 books22 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (7%)
4 stars
23 (41%)
3 stars
17 (30%)
2 stars
9 (16%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
May 30, 2016
Maaf, tapi buku ini sebenarnya bercerita tentang apa ya? Sumpah bingung gw. Apa gwnya yg terlalu bego sampe ga ngerti? Kok tapi gw ngerasa nih buku cuma crt random ttg 2 pengangguran (job hunter) yang kebetulan bernasib sama. Selain bercrt ttg kehidupan mereka masing2, mereka juga hobi berfilsuf. Selagi baca gw berasa digurui tp sayangnya pelajarannya udah basi, jd masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Bener juga kata reviewer yang udah baca, makna 17:17 disini ga relevan. Gw pun ga ngerti knp penulis ga pilih jam lain, kalo emang maksudnya cm gt doang. Selain itu, mereka kayaknya pengangguran yang cukup bermodal ya. Dari McD ke Starbucks trus KFC. Perasaan kalo emg pengangguran mah pasti makannya irit2 dong, kyk baso/padang gt, ato apapun lah yang penting murmer & enak. Tapi kok kesannya buat mereka, fried chicken tuh murah. Bandinginnya sama steak ayam sih. Mungkin emang definisi murah buat gw & penulis beda. I'm sorry but I cannot give this book more than 2 stars.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
April 4, 2016
Resensi lengkap + giveaway http://www.kubikelromance.com/2016/04...

Pernah menonton film Before Sunrise yang dibintangi Ethan Hawke atau membaca Just One Day karya Gayle Forman? Maka, ketika membaca 17.17 karya Sheva ini kalian akan menemukan formula yang sama, plot yang serupa, tentang dua orang asing yang tidak sengaja bertemu kemudian menghabiskan satu hari bersama-sama, menjelajahi beberapa tempat, saling mengenal satu sama lain.

Raka dan Sara tidak pernah bertemu sebelumnya, mereka dua orang asing yang tinggal berjauhan, satu di Depok, satunya lagi di Bekasi. Mereka dipertemukan ketika sama-sama menghadiri tes wawancara kerja sebagai business development executive. Sara yang merupakan mahasiswa baru berharap dan serius mengikuti ujian, dia terlalu sering membuat lamaran pekerjaan yang tak kunjung diterima juga, dia ingin sekali membantu ibunya yang single parent. Dengan penampilan rapi dan percaya diri, dia memantapkan diri menghadapi para pesaing yang tidak sedikit.

Beda lagi dengan Raka. Dia seperti tidak mempunyai tujuan hidup, sebelumnya dia pernah bekerja sesuai dengan jurusan ketika kuliah, tapi tidak bertahan lama, hanya mampu bertahan dua tahun. Raka lebih senang bermain drum, dia terlalu santai, tapi kali ini dia ingin mencoba, dia sudah lelah menjadi pengangguran, tidak ingin menjadi beban kakaknya. Walau sudah mencoba berdandan rapi, diantara semua pelamar Raka terlihat paling tidak niat, setidaknya dia sudah berusaha.

Ketika para peserta tes wawancara diminta memasuki ruangan untuk mengikuti ujian psikotes terlebih dahulu, tiba-tiba saja Sara mundur dan meninggalkan tempat ujian, harapannya kandas karena dia tidak menyukai ujian psikotes, dia lebih memilih melarikan diri ke restoran cepat saji, menerjang hujan, meratapi nasibnya. Tidak lama setelah itu, ada seorang laki-laki yang sempat bertegur sapa dengannya di tempat ujian tadi, laki-laki yang membenturkan kepalanya ke tembok, yang sama-sama ingin menggenggam posisi business development executive. Dua orang asing yang sama-sama membuang kesempatan yang ada, lebih memilih mengobrol di restoran cepat saji, membicarakan kehidupan masing-masing, tentang impian, tentang sumpeknya ibu kota, mencoba melambatkan waktu agar terus bisa bersama.

"Setiap makanan itu berbeda. Ada rendang yang dimasak lama, dan ada ikan goreng yang dimasak cepat. Dua-duanya sama-sama enak, tapi prosesnya nggak sama."
"Mungkin ada yang buruh perjuangan lebih lama, butuh proses lebih lama, ya kayak masak rendang. Tapi, hasilnya tetap akan jadi. KIta fokuskan kepada kamu, kamu akan jadi makanan yang seperti apa."

Manusia memang sulit dimengerti. Mungkin karena itulah tidak ada yang pernah benar-benar memahami dirinya sendiri. Selalu membingungkan dari diri kita -walau kita sudah lama hidup.

Mana ada hidup yang tidak penuh dengan kesulitan? Kesulitan itulah yang membuat diri kita semakin dewasa setiap harinya.

Dia pernah bilang, kalau bonsai itu rasanya udah nggak terlalu sehat lagi, potnya harus diganti... sama juga dengan hidup. Kalau rasanya lo jenuh, atau apa pun, lo nggak harus buang bonsainya. Lo cukup ganti potnya. Jadi, ketika lo nggak dapat kesempatan dari orang lain, ya lo nggak perlu buang semua cita-cita lo juga. Lo cukup ganti wadahnya -entah itu memperbarui semangat lo, atau cari pekerjaan di tempat lain.

Hidup orang juga sama kompleksnya dengan hidup kita. Punya kesalahan dan punya hal-hal yang mengejutkan.

Semua orang pasti merasakan apa yang pernah Raka dan Sara alami. Mencoba melamar pekerjaan tapi selalu gagal di psikotes atau merasa bosan dan waktu terbuang percuma hanya demi mengisi berlembar-lembar soal psikotes. Setiap orang pasti pernah gagal, tapi bukan berarti menjadi akhir dari segalanya. Raka dan Sara sama-sama saling menghibur, saling bercerita tentang apa yang sebenarnya mereka minati, menyusuri jalanan ibukota yang becek dan sangat kacau dikala hujan, tentang pilihan transportasi yang bisa membuat mereka tidak berpisah dan melanjutkan permainan yang mereka buat.

Saya sangat menikmati cerita Raka dan Sara ini, sangat realistis dan siapa saja bisa mengalami. Sheva membuat pertemuan Raka dan Sara sangat masuk di akal, ada proses tahapan yang tidak serta merta membuat mereka berdua langsung akrab dan dengan mudahnya berbagi cerita. Sara tidak begitu saja percaya pada Raka, tapi Raka memiliki cara agar Sara percaya padanya, bahwa dia bukanlah orang jahat yang berniat menculik. Raka tertarik dengan Sara karena dia satu-satunya orang yang meninggalkan tes padahal pada awalnya Sara sangat optimis dan terlihat kompetitif. Raka merasa mereka memiliki kesamaan dan ingin berbagi cerita. Saya menyukai cara yang dilakukan Raka untuk meyakinkan Sara, yang tak luput Sheva hadirkan di bagian akhir sebagai penutup, tentang bertukar kartu identitas.

Bagian favorit saya lainnya adalah ketika Raka dan Sara melakukan music shuffle game, di mana mereka akan menjawab 20 pertanyaan dan jawabannya berupa lagu yang ada di playlist mereka, Raka akan menjawab melalui playlist yang ada di ponsel Sara, dan sebaliknya. Permainan tersebut lucu dan romantis, ingin rasanya mencoba sendiri secara langsung :D

Saya sangat antusias ketika Sheva akan menerbitkan buku baru, sejak membaca Blue Romance, saya tertarik dengan tulisannya, ingin tahu cerita apa lagi yang dia buat. Masih melibatkan film dan musik walau tidak sekental di buku pertama, cara dia bercerita di 17.17 sangat mengalir, plotnya rapi dan jelas, saya sangat menikmatinya, membuat perjalanan Raka dan Sara tidak membosankan. Di Blue Romance, Sheva sering sekali bermain dengan twist, saya masih berharap akan ada juga dan menebaknya tapi sepertinya tebakan saya meleset, awalnya saya kita Om Randu pecinta The Beatles akan menjadi benang merah tapi sampai akhir tidak terbukti.

Buku ini bercerita bahwa waktu sangat berharga, kadang orang ingin segera waktu berlalu, kadang sebaliknya, ingin melambatkan, ingin lebih lama lagi dengan seseorang yang kita sukai.

"Jakarta itu kayak lukisan abstrak menurut gue. Tidak semua orang bisa memahami dia. Tapi, ada orang yang tetap datang ke Jakarta, karena mungkin kota ini punya keindahan sendiri."
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
May 20, 2016
Membaca buku ini sebenarnya karena tertarik dengan judul novel yang diberikan. Apalagi novel ini termasuk seri waktu yang diterbitkan grasindo (ada 3 judul yang mempunyai waktu yang berbeda)

Novel ini cukup tipis. Makanya gue memilih memulai baca novel ini lebih dulu daripada 2 judul lainnya.

Ceritanya tentang Raka dan Sara yang bertemu dengan tidak sengaja saat sedang melakukan psikotest seleksi kerja. Keduanya bisa dibilang masih job hunter. Sara fresh graduate dan Raka yang merasa dirinya tidak bakat bekerja kantoran.
pertemuan tidak sengaja mereka membawanya akan banyak hal yang tidak sengaja terjadi. Waktu berjalan cepat namun mereka seakan gak mau mengakhirinya.

Sebenarnya novel ini dibuka dengan penggalan kata yang baik. Permainan kata tentang job hunter, jakarta dan psikotest di awal cerita sangat mengelitik pembacanya. Penggalan kata tersebut akan membuat pembaca miki: akh, ini benar.

Namun, hal baik itu tidak ada gunanya saat gue terus membaca halaman demi halaman dalam cerita ini. Menggunakan POV 1 dengan gantian antara Sara dan Raka, cerita ini jadi gak ada konflik. Penulis hanya menceritakan kehidupan Sara dan Raka saja.

Dan aneh sih kalau dua orang tidak saling kenal bisa terus ngobrol lupa waktu. Heloooo.. emangnya Raka dan Sara itu memiliki wajah yang rupawan apa gimana? Sampai rela aja gitu pulang larut malam ngalor ngidul berdua? Padahal jelas-jelas keduanya habis melewatkan hari yang melelahkan dan menyedihkan.
plis deh lebih relevan dikit..

Jujur aja gue berharap judul 17:17 akan memiliki nilai sendiri dengan ceritanya. Entah job hunter keduanya atau gimana. Tapi.. penulis mengambil makna 17:17 dengan begitu saja.

Tapi.. walaupun gue kurang puas sama judul seri ini, gue masih pensaran 2 judul lainnya untuk seri serupa.

Semoga saja tidak mengecewakan.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 30, 2016
Jujur sejak membaca Blue Romance, kemudian membaca Memorabilia, aku jatuh cinta dengan tulisan Sheva. Sayangnya saat membaca novel ini, aku tidak bisa terlalu terhubung dengan baik seperti dua buku sebelumnya yang sangat aku nikmati saat membacanya.

Ide novel ini sungguh menarik sebenarnya, tentang 2 orang asing yang bertemu saat melamar pekerjaan yang kemudian memutuskan untuk tidak mengikuti tes pekerjaan yang jauh-jauh mereka datangi, kemudian berakhir dengan ngobrol banyak hingga lupa waktu (baca tengah malam).

Sebagai pekerja di ibukota, aku bisa mengerti dengan banyaknya hal yang sebenarnya mirip dengan kondisiku, sama-sama pengguna commuterline, yang harus desak-desakan tiap pulang pergi rumah-kantor dan banyak cerita lainnya yang mungkin dirasakan oleh para pekerja di ibukota. Sayangnya, aku tidak bisa merasakan chemistry di antara kedua tokoh ini, walaupun gaya bercerita saling bergantian sudut pandang memudahkanku untuk lebih mengenal kedua tokoh disini.

Namun, mungkin novel ini tidak memenuhi ekspektasiku, angka 17:17 disini juga kurang bisa tergambarkan dengan baik.

Overall, aku masih akan terus menanti karya Sheva lainnya :)
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
April 27, 2016
“Apakah memang benar, untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, diperlukan berlembar-lembar kertas? Bukankah akan lebih bagus mengetahui sesorang jika kita berkenalan langsung dengan mereka?” –17:17, hlm. 30



Raka dan Sara merupakan dua orang asing yang tak sengaja bertemu. Berangkat dari Bekasi, Raka mencoba peruntungan kesekiannya untuk bekerja di sebuah kantor pada Bilangan Sudirman. Sedangkan Sara, yang datang dari Depok pun tengah mengadu nasib untuk pekerjaan pertamanya di kantor yang sama.

Keduanya membenci psikotes. Saat Sara berharap jika dirinya bisa langsung diterima setelah melakukan wawancara, nyatanya itu jebakan belaka. Semua calon karyawan business development executive harus mengikuti tes tertulis.

Sara yang serta-merta menunjukkan kekesalannya lantas mengambil langkah mantap untuk menikmati Paket Spesial nomor 2 di McDonald’s. Saat itu hujan turun dan tak ayal ia memergoki pemuda yang nampak begitu nahas. Bajunya basah kuyup. Dan laki-laki itu pun mengenalinya sebagai gadis yang melarikan diri dari ujian calon karyawan baru.

Sepanjang pertemuan Raka dan Sara, mereka bercerita panjang lebar tentang diri dan latar belakang masing-masing. Dari satu orbolan, nyatanya berlanjut ke topik berikutnya. Di tengah kemacetan ibukota, keduanya memutuskan untuk berjalan kaki menuju stasiun sembari menemukan makna hidup yang sesungguhnya.





Sedikit orang yang percaya kalau buku tipis kadang bisa berisi jutaan makna. Namun nyatanya, “17:17” adalah salah satunya. Jika sempat mengira buku terbaru karya Sheva terasa ringan, sesunguhnya banyak sekali makna yang terkubur di antara kalimat-kalimatnya yang sederhana. “17:17” adalah dua numerik ganda yang sejajar dan membuat banyak orang bertanya-tanya.

Di sinopsis ada disinggung tentang pertemuan Raka dan Sara. Bagi saya, “17:17” sesungguhnya membahas suka-duka masyarakat di kota metropolitan, khususnya Kota Jakarta. Bagaimana di pukul 17:17 mereka tengah sibuk berdesak-desakan untuk pulang, bermacet-macetan di jalan raya dan dalam angkutan umum, dan kadang uang gaji mereka pun sesungguhnya habis di jalan. Tetapi, lewat “17:17”, hal-hal demikian malah diputarbalikkan oleh Sheva menjadi sebuah hal yang patut disyukuri, dinikmati, bahkan ditertawakan.


Baca selengkapnya & ikuti giveawaynya di: https://janebookienary.wordpress.com/...

description
Profile Image for Nidos.
300 reviews78 followers
May 25, 2016
Not that bad--it really was okay just like what Goodreads suggests about what two-starred review means. I just put my expectation way too high for every kind of Before Sunrise-sque story out there and most of the times it didn't even come close. Neither this one.

Well, especially this one.

First of all, the setting which took place in two railway stations I know quite well might be the reason why. Long story short, the way the author described them didn't convince me. Secondly, its metonymy was, idk, nanggung. Ojek online, but McDonald's. Minimarket, but Starbucks. Why being selective in mentioning them names? Thirdly.

But gotta admit that some parts of their convos resonate in me. And when the story ended, I somehow felt that warmth I now rarely find while closing a book.

So... yeah, it was okay. Maybe a bit more than okay if I read it blindly. Too bad I couldn't.

Ps: I put it on my ready-to-swap shelf, so just hit me up if you're interested! ;)
Profile Image for Irma Agsari.
119 reviews17 followers
March 23, 2016
Walaupun nggak tahu di kehidupan nyata bakalan ada orang yang "membuang" kesempatan kerja seperti Raka dan Sara atau nggak, tapi rasanya novel ini realistis banget. Percakapan mereka benar-benar mengalir seperti orang biasa pada umumnya. Waktu tahu kalau Grasindo menerbitkan novel 00:00, 11:11, 17:17 bersamaan, konsepnya mengingatkan saya pada novel-novel kolaborasi David Levithan dan Rachel Cohn, and i'm a sucker for those kind of stories, so I might as well read the other books :))

3.5/5 bintang untuk beberapa jam bersama Raka dan Sara yang menyenangkan.
Profile Image for Arintya Widodo.
60 reviews31 followers
May 4, 2017
Ada tiga alasan mengapa aku membeli buku ini. Dua alasan merupakan alasan klise yang mungkin membosankan kalau kamu baca. Yang satunya adalah dilihat dari kisah di dalamnya.

Alasan yang pertama adalah karena penulis novel ini adalah Sheva. Iya, aku memang terlalu pemilih untuk membeli bahan bacaan. Makanya aku hati-hati dalam memilih penulisnya. Dan seperti yang udah kusebutkan di atas, bahwa Sheva merupakan satu dari beberapa penulis favoritku, jadi tanpa ba-bi-bu, langsung deh masukin ke daftar beli buku.

Alasan yang kedua adalah karena ada tokoh Raka di dalamnya. Kya! Iya Raka! Aku tergila-gila dengan nama Raka sejak beberapa tahun terakhir. Tuh kan, klise banget alasanku ini.

Dan yang ketiga adalah, karena ide utama dari kisah ini dekat sama aku dan berbeda dengan kisah-kisah lain. Kisah ini mengangkat betapa menyebalkannya tahapan seleksi kerja. Sebagai jobseeker tentu saja kita harus mengikuti setiap tahapannya agar bisa mendapatkan pekerjaan. Dan beberapa waktu lalu aku sempat ada pada posisi ini. Jadi ya aku merasa dekat dengan kisah ini.

Aku memberikan empat dari lima bintang untuk 17:17. Sebenarnya hanya tiga bintang sih, tapi satu bintang aku tambahkan lagi karena ending-nya bikin deg-degan serta tahan nafas. Kenapa sih harus berakhir di stasiun kereta? Nggak bisa ditambah lagi apa kisahnya?
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
January 19, 2018
Bagiku, novel ini memiliki konflik, yakni konflik batin dari kedua pemeran utama itu sendiri. Konflik pada kehidupan mereka yang diceritakan dengan penuturan dialog antartokoh, mengenai masalah-masalah pelik dalam hidup mereka. Juga mengenai bagaimana masalah tersebut seharusnya diterima dan menjadi suatu pelajaran, suatu tekad, untuk meraih kebahagiaan, yakni dengan melakukan apa yang disenangi dan jadikan hobi sebagai pekerjaan (semacam itulah).

Bagiku pula, sebuah cerita tidak melulu mengenai konflik fisik atau emosi yang meletup-letup. Konflik dapat pula berupa pengambilan keputusan atau pilihan jalan dari seorang tokoh, ketika ada keputusan atau jalan lain yang dapat diambil. Konflik batin atau pikiran tetaplah sebuah konflik.
Profile Image for glooriday.
26 reviews
February 1, 2022
Ini buku pertama karya Kak Sheva yang kubaca dan aku mau bilang, "I enjoyed it a lot!" Aku suka pembicaraan antara Raka dan Sara yang mana di setiap convonya ngingetin aku soal hal yang gak pernah aku inget, kayak apa ya ... memories that I never remember but I've been there (?)

4/5 ⭐
Profile Image for Mesyi Days.
17 reviews
August 6, 2016
17.17 Adalah buku pertama kak Sheva yang ku baca. Tema cerita yang diangkat sangat simple, tapi isinya ajib bener kak. Ku ucapkan Thanks banget buat bukunya ya kak.
17.17
Menceritakan tentang Sara dan Raka yang sama2 sedang menghadiri wawancara pekerjaan. Disitulah awal mula keduanya bertemu. Dan terjadilan interaksi anatar kedua orang asing tersebut...

Ketika Sara mendadak nggak bersemangat lagi melanjutkan test wawancaranya. Gara-gara acaranya beralih jadi Psikotest. Sara sangat membenci Psikotest. Disinilah aku mulai bertanya-tanya.
Aku rada bingung aja, kan dimana2 pelamar pekerjaaan yang udah diterima di tahap wawancara harusnya seneng dan tetep maju berjuang diantara para lawan. Berbeda banget sama Sara yang memilih mundur (secara teratus dan bahagia) hanya gara-gara Psikotest yang menurutnya memusingkan. Sangat disayangkan banget kalo dikehidupan nyata bakalan terjadi. Tapi aku tetep menghargai keputusan yang diambil Sara kok. Tiap orang kan punya pemikiran yg beda-beda.
Tapi ada lagi satu hal yang, serius, ini sungguh membuatku bertanya2 sampai detik ini juga. 'Apa alasan Raka sampai ikut-ikutan nggak nerusin ujian Psikotest? disitu penjelasannya menurutku masih kurang aja..tpi ggp deh.

Btw, Aku membutuhkan waktu tiga hari buat menyelesaikan novel ini. Waktu yang lama, berhubung aku masih anak sekolahan yg banyak tugas. Dan juga baru sempet sekarang ngereview. Maafkan saya kak, hehe..
17 17
Ku rasa percakapan antara Sara dan Raka disini sangat mengalir sempurna dan aku menikmatinya sampai detik2 terakhir. Serius.
Walau kadang aku nemu satu, dua kata yang salah pengetikan. Maklum, namanya yang buat juga manusia. Kadang salah itu lumrah.
Ku Rekomendasikan buat kalian yang pengen menikmati Keramaian stasius kereta di waktu senja. Novel satu ini cocok sekali. Dan banyak juga pelejaran yang bisa diambil. Ceritanya juga nggak terlalu mengandunh unsur cinta-cintaan kok. Suweer, aku ga nemu in kata romantis di sini.
Tapi bagian akhirnya, haha bikin senyum-senyum abis.

"Aku tahu itu bukan lambaian selamat tinggal, tapi lambaian tangan yang berarti: Sampai bertemu besok."
~hal.183
Profile Image for Ardelia Karisa.
Author 6 books21 followers
April 9, 2016
Saya sebenarnya sudah terlebih dahulu mengenal tulisan Mbak Sheva di buku Blue Romance yang diterbitkan beberapa tahun lalu. Saya terpikat dengan bagaimana cara Mbak Sheva bercerita di buku tersebut, sama seperti halnya di buku 17.17 ini. Mbak Sheva berhasil membuat saya jatuh cinta dengan bagaimana dia bercerita tentang Raka dan Sara dan pertemuan awal mereka yang tidak terduga.


Saya suka ide ceritanya yang sederhana. Sederhana dalam arti yang sangat baik karena ketika membaca buku 17.17 saya bisa membayangkan bahwa suatu hari saya bisa saja berada di posisi Sara yang bertemu laki-laki nyentrik dannyeni seperti Raka. And yup, I fall in love with Raka. Saya bisa bayangkan kalau si Raka ini tuh tipikal cowok nyeni yang bisa diajak deep talk sampai subuh. Yang jalan pikirannya membuat saya jatuh cinta.

Ditambah pilihan latar tempatnya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari--bukan tempat-tempat fancyyang ada pemain pianonya misalnya--membuat cerita di 17.17 ini makin real. 


Dan satu lagi yang saya suka dari buku ini adalah Mbak Sheva menempatkan diri sebagai Raka juga. Dan menurut saya sih Mbak Sheva bisa memakai cara yang bisa saya bilang lumayan beresiko ini dengan mulus. Indikatornya sederhana, waktu saya baca bagian Raka saya nggak pernah nyeletuk dalam hati, "cengeng amat lo," gitu.


Overall saya rekomendasikan buku 17.17 ini untuk yang ingin membaca cerita roman romantis yang tidak terkesan dibuat-dibuat.
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
April 29, 2016
“Ini benar-benar menjadi hari yang melelahkan. Namun, sulit untuk tidak memikirkan tentang pertemuan hari ini.” (hal. 176)

Hari esok memang tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita bertemu dan kejutan apa yang menanti. Apakah itu kabar gembira atau malah kabar buruk. Tapi siapa sangka dari pertemuan itu malah bisa memahami tentang perjalanan hidup.

Novel ini menceritakan tentang dua orang asing yang semula tidak pernah saling kenal yang kemudian bertemu pada waktu dan cuaca yang tidak tepat. Raka dan Sara sebenarnya hari itu, mereka tengah mengikuti tes wawancara sebagai business development executive.

Dari rumah Raka sebenarnya sudah tidak terlalu tertarik dengan wawancara itu. Dia gugup dan sediki merasa mual. Hanya saja dia berusaha berpikir positif mungkin ini adalah kesempatannya bisa mendapat pekerjaan setelah empat bulan menganggur.

Sama halnya dengan Sara. Dia bertanya pada ibunya bagaimana jika nanti dia gagal. Namun sang ibu dengan bijak memberikan kekuatan positif pada anaknya. “Ya, bangkit lagi, dong. Jangan cepat putus asa, ibarat makanan belum matang, apinya keburu dimatikan hanya karena takut pancai panas.” (hal. 7)

http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Profile Image for Lucia Priandarini.
Author 12 books58 followers
March 26, 2016
Ini cerita dalam satu hari yang mungkin selama ini diharapkan banyak pembaca terjadi pada diri mereka (dan memang  mungkin saja terjadi :) ). Jalinan ceritanya rapi, detail, sederhana, nggak mengada-ada, sekaligus menarik.

Ojek, wawancara kerja, makanan cepat saji, semua hal yang jadi bagian dari keseharian yang biasa, sekaligus bisa jadi tidak biasa. Sebagai pembaca, saya berharap semoga novelnya nggak cepet habis :). Pas buat dibaca siapapun yang sedang patah hati ataupun lagi (berharap) jatuh cinta. Seperti sebuah pengingat bahwa orang yang (lebih) tepat itu bisa saja orang yang sedang satu lift denganmu atau yang sedang duduk sendiri di sebelahmu saat makan di McD.  

Suka sekali cara penulisnya mengisahkan satu cerita dari dua sudut pandang: Raka dan Sara. Sepakat sama pendapat Sara tentang psikotes! Saya bahkan dengan bodohnya pernah ikut kursus cara menjawab pertanyaan psikotes biar sesuai sama kebutuhan perusahaan (yang mana itu bisa jadi artinya menipu diri sendiri). 

Ngomong-ngomong, menurut saya cerita Raka dan Sara di buku ini belum selesai, bahkan baru dimulai. Jadi mungkin bisa dibikin sequelnya. hehe
Profile Image for Biru Cahya.
56 reviews6 followers
May 6, 2016
3.5/5

Sukaaaa sekali dengan percakapan yang terjalin di antara Raka dan Sara, sedikit mengingatkan saya dengan trilogi film Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight.

Awalnya saya sempat khawatir kalau endingnya bakal bikin saya kecewa atau gimana, TAPI TERNYATA ENGGAK LHO. Saya justru puas banget sama endingnya. Pokoknya pas menutup buku, perasaan saya jadi hangat aja gitu. :">

Melalui percakapan Raka dan Sara, Sheva juga beberapa kali menyinggung tentang isu quarter life crisis; sulitnya menentukan cita-cita dan tujuan hidup, harus ngapain setelah ini, tingginya persaingan buat dapet kerja, dan hal-hal serupa lainnya-- WHICH I COULD TOTALLY RELATE TO.

Selain merasa dipahami, buku ini juga bikin saya optimis bahwa pasti masih ada orang-orang asing yang berbaik hati menolong satu sama lain di luar sana. <3
123 reviews
July 21, 2016
Novel ini lebih banyak mengangkat tentang kehidupan Jakarta dari segi pekerjaan, harapan, dan kenangan. Hingga membuat porsi tentang cinta hanya sepertiganya.

"Harus ada pembicaraan yang dimulai, karena jika tidak, ia mungkin sudah akan  berjalan menuju gerbong kereta yang akan membawanya ke Stasiun Depok."—hlm. 132

Dunia paralel juga menjadi benang merah cerita ini. Sebuah cerita mitos yang menggambarkan bahwa di dunia ini, ada aku dan mungkin juga beberapa aku di belahan dunia lain.

Ayo baca review lengkap di http://wp.me/p6C0Ry-5D
Profile Image for Muhammad Rasyid Ridho.
273 reviews4 followers
April 11, 2016
Ini buku karya Sheva yang pertama kali saya baca, menarik sekali. Ada mitos dunia paralel, mungkin mirip di serial The Flash yang ada dunia 1 dan dunia 2.
Ada cita-cita, impian dan harapan di masa depan. Ada hujan, kenangan dan musik.

Mau baca novel? Mau berkesempatan dapat buku ini secara gratis? Ikutan giveawaynya ajad di blog buku saya, kali aja kamu beruntung! :)

https://ridhodanbukunya.wordpress.com...
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
April 18, 2016
Hidup memang cuma satu kali, dan mungkin tidak ada kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Mungkin cuma ada satu kemungkinan dalam hidup kita--berhasil atau tidak... Tapi, itu yang bikin kita mau berjuang supaya hidup kita berkesan, ya, kan? --pg. 173



Terimakasih sudah menuliskan cerita ini Kak Sheva :)
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 2, 2016
" Jakarta dan macetnya memang memiliki daya tariknya sendiri--daya tarik yang membuat kita ingin memaki kota ini, tetapi juga mencintainya pada saat yang sama." (hlm. 49)

Silakan ikutan giveaway berhadiah satu novel 17.17 di Baca Biar Beken hanya sampai tanggal 7 Mei 2016. Terima kasih.
Profile Image for Inggrid Hidayanti.
28 reviews7 followers
April 18, 2017
Ini adalah tulisan dari Sheva yang pertama kali aku baca. Awalnya aku menyangka cerita ini adalah tentang keajaiban waktu yang sama, ada juga yang bilang cerita ini sekilas mirip Just One Day punya Gayle Forman yang masih mejeng di daftar buku yang harus aku beli :D

Cerita ini bermula dari Raka dan Sara yang tidak sengaja bertemu di sebuah undangan interview pekerjaan di pusat Jakarta, Sara yang lulusan baru merasakan nggak enaknya psikotes yang selalu ada di setiap wawancara kerja. Sementara Raka yang sudah pernah bekerja sesuai dengan jurusan kuliahnya hanya berharap bahwa ia segera terbebas dari jabatan pengangguran.

Lalu perjalanan mereka pun dimulai; Sara memutuskan untuk tidak mengikuti psikotes dan kemudian disusul oleh Raka. Mereka akhirnya berbincang mengenai berbagai hal, dimulai dari bermain detektif yang menebak satu sama lain hingga bermain shuffle lagu di ponsel masing-masing yang berakhir pada larut malam. (itu Sara enggak takut naik KRL tengah malem yak?)

Menurutku, Sheva menuliskan ceritanya dengan sederhana, banyak kata-kata yang bisa dijadikan cerminan hidup kita sehari-hari; cerita para pencari kerja di ibukota, menghabiskan waktu makan McD, kehujanan, terjebak macet, kedinginan, kemudian berlanjut makan KFC dan akhirnya nongkrong di Starbucks yang berada di stasiun.

Sudut pandang cerita ini pun dibuat dua; menurut Raka dan Sara, Raka dengan pesimisnya dan Sara dengan sifat optimis. Btw, mereka punya kenangan dengan keluarga mereka dulu; Raka yang ditinggal ayahnya pergi begitu saja ahingga sang ibu depresi dan tinggal di Solo dengan nenek mereka hingga Sara yang kehilangan ayahnya yang sakit dan sang paman yang meninggal begitu saja saat mengajar sebagai dosen.

Percayakah kalian dengan dunia pararel? yang mungkin ada beberapa 'kita' di waktu yang sama namun di belahan dunia yang berbeda. Disini dibahas sekilas sih sama Raka, dia juga berharap jika memang ada dia di belahan dunia lain, dia ingin bahwa 'Raka' yang lain akan mempunyai tujuan hidup yang jelas, yang punya target dan bisa mencapai semua yang dia mau.

"Jakarta itu kayak lukisan abstrak menurut gue. Tidak semua orang bisa memahami dia. Tapi, ada orang yang tetap datang ke Jakarta, karena mungkin kota ini punya keindahan sendiri."

I love this story, mungkin memang di beberapa part aku sempet berhenti baca karena banyak kejadian yang diceritakan ulang di kedua POV, tapi akhirnya setelah selesai aku tersenyum dan menilai kalau buku ini layak dibaca buat yang suka bacaan santai kek di pantai.

I gave 3 stars for this book!
xoxo
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.