Jump to ratings and reviews
Rate this book

11:11

Rate this book
Apa hal terburuk dari bertemu orang dari masa lalu? Bisa jadi jawabannya adalah menghadapi kepingan diri pada masa silam yang diam-diam ingin disembunyikan. Orang bilang masa lalu mestinya ditinggalkan demi menatap masa depan. Padahal, masa lalu adalah cermin untuk mengingat siapa dan dari mana perjalanan manusia bermula.

Btari tidak menyangka open trip pertamanya ke Bromo membawanya berjumpa dengan Mikhail teman masa kecilnya. Btari tak pernah lagi bertemu Mikha sejak keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta. Dan, kini ia berjumpa Mikha, empat minggu jelang hari pernikahan dengan tunangannya.

Perjalanan 1 x 24 jam menuju Bromo bersama laki-laki dari masa lalu membawa Btari pada kisah baru. Menyadarkannya dari 25 tahun cerita hidup yang seolah dituliskan oleh orang lain. Mikhail menunjukkankepadanya, tak semua orang bisa mendapat kemewahan untuk memilih, ketika sebagian lain hanya bisa menerima.
Hingga pada pukul sebelas menit kesebelas, Btari dan Mikha sampai pada suatu pembicaraan penting. Pembicaraan tentang diri mereka yang sebenarnya. Tentang bagaimana kemarin, hari ini, dan esok keduanya akan berada.

184 pages, Paperback

Published March 14, 2016

20 people are currently reading
194 people want to read

About the author

Lucia Priandarini

11 books58 followers
Lucia Priandarini lahir dan dibesarkan dalam rumah penuh buku. Setelah lulus dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ia sempat menjadi reporter di media gaya hidup, menulis naskah nonfiksi untuk penerbit, serta menulis konten untuk media daring. Kini ia bekerja mendokumentasikan pendampingan komunitas pembatik dan penenun di beberapa daerah.

Episode Hujan dan 11.11 (2016) adalah 2 novel pertamanya. Ia menerbitkan buku nonfiksi kesembilannya, Mengejar Ujung Pelangi pada 2020. Pada 2021 ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager. Buku ini menjadi nomine buku sastra pilihan Tempo kategori puisi tahun 2021.

Dua Garis Biru (2019) adalah kolaborasi ketiganya dengan Gina S. Noer setelah novel adaptasi Film Posesif (2017), dan Dunia Ara, buku anak dari semesta Film Keluarga Cemara (2018).

Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik: lucia.priandarini@gmail.com, Instagram dan X: @rinilucia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (21%)
4 stars
54 (48%)
3 stars
29 (26%)
2 stars
3 (2%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
June 29, 2016
Actual score : 4,8 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Peluang Sedih dan Bahagia dalam novel "11.11" by Lucia Priandarini

Ini adalah novel kedua Lucia Priandarini yang saya baca setelah Episode Hujan (sudah direview di sini ), dan yang bisa saya simpulkan dari keduanya adalah : Lucia membawa misi dalam tulisannya. Kalau Episode Hujan membawa tema HAM dan kenyataan jurnalisme di luar sana, 11.11 memperkenalkan pembacanya dengan Thalassemia.

Bagi yang belum tahu, Thalassemia adalah kondisi kelainan haemoglobin dalam sel darah merah karena mutasi kromosom 11 pada seorang individu. Thalassemia memiliki beberapa tipe, tidak semua pembawa gen Thalassemia mengalami efek2 yang ditimbulkan (di antaranya : limpa membengkak, anemia, perubahan bentuk wajah). Seseorang bisa saja hidup normal namun membawa gen resesif Thalassemia. Jika kedua individu yang membawa gen tersebut memiliki anak, anak2nya jelas membawa gen tersebut ke keturunan selanjutnya, atau bahkan memiliki peluang untuk menjadi penyandang Thalassemia. (Keterangan lebih lanjut : Thalassemia.org)

Seperti yang bisa dilihat, judul 11.11 dalam cerita bukan hanya sebagai penunjuk waktu, tapi mewakili mutasi kromosom nomor 11 yang menjadi penyebab Thalassemia. In fact, pembukaan novel ini memang cukup membuat saya terkesan karena Lucia berhasil memperkuat judul 11.11 itu dengan penjabaran soal angka yang sedikit banyak mendefinisikan hidup manusia. Meskipun Btari maupun Mikha dalam kisah ini bukanlah penderita Thalassemia Mayor (yang membawa semua efek seperti yang sudah saya jelaskan pada paragraf sebelumnya), Lucia memperkenalkan Thalassemia dengan cukup detail, menggabungkannya dengan kisah tentang dua individu dengan latar bertolak belakang yang bertemu dalam sebuah perjalanan dan perlahan jatuh hati.

Saya merasa mendapat banyak pengetahuan dari novel ini, bukan hanya tentang salah satu kasus kondisi kelainan darah, namun juga travelling Malang-Batu-Bromo, juga dialog2 kontemplatif antara Mikha dan Btari. Saya harus mengaku, bahwa sepertinya ada bagian diri saya yang terbawa oleh Mikha, cowok ini tidak sok keren tapi berhasil mencuri hati dengan efektif. Btari mungkin masih bisa menahan diri untuk tetap terlihat cool, tapi kalau saya yang berada di posisi yang sama, pasti sudah klepek2 setiap setengah jam sekali.

Apalagi saat adegan Mikha berbisik2 pada Btari. Saya gemas luar biasa.

Kembali ke dialog kontemplatif, novel 11.11 sarat akan pesan moral, terutama tentang keberanian untuk berharap. Bahwa hidup tidak selamanya 100% menawarkan jalan yang mulus, namun untuk apa bersedih kalau bersikap takut tak akan mengurangi persentase tersebut?

Dilihat dari metode penulisan, format dua orang yang baru bertemu dan menjalin kedekatan berbalut travelling di novel 11.11 ini mungkin bukanlah hal yang baru. Kalau diingat lagi, film Before Sunrise-Before Sunset-Before Midnight sedikit banyak menggambarkan situasi yang mirip, begitu pula dengan novel Sunset Holiday karya Nina Ardianti. Kedua contoh tersebut menjadikan perjalanan tokoh2nya sebagai kesempatan untuk menelaah hidup : tentang eksistensi diri, peran seseorang dalam masyarakat, kritik terhadap kebobrokan mental manusia modern. Bedanya adalah, Mikha dan Btari tidak bisa dibilang benar2 asing satu sama lain, keduanya pernah bersekolah di SD yang sama meskipun hampir tak pernah berbicara.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa kedekatan mereka bisa menjadi sangat alami dan cepat, dan mungkin itu juga alasan mengapa semuanya menjadi jauh lebih masuk akal dan mudah dinikmati. Morevoer, saya harus katakan bahwa novel 11.11 karangan Lucia Priandarini (sejauh ini) adalah favorit saya di antara semua novel dan film bertema sama yang pernah saya nikmati.

Saya sudah memberi jeda pada waktu baca dan review. Saya juga sudah memikirkan ulang setiap elemen penilaian novel yang satu ini. Seperti remaja galau, saya mencoba melihat lagi siapa dan apa sebenarnya yang saya sukai : Mikha atau novel 11.11 secara keseluruhan? Tapi terus terang, hampir tak ada kekurangan novel 11.11 yang bisa saya temukan. Hanya alur yang bisa sedikit membosankan di tengah2 cerita, namun tidak terlalu signifikan adanya. Novel ini menekan hampir semua tombol yang tepat dalam diri saya. Resmi dua kali menjadi fans Lucia Priandarini ^^.

Recommended banget, terutama buat jiwa2 filosofis, penyuka roman yang anti menye2, pecinta Malang-Batu-Bromo, juga yang tertarik dengan tema Thalassemia. Oh iya, novel 11.11 karya Lucia Priandarini ini terbit hampir bersamaan dengan dua novel lain yang mengambil tema sama : 17:17 karya Sheva dan 00:00 karya Ardelia Karisa, good job untuk Grasindo dengan ide tema novel2nya yang tidak biasa.

Last but not least, biarkanlah saya mengungkapkan suara hati saya yang terdalam :

"MIKHA... KENAPA KAMU CUMA TOKOH FIKSI DAN BUKAN NYATAAA.!!!!!!"

Sekian, terima kasih ^^

Profile Image for Sheva.
29 reviews21 followers
March 28, 2016
Ini adalah buku pertama Mbak Lucia Priandarini yang saya baca. Saya amat menikmatinya.

Sejak membuka halaman-halaman pertama, saya senang berkenalan dengan Btari dan Mikha. "Berkenalan" dengan mereka membuat saya berharap agar bisa bertemu dengan sosok teman lama di sebuah open trip, dan mendapatkan pengalaman baru.

Menurut saya, buku ini memiliki riset yang matang. Kesungguhan dalam proses menulisnya sangat terlihat, dijahit dengan rangkaian cerita yang apik. Ditambah lagi dengan setting yang menarik, buku ini membuat saya tidak berhenti membacanya dalam dua hari terakhir.

Beberapa poin menarik yang bikin saya tidak berhenti membacanya: ada quote W.B. Yeats, judul bab dengan judul cerita pendek Tolstoy, judul-judul bab yang menarik banget, dan nostalgia Btari dan Mikha. Untuk poin terakhir, duh, saya suka banget. Serasa menguping pembicaraan dua orang teman lama di suatu tempat, dan membuat saya nggak bisa berhenti tersenyum.

Membaca "11.11" akan membuat saya membaca karya-karya mbak Lucia Priandarini yang berikutnya.
Profile Image for Ardelia Karisa.
Author 6 books21 followers
April 9, 2016
Beberapa tahun yang lalu saya pernah baca artikel di Kompas tentang talasemia. Beberapa tahun kemudian, Mbak Rini dengan apiknya bercerita tentang dua orang penderita dengan kisah hidupnya dan tentunya cerita cinta.
Awalnya saya tidak berekspektasi bahwa 11:11 ternyata bukan hanya menyorot tentang penunjuk waktu, tapi surprise! Di buku ini kelihatan banget kalau Mbak Rini itu pengetahuannya luaaaaas sekali. Dan saya sangat menikmati membaca buku 'penuh pengetahuan' ini tanpa merasa sedang digurui. Dialognya tidak terasa kaku, deskripsinya juga enak untuk dibaca--sekali lagi, tidak menggurui.
Saya suka buku-buku yang tokohnya punya penyakit begini, tapi saya bosan dengan suasana suram dan bentar-lagi-mau-mati yang di beberapa novel terasa kental. Dan yup, 11.11 jelas nggak seperti ini.
Overall, walaupun di awal saya bacanya lambat, tapi mulai muncul tokoh Mikha cerita jadi lebih dinamis, sehingga membuat saya enak aja kebawa cerita mereka yang menjelajah Malang. Empat bintang cocok sekali untuk buku ini.
Profile Image for Hari Bay.
34 reviews
September 15, 2024
Cerita yang manis, mengharukan, dan sedikit menyesakkan. Dari dua orang lama yang bertemu kembali di sebuah open trip menuju tempat, yang dulu, memiliki banyak kenangan—indah dan tidak—yaitu Malang. Buku yang bisa habis dalam sekali duduk, singkat, tapi penuh haru dan cinta. Sayangnya, jika saja buku ini diperpanjang sedikit lagi, pasti akan lebih asyik hahaha

"Andai kamu tahu besok adalah matahari terbit terakhir yang bisa kamu lihat dalam hidup ini, dengan siapa kamu paling ingin menyaksikannya?"
Profile Image for Ananda Putri.
3 reviews
September 17, 2024
Cinta bisa datang darimanapun, dari cara yang tidak terduga. Perjalanan singkat dalam satu hari yang tidak disangka ini mempertemukan kembali dua manusia yang sebelumnya tidak pernah saling berinteraksi. Kesamaan yang tercipta pada takdir mereka masing-masing membuat mereka terselamatkan dari cinta-cinta yang tak seharusnya.

"Nggak pernah ada yang salah dengan air jernih tanpa apapun. Itu seperti... menerima tanpa menuntut. Tanpa perlu tambahan rasa dan warna. Seperti cinta tanpa syarat."

Cerita ini dikemas begitu menarik dengan balutan diksi yang mengalir begitu saja dalam pikiran. Banyak sekali satu dua kalimat mengesankan yang lahir dari berbagai kejadian sederhana dan dapat dipetik intisarinya. Bukunya sederhana, perjalanannya singkat, namun berhasil membuatku masuk dan terjun bebas ke dalamnya. Terkadang kita hanya perlu menjadi sederhana untuk mampu memahami hal-hal rumit yang terjadi dalam hidup :)
Profile Image for Ken.
45 reviews2 followers
June 8, 2016
[ more : https://justsavemywords.wordpress.com... ]

…manusia memang lahir dengan angka yang tidak ia pilih. Jumlah uang lebih sedikit, tingkat kecerdasan lebih rendah, ataupun tubuh yang tidak tinggi. Tetapi hidup selalu menawarkan kepastian dengan peluang yang sama bagi tiap manusia, 50:50. ㅡ hal. 168
Profile Image for Tessa Monica.
11 reviews2 followers
October 19, 2020
Novel Lucia Priandarini yang saya baca. Awalnya saya ragu membeli novel ini, karna saya kira pasti ceritanya romance menye-menye yang jauh dari selera saya. Tapi akhirnya sebelum bawa buku ini ke kasir saya sempet buka goodreads untuk liat reviewnya dan sungguh menjanjikan. Akhirnya saya beli buku ini dan langsung saya baca. Bahkan, saya melahap buku ini kurang dari 2 jam saja. Buku ini luar biasa, hebat sekali cara Lucia menuliskannya. Sangat manis dan anehnya meskipun ceritanya sederhana dan penuh dengan dialog antara Btari dan Mikhail saya sangat menikmatinya. Tidak membosankan sama sekali.

Saya suka bagaimana Lucia sepertinya menulis buku ini dengan matang, melakukan banyak riset sehingga saya tahu apa itu penyakit Talasemia, yang jujur saja saya baru mengetahuinya berkat membaca 11.11 karya Lucia ini.

Saya mencintai karakter Btari dan Mikha, chemistry mereka berdua ini kuat menurut saya. Saya suka sikap Btari kepada Mikha, bukan tipikal cewe menye-menye dan ya menurut saya Btari ini bisa membawa suasana juga padahal rasanya bertemu teman lama yg bahkan tidak banyak bicara semasa sekolah pastilah kikuk sekali.
Dan tentu saja saya jatuh cinta kepada Mikha, saya bisa membayangkan Mikha lelaki yang tegap dan gentleman, humoris dan ramah. Saya juga suka cara Mikha berpikir, dewasa dan apa adanya. Seandainya Mikha ada di dunia nyata pasti menyenangkan bisa memiliki teman ngobrol seperti dia.

Namun, menurut saya ada sedikit kejanggalan sehingga saya tidak bisa memberi bintang sempurna. Bila saya di posisi Btari, dan ayah saya tertangkap rasanya saya tidak akan bisa melanjutkan open trip tersebut hingga akhir. Tapi Btari kelihatannya masih bisa menikmati dan terasa kesedihan Btari sangat singkat sekali. Ini sedikit aneh menurut saya.

Lalu, ketika Btari gagal menikah, saya ragu apakah benar seorang wanita yg sehabis diputuskan calon suaminya bisa sesantai Btari? Tak ada tangis, bahkan menurut saya ini kelihatan nonsense.

Dan.. bagaimana bisa Btari langsung jatuh cinta secepat itu kepada Mikha? Bahkan belum 24 jam Btari diputuskan oleh Ramon. Jujur ini kurang bisa diterima oleh nalar saya.

Namun, bagaimanapun saya sangat menyukai cerita antara Btari dan Mikha. Tak ada kata selain “manis” untuk mengungkapkan antara chemistry keduanya.

Setelah baca karya Lucia yang ini, saya jadi tidak sabar ingin membaca karyanya yg lain.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
August 31, 2024
Setelah berhari-hari melewati hari yang sibuk, panjang dan melelahkan, saya ingin menghibur diri dengan bacaan ringan. Pilihan jatuh ke buku ini.

Resensi di Goodreads bilang, ini cerita mengenai Btari yang pertama kali ikut open trip ke Batu - Malang - Bromo sendirian. Tujuannya cuma satu : Btari berharap dengan berpergian, ia bisa menemukan sesuatu yang hilang, atau yang belum ia genggam. Apa tuuh? Cinta?

Lalu dalam perjalanannya, Btari duduk bersebelahan di pesawat dengan Mikhail, teman sekelasnya sejak SD, yang ternyata satu rombongan dalam open trip tersebut.

Kedengarannya seperti film Before Sunset, AADC 2, atau ah, banyak deh. Yang dua orang ketemuan dalam sebuah perjalanan, lalu ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya timbul perasaan naksir. Oke deh, bungkus.

Begitulah, dalam semalam udah selesai baca saking asiknya. Padahal ya isinya cuma ngobrol-ngobrol doang sambil disisipin suasana Batu, Malang dan Bromo. Saya berasa jadi obat nyamuk yang sedang nguping pembicaraan mereka berdua di belakang.

Diawali dari jam 07:07 saat mereka duduk bersebelahan di pesawat dan mulai nggobrolin kabar terkini temen-temen SD, sampai klimaksnya di jam 11:11 mereka saling membuka rahasia penyakit Talasemia yang selalu ditutupi.

Saya nggak terlalu paham tentang penyakit ini, cuma pernah sekilas lihat di Tiktok tentang cewek yang curhat bahwa sebagai pembawa gen penyakit tersebut agak kesulitan untuk mendapatkan pasangan yang mau menikahinya karena jika punya anak, dikhawatirkan mengidap Talasemia juga.

Begitulah. Jadi ternyata temanya lumayan berat juga, tapi si penulis bisa membuat alur ceritanya jadi enak untuk dibaca. Saya sebenernya paling males baca atau nonton tentang drama orang yang berusaha survive dengan penyakitnya. Kan nonton/ baca jadi ikutan stres juga yaa.

Namun di buku ini tuh, nggak terkesan menyedihkan atau berasa jadi orang yang paling menderita sedunia gitu, jadi nggak bikin sumpek. Malah obrolan mereka tuh manis dan menyenangkan. Novel ini punya potensi untuk dijadikan film, karena dialog-dialognya boleh juga.

Sudah ah gini aja, saya udah ngantuk. Bintang 3/5 untuk buku ini.
Profile Image for Azfa.
295 reviews2 followers
January 10, 2023
📖 dibaca melalui @gramediadigital

1️⃣1️⃣:1️⃣1️⃣
Novel ini mengisahkan tentang Btari yang empat pekan lagi akan menikah dengan Ramon, namun Btari merasa masih belum mengenal Ramon. Btari memutuskan melakukan perjalanan seorang diri sebelum ia menikah dengan Ramon. Siapa sangka di pesawat ia bersebelahan dengan teman masa kecilnya, yaitu Mikhail yang ternyata satu rombongan dengan open trip yang dipilihnya.

Berada dalam satu rombongan maka membuat mereka selalu bersama, hingga akhirnya mereka saling berbicara tentang masa lalu dan tentang penyakit Talasemia yang selama ini disimpan rapat oleh Btari dan keluarganya, serta penyakit yang diturunkan kepada Mikhail.
1️⃣1️⃣:1️⃣1️⃣

Novel yang sangat bisa dihabiskan dalam sekali duduk, dengan cerita yang mengalir dan latar tempat menarik dalam sebuah perjalanan dan gunung Bromo.

Aku cukup merasa sedih membacanya karena merasa senasib dengan tokoh Btari sebagai anak ke-3 yang kehilangan adik perempuan untuk selamanya :'( dan tambah sedih lagi mengetahui tentang penyakit Talasemia yang bisa diturunkan kepada anak dan bagaimana cara pengidap Talasemia Mayor bertahan hidup.

Meski kisah ditutup begitu cepat, menyisakan beberapa pertanyaan yang belum terjawab, novel ini menarik. Pembaca bukan hanya diberikan hiburan, tapi juga pengetahuan tetang penyakit Talasemia, serta nasihat baik sebagai bekal pernikahan bahwa lima huruf yang mendasari sebuah pernikahan bukan hanya kata 'cinta'. 🌻❤

Selain itu novel ini juga menyematkan pesan bahwa perihal angka atau prestasi tidaklah penting, namun yang terpenting adalah jumlah kebaikan yang dilakukan dengan sadar.

#jejak_sibuku
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
January 25, 2018
Sebetulnya buku ini sama sekali bukan" saya" banget.Pengarangnya tidak saya kenal( bisa jadi saya yang kudet), bukunya tipis( 168 halaman), dan banyak dialog( berpotensi membosankan) dan diksinya biasa biasa saja.Tapi anehnya saya jatuh cinta pada segala hal yang bukan saya.

Buku yang bercerita pendek( kan jumlah halamannya kurang dari 200) tentang beberapa ide utama yakni tentang Thalasemia, Masa Lalu dan juga Cinta ini ditulis apik oleh Lucia.Tidak dengan kalimat kalimat indah, tapi bikin kita merenung setelahnya.Walau hanya ada 2 tokoh sentral yakni Btari dan Mikhail, tapi ceritanya mengalir dan saya nikmati.Dan di ujung cerita, saya hanya bisa bilang dua hal.Lucia P, saya akan cari bukumu yang lain dan Mikhail, I Love U..
Profile Image for Destiana Rika.
12 reviews3 followers
September 27, 2020
Awalnya, saya nggak tahu siapa itu Lucia Priandarini sampai saya bertemu buku ini di salah satu spot pameran buku akhir tahun lalu. Saat saya baca, saya hampir nyerah karena sepertinya buku ini bukan selera saya. Akhirnya teronggok begitu aja di sudut rak buku saya.

Tapi setelah saya mencoba baca lagi hari ini, ternyata buku ini terasa sangat hangat saat dibaca. Banyak hal yang dibahas di buku ini, dan sebagian besar related dengan situasi saya sekarang.

Dan di akhir buku, saya juga gemas dengan interaksi Btari dan Mikha. Manis, tapi manis yang cukup dan sesuai porsinya ☺️☺️☺️

Buku ini cocok dibaca saat sore hari sambil ditemani secangkir teh. Ringan, tapi cukup berisi dan menenangkan di saat yang bersamaan.
Profile Image for Adhita Purwitasari.
Author 1 book5 followers
October 19, 2019
Kala itu adalah kali pertama saya membaca novel Mbak Lucia Priandarini, blurb yang membawa saya langsung menuju kasir dan membungkusnya. Rasanya menghanyutkan mengikuti percakapan Btari dan Mikha dalam perjalanan mereka ke Bromo, percakapan yang tidak membosankan. Di awal paragraf saja sudah 'nyangkut' di hati, selanjutnya saya membacanya sekali duduk (selain itu buku ini tidak terlalu tebal, on point sekali ceritanya). Buku yang page turning banget. Sejak saat itu saya tidak pernah melewatkan karyanya :)
Profile Image for Amu.
423 reviews8 followers
July 9, 2019
Halo! Aku mungkin telat banget baca buku ini tahun 2019 hehe.

Aku ngga sengaja menemukan buku ini yg sudah tinggal 3 di salah satu toko buku dan langsung tertarik saat lihat trailer cerita dan reviewnya.

Ceritanya menarik banget! Sebenernya ceritanya sederhana tapi pembawaan perjalanan antara Btari dan Mikhail bikin pengen baca terus.
Buatku, perjalanan yang dianggap Btari sebagai perjalanan terakhir sebelum dia menikah sangat menyentuh, banyak pembelajaran yg dia dapetin dari Mikhail.
Selain itu, bahasa dibuku ini dikemas dengan sangat baik, jadi ngga membosankan.
2 reviews
January 6, 2025
Aku suka chemistry antara Btari dan Mikha dalam cerita ini. Hubungan mereka terasa hangat dan penuh makna, apalagi setting perjalanan yang membawa mereka ke percakapan mendalam tentang diri dan hidup. Melalui interaksi Btari dan Mikha, banyak pesan kehidupan yang bisa direnungkan, kayak soal menerima realita, memilih jalan hidup, dan mencari arti kebahagiaan sejati. Overall, ini bukan cuma cerita tentang cinta, tapi juga soal berdamai dengan diri sendiri dan menemukan apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Profile Image for Hanyiezd.
137 reviews
July 5, 2024
Perjalanan sehari yg dapat mengubah kehidupan seseorang. Saat bertemu dengan seseorang yg tepat, di waktu yg tepat, kenapa tidak?
Banyak kalimat-kalimat yg bisa membuat pembaca berpikir sejenak.
Buku ini tipis, tapi butuh waktu lama untukku membacanya. Seperti memakan cemilan manis yg pelan-pelan dikunyah.
Terima kasih sudah menulis buku ini, Kak Lucia. 😊
Profile Image for Aiko.
55 reviews23 followers
May 26, 2018
This book was an easy and pretty short read. It was also predictable, but it was not boring at all. As it so happens, I'm a sucker for cute stories about people who are meant to be, so it was also perfect in that way :)
Profile Image for Runindaru.
19 reviews
June 3, 2023
Ringan dan manis, tapi nggak bikin eneg. Meski memang terlalu cepat rasanya, tapi kadang cinta semisterous itu. Kadang juga bukan soal waktu, tapi jujur Mikhail adalah sosok yang too good to be true, hahaha.
Profile Image for Abovetheclouds.
205 reviews
June 15, 2023
Sukaa bangett sama karakter Mikha dan Btariii, aku kira ceritanya bakal kek cerita2 yg ketebak gitu alurnya ternyataaa malah ada sesuatu yg ga terdugaaa. Menurutku ceritanya kurang panjangg, aku masihh mauu membaca lebih panjang tentang Btari dan Mikha dan bagaimana kelanjutan hidup mereka
Profile Image for Rei Reihana.
31 reviews6 followers
September 18, 2019
Saya sangat menikmati pada proses saya membaca buku ini. Meski ga seru2 amat tp sungguh pengalaman yg menyenangkan apalagi ditemani segelas teh panas.
Profile Image for Rizqi Nur Afifah.
33 reviews1 follower
March 13, 2021
Sudah selesai dari pekan lalu, tapi ga sempat review jadi sedikit lupaa kwkwkw

Pankapan dah
Profile Image for Kira.
32 reviews
December 12, 2021
beli buku ini karna tertarik sama judulnya dan yup bagus dan harganya standar. wajib baca sih
Profile Image for Nur Rokhmani.
256 reviews6 followers
February 26, 2023
Review menyusul.

Tapi buku ini sangat enak dibaca. Alurnya nggak bertele-tele. Meski alur lambat, tp kalau dilihat, cepet banget semua adegan itu terjadi. Begitulah hidup ya.
Profile Image for aleeca.
83 reviews1 follower
April 28, 2024
actually a great book, isinya bagus banget padahal halamannya dikit
Profile Image for Ratnasari.
58 reviews
July 6, 2025
Ga terlalu suka sih tapi lumayan buah bahan bacaan
Profile Image for Pia.
3 reviews1 follower
July 8, 2021
jujur ini novel yang pertama aku beli dan aku baca, dan langsung dibuat suka sama karakter dan cerita di novel ini , ceritanya ringan tetapi membawa tema yang jarang di ketahui orang yaitu penyakit thalasemia.
saat baca aku bisa menggambarkan nya karena lucia sangat sangat menulis tiap adegan nya dengan detail dan mudah dipahami
dan aku sangat sangat suka dengan karakter mikhail karena pemikiran ataupun sudut pandang dia pada suatu hal tuh yang aku cari selama ini dan kagum karena dia bisa menjawab suatu hal yang btari belum tau, pokoknyaa seru dan banyak hal yang bisa dipetik
Profile Image for Della Praditasari.
1 review1 follower
Read
July 31, 2019
Sebenernya aku baca buku ini udah dari tahun lalu. Dua kali. Habis itu bukunya aku simpan rapi di rak bukuku bersanding dengan buku pertama Lucia, Episode Hujan, yang aku juga cinta banget (kapan-kapan aku bakal tulis late-reviewnya juga).

Tapi karena aku ada cita-cita pingin nulis semacam liputan khusus di blog aku sendiri tentang Thalassemia, yang menjadi inti dari novel 11.11 ini, aku memutuskan untuk membacanya ulang.

FYI, saking cintanya aku sama buku ini dulu, buku ini adalah yang paling lecek di antara buku-buku aku yang lain. Bahkan banyak halaman yang aku kasih tanda pakai sticky notes. Kenapa? Karena aku suka kalimat-kalimat di halaman yang aku kasih tanda itu.

Sampai segitunya lhooo...Habis mau gimana lagi? Emang bagus kok hehehehe

11.11 menceritakan tentang wanita bernama Btari, anak seorang pejabat pemerintahan yang sebentar lagi mau menikah. Sebelum menikah, dia pingin untuk terakhir kalinya menikmati kebebasan sebagai seorang lajang dengan mengikuti sebuah open trip ke Bromo, Malang. Kota tempat dia menghabiskan masa kecilnya dulu sebelum dia pindah ke ibu kota.

Nah, pas open trip ini, dia bertemu dengan Mikha atau Mikhail, seorang pria yang juga adalah teman masa SD-nya Btari. Siapa yang menyangka kalau pertemuannya dengan Mikha yang hanya 1 x 24 jam itu bakal membawa perubahan yang luar biasa besar dalam kehidupan Btari di akhir cerita.

(untuk apa kenapa dan bagaimana-nya, please read this book because I don't wanna spoil anything)

Langsung aja ke review-nya yesss...

Membaca 11.11 membuat aku teringat sama film trilogi Before Series (Before Sunrise, Before Sunset dan Before Midnight). Film yang juga membuat aku jatuh cinta setengah mati karena kesederhanaannya. Aku yakin deh film Before Series nggak butuh budget yang gede karena hanya ada 2 tokoh utama dan nggak perlu spesial efek apa-apa untuk membuat film ini keren. Film ini hanya butuh Ethan Hawke dan Julie Delpy untuk menghidupkan tokoh Jesse dan Celine. Dan mereka totally nail it.

Sama halnya dengan novel 11.11. Novel ini setting waktunya nggak butuh sampai berganti hari, bulan atau tahun. Hanya cukup 24 jam dengan setting tempat, Malang-Bromo. Nggak banyak adegan-adegan spesial romantis antara kedua tokoh utama, namun dialog mereka berdua itu udah bikin aku meleleh. Aku jadi membayangkan perjalanan bersama dengan cowok seperti Mikha. Kayaknya udah pasti nggak bakal bosen deh. Dan bukannya itu ya yang dibutuhkan dalam suatu hubungan? Perasaan nggak bakal bosen meskipun menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian sama pasangannya.

Gaya bahasanya Lucia juga nggak banyak berubah di novel ini. Sama seperti Episode Hujan, dia membuat novel karyanya bukan hanya sekedar bacaan namun juga sekaligus buku motivasi. Banyak banget quote-quote bagus yang dia selipin di dialog antara Btari dan Mikha. Tapi jauuhh dari kesan menggurui dan dipaksakan. Jadi kesannya kayak mengalir gitu aja sesuai dengan situasi dan kondisi mereka saat itu.

Konflik yang dibangun juga nggak yang drama banget gitu. Bahkan menurutku hampir nggak ada konflik yang bener-bener parah di sini. Beda banget sama Episode Hujan yang kayaknya penuh dengan konflik. Terus, penyelesaian konflik di novel ini juga sederhana banget menurutku. Apa mungkin efek dari adanya Mikha di samping Btari jadi semua hal serasa mudah? Well...dunno. But I still like it how Lucia makes it so simple.

Meski konfliknya udah seperti terselesaikan, namun ketika kamu membalik halaman terakhir novel ini dan bertemu dengan tanda titik terakhir, kamu bakal merasa kehilangan. Kayak.... "Yah, kok udaan sih?? Terus nasibnya A gimana? B gimana?"

Tapi yang emang that's it. Begitulah ending-nya. Aku juga sedang berdoa mudah-mudahan ini ada lanjutannya biar bisa kayak Before Series gitoooo...
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
September 22, 2024
Novel 11:11 karya Lucia Priandarini mengisahkan tentang perjalanan Btari yang tidak disangka-sangka bertemu kembali dengan Mikhail, teman masa kecilnya, dalam sebuah open trip ke Bromo. Perjalanan ini membawa mereka pada berbagai percakapan penting yang mengungkapkan banyak hal tentang diri mereka dan masa lalu yang ingin mereka sembunyikan.

Novel ini juga membahas tentang penyakit thalassemia, yang menjadi salah satu konflik dalam cerita. Penyakit ini dirahasiakan oleh penderita atau pembawa sifatnya, menambah lapisan kompleksitas dalam hubungan antara Btari dan Mikhail. Konflik internal dan eksternal yang dialami oleh karakter-karakter ini membuat cerita menjadi lebih mendalam dan menarik untuk diikuti.
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.