Selama ini, saya selalu berkata bahwa saya mencintai Indonesia. Tak pernah ada sedikit pun keraguan. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk menantang rasa cinta terhadap negara ini dengan membuat perbandingan-perbandingan. Saya harus melakukan perjalanan keliling dunia dan melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa situasi di luar sana.
Dan akhirnya, kesempatan itu tiba. Dari April 2014 sampai April 2015, saya melakukan perjalanan ke Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Macau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Francisco.
Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun.
Perjalanan saya membawa misi, mengenalkan dan mengenal kembali Indonesia melalui Mesakke Bangsaku World Tour. Setiap detail dan segala sesuatu yang saya lihat, dengar, dan rasakan di negara-negara tersebut, saya tuliskan dalam buku ini.
Lalu, setelah Anda selesai membacanya, coba tanyakan hal ini pada diri Anda: seperti apakah Indonesia yang selama ini saya kenal?
Sejak mengikuti tulisannya, Nasional.Is.Me, aku jadi menggemari bagaimana cara Pandji bertutur. Maka dari itu, ketika Pandji mengumumkan bahwa dirinya akan segera meluncurkan buku baru, aku menunggu-nunggu dengan sabar, berharap bisa segera membelinya. Walaupun tidak membelinya melalui pre-order, tetapi salah seorang karib bersedia aku titipkan membeli ketika ada Islamic Book Fair di Istora Senayan kapan lalu.
Aku penggemar tulisan Pandji. Dengan harga yang terjangkau, tidak ada salahnya kalau membeli buku ini. Lagipula, kamu juga tidak akan rugi karena energi positif yang disampaikan Pandji melalui buku Menemukan Indonesia akan membuat mood-mu menjadi baik.
Ada semacam kegalauan ingin memberi 3 bintang atau 4 bintang untuk rating buku ini.
Fokus pada buku ini sebetulnya mengenai penulisan pengalaman Pandji Pragiwaksono selama menjalani standup comedy pertamanya keliling 4 benua yakni Australia, Asia, Eropa dan Amerika. ide yg sangat brilian, tapi entah mengapa terasa hambar saat dieksekusi. Cerita pada buku paling banyak berkutat pada destinasi wisata dan penggambaran kota kota yg dikunjungi, alih alih mengenai pengalaman pribadi atau anekdot sehari hari. saya faham, panji ingin juga mempromosikan dvd dokumenter perjalannya agar ditonton, tapi jadinya buku ini terasa kehilangan 'jiwa'nya.
Buku yg dilabel inspirasi atau self improvement ini terasa seperti buku traveling, meskipun ttp ada bagian perenungan diakhir setiap bab yg d beri judul 'Menemukan Indonesia'. Pada bagian inilah seringkali saya dibuat merinding dan terpukau dengan pemikiran" dan sudut pandang Pandji dalam menilai sebuah masalah. banyak sekali wow momen yg saya dapat selama membaca buku ini. saya rasa meskipun sedikit membosankan, buku ini ttp layak mendapat bintang 4.
perjalanan ke Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Macau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Francisco.
Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun.
Cerita Pandji lumayan nyemangatin diri kembali untuk keliling dunia. Cuma agak monoton ulasannya. terlihat tulisannya seperti dikejar deadline. jadi tidak terkembangkan dengan menarik, Kalau agak santai dan observasi mendalam, yakin deh buku ini akan bagus sekali. atau tulisannya seperti ini sengaja biar yang baca beli dvd dokumenter atau download videonya juga? aduh jangan gitu dong bang Pandji. ntar kebiasaan bikin buku yang nanggung loh
Berawal dari candaan iseng setelah eventnya ‘Mesakke Bangsaku National Tour’ selesai dengan sukses di awal 2013, Panji berkeinginan jika suatu hari ia dan timnya dapat berkeliling dunia melalui stand up comedy. Rupanya candaan iseng itu terus menempel di kepala Panji yang memang selalu dipenuhi ide-ide kreatif. Lewat buku ini, kita akan diajak untuk memahami bagaimana perjuangan menggapai impian, indahnya kerjasama, bagaimana beradaptasi dengan budaya dan cuaca negara lain yang berbeda-beda dan juga suka dukanya.
Setelah pontang-panting mencari sponsor untuk tiket dan juga akomodasi menuju negara-negara yang akan ia kunjungi, Panji juga menceritakan tips untuk mempersiapkan perjalanan panjang ke luar negeri. Tim kecil yang mendukung Panji sangatlah solid sampai-sampai Panji merasa jika mereka lebih repot ketimbang dirinya yang hanya diminta fokus tampil prima di depan penonton. Pembaca akan ikut ketika membaca seorang komika besar sekelas Panji Pragiwaksono sangat menghargai tim kecilnya.
Berlanjut ke halaman-halaman berikutnya yang menceritakan Panji dan kawan-kawan tur ke 20 kota, 8 negara, 4 benua selama 365 hari. Detil ceritanya akan memanjakan kita dengan banyak keberagaman asing yang diulas dari sudut pandang khas Panji. Secara garis besar, Panji akan membahas dari segi infrastruktur negara, berlanjut ke potensi wisata yang ada di sebuah tempat, tempat belanja dan kuliner serta transportasinya. Item-item tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan buku traveling lainnya. Yang membuat berbeda adalah bagaimana Panji merenungkan apa yang ia temukan di sebuah tempat asing lalu membandingkannya dengan Indonesia.
Sekilas ini seperti sebuah buku perjalanan atau travelling biasa.Tapi karena ditulis oleh Panji, yang seorang komika ternama, menjadi buku yang berbeda.
Saya melihat banyak pengalaman personal yang dibagikan, alih alih bahkan nggak ada kisah tentang bocoran satu atau dua materinya pas manggung.
Pada banyak bagian di buku ini saya merasa lelah, walau pada bagian lainnya cukup terhibur, apalagi saat Panji mengulik tentang kebiasaan maayarakat setempat dan kuliner kuliner yang patut dikunjungi.
Bagian lain yang menarik, saat Panji berusaha menarik garis lurus dari kisah/ pengalamannya, ke hal yang serupa di dalam negri.
Oh ya, baru di buku ini saya baru tahu beberapa hal seperti, jersey bola di Manchester berasal dari Indonesia, sementara yang di Indonesia berasal dari Vietnam, coffee shop di Amsterdam artinya tempat kita bisa mengkonsumsi ganja tanpa larangan dan kecoak goreng dijual di Beijing.
selalu suka dengan pemikiran Pandji dan analogi-analoginya yang masuk akal. walaupun ada beberapa part yang bikin bosan dan skip beberapa halaman, pada akhir halaman tulisan Pandji di buku ini menginspirasi saya untuk kembali menulis menggunakan bahasa, demi menduniakan Indonesia.
"Berkarya saja sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya, dan fokus pada membangun reputasi. Kelak, saking bagusnya karya tersebut, reputasinya akan mendunia dan dunia akan mengonsumsi walaupun menggunakan bahasa mereka sendiri"
seperti biasa saya selalu menyukai buku-buku tentang perjalanan, dan buku ini sukses membawa saya'berkeliling' dunia hanya dengan duduk diatas kasur. buku ini seolah-olah mengajak saya untuk 'ayo jelajahi dunia dan temukan Indonesia'. bukan jalan-jalan sekedar pamer saja tapi ada sebuah makna perenungan di dalamnya.
Berkarya itu tentang kemauan. kemauan untuk memulai dan berproses! -Pandji Pragiwaksono-
Sebuah buku tentang perjalanan Pandji ke 20 negara untuk World Tour Mesakke Bangsaku yang oke punya, nggak bosen bacanya sampai habis. Kita sebagai pembaca kayak diajak ngelihat dan ngerasakan langsung gitu suasana, atau makanan di negara-negara tsb.
Dan... iya, toilet tuh emang harus ada semprotannya!
Di buku ini Pandji menceritakan Indonesia dari perspektifnya menjalankan Messake Bangsaku World Tour ke berbagai negara di dunia. Hal apa yang bisa diambil dari negara tersebut atau bahkan hal-hal yang di Indonesia lebih baik daripada di luar. Sudut pandangnya bagus dan juga membuka wawasan akan bagaimana seharisnya menjadi prang Indonesia.
Dalam buku yang diterbitkan tahun 2016 ini, Pandji menulis pengalaman selama melangsungkan Mesakke Bangsaku World Tour (MBWT) dari kota-kota yang dikunjungi. Impresi, sejarah, kultur, transportasi, akomodasi dari negara tersebut dibandingkan dengan Indonesia, khususnya Jakarta dalam menyikapi persoalan seperti tata ruang sampai sejarah masa lalu.
Bagi pembaca yang hobinya mirip dengan Pandji (sepakbola, basket, stand-up comedy, action figure), kalian akan menemukan rekomendasi tempat seru di berbagai negara yang langsung dikunjungi oleh Pandji.
Membaca buku keenam Pandji terasa nanggung karena kisah tentang menemukan Indonesia berbagian dengan catatan perjalanan yang disingkat-singkat. Mengingat MBWT sudah memiliki media tersendiri berupa video untuk dinikmati, maka buku ini lebih sesuai disebut sebagai dokumentasi tertulis dari MBWT.
Aku suka buku-buku Bang Pandji. Mulai tahu doi nulis buku itu 2015, Indiepreneur. Selama ini tahunya doi 'kena deh'. Dari buku Indiepreneur, aku nonton stand up-nya dan baca buku-bukunya yang lain. Goks lah pokoknya!
Buku perjalanan ke berbagai kota di berbagai negara dalam rangka tour stand up dunia. Perlu di ingat bahwa mas Pandji merupakan stand up comedian pertama yang tur dunia.
Menemukan Indonesia by Pandji Pragiwaksono is a profound and eye-opening exploration of the diverse and multifaceted identity of Indonesia. With his signature blend of humor, insight, and candid storytelling, Pandji takes readers on a journey across the archipelago, uncovering the rich cultural, social, and political landscapes that define the nation.
What sets this book apart is Pandji’s ability to present complex issues in a relatable and engaging way. He delves into topics such as national unity, diversity, and the challenges faced by the country, all while maintaining a personal touch that makes the content accessible to a broad audience. His reflections are not just about the physical places he visits, but also about the ideas, values, and people that make Indonesia what it is today.
The writing in Menemukan Indonesia is both heartfelt and thought-provoking. Pandji shares his experiences and observations with a sincerity that invites readers to reflect on their own understanding of Indonesia. His passion for the country is evident on every page, and it’s this genuine love for Indonesia that makes the book so compelling. Whether discussing the vibrant street life of Jakarta or the quiet beauty of rural areas, Pandji paints a vivid picture of a nation that is both complex and beautiful.
One of the book’s greatest strengths is its balance between humor and serious reflection. Pandji’s wit and humor provide a lightness that makes the book enjoyable to read, while his deeper insights encourage readers to think critically about the issues facing Indonesia. This combination makes Menemukan Indonesia not just a travelogue, but a meaningful commentary on the nation’s identity and future.
Overall, Menemukan Indonesia is a must-read for anyone interested in understanding the soul of Indonesia. Whether you are a native Indonesian seeking to reconnect with your roots or a foreign reader wanting to learn more about this diverse nation, Pandji Pragiwaksono’s book offers a captivating and enlightening perspective. This is a book that will leave you with a deeper appreciation for Indonesia and a renewed sense of curiosity about the world around you.
buku yang bercerita tentang pengalaman Pandji keliling beberapa belahan dunia untuk tour standupnya ini memang sesuai ekspektasi saya isinya yaitu membandingkan Indonesia dengan negara tujuan. membandingkan di sini tidak untuk mengecilkan Indonesia namun untuk menunjukkan bahwa negara kita masih punya ruang untuk berkembang menjadi lebih baik lagi.
sebenarnya pula buku ini sama dengan jenis-jenis buku perjalanan pada umumnya, namun subbab menemukan Indonesia saya rasa cukup pantas diberi lebih dari 3 bintang.
Buku Pandji pertama yang saya baca dan membuat saya penasaran dengan buku-buku beliau yang lain. Dari buku ini saya jadi tahu bahwa interest-nya Pandji kurang-lebih-banyak yang sama dengan saya pada bidang mencari toko-toko, haha. Toko Sport, Buku, dan Mainan, adalah toko-toko yang pasti saya cari juga saat suatu hari nanti bisa menginjakan kaki di kota-kota yang sama dengan yang dideskripsikan dalam buku ini.
Pandji mengajak kita menemukan Indonesia diberbagai negara dibelahan dunia, dia berkesempatan melakukan perjalanan ke banyak negara dalam kurun waktu 1 tahun.
dalam buku ini pandji memberikan gambaran mengenai keadaan negara yang dia singgahi, mulai dari transportasi, kuliner hingga tempat wisata yang bisa kita kunjungi. serta dia membandingkan kondisi kota tersebut dengan keadaan di Indonesia. sangat seru untuk dinikmati.
90% lebih emang berisi tentang travel writer-nya Pandji. kisah atau konten mesakke bangsaku world tour nggak ada di sini (buku). 10% sisannya lebih tepat evaluasi untuk Indonesia lebih baik ditimbang dari kisah perjalanan MBWT di 20 kota besar dunia di 8 negara. Tapi bagian akhir buku ini emang sedap to know What is Indonesia?!
Tulisan yg bagus dan menginspirasi. Bangsa Indonesia adalah bangsa yg besar dan seharusnya bangga dan lebih percaya diri dgn kekayaan dan kemampuan yg dimilikinya. Ada beberapa bagian yg agak bikin bosan terutama ketika nyeritain kegiatan belanja disana sini.
Buku ini bercerita bagaimana Pandji-seorang komika terkemuka Indonesia-, melakukan World Tour. Ada kisah lucu, semangat dan perspektif pribadinya dalam melihat sebuah fenomena tertentu.
Yap. Yang membuat sebuah tulisan menarik adalah terlibatnya pendapat sang penulis di dalam tulisannya.