“Buku yang ada di tangan Anda ini merupakan hasil rakitan dari rangkaian wawancara awak majalah WARN!NG dengan 27 tokoh, yang oleh buku ini dijuluki “insan-insan kreatif.” Para tokoh itu berasal dari medan kreativitas yang beragam: lima penulis; enam belas musisi; empat sutradara film; dan dua perupa. Pendeknya, mereka yang sehari-hari bergumul dengan kreativitas atau proses penciptaan. Mereka juga berasal dari kota yang berbeda, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan sebagainya. Bahkan, beberapa narasumber berasal dari dari mancanegara: Inggris, Perancis dan Amerika. Pilihan para narasumber itu tak bisa dilepaskan dari karakter WARN!NG yang banyak mengulas soal musik, film, buku dan isu sosial serta politik. Menariknya, tidak semua wawancara itu sesungguhnya direncanakan secara matang, sebagian justru dilakukan secara spontan dengan mencegat narasumber usai sebuah acara. Dengan demikian, pembaca memperoleh spontanitas opini yang jujur, blak-blakan serta tak dinyana-nyana." Dr. Budi Irawanto, Dosen Ilmu Komunikasi UGM & Direktur Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF), dalam pengantar.
Wawancara-wawancara dalam buku ini tidak melulu soal musik, melainkan juga film, buku, bahkan hingga isu sosial dan politik. Ini bisa dilihat dari latar belakang narasumber dan tentunya isi dari wawancara-wawancaranya itu sendiri.
Pada bagian wawancara bersama Joshua Oppenheimer, isu yang diangkat tak hanya soal film secara umum. Melainkan juga menyangkut-pautkannya dengan sejarah politik Indonesia. Begitu pula pada bagian wawancara dengan Puthut EA, substansi yang diangkat tak saja soal tulis-menulis, tapi juga media digital. Oleh karenanya, tidak salah rasanya jika ada yang menyebut jika buku ini memiliki isi yang cukup kaya.
Poin menarik lain juga ada pada sketsa-sketsa dalam buku. Dengan kata lain, buku ini tidak hanya menyuguhkan konten berupa tulisan tapi juga sketsa-sketsa dari beberapa perupa, seperti Oik Wasfuk, Dimas Haryo, dan Fighters Studio.
Menyenangkan rasanya bisa membaca kumpulan wawancara mengenai proses kreatif karya yang dihasilkan oleh penulis, perupa dan musisi yang terdapat di dalam buku ini. Banyak hal yang dapat diambil, terutama motivasi untuk terus produktif dan kreatif dalam berkarya.
Yang saya sayangkan adalah masih banyaknya salah cetak yang terdapat di dalam buku yang saya beli. Wawancara bersama Death Vomit dan Banda Neira yang sudah ada kembali tercetak ulang di tengah-tengah wawancara Auman. Ada banyak juga bagian pertanyaan yang tidak tercetak tebal sehingga susah dibedakan dengan bagian jawaban dari narasumber.
Masih banyak juga ejaan yang kurang tepat dalam diksi seperti 'kreatifitas' dan 'sekedar' di bagian narasi penulis sebelum masuk bagian wawancara. Tapi secara keseluruhan buku ini layak mendapat 4 bintang dan masuk ke dalam daftar buku yang harus kalian baca.
"Selamat menyimak wawancara dalam buku ini yang bertaburan gagasan-gagasan menyentak” Dr. Budi Irawanto, Dosen Ilmu Komunikasi UGM & Direktur Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF)
Jika Yoris Sebastian menganggap dirinya kreatif dan menulis buku degan judul 101 Creative Notes dan orang-orang membacanya agar mengikutinya dan menjadi kreatif, percayalah, itu sia-sia. Saya mendapatkan banyak ide-ide segar dalam Questioning Everything ini, lewat kerja kreatif beberapa tokoh yang dilansir dalam wawancaranya dan ini lebih bermanfaat daripada catatan Yoris, tentu saja.
Mengusik imajinasi pembaca. Begitulah yang aku rasakan ketika membaca buku ini. Pengantar yang paripurna dari dosen ilmu komunikasi UGM disambung pengantar yang mengkritik sejarah, pendidikan dan jurnalisme dari kedua penulis mengawali buku ini. Questioning Everything merupakan kumpulan wawancara pilihan dari WARN!NG Magazine yang bertaburan gagasan menyentak, memprovokasi pikiran dan imajinasi pembaca.
Dua puluh tujuh insan kreatif sebagai narasumber, dari berbagai latar belakang, tidak semuanya aku tahu. Kalau nama-nama seperti Jerinx, Puthut EA atau Seno Gumira tentu tidak asing bagiku. Namun, konsep penulisan berupa tanya-jawab membuat kita sebagai pembaca merasakan kedekatan, seakan berbicara langsung dengan narasumber. Selain itu, spontanitas dari narasumber dalam menjawab pertanyaan, juga terkadang menggelitik terutama ketika berbicara tentang politik, ideologi dan kemanusiaan.
Bagi kamu yang memiliki selera musik punk rock, hardcore, dsb, beberapa musisi / band ternama baik dari dalam maupun luar negeri bisa kamu jumpai di buku ini. Meminjam kalimat Wendi Putranto, para musisi ini memiliki keliaran perspektif, arogansi yang cerdas bahkan pemikiran yang provokatif.
Seru menyimak gagasan-gagasan mereka, walaupun tidak terlalu mengerti ketika membahas tentang musik dan dinamikanya. Pada akhirnya aku sependapat dengan kedua penulis, bahwa dunia boleh tidak baik-baik saja. Tetapi kreativitas haruslah muncul ke permukaan dan berumur panjang.
"Ada optimisme yang coba kami utarakan dari pesimisme yang seyogianya pun patut disadari. Selalu ada yang salah, namun senantiasa ada asa dan cara. Boleh jadi begitulah kreativitas bekerja." -Tomi Wibisono & Soni Triantoro
pintu seni lintas masa. perspektif yang menarik untuk melihat pandangan seniman melalui rekam interogasi penulis-penulis lantang ini. dari seniman untuk seniman, begitu mungkin bacot saya.
buku non fiksi pertama that i actually enjoy (not forcing myself to read it) mungkin karna topik2nya gw suka dan formatnya juga refreshing for a non fiction book tp some parts (yg fokus bahas musik punk rock dkk) gw agak ngung soalnya not my field dan kayak gak dpt serunya dmn karna kdg ada yg cm di surfaces aja