Jump to ratings and reviews
Rate this book

Garnish

Rate this book
Kelindan takdir membawa dua manusia yang saling tak mengenal ini dalam perjalanan hidup penuh warna.

Anin mengabaikan larangan sang ayah yang tak suka melihatnya melukis, bertekad mewarnai kanvas hidupnya.

Buni ingin membuktikan pada mamanya bahwa memasak adalah jalan hidupnya, bahwa dia punya cara sendiri untuk menjadi berarti.
Mereka bahu-membahu untuk mendatangi mimpi-mimpi mereka.

Dan hal itu berusaha mereka wujudkan melalui Garnish. Sebuah kafe sekaligus galeri. Tempat yang menggabungkan dua hal yang menjadi napas hidup kedua orang ini. Melukis dan memasak.

224 pages, Mass Market Paperback

First published March 17, 2016

Loading...
Loading...

About the author

Mashdar Zainal

23 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (20%)
4 stars
4 (16%)
3 stars
13 (52%)
2 stars
3 (12%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books198 followers
March 30, 2016
"Sepelik apa pun manusia berupaya, sepelik apa pun manusa memperjuangkan, ia tak pernah bisa menentukan akhir dari ceritanya sendiri. Wewenang manusia berada pada proses, bukan hasil." (hlm 184)

Novel ini dibuka dengan moment unyu-unyu khas sinetron tapi dibangun dengan alur yang realitis, mengingatkan kita akan kehidupan di masa muda yang terbalut semangat idealisme namun sering kali harus membentur pada kerasnya kenyataan. Seperti kehidupan, Garnish akan mengajak pembaca untuk meraih impian sambil berupaya mencoba berdamai dengan realitas—karena jarang sekali kedua hal ini bisa selalu seiring sejalan. Garnish berkisah tentang dua anak muda, Buni dan Anin, dalam upaya mereka mewujudkan passion yang sayangnya ditentang oleh orang tua masing-masing. Buni, sang chef andal yang jago memasak namun selalu ditentang oleh mamanya yang ingin putra semata wayangnya jadi ekonom. Juga Anin, si pelukis muda berbakat yang dilarang melukis oleh sang ayah yang berpendapat melukis adalah kegiatan yang kotor dan tak berguna.

Blogtour dan giveaway novel 'Garnish' pekan pertama bisa diikuti di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20.... Ada satu novel gratis buat kamu yang bisa bikin menu unik macam bakso tusuk kesetiaan dan bebek panggang ingat mantan.

Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
April 2, 2016
Laiknya Katniss Everdeen dalam film The Hunger Games, kedua tokoh tersebut –Anin dan Buni– digambarkan sebagai simbol “pendobrak”, dalam hal ini, stigma dan pikiran-pikiran dangkal yang membelenggu. Mereka berdua bisa membuktikan bahwa passion mereka tidak seburuk yang orang lain pikirkan.

Secara keseluruhan, novel yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama ini menarik. Narasinya sederhana, tapi enak dibaca.

Ulasan lebih lengkap bisa dibaca di http://aredjournal.blogspot.com/2016/...
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,679 reviews78 followers
April 4, 2016
Akhir-akhir ini aku menyukai buku yang bisa kubaca dan kuselesaikan dengan cepat (tanpa kehilangan maknanya, tentu saja). Buku-buku dengan kisah memikat, pesan yang kuat. Buku yang sanggup mengikatku sejak pertama kali aku membaca halaman pertama. Yang kemudian bisa membuatku tak bisa berhenti membaca hingga kata 'tamat'.

Buku-buku seperti itu membuatku pede untuk keluar dari sindrom tsundoku. Buku-buku seperti itu juga membuatku yakin, bahwa konsentrasiku sebenarnya baik-baik saja. Dan akhirnya aku pun terpacu untuk membaca dan belajar dari lebih banyak buku... lagi dan lagi...

Dan novel ini adalah salah satu buku yang mengembalikan kepercayaan diriku sebagai pembaca di awal bulan April. Dibeli tanggal 4 April, dibaca mulai tanggal 10 (meskipun ada jeda pertemuan keluarga), aku terus mencoba menyelesaikannya sampai begadang dan... selesai di awal hari tanggal 11. Selesai dalam waktu satu hari lebih sedikit lah. Aku senang sekali. Selama membaca itu, aku mengupdate kutipan-kutipan menarik dari novel ke status FB untuk menyimpan bahan review. Biar makin semangat.

Aniwei sedikit intermezzo, sebagai sesama anggota FLP Malang, novel ini sudah membuatku penasaran sejak lama. Jauh sebelum akhirnya buku ini diterbitkan De Teens Diva (thanks, Diva!). Temanku, Maulida, yang sudah membaca draftnya sekilas dengan heboh menceritakan soal adegan nyentrik-unik di novel ini.

"Ada adegan cewek menumpahkan cat ke seluruh tubuhnya. Terus ada adegan cowok melumuri badannya dengan saus dan kecap," promonya penuh penghayatan di sela pertemuan diskusi ringan FLP Malang yang saat itu diadakan di rumah penulis novel ini.

Dan karena penasaran dengan dua adegan itulah aku menanti novel ini sampai akhirnya terbit seperti sekarang. Apalagi salah satu tokohnya yaitu Anin, mengalami konflik karena dilarang melukis oleh sang ayah. Karena aku suka menggambar (walau nggak di kanvas), isu-isu semacam ini jelas menarik perhatianku.

***

Buni dan Anin adalah korban "kekerasan" orangtua. Kekerasan di sini nggak soal fisik, tapi lebih ke mental. Adalah wajar jika anak-anak berharap orangtua bersedia memberikan dukungan terbesar bagi mimpi-mimpinya. Restu orangtua adalah restu Tuhan, dukungan orangtua bagi anak adalah energi besar tiada tara. Namun, dari sudut pandang orangtua, anak-anak akan selalu menjadi anak-anak, tak peduli setua apa pun mereka. Tampaknya sudah lazim jika orangtua menyangsikan jalan hidup menjadi seniman. Meskipun, sejatinya mereka tak bisa hidup tanpa seni, dan itu sering tidak bisa mereka sadari. Earth without art is only an "Eh" kan.

Sayang, bahkan di kehidupan nyata pun, seringkali penolakan orangtua terhadap jalan yang ingin ditempuh anak-anaknya itu nggak masuk akal. Dalam novel ini fenomena tersebut ditunjukkan ketika Mama Buni melarang anak laki-lakinya memasak karena itu adalah pekerjaan perempuan. Padahal, chef malah kebanyakan laki-laki (seksis banget??? Tapi yah... aku pernah tahu ada seorang ibu yang melarang anak-anaknya ke dapur dengan alasan yang kurang lebih sama). Juga ayah Anin yang melarang gadis itu melukis dengan alasan kegiatan itu hanya mengotori ruangan.

Dan kebetulan sekali, setelah membaca buku ini, aku melanjutkan baca Veronika-nya Paulo Coelho.
https://www.goodreads.com/book/show/3.... Lha kok konflik beberapa tokohnya mirip cerita Buni dan Anin. Tokoh Veronika dipatahkan mimpinya saat ia begitu menggebu menjadi pianis. Tokoh Eduard langsung stress dan sakit jiwa setelah dilarang menjadi pelukis. Bedanya, Veronika dan Eduard kurang gigih memperjuangkan mimpinya seperti Buni dan Anin. Entah, mungkin karena situasi negara Veronika dan Eduard saat itu sedang goyah pasca pecahnya Yugoslavia.

Beruntung Buni dan Anin tidak tinggal di negara yang habis perang fisik. Dan... beruntung di sini Buni dan Anin adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan kuat terhadap Tuhan, mungkin itu yang jadi sumber kekuatan mereka sehingga tak langsung jadi sinting seperti Veronika dan Eduard (Veronika oleh Coelho digambarkan tidak percaya Tuhan, sedangkan Eduard percaya Tuhan tapi... well... dia mengalami pencarian yang rumit sampai menjurus ke arah okultisme segala).

Novel ini memang bukan novel religius. Namun cara berpikir dan bertindak tokoh pada beberapa adegan, mencerminkan religiusitas. Untungnya tak sampai menggurui karena digambarkan melalui adegan dan narasi pemikiran yang pas pada tempatnya. Misalnya ketika kafe Garnish Buni dan Anin sepi, dan mereka hanya kedatangan tamu seorang nenek pengemis. Aku suka karena pengarang bisa dengan lihai menyisipkan nilai-nilai kebaikan dalam novel genre populer ini.

***

Jalan berkarya adalah jalan yang terjal. Jalan itu pun ditempuh oleh Buni dan Anin, dengan kabur dari rumah, lalu membuat kafe wirausaha bersama. Namun, di sini saya merasa kalau jalan Buni dan Anin terlalu mudah. Sungguh kebetulan Buni bisa bertemu Anin yang kaya raya dan punya cukup modal untuk membuat kafe. Nggak bisa dibayangkan seandainya Anin dan Buni ini sama-sama anak rakyat jelata yang masih harus mikir cuma buat makan. Ah... bermimpi memang wajib punya duit kok.

Sebenarnya ketika kedua tokoh ini digambarkan kabur dari rumah dengan badan berlumuran cat (bagi Anin) dan kecap (bagi Buni), saya sudah deg-degan dan sangat khawatir. Akan bagaimana nasib kedua orang ini, kabur kok nggak persiapan, nggak bawa baju dan uang. Kalau ketemu orang jahat gimana?



Meski konflik Anin dan ayahnya digambarkan dipermudah, aku suka dengan cara tokoh Bli Sutha saat berusaha meredam amarah Anin. Ia meminta Anin dan Buni memikirkan sudut pandang orangtua masing-masing

"...Kalian berdua masih terlalu muda, mungkin kalian akan menyadarinya setelah usia kalian sama dengan usia orang tua kalian..."(halaman 46-47)

Kata-kata Bli Sutha ini begitu mengena bagiku. Karena saat membaca novel ini, aku pun sering memikirkan hal itu. Terutama setiap berseberangan dengan orangtua, hanya untuk beberapa masalah "sepele". Dalam hati aku pun tak ingin dibantah anakku nanti. Jadi mulai sekarang aku perlu berlatih memperhalus cara komunikasi plus mencoba memahami sudut pandang orangtua. Aku berharap di dunia ini, ada banyak orang seperti Bli Sutha, yang bisa dengan bijak menengahi kesalahpahaman antara orangtua dan anak.

Aku juga suka bagaimana Anin menghadapi ayahnya pascakabur. Begitu dewasa. Tidak dibuat-buat dan jadi drama. Ia bisa melakukan negosiasi dengan sang ayah, dengan cara terhormat. Ya... Anin adalah salah satu contoh karakter perempuan yang kuat dan berkarakter. Menjadi anak orang kaya tak membuatnya jadi manja. Justru ia bisa menggunakan fasilitas yang ada dengan maksimal.

Uniknya tokoh Anin di sini digambarkan justru lebih tegas daripada Buni yang sering terlalu melankolis. Namun, saat Anin stuck ganti Buni yang menyemangati gadis ini. Pengembangan karakter yang sangat menarik. Yang paling bikin aku bersyukur adalah... Anin dan Buni sangat menjaga batas interaksi mereka berdua sebagai dua makhluk beda jenis kelamin. Kehangatan hubungan keduanya tetap terasa meski novel ini tak diwarnai adegan panas. Satu kecupan saja tidak. Good.

***

Pada akhirnya Buni dan Anin memutuskan bekerjasama dengan membuka kafe Garnish. Kafe plus galeri lukis yang pada perkembangannya kemudian menjadi kafe komunitas tempat berbagai kelompok menyelenggarakan acara dan diskusi seni. Tipe kafe yang jadi favoritku. Dan dari dulu aku kagum setiap ada pengarang yang menawarkan solusi bagi masalah para tokoh utamanya melalui jalan wirausaha. Wow banget gitu.

Namun, mungkin karena semua sudah disokong Anin yang holang kaya, jadi jatuh-bangunnya belum terlalu terasa. Setahuku, meski kafe atau warung itu uenak, bukan jaminan laris juga. Buktinya salah satu Chef yang jadi juri di Master Chef konon pernah menutup restorannya karena bangkrut. Mungkin tingkat kedetailan yang kurang ini karena keterbatasan halaman. Eman yo. Tapi meski begitu, karena dirangkai oleh tangan penulis berpengalaman, kemudahan-kemudahan itu masih bisa diselamatkan oleh rangkaian kutipan penuh kata mutiara yang begitu cocok.

Kutipan-kutipan ini membuatku jadi terus merenungi soal kehidupan, impian, dan rasa syukur bagi setiap organ yang kumiliki. Dan karena kisahnya ringan, buku ini sungguh cocok dibuat untuk perenungan di akhir minggu. Sebelum hari Seninnya kembali ke rutinitas sehari-hari lagi. Berikut kutipan-kutipan yang begitu berkesan di hatiku sepanjang perjalananku mencicip Garnish.

***

"Tak banyak orang bisa begitu dekat satu sama lain, dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi aku pernah membaca buku, bahwa beberapa orang memiliki semacam telepati, pertalian hati dengan hati. Mereka sudah merasakannya jauh sebelum mereka bertemu satu sama lain, seperti sinyal yang nyala mati. Jadi, ketika pertama kali mereka bertemu, mereka langsung cocok karena sebelumnya sinyal-sinyal misterius itu sudah ada pada mereka. Mungkin itu yang terjadi pada kita." (Buni, halaman 86.)

Saat membaca kutipan ini, aku sedang memikirkan pertemuanku dengan orang-orang yang ada di sekitarku. Seringkali kedekatanku dengan beberapa orang tertentu sungguh tak terduga. Meskipun orang-orang itu datang dan pergi, tetap saja kesan yang ditinggalkan mereka kadang begitu membekas. Dan baru sekarang aku semakin menyadari, setiap kebaikan yang kita terima di dunia ini, sekecil apa pun itu, semua adalah anugerah. Aku bersyukur telah 'berjodoh' dengan orang-orang itu. Semoga mereka pun bersyukur telah 'berjodoh' denganku. Eits, jangan keburu bercie-cie dulu. Simak kutipan di bawah ini.

"Jodoh kan artinya luas. Bisa saja kalian berjodoh menjadi teman dekat, menjadi rekan bisnis, atau yang lain." (Bibi Manda. Garnish halaman 45) I love you, Aunt Manda!

***

Hidup tak ubahnya sebuah perjalanan, ketika seseorang terlahir dari rahim ibunya, ia seperti tengah pergi dari rumah untuk sebuah perjalanan yang panjang. Seseorang akan terus berjalan untuk sampai di tempat yang ia tuju: mimpi-mimpi. Ketika satu mimpi telah tergapai, ia akan mendatangi mimpi yang lain, begitu seterusnya, hingga tanpa sadar ia semakin dekat menuju rumah asal: rahim bumi. (Halaman 106)

Saat membaca kutipan ini, aku sedang merenungkan kematian. Ya... sekeras apa pun kita berusaha, kematian adalah akhirnya. Namun, usaha keras selama di dunia itu yang akan menentukan bagaimana kita mati dan apa yang akan kita hadapi setelah mati nanti. Ah...

***

Demikianlah benang merah yang kudapatkan perihal pertemuanku dengan Buni. Aku adalah rencana Tuhan dalam perjalanannya, dan ia adalah rencana Tuhan dalam perjalananku.
(Anin, halaman 107)


Agak malu ngomongnya, tapi aku berharap ada orang yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mengatakan narasi di atas kepadaku. Huahahahaha... Well, sebelum bercie-cie, tengok lagi kutipan dari Bi Manda di atas, ya! *lempar tutup panci*

***

"Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah perjuangan, persaingan. Siapa punya tidak memegang teguh komitmen dan prinsip, maka ia akan kalah. Semua yang ia inginkan hanya sebatas angan belaka. Aku tak mau seperti itu." (Halaman 214)

Waktu membaca kutipan ini, aku memikirkan impian-impianku yang sudah di ujung tanduk, dibekap rutinitas, dan diberangus rasa takut dan keraguan, serta terperangkap dalam zona kompromi. Termasuk impianku menjadi penulis. Aku sedih saat membaca kutipan ini. Rasanya begitu tertohok. Hingga saat ini aku terus berpikir kalau aku belum berusaha terlalu keras. Aku tak mau terjebak pada angan-angan kosong. Ya Tuhan, aku ingin jadi penulis. Aku pun ingin menyelesaikan kisah-kisahku hingga tamat. Aku pun ingin menyelesaikan visualisasi mimpiku dengan pensil warna. Yah... lagi-lagi disindir novel. HIKS.

***

Seperti juga lukisan dan masakan, yang kau butuhkan hanya menyiapkan peralatan dan bahan-bahan terbaik, kemudian berusaha melukis dan memasak dengan cara terbaik... (Anin, hal 218)

Kutipan ini bagiku masih ada kaitannya dengan kutipan di atasnya lagi. Aku belum menyiapkan peralatan dan bahan terbaik, serta belum mengusahakan cara terbaik dalam meraih mimpi-mimpiku...

God, mercy

***

Latar belakang Mashdar Zainal sebagai penulis yang tulisannya sering dimuat dalam rubrik sastra koran Minggu baik lokal dan nasional sangat mempengaruhi gaya penulisan novel ini. Di satu sisi, penulisannya memang sangat rapi dan terstruktur. Di sisi lain, dialog-dialognya jadi terkesan terlalu baku. Memangnya ada orang yang ngomong "kau" di percakapan verbal sehari-hari? *lucunya, setelah aku mikir begitu, waktu chatting sama rekan kerja, aku menggunakan kata "kau" XD Huahhaha...

Lalu Jakarta sebagai latar tempat kurang begitu tergambar di sini. Ada baiknya juga kalau Mashdar bisa memperkaya isi novelnya dengan serba-serbi dunia lukisan. Bisa dimulai dari aliran lukisan yang ditekuni Anin dan Bli Sutha. Pasti akan lebih menarik kalau background karakternya diperdalam (yah... semoga di kesempatan penerbitan berikutnya bisa dapat jatah halaman buku yang lebih tebal yak!)

Ngomong-ngomong soal dunia melukis, novel ini memunculkan cameo seorang pelukis dari kotaku yang melukis dengan kaki! Hebringnya lagi pelukis itu adalah pelukis yang sama dengan yang kulihat di pameran lukisan di salah satu mall. Aku menonton shownya tepat setelah aku selesai nonton Star Wars VII bersama ayahku Desember lalu. Orang itu bernama Pak Sadikin Pard (Tapi namanya tak disebutkan di novel ini, aku tahu dari konfirmasi ke penulisnya). Waktu nyoba search kilat, ternyata pelukis yang melukis dengan kaki itu ada asosiasinya sendiri. Wow...

So... kalau Mashdar mau nulis soal dunia pelukis lagi... wah, aku sangat menanti lah yaw XD

***

Ada perubahan yang terjadi pada diriku setelah membaca novel ini. Aku jadi lebih mensyukuri setiap indra dan organku yang masih berfungsi. Menjelang klimaks, kedetailan penulis dalam menggambarkan rasa sakit pada tangan Anin membuatku tak henti-hentinya bergidik dan mengucapkan istighfar. Deskripsinya begitu rinci dan terasa nyata. Hingga aku ikutan tak berdaya saat membayangkan apa jadinya jika nikmat tangan yang masih bisa berfungsi ini dicabut. Naudzubillah...

Padahal, aku mengetik dengan tangan, menerjemahkan dengan tangan, memegangi buku-buku yang kubaca dengan tangan, bermain kibor, menggambar, bisa dibilang semua hobi dan impianku membutuhkan tangan sebagai salah satu fasilitas utama.

Mendadak mataku terasa perih dan basah, aku tak pernah menyangka bahwa kebahagiaan sesederhana ini (halaman 219)
Profile Image for Aldila Sakinah Putri.
83 reviews
February 20, 2022
"Bebas berarti lepas tanpa kendali sedangkan merdeka adalah hidup tanpa merasa terbebani." (Hal. 59)⁣
⁣
Garnish menceritakan tentang proses Anin dan Buni meraih mimpi-mimpinya. Anin pandai melukis, namun ditentang oleh Ayahnya. Sedangkan Buni pandai memasak, tetapi ditentang oleh Mamanya karena dia laki-laki. Katanya laki-laki tidak boleh memasak, urusan dapur adalah urusan perempuan. Dan perempuan tidak boleh melukis, sebab menyebabkan kotor di mana-mana.⁣
⁣
Kemudian Anin dan Buni dipertemukan dengan cara istimewa, dan mereka berdua akhirnya sepakat untuk saling membantu mewujudkan cita-cita masing-masing. Garnish adalah usaha baru mereka. Akankah Anin dan Buni dapat menunjukkan pada orang tuanya bahwa hobi mereka itu tidak sia-sia?⁣
⁣
Novel remaja ini berisi 30 bab dengan sudut pandang antara Anin dan Buni bergantian. Sehingga pembaca dapat merasakan bagaimana menjadi Anin, bagaimana menjadi Buni, berproses mewujudkan mimpi-mimpi mereka berdua.⁣
⁣
Buku ini cocok sebagai motivasi remaja yang tengah kehilangan identitas diri. Tidak ada adegan romantis dalam buku ini, sebab penulis berfokus pada perjuangan Anin dan Buni mewujudkan cita-cita.⁣
⁣
"Sejauh apa pun manusia berupaya, sepelik apa pun manusia memperjuangkan, ia tak pernah bisa menentukan akhir dari ceritanya sendiri. Wewenang manusia berada pada wilayah proses, bukan hasil." (Hal 184)⁣
⁣
Profile Image for Nad.
113 reviews2 followers
July 7, 2022
Memberikan banyak motivasi lewat cerita sederhana. Mematahkan stereotype yang sudah lama hidup di tengah kita, kayak laki-laki enggak perlu repot-repot di dapur karena bukan tempatnya, dan perempuan enggak perlu lah kotor-kotoran sama cat air dan melukis, dua stereotype itu dibantah sama Buni dan Anin di buku ini.

Lewat sudut pandang Anin dan Buni yang bergantian, kita dibawa mengarungi kisah mereka berjuang untuk meraih mimpi dan mematahkan stereotype-stereotype itu.

Ceritanya sederhana sebenernya, bahasa yang digunakan juga cukup luwes. Enak bacanya, cuma aku masih ngerasa bosen pas baca. Tapi tetep, tiap babnya punya arti dan motivasi sendiri-sendiri.
Profile Image for Koriyah Soe HS.
36 reviews6 followers
March 20, 2018
Sisi lain seorang penulis sastra muncul di sela sela novel pop remaja. Saya suka. Tidak terlalu memaksakan kehendak untuk menggunakan bahasa berbunga bunga, pas buat remaja.

Saya pengajar, membaca novel ini cukup terkoneksi, meski ceritanya relatif klise-konflik yang ala kadarnya, tapi cara penulisnya membungkus kesederhanaan ini pas dan kena.

Profile Image for grace.
171 reviews8 followers
July 4, 2022
⭐️: 4/5

butuh motivasi lewat cerita? wajib banget baca buku ini. aku enggak tahu kenapa buku ini kurang populer, padahal isinya bagus banget. tentang dua abg tua yang jatuh-bangun berusaha meraih mimpi mereka. kisah cintanya juga anti mainstream. cowoknya jago masak, ceweknya jago lukis. banyak kalimat yang menampar banget. so, jangan ragu buat baca ini!!🫶🏻
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
April 10, 2016
Actually 2.5.

BUNI: Terpaksa jadi sarjana ekonomi demi menuruti keinginan sang Mama. Passion sebenarnya: memasak. Kabur dari rumah dengan tubuh terlumuri saus dan kecap.

ANIN: Tidak diperbolehkan ayahnya melukis. Kabur dari rumah dengan tubuh terlumuri cat air.

Setelah kabur dari rumah masing-masing, keduanya dipertemukan di sebuah taman kota. Awalnya, mereka memandang dengan geli satu sama lain pada penampilan masing-masing. Lantas, karena merasa senasib dan dipertemukan oleh kebetulan, mereka dengan cepat berteman akrab. Anin mengajak Buni untuk menginap di sanggar lukis milik Bli Sutha. Keesokan harinya, Anin dijemput ayahnya, bersama dua bodyguard, Mimi dan suaminya. Sesuai nasihat Bli Sutha, Anin bicara dari hati ke hati dengan Ayah. Tak dinyana, dengan cukup mudah Ayah menerima kegemaran Anin untuk melukis. Ayah memberi Anin kemerdekaan untuk melukis.

“’Kita ini manusia, kita selalu punya aturan, yang bebas hanya binatang. [...] bahwa bebas bukan berarti lepas...’” (hlm. 51)


“[...] bebas dan merdeka itu adalah dua hal yang berbeda. Bebas berarti lepas tanpa kendali, sedangkan merdeka adalah hidup tanpa merasa terbebani.” (hlm. 59)


Tak seberuntung itu nasib Buni. Ia memutuskan untuk pulang juga ke rumah, tapi Mama tetap bergeming, kukuh dengan larangannya. Maka, Buni memutuskan untuk kabur lagi dari rumah, kembali ke sanggar Bli Sutha. Di sana, kedua orang itu melakukan brainstorming yang dimulai oleh cetusan ide Anin untuk mendirikan sebuah kafe yang dikombinasikan dengan galeri lukisan.

Awalnya, kafe yang mereka namai “Garnish Cafe and Gallery” itu cukup menjanjikan. Makin lama makin banyak pelanggan berdatangan. Seringkali ada acara-acara diadakan di Garnish. Namun, hati Buni masih perih lantaran mama dan papanya sama sekali tidak pernah mengunjunginya, seolah tak peduli bahwa sekarang anaknya telah membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi chef sungguhan. Sekalinya Papa Buni datang ke kafe, berita dukalah yang ia bawa: Mama mengalami kesulitan bicara dan kelumpuhan pada separuh bagian tubuhnya.

Dalam proses penyembuhan itulah, Mama akhirnya mau bicara dari hati ke hati dengan Buni dan menumpahkan segalanya. Setelah mereka berdamai, keadaan tampak terkendali. Hmm, tapi jangan bosan dulu, penulis tak akan membiarkan ceritanya berakhir sesederhana itu. Selama Buni menunggui mamanya, kafe dijaga Anin, dibantu Mimi dan beberapa karyawan. Karena sang chef menghilang, maka beberapa menu ditiadakan. Hal ini menyebabkan jumlah pengunjung kafe berkurang dari hari ke hari.

Lalu, penulis membuat Anin tiba-tiba tertimpa sebuah kecelakaan, yang membuat tangan kanannya cedera, padahal seminggu lagi akan berlangsung Festival Sketsa Seribu Wajah Cinta. Sebelumnya, Anin telah berjanji untuk membikin sketsa wajah Buni dalam festival itu. Ia bersikeras menanggung rasa sakit untuk terus berlatih melukis. Namun, apa daya, tangan kanan Anin tak bisa menahan beban terlalu lama. Saat itu, dengan terpaksa Garnish ditelantarkan.

Apakah Anin tetap mengikuti festival itu dengan tangan kanan cedera? Dan, bagaimana nasib Garnish Cafe and Gallery setelah ditelantarkan kedua pendirinya?

Selanjutnya bisa dibaca di sini.
Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
April 11, 2016
Review :
Hidupku adalah kertas kanvasku. Hanya aku yang berhak mewarnainya sesukaku. (hal. 26)

Bingung mau membuat ringkasan cerita buku ini seperti apa, karena blurb di sampul belakang buku ini sudah menceritakan garis besar ceritanya.

Tapi menceritakannya kembali, tidak apa kali, ya.

Anin dan Buni bertemu pertama kali di taman kota dengan penampilan yang membuat mereka ditatap dengan aneh. Anin dengan cat warna-warni di sekujur tubuhnya seperti lukisan abstrak dan Buni dengan saos dan kecap hingga ia menjadi pasta basi.

Keduanya seperti itu karena mendapat pertentangan dari orangtua masing-masing. Tapi, ternyata ayah Anin lebih lunak dan mereka berhasil berbicara dari hati ke hati. Lalu bagaimana nasib Buni dengan mamanya?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Buku ini tentang mimpi, pencarian jati diri dan pembuktian. Buni yang lebih suka memasak tidak mendapat restu dari ibunda karena pikiran kolot sang ibu memutuskan untuk kabur dari rumah. Tidak hanya sekali dua kali, tapi sudah sering ia pergi begitu saja dari rumah. Hingga suatu saat, ia bertekad tak akan kembali sampai ia berhasil sukses dengan caranya sendiri, memasak atau lebih dikenal dengan menjadi chef.

Buku ini sangat quotable, banyak kutipan-kutipan tentang kehidupan dan juga mimpi.
“Ayah sudah memberimu kepercayaan, artinya kau harus bisa membuktikan pada Ayah bahwa bebas bukan berarti lepas, bahwa kau sudah cukup dewasa untuk memikirkan apa-apa yang terbaik buat dirimu sendiri.” (hal. 51)

Aku sangat menikmati membaca buku ini, walaupun di bagian awal aku agak tersendat-sendat karena alurnya terlalu lambat menurutku, yah, sedikit membosankan. Tapi, ketika mulai ke bagian tengahnya aku mulai bisa menikmatinya hingga akhir.

Ada beberapa kesalahan dalam penulisan, cukup banyak ya tapi tidak terlalu mengangguku karena aku bisa menebak apa yang salah itu.

Covernya manis, tapi di covernya lebih menekankan pada passion Buni daripada Anin. Dan, memang sebagian besar ceritanya berfokus pada masak-memasak. Aku sangat menikmati bagian dimana Anin dan Buni bekerja sama membangun mimpi mereka. Suka sekali! Apalagi di acara masak-memasaknya.

Buat kalian yang lagi berjuang mencapai mimpi, wajib banget baca buku ini. Kalian akan menemukan suntikan semangat baru di buku ini.
Profile Image for Wardah.
966 reviews175 followers
April 3, 2016
Buni. Sarjana ekonomi yang lebih senang berada di dapur. Dia bahkan bercita-cita menjadi chef profesional. Sayang, menurut sang mama dapur adalah bukan wilayah yang cocok buat seorang laki-laki seperti Buni. Merasa sangat tidak dihargai sang mama, Buni memilih kabur dan mengejar mimpinya. Buni percaya dia bisa menjadi anak yang berguna dan sukses dengan jalannya sendiri.

Anin. Sang putri dari keluarga kaya raya yang terpenjara dalam rumahnya sendiri. Sejak melihat pameran lukisan bersama mendiang ibunya, Anin ingin menciptakan dunia lewat lukisan-lukisannya. Namun, menurut sang ayah melukis adalah pekerjaan kotor yang tak layak dilakukan anak gadisnya. Anin yang dilarang melukis dan semakin dikekang memutuskan minggat dari istananya. Dia akan menunjukkan pada sang ayah bahwa dia bukan seorang tawanan.

Keduanya bertemu di taman kota. Buni dengan kekecewaan pada sang mama yang ditunjukkan kecap dan saus melumur di tubuhnya dan Anin dengan kemarahan pada sang ayah yang berbentuk coreng cat air di dirinya. Kemiripan cerita dan bentuk mereka yang tidak karuan membawa keduanya terjalin pada takdir baru. Takdir yang mereka usahakan bersama.

"Aku berencana menyewa sebuah tempat yang representatif untuk membuka sebuah kedai, atau kafe, sekaligus galeri, kecil-kecilan." (h. 101-102)


Garnish dituliskan bergantian dari sudut pandang Buni dan Anin, yang sayangnya sampai novel ini habis pun saya nggak tahu nama lengkap mereka siapa. Keduanya menggunakan "aku" untuk menceritakan kisahnya. Keduanya juga menggunakan jenis huruf yang sama sehingga pembaca tidak akan bisa tahu sekali lihat siapa yang tengah bercerita.

Meski demikian, kisah yang ditulis Mashdar Zainal dalam Garnish ini cocok banget dibaca mereka-mereka yang tengah berusaha menggapai mimpi. Atau mereka-mereka yang mulai putus asa. Meskipun fakta Anin orang kaya sehingga tidak sulit bagi mereka memulai bisnis kafe, tapi perjalanan Buni dan Anin yang ditulis di Garnish ini bakal mengena.

Review lengkap bisa dibaca di sini.
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
May 21, 2016
Bisa mewujudkan mimpi adalah harapan semua orang. Namun bagaimana jika mimpi itu ditentang oleh orangtua sendiri? Padahal kebahagiaan yang paling diinginkan anak adalah mimpi yang dingin dicapai itu akan didukung oleh orangtuanya.

Novel ini mengisahkan tentang Buni yang ingin menjadi koki dan Anin yang selalu ingin menjadi pelukis. Mereka sangat ingin mewujudkan mimpi itu. Sayangnya, impian itu malah tidak mendapat dukungan dari keluarga yang notabene adalah orang terdekat mereka yang seharusnya memahami keinginan anak.

Sebuah novel yang dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan menyenangkan. Juga pemilihan ending yang tidak terduga. Selain membahas tentang perjuangan untuk meraih mimpi, kisah ini juga dilengkapi dengan perasaan suka dan sayang dari masing-masing tokoh yang diramu dengan api. Jadi ketika membaca pasti tidak akan bosan. Beberapa kesalahan tulis tidak mengurangi keasyikan dalam membaca.

http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Profile Image for Arintya Widodo.
60 reviews31 followers
April 19, 2016
Buni dan Anin, dua orang selalu salah di mata Mama dan Ayah mereka. Buni tampak salah karena ia merupakan lulusan ekonomi yang selalu berkutat dengan dapur. Sedangkan Anin dan cat lukis selalu tampak salah di mata Sang Ayah. Anin, si anak yang diasuh secara eksklusif dan overprotektif.

Keduanya mencapai titik dimana mereka harus menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Bukan lagi pengecut yang selalu dikurung dalam keinginan orangtua. Akhirnya, Buni dan Anin memilih kabur.

Btw, siapa sih yang ngusulin nama Buni sebagai tokoh utama?

KAN LUCU BANGET!

Review lengkapnya silakan berkunjung ke https://arintyawidodo.wordpress.com/2...

Terima kasih
Displaying 1 - 14 of 14 reviews