Perjalanan kita, ujungnya kelak adalah sebuah pengadilan. Maka mereka yang cerdas dalam langkah-langkahnya akan mempersedikit beban dan memperbanyak bekal, serta mengurangi para penggugat dan menambah pembela hingga berlipat. Adapun seisi bumi, sebagaimana tangan dan kaki, akan bersaksi nanti ketika mulut dikunci. Bepergian di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah; diperintahkan-Nya pada kita agar ruh terisi niat-niat bakti, akal menginsyafi besarnya karunia, dan seluruh jasad tersengat semangat untuk menebar manfaat.
Sungguh, Nabi melarang kita memayahkan diri melaksanakan rihlah, kecuali tuk menuju Masjidil Haram, Masjid beliau di Madinah nan bercahaya, serta Masjidil Aqsha di Palestina. Yang terakhir ini bahkan difatwakan para íulama untuk ditunda sementara. Sebab, kiblat pertama shalat kaum Muslimin itu sedang dijajah oleh Zionis. Namun, tentang safar untuk berilmu, berdakwah, dan jihad fi sabilillah, jelas bahwa ia pengecualian yang indah.
Akhirnya, selamat berihlah dalam dakwah. Selamat melawat berburu hikmat. Sebab kita semua adalah musafir.
Salim A. Fillah adalah seorang penulis buku Islami dari Yogyakarta, Indonesia. Hingga 2014, ia telah menulis beberapa buku, 'Agar Bidadari Cemburu Padamu' (2004), 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan' (2004), 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim' (2007), 'Jalan Cinta Para Pejuang' (2008), 'Gue Never Die' (2006), 'Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta' (2005) dan 'Dalam Dekapan Ukhuwah' (2010), Menyimak Kicau Merajut Makna (2012), dan Lapis-Lapis Keberkahan (2014). Buku-buku ini diterbitkan oleh Pro U Media, dan telah menjadi best-seller. Karya terbarunya, Lapis-Lapis Keberkahan, harus masuk cetak ulang hanya 3 hari sesudah diluncurkan, 13 Juli 2014.
Beberapa waktu lalu saya kepo-in instagram penulis ini. Tertarik karena kesamaan interest terhadap sejarah sebuah tempat saat melakukan perjalanan (ih, ngaku-ngaku--tapi saya punya bukti kok dari tulisan-tulisan traveling saya :D).
Wawasan sejarah penulis ini memang luas. Banyak pengetahuan tentang sebuah tempat yang mungkin tak banyak diungkap pejalan lain (faktor dakwah sangat berpengaruh). Jadi saat buku ini terbit, saya berharap penulis lebih mengeksplor tulisan yang pernah ia posting di IG atau media sosial lain. Sayangnya isi buku ini hanya copy paste dari teks IG, tidak ada eksplorasi. Seperti terburu-buru untuk diterbitkan, atau mungkin memang tujuannya seperti itu? Menulis di media sosial untuk kemudian diterbitkan dalam bentuk buku.
Well, nggak puas dan menyayangkan saja, meski tak mengurangi bobot dari tulisan-tulisannya.
Salah satu buku yang kaya akan informasi. Sayangnya sedikit kurang puas dengan penataan tulisannya, sehingga terkesan hanga copy paste dari media sosial tanpa adanya pengeditan berarti.
Di beberapa bagian, amat puas dengan muatan tulisannya. Di beberapa bagian, sangat kecewa dengan besarnya gambar ilustrasi namun minim eksplorasi.
Semoga di seri2 berikutnya (yang mengambil tulisan dari media sosial beliau), kekurangan2 seperti ini dapat diperbaiki.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Gurunda Salim A Fillah, dan rasa bangga saya pada Oemah Dakwah Pro-U Media, semoga buku2 yang dihasilkan nantinya menjadi salah satu pemantik bagi kami untuk terus melangkah dan memperbaiki diri.
Gk pernah gagal klo baca buku ust Salim, tulisannya indah, kaya akan makna dan disusun dengan alur yang mudah di fahami, buku ini berisi catatan ust Salim mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah, siroh atau keadaan umat, senang bisa berkesempatan membaca buku ini 👏🏼
Judul: Rihlah Dakwah Penulis: Salim A. Fillah Penerbit: Pro U Media Dimensi: 384 hlm, cetakan pertama 2016 ISBN: 978 602 7820 50 0
Buku ini berisi catatan perjalanan penulis yang terbagi menjadi dua bagian: mayapada nusantara (yang lebih banyak membahas yogyakarta sebagai kota domisili penulis) dan berbagai belahan dunia. Menariknya buku ini berbicara dalam bahasa dakwah yang mengalir dan tetap puitis, serta menggali sejarah atau hukum terkait Islam. Setiap tempat diceritakan dengan apik bagaimana keadaan perkembangan Islam secara historis hingga kini. Sebagian dilengkapi dengan foto penulis dan dokumentasi terkait. Hingga terasa benar semua perjalanan atau rihlah ini masih dalam rangkaian dakwah.
Perjalanan yang pada ujungnya kelak adalah sebuah pengadilan. Maka bepergian di muka bumi untuk memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah; diperintahkanNya pada kita agar ruh terisi niat-niat bakti, akal menginsyafi besarnya karunia, dan seluruh jasad tersengat semangat untuk menebar manfaat. Selamat berihlah dalam dakwah. Selamat melawat berburu hikmat. Sebab kita semua adalah musafir.
Saya apresiasi 5 dari 5 bintang untuk buku ini.
"Seindah apa pun dunia, jadilah kita tetap orang asing baginya. Sebab, dari Allah kita berasal dan kepadaNya pula akan kembali. Asing, maka berhati-hati. Asing, maka tiada kawan sebaik Dia. Asing, maka kita perbanyak bekal dan sedikitkan beban. Seindah apa pun dunia, jadilah kita seperti penyeberang jalan, yang menengok ke kanan dan kiri sekadar agar selamat; yang menganggukkan sapa demi mencari sebanyak-banyak pembela dan mengurangi para penggugat. Sebab, selepas penyeberangan sana yang ada adalah pengadilan." (Hlm. 192)
"Ramadhan nanti, Maghrib memberi pelajaran; bahkan gelap pun membahagiakan, jika kita telah menempuh perjuangan." (Hlm. 269)
"Adab dakwahmu adalah kerendahan hati. Sebab bagi hati yang merunduk tak ada lagi kerendahan tuk jatuh. Sebab dalam hati yang merunduk, terbuncah cinta yang utuh. Sebab atas hati yang merunduk, segala kepongahan akan takluk. Sebab pada hati yang merunduk, cinta manusia mengalir teruntuk. Sebab terhadap hati yang merunduk, semesta akan bertepuk. Tapi, segala kekhusyuan dan ketundukan hatimu hanyalah untuk mengundang cintaNya, bukan sorak-sorai manusia." (Hlm. 297)
Rihlah Dakwah barangkali buku kedua Salim A. Fillah yang berisi kumpulan tulisannya dari sosial media (di sini dikumpulkan dari akun Instagram beliau). Sebelumnya, cuitannya di akun Twitter pun pernah dibukukan di "Menyimak Kicau Merajut Makna".
Karenanya, meski pembahasan dalam buku ini begitu menarik dengan membahas berbagai macam tempat, peristiwa, makanan hingga minuman dengan gaya penuturan beliau yang khas, namun di banyak tulisan tidak akan kita dapati bahasan lebih mendalam. Hal ini pun seperti akuan penulisnya bahwa catatan-catatannya ini amat sedikit dan tidak lengkap dibanding yang beliau harapkan, hal ini karena keterbatasan tempat dan waktu untuk beliau untuk menuliskan catatan yang jauh lebih rinci.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian, satu bagian mengenai Nusantara (dan Islam di dalamnya tentunya), membahas berbagai macam dari mulai kerajaan-kerajaan, pakaian, kebudayaan dan lainnya yang ditilik dari sejarah dan masih bersambung dengan dunia Islam.
Sementara di bagian kedua, berisi mengenai "Rihlah Dakwah" beliau ke berbagai negara, utamanya saat beliau diundang ke berbagai negara: Swiss, Austria, Inggris dan negeri lainnya. Dengan pengetahuan beliau yang luas (dan lagi-lagi gaya penuturannya yang khas), maka kita seolah dipandu secara langsung olehnya seraya menikmati tempat-tempat yang sedang dituju, meski -sekali lagi- terkadang pembahasan tidak begitu mendalam.
Maka, bagi saya ini mungkin layaknya jurnal perjalanan beliau dalam kesempatannya berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia dan berbagai negeri di luar sana. Sebagaimana yang disebutkan penulisnya, ada kecemburuan kepada Hud-Hud, burung kecil yang menempuh jarak total 6.000 km bolak-balik dari Kan'an ke Saba' untuk mengabarkan dan menyampaikan pesan dari Sulaiman 'alaihissalam kepada Ratu Bilqis yang negerinya makmur namun membuat matahari sebagai sembahannya.
Lalu, seperti yang dituliskannya dalam pengantar, insya Allah akan ada pembahasan lebih serius dari apa yang dituliskannya dari buku ini. Maka sembari menunggu tulisannya, marilah menikmati rakam jejak rihlah dakwah beliau melalui bukunya ini.
Buku ini bisa dibaca per sub-judul tanpa berurutan. Pembaca saya jamin akan hanyut memetik pelajaran dari setiap perjalanan ustadz Salim A Fillah menyusuri berbagai negeri. Seperti ketika mengamati detail karya seni keraton Jogja yang kaya akan filosofi. Tata kota yang sangat memperhatikan filosofi hidup seorang muslim. Belum lagi sejarah Islam menakjubkan di daratan Eropa.