Novel ini berkisah tentang kehidupan kaum homoseks, pelacur, dan orang-orang jalanan ini menantang kemapanan cara pandang pembaca atas kehidupan orang-orang yang dianggap nista oleh mereka yang mengaku dirinya beradab baik secara moral maupun agama. Mengikuti kehidupan tokoh-tokoh dalam novel ini, kita kemudian tahu bahwa orang-orang tak beruntung ini harus mengalami kekerasan struktural, kultural, dan fisik - sebuah tindakan kekerasan yang secara luar biasa dilakukan oleh mereka yang mengaku dirinya beradab dan waras selama berabad-abad. Melewati proses riset yang panjang dan mendalam, ditulis dengan ketrampilan literer yang mengaggumkan, Rima-Rima Tiga Jiwa barangkali menjadi salah satu novel terbaik Indonesia yang diterbitkan tahun ini.
Bercerita tentang kisah Silvy seorang waria berusia 35 tahun yang memacari Susanto seorang pria vegan yang berhasrat kepada laki-laki dan waria namun ia hanya mencintai Rima perempuan berusia 42 tahun, seorang pelacur beranak tiga. Novel ini tidak hanya bercerita tentang lika-liku kisah percintaan mereka bertiga, tetapi juga tentang pergolakan batin dan kemalangan-kemalangan yang dihadapi oleh mereka yang termarjinalkan oleh standar kewajaran yang di legalkan oleh kehidupan sosial bermasyarakat.
Bagaimana dalam keseharian, mereka harus berusaha untuk tetap waras disaat kehidupan selalu menuntut kenormalan yang mereka sendiri tidak mengerti benar "normal" seperti apa yang mereka agung-agungkan. Normal yang mereka pahami selama ini adalah dengan jujur dan menjadi apa adanya tanpa perlu kedok yang menutupi kebenaran.
Juga tentang perjuangan suara-suara mereka yang selalu diredam oleh bunyi-bunyi kebenaran suwung para golongan dengan dalih strata pendidikan yang mumpuni dan agama yang mengayomi. Sungguh pembodohan yang berkesinambungan dan akan terus lestari selama setara masih menjadi pokok perjuangan sesama manusia.
Kisah Silvy, Susanto dan Rima merupakan kisah yang istimewa. Namun mereka harus merela, tubuh mereka melacur demi menghidupi sisa usia. Harga diri satu-satunya yang mereka punya hanyalah cinta, dan mereka pastikan itu adalah satu-satunya pengecualian yang tidak akan pernah mereka tukar dengan dalih apapun bentuknya.
Rima-Rima Tiga Jiwa menarik bagi pembaca sastra maupun pembaca novel secara umum karena ditulis dengan bahasa yang ringkas, puitik, dan sangat mudah dipahami oleh pembaca awam sekali pun. Bila di dunia teater kita mengenal "Opera Kecoa" karya Nano Riantiarno, dalam dunia fiksi Indonesia kontemporer kukira novel inilah yang paling mewakili kisah tentang kehidupan pelacur dan waria dan orang-orang jalanan yang dimarjinalkan baik oleh otoritas agama maupun politik. Yang unik lagi novel ini kemudian ditautkan dengan metamorfosa seseorang dari pembaca menjadi penulis. Dengan demikian, selain memaparkan narasi keterpinggiran dan pengucilan struktural, kultural, dan fisikal pelacur dan waria dari masyarakat tempat mereka hidup, novel ini bisa menjadi narasi tentang proses kreatif. Kelebihan lain dari novel ini yang menurut saya tak pernah ada dalam novel-novel Indonesia kontemporer adalah karena ia bisa berhasil keluar dari penarasian isu pelacuran dan kaum LGBTQ yang sangat bias kelas menengah. Hal ini tak bisa dilepaskan dari keterlibatan penulisnya dalam kehidupan kaum marginal yang saya sebutkan di atas. Tidak mengherankan bila tuturan, sinisme, metafor hingga preseden-preseden yang hadir dalam novel ini hadir nyaris secara alamiah. Dampaknya bagi pembaca ketika menikmati novel ini adaah godaan untuk memandang bahwa kisah dalam novel ini adalah kisah hidupnya sendiri. Saya tetap berpandangan bahwa novel ini adalah fiksi, meskipun dari fiksi ini kita bisa memproyeksikan perspektif macam apa yang dimiliki penulisnya.
Saya selalu percaya, fiksi yang bagus adalah fiksi yang membongkar; yang setelah membacanya otak kita dituntut habis-habisan untuk segera mengerti realitas yang ada. Tak perlu berlebihan, tapi novel ini, bagi saya, berhasil melakukan hal yang demikian. Kisah mengenai tiga jiwa manusia, yang entah dikutuk oleh Tuhan atau manusia, dipaksa menjalani cinta yang bagi sebagian besar manusia "tidak biasa". Barangkali, jika kau percaya moralitas merupakan tonggak utama bagi kehidupan manusia; yang kemudian membuatmu merasa bahwa mereka, kaum homoseks, pelacur dan biseksual, layak untuk dijebloskan ke dalam api dunia agar mengerti bahwa perbuatan mereka salah, maka kau perlu membaca buku ini. Struktur yang menindas; yang memang ada dan nyata di dalam masyarakat Indonesia; yang kemudian membuat mereka mesti hidup sedemikian rumit dan sulit, sudah tentu adalah hal yang mesti dilawan; terlepas dari apa yang selalu dikobar-kobarkan atas nama moral. Demikian, jika kau hendak mengerti bagaimana mereka hidup, berkembang di tengah tekanan yang ada, dan relative melawan seolah itu sudah merupakan tindakan moral bagi mereka, maka bacalah buku ini!