Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

Rate this book
BUKU ini memperlihatkan, perempuan priayi dan perempuan keluarga keraton di Jawa Tengah selatan, setidaknya sampai akhir Perang Jawa (1825-1830), menikmati kesempatan bertindak atau mengambil inisiatif pribadi yang jauh lebih luas daripada saudari-saudari mereka yang hidup di akhir abad ke-19, di zaman Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Jejak mereka bahkan menembus bidang yang dianggap sebagai dunia laki-laki, yaitu militer dan politik.

Di bidang bisnis, mereka mengambil peran sangat penting, seperti tampak pada sosok Ratu Kencono Wulan (ca. 1780-1859), permaisuri ketiga Sultan Hamengku Buwono II. Berasal dari keluarga lapis bawah--diduga pemilik kios di Pasar Beringharjo--Sang Ratu menjelma seorang first lday yang luar biasa rakus. Dia memanfaatkan posisinya untuk meminta bagian dari keuntungan setiap proyek.

Di pihak lain, pendidikan Barat dan sistem "meminjamkan" anak keraton--sebagai cara membentuk karakter dan pengetahuan--kepada keluarga Indo-Belanda daripada memercayakan kepada perempuan kerajaan yang lebih tua, seperti terjadi pada Pangeran Diponegoro, dinilai telah merusak pengaruh perempuan keraton dan masyarakat Jawa umumnya. Penulis menguraikan bagaimana pola asuh matriarki gaya Polinesia tersebut dipengaruhi secara serentak oleh kolonialisme dan Islam.

Buku kecil ini boleh dikatakan merupakan pengantar inspiratif bagi sejarawan untuk melakukan kajian lebih utuh dengan pendekatan baru atas sejarah Indonesia dari pertengahan abad ke-18 sampai era modern. Hanya dengan demikian perempuan (Jawa) dapat memiliki dasar kuat ketika mengambil tempat selayaknya dalam evolusi bangsanya selama berabad-abad.

128 pages, Paperback

First published January 1, 1986

21 people are currently reading
274 people want to read

About the author

Peter Carey

42 books79 followers
Librarian Note: There is more than one author in the GoodReads database with this name. See this thread for more information.

Laithwaite Fellow and Tutor in Modern History at Trinity College, Oxford. Peter Carey works on the history, contemporary politics and socio-economic development of Southeast Asia, specialising on Indonesia, East Timor, Cambodia and Burma.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
62 (30%)
4 stars
90 (44%)
3 stars
48 (23%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 48 reviews
Profile Image for Ursula.
302 reviews19 followers
September 12, 2017
Buku singkat Peter Carey ini sedikit menjawab pertanyaan saya: sejak kapan perempuan Indonesia mulai dimarjinalkan? Carey menjabarkan bagaimana kondisi sosial, politik, dan ekonomi perempuan Indonesia pada zaman sebelum Perang Jawa, atau abad 18 dan 19.

Ia dan Vincent Houben mengumpulkan berbagai bahan dari literasi kuno serta catatan sejarawan maupun budayawan pada masa tersebut. Hasilnya, berbagai kisah perempuan-perempuan perkasa pada masa itu pun dapat dinikmati oleh penduduk Jawa ratusan tahun setelahnya.

Perempuan Jawa yang saya tahu, sebelum buku ini, cenderung berkarakter diam, penurut, manut suami , dan halus. Setidaknya, itulah gambaran yang saya dapatkan dari pelajaran serta buku novel. Satu-satunya perempuan Jawa keren adalah Nyai Ontosoroh dari Tetralogi Pulau Buru.

Tapi, Carey mengenalkan saya pada para prajurit estri yang entah kenapa tidak pernah saya saksikan atau dengar dari berbagai tampilan kebudayaan Jawa selama ini. Para perempuan keraton yang saya tahu hanya menjadi selir, penari, ratu, tetapi hampir tidak pernah ada yang saya dengar menjadi prajurit.

Rasanya juga sangat menyenangkan membaca bagaimana perempuan Jawa bisa membuat ketakutan para penjajah kolonial Belanda (yang langsung atau tidak berperan membisukan kehebatan mereka selama hidup).

Bahkan seorang komentator Inggris mengatakan dengan nada mengejek bahwa Ratu Kencono Wulan yang cantik dan tangguh itu adalah "satu-satunya perempuan di Jawa yang bisa membuat Sang Marsekal 'Guntur' ketakutan!" (A.H.P, 1853: 241)


Membayangkannya seperti melihat Srikandi nyata dan berjumlah banyak. Naik kuda, mengawal raja, memegang bedil, ah... menyenangkan kalau bisa membaca karya sastra yang menceritakan mereka. Meski menaklukkan musuh Belanda saat itu bukan hanya dengan senjata; juga keteguhan hati dan kecerdasan.

Carey juga mengenalkan pembaca pada para perempuan kerajaan yang berpengaruh namun jelas tidak masuk di buku pelajaran sekolah. Bagaimana para ratu memutar otak untuk membuat anaknya menjadi raja, juga bagaimana mereka mengajar dan mendisiplinkan para pangeran yang kelak menjadi salah satu bahan ajar sementara nama para perempuan yang mendidik mereka tak pernah disebut.

Juga bagaimana para prajurit estri yang tak hanya piawai berkelahi namun juga berdagang dan membantu perekonomian. Latar belakang mereka yang tak melulu berdarah bangsawan juga menghubungkan istana dengan rakyatnya -yang kelak membantu para pangeran bersembunyi saat istananya menghadapi serangan.

Saya rasa buku ini perlu dibaca supaya masyarakat tidak melulu terjebak pada narasi 'perempuan sudah kodratnya halus, lembut, dan tidak bisa apa-apa.' Kalau para tangan gendongan kain jarik ini bisa mengguncang dunia; asal dibebaskan dari cengkeraman patriarki kolonial Belanda dan ancaman pandangan picik kaum fundamentalis yang minder.
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
June 18, 2017
** Books 208 - 2017 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2017

3,4 dari 5 bintang!


Membaca buku ini membuat pencerahan buat saya peran wanita pada abad XVIII - XIX. Siapa yang menyangka ternyata wanita banyak memegang peranan penting di jaman itu seperti menkadi Korps Srikandi (laskar Wanita) yang ikut berperang dengan Raden Mas Said (Mangkunegoro I, bertakhta tahun 1757-1795). Ada lagi Raden Yudokusumo yang menjadi panglima kavaleri senior Diponegoro di wilayah Timur dan kelak bergabung dengan Raden Tumenggung Sosrodilogo di Jipang-Rajegwesi dalam perlawanan terhadap Belanda di pesisir utara dari 28 November 1827 sampai 9 Maret 1828. Hal ini membuka mata saya bahwa pahlawan perempuan tidak hanya R.A Kartini, Raden Dewi Sartika dan Christina Martha Tiahahu. Banyak sekali perempuan yang tidak terekspos perannya pada era perjuangan melawan penjajahan Belanda

Buku ini sangat tipis namun padat akan kaya ilmu!

Sst saya baru tahu nama asli Ratu Kidul adalah Dewi Retno Suwido yang merupakan putri Raja Pajajaran :O
Profile Image for Rina Noviyanti.
Author 1 book5 followers
February 16, 2019
Buku yang sangat menarik untuk membantah anggapan bahwa perempuan Jawa hanyalah "kanca wingking".
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
July 11, 2025
Terima kasih Perpus Berjalan atas buku yang bagus ini.

Baru kali ini saya mendapatkan informasi menarik tentang para perempuan Jawa pada abad 18-19, masa-masa penjajahan dan kerajaan masih dominan. Ternyata banyak perempuan yang "bergerak", mulai dari prajurit estri hingga permaisuri, masing-masing punya peran penting. Keberadaan perempuan perkasa ini pun yang mengilhami sastra di Indonesia pada masa itu, salah satunya adalah Bumi Manusia yang terkenal itu.
Profile Image for Farah Fitria Sari.
228 reviews10 followers
July 1, 2016
Gue baca buku ini di kereta Argo Parahyangan dari Bandung menuju Jatinegara.

Buku ini ibarat pintu buat pintu yang lebih banyak lagi, walaupun doi lembarnya relatif dikit. Sembari bercerita mengenai perempuan-perempuan perkasa Jawa, buku ini juga ngasih tau referensi-referensi yang bisa kita baca lebih lanjut lagi kalau kita mau tau lebih banyak, otomatis ngebuat footnote sama daftar pustakanya panjang banget. Kelihatan buku ini disusun sama cendekiawan karena itu. Buku ini mirip sama bukunya Pak Pram yang Jalan Daendels, Jalan Raya Pos.

Dari buku ini sebenernya gue jadi lebih mengerti banyak peran perempuan Jawa; nggak semuanya cuma jadi selir dan teledek, atau ibu rumah tangga yang "lemah"--justru kebalikannya. Kalau pun iya, ada kebebasan dan maksud tertentu dari posisi mereka yang seperti itu. Intinya sih ngasih tau gimana perempuan Jawa abad 18-20 awal itu bisa memilih dan pilihan mereka itu berarti. Trivia: orang-orang Jawa zaman dulu sudah terbuka juga mengenai masalah gender, di mana cowok bisa meranin cewek di pementasan-pementasan (ludruk contohnya)--dan sebaliknya; otomatis maka disinggung juga praktik non-heteroseksual, walaupun dikit.

Seru sih, tapi njelimet karena banyak banget tokoh yang disinggung di sini. Buku ini punya banyak foto jadul dan gue suka! Terus dapet bonus poster :D

Oh iya, Pak Carey dan Pak Houben kelihatannya Bahasa Jawanya udah advanced banget, gue yang orang Jawa tulen tapi nggak ngerti Bahasa Jawa jadi malu.
Profile Image for David Dewata.
341 reviews3 followers
July 17, 2016
Referensi singkat mengenai peran penting perempuan di Jawa periode 1880an yang menarik untuk dibaca dan banyak potensi yang masih bisa dipelajari pada tahapan selanjutnya.
Profile Image for Heri.
196 reviews17 followers
August 12, 2025
baru membaca prakata dari penulis sendiri, saya sudah diberi sedikit gambaran tentang apa yang dilihat dan dipikirkan penulis tentang Indonesia abad 21. Peter Carey melihat dan mengkritik adanya sikap intoleran dan orang bodoh yang suka menghakimi, sikap maskulin atau patriarki yang sering menyudutkan kaum perempuan dan minoritas.

buku ini tentu saja membahas sejarah peran kaum perempuan di jawa selama abad 18-19 sebelum era Perang Diponegoro dan penjajahan Belanda. namun prakata yang ditulis mengungkapkan sebagian pandangan penulis sendiri tentang masyarakat Indonesia yang dilihat dan dialaminya selama berada di negeri ini.

dalam bab 1, wanita jawa digambarkan dalam sastra kolonial Belanda sebagai perempuan pasif, pendiam, penurut, lembut dan feminin, tidak terlibat politik, ekonomi dan militer. dalam bab 2, penulis membandingkan dengan tokoh wanita dari pewayangan dan epos Mahabharata seperti Drupadi, Srikandi dan tokoh sejarah seperti Ken Dedes dan Dewi Mundingsari yang lebih tegar, berani dan tegas melawan kejahatan dan ketidak adilan.

di bab 3, Carey mendeskripsikan budaya keraton Jawa Tengah selatan, hubungannya dengan Nyi Roro Kidul, kekuasaan sultan, tradisi dan upacara yang terkait. pada bab 4, diceritakan tentang pasukan tentara wanita milik sultan, peran penari laki2 yang dimainkan wanita dan peran wanita yang dimainkan laki2. ada pula catatan tentang praktek pedofil yang dianggap wajar antara pria dewasa dengan bocah laki2, beberapa wanita yang diceritakan lebih dominan dalam soal seks dan peran mereka dalam Perang Diponegoro sebagai tentara melawan pasukan Belanda.

bab 5 mengisahkan dua perempuan Jawa yang turut berperang dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro. yang pertama Raden Ayu Yudokusumo dan kedua yang lebih terkenal yaitu Nyi Ageng Serang. bab ini menulis kisah hidup mereka sebelum, selama dan setelah perang yang sumbernya diambil dari arsip dan catatan Belanda, yang menggambarkan keduanya sebagai wanita tangguh, kejam, cerdas dan berpengaruh besar.

perempuan Jawa disebut punya peran penting dalam bisnis dan perekonomian kerajaan yang dibahas di bab 6. keuangan sering diatur oleh kaum perempuan kecuali ada kasus khusus oleh laki-laki. mereka juga punya hak waris yang lebih besar dari laki-laki baik tanah, harta benda atau gelar yang disebut penulis sebagai pengaruh pola matriarki Polinesia. hal itu umum terjadi sebelum Perang Jawa dan dominasi agama Islam yang sering disebut penulis.

peran sebagai pemberi dan penerus keturunan keluarga bangsawan ditulis dalam bab 7, penulis menjabarkan beberapa penjelasan dari sumber Kolonial Belanda, bahwa sultan biasanya punya istri dan selir sangat banyak. sebagian dari perempuan sejak kecil telah dididik untuk menjadi pendamping suami, termasuk cara bersikap dan pengetahuan daya tarik seksual.

bab 8 menulis bahwa perempuan Jawa punya hak cerai dengan posisi kuat di kaum bangsawan tinggi bila suami mereka memperlakukan buruk. hal itu tidak terjadi pada perempuan dari golongan lebih rendah. ada juga putri sunan yang mewarisi takhta ayahnya dan tidak menikah seperti Ratu Victoria I dari Inggris.

banyak keturunan dari istri berbeda, menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan dalam keraton, yang dijelaskan dalam bab 9. hal itu pun dimanfaatkan Belanda untuk mendukung pewaris yang pro Belanda dan menyingkirkan pesaing lain, hal yang menjadi penyebab menguatnya pengaruh dan kekuasaan bangsa asing di Jawa.

bab 10 menjelaskan peran istri raja Jawa dalam menjaga tradisi, adat, ketaatan pada agama Islam dan hak waris tanah atau harta. beberapa istri sultan atau mantan istri punya pengaruh kuat dan sering mengendalikan arah politik kesultanan dan sikap terhadap Belanda atau Inggris.

buku ini ditutup penulis dengan sebuah kesimpulan yang menyatakan kalau tulisan yang dibuatnya hanya sebagian kecil dari sejarah peran dan pengaruh perempuan Jawa Tengah selatan, terutama kalangan bangsawan keraton dan kesultanan. stereotipe perempuan jawa yang pasif dan penurut seperti yang dipopulerkan dalam sastra era kolonial masih sangat kuat dan perlu ada pola pikir terbuka dan radikal untuk menyadari peran dan posisi perempuan jawa pra kolonial

meski hanya sebuah informasi singkat dilihat dari tebal halaman dan berfokus pada hal penting yang disajikan dengan penjelasan ringkas, padat tapi informatif, buku ini memberi gambaran baru - yang sebenarnya lama - tentang perempuan jawa yang tidak pasif atau submisif di bawah kaum pria. buku ini membantu mengubah paradigma cara pikir orang modern yang mau menerima perbedaan dan kesetaraan antar gender di banyak bidang
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
November 5, 2020
Buku singkat yang diakui Pak Peter hanya sebagai pengantar untuk kajian lebih lanjut mengenai perempuan Jawa masa lalu. Buku ini lebih berperan sebagai penyangkalan terhadap stereotipe yang dituliskan oleh para penulis kolonial Belanda terhadap perempuan Jawa. Nah klo aku sendiri tidak berangkat dari situ saat berniat membacanya jadi tetep aja merasakan ketimpangan kedudukan perempuan - laki-laki di kehidupan ningrat Jawa waktu itu.
Perempuan dijadikan prajurit srikandi ya demi melindungi raja. Perempuan ga boleh jadi raja. Prajurit srikandi yang sudah dewasa dihibahkan ke raja-raja kecil di daerah. Kadang istri ningrat juga diperlakukan tidak layak sama suaminya. Untunglah masih boleh minta cerai. Tapi klo istri yang mancal, kudu bayar bisa jadi lebih besar dari maskawin yang diterima. Bahkan klo kasus pernikahannya antara perempuan ningrat level lebih rendah dari daerah pinggiran dengan ningrat atas ibu kota metropolitan ajep-ajep, ya kudu bayar mahal juga. Trus perempuan ningrat yang sibuk cari duit, ngatur duit, laki-laki ningrat tinggal menikmati.
Yang paling berkesan bagiku adalah Ratu Kencono Wulan. Permaisuri kesekian(bukan utama) yang berasal dari kios Beringharjo. Konon dia cantik, dan disayang karena pintar cari uang wkwk. Konon Sultan tau-tau aja praktek istrinya tapi tutup mata karena sayang. Eaaaa... karena sayang apa karena uang? Sama Pak Peter, Ratu Kencono Wulan disandingkan dengan Madam Tien Percent :D.
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews9 followers
January 30, 2024
"Tangan dengan gendongan kain jarik menggerakkan dunia"

Sebelum Perang Jawa meletus peran perempuan elite sangat menentukan kehidupan sosial Jawa tengah selatan.

Takashi Shiraishi menyatakan bahwa empat kerajaan yang hadir dan bertahan menguasai bagian Selatan Jawa Tengah setelah Perang Jawa (1825-1830) adalah kerajaan-kerajaan impoten baik secara politik maupun militer.

Pak Peter dalam buku ini seolah menegaskan dengan keras bahwa bukan hanya secara politik dan militer, bahkan kebudayaan Jawa seperti dijinakkan menjadi semacam kebudayaan museum.

Pra Perang Jawa perempuan bukan hanya menjadi konco wingking (teman tidur) melainkan ikut berperan di bidang yang kelak dianggap dunia laki-laki, yaitu politik, militer dan perniagaan.

Di buku ini Pak Peter menyajikan beberapa nama perempuan perkasa yang berperan pada bidang-bidang itu. Penuh dengan catatan rujukan yang memaksa citra Raden Ayu yang lembut dalam literatur kolonial harus direvisi secara radikal.

Sebuah buku tipis namun memberikan gambaran yang kontras terhadap peran perempuan Jawa sampai akhir masa Perang Jawa dengan saudara perempuan mereka di akhir abad ke-19.

Pak Peter membandingkan kedua masa tersebut dengan menyinggung kisah Raden Ayu Serang dan Raden Ajeng Kartini.
Membacanya membuat kita semakin menambah panjang wishlist yang sudah tak berujung itu... hahahha.

#BacaBukuSejarahBareng
Profile Image for Faliqul Jannah Firdausi.
25 reviews
February 23, 2025
Buku pertama yang saya selesaikan tahun ini. Buku yang cukup bagus untuk mengawali tahun baru yang makin lama makin kita berpikir ulang apakah kita masih bisa memikirkan masa depan yang cerah di tengah carut marutnya dunia dan pemerintah yang punya kuasa tidak memikirkan jangka panjang untuk rakyatnya.

Kekuatan perempuan-perempuan perkasa di tanah Jawa menggambarkan bahwa perempuan memiliki kuasa yang sama bahkan lebih besar dibandingkan laki- laki untuk memberikan dampak perubahan terhadap kekuasaan, perang, pemerintahan, dan pernikahan yang semena-mena.

Meskipun perempuan perkasa yang diceritakan adalah perempuan kerajaan, saya yakin keberanian yang mereka miliki bisa menular perempuan modern saat ini untuk memiliki keberanian yang sama memperjuangkan hak hak kemanusiaan dan berani menjadi pribadi yang bersuara menyampaikan pendirian mereka untuk mencegah keburukan atau kekerasan yang akan terjadi jika mereka memilih untuk diam dan abai.

Buku ini memberikan kepercayaan bahwa sebelum Belanda datang, kerajaan Jawa dan Tionghoa bisa hidup bersamaan. Banyak kalangan permaisuri datang dari keluarga biasa dan bisa berdampak memberikan kesejahteraan kepada tanah lahirnya. Banyak pengaruh baik yang terjadi saat perempuan terdidik dan berani mengambil tindakan dan andil dalam situasi genting.
Profile Image for Lusiana Hevita.
Author 1 book7 followers
July 14, 2017
Sebuah buku yang mengulas profil dan kiprah perempuan Jawa, khususnya para perempuan yang mencatat sejarah, secara komprehensif, singkat dan sangat padat. Buku ini memang tidak bertujuan untuk membeberkan detil-detilnya, tapi lebih sebagai pemicu untuk penelitian selanjutnya. Banyak fakta menarik yang baru sedikit terungkap. Beberapa diantaranya adalah bahwa perempuan Jawa tidak melulu seperti yang sering digambarkan kebanyakan orang (para kolonial Belanda khususnya) yang selalu jadi 'konco wingking' tapi tidak sedikit yang segarang para pejuang perempuan dan Sultana di Aceh. Mereka memiliki inisiatif yang tinggi dan melakukannya. Pada masa ini (akhir abad 18, awal abad 19) para perempuan ini lebih eksis dan 'bebas' dibanding di jaman Raden Ajeng Kartini. Entah apa penyebabnya... (menarik untuk terus dikaji, apa mungkin Belanda semakin mengawasi peran perempuan dan turut menekan mereka). Termasuk pola matriarki yang turut andil membawa Jawa pada kondisi seperti itu. Termasuk peran Islam (Walisongo) di dalam perkembangan jati diri para perempuan Jawa.

Nama Sejarahwan yang merupakan ahli sejarah modern Indonesia, khususnya Jawa (perang Jawa, Diponegoro), Peter Carey, membuat buku kecil ini cabe rawit banget dan layak dijadikan bacaan sejarah yang bergizi.
Profile Image for Capcaibakar.
57 reviews2 followers
November 19, 2020
Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa ini berisi sumbangsih perempuan² keraton di Jawa pada abad ke-18 sd. abad ke-19.

Ada prajurit istri yang tugasnya mengawal sultan dan terkenal akan kemampuan menggunakan senjatanya yang jauh lebih hebat daripada para prajurit lelaki. Dan sudah tentu cantik-cantik.

Ada istri-istri sultan yang mengurus kerajaan sebelum anaknya dewasa bahkan sampai ditakuti penjajah. Ada istri sultan yang kemampuan bisnisnya luar biasa sampai-sampai jual beli jabatan dan minta jatah proyek. 😆😆😆

Terus istri-istri kerajaan jaman dulu tu ya bisa aja meminta cerai kalau suaminya zalim.

Jadi bertanya-tanya kenapa di jaman RA Kartini, perempuan² kerajaan ini malah ga berdaya. Dari yang tadinya turut serta di bidang militer dan politik, kog jadi ngurus dapur, sumur, dan kasur aja. Kog cuma jadi kanca wingking yang swarga nunut, neraka katut. Apa sih yang memgubah kedudukan perempuan-perempuan Jawa ini?

------

Bukunya tipis banget. Pengantar buat mencari tahu lebih dalam. Kalau sudah biasa dengan kisah² kerajaan jawa, sepertinya bisa mengikuti buku ini. Kalau ga.. agak bingung sangking sekilasnya isi buku ini. Menarik kog apalagi banyak ilustrasi yang bersumber dari museum di Belanda.

Beli di Gramedia
Profile Image for Tushy Octafadiola.
27 reviews2 followers
November 22, 2025
Dulu saya kira putri-putri keraton itu anggun, ayu, lemah lembut aja. Ternyata mereka bisa jd prajurit dan makai senjata, bahkan lebih jago makai bedil drpd prajurit laki-laki. Gak cm kuat, para putri ini juga pandai menari, bernyanyi, dan main musik. Mereka disebut prajurit estri, dipilih dari putri-putri keraton tercantik. Tugasnya mendampingi raja saat pertemuan malam hari di luar keraton krn semua abdi dalem laki-laki sudah pergi saat matahari terbenam.

Cover yg cetakan baru bermakna banget. Warna pink sesuai dng tema yaitu ttg perempuan. Gambarnya prajurit estri yg menunggang kuda sambil bawa senjata, menunjukkan keperkasaan perempuan abad 18-19. Bagian dalam cover gambar batik motif parang. Kayaknya ini motif parang rusak ya? Dulu cm keturunan raja yg boleh pakai motif parang, sesuai dng isi buku yaitu ttg perempuan priyayi. Keren ya ilustratornya 👍

Btw, di buku ini ada juga keperkasaan perempuan dlm nepotisme dan menjalankan praktek rentenir 😐

Bukunya tipis, yg panjang itu prakata dari tiap cetakan (saya baca yg cetakan ke-6) nyampe 30 hlmn sendiri. Trus bnyk bgt nama yg disebut di sini. Terus terang saya pusing krn banyaknya tokoh yg saya gak tau 😅
Profile Image for Wafa.
13 reviews3 followers
August 14, 2020
Buku ini menarik perhatian saya karna judul dan penulisnya: buku perempuan Jawa yang ditulis oleh orang 'bukan' Indonesia.
Buku ini super tipis, tapi muatannya sangat banyak, menceritakan dengan cukup detail bagaimana citra san peran perempuan Jawa, khususnya perempuan keluarga kerajaan. Pengarang juga membandingkannya dengan citra perempuan Jawa yang digambarkan oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu dalam sebuah karya sastra, yang sebenarnya berbeda dengan realita.

Buku ini sangat bermanfaat sekali untuk menjadi bahan referensi penelitian, karna penulis juga mencantumkan daftar pustaka di halaman akhir buku. Namun sayangnya, dari sekian banyak sumber bacaan, sebagian besar didominasi oleh artikel jurnal maupun buku yang ditulis oleh peneliti asing. Hal ini menunjukkan bahwa belum banyak peneliti dalam negeri yang melahirkan buku/artikel jurnal mengenai sejarah bangsa sendiri.

Bagi saya, mungkin ini menjadi challenge generasi berikutnya untuk lebih tertarik membahas sejarah Nusantara.
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews1 follower
February 9, 2021
Buku ini secara komprehensif menjelaskan tentang peran vital yang diemban dan dilakukan oleh para perempuan (utamanya) ningrat di Jawa tengah bagian selatan.

Dengan banyak merujuk peristiwa pra-Perang Jawa, buku ini sedikit memuaskan dahaga saya yang penasaran tentang peran perempuan Jawa di medan tempur, yang kelihatannya sangat jarang dibahas oleh pelajaran sekolah dan konten sejarah populer.

Pembahasan mengenai intrik politik yang dilakukan oleh para perempuan ningrat dalam Keraton dan Kasunanan juga merupakan hal yang menarik dalam buku ini. Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa putri dari Pakubuwono VII, Raden Ayu Sekar Kedaton, merupakan seorang perempuan yang bercita-cita untuk menjadi ratu di Surakarta. Kegigihannya yang tidak pernah surut membuat saya cukup sering geleng-geleng kepala.

Seperti yang ditulis oleh Carey, buku ini sangat cocok dijadikan pengantar untuk membuka jendela yang lebih luas lagi. Untuk meneliti peran perempuan Jawa secara lebih mendalam dan luas lagi, dan melihat di titik mana budaya Jawa 'dibuat' menjadi budaya museum.
Profile Image for Nia Zayn.
5 reviews
June 19, 2020
Buku ini mencoba mengulik sudut pandang lain tentang perempuan jawa yang selama ini kita ketahui lewat sejarah2 bikinan belanda. Peter carey mencoba mengkritik pemdapat bahwa raden ayu di jawa bukanlah sosok kemayu yang lemah sebagaimana digambarkan oleh belanda, namun mereka adalah manusia yang punya hak hukum dan pemberani, juga punya peran yang sentral dalam menjaga dan merawat budaya jawa serta keraton di jawa tengah selatan.
Namun, apa yang saya tangkap dari buku ini, perempuan perkasa yg dimaksud tidak lantas memberikan kesimpulan bahwa perempuan pada abad ke 19 tersebut benar2 merdeka atas dirinya, karna pada kenyataannya perempuan masih banyak dijadikan sebagai alat politik dan diperlakukan sebagai barang. Menjadi hadiah dari suami satu, atau sultan yang satu kepada koleganya yang lain.

Overall. Amazing!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nina Ramadhan.
58 reviews1 follower
June 12, 2025
Membaca buku ini di tengah-tengah berita bahwa sejarah Indonesia akan ditulis ulang oleh pemerintah membuat hati semakin perih.

Sejarah yang saat ini dikenal sepertinya tidak mampu untuk memberi contoh pada kaum perempuan, bahwa secara historis, mereka mampu memegang peran penting dalam berbagai dimensi interaksi sosial. Buku ini bisa menjawab kekosongan itu dalam contoh-contoh yang sayangnya terbatas pada kurun abad 18 hingga abad 19 dalam konteks dinamika kerajaan di Jawa. Tulisan yang tersaji di sini menunjukkan bahwa perempuan pernah dikenal sebagai tokoh yang signifikan, baik dalam perannya sebagai individu, pasangan, ataupun pengasuh generasi berikutnya.

Halaman buku ini memang tipis, tapi pertanyaan yang menumpuk setelah selesai membaca sepertinya semakin tebal -- mengapa perempuan di Indonesia, terutama di Jawa, seperti kehilangan kesempatan untuk berperan?
Profile Image for Hamima Nur Hanifah.
46 reviews9 followers
January 29, 2022
literatur/sastra kolonial Belanda: Raden Ayu di Jawa itu lembut, halus dan penurut
Peter Carey: *ga setuju, terus kasih kritik, tapi kritiknya sebuku* 👏⭐⭐⭐⭐⭐

bacaan singkat untuk tau profil & peran perempuan2 Jawa di abad 18-19 dalam banyak ranah; dari urusan domestik, perdagangan, politik sampai militer. dari cerita pewayangan seperti Dewi Drupadi, Srikandi, terus mitologi Ratu Kidul, soal prajurit estri, putri raja yang jadi panglima perang, soal permaisuri raja yang pintar & rakus masalah duit, soal putri-putri raja yang menikah dengan bupati daerah yang abusif, soal putri kraton solo yang menolak semua lamaran bangsawan karena punya ambisi pribadi untuk naik tahta di hari kematian ayahnya, dsssbbb. bacanya bikin segarrrr!
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
February 9, 2025
Pak Peter, menuliskan catatan setiap cetakan baru dan itu gemas sekali. Aku membaca semua sembari senyum-senyum membayangkan betapa bahagianya Pak Peter menulis. Dia menikmatinya serupa nafas sehari hari.

Buku ini memang tidak mendalam karena hanya menjelaskan bagaimana perempuan Jawa muncul dalam beberapa catatan sejarah. Memang tidak sebanyak laki-laki tetapi dengan buku ini Pak Peter sedang “ngalem-alem” kalau bahasa orang Jawa atau melapangkan dada kalau bahasa Indonesia agar perempuan Jawa tidak merasa berkecil hati. Perempuan Jawa berkontribusi besar pada beradaban manusia Jawa dan hal tersebut harus dirawat.

Pertanyaan yang diajukan Pak Peter diakhir buku kembali membuatku bertanya: apakah kita perempuan Jawa masih perkasa? Sudahkah kita cukup berdaya dihadapan keluarga?

Samar-samar aku mendengar ibuku berpesan: jangan berhenti bekerja apapun yang terjadi dan pastikan kamu punya rumah buat anak-anakmu kelak. Jangan menghamba pada laki-laki.
Profile Image for Lisna Atmadiardjo.
146 reviews24 followers
June 10, 2017
Bahkan sebelum membaca buku ini pun saya sudah percaya dimanapun di dunia ini perempuan memiliki peranan dalam kemajuan suatu bangsa atau generasi. Peran yang sama pentingnya dengan para lelaki, di beberapa kesempatan malah justru lebih tegas (tidak jarang juga lebih jahat dan licik) dibandingkan laki-laki.

"Salah satu putri Keraton Surakarta, Raden Ayu Sekar Kedaton, 'sang ratu perawan', satu-satunya anak Sunan Pakubuwono VII yang hidup dari garwa padminya, mungkin atas dorongan sang ayah sendiri, menolak dengan tegas semua lamaran dari bangsawan, termasuk Pakubuwono IX, dan memendam ambisi pribadi untuk naik takhta Surakarta pada kematian ayahnya" (halaman 56)
Profile Image for Pillow.
12 reviews2 followers
January 1, 2022
I like this book a lot! Banyak pengetahuan sejarah yang aku dapatkan. Terutama tentang "pengalaman perempuan" di Jawa 🌻

Tapi, memang karena ini non-fiksi & penuh dengan catatan. Membuat orang awam sepertiku bingung saat bacanya. Untungnya ada glosarium di belakang buku yang membantu.

Banyak tokoh-tokoh, istilah, dan peristiwa yang digambarkan.

Gambar-gambar yang ditampilkan bagus walau ada beberapa gambar yang tdk sesuai tempat, salah halaman. Karena halaman di sampingnya tdk sedang menjelaskan tentang gambar tsb.

But, sebagai orang awam yang mau memulai membaca sejarah perempuan, patut dicoba.
Profile Image for Nabila fauziah.
29 reviews
May 1, 2025
Latar belakang sejarawan nggak bikin tulisan Peter Carey bernada menggurui dan kaku. Tulisan berbasis data ternyata berhasil disampaikan dengan bahasa lugas dan enak dinikmati orang awam. Di sini Peter Carey ngejawab pertanyaan apakah peran perempuan cuma jadi konco wingking? Perempuan jawa khususnya tidak pantas hanya dijadikan babu. Sebab nenek moyangnya adalah para perempuan perkasa seperti Nyai Ageng Serang, Ken Dedes, dan Kartini. Rasa bahagia dalam penulisan buku ini amat terasa ketika tiap dikabari cetak ulang, Peter Carey selalu menyempatkan menulis prakata yang dikaitkan dengan isu perempuan paling relevan di masa kini.
Profile Image for jaja.
43 reviews1 follower
August 2, 2021
Buku ini menjadi salah satu bukti, bahwa perempuan berkontribusi besar dalam segala aspek kehidupan di suatu negara. Perempuan-perempuan di Jawa begitu luar biasa. Lewat buku ini, saya mengetahui tokoh-tokoh perempuan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Buku ini juga memberikan beberapa ilustrasi gambar. Bukunya tipis, namun begitu menarik.
Profile Image for Ade A. Wahab.
11 reviews
April 11, 2024
A good book about women's role in Java in the 18th-19th century.
A fascinating overview of the Java culture and history (maybe, especially for non-Java readers), the Java war, Polynesian matriarchy, and intrigue of how Dutch colonialism and the entrance of Islam affected the Java people and their civilization.
Profile Image for oliviaprst.
7 reviews42 followers
August 12, 2019
cocok sebagai pemantik diskusi mengenai perempuan priyayi di tanah jawa, khususnya jawa tengah. namun belum mampu menjawab pertanyaan seputar faktor penyebab perubahan stigma tentang perempuan pasca perang jawa. hanya menampilkan perang sentral tokoh-tokoh tertentu pada masanya.
Profile Image for aurellia ✧⁠*⁠。.
186 reviews3 followers
October 17, 2023
this book was so useful, but entertaining as well. I didn't know that there were so much of brave women out there, and it was like giving me the inspiration to behave and act like them, as if nothing to fear. i enjoyed reading this one !
Profile Image for Tyas.
Author 38 books87 followers
May 3, 2024
Pengantar ringan dan ringkas bagi sejarah perempuan di tanah Jawa. Menarik, meski tidak terlalu mendalam, dan bisa jadi sedikit membingungkan kalau kita belum akrab dengan sejarah Jawa pada khususnya.
45 reviews
June 25, 2024
A glimpse that provides a rebuttal to European writers' depictions of Javanese women which are full of orientalist influences. Briefly explains the role of palace women in daily life involving politics and even the military.
28 reviews
November 6, 2024
Buku ini bagus sebagai pengantar tentang perempuan di kalangan ningrat di awal tahun 1800an. Ternyata banyak hal cukup progresif waktu itu bagi perempuan kalangan tersebut, seperti hak punya tanah, boleh minta cerai, termasuk di dalam pemerintahan
Displaying 1 - 30 of 48 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.