Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.
Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.
Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.
Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.
Dewi Kharisma Michellia was born in Denpasar, 1991.
Her work, Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (A Long Letter of Our Million Light-Years Distance) was published by Gramedia Pustaka Utama in 2013 after winning the 2012 Jakarta Art Council Novel Contest, which later short-listed as the 2013 Khatulistiwa Literary Award. In 2016, A Copy of My Mind, a film-to-novel adaptation, published by Grasindo. Still at the same publisher, in 2017, her first collection of short stories, Elegi (The Elegy), was published. In 2015, she received the Taruna Sastra award from the Language Development and Fostering Agency. In 2017, she spent writing residency in Orly and Paris, France funded by the National Book Committee. In 2018, she joins Ruang Perempuan dan Tulisan (Women Writers Room and Writings). Later in 2022, the collective published a book on forgotten women writers in Indonesia.
She has served as managing editor for various online publications since 2013, jakartabeat.net and jurnalruang.com, and literary criticism site tengara.id, also edits and translates fiction and nonfiction books. She is currently a member of the literary committee of the Jakarta Arts Council for the 2023-2026.
Agak aneh sih ya kalau dibaca dalam bentuk novel. Sepanjang membaca saya membayangkan visualnya terus meskipun kenyataannya saya belum pernah nonton filmnya. Narasinya bagus dan mendalam, sarkasme plus emosi Sari dan Alek dapet... cuma yah... sebagai novel, kesan antiklimaksnya jadi kuat banget. Pada akhirnya saya nggak paham apakah ini romansa murni atau romansa berbalut politik seperti yang digadang-gadang di sinopsis film & novelnya karena unsur politik di novel ini terkesan hanya tempelan. Setengah bagian buku isinya tentang kehidupan Sari, Alek, lalu romansa mereka. Saya mengernyitkan dahi terus, mana bagian ketegangan politiknya? Bukannya katanya pasangan ini bakal tak sengaja terlibat di permainan politik.... Tapi sepertinya saya salah sangka atau ekspektasi saya ketinggian. "Terlibat" yang saya pikirkan bukan seperti itu, atau kalaupun seperti itu, tidak se... sedangkal itu. Barangkali di filmnya beda ya... karena medianya visual, jadi adegan-adegan "terlibat di permainan politik"-nya lebih menonjol. Di novelnya ini, begitu menutup buku yang tersisa hanya, "Udah nih? Gini doang?"
Belum nonton filmnya jadi nggak bisa bandingin. Review ini murni penilaian saya berdasarkan bukunya. Ceritanya lumayan, tapi datar banget di lebih dari separuh awal. Kalo filmnya mendingan kali ya, soalnya nggak bakalan bosen melototin Tara Basro xD Dua yang saya sayangkan: -POV-nya pake orang pertama (Sari dan Alex bergantian). Menurut saya sih harusnya lebih baik menggunakan POV 3. Di sini malah sering kali saya liatnya si penulis sendiri yang bersuara, bukannya Sari atau Alek. - Tata bahasanya. Nafas, memperhatikan, menghembuskan. Itu aja sih yang saya ingat. Terutama nafas, banyak banget bertebaran. Intinya, sebagai pelengkap filmnya, oke sih. Cuma sebagai novel utuh, jujur saya kecewa. Padahal ekspektasi saya tinggi banget lantaran ngefans sama karya debut penulisnya.
Beberapa quote yang saya suka:
"Sekarang, bokep kalau dikasih subtitle, pembelinya lebih banyak. Kita mesti kreatif, kalau film-film bajakan biasa, mah, sudah enggak laku. Apalagi film yang orisinal."
"... 'Tapi, yang lu dapat gambarnya bagus, kan?' Dia justru balik bertanya. 'Gambarnya bagus, enggak?' 'Bagus. Cuma teksnya jelek.' 'Lu mau nonton teks atau mau nonton gambar?' 'Ya, kalau enggak ada teksnya, gue nontonnya gimana?' ..."
Setelah kelar membaca novel adaptasi ini, aku lanjut maraton nonton filmnya. Oke, aku merasa beruntung baca A Copy of My Mind versi novel lebih dulu.
Kalau aku nonton filmnya duluan, pasti banyak timbul pertanyaan sebab plot ceritanya kurang detail dan beberapa kausal adegannya bikin kening berkerut. Sepanjang nonton, yang terbayang malah narasi yang ditulis Dewi Kharisma Michellia di buku ini. Imajinasiku memang secetek itu.
Banyak sekali hal abu-abu di film yang terjelaskan di sini (kurasa buku ini memang dibuat sebagai panduan filmnya). Misalnya, adegan Alek menerjemahkan film bokep gay, adegan Sari mematikan TV karena mengeluhkan terjemahan film, dan tentu saja pikiran-pikiran implisit dalam kepala Alek dan Sari yang nggak bisa dilihat lewat visual.
Sebagai buku adaptasi dari skenario film, buku ini ditulis dengan baik. Aku bilang baik karena bisa dibaca tanpa harus menonton filmnya.
Suka banget! Kebetulan saya lebih dulu nonton filmnya. Makanya, ketika dapat informasi-informasi baru yang lebih detail, saya langsung excited banget. Mungkin, film memang punya keterbatasan durasi tapi buku jelas punya peran yang penting buat bikin jalan ceritanya lebih jelas dan hidup. Penggambaran masyarakat urban kelas bawah dan kesenjangan sosial di ibu kota beneran realistis, persis kayak apa yang selama ini saya bayangkan. Yang miskin dipaksa bertahan, yang kaya makin kaya meski ada di tahanan. Penokohan Sari sama Alek-nya juga nggak jauh-jauh sekali dari filmnya yang digarap Joko Anwar. Si tukang salon yang suka dengan film dan si tukang penerjemah teks DVD bajakan. Jatuh cinta di Jakarta, yang panas, sesak, dan pengap.
Premisnya bagus, tapi sayang banget eksekusinya jelek. Cara mengakhirinya bener-bener datar dan hambar. Kayak, "Yaudahlah cerita ini selesai," atau "Yah, sampai di sini dulu cerita ini," gitu lho. Ya mirip-mirip filmnya, sih, karena novel ini kan juga ditulis setelah filmnya rilis. Mungkin juga karena kisahnya nyaris nggak ada konflik yang berarti (maksudnya konflik yang sampai bikin klimaks gitu) jadinya jalan cerita cenderung stagnan. Di sisi lain, narasi Alek yang penuh satire juga kurang nendang, seperti sekadar kegelisahan-kegelisahan yang hinggap di kepala kemudian menguap begitu saja. Saya kasih bintang empat karena naksir sama bagaimana tokoh Sari dan Alek yang menyikapi betapa menyebalkannya hidup dalam kemiskinan dengan harus tetap jadi penonton akrobat politik yang seperti badut sirkus. Representasi masyarakat kita banget, kan?
pertama menemukan judul film ini dari rekomendasi seorang teman yang katanya ini adalah salah satu film terbaik Indonesia yang tidak boleh dilewatkan. namun karena belum sempat mencari filmnya saya malah dipertemukan dg bukunya, akhirnya memutuskan tuk membaca dulu sebelum menonton.
sebetulnya ingin memberi lima bintang karena personally suka dengan intimacy antara Alek dan Sari, kisah hidup yang terasa sangat nyata seperti kehidupan yang terjadi sehari-hari tetapi endingnya kurang mengena, padahal jalan cerita dan cara penyampaian sudah terasa baik tapi entah kenapa tiba2 ada sesuatu yang hilang/kurang ketika memasuki bagian akhir, banyak hal-hal yang menuai pertanyaan yang tidak terjawab.
Ceritanya lumayan bagus. Tetapi aku belum nonton filmnya. Semoga filmnya bagus lah yaa.. Di novelnya sih lebih membahas ttg kehidupan si tokoh masing² yaitu Sari dan Alek, terus ada gambaran ttg politik/masyarakat kala itu, lalu percintaan Sari dan Alek yg tba² datang aja sperti terburu², kek tiba² udah jadian aja gitu.. Entah karena nafsu atau bagaimana. Kemudian si Sari harus terlibat maslah gegara ngambil keping DVD Bu Mirna yg membuat si Alek pun melindungi si Sari. Dalam cerita ini, ada beberapa bagian yg membingungkan. Endingnya pun jg rada menggantung bagi aku. Agak kecewa sih kalau misalkan emg bener Alek itu gak ada alias hanya mimpi. Tapi cerita ini cukup romantis sih walaupun menurut aku kisah percintaan mereka terlalu buru-buru.
"Kamu percaya enggak kalau takdir pertemuan itu memang seperti itu sifatnya?" "Seperti bagaimana?" "Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang paling penting di hidup kita." ---halaman 114
A Copy of My Mind adalah buah karya sutradara Joko Anwar yang dinovelisasi oleh Dewi Kharisma Michellia. Sebuah cerita dengan plot yang luar biasa: memotret kehidupan kaum urban level bawah dengan segala hiruk-pikuknya dalam bertahan di ganasnya kota metropolitan. Apalagi, yang menjadi bidikan temanya adalah tentang DVD bajakan. Betapa mirisnya, karena kemungkinan besar film ini pun akan bernasib sama di tangan para pengusaha lapak bajakan itu. Menurut saya, ini adalah ide yang cerdas. Menyinggung dan menyasar tepat pada sasaran.
Sebagai tangan yang bekerja untuk pembuatan novelnya, Dewi Kharisma Michellia mengemasnya dengan sangat apik. Jujur saja, menurut saya filmnya membosankan, saya berhenti menonton di tengah jalan (dan sebagai kaum yang agak sedikit idealis, maafkan saya karena menontonnya di yuchub karena memang filmnya sudah tidak lagi ada di pasaran *merasa ikutan kesindir oleh ide yang diangkat*). Ada banyak plot hole yang tidak terjelaskan atau tidak tersuarakan dari filmnya. Dan rupanya, kekosongan "suara" dan "cerita" itu benar-benar diisi dengan baik sekali di novelnya. Sebab-akibat yang menjadi jalan cerita sangat diperhatikan dengan detail. Suara-suara yang tidak tersuarakan oleh gesture pemain, diungkapkan dengan bahasa yang tepat pada maksdunya.
Ini adalah novel kedua dari penulis yang saya baca (dan ternyata memang novel keduanya) setelah sebelumnya menikmati Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya yang merupakan pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Salut dengan kepiawaian penulis meramu jalan cerita, mengemasnya dalam balutan diksi dan pemilihan kalimat yang luar biasa. Pembaca dapat merasakan langsung kehidupan dalam novel ini seolah itu disajikan dan dirasakan sendiri di depan mata. Sebagai seseorang yang pernah tiga minggu berada di Jakarta (jangka waktu yang sangat pendek memang, tapi cukup menggambarkan situasi dan kondisi di sana karena memang saya di sana tidak dalam rangka vakansi), gambaran realita yang dipaparkan sungguh mengingatkan saya akan momen berada di kota itu. Sebuah kisah kehidupan yang sayangnya jarang diangkat sebagai tema dalam novel populer.
Dari segi tokohnya, Alek misalnya, adalah gambaran real keadaan masyarakat kebanyakan. Kita tidak bisa tutup mata, bahwa di sekitar kita banyak tipikal manusia yang memilih "kebebasan" sebagai jalan hidup mereka. Alek bukan orang yang tidak berpendidikan, ia bahkan mampu menangkap fenomena kehidupan di sekitarnya untuk dijadikan bahan tertawaan. Pemikirannya juga dalam, tentang pemaknaan hidup dari sisinya. Lalu dengan Sari, yang memiliki optimisme hidup sekadar memenuhi impian dan cita-citanya yang berhubungan dengan hobi menonton film, Alek menemukan sosok seorang wanita yang selama ini tidak pernah masuk ke dalam kehidupannya.
Sari adalah tipikal gadis lugu berpendidikan rendah yang hidup merantau di kota. Namun semenjak pertemuannya dengan Alex, ia pun mendapatkan sosok yang bisa dibaginya dalam hal mengeluhkan beban hidupnya yang kian menghimpit.
"Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kau terawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup." ---halaman 115
Saya mengacungkan jempol terhadap ide cerita ini. Memaparkan realitas tentang jurang pemisahan yang begitu besar antara si miskin (diwakili Sari) dan si kaya (Bu Mirna), tentang ketiadaan mimpi karena sarana untuk meraih mimpinya yang tidak terpenuhi, tentang bagaimana mengangkat cerita dari kacamanta orang lain yang memiliki pandangan hidup berbeda dengan kita (atau saya).
Terlepas dari apakah kita memilih untuk mengamini jalan pikiran penulisnya, saya rasa novel ini layak untuk dijadikan bahan perenungan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang mengikut di belakangnya. Ketika kau memilih untuk tidak percaya terhadap identitas, kau akan menanggung sendiri risikonya. Pun begitu juga ketika kau mengambil jalan untuk tidak percaya pada Tuhan. Bukan ranah manusia untuk memberikan penghakiman. Namun, sebuah kisah tentu akan menuai banyak sekali pelajaran.
Satu hal yang menjadi kekurangan dari novel ini adalah tidak adanya penanda bahwa novel ini adalah novel dewasa. Ada adegan dewasa yang dideskripsikan dalam ceritanya. Seharusnya, pihak penerbit memberikan warning agar tidak semua kalangan usia bisa membacanya. Meskipun, justru biasanya kalau sudah diperingatkan begini bikin orang penasaran, tapi setidaknya dengan memberikan label "novel dewasa", pihak penerbitan sudah turut andil dalam memberikan peringatan kepada calon pembacanya. Katakanlah saya terlalu saklek dalam hal beginian =)) tapi ini saya rasa perlu. Terlepas dari apakah efektif atau tidak dengan adanya peringatan tersebut, setidaknya dengan memebrikan peringatan, pihak penerbit sudah "terbebas" dari tanggung jawab moral terhadap isinya.
Terakhir. Saya harus mengapresiasi dan mengangkat topi dengan kemampuan penulis dalam mendeskripsikan adegan-adegan tertentu sehingga membuat novel ini layak baca tanpa mengurangi maksud dari scene yang sedang disampaikan.
Ini benar-benar terakhir deh =)) Agak sedikit protes boleh ya. Kenapa cover depannya gambar Chico Jericho ya? Padahal versi Tara Basro yang ada di back cover lebih cakep menurut saya =))
Baru tahu kalau novel ini merupakan adaptasi dari film, bukan novel ini diadaptasi ke film. Jadi sebenarnya sudah pingin banget nonton filmnya, tapi karena belum kesampaian, kemudian nemuin novel ini di iJogja, jadi baca ini dulu.
Pertama kali baca karyanya Dewi Kharisma. Novel ini kayaknya dibagi jadi tiga bagian: 1) bagian awal yang datar; 2) cinta-cintaan Alek dan Sari; 3) Sari mengambil DVD-nya Bu Mirna. Paling suka karena diceritakan dari 2 sudut pandang, berasa baca Entrok-nya Okky Madasari.
Baru tau kalo ternyata skenario film ini diadaptasi ke novel. I didn't watch the film, tapi sempat nonton beberapa interview Joko Anwar yang sedikit membahas film ini. Narasi novelnya cukup bagus dan nggak bikin bosen. Sayangnya, konflik yang cukup seru justru baru muncul di sepertiga akhir. Padahal menurutku, justru part ini yang menarik untuk di-built up. Mungkin kalo beneran di-built up, bisa jadi cerita bergenre mystery atau justru thriller. But overall, meskipun nggak bikin amazed, tapi premis dan narasinya masih selamat. Nice book.
Timbunan yang dibaca sebelum dihibahkan. Buku yang menarik. Pertemuan cinta, sering melalui jalan yang unik, seperti tokoh dalam buku ini.
Kalimat yang layak direnungkan pada halaman 65, "Kenapa manusia mencari rasa aman? Padahal mereka bisa meninggalkan semua hal, berkelana tanpa identitas. Mungkin hidup seperti itu lebih layak dihadapi."
Kebetulan aku nonton dulu filmnya baru sekarang baca novelnya. Sepanjang baca buku ini jadi yang kebayang adalah tokoh Sari-Alek yang diperankan Tara Basro sm Chicco. Ku suka novelnya, narasinya bagus tapi sayang endingnya kurang dapet. Seperti ada yang tidak tersampaikan.
I do not like the way the story is closed. Nevertheless, it is performed in a good way even if I think Sari becomes too naive near the end of the story with respect to the case of Ibu Mirna.
Sari dan Alek, dua manusia yang dipertemukan secara kebetulan oleh satu kesamaan : film. Sari menjadikan film sebagai pelepasan atas penatnya hidup di kota besar, sementara Alek mengais rejeki dari pekerjaan sebagai penterjemah teks film (bajakan). Sari, penggemar film bernuansa monster, tak puas dengan hasil penerjemahan teks melancarkan protes pada pemilik lapak DVD bajakan tepat pada saat Alek ada di tempat yang sama. Keduanya merasakan ada ketertarikan satu sama lain. Dan dimulailah kisah keduanya.
Saya menemukan kalimat 'a film by Joko Anwar' di sampul novel adaptasi oleh Dewi Kharisma Michellia. Oh, jadi ini novel yang disadur dari sebuah film, begitu yang terbenak di saya. Film apa itu? Saya belum pernah tahu. Dan saya memutuskan untuk tidak mencari tahu hingga saya selesai membaca novel ini secara keseluruhan. Saya membebaskan diri dari ekspektasi, dari keharusan membandingkan antara karya sebelumnya dengan novel ini.
Novel setebal 197 halaman ini berjalan dengan alur lambat. Hingga halaman 134, nyaris tak ada konflik berarti. Cerita berputar di sekitar kehidupan Sari dan Alek, proses pengenalan diri, pekerjaan masing-masing, hingga tumbuhnya cinta. Selipan cerita dari film ada di sana-sini. Beberapa bagian bahkan menyentil kejadian nyata. Seru! Gaya bahasa yang dipakai Michella lugas, mengalir lancar. Bercerita dengan teknik dua tokoh 'aku', setiap tokoh menawarkan rasa yang berbeda. Cara pikir Sari dan Alek dijabarkan dengan runtut diselingi humor satir perihal kehidupan. Menyegarkan... walau akhirnya membosankan. Apa enaknya membaca novel tanpa konflik?
Mulai halaman 135, barulah konflik 'sebenarnya' diperkenalkan. Karena tindakan impulsif Sari mencuri DVD milik Ibu Mirna, salah satu klien yang sedang mendekam di 'penjara bintang lima', Sari dan Alek menemui masalah. Ketika sampai di halaman ini, saya sedikit khawatir. Bukan apa-apa, konflik baru dimulai sedangkan sisa halaman novel terlihat semakin tipis. Apakah konflik dapat di atasi dengan baik? Seperti apa penyelesaiannya? Akhirnya saya terpaksa kecewa karena cerita berakhir 'begitu saja'. Saya cuma bisa berujar, 'Oh'.
Di bagian 'ucapan terima kasih', Michellia menyebutkan bahwa sutradara film A Copy of My Mind, Joko Anwar, membebaskan ia untuk 'menuliskan novel adaptasi sebebas-bebasnya, tanpa pembatasan'. Ia juga dibolehkan untuk menuliskan adegan tambahan, bahkan mengoreksi adegan dalam film. Sebuah privelese bagi penulis yang sebelumnya menelurkan karya perdana 'Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya'. Kemewahan ini membuat saya bertanya-tanya : sudahkah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Saya belum menonton film aslinya yang berhasil diputar pertama kali pada seksi Film Kontemporer Dunia pada ajang Festival Film Internasional Toronto 2015 yang bergengsi. Apakah ujung kisah film sama dengan versi novel? Saya tak tahu. Seandainya akhir cerita film memang 'seperti itu', tidakkah penulis berpikiran untuk memberikan sebuah penyelesaian yang lebih 'dramatis' ketimbang akhir yang menggantung? Bukankah empunya film sudah memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya? :)
Saya kebetulan belum nonton film a copy of my mind milik Joko Anwar, setahu saya mungkin film ini kurang laku di pasaran namun dari beberapa reviewer Film ini mendapat kritik yang lumayan bagus. Maka saya tertarik ingin membaca novel adaptasi film a copy of my mind ini. Novel ini menceritakan Sari wanita yang tak percaya ikatan pernikahan dan Alek pria tanpa identitas tanpa cita-cita, mereka hidup di tengah kota metropolis yang hanya bisa dihuni oleh orang-orang sabar calon penghuni surga. Cerita berlanjut tentang kisah percintaan Sari dan Alek yang percaya mereka adalah orang yang paling bahagia saat itu di tengah kota metropolis yang penuh dengan hiruk pikuk politik. Secara keseluruhan saya pada mulanya cukup menikmati cerita percintaan dari Sari dan Alek, namun ketika cerita mencapai inti klimaksnya plot cerita malah menurun menjadi kurang asik lagi untuk dibaca, mungkin karena dikaitkan dengan isu politik yang 't*ik' seperti yang selalu dikatakan Alek? Bagian akhir cerita terus menerus menggambarkan betapa buruknya sistem politik dan pemerintahan bangsa itu, yang secara paksa tiba-tiba merubah kehidupan Sari dan Alek diputarbalikkan menjadi korban jahatnya sistem politik. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam pengaitan cerita percintaan Sari dan Alek ke dalam putaran dunia politik, namun pemaksaan cerita yang terlalu memaksa itulah yang membuat 'blunder' cerita film ini menjadi sedikit kurang mengasyikkan. Namun, saya suka dengan penggambaran sebuah kota metropolis namun tidak disebutkan dimana latar kota tersebut diambil, meskipun kita pasti langsung tahu. Kita diajak berkenalan dengan kehidupan yang sumpek di bagian kelas bawah sebuah ibukota metropolis. Selain itu saya juga suka bagian dimana Sari menceritakan sebuah film tertentu tanpa disebutkan judulnya hanya berupa sinopsis singkat, yang membuat saya jadi ikut menebak film apa yang sedang dibicarakan. Sudut pandang yang diambil oleh novel ini sebetulnya tidak terlalu mengganggu, saya sangat suka ketika penulis menceritakan tentang Sari, sangat terbayang jelas sosok Tara Basro yang memerankannya. Tapi saya kurang sedikit menikmai cerita yang diceritakan oleh sudut pandang Alek, entah karena penulisnya seorang wanita sehingga kurang bisa menggambarkan pikiran seorang lelaki absurd tanpa cita-cita. Saya salut kepada penulis pada beberapa bagian yang menggambarkan betapa sentimen nya tokoh Sari dan Alek dalam isu-isu politik seakan-akan memang itu adalah Joko Anwar yang sedang menuliskannya. Pandangan-pandangan Joko Anwar (dapat terlihat jelas dalam akun Twitternya) yang seakan 'muak' dengan politik negeri ini disampaikan dengan apik oleh penulis. Saya suka! Tapi dari semua kekurangannya saya suka dengan tema kritik sosial yang ingin dibawa oleh Joko Anwar.
Apakah saya akan tertarik untuk menonton filmnya setelah membaca novel adaptasinya? Pasti! Namun akan jadi film diurutan sekian yang akan ditonton.
Btw, Terimakasih atas goodreads' giveaway-nya mbak Dewi!
Pertama kali saya melihat novel ini ketika menyusuri rak novel; Sabtu 9 April 2016, kemarin dengan nama penulis yang sudah familiar. Usut punya usut ternyata novel ini merupakan adaptasi dari film yang digarap oleh Joko Anwar dengan judul yang sama. Ketertarikan saya dengan novel ini karena penulisnya, Dewi Kharisma Michellia. Alumni sastra Inggris UGM. Pertama kali saya membaca karyanya yang berjudul Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (Naskah yang Menang dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2013), langsung kena sekali dengan gaya penuturan yang meminimalkan dialog antar tokoh, bahkan tidak ada. Saya penasaran bagaimana gadis kelahiran Bali tahun 1991 menulis A Copy of My Mind. Di rumah, saya langsung membuka sampul plastik yang membukus rapi buku berkover bintang film yang sudah terkenal seantro Indonesia: Chiko Jerico. Hari gini menceritakan kasus makelar UUD? Sangan unik. Dan tanpa dinyana ketika saya membuka sampul pertama, ternyata editor A Copy of My Mind semakin menambah rasa penasaran saya tentang isi buku ini, sebab Septi Ws merupakan teman kami ketika mengikuti Akademi Bercerita Bentang Pustaka 2014. Ia termasuk sosok yang nyentrik, yang saya tahu selama kebersamaan kami satu bulan lebih dua minggu. Alumni Sastra Indonesia UGM ini, patut dijadikan sosok menginspirasi bagi pegiat buku, kiprah Septi langsung melesat. Selama masih menjadi mahasiwi, ia sudah aktif menjadi penata aksara untuk buku-buku cerita fiksi. Seusai wisuda, ia menjadi editor di salah satu grup Gramedia. Tentang A Copy of My Mind. Dewi Kharisma melalui Alek mengelupas tentang kehidupan Jakarta yang riuh tetapi mengandung trik-trik dalam kehidupan di balik gedung bercakar. Seorang yang terpaksa dancing out dari universitasnya karena salah jurusan, yang mencoba bertahan hidup dengan menumpang di rumah temannya –Leo. Hidup gratis dengan syarat merawat Ibu nya. Alek menjadi seorang penerjemah text pada DVD bajakan yang tersebar di seluruh Jakarta. Selain menceritakan sisi kegelapan Jakarta, bingkai cerita ini juga dibungkus dengan cerita romance yang sangat kebarat-baratan. selengkapnya bisa diakses di sini: https://kingkinkinamu.wordpress.com/2... bintang tiga untuk cerita ini ;)
Buku ini diambil dari 2 POV yaitu Sari dan Alex. Sari yang merupakan pegawai salon kecantikan yang hobinya menonton film bertemu dengan Alex yang merupakan bekerja sebagai penerjemah DVD bajakan. Disinilah keduanya mulai jatuh cinta. Sayangnya semua itu berubah ketika Sari disuruh memberi perawatan kepada tahanan yang bernama Ibu Mirna, seorang terdakwa kasus Korupsi yang melibatkan para pejabat negara.
Saat membaca buku ini sekilas mengingatkan saya akan karya Okky Madasari yang berjudul 86 yang sama-sama mengaitkan dengan kasus korupsi, kemiskinan yang menghimpit kehidupan dan pasangan muda mudi. Jujur saja saya sangat jarang menonton film Indonesia dan saya baru tahu ada film A copy of mind yang diperankan oleh Chicho Jericho dan Tara Basro pada 11 februari 2016. Teman saya juga pernah mengatakan ingin menonton film ini tetapi saya tidak begitu ingat apa alasan dia ingin menontonnya. review buku ini murni dari saya yang hanya membaca buku jadi belom dibandingkan dengan edisi filmnya. Hahhaa coba saya nanti nonton filmnya dulu ya >__<
Semangat terus ya Michel untuk tetap berkarya! Kapan kita ketemuan lagi? ;)
Saya menonton filmnya dan sebagai penonton memahami karakter Sari dari visualisasi yang dibuat Joko Anwar terhadap tokoh ini. Entah mengapa di novelnya, Sari jadi setingkat lebih "cerdas" ketimbang karakter yang saya pahami melalui film. Mungkin jika penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, Sari akan terbebas dari kesan "lebih pintar". Sebagai orang yang kenal penulisnya, saya tahu Michell memang lihai memilih diksi. Tetapi diksi yang dipilih jadi terasa terlalu "grande" untuk tokoh Sari yang sederhana dan apa adanya (meski bukan tak mungkin ia juga dapat kritis dalam kesederhanaan itu). Film-film kesukaan Sari yang cenderung lebih suka genre fantasi juga jadi tidak nyambung dengan jiwa kritis yang ditulis Michell di novel.
Tapi saya akui Michell lebih tepat menggunakan sudut pandang orang pertama untuk Alek. Dialog dan narasi berpadu, tidak berdiri sendiri-sendiri seperti tokoh Sari.
Untuk adegan ranjang, hmm, mungkin Michell harus mengalaminya sendiri agar adegan dalam novelnya bisa lebih "hot" sesuai dengan peluh-peluh yang dikeluarkan oleh Alek dan Sari. Menggunakan perumpamaan penjelajah dan yang dijelajahi memang cukup membantu, tapi kurang apa gitu ya, hahaha.
Over all, novel ini masih jauh jauh jauh lebih baik dari novelisasi AADC atau novelisasi film Indonesia lainnya, menurut saya.
ga sempet nonton filmnya. hiks. padahal dua pemain utamanya favorit bgt. hiks lagi. dan garapan joko anwar pula, yg taste filmnya selalu cocok sama selera saya. fyi, ini novelisasi film yg cukup asik. penuh ironi. lalu juga sederhana dg romantisme yg ga berlebihan. i can really feel how they're trully in love dari cara penulis mendeskripsikan detail gambaran perasaan mereka berdua. bacanya pun jadi ikutan jatuh cinta tapi jg ikutan ngenes, krn bagi beberapa org, menjalani hidup itu sesusah: bisa makan apa hari ini. terakhir, ga nyangka ngebahas politik makelar undang2 dilihat dari pov warga pinggiran biasa yg tengah jatuh cinta itu ternyata semenarik ini. :)
ps : ditambahin satu bintang lg krn saya suka dg ide mas2 tukang bikin subtitle hasil google translate utk dvd bajakan yg jatuh cinta dg mbak2 salon yg hobi nonton film 'makhluk-mahkluk'. hihihi
Berhubung saya belum nonton filmnya (sedih karena nggak nonton adegan syur Tara Baso dan Chiko), jadi saya membaca buku ini seperti memasuki rimba baru tanpa pretensi tertentu, kecuali sosok Alek dan Sari yang sudah melekat ke kedua pemeran utamanya di film.
Kisahnya sangat ironi. Apalagi kehidupan yang disorot kehidupan pinggiran Jakarta. Potret politik dan sosial masyarakat yang dicapture oleh lapisan bawah, yang di pikirannya hanya ada 'besok makan apa?'
Di sisi lain ada humor untuk menertawakan kegetiran hidup. Seperti kalimat keren pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kamu tertawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup (yang getir ini). Cakep!!!
belum nonton filmnya jadi baca bukunya aja dulu. kalo di buku debutnya, mbak Dewi jagonya berdeskripsi panjang. di buku ini mbak Dewi piawai membuat monolog yang panjang. meski sangat disayangkan karena banyak pengulangan kata yang sama. tapi balik lagi, mungkin berpatok pada bahasanya Alek dan Sari yang hanya dua orang rakjat jelata dari puluhan ribu kaum metropolitan.
begitu tau konflik di bukunya, saya agak ragu untuk menonton filmnya. jadi masalahnya cuma gitu tho? tapi membaca epilog dalam buku, membuat saya penasaran untuk menonton filmnya. *labil*. apalagi bayang-bayang Chicco Jerikho yang topless....
Dapet novel ini dari menang giveaways di goodreads yg diadain Mba Michellia hihi. Makasi banyak Mba! Belum nonton filmnya dan dari novel ini berharap bisa dapet sense filmnya yg emg udah kuat banget dari awal tapi jujur ga terlalu menikmati bacanya terkesan kecepetan alurnya. Tokoh si sari bener-bener bikin gemessssssssss segemes gemesnya. Pemilihan katanya bagus tapi buat si sari yg "cuma facial therapist" dia ngerti kata entitas itu buat saya bertanya-tanya whether sayanya yg kurang byk vocabnya atau dianya yg kecanggihan. Overall good job, Mba Michellia!