Selir Musim Panas adalah lirik-lirik perih yang menggambarkan intrik pada masa sebelum dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok
Teks-teks ini juga menunjukkan sisi lain Mao, Tiananmen, Puyi, kegairahan selir-selir menghadapi hidup dan kematian, serta pencarian jati diri kemanusiaan.
***
Aku Tzu Hsi, satu dari ratusan selir.
Aku candu yang menaklukkan Kaisar Hsien Feng.
Aku memang hanya selir.
Tetapi akulah yang melahirkan penerus kaisar.
("Candu Kaisar")
"Kau telah kehilangan kekuasaan, Anggrek," kata telur itu. Jangan kaulahap apa-apa lagi. Apa pun yang kaulahap akan ganti melahapmu."
("Racun")
Tak kudengar apa-apa lagi. Mungkin ada yang menggesek erhu. Mungkin ada yang menyanyikan lagu sedih untukku. Untukku ajal sia-siaku.
Triyanto Triwikromo (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964; umur 50 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.
Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama.
Buku puisi ini sebaiknya ditandai dengan 18+ di bagian belakang kayaknya, karena memang ditulis sebagai cerita dewasa, puisi panjang dan penuh soal selir, bahasanya tidak malu-malu, lugas.
Selir Musim Panas adalah kumpulan puisi tentang kekaisaran Cina, tentang Selir Tsu Hsi dan selir lainnya. Entah kenapa walau puisinya begitu padat, ceritanya tetap enak untuk dibaca.
Ditambah lagi dalam buku ini diberi beberapa ilustrasi yang cakep sekali, saya suka, walau memang porsinya dikit.
Disuruh baca buku buat kompetisi literasi and I just picked up this book. Topiknya sulitttt. Menceritakan tentang sebuah permaisuri atau selir? yang bernama Tzu Hsi. Selama baca buku ini, aku dikit-dikit liat google karena ada banyak tokoh Tiongkok yang nggak kukenal. Aku paling suka chapter terakhir Cermin yang menceritakan secara langsung dan bukan puisi. Aku nggak paham puisi.
Dalam buku ini, saya menemukan bentuk dan upaya yang sama pada buku puisi Triyanto sebelumnya, Kematian Kecil Kartosoewirjo. Melalui puisi demi puisi, dibangun cerita yang mengajak pembaca untuk melihat beragam kondisi. Puisi pertama yang berjudul "Enigma" dan puisi terakhir yang berjudul "Teka-teki desa mati" dalam buku ini menjadi favorit saya.
Siapakah aku? Angin yang menabrak pesawat tembok hening 10.000 Li tujuh bunga ajaib yang terlihat dari bulan ("Enigma")
Buku ini baik untuk dibaca membuka atau menutup hari anda. Selamat menikmati puisi-puisi ini.
Memang harus ada konsep kuat bila ingin membuat buku puisi. Contoh adalah buku ini. Setelah takjub dengan puisi-puisi Pak Tri di Kartosoewirjo, sekarang Pak Tri mengulik kisah-kisah bernuansa Tiongkok. Dan meski aku tak mudeng --soal sejarahnya-- tetapi tetap asyik aja dinikmati. Bentuk dan diksinya, kece badai.