Dalam perjalanannya mencari jejak Elyas, Vakhshur mendapati dirinya terjebak di tengah-tengah kemelut kekhalifahan kaum Muslimin. Sejak ‘Umar wafat, umat Islam seakan terbelah menjadi dua, pendukung ‘Utsman bin Affan dan pendukung Ali bin Abi Thalib. ‘Utsman, sebagai khalifah terpilih, menyadari bibit-bibit perpecahan mulai tumbuh. Dan, demi mencegah kobaran api konflik, ‘Utsman dan Ali berusaha untuk menyatukan dan mendamaikan kembali hati umat Islam.
Sementara itu, perjalanan Vakhshur berlanjut kendati yang dia temukan lagi-lagi hanya jalan buntu. “Jejak Tuan Elyas telah lenyap ....” kata Vakhshur putus asa. Namun, di sebuah desa pinggir sungai Nil, Vakhshur akhirnya mendapati kembali jalan menuju Elyas lewat seorang biarawati bernama Maria. Dari sang biarawati pula, Vakhshur mengetahui fakta mengejutkan perihal Elyas dan Kashva, sekaligus menguak tabir tentang apa yang tengah dicari keduanya.
“Maria, jadi maksudmu ... Tuan Elyas kemungkinan sedang belajar Islam?”
“Itu jawaban yang aku cari selama belasan tahun ini.”
Islam, agama yang dibawa oleh seorang nabi bernama Muhammad. Itulah keping petunjuk terakhir bagi Vakhshur untuk menemukan Elyas. Lalu, bagaimana akhir pencarian Kashva dan Elyas? Di saat tunas-tunas fitnah tengah bersemi di tubuh Islam, adakah hujan karunia yang menunggu di ujung jawaban? Inilah babak akhir dari perjalanan Kashva mencari kebenaran agama sang Nabi yang terus digemakan oleh para pengikutnya.
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Selesai juga.. Dari zaman wahyu pertama turun sampai terakhir kepemimpinan Ali ra.. Islam memang selalu diperangi oleh orang-orang yang tidak pernah mau menerima kebenaran. Zaman Keemasan dan kemurnian Islam, dan ketaatan pemeluk/penduduk dibawah kekuasaan pemimpin Khalifah hanya sampai dikekhalifaan Umar bin Khatab ra. Khalifah Utsman ra dan Ali ra. sudah disusupi fitnah dan perang internal. Semuanya berawal dari kata "sombong". Orang-orang merasa lebih tau dari ulama, suka menghakimi, dan menyebarkan berita-berita bohong demi kepentingan nafsu. Dan semua itu menjadi cikal bakal pertumbuhan islam seterusnya, golongan-golongan islam mulai tumbuh dan terpecah. Iya..Kejayaan islam memang tidak berhenti disitu, tetap berlanjut ke beberapa khilafiyah dan dinasti-dinasti tapi buku ini kan sampai zaman Ali ra. saja.. :)
Saat kembali di masa kini, Islam tetap diindentikkan dengan perang. Islam seolah-olah suka perang. Tapi bila mengkaji sejarah, Islam adalah korban. Negara-negara Islam yang diperangi adalah negara-negara timur tengah yang berusaha menjalankan Islam dengan murni tapi selalu disusupi oleh 'kelompok2/golongan2 sombong' yang merasa lebih benar dan pecahlah perang. *lah kok jadi bahas politik..miris soalnya dengan fitnah2 barat <--- jadi ngomong sendiri..
Kembali kekisah kasvha dan astu.. Panjangnya pencarian yang seakan-akan tidak membuahkan hasil yang diinginkan, sebagaimana 'pertemuan tanpa rasa'..pastilah membuat astu jadi lelah hayati. Saat semuanya astu pasrahkan saja keadaan kasvha yang tidak mengingatnya sama sekali dan berusaha menjalani hidup apa adanya, ingatan itupun muncul setelah luka-luka yang dialami kasvha selama berbulan-bulan. tau begitu mestinya si astu ketokin aja kepala kasvha biar cepat sadar.. :) :) .. anyway..happy ending yang tidak dipaksakan khususnya untuk tokoh2 fiktif dalam buku ini. Dan Kisah-kisah Nabi Muhammad saw. beserta sahabat-sahabatnya cukup mewakili sirah rasul.
Dan seperti kata penulisnya, bahwa rasanya berat menyelesaikan/mengakhiri buku ini setelah sampai ketahap ini, tapi semua ada akhirnya dan harus diakhiri. Sebagimana saya mengakhiri review ini yang tidak semuanya mewakili isi buku ini sendiri.. ^__^
Judul: Muhammad: Generasi penggema hujan Penulis: Tasaro GK Penerbit: Bentang Dimensi: viii + 620 hlm, 23.5 cm, cetakan kedua Juni 2016 ISBN: 9786022911272 . "Ada hal-hal yang hanya bisa engkau pahami ketika engkau mengalaminya. Siapa pun yang memilih jalan agama ini, lalu mengkaji ajaran Nabi, #kerinduan itu seperti sebuah #kekuatan yang menguasai pikiran dan hatimu. Ajarannya seperti #hujan yang membasahi tanah-tanah retak." (H.320)
Meski ini adalah novel biografi, membaca kisah yang bertautan dengan Rasulullah selalu menggerimiskan hati. Ya, saya lama menandaskan buku ini bukan karena tebalnya, tapi karena sesenggukannya.
Membayangkan betapa pedih hari-hari ketika umat mulai terpecah. Betapa berat menjadi khalifah saat dunia (harta dan jabatan terutama) mulai menggoda umat: sebagaimana Ali. Lalu membandingkan diri ini yang tidak ada apa-apanya dibandingkan para sahabat. Namun masih berharap ridhaNya dan surga.
Melalui novel ini, saya lebih memahami emosi dan alasan berbagai kejadian dengan lebih empati. Tidak seperti sirah yang umumnya hanya berupa pengisahan rentetan kejadian tanpa dijiwai. Membuat saya tak paham, apa sih yang bikin marah/sedih/kecewa?
Kadang, mempelajari hal yang serius jauh lebih mudah melalui kisah fiksi bagi saya. Banyak pembelajaran yang saya ambil, antara lain jangan merasa paling benar, suci, dan sombong. Bahkan sahabat yang termasuk 10 orang dijamin masuk surga bisa menyesal karena dunia berhasil mengubah niatnya. Wallahu'alam, meski dijamin masuk surga, tapi saat hisab akan bagaimana? Kita yang gak dijamin surga, lebih-lebih sombongnya? Lucu, bukan!
Saya apresiasi 5 dari 5 bintang, meski menjelang ending, ada beberapa typo.
sampai di buku terakhir series ini, rasanya dilema, antara ingin lekas menuntaskan karena sangat penasaran, tapi juga sayang-sayang kalau terlalu kilat tandas. khawatir merasa hampa seselesainya, dan..
buku ke-4 ini isinya penuh pertumpahan darah yang memilukan. walaupun pada series sebelumnya pun diwarnai dengan perang dan semacamnya, tapi yang membuatnya pilu dan berbeda adalah siapa lawan dalam setiap perang yang dikisahkan pada eksemplar ini: saudara sendiri. sungguh innalillahi, tapi..
bukankah hal tersebut juga kini tengah terjadi di antara pijak kaki kita di bumi? hmm.. hmmm.....
shiroh, sempat membuat diri bertanya-tanya mengapa Ali begini, mengapa Abu Bakar begitu. yaa Allah, betapa malangnya 'Utsman. betapa menggemaskannya 'Aisyah. menyakitkan dan mengejutkan bukan main; Mu'awiyah, Amr bin Ash. kecewa luar biasa, sakit hati, sedih, pedih, marah, tapi leganya juga ada. banyak yang pergi, banyak yang mati. tapi, ada pula yang kembali hidup, kembali bersemi.
cukup kompleks. dan kepada shiroh, rasanya aneh sekali di dada. begini sejarah agama saya? subhanallah. serius pernah terjadi begini? yaa Allah..
rasanya aneh karena, di setiap adegan sedih nan pilu yang teruntai, kita tidak bisa berharap ada keajaiban yang terbit di BAB selanjutnya, sebab kita tahu faktanya. ini bukan fiksi, ini nyata. endingnya tidak bisa kita dikte suka-suka, bahkan tidak kuasa kita reka dan harap akhir bahagia.
jalinan ceritanya apik. terutama mengenai bagaimana perjalanan Kashva-Elyas-Abdul Syahid-Sang Pemindai Surga bisa sebegitu melelahkannya. hidup yang awkward sekali, ya, Kashva.
dan. sangat membangkitkan kerinduan pada Rasulullah saw.. sangat. amat. Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad ~
Berbahaya bagi penggemar Tasaro GK. Mengaduk perasaan, logika, keberimanan kita akan sosok pemimpin dalam Islam. Betapa berpusar dalam konstelasi politik itu bukan perkara mudah. Hitam putih dalam berpikir itu perlu tetapi dalam bersikap, kita perlu luwes menghadapi kondisi yang ada dengan tetap berpegang pada wahyu, sunah, dan kisah para sahabat yang shahih, objektif. Seperti saat menggambarkan wafatnya rasulullah di buku ke-2, tidak diceritakan bahwa sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, beliau menyebut "umatku". Maka begitu pula dalam buku ke-4 ini, tidak semua fakta sejarah tersampaikan.
Novel ini menggugah untuk mencari referensi lain yang valid tentang sirah sahabat yang mulia. Yang meskipun berpusar pada kondisi perpolitikan yang pelik pada saat itu, mereka adalah manusia pilihan yang sempat hidup sezaman dengan sang utusan yang mulia. Mengalami binaannya langsung, sehingga betapa pun kita terbakar dan bertanya kenapa sang tokoh melakukan hal tersebut? Pilihan bijaknya adalah mencari referensi yang objektif atau berpegang bahwa apalah arti keimanan kita sekarang dibanding dengan beliau-beliau pada saat itu.
Meski begitu, di luar perkara kevalidan sumber atau "pilihan" untuk mengarahkan alur cerita, Tasaro tetap merupakan seorang penutur yang andal. Sanggup menyentuh dinamika jiwa terdalam dari seorang manusia. Karyanya selalu bisa dinikmati dan ngangeni. Plot cerita Kashva sang pencari kebenaran terasa mengalami percepatan, jadi lebih lugas dalam menjahit benang merah cerita sehingga berakhir dengan pas dan alhamdulillaah bahagia, dengan tetap menjadikan Astu sebagai heroine yang mengagumkan sebagaimana khas penokohan Tasaro terhadap pemeran utama wanita. Penasaran siapa wanita yang menginspirasi beliau untuk menghadirkan tokoh-tokoh yang sedemikian kokoh.
Semoga Tasaro terus berkarya untuk mencerahkan dunia tentang kebenaran dan keadilan dalam Islam.
Speechless. Ending yang mengaduk perasaan. Serial terbaik yang pernah saya baca, sempurna dengan kisah Rasulullah dan para sahabat. Benar-benar mengharukan, Kashva-Astu, menguras emosi lahir batin. Kalimat terakhir pengantar dari Tasaro benar-benar menyentuh. Buku ini membuat saya benar-benar merindukan Rasulullah saw.
Penulis: Tasaro GK Cover: softcover Penerbit: Bentang Pustaka Format: 15.5 X 23.5 Jumlah halaman: 628 halaman Penyunting: Ahmad Rofi Usmani dan Adham T. Fusama Jenis Kertas Isi: Bookpaper 55 gr Jenis Kertas Sampul: Art Carton 230 gr Tebal Punggung: 3.2 Kategori versi Penerbit: Novel Lini: Bentang Pustaka Buku Referensi: Muhammad 1, Muhammad 2, Muhammad 3
Tapi tidak lebih lama dibandingkan pencarian Vakhsur terhadap jejak Kashva selama lebih dari dua puluh tahun lamanya! Mengikuti petunjuk demi petunjuk yang hadir di depan matanya. Memaksimalkan pencarian di Kota yang disinggahi, hingga menemukan petunjuk baru membawanya ke orang yang tepat.
Kashva meninggalkan Persia menuju Suriah. Belasan tahun lalu, ketika Madinah berganti khalifah, Vakhsur menyusul Kashva ke Suriah. Dia tidak menemukan jejaknya kecuali kabar perihal seorang biarawan Busra yang juga mencari Kashva di Damaskus. Biarawan itu sahabat baik Kashva, Bar Nasha. Kashva yang mengalami cedera berat sehingga tertukar ingatannya, menyebut dirinya sendiri dengan nama Elyas, sahabat penanya.
Sejak Umar wafat, umat Islam seakan terbelah menjadi dua, pendukung Utsman bin Affan dan pendukung Ali bin Abi Thalib. Utsman sebagai khalifah terpilih, menyadari bibit-bibit perpecahan mulai tumbuh. Demi mencegah kobaran api konflik, Utsman dan Ali berusaha menyatukan serta mendamaikan kembali hati umat Islam.
“Aku tak pernah berpikir apa yang aku pikirkan juga menjadi pertimbangan orang lain. Setiap kata-kata Tuhan yang disampaikan Rasulullah tak ubahnya curah hujan yang menyuburkan bumi. Membuat yang keras menjadi lunak, kering menjadi subur, sengsara menjadi bahagia.” -Kashva
“Lelaki Penggenggam Hujan” -Astu.
“Apa yang terjadi dengan hujan itu hari ini?” -Vakhsur
“Setelah Rasulullah wafat, tak lagi ada tempat menjawab semua pertanyaan. Dulu, Allah berbicara langsung kepada manusia melalui Rasulullah. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada penafsiran. Setiap pertanyaan manusia, dijawab Sang Pencipta melalui Nabi-Nya. Sekarang tidak lagi. Para sahabat dengan keutamaan mereka berusaha mengeja apa yang Sang Nabi wariskan. Berusaha mengeja hujan. Perbedaan pendapat yang menyulut pertumpahan darah. Bahkan, sebagian mereka merasa berhak membunuh Khalifah.” -Kashva
“Kapan akan berakhir?” - Vakhsur
“Tidak akan pernah berujung, kecuali orang-orang yang kembali kepada Sang Pewaris Hujan. Dia yang mewariskan ajaran paripurna ini.”- Kashva
Maka di sinilah para penggema hujan itu berada.
Kita disuguhkan berbagai fitnah yang terjadi pada masa kekhilafahan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pertentangan sekaligus persaudaraan, pertikaian sekaligus hubungan di antara para sahabat, maupun Ummul Mukminin Aisyah. Para sejarawan yang alim dan jernih hati hampir sepakat bahwa kebenaran lebih dekat berada di pihak Ali, Radhiyallahu Anhu. Mu’awiyah dan kelompoknya adalah kelompok pembangkang yang telah diisyaratkan oleh Sang Nabi. Hanya saja, itu tidak mengeluarkan mereka dari keislaman dan jama’ah kaum muslimin.
Terhubung dengan kepribadian Utsman bin Affan yang unik, semua ujian yang dihadapi Utsman di akhir masa jabatannya sebagai khalifah sungguh besar sekaligus rumit dan pelik. Dan bagi sahabat-sahabat Utsman, tentu saja kadang tak mudah menyikapi itu semua. Abu Dzar, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Ali memilih sikap terindah dengan kelembutan nurani. Salim A. Fillah telah menyebutkan dalam buku berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah (2010), Ali telah memilih sikap terbaiknya ketika mendampingi Utsman baik di waktu hidup maupun setelah wafatnya. Selembut-lembut nurani mengajarkannya untuk menjadi kawan yang paling tulus, penasehat yang paling jujur, dan sahabat yang paling setia. Sesungguhnya, takdir para pahlawan besar adalah mendapatkan nikmat yang besar, meraih keuntungan besar, memiliki peran besar, juga mendapatkan nama besar, dan penghargaan besar. Di balik itu, mereka juga akan menghadapi masalah besar, musibah besar, dan kenestapaan besar.
Sungguh, banyak hal yang diisyaratkan Nabi terjadi pada masa mereka dan Ali bersama para sahabat pada masa itu menyaksikannya. Isyarat kematian Utsman bin Affan, Ammar bin Yasir, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dzar Al-Ghiffari. Kemudian peringatan Nabi kepada Ummul Mukminin Aisyah agar jangan sampai ia menjadi orang yang dilolong anjing Haw’ah.
Belajarlah dari mereka, para sahabat yang dengan berbagai keutamannya juga diuji oleh Allah. Di antara pilihan-pilihan yang terbatas, mereka berbuat sebaik-baiknya hingga ajal menjemput. Semua urusan dikembalikan pada-Nya. Biarlah Allah yang membersihkannya dari segala kemelut dan kerusakan yang mengancam.
Buku ini tanpa disadari akan membawamu pada zaman Nabi dan para sahabatnya, memudahkanmu memahaminya, dan tentu akan menambah cintamu pada mereka. Terima kasih untuk Tasaro GK!
Muhammad #4 Generasi Penggema Hujan 612 hlm By. @tasarogk
Perjalanan ini, berakhir 🥺 Tapi, apa yang lebih indah daripada pertemuan dalam iman sebagai penutup?
🌻 Kashva telah melanglang buana. Perjalanannya mengantar pada dataran Hijaz, sementara di belakangnya ia tinggalkan jejak yang tak utuh bagi para pencarinya. Kashva telah menemukan apa yang ia rindu pada dirinya dalam kehilangan. Namun ia juga tak menjadi utuh dalam pengabdiannya. Ia ... masih merindu pada jejak masa lalu yang masih memburam mengawang di benaknya.
🌻 Sementara itu, perjalanan ini kian berkelindan dalam pusara pergerakan Khalifah ke empat umat Islam, Ali bin Abi Thalib. Khalifah yang diminta untuk bersedia dibaiat, sekaligus juga segera mengalami kesendirian akibat membelotnya pasukan. Khalifah yang memanggul beban keumatan saat fitnah telah tersebar.😭
🌻 Jika Muhammad sahabat Elyas menjadi bintang pada buku ketiga, maka Vakhshur menjadi bintang di buku keempat ini.
Sejak mula, ini adalah perjalanan Vakhshur—untuk tuannya, untuk dirinya. Kesetiaannya yang mendalam, membawanya berkelana mencari tuan. Hingga Bar Nasha ia rawat bertahun-tahun sebelum ajalnya menjelang dan mewariskan petunjuk pencarian Kashva yang telah lama menghilang. Ia berakhir pada pertemuan di tengah kebun mawar yang menyerbak.
"Saya mencari anda, Tuan Elyas," 🥺😭
🌻 Betapapun pelik perjalanan di kisah ini, terus saja aku dibuat terharu pada keberadaan anak-anak tak berdosa. Setelah Xerxes dan Vakhshur, Abdellas, Zahra, kini dua anak Zamyad.
🌻 Buku ini sungguh tak membuat aku berhenti hingga perjalanan ini bersua pada apa yang dicari. Dalam kurang dari 48 jam, kisah ini terselesaikan. Sungguh ada rasa kehilangan setelah selesai membacanya. Rasanya aku akan terus merindu pada mereka.
"Lewat tetralogi ini, aku sadar bahwa romantisme tidak pernah meninggalkan manusia, bahkan saat umur sudah menua," ucap seorang kawan.
"Itulah Cinta." aku menjeda, "Bagaimana romantisme itu bisa hilang, sementara manusia terus dilimpah cinta oleh Yang Maha Romantis?"
Sungguh, jika seseorang melihat Islam dalam jalan yang benar, ia tidak akan menemukan selain kebaikan dan cinta.
Aku selalu teringat, Najwa Sihab pernah berkata “hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Temukan buku itu dan mari jatuh cinta!”. Yaa, kurang lebih seperti itu laah…dan buku ini adalah alasanku jatuh cinta!
1. Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan (2010) 2. Muhammad: Para Pengeja Hujan (2011) 3. Muhammad: Sang Pewaris Hujan (2016) 4. Muhammad: Generasi Penggema Hujan tahun (2016)
Sepertinya hampir 3 tahun yang lalu kuselesaikan tetralogi buku ini, jujur untuk bagian per bagiannya aku agak lupa, jadi reviewnya kubuat satu untuk semua yaa, maaf.
Buku ini bercerita tentang tokoh fiksi bernama Kashva, pemuda asal Persia yang hidup satu masa dengan Nabi Muhammad SAW. Awalnya, Kashva adalah orang yang cukup terhormat di Kekaisaran Persia, tapi karena keyakinannya, hidupnya berujung pada pengembaraan ke berbagai penjuru dunia.
Insight tentang sejarah, teologi, sirah nabawiyah dan sahabiyah melimpah dalam buku ini. Rasanya kaya ikut mengembara bareng Kashva, mulai dari Persia, Tibet, Romawi, sampai ke Tanah Suci. Kita juga dikenalkan dengan keyakinan Zoroaster, Buddhist, Kristen, dan Islam tentunya.
Untuk sirah nabawiyah dibahas secara kronologis sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai wafatnya beliau, dilanjutkan dengan Sirah Sahabiyah periode kekhalifahan Abu Bakar RA sampai Ali bin Abi Thalib RA. Jalan cerita novel ini menguras adrenalin. Sering banget greget karena tokoh utamanya agak apes (spoiler dikit ya wkwkwk). Ada banyak intrik yang bikin seru, kaya konflik politik, internal kerjaan, perdebatan kepercayaan, dan masih banyak lagi. Oh iya, ada bagian komedi dan romance yang gemes-gemes juga nih, jadi walapun temanya serius, dibaca tetep seger.
Rasanya, aku selalu mau berterimakasih ke penulis karena bait-bait tulisannya bisa membawa muara cinta ke Rasulullah SAW dan para sahabat dengan cara yang lembut, bukan hanya sebagai doktrin yang sejak kecil sudah sering dikenalkan. Kalau suruh cerita tentang buku ini, sampai besok pun bisa-bisa aku masih nyerocos wkwkwk. Pokoknya bagus banget!!! Selamat membaca temen-temen <3
Perjalanan ekspansi Islam lebih luas di masa Khalifah 'Utsman dan 'Ali yang terlalu dipaparkan dengan cerita perdebatan para sahabat mulia, peperangan demi peperangan antar sesama kaum muslimin yang tidak ada hentinya, dan berbagai kisah tentang fitnah yang terlalu mendominasi membuat buku penutup ini begitu jauh dari betapa jayanya saat Masa Kekhalifahan para sahabat Nabi saw. yang mulia.
Di beberapa bagian juga terdapat cerita yang sedikit berbeda dari riwayat shahih, seperti pengusiran Abu Dzar oleh 'Utsman, Perang Jamal, Perang Shiffin, Tahkim 'Amr dan Abu Musa, dan sebagainya. Namun hal ini menuntut pembaca agar tidak hanya terpaku pada satu sumber saja. Berpegang kepada sabda Nabi saw.:
”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya."
Senantiasa belajar dan mencari referensi tentang Islam dari sumber yang shahih akan membuat kita setidaknya dapat meniru kemuliaan para sahabat Nabi saw. dan semoga menjauhkan kita dari fitnah kaum yang senantiasa mencela para sahabat yang sedang bermunculan hingga saat ini.
Kisah umat Islam di bawah pemerintahan khalifah 'Utsman bin Affan dan khalifah 'Ali bin Abi Thalib. Sedih banget pas baca bagian ini. Banyak fitnah bertebaran. Peperangan bukan lagi melawan non muslim tapi melawan saudara sesama muslim sendiri 😭.
Sedangkan cerita Kashva benar-benar bikin penasaran endingnya bakalan gimana. Seru sekali mengikuti Vakshur melintasi berbagai negeri demi mencari Kashva. Menebak-nebak kemana perginya sang pemindai surga, jadi apa dia, apakah dia masih hidup?
Vakshur ternyata sesetia dan sesabar itu. Astu juga. Endingnya sedikit ngegemesin sih. Kenapa hanya mereka berdua, tidak mereka berempat, *eh", 🫢. Terus sang Putri Persia akhirnya muncul juga. Ada kejutan manis bersama kehadirannya 🥰.
IMO, buku keempat ini yang paling seru. Sayang, bagian tentang fitnah-fitnahnya membuat hati pilu . Dan karena buku ini adalah sebuah novel, ada baiknya membaca buku sirah lain sebagai pembanding.
At last, usai sudah petualangan melintasi negeri-negeri Arab. Berat rasanya berpisah dengan seri ini. Apalagi setelah membaca catatan penutup dari penulis. 4 dari 5 bintang untuk Generasi Penggema Hujan. I really liked it.
Lebih dari sekadar kisah agung Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Ini tentang kesetiaan. Pencarian panjang memburuh arah. Menempuh perjalanan jauh, menemukan begitu banyak jebakan demi menemukan Tuhan. Hingga akhirnya setiap petualangan harus sudah. Di lembaran terakhir saya tidak bisa tidak menangis ketika buku ini harus tamat. Melambaikan tangan dengan perasaan haru, ternyata benar, yang tidak kita mulai takkan membawa kita ke mana pun. Lantas, setelah memulai membaca cerita ini saya pun tahu, di mana saya sekarang: di ujung kesimpulan yang sudah menguras emosi. Saya rindu. Saya menemukan kerinduan panjang dari beribu kata-kata yang sudah menjembatangi hari ini dengan masa lalu yang terlalu jauh. Sungguh, setiap umat Rasulullah memang harus menyelami kisah hidupnya. Agar kita mengenalnya. Agar kita mencintainya. Tak peduli sejauh apapun waktu membentang, memberi jarak yang begitu panjang. Sebab kita umatnya. Yang di akhir kesadarannya masih disebut-sebut "umatku... umatku... Ah, Rasulullah, aku rindu!
akan banyak makna dan hikmah yang bisa kita petik setelah membaca buku terakhir ini.
tentang kisah kashva dan astu, kita bisa belajar tentang penantian dan pencarian.
pada kisah kepemimpinan khalifah ketiga dan keempat, kita dihadapkan pada banyak kisah yang beragam, tentang tipu daya, tentang kebenaran yang digunakan untuk kepalsuan, tentang pencarian yang penemuannya bukanlah jalan yang terang, tentang kecenderungan manusia untuk selalu mencintai dunia, tentang amarah yang diumbar dan ditahan, tentang kebaikan yang dimanfaatkan, tentang sebuah penegakan kembali ajaran murni sang Nabi di tengah keriuhan dan pergolakan akan tafsir dan kepentingan yang berbeda-beda.
padanya, kita bisa berkaca dan mengambil suatu pelajaran untuk dijadikan bekal menghadapi dunia yang sedang kita jalani. jalan mana yang kita pilih? semoga kebenaran yang kita yakini selalu sama dengan kebenaran yang diharapkan-Nya untuk diambil manusia
Luar biasa, akhir yang sangat berani, sejak buku pertama sampai keempat saya tak pernah berhenti memuji tetralogi ini, bintangnya kurang satu murni karena satu-satunya kelemahan dalam buku ini adalah kurang berani meletakkan nama-nama baru pada tokoh baru, padahal semuanya kan berhak dapat nama, bukan hanya si Pemuda Tulus atau si pemuda patuh (really?) atau Syekh Hitam yang mungkin lebih baik disebut sebagai Abdullah bin Saba atau mungkin orang kepercayaan Abdullah bin Saba.. overall keempat novel ini adalah sudut pandang berbeda dari sirah nabawiyah, sangat berani dan tegas. Kalaupun penulis mau meneruskan kisah sampai ke Alhambra (maybe someday) saya toh tetap akan membacanya. Terima kasih Tasaro GK.
apa yang terjadi dengan kisah ini. endingnya hanya seperti ini, berakhir begitu saja. :( setelah bertahun-tahun, setelah semua hal yang dilalui astu, kasvha, vaskhur, xerxes. tiba-tiba semuanya berakhir begitu sederhana. anti klimaks. seperti dugaanku, pada akhirnya buku keempat ini tidak benar-benar memuaskanku. kisahnya masih menggantung di sana sini. atau memang Tasaro merencanakan kembali menuliskan skuel dari buku kisah sang pemindai surga ini. semoga saja.
Tiada siroh nabawiyyah yang indah alur ceritanya selain tetralogi "Muhammad".
Kepiawaian TasaroGK berkisah, penyematan diksi dan narasinya, penggambaran karakternya, pemilihan kata dalam sudut pandang Nabi Muhammad yang begitu penuh penghormatan, jalinan benang merah antara konflik dengan yang lainnya, menjadikan tetralogi ini pantas disejajarkan dengan novel epic sekelas Dan Brown, Shawni, Rick Riordan, dan penulis papan atas lainnya.
Alhamdulillâh selesai bertualang di buku ini, kerinduan kepada Rosûlullâh pun bertambah begitu besar.
Buku paling berani diantara 3 buku lainnya. Menceritakan era paling sensitif dalam sejarah peradaban Islam yaitu akhir masa kekhalifagan Ustman bin Affan R.A dan masa kekhalifahan Ali bin Abu Thalib R.A
Sensitifitas yg sangat beresiko dikemas dengan sangat fair, dan mengutip banyak referensi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
Segala intrik dan perpecahan dalam tubuh Islam berhasil dikendarai dengan gemilang sehingga memperoleh konklusi bahwa musuh sebenarnya adalah para pengadu domba. Bukan dua kubu yang tengab berseteru.
Selesai juga buku terakhir dari seri ini. huwaaaaa ini masih menjadi buku kisah Tentang Rasulullah (beserta sahabat dan keluarganya) yang paling favorit buat aku. Dari total 4 buku ini banyak sejarah tentang Rasulullah dan para Khalifah yang baru aku tahu secsra detailnya.
untuk fiksi-nya sendiri sebenarnya agak gantung ya. penasaran jadinya Astu ketemu sama Xerxes nggak yaa
"Mereka yang berusaha mencari kebenaran tapi salah jalan, tidak dengan mereka yang memperjuangkan kepalsuan, dan mempertahankannya -Ali bin Abi Thalib"
Di satu sisi terhanyut dengan cerita para khalifah, di sisi lain terbuai dengan kisah astu dan kashva. Banyak banyak banyak sekali yang bikin haru :') Diksinya juga pas, tidak berat dan tidak terlalu ringan. Ceritanya mengalir, tidak dipaksakan. Jauh di lubuk hati ada satu cerita yang sangat diharapkan terjadi: pertemuan sang ibu dan anak :')
selesai sudah perjalanan kashva, seorang yang sangat uar biasa di dalam cerita tasaro gk. tetralogi ini sangat bagus namun pada akhir cerita saya fikir seperti terkesan terburu-buru karena saya berharap tidak selesai di buku ke empat. hahahaha. buku ini sangat bagus. jangan sampai kalian tidak baca!
penggunaan bahasa yang menyentuh membuat pembaca rindu akan kehadiran dan bimbingan rasullulah, dan beberapa makna filosfis yang terkandung dari buku ini keren