dua dunia "nyata dan gaib, modern dan primitif, natural dan supra natural, dipertemukan oleh dua orang yang pada awalnya bersaing dalam sebuah ajang reli. Mereka adalah seorang antropolog dan pereli dari Indonesia, dan saingannya seorang wanita bangsawan kerabat kesultana Brunei Darussalam yang juga pereli. Persaingan itu memang gagal dan tidak pernah terjadi, tetapi mereka justeru menemukan format manusia berperadaban tinggi sebagai format manusia masa depan.
Sejatinya saya adalah akademisi (dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau, Pekanbaru).
Ketika buku pertama saya "Lumpur Similiar" diterbitkan oleh PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)Jakarta, menyusul "Menghapus Jejak Kemiskinan; An Unconventional Approach, Kampar Way" diterbitkan oleh Unri Press Pekanbaru, kemudian buku ketiga "Pengantar Bisnis Jasa Pelaksana Konstruksi" diterbitkan ANDI Offset, saya menyadari bahwa saya telah memulai profesi baru sebagai penulis. Satu lagi buku saya "Virtual Journey of Spiritual" akan menyusul dalam waktu dekat.
Saya banyak menerima e-mail dan membaca resensi yang mengomentari novel saya berjudul “Lumpur Similar”. Sebahagian besar menilai cerita dalam novel tersebut terjebak pada hal-hal yang tidak logis dan tidak masuk akal. Peristiwa dan kejadian-kejadian yang seharusnya sangat penting, tapi justeru terjadi dengan sangat gampangnya, datar, dan kurang mampu memainkan emosi pembaca. Tokoh utamanya terlalu sempurna, terkenal, kaya, pintar dan dari kalangan atas. Sebahagian lagi justeru bertanya, apakah negeri bernama Lumpur itu benar-benar ada, dimana persis lokasinya, bahkan yang lebih lucu lagi, meminta informasi bagaimana bisa mencapai negeri itu. Hanya sayang, ketika berkunjung ke salah satu blog, saya menemukan ada orang yang ingin membuat resensi dengan meminjam resensi yang sudah ada pada blog itu?????
Sebagai rasa hormat saya kepada orang-orang yang telah mengapresiasi, membaca, dan memberi penilaian terhadap apa yang telah saya ceritakan, pada kesempatan ini saya menulis untuk mereka. Novel Lumpur Similar adalah murni fiktif, baik waktu, tempat, peristiwa maupun pelakunya. Saya memulai menulis dengan niat untuk menyuguhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang ringan, datar, tidak dramatik, semua kejadian terjadi begitu cepat, dinamis dan kadang-kadang melompat dari satu kejadian ke kejadian lain. Sebuah peristiwa yang semestinya sangat penting dan dramatik, tiba-tiba saja saya tinggalkan, seolah-olah tidak tuntas, lalu pindah ke kejadian lain. Semua itu sengaja saya buat agar ada ruang kosong yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca untuk mengembangkan detail cerita itu menurut yang mereka inginkan. Hasilnya?, itulah beragam reaksi itu.
Sesungguhnya, Lumpur Similar adalah pertemuan dua kutub. Antara orang kaya dengan orang miskin, orang kota dengan orang pedalaman, modern dengan primitif, nyata dan gaib, kebaikan dengan kejahatan, kerendahan hati dengan kesombongan, hitam dengan putih. Lumpur Similar bukan cerita tentang reli Sabang-Merouke, bukan cerita etnik, atau budaya, horor, mistis, religi, gaib atau cinta. Lumpur Similiar hanyalah sebuah manipestasi dari realita dunia yang mungkin belum atau jarang diungkapkan. Saya menyebutnya sebagai sebuah sensasi baru novel Indonesia dengan setting futuristik. Saya hanya ingin menyatukan kedua kutub itu sebagai salah satu syarat tercapainya kedamaian di dunia ini. Karena, selama masih ada polarisasi antara keduanya, jangan harap dunia ini akan damai.
Adakah sesuatu yang tidak logis, atau bahkan tidak masuk akal dalam cerita ini? Menurut saya tentu saja tidak ada. Tidak logis atau tidak masuk akal hanyalah sesuatu yang timbul karena keterbatasan logika dan akal itu sendiri sebagai instrumen pengukurnya. Semakin banyak hal-hal yang kita anggap tidak logis dan masuk akal berarti semakin jauh kita dari fitrah penciptaan manusia. Rasakanlah, betapa dinamisnya dunia ini, kalau kita tidak mengikutinya, maka setiap detik kita akan selalu dibuat tercengang. Sesuatu yang dulu dianggap tidak mungkin, kemudian justeru menjadi mungkin, bahkan sekarang malah menjadi biasa-biasa saja. Jadi, betapa lemahnya kita ini. Oleh sebab itu, dalam membuat ide cerita yang futuristik, saya berusaha untuk melupakan apa itu ketidaklogisan atau tidak masuk akal. Bagi saya, hanya satu yang tidak mungkin dalam ide cerita, yaitu menghidupkan yang sudah mati. Karena itu murni urusan Allah.
Lantas, bagaimana dengan tokoh yang serba sangat sempurna itu? Oh, di dunia ini segala-galanya ada. Mulai dari yang sangat sempurna sampai kepada yang sangat tidak sempurna, semua itu ciptaan Sang Maha Pencipta. Kita bisa mengenal yang sangat sempurna maupun yang tidak sempurna. Tinggal kita mau bergaul dengan kalangan mana
Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Pun Lumpur Similar seperti gading itu. Semua tanggapan, komentar dan resensi dalam bentuk apapun adalah rangkaian kalimat-kalimat yang akan menjadi rapor, buku prestasi, evaluasi diri, dan begitu berharga bagi saya. Saya sangat merindukannya, dan saya sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat semua. (ALFmalik@gmail.com)
SEBUAH karya sastra tak jarang ditulis oleh pengarang dengan pretensi untuk dijadikan semacam "arsip sosial" suatu masyarakat tertentu. Maka, karya sastra itu tidak sekadar menuturkan rentetan cerita yang unik, melainkan juga berupaya menyingkap kedalaman tradisi, kebiasaan, adat-istiadat juga mitologi yang berkembang di tengah masyarakat. Tak salah jika karya itu kemudian lahir tak hanya menjadi rekaman realitas, justru sebuah capaian bahkan pengembaraan sang pengarang untuk menggumuli hal-hal yang kadang tak realis dan magis.
Pengembaraan sang pengarang yang bersentuhan dengan hal magis dan tak realis itulah yang bisa pembaca temui dalam novel Lumpur Semiliar ini. Karena dalam novel terbarunya ini, Alfian Malik berupaya menghadirkan negeri Lumpur yang konon dikenal sebagai negeri santet, perdukunan, mistis bahkan jauh dari peradaban modern dengan sudut padang lain ketika tokoh "aku" yang tidak lain Tegar Patih tersesat di daerah jauh nun terpencil di pedalaman propinsi Riau. Karena itulah, novel ini mirip sebuah pengembaraan antropologis.
Cerita bermula ketika Tegar Patih dan Tomy memutuskan untuk ikut reli Saban-Merauke International Live Event Relly. Karena ingin meraih juara dalam lomba itu, maka keduanya melakukan "persiapan mengenali" medan. Tomy kebagian wilayah Timur. Tegar Patih kebagian wilayah Barat. Tapi, saat sampai di Riau, Tegar Patih mengalami nasib pahit. Dia tersesat bersama pereli lain, Khariza.
Saat malam datang, keduanya kemudian berteduh di sebuah rumah. Tetapi penduduk setempat tiba-tiba menangkap keduanya karena dianggap melanggar adat -meski keduanya tak melakukan perbuatan seronok- dan untuk menolak balak itu, penguasa setempat (Datuk Tinggi) menikahkan Tegar Patih dan Khariza. Padahal di Brunai, Khariza sudah bersuami dan punya anak. Lantas, ketika keduanya mau menghuni sebuah rumah yang dibangun Tegar Patih untuk menjalani malam pertama tak disangka pasukan TNI membebaskan keduanya. Tegar Patih dibawa ke Jakarta, sedangkan Khariza diterbangkan ke Brunai.
Desa di pedalaman Riau itu ternyata menarik Tegar Patih kembali lagi. Anehnya sekembali di desa Lumpur itu, Tegar Patih justru diajari Datuk Tinggi mendalami ilmu-ilmu gaib, dan kemudian dinobatkan menjadi Datuk. Tapi seiring perjalanan waktu, akhirnya Tegar Patih tahu jika Datuk Tinggi tak segan-segan berbuat jahat. Keduanya kemudian bersitegang dan Tegar Patih harus "membayar" mahal. Saat ia pulang, ayahnya meninggal secara mendadak.
Dalam upacara tujuh hari kematian ayahnya itu, Tegar Patih berkenalan dengan kiai Wazukni Fahman. Pertemuan itu yang kemudian mampu meluruskan ilmu gaib Tegar Patih. Bahkan, kiai itu kemudian mewariskan ilmu kesempurnaan alam dan sepeninggal si kiai, Tegar Patih mendapatkan warisan banda-benda keramat. Setelah itu, jalinan cerita "berjalan datar". Tegar Patih lalu menikah dengan Rani. Sempat cerai kemudian rujuk kembali, tetapi Rani meninggal bersama anak yang dikandungnya saat melahirkan. Lalu Tegar Patih menikahi Sarinah yang tak lain putri kiai Warzukni -setelah keduanya menggelar sarasehan "mempertemukan ilmu gaib dan teknologi modern" di Lumpur Similiar.
Tapi menjelang tujuh bulan masa kehamilan, tiba-tiba Sari menghilang. Tepat sembilan bulan kehamilan, Tegar Patih dan ibunya menjumpai bayi mungil menangis dalam posisi duduk di kursi meja makan. Bayi itu kemudian diketahui sebagai anak Tegar Patih yang ditinggalkan Sarinah. Tetapi, anak itu ternyata lahir dengan kelainan bawaan yang belum pernah ditemukan pada spesies manusia sehingga Tegar membawa anaknya itu berobat ke sebuah klinik di Australia yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan Khariza.
Setelah melewati pemeriksaan, anak dari Tegar Patih-Sari itu ternyata diketahui sebagai "cikal bakal spesies manusia baru" di abad peradaban tinggi karena anak itu merupakan anak ultramodern. Maklum, karena di balik kelahiran itu sang ibu ternyata keturunan peri dan anak itu lahir lebih dini, melompati waktu dan tanpa melui evolusi. Anak itu diramal akan jadi manusia ultramodern yang kelak di kemudian hari akan mendiami bumi di abad-abad mendatang.
Lompatan cerita yang melampaui realitas itulah yang hendak dijelaskan oleh pengarang dalam novel ini. Selain itu, pengarang hendak meracik keunikan dan ke"magis"an desa Lumpur yang di kemudian dinamai dengan "Lumpur Similiar" -sebagai anonim dari Saban-Merauke International Live Event Relly yang pernah membawa Tegar Patih tersesat ke desa pedalaman Riau itu. Sayangnya, pengarang kurang prigel dan piawai dalam menuturkan kisah.
Inti dari sebuah novel memang kekuatan narasi. Tapi dalam kepenulisan novel, dikenal sebuah penulisan dengan cara menggambarkan bukan menceritakan. Rupanya "teknik penggambaran" itu tidak dikuasai oleh pengarang. Praktis jika novel ini serupa catatan perjalanan atau catatan diary. Karena novel dipenuhi dengan cerita yang tidak kuat menggambarkan setting dan "detail tokoh".
Kelemahan pengarang itu, berakibat fatal dalam sejumlah hal. Pertama, alur cerita jadi datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Kedua, eksplorasi imajinasi tak menghasilkan capaian estetik yang menggugah rasa. Ketiga, novel ini tidak didukung dengan dialog yang memadai. Maka, novel ini seperti cerita rakyat yang sepi dialog dan kurang menggelora dari sudut pandang sastrawi.
Keempat, kekuatan setting yang menjadi latar dari cerita ternyata tak dielaborasi dengan maksimal. Tak salah, "detail pengembaraan" yang seharusnya memukau dan mampu menjadikan novel ini jadi novel antropologis kalau didukung riset memadai tentang seluk beluk upacara adat di desa Lumpur Similiar. Tapi, riset itu ternyata kering dan novel ini pun rapuh jadi novel antropologis.
Kendati demikian, novel ini tak serta merta menjadi novel yang gagal. Karena, pengarang masih "menawarkan" beberapa hal yang dapat menjadi kekuatan dan terobosan. Pertama, novel ini menawarkan terobosan dengan "menggabungkan" ilmu gaib, spiritual, dan kecanggihan teknologi. Kedua, novel ini mengenalkan anak "ultramodern" yang akan mendiami bumi di kelak kemudian hari yang nyaris di luar jangkauan akal. Ketiga, Lumpur Similiar yang tertinggal juga dicemooh sebagai desa jauh dari peradaban dikenalkan oleh pengarang dengan teknik lain dan diobsesikan jadi desa yang mengilhami perabadan.
Lebih dari itu, sang pengarang mengisahkan cerita cinta "tokoh utama" yang berliku dan nyaris tak bisa ditebak. Akhirnya dari kisah cinta itu, sang pengarang bisa dipahami hendak meneguhkan bahwa cinta itu, sebenarnya misteri kehidupan yang tak pernah bisa dirumuskan sebagaimana dalam ilmu eksak.***
*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Ciputat, Tangerang.