Banjir darah melanda tanah Jawa pada tahun 1549. Berhasrat menjadi penguasa tunggal Nusantara, Kesultanan Demak mengobarkan perang di mana-mana. Kerajaan-kerajaan pecahan Majapahit satu per satu ditaklukkan. Sunan Kalijaga berupaya membendung perubahan brutal yang merundung negerinya. Dalam keprihatinannya, ia melihat sosok Ratu Adil yang diramalkan Jayabaya pada diri Adipati Pajang Hadiwijaya. Maka, tatkala Arya Penangsang membumihanguskan ibu kota Demak untuk merebut takhta, wali sepuh itu merestui Hadiwijaya memindah kekuasaan ke Pajang. Arya Penangsang kemudian tewas oleh pusakanya sendiri: Keris Setan Kober!
Tak lama berselang, Keris Setan Kober hilang dari penjagaan Sunan Kudus, sosok kuat di belakang Arya Penangsang. Hilangnya pusaka itu memicu kecemasan. Para adipati yang menolak bergabung dengan Pajang, dan menyadari daya niskala keris itu, mencoba bersekutu dengan siapa saja yang berhasil menguasainya. Untuk menandingi perbawa Keris Setan Kober, seorang empu sakti pun bertapa demi menemukan Ndaru Kala Astika, batu meteor yang jatuh ke bumi lima ratus tahun silam.
Sementara itu, putra angkat Sultan Hadiwijaya, Pangeran Loring Pasar, diam-diam juga menghendaki takhta. Untuk mewujudkan ambisinya, ia mencoba bersekutu dengan kerajaan gaib Laut Kidul. Tak ayal, Sultan Hadiwijaya dikepung banyak musuh, baik yang nyata maupun niskala. Genderang perang ditabuh di mana-mana. Banjir darah kembali membayang-bayangi tanah Jawa!
S. Trisasongko Hutomo lahir di Semarang, 8 Maret 1962. Saat masih menjadi mahasiswa Jurusan Penyutradaraan, Fakultas Seni Pertunjukan, IKJ, ia memenangi lomba penulisan naskah drama antar-mahasiswa se-Jakarta tahun 1985. Ia lantas memperdalam ilmu penulisan skenario di Fakultas Sinematografi di perguruan yang sama. Tahun 1993 mulai bekerja di Indosiar Visual Mandiri sebagai senior writer dan menulis ratusan episode skenario hingga 1997. Tahun 2008 bergabung dengan SET Film Workshop dan menulis skenario film Mata Tertutup, karya sutradara Garin Nugroho, yang masuk nominasi skenario film terbaik Apresiasi Film Indonesia 2012. Selain menulis skenario, ia juga menyutradarai beberapa film dokumenter. Karyanya antara lain: film dokumenter Presiden Megawati Soekarnoputri, ditayangkan di Museum Kepresidenan Republik Indonesia, dan Ensiklopedi Anak Nusantara, ditayangkan di Kompas TV. Keris Setan Kober adalah novel debutnya, seri pertama dari Trilogi Perang Niskala Tanah Jawa. Lelaki yang sejak kecil mengagumi novel klasik Keris Nagasasra Sabuk Inten karya SH Mintardja ini bisa dihubungi secara personal di: hutomotrisasongko@yahoo.com.
Abad 14 hingga 16 adalah abad yang gelap dari sejarah Nusantara. Tidak ada catatan sejarah yang dianggap memadai untuk menilik ke sana karena banyak peninggalan yang dimusnahkan dalam peralihan demi peralihan kekuasaan di Nusantara saat itu.
Maka tak heran jika muncul berbagai versi tentangnya.
Keris Setan Kober menandai dirinya dengan versi, yang subversif. Peralihan dari Demak ke Pajang dan bagaimana dinamika kekuasaan terjadi di masa Kesultanan Pajang.
Di awal, memang dimulai dengan deskripsi-deskripsi untuk menggambarkan situasi saat itu. Namun 2/3 akhir novel ini begitu memukau dengan pergulatan para tokoh di dalamnya. Kesaktian, keghaiban dan bahkan percintaan ada di dalamnya.
Satu hal yang menarik lagi adalah pertanyaanku selama ini terjawab. Mengenai kenapa kapal-kapal laut milik Majapahit yang dikenals sebagai kerajaan maritim kini tak ada peninggalannya? jawabannya ada di buku ini. Arya Penangsanglah yang memusnahkan para pembuat jung/kapal besar dan menyisakan kapal-kapal berukuran sedang saja dari kesultanan Demak. Novel ini juga menyuguhkan pengaruh sunni dan syiah dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Sementara on hold dulu, karena gak selesai2 bacanya dan memang agak mulai malas baca sejarah belakangan ini. Simpan dulu paperbacknya. Maybe someday, akan di buka lagi dan di baca dengan lebih serius. Sorry Jenny :(
Di luar fakta bahwa ceritanya sangat menarik, berasa nonton fim action-collosal, ada beberapa catatan yang aku dapat sepanjang membaca (sekitar seminggu): 1. Penggambaran adegan-adegannya buatku agak mengganggu, karena terlalu banyak cut-cut, seakan kita para pembaca disuguhi klimaks-klimaks kecil. Jika treatment seperti ini dilakukan pada naskah film, akan terasa mendebarkan. Tapi karena ini adalah bacaan, rasanya jadi ... sekali lagi, mengganggu. Baru saja kita memahami satu adegan, sudah diajak pindah ke adegan lain. Baru saja satu adegan terasa seru, dipotong dibawa ke scene yang berbeda. 2. Sound effect kok ditulis di dalam tanda petik ya? Yang ini juga terasa mengganggu banget. Karena seakan-akan kita didikte untuk mengucapkan (misalnya) "DHUAK!" untuk benturan pintu. Padahal bisa saja, untuk telinga orang yang berbeda, benturan pintu berbunyi GABRUK! 3. Internal dialogue para tokohnya juga ditulis dengan tidak lumrah. Di buku-buku yang biasa aku baca, internal dialogues, akan ditulis tanpa tanda petik, italic. Tapi di buku ini ditulis dengan tanda petik, seakan-akan dialog biasa, Sekali lagi, mengganggu.
Alur ceritanya sendiri, bisa dibilang 'lurus', sesuai versi Hadiwijaya. tapi gak papa. Aku sangat menikmatinya. Sayang endingnya ....
Benernya pengen ngasih rate 5, tapi dengan beberapa catatan 'gangguan' yang aku alami saat baca, terpaksa angka 3.8 yang paling layak ditempelkan. Good work!
Wujud keris berlekuk 13 itu begitu mengerikan bagaikan setan, coraknya mirip ular weling yang menggetarkan jiwa. Seluruh bilahnya memancarkan aura api yang panas menyilaukan. Tak heran kalau Empu Rahtawu yang menempa senjata ini bersama para siluman Goa Gandarwa, Ponorogo di kawah Gunung Kelud menamakannya Keris Setan Kober.
Keris Setan Kober mempunyai peran penting dalam carut marut ‘polkam’ Kesultanan Demak dan Pajang pada abad ke-16. Keris ini hilang meski sudah dijaga oleh Sunan Kudus dengan kewaskitaannya. Kejadian ini memicu para musuh Pajang berburu mencarinya. Kesaktian keris tersebut diyakini mampu membantu mereka menjadi penguasa di Tanah Jawa.
Sejarah keris Setan Kober terputus sepeninggal pemiliknya, Arya Penangsang, terbunuh oleh senjata pusakanya sendiri. Tak ada literatur sejarah yang menyebut-nyebut keberadaan keris itu setelah peristiwa tersebut. Dalam novel inilah penulis “mengungkap” keberadaan pusaka mandraguna itu. Lewat tutur kisah yang meliuk-liuk, kita akan diajak menembus dunia niskala (gaib) yang lumrah bagi leluhur kita di masa-masa kerajaan Nusantara dulu. Plot cerita yang loncat-loncat dengan alur padat penuh konflik memaksa kita untuk tetap mengikutinya hingga paripurna. Mengingatkan kita akan gaya bercerita cerdas Dan Brown dalam karya-karyanya. Untung ada bumbu-bumbu drama yang memberi kita kesempatan untuk menarik napas.
Hanya, Anda harus menunda kepuasan dulu karena beberapa penggalan kisah tidak tertuntaskan di novel seri pertama dari trilogi Keris Setan Kober ini.
Mengikuti novel fiksi berlatar sejarah ini tidak saja membuat kita melek mata terhadap perjuangan para leluhur. Lebih dari itu juga membuat kita kagum bahwa mereka sudah memahami—bahkan mengaplikasikan—ilmu Fisika Kuantum jauh sebelum ilmu tersebut ditemukan di dunia Barat. Dengan cara mereka sendiri.
http://trulyrudiono.blogspot.co.id/20... Pesan moral, dengan cara yang unik berada dalam buku ini. Bagian yang mengisahkan bagaimana sebagai seorang bawahan harus bersikap patuh tanpa bertanya pada atasanya. Karena ia merasa itu yang terbaik untuk semua pihak. Sementara si atasan tentunya sudah harus mengambil keputusan dengan sangat bijak.
Tokoh Sidawini memberikan contoh pada kita bahwa jika ingin memperoleh sesuatu sebaiknya dipertimbangkan dulu dengan matang. Keinginannya untuk bertemu dengan seseorang membuatnya harus bersedia mengikuti tujuh perintah Pangeran Loring Pasar tanpa bertanya. Apakah keinginannya itu wajar? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada baiknya kita tidak melawan apa yang sudah digariskan.
Dan seperti biasa, urusan kekuasaan pasti terkait dengan intrik politik. Begitulah adanya. Tidak hanya butuh ilmu kanuragan tinggi untuk menjadi penguasa, namun juga kekayaan bathin. Membuat dua sisi menjadi seimbangan ternyata bukan hal yang mudah. Dalam buku ini dikisahkan bagaimana kekuasaan bisa membutakan seseorang. Walau ada yang menyadari kemampuan diri dan memilih menyingkir demi kedamaian umat.
---- ---- ----
Satu lagi yang sangat membantu, bagan silsilah. Jika saya mulai merasa bingung membaca uraian mengenai hubungan kekerabatan, maka saya cukup melihat bagan yang ada. Maka semua menjadi lebih jelas. Maklum, kadang ada suatu hal, seperti membaca bagan silsilah, lebih mudah untuk dipahami dari pada membaca uraian panjang lebar.
Dari buku ini terlihat bahwa tugas Wali Sanga sebenarnya masih menggantung, terutama dalam hal berpolitik. Siapa tokoh utama dalam novel ini masih belum jela, antara Sultan Hadiwijaya ato Pangeran Loring Pasar. Pun begitu dengan kedudukan pemegang keris tersebut, masih belum jelas namun cukup membuat penasaran untuk membaca kelanjutan buku pertama dari trilogi keris setan kober ini..
Karya yang sensasional! S. Trisasongko Hutomo adalah penulis novel sejarah Nusantara yang paling memukau ketika membabar kisah sejarah yang diangkatnya. Nyaris di setiap babak mengandung misteri dan perbawa wingit yang tak habis-habisnya mempesonaku.
Hah????? Buku apa sih ini bjir??? Pembangunan dunia yang bertele-tele dan ga kebangun dunianya. Terus lebih banyak penjelasan sejarah yang narasinya sangat tidak cocok untuk novel. Perpindahak tokoh yang ga runut. Alurnya bertele-tele. Penggambaran adegan yang sangat tidak estetik. Apakagi bagian aksinya. Bagian percintaan pun jelek sekali. Aku bahkan gatau kenapa ngabisin buku ini. Berharap tulisannya agak membaik mungkin (?)