Jump to ratings and reviews
Rate this book

Purple Eyes

Rate this book
"Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

144 pages, Paperback

First published April 30, 2016

44 people are currently reading
670 people want to read

About the author

Prisca Primasari

37 books678 followers
English Literature graduate. A sleeping witch who loves pastel goth, sugar, spice, and everything nice.

Her hobbies are writing, traveling, reading all kinda literary works, watching movies and anime, and listening to music.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
269 (39%)
4 stars
300 (43%)
3 stars
98 (14%)
2 stars
11 (1%)
1 star
5 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 225 reviews
Profile Image for Hanifati Husna Salsabila.
1 review
June 10, 2020
Fantasy is a genre that once in a while just verses. It may be the case that Purple Eyes was the main dream book I read simultaneously the first occasion when I read Prisca Primasari's work. Purple Eyes made me begin to look all starry eyed at the manner in which the author recounted to his story and figured out how to contact my interest for his different works.

Purple Eyes tells the story of a man named Ivarr Amundsen who lives in Trondheim, Norway, who could no longer feel the emotions in him after the death of his sister, Nikolai. The death of Nikolai who died in a cruel and inhuman manner had numbed him. The killer of his younger brother was still on the loose and other victims died in the same way as Nikolai. The God of Death named Hades who saw this could not remain silent.

Ivarr Amundsen was the destination of Hades ― disguised under the name Halstein ― and Lyre returned to earth. Unlike previous tasks, this time Hades did a careful planning to complete his assignments on earth. As I looked back, I became even more curious about the plans drawn up by Hades and the killer who killed Nikolai's life. Meeting after meeting that passed by Ivarr with Solveig was able to make him feel the warmth, longing, and pain he had never felt. Once Ivarr found a tiny book belonging to Solveig lying on the carpet. Because he really wanted to know more about Solveig, he opened the pages of the book.

One by one all questions that appear in the head are answered. It was revealed who was the heinous killer who killed Nikolai's life, Ivarr's illness, and the reason Ivarr chose to go numb. All expressed by the author in a clear and clear. I am amazed by the way Prisca Primasari tells every detail of the story. Prisca is able to take me like seeing the scene of each scene directly. It also makes me want to know what kind of research he is doing which is certainly not a little time he spent.

During reading Purple Eyes, I found quite a lot of new vocabulary, such as biting, parchment, parquet, nightstand, ledge, petering, and so on. There are also many new terms that I know from this book. For example grovkake, the meaning of the names Solveig and Halstein, Thanatos, fossegrim, fiddle, kelpie, elsket og savnet, and many other terms. Vocabulary and new terms which certainly greatly increase my knowledge.

Lack of Purple Eyes ie there is a writing error on page 46. Where the writing is not the same as that listed on page 24; Nikolai's birthday. Also some other tipos that are still understandable so that it does not interfere with my comfort when reading. These shortcomings are covered by Prisca Primasari's writing style which is very easy to read and simple. In addition, the details of the characters are also shown, and info about Norway and England as well as mythical myths that are served as a plus of Purple Eyes.

There are many quote able sentences that I really like in Purple Eyes. Some of them are as follows:

“Kalau kau tidak suka, jangan memberi harapan. Kau sama saja menyakiti mereka.” (Hlm. 34)
“Terkadang, ada sesuatu yang perlu dikorbankan. Demi tujuan yang lebih baik.” (Hlm. 86)
“Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak bisa merasa sama sekali.” (Hlm. 95)
“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.” (Hlm. 117)
“Kalau tidak aneh, namanya bukan cinta.” (Hlm. 122)
“Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati.” (Hlm. 123)

Try not to ask what my preferred scene is on the grounds that I like each scene that asks the creator, both Solveig aggregation is with Hades and Ivarr. Due to various characters. Through the Solveig-Hades scene I can feel crazy things, through the Solveig-Ivarr scene more to things that are sentimental, torment, and despair. On the off chance that individuals begin to look all starry eyed at Hades, answer with me. I even began to look all starry eyed at Ivarr Amundsen. The Wax Statue is in certainty an individual who is warm and ready to do anything for the individual he cherishes. Gosh, see everybody's attempting to get some answers concerning Solveig even with its undesirable condition which makes me progressively tested.

Now, if you want to read a book that is not thick, but solid and exciting, I highly recommend Purple Eyes. In addition to the exciting and interesting story, a lot of knowledge that you can get.
Profile Image for Christian.
Author 32 books840 followers
August 15, 2016
To be honest, fantasi adalah genre yang cenderung Abang hindari saat membeli buku. Bahkan ketika jadi subgenre pun (fantasy romance, fantasy erotica, paranormal romance, etc), masih aja jadi no-no bagi Abang.

But I decided to give this book a chance.
Tulisannya khas Prisca banget; sentimental, dingin (entah ini perasaan Abang atau memang iya, Prisca demen banget milih tempat-tempat dingin sebagai setting lokasi), muram, dan berplot lambat. Kalau buku The Girl Who Played With Fire nggak disebut, novel ini akan terasa timeless juga.

Mengambil setting Trondheim, Norwegia, dengan karakter utama yang Prisca banget juga (characters with damaged past), novel ini bener-bener bikin baper. Nyebelin banget. Untung nggak tebel-tebel amat, jadi Abang nggak sendu seharian.

Another yay from Prisca. Worth to read, people!

p.s. Saking penasarannya, bela-belain ngontak penulis kenapa memutuskan pakai 'lever' di buku ini, bukannya 'hati'. Ternyata, kata Prisca, 'lever' sengaja dia pakai karena merujuk pada organ tubuh. Sedangkan 'hati', menurut dia, lebih diasosiasikan ke batiniah.

What an insight!
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
May 13, 2016
As usual, her story is beautiful & poignant, as well as tragic. Her characters are eccentric & enigmatic. I won't go into depth about the story. Just know that this is a beautiful love story that leaves me craving for more. Write a longer book please...
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
May 21, 2016
Review lengkap dapat dibaca di: http://duniakecilprili.blogspot.co.id...

It was a great story!

Cerita dengan topik dongeng sebenarnya lagi hip akhir-akhir ini. Banyak penulis mengangkat kisah dongeng menjadi cerita fiksi yang dapat dibaca oleh semua kalangangan usia. Tapi hanya Prisca yang punya pikiran mengangkat tema dewa kematian sebagai topik tulisannya.

Kisah ini bercerita tentang Hades, dewa kematian yang selalu menanti orang di tempat transitnya. Dia bahkan stress melihat manusia lebih menyukai mati daripada hidup.

Hal itu diperparah dengan adanya berita pembunuhan massal di bumi. Seorang pembunuh sadis menghabisi beberapa orang dengan sadis. Hades diutus untuk membalas dendamkan perilaku tersebut ke bumi.

Hades dan asistennya, Lyre pergi ke bumi. Disana mereka bertemu dengan Ivarr. Seorang pemuda tampan yang adiknya menjadi korban pembunuhan sadis tersebut. Hades punya rencana untuk membalas dendam pembunuh sadis itu lewat Ivarr.

Namun, usaha Hades sepertinya mengalami hambatan saat Lyre malah berinteraksi semakin dekat dengan Ivarr. Bagaimana endingnya?

Ceritanya bagus banget! Gue suka bagaimana imajinasi Prisca akan mitologi dewa kematian di cerita ini. Gue suka bagaimana Prisca meramu kata demi kata yang menghipnotis pembacanya.
tapi .... gue cukup kesal kenapa cerita sebagus ini malah jadi novella sih? Gak puas woy! :(

Penasaran sama kisah Ivarr dan Lyre nya. Kenapa gak dibuat lebih panjang :(
Profile Image for Shanya Putri.
347 reviews160 followers
February 4, 2018
14th book of 2018!

“Mereka memandangi saya karena saya tampan,” kata Hades tenang. “Bukan karena saya aneh.” – halaman 16


SUKAA!!!

Walaupun tipis (padahal baca ebook-nya haha), tapi aku suka banget! Berbau fantasy-romance. Suka deh yang kayak gini😍.

Hades ternyata lucu juga ya hahaha😂😂
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 20, 2016
Ada sebuah jejak yang tertinggal dalam tulisan ketika sebuah tulisan disusun oleh seorang penulis yang telah berpengalaman. Mbak Prisca Primasari, sebagai seorang penulis, editor, dan penerjemah tentunya sudah tidak asing lagi dengan dunia buku. Keterlibatannya bertahun-tahun dalam dunia aksara terbukti dalam karyanya yang satu ini. Sebuah novel yang tipis, namun meninggalkan kesan yang tebal di benak pembaca. Justru dalam tipisnya buku ini, akan kita temukan sebuah romansa nan manis dan rapi. Dalam dinginnya musim dingin di Skandinavia—wilayah di Eropa Utara yang jarang disentuh para penulis lokal—penulis menghadirkan sebuah kisah bernuansa dingin namun menghangatkan hati ini.

"Bukan aku yang menentukan kebahagiaanmu. Kau sendirilah yang menentukannya." (hlm. 124)

Solveig atau Lyre adalah seorang gadis yang bekerja untuk Hades, sang Dewa Kematian. Tentu saja, Lyre sudah meninggal ratusan tahun lalu di kota Bath, Inggris. Keberadaannya saat ini semata sebagai entitas terpilih untuk menemani Hades dalam menjalankan tugasnya: mengurusi orang-orang mati. Pembaca fantasi tentunya sudah akrab dengan dewa Yunani kuno satu ini. Hades adalah Penguasa Dunia Kematian yang di mitologi-mitologi lain dia dikenal juga dengan banyak nama. Dalam buku ini, pembaca akan dipertemukan dengan versi Hades yang lebih lembut dan lebih roman, lebih agak manusiawi, meski masih kaku sebagaimana golongan dewata-dewata lainnya.

Sebuah kota kecil bernama Trondheim di Norwegia dihebohkan dengan serangkaian kasus pembunuhan berantai yang pelakunya masih misterius. Pembunuhnya memang sangat keji, dia selalu mengambil lever korbannya sebagai kenang-kenangan. Hades—sebagai Dewa Kematian—tentunya sudah mengetahui siapa si pembunuh berantai itu. Namun, sebagai Dewa dia dilarang untuk turun tangan secara langsung. Bersama Lyre, Hades turun ke dunia dan merancang sebuah plot untuk menghukum si pembunuh berantai, yakni menggunakan tangan Ivarr Amudsen, Kakak kandung dari salah satu korban si pembunuh berantai. Hades punya alasan kuat memilih pemuda kurus yang selalu sayu itu, apalagi kalau bukan dendam.

"Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Sayangnya, ada satu hal kecil yang luput dari rencana matang Hades. Lyre—yang berganti nama menjadi Solveig—malah jatuh cinta kepada Ivarr. Gadis itu awalnya ditugasi Hades untuk menggali perasaan di balik wajah dingin Ivarr yang seolah telah mati rasa akibat jutaan kesedihan yang menimpanya. Tak disangka, cinta malah ikut serta menyusup dalam hubungan keduanya. Bagaimana keduanya dapat bersatu, si pemuda masih hidup sementara si gadis telah meninggal? Bagaimana juga dengan nasib si pembunuh berantai? Berhasilkan Hades menjalankan rencananya?

“Kalau tidak aneh, namanya bukan cinta.”(hlm. 121)

Satu kualitas unggulan dari novel tipis ini, selain kerapian alurnya, adalah karakterisasinya yang serba muram namun digambarkan dengan indah. Kalimat-kalimatnya juga mengalir pelan namun merasuk dalam imajinasi pembaca bak aliran gletser nan kemilau di tengah hari dengan semilir angin dingin dari kutub. Walau kalimat-kalimat dan diksinya baku, buku ini sangat menyenangkan untuk disimak seperti buku-buku fiksi populer sejenisnya. Sungguh susah melepaskan buku ini ketika kita belum selesai membacanya. Begitulah sebuah tulisan yang bagus, dia membuat kita ingin segera menyelesaikan membacanya. Kemudian, dia menyisakan kita dengan kerinduan yang ganjil saat tiba di halaman terakhirnya. Dalam kalimat pendek, buku ini adalah kisah haru yang seru.

Dapatkan satu novel 'Purple Eyes' GRATIS dari Penerbit Inari dengan ikutan giveawaynya di Baca Biar Beken
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews202 followers
April 25, 2016
"Apa salahnya mengharapkan yang terbaik, baik ketika hidup maupun setelah mati?"

Sang dewa kematian, Hades, turun ke bumi bersama asistennya untuk sebuah urusan. Mereka menggunakan nama Halstein dan Solveig. Tujuan pertama mereka adalah rumah Ivarr Amundsen, pemilik Amundsen Corp. Ivarr masih dalam kondisi berduka untuk Nikolai, adiknya yang dibunuh secara misterius dan levernya diambil. Tapi dia tidak bisa merasakan apa-apa, menangis pun tidak. Tanpa memberitahu rencananya, Halstein menyuruh Solveig mengunjungi Ivarr sendirian secara berkala. Kebersamaan mereka menghadirkan keakraban tersendiri. Solveig ingin melindungi lelaki itu. Ivarr pun ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang tampaknya berasal dari zaman berbeda itu.

---

Purple Eyes memiliki cerita yang menyentuh tentang pilihan untuk hidup atau mati. Memilih untuk merasakan sesuatu atau mengabaikan semuanya menjadi ‘efek’ pilihan tersebut. Keduanya beresiko menimbulkan rasa sakit yang ‘mematikan’, tapi itulah esensi dari hidup dan mati. Bisa dibilang, Ivarr berada di antara dua hal yang berlawanan itu. Dia harus memilih salah satu dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Solveig juga muncul untuk memahaminya. Cerita dari sudut masing-masing memberikan sisi baru tentang bagaimana mereka bertahan. Cerita mereka singkat saja dan jumlah halaman pun tidak begitu tebal, tetapi secara keseluruhan ceritanya terasa penuh, ‘gendut’, dan berhasil menyentuh sisi sensitifku. Latar Trondheim yang dipilih termasuk baru dan segar buatku. Detail-detail kecilnya, terutama sejarah tradisi berciuman di bawah misletoe, menjeratku untuk terus baca. Settingnya juga memberikan aura tersendiri, dingin sekaligus hangat dan klasik. Sehingga menggunakan bahasa baku terasa pas dan enak dibaca. Di akhir, aku merasakan book hangover yang tidak jauh berbeda dengan saat aku membereskan Me Before You.

Baca review lengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2016/...
Profile Image for Utha.
824 reviews399 followers
January 23, 2021
"Karena terkadang, tidak memiliki perasaan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang datang bertubi-tubi." - halaman 78

Wah, tadinya aku baca ini buat babat timbunan dan berniat kasih ke orang yang mau baca. Tapi akhirnya aku keep karena bagus! :))

Novel ini diawali dari Dewa Hades yang kepingin kasih ganjaran buat pembunuh berantai yang suka mengambil lever korbannya, akhirnya dia ajak asistennya, Lyra, entitas yang sudah mati, ikut rencana untuk membongkar kasus itu. Lalu di sana melibatkan Ivarr, yang akhirnya malah ngerasa dua orang itu agak nyentrik: Dewa Hades yang terlalu tampan sekaligus beraura mengerikan, serta Lyra yang cantik tapi terasa terlalu "kuno." Yah, bisa kebayang deh ceritanya bakal mengarah ke mana.

Omong-omong, satu-satunya novel Prisca Primasari yang kubaca adalah Evergreen, itu pun pinjam sama Mbak Orin. Duh, udah lama banget. Terus pas dia ngeluarin novel ini ya jadi penasaran! Terus aku beli. Dan aku lupa baca sampai bertahun-tahun kemudian.

Aku suka gaya berceritanya, proporsi narasi dan dialognya enak banget dan bisa dibilang page turner. Dan yang aku suka tuh kalo penulis lokal nulis novel berlatar luar negeri nggak "maksain" ada karakter lokal lol. Dan novel ini pun demikian.

"Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih." - halaman 117

3.8 bintang
Profile Image for Nova  Putri.
46 reviews23 followers
June 22, 2016
Hanya butuh beberapa jam aja untuk menghabiskan buku ini. Selain karena memang bukunya tipis, yang paling membuat buku ini gak bisa ditinggal gitu aja karena rasa penasaran yang teramat besar dengan jalan ceritanya. Dan bahkan meski buku ini udah selesai dibaca, rasanya masih tetap belum rela berpisah dari mereka. Ceritanya benar-benar membekas dihati... :'). Ah, mbak Prisca, saya selalu susah move on dari cerita yang mbak tulis... :D

Review lengkap menyusul... ^^
Profile Image for Shelly.
Author 2 books44 followers
December 12, 2016
“Mereka memandangi saya karena saya tampan,” kata Hades tenang. “Bukan karena saya aneh.” – hlm. 16


Oke. Jadi novel ini menceritakan tentang Dewa Kematian bernama Hades dan asistennya, Lyre, yang turun ke bumi demi menunaikan sebuah tugas terkait peristiwa pembunuhan berantai dengan sebuah ciri khusus yaitu menyisakan korban-korban tanpa organ lever. Dan untuk menyelesaikan tugas mereka, orang yang harus mereka temui lebih dulu adalah Ivarr.

Nah. Quote di atas itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Hades di hari pertama ia dan Lyre turun ke bumi.

Duh. Beneran, deh. Karakter dewa Hades di novel PE ini bikin geregetan. Sekaligus memorable juga sih, karena memang pada dasarnya semua karakter tokoh ciptaan Kak Prisca selalu seperti itu. Ditambah peran Lyre (yang menggunakan nama ‘Solveig’ selama ia berada di bumi) serta Ivarr Amundsen, novel ini sukses menarik simpati saya sebagai pembaca.

Pembaca yang lain mungkin sangat menyayangkan karena novel ini begitu tipis, tapi saya tidak. ‘Ramuan’ ala Kak Prisca ini justru patut diapresiasi karena meski ceritanya nggak memakan banyak halaman, tapi tetap padat konflik dan asik diikuti.

Oya. Soal konflik, ini tipe konflik man vs fate. Lyre yang perlahan-lahan jatuh cinta dengan Ivarr terhalang oleh takdir bahwa Lyre tidak lagi hidup sebagai manusia, sedangkan Ivarr adalah manusia. Keduanya jelas berbeda.

Lalu, bagaimana eksekusi cerita ini?

Kita akan dihadapkan pada misteri, teka-teki, pahit-getir, kelam-suram, serta bumbu manis dalam interaksi Lyre dan Ivarr. Tugas Lyre semakin sulit ketika Ivarr merasa nyaman dengan Lyre. Ada yang begitu unik di antara mereka berdua. Yaitu ketika Lyre memakaikan mantel pada Ivarr dan puisi yang Lyre tulis tentang Ivarr. Dan. Puisinya. Sangat. Indah. >,<

Ternyata oh ternyata. JENG JENG JREEENG … Seni dalam mengambil judul Purple Eyes diangkat dari elemen cerita, di mana … uhuk, kasih tahu nggak ya? –ketawa jail- pokoknya ‘Puple Eyes’ ini menggambarkan fisik Ivarr gitu loh. Ada satu elemen lain, tapi baiknya itu jadi kejutan buat yang belum baca PE ehehehehe.

Memang ada banyak kejutan di PE, terutama bagian ending. Bagian itu juga yang membuat saya menitikkan air mata (serius). Kalau soal latar saya rasa nggak ada masalah. Karya Kak Prisca selalu all out bahkan dalam menulis latar Norwegia. Salut!

Omong-omong, bagian favoritku adalah ketika Ivarr membalas surat Lyre. Perasaanku campur aduk di situ. Kalau kamu?
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
June 11, 2016
selesai dibaca dalam dua jam. biasanya saya akan mengeluh buku setipis ini kependekan, tapi kali ini tidak. Prisca Primasari menyajikan setiap bagian dengan porsi yang pas, tidak bertele-tele, singkat namun efektif. bagian awal, tengah, lalu klimaks, hingga akhirnya penyelesaian. semuanya tersampaikan dengan panjang dan alur yang tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat, dan juga--tentu saja seperti kebanyakan cerita dalam buku-buku Prisca Primasari--indah. dongeng, mitologi, musik klasik, sastra klasik, keindahan-keindahan kuno dan magis yang selalu menjadi bagian dari karya-karya Prisca Primasari, atau bahkan sudah menjadi bagian dari diri Prisca Primasari sendiri. sebuah kecintaan yang akhirnya menjadi ciri khas. benar-benar perwujudan ungkapan "saya menulis apa yang saya suka".

seperti dalam beberapa buku sebelumnya (sebutlah Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa dan Priceless Moment) Prisca memadukan keindahan-keindahan kuno itu dengan cerita yang diurai dari sebuah emosi. kesepian, kehilangan, rasa sakit karena ditinggalkan. dalam dua buku yang saya sebutkan itu beserta Purple Eyes ini, pola ceritanya mirip: gadis dengan karakter yang unik bertemu dengan pria yang dirundung emosi tertentu, lalu gadis itu memberi perubahan pada hidup si pria. lama kelamaan, mengoleksi buku-buku Prisca sama seperti mengoleksi buku-buku tentang emosi; perasaan yang kamu alami ketika menyadari mengoleksi buku-buku Haruki Murakami itu sama seperti mengoleksi buku-buku yang berbicara tentang kesepian dan kesendirian. membuktikan bahwa seorang penulis memang mempunyai kecenderungan menulis tema-tema tertentu. itu tidak masalah buat saya walau ada ketakutan akan datangnya perasaan jenuh karena tema yang itu-itu saja. yang saya nantikan dari buku-buku Prisca justru balutan dongeng, keindahan klasik, dan latar tempat luar negeri yang selalu memberi kesan diriset dan dikuasai dengan baik. rasanya, dua pertanyaan utama yang selalu muncul di benak saya ketika mendengar Prisca akan menerbitkan buku baru adalah "kali ini, kita akan berbicara tentang emosi apa?" dan "akan ada dongeng, musik, sastra, dan latar tempat yang seperti apa?" seandainya saya punya ruang yang cukup di kamar, saya ingin memberikan satu spot khusus untuk buku-buku Prisca. rasanya dengan cara seperti itu, keseragaman bukunya lebih bisa dinikmati.

tentang Purple Eyes sendiri, kesan pertama yang saya dapat setelah membaca beberapa halaman pertama adalah buku ini adalah salah satu interpretasi dari sekian banyak interpretasi tentang dewa kematian dan bagaimana dia bekerja. ingat Death Note anyone, yang berbicara tentang Shinigami (dewa kematian) dan sebuah buku dari dunia kematian yang digunakan untuk membunuh (mengeksekusi) namun jatuh ke tangan manusia? dan kesan yang selalu saya dapat dari usaha-usaha penafsiran cara kerja dewa kematian (dan tentang dewa kematian itu sendiri) adalah kreatif. dalam buku ini, Hades sang Dewa Kematian bekerja dalam ruangan, membaca berkas dan mencatat data. kadang, dalam kasus-kasus eksekusi tertentu, dia diperintahkan untuk bekerja di lapangan (turun tangan secara langsung untuk membunuh). prinsipnya sangat jelas dan masuk akal: kematian harus dilaksanakan dengan cara selogis mungkin, cukup logis untuk dicerna manusia. buku ini tidak menjabarkan lebih jauh. apa yang disampaikan kepada pembaca hanyalah hal-hal yang cukup diketahui untuk mengikuti perjalanan Hades dan Solveig dalam mengatasi kasus pembunuhan di mana si pembunuh selalu mengambil lever korban. kisah mereka melibatkan seorang pemuda bermata keunguan bermata Ivarr Amundsen. lalu--seperti yang sudah bisa ditebak dari tagline di sampul buku dan blurb di belakang buku--Solveig terlibat kisah lain dengan Ivarr. kisah yang bagi saya sangat sederhana namun juga sangat magis di saat yang bersamaan, yang membuat saya jatuh cinta sedalam-dalamnya pada konsep "jatuh cinta pada orang yang sudah mati" dalam buku ini. saya menganggap Prisca mengakhiri cara itu dengan dua ending, yang satu bikin hati mencelus (sebelum epilog) dan yang satunya lagi bikin senyam-senyum senang . saya paling suka ending yang pertama. ending itu memberi saya gado-gado perasaan tak tega yang bercampur dengan rasa puas.

soal teknis, saya tidak menemukan satu pun typo atau kelalaian lain dalam pengetikan. kalaupun ada, saya bersyukur telah melewatkannya karena itu berarti kelalaian tersebut sama sekali tidak mengganggu kenyamanan membaca. Prisca menggunakan kalimat-kalimat pendek yang rasanya sesuai dengan panjang buku ini yang hanya 144 halaman, seakan-akan buku setipis ini memang sudah sepatutnya berisi cerita yang disampaikan dengan kalimat-kalimat pendek dan paragraf yang tidak usah panjang-panjang. melalui cara itu, setiap informasi tersampaikan dengan lebih efektif. walau sering terjadi pengulangan karena gaya penulisan yang cenderung menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, informasi yang diulang selalu disertai dengan informasi-informasi baru sehingga pengulangan tersebut terkesan wajar dan tidak mengganggu. soal kover buku, saya kurang suka warna ungunya yang bagi mata saya terlalu solid. apa warna ungu ini merepresentasikan warna mata Ivarr? judulnya pun sudah Purple Eyes, ada unsur ungunya. rasanya jadi kayak terlalu banyak warna ungu dan itu sedikit mengusik kenyamanan saya.

secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. sangat suka interaksi Hades dan Solveig, sangat suka interaksi (dan hubungan) Solveig dan Ivarr, sangat suka karakter tiga tokoh utama tersebut. yang terasa agak kurang greget dan menegangkan barangkali hanya pada penyelesaian konflik kasus pembunuhan Nikolai. namun seperti biasa kalau sebuah buku sudah terlalu bagus untuk dikeluhkan, kekurangan-kekurangan dalam buku ini jadi tidak terlalu mengganggu. tetapi barangkali Prisca ingin mencacat bagian-bagian yang kurang tersebut supaya menjadi bahan evaluasi sebelum menghasilkan karya baru.

5 bintang. terima kasih untuk satu lagi karya beraroma Eropa (kali ini Skandinavia) yang rasanya seperti campuran kekejaman dan keindahan musim dingin, Kak Prisca. saya suka sekali.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
April 20, 2016
Bisa juga dibaca di http://www.kubikelromance.com/2016/04...

Hades memiliki banyak nama, seperti Hel, Pluto, Izanami, Izanagi, Reaper, Death. Namun, tugasnya hanya satu, yaitu sebagai Dewa Kematian. Hades memiliki seorang asisten yang akan mengarsip data orang-orang mati, melakukan apapun untuk diperintahkan oleh dewa bersayap tersebut, dia bernama Lyre, seorang gadis Inggris yang meninggal pada tahun 1895, saat berusia 24 tahun. Hades biasa hadir ketika manusia memasuki ruang transit, memberikan ujian untuk mengetahui apakah manusia tersebut ingin hidup atau terus mati. Hades tidak diizinkan turun ke bumi, kecuali kasusnya benar-benar penting.

Kasus pembunuhan berantai yang memakan puluhan korban di Trondheim, Norwegia mau tidak mau membuat Hades turun tangan. Dia diperintahkan turun ke bumi untuk mengatasi kasus tersebut, di mana pelaku selalu mengambil lever para korbannya. Tentu saja Hades tahu siapa pelakunya, hanya saja dia harus menyelesaikan masalah dengan cara manusia, harus selogis mungkin, pembunuh tersebut harus mati dengan cara manusia. Hades pun mengajak Lyre karena dia akan butuh bantuannya, kostum dan nama pun dipilih. Hades menggunakan nama Halstein, sedangkan Lyre memilih nama Solveig.

Tujuan pertama mereka adalah mendatangi salah satu keluarga korban, Ivarr Amudsen. Awalnya Solveig tidak tahu rencana apa yang telah disusun tuannya, dia hanya diperintahkan untuk meminta bantuan Ivarr mendatangi tempat-tempat tertentu, hanya berdua. Solveig tidak menyukai ide tersebut, dia tidak nyaman berada di dekat Ivarr, lelaki tampan tapi berekspresi datar tersebut seperti tidak memiliki emosi, hilang rasa, dia bagaikan patung lilin. Itulah alasan kenapa Hades mengajak Lyre ke bumi, tugasnya adalah membuat Ivarr merasakan emosi lagi, dengan begitu Hades akan bisa mejalankan rencananya.

Misi kali ini tidak semudah bayangan Hades, asistennya yang sudah mati tersebut jatuh cinta kepada manusia, yang masih hidup.

Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.


"Bukankah lebih baik tidak merasa sama sekali," bisik Ivarr, "daripada merasa sakit...?"
"Saya mengerti, " bisik Solveig. "Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit, daripada tidak merasa sama sekali..."


Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.


Kalau tidak aneh, namanya bukan cinta.


Saya rasa inilah buku yang dimaksud kak Prisca ketika saya bertanya dalam sesi Tanya Penulis di sini, yaitu novela yang bersetting di Norwegia. Membaca Purple Eyes membawa saya ke masa ketika menyukai tulisan kak Prisca untuk pertama kali, bersetting di luar negeri, selalu menggunakan kalimat baku, sangat klasik, nama yang unik, aura kelam, tokoh-tokoh yang terluka, dan semua kemuraman tersebut disajikan secara indah. Saya pernah bilang kalau saya tidak pernah bisa menebak jalan pikiran kak Prisca, saya tidak pernah bisa menebak cerita apa yang akan dia suguhkan sebelum membaca bukunya sampai tamat. Ceritanya selalu lain daripada yang lain, tanpa meninggalkan ciri khas yang dia miliki. Membaca Purple Eyes saya juga sedikit menebak jenis buku apa yang dilirik Inari, sedikit berbau fantasi dan kelam.

Purple Eyes memiliki genre yang campur aduk, selain fantasi, ada juga thriller dan romance. Saya rasa semuanya disajikan secara seimbang, memang fokusnya lebih ke kisah cinta, tapi kadarnya juga tidak berlebihan. Purple Eyes bercerita tentang bagaimana membuat seseorang yang kehilangan perasaan dan tanpa emosi mulai kembali mendapatkan hal tersebut sedikit demi sedikit, merasakan apa yang namanya cinta. Tentang pilihan yang akan selalu ada.

Dari segi tokoh, tidak perlu diragukan lagi, kak Prisca selalu bisa menghidupkan karakter para tokohnya, dan seperti biasa juga, sangat komikal. Tokoh favorit saya di buku ini adalah Hades, ya, bukan Ivarr, hahaha. Hades ini sangat sombong, apalagi kalau dia sudah pamer bagaimana dengan mudahnya dia membasmi para diktator yang ada di dunia, pingin jitak kepalanya dan nyabutin bulu sayapnya! Mesam mesem ketika dia memilih baju pengantin sebagai pakaian sehari-hari, dia ini sangat perfeksionis XD. Ivarr sebenarnya tidak buruk, hanya saja dia terlalu terluka, mungkin hanya Solveig saja yang bisa menangani dan menyembuhkannya. Saya juga suka Solveig, dia sangat apa adanya.

Bagian favorit saya adalah ketika Solveig berpetualang dengan Ivarr mengarungi Norwegia yang bersalju karena bagian tersebut adalah awal Ivarr membuka hatinya, lebih bisa memandang hidup. Saya juga sangat sangat suka ending buku ini, sedikit bisa ditebak, tapi tetap saja puas :D. Terus di pemakaman ketika Hades menunjukkan sayapnya, ihhhhh gemes! Sedikit kekurangannya adalah kurang panjangggggggg, saya masih ingin berlama-lama dengan Hades, hahaha. Apakah Inari akan selalu menerbitkan novela? Selain bergenre fantasi dan beraura kelam, saya rasa ini juga salah satu ciri dari buku-buku terbitan Inari.

Saya sangat menikmati membaca Purple Eyes, tidak membutuhkan waktu lama untuk menamatkannya. Kalian akan disuguhi sisi muram dan bersalju Norwegia, melalui para tokohnya, melalui ceritanya. Saya tidak akan berhenti membaca karya kak Prisca, karena saya tidak akan pernah puas sebelum menebak jalan pikiran atau cerita yang dia buat XD.

4 sayap untuk Dewa Pencabut Nyawa.
Profile Image for Maria.
179 reviews882 followers
July 9, 2017
Cerita Fantasi dan Supernatural yang ringan dengan gaya bahasa yang enak dibaca.

Walau terasa plotnya agak cepat dan sedikit klise terutama pada bagian hubungan Ivarr dan Lyre, Purple Eyes menyajikan misteri yang membuat orang penasaran. Sampai-sampai aku cepat-cepat baca untuk tahu misterinya. Walau sebenarnya saat diketahui siapa, kurang memuaskan sih... in my opinion. Mungkin bisa sedikit ditambahkan lagi jejak-jejak di belakangnya?

Tapi ah sudahlah, demikian pun bagus. Finally read this 💕
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
July 25, 2022
Such a quick read with a very unique background story. Main topic-nya tentang hubungan antara dua orang kakak beradik, tapi di rangkum dri prespektif hidup dan mati, selain itu juga tentang hubungan romantis antara dua mc yang pembaca dri awal yakin mereka gak bisa bersama. It being tied beautifully dgn latar tempatnya di Norwegia, culture dan vibesnya pun semakin membuat pembaca merasa seakan menjadi bagian dari bukunya.

Buku ini bukan yang plot driven book, tpi lebih di fokuskan sama perkembangan karakternya bikin pembaca akan lebih mudah merasa relate dengan ceritanya.
Profile Image for Vania Macaire.
112 reviews53 followers
July 13, 2022
Hal yang aku suka dari buku ini:
1. Latar tempatnya dan setting suasananya yang dideskripsikan dgn baik oleh penulis.
2. Alurnya pas, tidak terlalu cepat atau lambat.
3. Karakter tokoh²nya yg kuat.
4. Genrenya yaitu Fantasy Romance 😍.
5. Ceritanya yg menarik dan page turner. Jenis buku yg bisa kalian tamatkan sekali duduk 😆.
6. Endingnya 🥰

#Review lengkap di Instagram & Youtube: Macairebooks
Profile Image for Vio Reads.
146 reviews
August 3, 2022
Purple eyes bercerita tentang Dewa Hades dan Lyre yang harus menjalankan misi di dunia manusia untuk membunuh si pembunuh berantai yang akhir-akhir ini meresahkan. Mereka berangkat ke Trondheim, Norwegia, dan bertemu dengan salah satu keluarga korban, yaitu Ivarr Amundsen. Dari sini kisah cinta Solveig (alias Lyre) dan Ivarr dimulai 😆. Karena Hades banyak menyuruh Solveig untuk jalan-jalan dan lebih mengenal Ivarr. And yes, ini buku dengan genre fantasy romance 😍💕.

Eitss, balik lagi ke tujuan utama, ya! Hades (dewa kematian) punya rencananya sendiri untuk mengatasi si pembunuh berantai. Ia ingin melihat gimana reaksi Ivarr saat diingatkan oleh adiknya, yang dibunuh. Romansa antara Solveig-Ivarr pelan-pelan. Berasa ngikutin pedekatenya mereka, tapi tanpa disengaja 😂. Didukung oleh intensitas mereka yang sering bertemu. Ini bagian yang aku suka!🥰 pembaca diajak berkeliling Norwegia. Mulai dari Nasjonamusset, melihat lukisan “The Scream”, ke cafe bernama “Fairytale Cupcakes”, hingga pemakaman di Trondheim.

Bener-bener suka bangettt sama deskripsi kota Torendheim, berasa lagi disana juga 😉. Disini juga disinggung sedikit tentang makhluk mistis. Seperti foressgrim, peri yang tinggal di tengah air terjun dan mengajari manusia untuk bernyanyi dan bermain musik. Lalu ada Kelpie, makhluk mistis yang menghununi danau-danau skotlandia.

Aku suka sih bagaimana setiap karakter digambarkan konsisten dari awal hingga akhir. Apalagi karakter Ivarr, kerasa banget dingin dan kakunya dia 😂😅. Sayangnya, penyelesaiin kasus si pembunuh berantai ini terlalu cepet, padahal kepo sama detail-detail kecilnya heheh 🤧. Kalau dijelasin lebih dalam, pasti makin mantap.

Overall suka banget sama cerita ini, idenya unik, bikin ngarep juga kalau Solveig dan Ivarr bisa bersama. Endingnya bikin terharu guys 😫. Aku kasih rating 4🌟
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
November 6, 2016
Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih. ---halaman 117


Sekarang dia dipanggil Lyre, 24 tahun, asisten Hades. Setelah 120 tahun kematiannya, Hades mempunyai tugas baru untuk dirinya, yakni menemani Hades ke dunia manusia untuk menuntaskan misi pembunuhan yang meresahkan di Trondheim, Norwegia. Orang-orang mati dibunuh secara sadis, lalu diambil levernya.

Lyre berubah nama menjadi Solveig, asisten Tuan Halstein yang tak lain adalah Hades sendiri. Halstein menarget Ivarr Amundsen sebagai bagian dari misinya, maka mereka datang ke rumah pria itu sebagai orang yang ingin memesan boneka troll untuk suvenir acara pagelaran teater. Ivarr Amundsen adalah saudara dari salah satu korban kekejian pembunuh itu. Adiknya Nikolai Amundsen meninggal dunia dan pemberitaan tentangnya diliput oleh media.

Pemuda di depan Solveig ini, sebaliknya, mirip sekali dengan patung lilin. Dipahat dengan sangat indah, halus di setiap inci tubuhnya. Namun tanpa rasa. ---halaman 38

Semenjak adiknya meninggal, hidup Ivarr tidak lagi sama. Pemuda itu hidup tanpa hati, seperti kehilangan emosi apa pun dalam dirinya. Ia tidak menangis, tidak pula bersedih atas kematian tragis adiknya. Ia seperti patung lilin yang hidup tanpa nyawa. Hades memiliki rencana yang melibatkan Ivarr. Namun, demi keberhasilan rencana itu, ia tidak memberitahukannya pada Solveig. Gadis itu hanya diminta oleh Hades untuk terus mendekat dan menemui sang pria. Singkat cerita, Hades ingin agar Ivarr jatuh cinta pada Solveig.

Dan yang terjadi adalah... Solveig yang justru jatuh hati pada Ivarr.

"Kau kesal padanya. Kenapa membuat puisi tentangnya?" ---halaman 42

Lalu ketika mereka diam-diam saling menyimpan rasa, Hades menjalankan skenarionya yang cukup kejam, tanpa melupakan jati dirinya yang sebenarnya bahwa dia adalah sang Dewa Kematian.

***

Quick review:

Fantasi, mitologi, Norwegia, ada "Harry Potter" dan "Jostein Gaarder" disinggung dikit di sana, Inggris era Victoria, surat yang ditulis dengan segel lilin, plot twist yang menawan, cerita yang indah, nyaris bersih dari typo dan kesalahan penulisan, ditulis oleh penulis lokal yang rasanya seperti membaca novel terjemahan.... Apa yang bisa menghalangiku untuk tidak memberikan bintang lima?

Setelah tertunda sekian lamanya (karena ternyata bukunya nyelip di dalam lemari pakaian), akhirnya saya berhasil membuat review yang lebih panjang.

Purple Eyes adalah novel fantasi yang dingin, sedingin atmosfer kota Trondheim yang menjadi setting cerita ini. Memadukan antara fantasi—dunia mitologi yang benar-benar kental, apalagi Nowegia adalah tuan rumahnya mitologi Nodik—berbalut roman, dan juga sedikit thriller menjadi bumbu yang pas. Tentang Hades yang menjalankan peran di sebuah tempat antara kehidupan dan kematian, dengan asistennya Lyre—atau yang di dunia manusia memilih nama Solveig—yang meninggal di era Victoria, menjalani sebuah misi menyelesaikan pembunuhan mengerikan di sebuah tempat yang biasanya tenang. Skenario dibuat, tapi ternyata romansa menjadi sedikit kendala dalam menjalankan rencana.

Setting tempat ini begitu kuat, saya bisa merasakan aura musim dingin dan juga beberapa latar yang diambil dalam kisah ini, menambah kesan kuat romantisme yang ingin dibangun. Karakter yang kuat: sosok Ivarr yang dingin bagai mayat hidup tanpa ekspresi yang indra perasanya mati suri, Solveig yang polos dan kuno (aduh, kenapa dia mau ke bumi nggak riset dulu sih, ngaku dari Inggris tapi nggak kenal Harry Potter? Siapa yang nggak curiga coba =))), dan Hades yang unik tapi sayang sekali, bagi saya Hades-nya kurang kejam. Plot twist-nya, benar-benar tak diduga, namun cukup masuk akal dan pas.

Tentang pesan tersiratnya mengenai kematian... dalam banget. Terima kasih karena sudah diingatkan tanpa kerasa digurui.

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” ---halaman 124

Salut banget sama Kak Prisca yang bisa membuat mitologi semanis novel-novel romantis tanpa melupakan kesan fantasinya. :)
Profile Image for Autmn Reader.
881 reviews92 followers
May 19, 2024
Update: 19 Mei 2024

Actual rating 4,5 🌟

Karena buku terbarunya Hades udah terbit, yang mana itu adalah crossover sama seri Love Theft dan Winter Tea Time, aku bakalan baca ulang semuanya. Kecuali WTT karena bru baca kemaren. Nah jadiii babay semua buku yang niat kubaca bulan ini dan belum kubaca. Aku mau selingkuh dlu.

Setelah baca ulang yg entah ke berapa karena aku nggak ngitungin, buku ini ternyata emosional juga yak. Apalagi aku juga baca webtoon-nya. Kayak makin potek aja hatiku liat Ivarr nangis, wkwkwk.

Bukunya termasuk fast pace karena emang cepet juga. Chemistry Solveign sama Ivarr nya flawless banget. Pelan-pelan tapi semua membekas. Tiap pertemuan mereka itu mengubah Ivarr pelan-pelan.

Villain-nya diceritain sedikit tapi cukup sih untuk buku tipis kayak gini. Hal yang paling aku suka adalah setiap scene itu penting.


Untuk yang udah baca novella-nya, aku saranin baca juga webtoon-nya. Asli deh bagian klimaksnya beneran bikin potek lagi. 😭😭😭😭
=======
4 desember 2019

Aku dalam misi buat masukin ke goodreads cerita-cerita yang udah kubaca zaman dulu (mksdnya kek ngasih rating gitu dan review), dan diawali dengan buku2nya Kak Pris.

Dulu, aku bakalan kasih 5
Profile Image for Stefanny Lukman.
116 reviews16 followers
May 9, 2016
rate 4.5

buku ini tipis-tipis cabe rawit yaaah. ampun deh.
ini pertama kali baca karya kak Prisca Primasari. beli buku ini juga grgr diskon (saya paling gak bisa lihat buku diskonan) dan review dari beberapa teman yang sudah baca.
TAPI SUER DEH GAK NYESELLLLLL. aku gak mau spoiler ini ceritanya gimana, tapi yang jelas ngalirrrrrrr aja kayak air walopun alurnya emang cepat. belum lagi misi Hades sama Ivarr tuh apaan bikin penasaran. Solveig aja penasaran parah kan, apalagi saya yang baca.

singkat. fix ini buku tercepat yang saya selesaikan. rasanya gak rela buku ini cepat berakhir.. dan pertamakalinya kan tokoh utama mati tapi jadi happy ending? *INI SPOILER PARAH* oke bhay!
Profile Image for Fitra Aulianty.
154 reviews4 followers
May 22, 2016
Suka dengan opini yang ditulis terang-terangan oleh penulis di buku ini. Tentang kehidupan dan kematian, yang kemudian membuat Hades, si dewa kematian turun ke bumi.

Hampir semua manusia punya kecenderungan berkhianat. Tapi kau tidak. Karena itulah saya memilihmu. -- hlm 84

Hades tidak turun sendiri ke bumi, melainkan bersama Lyre--asistennya. Namun jika ditanya mengenai apa misi mereka sebenarnya, Hades memilih untuk tidak menjawab.

Satu lagi untuk novel setipis ini, apa yang dilakukan Ivarr setelah kepergian Hades dan Lyre itu cukup tidak terduga.
Profile Image for aynsrtn.
489 reviews14 followers
January 22, 2025
"Kata ibu saya, orang-orang yang tidak sempat mendapatkan pasangan di dunia ketika masih hidup, akan bertemu pasangannya di alam lain setelah mati."- p. 82

Dan bertemulah kembali mereka ...

📝Actual rating: 4.5⭐️

🍃Sinopsis
Ivarr Amundsen kehilangan adiknya yang paling ia sayangi, Nikolai, dalam sebuah kematian tragis yaitu pembunuhan. Lever adiknya diambil oleh sang pembunuh berantai yang kejam. Dalam kesedihan dan kesepian yang tak berujung, Ivarr menjadi dingin dan seolah mati rasa bak patung lilin. Lalu, ia bertemu dengan Solveign, seorang gadis misterius yang penuh dan teka-teki.

🍃[+]
Berlatar di salah satu negara skandinavia, Norwegia, kisahnya erat akan mitologi dan romantisme khas Eropa. Ivarr dan Solveign bertemu karena satu sebab dan relatif cepat untuk proses ✨️jatuh cinta✨️, namun chemistry sudah sedalam seperti telah bertemu ratusan tahun.

Karakterisasinya cukup kuat. Ivarr, Solveign, Hades, semua punya gambaran karakter yang sangat berbeda satu sama lain dan mampu menumbuhkan konflik dan intrik yang membuat jalannya cerita menjadi semakin seru.

Buku ini tipis, tapi semuanya tersaji dengan pas. Tidak ada yang terburu-buru atau konflik yang sekadar lewat. Kalau tidak lihat nama penulisnya, mungkin akan menyangka bahwa ini adalah novel asing yang diterjemahkan.

Ending-nya singkat, padat, tersenyum 💐

🍃[-]
Kalau 300 halaman mungkin bisa lebih banyak momen Ivarr dan Solveign serta mengintip Bapak Hades dinas lapangan, haha [hanya sebatas keinginan pembaca].

Akhir kata, bagi pencinta romansa-fantasi dengan bumbu-bumbu mitologi negara skandinavia, buku ini bisa dibaca dalam sekali duduk dan sangat direkomendasikan.

Suka!! 💐
Profile Image for Aurora.
89 reviews3 followers
November 22, 2022
I finished this book in one sitting. Jarang banget bisa habis dalam sekali baca karena emang ceritanya ngalir gitu aja. Padat, ga bertele-tele ataupun muter-muter. Hubungan kedua karakter utamanya memang terkesan buru-buru tapi alasannya pun logis, mereka berkejaran dengan waktu penyelesaian misi di bumi.

Deskripsi tempatnya jelas banget, aku bisa membayangkan secantik apa tempat-tempat yang di deskripsikan di buku ini. Hubungan kedua karakternya pun pelan tapi pasti, bukan yang si cewe maksa dobrak masuk ke hidup cowo.

Pokoknya bagus deh dan ringan banget jadi bisa untuk healing juga, terlebih karena tempat-tempat yang diceritakan di buku ini membuat seolah pembaca juga ada di situ dan merasakan apa yang karakter tersebut rasakan.
Profile Image for Afifah.
409 reviews17 followers
July 6, 2019
Aura/Atmosfer buku ini sangat kuat buatku. Dingin, agak sedikit menakutkan, tapi juga dipenuhi dengan kesedihan. Ceritanya cukup bisa ditebak tapi tetap mudah dan menyenangkan untuk dibaca. 4.5 dari 5 bintang untuk buku ini.
Profile Image for Thea.
43 reviews
October 11, 2022
Ga sampai 200 halaman, tergolong tipis. aku suka banget karna ceritanya ga bertele-tele💓
walaupun tipis, tp ceritanya berkesan banget. membekas dihatiku🥹🥹
Profile Image for Dini Afiandri.
Author 4 books17 followers
October 3, 2016
Review menyusul.

==Edited 3 Oktober 2016==

Purple Eyes adalah sebuah novel yang dingin dengan sentuhan tangan dingin mbak Prisca Primasari.

Mengambil latar di Norwegia, Ivarr Amundsen adalah pria yang tidak bisa merasakan emosi. Saya merasa karakter ini adalah karakter yang paling sedih dan dingin yang pernah ditulis mbak Prisca, melebihi tokoh utama wanita di novel sebelumnya, French Pink.

Di novel ini, kita akan menemukan penggambaran Hades sebagai dewa kematian yang agak berbeda, tapi tidak kalah tampan dan keren. Penggunaan data, angka tahun, dan deskripsi serta info tentang negara, zaman, dan latar novel ini membuatnya terasa memberikan nuansa yang berbeda. Lebih gelap dan suram. Untunglah ada Lyre alias Solveig yang cukup ceria, kehadirannya dan apa yang gadis ini lakukan untuk Ivarr membuat kebekuan yang terasa di awal novel ini mencair perlahan-lahan seperti salju di musim semi. Saya jadi bertanya-tanya seperti apa manna dan salwa di dunia kematian, apakah begitu jauhnya kenikmatan makanan itu dibandingkan makanan di dunia.

Interaksi antara Ivarr dan Solveig membuat saya merasa geli. Ketidaktahuan dan gap zaman yang ada di antara mereka berdua sangat unik. Pun setelah cerita melewati klimaks dan Ivarr mengejar gadis itu, semua data yang dideskripsikan oleh mbak Prisca terasa nyata, sampai ke penggambaran latar penginapan Inggrisnya yang sangat indah. Saya jadi teringat kalau saya sangat menyukai setting dan nuansa era abad Victorian, juga arsitektur bangunan di sana. Membaca novel ini membuat saya ingin berkunjung lagi ke Inggris.

Tentang akhir ceritanya, seluruh konflk cerita selesai, dan meski pembaca dibiarkan menentukan sendiri nasib Ivarr dan Solveig dengan imajinasinya masing-masing, saya justru puas dengan akhir cerita seperti ini. Terasa sangat pas dan cocok saja, karena memang hanya itu jalan keluar yang tersisa. Kalau boleh berkomentar, menurut saya

Satu lagi novel mbak Prisca yang tidak pernah gagal memikat hati saya.
4,5 bintang untuk Purple Eyes.
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
May 25, 2016
Lyre sudah 120 tahun melayani Hades, sang dewa kematian. Kegiatannya selama 120 berjalan sangat monoton. Begitu saja. Hidupnya baru berubah ketika di suatu hari Hades mengajaknya turun ke bumi. Ada petualangan kasus langka di dunia manusia yang hidup untuk diselesaikan oleh Hades.

Mereka tiba di Trodheim yang dingin dan bersalju. Namun, Ivarr Amundsen, pemuda yang mereka temui jauh lebih dingin dari suhu maupun tumpukan salju di jalan. Ivarr bahkan jauh lebih mati daripada Lyre—atau yang dalam penyamarannya dipanggil Solveig—yang sudah mati.

Ivarr seperti ikut mati ketika Nikolai, adiknya, menjadi salah satu korban pembunuhan berantai di Trodheim. Pembunuhan berantai yang membawa Hades dan Lyre ke bumi. Demi penyelidikan, Solveig alias Lyre, harus sering-sering menemui Ivarr. Pada awalnya, gadis itu malas. Ivarr terlalu dingin. Persis patung lilin.

“Berjalan-jalan dengannya seperti berjalan-jalan bersama manusia tanpa hati.”
“Kenapa itu membuatmu begitu kesal?”
“Karena… karena manusia tidak seharusnya bersikap begitu.” (h. 41)


Sampai, dia sadar bahwa ada sesuatu yang justru membuatnya ingin semakin dekat dengan Ivarr.

Purple Eyes ini pendek. Tebalnya hanya 144 halaman. Harganya juga masih ramah kantong di zaman harga buku menggila gini. Namun, buku ini benar-benar memuaskan! Ada begitu banyak hal yang saya dapatkan dari novel setebal 144 halaman ini.

Saya sendiri rada bingung menjelaskannya, yang pasti, ketika menutup buku ini ada campuran getir, haru, sedih, dan bahagia dalam dada saya. Scene Ivarr di Bath dan di akhir itu berhasil bikin saya mewek.

Review lengkap sila cek di sini.
Profile Image for Aoi Matsuzaki.
60 reviews
February 12, 2017
Buku ini lambat, penuh penghayatan, memesona, dan tentunya indah. Aduh nyesel saya ngga baca ini dari pas pertama baca. Gila aja masa cuman 144 halaman bacanya dari tanggal 12 sampe 28. Buku ini tuh gimana ya, walaupun sisi karakternya nggak terkuak semua gitu (terutama Hades. Padahal dia kayaknya kalo dikembangin bakal jauh lebih keren), tapi enak banget diikutin. Bahasanya ngalir gitu aja. Dan tentunya, Kak Prisca selalu bikin saya suka sama karakter ceritanya, lebih lebih yang cowok (cuz karakter cowok yang dia bikin biasanya gelep gelep gitu. Kan nagih wkwk). Nggak nyesel beli dan baca ini.

NB. Buat yang suka cerita manis-manis tapi nggak bikin enek, ini recommended banget. Beberapa kali saya senyum-senyum sendiri bacanya. Walaupun di dua bab sebelum epilog itu rasanya kaya kecepetan gitu pace-nye.
94 reviews3 followers
June 19, 2016
Pembunuhan keji dengan mengambil lever korban terus terjadi. Hal itu membuat Hades, dewa kematian, harus langsung turun ke Bumi dan mencari dan menghukum pelaku kejahatan itu. Ditemani Lyre, asistennya, mereka berangkat ke Trondheim, salah satu kota di Norwegia.
Hades berganti nama menjadi Halstein sedangkan Lyre memilih Solveig sebagai nama barunya. Mereka mengunjungi Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan keji itu. Saat Solveig bertanya kepada Halstein apa tujuan mereka mendekati Ivarr, Halstein tidak bersedia memberitahu Solveig.
“Kalau kau tidak suka, jangan memberi harapan. Kau sama saja menyakiti mereka.” – hal. 34
Mulai sekarang, tugas Solveig adalah mendekati Ivarr. Ini bukan hal yang menyenangkan bagi Solveig mengingat pria itu selalu datar tanpa emosi. Bahkan saat mereka mengungkit kematian Nikolai, adik Ivarr, pria itu tidak terlihat sedih sama sekali. Mengajak Ivarr mengunjungi tempat yang biasa ia kunjungi bersama Nikolai juga seolah tidak berdampak apa- apa baginya.
“Orang menangis karena kehilangan itu wajar,” ujar Halstein lagi. “Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” – hal. 50

Selengkapnya di sini ya :
http://ertalin.blogspot.co.id/2016/06...
Profile Image for Naomi Chen.
228 reviews14 followers
May 20, 2016
Pengemasan cerita yang menarik untuk ukuran 'short novel'.

Mba Prisca (yg seinget saya penggemar anime krn wkt itu ga sngaja pernah lihat wallpaper laptopnya) mengemas fantasi dan alur budaya Norwegia - Inggris dengan sangat baik. Terlepas dari endingnya yang realistis dan cukup prediktif menurut saya, membaca novella ini membuat saya tidak bisa berhenti membalik halaman demi halaman.

Kehilangan.

Sesederhana itu tema yang diangkat Mbak Prisca. Dengan tidak bertele" (mungkin karena ini ukuran novel pendek juga), penulis bisa menyampaikan inti ceritanya dengan cukup oke.

Anyway, I didn't expect about the theme from the beginning. But after read 2 novellas from Inari, I started to think that use fantasy theme in short novel is also a good option, since it can bring 'different atmosphere' to reader.
Displaying 1 - 30 of 225 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.