“Dengan bahasa yang sederhana, naskah ini berhasil memotret kekompleksan sebuah pengalaman menjadi ibu dengan menyulap detail-detail banal kehidupan domestik menjadi sesuatu yang menakjubkan dan hampir sureal.” —Dewan Juri Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
"Ibuku melahirkanku sebagai seorang anak anakku melahirkanku sebagai seorang ibu"
Baik, semua buku yang sampai membuat saya terharu, bahkan "mbrambang", saya beri rating 5/5. Cyntha Hariadi dengan bahasa sederhana, bisa mengajak pembacanya menjadi ibu, merasakan ibu. Tak ubahnya saya teringat dengan ibu saya terus saat membaca ini, hampir semua puisi "relatable". Bahasanya lugas, menerangkan ambiguitas perasaan. Bahasa ibu kepada anak dan anak kepada ibu menjadi gaya utama. Hingga puisi terbaik disimpan di akhir, "Ibu Mendulang Anak Berlari", gebyar emosi tertumpah deras. Haru melanda, indah nian, salah satu puisi yang tidak akan saya lupakan.
Sebuah kelahiran kembali seorang perempuan dari menjadi seorang Ibu menjadi Aku lagi.
Seperti ditanyakan sendiri oleh penyairnya di puisi “Pertanyaan”: “Bila aku tak mampu lagi mencinta, bisakah aku hanya menjadi aku?”
Penyair perempuan adalah kaum yang (di)marginal(kan) dalam skena Penyair Indonesia, apalagi penyair perempuan yang menulis puisi tentang hal-hal yang dianggap sebagai hal-hal “perempuan”, dari mengurusi laundry, mengasuh anak, sampai mengurusi laundry lagi.
Di blurbs buku Nostalgi = Transendensi Toeti Heraty, tertulis klaim “penyair wanita Indonesia dapat dihitung dengan jari. Setelah berumah tangga, biasanya penyair wanita Indonesia memasuki ‘masa pensiun’ alias tidak menulis sajak lagi.”
Saya tidak percaya. Kemungkinan besar blurb seksis ini ditulis oleh seorang laki-laki yang tidak bisa menghitung jarinya sendiri. Isma Sawitri, Poppy D. Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty, Abidah El Khalieqi, Anil Hukma, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Nenden Lilis A., Oka Rusmini, Sirikit Syah, Dina Octaviani, Nur Wahida, Shantinned, Shinta Febriany, Putu Vivi Lestari. Itu sudah 17 nama! Dan baru yang dimuat dalam satu antologi Selendang Pelangi yang dikumpulkan Toeti Heraty sendiri.
Confessional poetry adalah puisi tentang kehidupan personal si “Aku,” jadi bukan (hanya) “Aku lirik”, tapi (juga) “Aku biopic”. Subyek confessional poetry adalah pengalaman-pengalaman pribadi, trauma, depresi, relationshits, yang diolah dalam gaya yang otobiografis.
Sajak-sajak confessional tentang pengalaman-pengalaman pribadi, depresi, trauma, histeria, sekaligus euforia menjadi Ibu dalam Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi juga diolah dalam gaya otobiografis seperti ini. Banyak sekali puisi dalam buku ini ditulis dalam bentuk potongan-potongan jurnal, dongeng mini, to-do wejangan seorang Ibu tentang dan untuk anaknya, dialog antara Ibu dan Anak, atau lebih sering Ibu ngomong sendiri kepada anaknya yang belum bisa menjawab “segala kegelisahan si Ibu dengan kata-kata yang ia harapkan”. Sebuah Medela confessionals, if you will.
Secara filosofis cara Cyntha mengolah pengalaman-pengalamannya menjadi Ibu, menurut petunjuk yang diberikan dalam dua epigraf bukunya, dipengaruhi oleh Adrienne Rich, penyair dan feminis gelombang kedua legendaris yang juga menggunakan pengalamannya menjadi Ibu sebagai titik-loncat untuk mengkritisi ketimpangan antara pengalaman IRL menjadi Ibu dan idealisme tentang Ibu yang diciptakan dan dilestarikan oleh budaya yang patriarkal. Lebih Sylvia Plath daripada Female Daily!
“Darinya [hubungan Ibu-Anak] tumbuh akar kisah-kisah tentang ketergantungan antar manusia yang paling dalam dan keterasingan yang paling kelam.” (Adrienne Rich, Of Woman Born, diterjemahkan sendiri oleh Cyntha sebagai salah satu epigraf bukunya)
Of Woman Born adalah salah satu analisis feminis pertama tentang Ibuisme sebagai sebuah institusi. Seperti Ibu Mendulang Anak Berlari, Of Woman Born juga diawali dengan potongan-potongan jurnal Adrienne waktu membesarkan ketiga anaknya. Bandingkan:
“My children cause me the most exquisite suffering of which I have any experience. It is the suffering of ambivalence: the murderous alternation between bitter resentment and raw-edged nerves, and blissful gratification and tenderness.” (Adrienne Rich, Of Woman Born)
dengan:
“Kepolosan yang selalu mengejutkan seperti api disiram air meninggalkan ibu berasap. Ibu berkata dalam hati dekat bau tahi, jauh memang jadi wangi.” (“Hotel”)
atau
“… kau menjerit seakan kau hendak kujerat.
… tubuhmu meronta seakan aku hendak menyembelihmu.” (“Menghangatkanmu”)
Secara puitis, bisa ditarik benang merah dari puisi-puisi Toeti Heraty sampai ke puisi-puisi Cyntha. Keduanya menulis puisi-puisi confessional tentang kehidupan perempuan Jakarta kelas menengah (Cyntha) ke atas (Madame Toeti) dalam bahasa sehari-hari yang sarat ironi. Bandingkan:
“hari ini minggu pagi kulihat tiga wanita tadi berjalan lambat karena kainnya kain berwiru” (“Wanita”, Toeti Heraty)
dengan
“Wanita itu perkasa rambutnya tak goyah menutupi mata… pakaiannya licin dan berwibawa… sepatunya lancip dan tinggi, ia sejajar dengan para lelaki.” (“Pergulatan”, Cyntha Hariadi — pergulatan dalam puisi ini sebenarnya antara superwanita/first-wave feminist di atas dengan sosok third-wave postcolonial femmo “perempuan baik [yang] rambutnya mengikuti arah angin, sepatunya datar, supaya dekat ke tanah dan sejajar dengan segala yang kecil…. Wanita itu dan perempuan ini orang yang sama”.)
Atau
“benda-benda mesra … bola usang dan beruang tercinta sepatu merah yang telah lepas-lepas kulitnya” (“Selesai”, Toeti Heraty)
dengan
“aneka boneka binatang ternak dan buas, biskuit, separuh kepala, sebelah tangan dan sebelah kakiku” (“Beres-beres”, Cyntha Hariadi)
Kedua penyair perempuan ini menulis tentang hal-hal dan peristiwa-peristiwa domestik yang tidak (dibolehkan) ambil bagian dalam dunia Puisi Indonesia, tentang cocktail party (Madame Toeti) dan spidol dan kertas (Cyntha), tentang cerita-cerita personal “remeh-temeh” yang mereka sulam/sulap menjadi kritik politik yang tajam terhadap (Puisi) Indonesia yang didominasi laki-laki. Cuplikan di bawah ini mungkin bisa dijadikan manifesto buat domestic confessional poets yang mengikuti jejak Toeti dan Cyntha di masa depan:
“Tulis apa saja yang ada di otakmu atau yang tak ada. Aku pilih yang tak ada karena aku tahu sebenarnya ada. … lalu aku ingat: harus ambil cucian di bawah. (“Kosong”)
“Ibuku melahirkanku sebagai seorang anak anakku melahirkanku sebagai seorang ibu.” — Kelahiran
Dengan pendekatan autobiografis, serupa dialog intim antara ibu dan anak, puisi-puisi Cyntha Hariadi dalam buku ini terasa seperti refleksi kehidupan domestik yang dekat sekali dengan kita.
Dibuka dengan puisi berjudul "Anak Perempuan", kita langsung diajak merenungi kembali bagaimana kompleksitas pengalaman batin menjadi seorang ibu. Entah kenapa aku langsung tercenung saat membaca bait berikut: “Sedang kubayangkan anak perempuanku tumbuh ketika ibuku menginjak duri di kebun anaknya sendiri dan menyesal pernah mengajarinya bertanam.” Seketika yang terlintas dalam otakku adalah perdebatan dan perang dingin antara ibuku dan kakak perempuanku.
Dalam puisi-puisi lain, ada kisah tentang ibu yang merasa bersalah meninggalkan anak yang merengek-rengek padahal hanya sebentar ditinggal mandi ("Mandi"); ada pula kisah tentang ibu yang merayakan waktunya sendiri sembari bergumam “dekat bau tahi, jauh memang jadi wangi” pada anak yang dirindukannya ("Hotel"); hingga kisah tentang ibu yang bermimpi menjalani profesi ibu lain, tetapi tak bisa membiarkan anaknya dikasihani orang seperti ia mengasihani anak orang lain ("Kaca").
Pengalaman tubuh seorang ibu pun tak luput disorot oleh Cyntha dalam puisi-puisinya. Misalnya, dalam puisi berjudul "Payudara" terselip sindiran halus terhadap bagaimana cara kita memandang buah dada, baik secara seksual maupun fungsionalnya. Dengan brilian, Cyntha menulis larik: “Buah ini suka bibir, tangan dan matamu [] kecuali pompa susu.”
Meskipun berangkat dari keresahan personal sebagai ibu, puisi-puisi yang hadir di buku ini tak serta merta mengglorifikasi peran ibu itu sendiri, tetapi juga menyiratkan pentingnya kehadiran sosok ayah. Dalam "Biar Ayah Saja", Cyntha Hariadi menyentil soal pembagian peran yang berimbang antara ibu-ayah dalam pengasuhan anak.
“Aku mau air matamu Biar ayah menangis untukmu Aku rindu caci makimu Biar ayah mendengarnya dariku.” — Biar Ayah Saja
Saya pikir buku tipis ini akan selesai sekali jalan. Tapi ternyata berat sekali. Karena setiap selesai membaca satu puisi, saya langsung ingin baca lagi berulang-ulang. Dan setiap dibaca ulang, semakin dalam perasaan yang dibawanya. Bikin senyum, bikin sedih, bikin ternganga, bikin kangen ibu.
Seperti saya kagum dengan kumpulan cerpennya, puisi-puisi Cyntha pun bikin saya jatuh hati. Dengan permainan katanya dan permainan rasanya.
benar-benar di luar dugaan. ternyata buku puisi ini tidak kalah bagus dengan 'Sergius Mencari Bacchus'.
sebagai pemenang ketiga, buku puisi ini tampil memukau. puisi-puisi Cyntha Hariadi terasa sederhana, tetapi pemilihan kata dan penyampaian puisinya mampu mengagetkan sekaligus mencengangkan pembaca.
puisi-puisi sederhana nan kaya makna serta memiliki akhir yang menyentak tersebar di sepanjang buku ini.
puisi 'Anak Perempuan' yang dipilih sebagai pembuka itu tepat. dan puisi 'Ibu Mendulang Anak Berlari' yang dipilih sebagai penutup buku puisi ini juga tepat.
dengan kata lain, buku puisi ini mampu memuaskan hati yang penasaran.
Ibu, anak, perempuan, dan parenting merupakan empat bahasan besar dalam kumpulan puisi ini, bagi saya. Tiga puisi terfavorit di buku ini di antaranya berjudul 'Payudara', 'Surga', dan 'Ibu Mendulang Anak Berlari'.
Satu penggalan puisi yang berjudul sama dengan judul buku ini ada yang cukup menyindir semua orang.
'Sampai tua ibu mendulang sampai ingatan hilang baru mengerti bahwa anaknya sudah pergi sejak bisa makan sendiri.'
Di jam 2 malam, kedinginan tapi sudah pakai baju tidur tebal yang hangat, aku menangis sejadi-jadinya sambil melahap habis buku ini.
Hampir semua aku suka, bagaimana Ibu Cyntha menuangkan pengalamannya jadi ibu dan isi hatinya, ditulis juga pengalamannya jadi ibu ketika dia sedang berada di negeri yang jauh, bahwa bahkan perjalanan itu tidak membebaskannya dari identitasnya sebagai ibu, bagaimana dia menuliskan tentang ketubuhan perempuan cis dan dipadu dengan saat jadi ibu (Puisi Payudara), bagaimana lewat puisinya dia membuat cerita yang utuh tentang dirinya, yang dari dilahirkan menjadi seorang ibu (Puisi Kelahiran) sampai dia menunggu anaknya datang menengoknya di hari tua (Puisi Ibu Mendulang Anak Berlari)
Dan, aku akan membahas sedikit yang membuatku menangis malam-malam begini; di dalam Ganong, dia mengibaratkan alis anaknya seperti ulat bulu, matanya sepasang bintang kecil, hidungnya segunduk bukit, bibirnya berkelopak bunga dan dahinya lebar laksana gunung dan di dahinya, dia berteduh, Pengumpul Kata yang menceritakan dia mengajarkan anaknya kata-kata;
bertahun-tahun kau mengumpulkan kata yang kusuapi dan kusemburkan
Lalu pada Kembang Api (yang aku rasa punya keindahan dan rasa yang sama dengan Ganong), dia berkata;
Aku suka kembang api bila wajahmu langitnya.
Di puisi Kembang Api, aku membayangkan kembang api di belakang wajah anak, di langit, dan sang ibu yang matanya dipenuhi bintang-bintang dan kembang-kembang api yang berpantulan.
Kemudian Surga yang membuatku menangis, di sini dia bilang; jangan pernah menyembahku atau apalagi bersujud mencium kakiku tapi ulurkan tanganmu dan genggamlah tanganku,
walaupun mataku buram kakiku karam
di genggamanmu aku tahu yang kau simpan dan tak pernah ungkap selama menjadi anak.
Dewi Kwan Im, aku menangis sampai ingus keluar dari hidungku. Juga hatiku, seperti ada tangan besar yang menerobos masuk dadaku dan mengambil jantungku!!!!
Lalu Kematian, dalam puisi ini ibu menyiapkan anaknya ke sekolah. Begitu banyak momen yang terlupa di ingatan sendiri. Apakah ibuku juga ingat momen-momen itu? Bagaimana dia merawat dan menumbuhkan aku? aku juga tidak tahu. Mungkin ingatannya memudar karena dimakan usia.
Terakhir, Ibu Mendulang Anak Berlari yang membuatku paling terisak. Kata "mendulang" sendiri dekat denganku. Aku ingat ibuku atau bu lik-ku atau budeku selalu bilang, "Mau tak dulangke?" "Nanti, mau dulang anak itu dulu." ketika aku kecil goler-goler di ruang TV rumah mbah.
Buku ini ditutup dengan puisi ini, dengan seorang ibu yang mendulang anaknya, seorang ibu yang mendulang anaknya yang berlari-lari, seorang ibu yang menunggu anaknya di hari tuanya, di masa-masa dia dekat dengan kematian karena menua.
Ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Cyntha yang sudah sebegitu honest dan menuliskan puisi-puisi fenomenal luar biasa ini. *masih menangis* *elap ingus*
Bukan review sih, tapi cuma catatan mumpung ada waktu menulis di sini. Selalu bingung kalau harus men-review puisi, karena puisi itu selalu jadi "personal", seperti makan nasi dan lauk lalu tiap gizinya jadi bagian di tubuh saya yang menjadi saya.
Minggu lalu saya membereskan rak buku dan menemukan buku ini tersempil di antara buku-buku tebal, masih tersegel plastik dan tertempel stiker harga. Sudah bertahun-tahun buku ini ada, tapi tak pernah diraba.
Saya, yang memang sempat melewati fase suka puisi, lalu tidak suka, hingga akhirnya kini suka puisi lagi, menyimpan buku ini di antara buku-buku puisi yang saya baca. Ini buku "terbaru" di rak tersebut, tapi buku yang setiap hari saya baca sampai akhirnya rampung pertama di antara buku-buku lainnya.
Saya sendiri bukan ibu, bukan ayah, masih seorang paman yang memang nanti berkeinginan menjadi orangtu, yang beberapa tahun terakhir, tapi seringkali jadi tempat bercerita teman-teman perempuan saya yang sudah menikah dan memiliki anak. Banyak dari mereka yang takut untuk mengeluh karena banyak sekali tekanan, atau anggapan bahwa menjadi ibu itu indah, effortlessly beautiful, penuh kasih sayang dan hal-hal lucu yang bisa diabadikan di sosial media. Atau contoh lainnya, teman saya yang berkeinginan untuk menggunakan jasa pengasuh anak, tapi dicibiri oleh teman-teman sesama ibu di kompleksnya. Nyatanya, menjadi ibu bukan cuma satu dimensi dan gak bisa dikotak-kotakkan, banyak ambivalensi, kadang cinta berbaur dengan rasa sebal, atau di salah satu puisi kesukaan saya di sini:
"dekat bau tahi, jauh memang jadi wangi."
Buku puisi ini jadi pemantik diskusi buat teman-teman saya agar paling tidak menerima, dan memproses emosi yang mereka rasakan, berdiskusi dengan emosi sendiri, yang nantinya, semoga, bisa dijadikan diskusi dengan orang lain.
Buat saya sendiri, buku ini jadi buat saya sejengkal mengerti lebih jauh kenapa ibu saya dulu bisa sebal dengan anak-anaknya :)
Puisi favorit saya di sini:
- Layar Lebar - Payudara - Mandi - Subyek - Tangan - Bergen St. - Hotel - Kaca - Duduk dan Berpikir - Mengupas Jari - Katamu Kataku - Ibu Mendulang Anak Berlari
dan pasti akan bertambah lagi karena masih mau baca ulang.
Selain buku kumpulan cerita pendek aku juga tipe yang jarang banget ngoleksi buku kumpulan puisi. Biasanya kalau punya di kasih orang atau pas beli buku dapet bonus buku puisi gitu. Tapi waktu itu pas ikutan Jastip kalau nggak salah di rekomendasiin buku kumpulan puisi ini, dan pas baca judulnya jujur langsung tertarik sih, kayaknya bakalan bermakna dan dalam banget isinya.
Dan benar aja, 'Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi yang menjadi juara ke tiga Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015 ini, walaupun menggunakan kata sederhana (bukan kata-kata dewa tingkat tinggi hehe), tapi pas baca kerasa banget dari pemilihan kata dan penyampaiannya penuh makna, beberapa malah bikin wah berani ya kata-katanya.
Di buka dengan puisi, 'Anak Perempuan' dan di tutup dengan puisi utamanya 'Ibu Mendulang Anak Berlari' menurutku sangat pas banget. Kumpulan puisi yang sebagian besar membahas tentang Ibu yang jujur bikin terenyuh, bahasan tentang anak dan perempuan yang pas aku bacanya berasa related hehe dan tentu saja tema parenting yang kuat banget, berasa ngikat banget aku sebagai pembaca.
Dari 62 judul puisi yang ada di buku ini, yang ku suka dan ngasih makna yang dalam banget buat aku itu, pertama yang judulnya 'Hotel' asli puisi ini (kalau aku nggak salah nangkap) kayak menyuarakan jadi seorang Ibu kadang juga bisa lelah dan pengen kabur aja tapi ujung-ujungnya tetap balik nggak tega. Puisi ke dua yang judulnya 'Duduk dan Berpikir' singkat sih puisinya tapi juga dalam banget, puisi yang mengapresiasi sosok perempuan banget, betapa pentingnya perempuan sebagai seorang Ibu dan Istri.
Dan tentu aja puisi penutup sekaligus inti buku puisi ini yang judulnya 'Ibu Mendulang Anak Berlari', jadi penutup yang epik dan dalam banget maknanya, suka banget. Kalau aku bisa bilang buku ini sederhana tapi maknanya dalam banget, seperti sosok seorang Ibu, dengan kesederhanaannya tapi sangat berperan penting dalam hidup kita sebagai anak.
Judul: Ibu Mendulang Anak Berlari Penulis: Cyntha Hariadi Penerbit : GPU Halaman: 89 halaman
"aa!" anak emoh, ibu mengekor, anak kabur, ibu terkecoh "aa! anak jengah, ibu mengejar, anak pikir dari dulu ibu edan. sampai tua ibu mendulang sampai ingatan hilang baru mengerti bahwa anaknya sudah pergi sejak bisa makan sendiri. di atas itu adalah beberapa larik dari puisi yang dijadikan judul buku ini yang terasa sangat ears catching. seperti yang pernah kita lihat—atau kau alami sendiri—ibu menyuapi anaknya sesendok demi sesendok. tetapi anak itu malah keluyuran, lari-larian, ke sana-ke sini. dengan gaya kepenulisan yang sederhana, bernaratif, dengan sentuhan kekanak-kanakan, tak selalu berirama di akhir, terbentang lebar untuk bisa dinikmati tentang kehidupan kecil sebuah keluarga, justru buku ini berhasil menjadi pemenang ke-3 dalam sayembara manuskrip buku puisi dewan kesenian jakarta, 2015. sebuah pengalaman panjang menjadi seorang ibu adalah tema garis besar dalam buku ini. mulai dari proses melahirkan, bermain-main dengan bayi, menyusui anak, mengurusi anak menangis, berjalan-jalan, bertengkar dengar anak, dan segala aktivitas ibu-anak di rumah. tapi juga terdapat peran ayah untuk anaknya, semisal dalam bait dalam puisi hotel, "di sebuah hotel di meksiko // suaminya sedang menyuapi // memunguti dan membersihkan mainan // memandikan dan menyisiri rambut anaknya. pada puisi "beres-beres" kita dapat lihat lelahnya ibu yang membereskan semua peralatan rumah dan mainan anak yang sangat berantakan. itu dapat leluasa dilakukannya ketika anaknya telah terlelap. tanpa diminta, tanpa harus menuntut, hanya dengan membaca buku ini, membuat kita sepatutnya menghargai pengorbanan besar seorang ibu. karena kekuatan cinta kasihnya kepada anak, ia rela memberikan segala lelah di hidupnya. kamu sudah membaca buku puisi ini? kalau sudah, yang mana puisi kesukaanmu? kalau aku puisi Beres-Beres, Katamu-Kataku, dan Surga.
Buku ini saya beli waktu baru-baru keluar dengan niat untuk dikasih ke seorang teman yang baru saja melahirkan anak pertama. Tapi setelah beli bukunya kemudian saya pertimbangkan, sepertinya ia bukan tipe orang yang suka membaca puisi, jadi daripada pemberian itu sia-sia, saya urungkan niat itu dan menggantinya dengan pemberian yang lain. Jadilah buku itu terbiarkan menghuni rak buku saya hampir sembilan tahun lamanya, tak pernah kena lirik karena saya merasa bukan target pembacanya, sampai akhirnya keinginan membaca puisi lokal baru muncul lagi sekarang setelah sekian lama hilang, sedangkan buku puisi yang saya punya hanya empat buku Rendra yang juga dibeli sudah lama, dan buku itu.
Perasaan selama membacanya bergerak dari "hmm bagus, bagus" di bagian awal, lalu "oke, boleh lah" di pertengahan, lalu memasuki sepertiga akhir terus-terusan berkata dalam hati "cakep bener ni puisi" di setiap puisinya. Puncak kebrilianan yang membuat saya takjub itu tepatnya dimulai sejak halaman 63 sampai puisi terakhir yang judulnya dijadikan judul kumpulan ini. Meskipun sadar secara kodrat saya tak akan pernah bisa mengalami sendiri perasaan sebagai seorang ibu, puisi-puisi di situ membuat hati saya larut karena melalui pilihan kata yang tidak muluk-muluk bisa secara halus menggambarkan momen-momen kebersamaan ibu dan anak yang mampu membuat hati jadi hangat, teduh, dan tersentuh, hanyut dalam emosi yang tersembur dari setiap halaman. Misalnya saja yang paling mudah dan paling teringat, "Aku suka kembang api jika wajahmu langitnya." Masyaallah. Setelah membalik halaman terakhir saya jadi berpikir, jangan-jangan buku ini justru ditakdirkan menjadi hadiah dari saya di masa lalu untuk saya di masa sekarang. Bisa jadi, bisa juga tidak, cuma saya aja yang gara-gara membaca buku ini tiba-tiba menjadi agak sentimental.
Pemenang III Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
saya membaca Cyntha Hariadi dan jatuh hati padanya melalui Manifesto Flora. penasaran dan menemukan buku ini di Gramedia dengan harga yang sangat murah (Rp 20.000), saya jatuh hati untuk kedua kalinya. seperti kumpulan cerpennya, puisi-puisi dalam buku ini menyuarakan isi rumah ke dalam hubungan ibu-anak (beberapa membicarakan ayah). satu setengah hari saja selesai, sebab "dengan bahasa yang sederhana..." seperti yang dituturkan dewan juri sayembara ini benar adanya. saya tambahkan, sederhana dan bersahaja.
oh, juga sepertinya Cyntha Hariadi meleburkan peran, kegundahan, dan konflik internal sebagai penulis dalam beberapa puisinya. seperti dalam puisi ini, yang juga jadi favorit saya.
Kosong
Ambil pena tulis apa saja yang ada di otakmu atau yang tak ada. Aku pilih yang tak ada karena aku tahu sebenarnya ada. Aku coba mengingat, memiringkan kepala, mendongakkan kepala, memutar pena, menjepitnya di mulut, belum juga pernah tersulut.
Aku pindahkan beratku dari pantat yang satu ke pantat yang lain menunggu sesuatu keluar dari situ. Kursi berkarat, sekelilingku senyap menanti kilat menyambar yang akan melemparkan aku dari kursi dan menulis sampai pagi.
Aku korek isi kepalaku seisi rumah keluar yang isinya aku tidak mau tahu lagi apalagi tulis. Ketuk-ketuk rempurung, sekaang kosong gemanya seseram anjing melolong diserang kalong.
hello #bookstagrammers Kembali lagi di #maccamereview • Judul : Ibu Mendulang Anak Berlari Penulis : Cyntha Hariadi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama | @bukugpu Terbitan : April 2016
Merupakan buku kumpulan puisi. Dimana didalamnya terdapat 62 puisi yang sangat dalam bahkan sangat membantu kita untuk berpikir lebih lagi.
Tema yang diangkat pun sangat dalam dan sangat jarang diangkat menjadi puisi. Yups, kumpulan puisi ini bertema tentang perempuan, ibu, anak dan segala yang menyangkut parenting. Diksi atau pemilihan kata per kata yang digunakan pun tak tanggung-tanggung. Terkesan santai tapi memiliki makna yang dalam disaat kita menemukannya dan juga memiliki emosional yang sangat kuat di setiap lariknya.
Beberapa puisi yang mengena bagiku • Anak Perempuan • Payudara • Surga • Ibu Mendulang Anak Berlari
Thanks untuk kk @cynthahariadi yang melahirkan karya ini dan juga untuk kk @sintiawithbooks yang mengingatkan aku akan buku ini.
Aku baca ini karena direkomendasikan teman, ya buku ini memang layak direkomendasikan untuk dibaca buku yang ditujukan pada semua anak
Ditulis dengan bahasa sederhana, tapi tetap berpotensi multitafsir beberapa puisinya ku baca berulang kali (di waktu yang berbeda) dan ku temukan makna yang berbeda
Buku ini seakan membenarkan pemahamanku bahwa tidak ada lagi kata "aku" bagi seorang ibu Beberapa puisinya menceritakan bahwa ibu secara sadar menjadi "budak" untuk anaknya sendiri dan itu dilakukan dengan senang hati
Dibeberapa puisinya, kerinduan pada ibu dan tentu juga bapak akan terpicu Kilas balik masa kecil, berulang kali muncul selama membaca puisi-puisinya
namun, ada juga puisi yang aku kurang suka, karena itu aku beri bintang 4 ada perbedaan pandangan antara aku dan penulisnya terkait ibu dan karirnya tapi secara keseluruhan aku suka
Sukaaaaa banget kumpulan puisi ini. Cerita2 domestik di rumah antara ibu dan anak perempuannya diracik begitu rupa dan lincah. Banyak favorit puisi di sini yang bs jd inspirasi. Menariknya lagi buku ini jd pemenang ke 3 Sayembara Puisi DKJ 2016. Tapi iya, saya baru baca sekarang. Rasanya seperti habis baca puisi2 Jokpin atau Subagio Sastrowardoyo yang bs bikin imajinasi kita lompat ke sana ke mari sekaligus merasakan apa yg penyair serakkan di sepanjang bait-bait puisinya. Baca deh!
Buku yang sederhana, penggunaan kata begitu intim dan hangat seperti keseluruhan puisi ini yang bertemakan ayah, ibi, anak dan serta keluarga yang penuh dengan afeksi, detail peristiwa serta imajinasi yang di ungkapkan oleh Cyntha begitu dekat, saya pernah melewati itu sebagai anak kecil dan dia bisa membuatnya begitu lekat akan ingatan.
Kumpulan puisi dengan kebanyakan tema mengenai hubungan ibu-anak atau hubungan anggota keluarga. Beberapa puisi yang dituliskan menampilkan sisi 'gelap' dari peran ibu yang mungkin biasanya jarang diungkapkan, tetapi memang banyak dialami oleh para ibu karena beratnya peran yang dijalani.
Menjadi seorang Ibu itu tidak selalu indah dan sederhana. @cynthahariadi menuangkannya dalam buku puisi ini. Buku ini bisa dijadikan alternatif bacaan supaya tidak melulu baca buku parenting 😂 Buku ini menjadi hiburan dengan caranya sendiri. I love it!
Gak nyangka semakin membalik halamannya, semakin nyeri hatinya. A quite decent read. My favorites are “Duduk dan Berpikir”, “Hutan Seribu Hektar”, “Golem”, “Orang Hilang”, and “Katamu Kataku”.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tidak hanya berhasil merangkum peristiwa-peristiwa yang bermakna tapi tidak mudah untuk disampaikan. Puisi-puisi di buku ini berhasil pula memberikan makna pada yang tidak terkira.