Jump to ratings and reviews
Rate this book

Holokos

Rate this book
Gurisan sajak-sajak protes & pantun-pantun grotes.

di kerumian ini
calit abjad
berkhemah
menegang erti
di depan wajah
gelora

131 pages, Paperback

First published April 1, 2016

16 people want to read

About the author

Ridhwan Saidi

34 books187 followers
Ridhwan Saidi is a Malaysian writer, theatre practitioner, and filmmaker known for his interdisciplinary experimentation with language and his fearless exploration of taboo subjects, with his trademark mix of ‘art berat’ and ‘art ringan’, dry humour, and esoteric discourse.

In 2011, Ridhwan penned his first novel, “Cekik,” followed by “Amerika” in the same year. Since then, he has authored “Mautopia” (2012), “Stereo Genmai” (2012), “Babyrina” (2014), and “Brazil” (2015). Each of these works delves into a wide array of themes and courageously challenges conventional storytelling. However, his examination of the darker aspects of human existence has elicited both admiration and concerns regarding its moral implications.

In addition to his association with Moka Mocha Ink, Ridhwan’s enthusiasm for theatre and the performing arts led him to establish Ensembel Teater Kaos Nol. Through this collective, he nurtures artistic talent, encourages conversations, and addresses important issues through artistic means.

“Our aim is to be open and inclusive when it comes to diverse modern art forms and traditional craft. When you have a thirst for knowledge, value historical understanding, and have a sense of humour, things will fall into place.” –Ridhwan Saidi (Moka Mocha Ink, an indie publisher, is making strides in literature and theatre circles. The Star, 20 July 2019)

Ridhwan has made contributions to the field of theatre performance through his works in Teater Modular and Teater Normcore. Teater Modular employs a system of independent modules, creating an ever-changing and interactive experience for the audience. On the other hand, Teater Normcore explores the intricacies of the creator-creation relationship in “Stereo Genmai,” delves into the roles we assume in both private and public spaces in “Masam Manis,” and examines the human condition within urban settings through productions like “Hamlet Fansuri,” “Karaoke Medea,” and “Tahun-Tahun Seorang Novelis.” “Pengalaman Prangin” (2024), is a 2 km roaming performance—incorporating walking and bicycling—that explores memory, history, and spatial sensibilities between geomorphology and built environments in George Town, Penang. His approach remains firmly rooted in unconventional and grassroots theatre.

In his film “Tiada Cinta Selama Muda” (No Love for the Young), Ridhwan blends body movements, documentary footage, and poetry, creating a peculiar audiovisual experience. He welcomes spontaneity while filming on-site and fosters a sense of collective creativity. “Air Mata di Kuala Lumpur” (Tears in Kuala Lumpur) is his second feature length film premiered in Rotterdam.

Apart from his own projects, Ridhwan actively collaborates with others and works as a dramaturg in productions such as “Tidur Lambak” (2022, Kuala Lumpur & 2025, Jakarta), an immersive performance exploring communal sleeping, and Lau Beh Chin’s “Beyond Moving with Artisans” (2021-2024), a choreography exploring fading crafts.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (20%)
4 stars
7 (35%)
3 stars
8 (40%)
2 stars
1 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Asmar Shah.
Author 20 books136 followers
May 23, 2016
Puisi-puisi/sajak atau apa pun jua yang terkandung di dalam buku ini, 'mungkin' semuanya hampir punyai maksud yang tersirat. Hanya beberapa buah sahaja yang aku boleh tafsirkan apa yang cuba disampaikan oleh Ridhwan Saidi. Mungkin aku perlu culik penulisnya dan masuk ke dalam otaknya lalu berenang-renang di dalam lautan mindanya untuk cuba memahami apa yang ingin disampaikannya itu.

Atau mungkin juga, buku ini untuk orang-orang 'pemikir'. Untuk pembaca minda tahap rendah seperti aku, aku terpaksa akur untuk membaca berulang-kali dan mengandaikan sendiri bahawa maksud yang cuba disampaikan di dalam puisi/tulisan di dalam buku ini dan yang ada di dalam kepala otakku, adalah sama maksudnya walaupun sedikit. Maaf~

Pendek kata, puisi dalam naskah ini, aneh, sinis, protes dan juga... (entah, aku tidak dapat untuk menyatakannya apa-apa lagi.)

Kalian cubalah. Mungkin kalian akan suka Holokos? Sebab lain orang, lain citarasanya.

Peace!
Profile Image for Lokman Hakim.
Author 63 books123 followers
May 4, 2016
Holokos ini macam,

"Hai kawan-kawan! Aku ada buku panduan cara-cara menulis puisi"

Sekumpulan orang berkerumun menunggu Ridhwan Saidi bercerita.
Dia buka naskhah itu, lalu mengoyakkan setiap kertas dan mencampakkan setiap satu halaman ke muka orang-orang yang menanti penjelasan ke atas cara-cara menulis puisi tadi.

Lalu dia berkata

"Aku tipu"

Dan gelak terbahak-bahak.

Okay, bagi aku, Holokos beri perspektif baru dalam dunia puisi kita. Secara peribadinya, itu pendapat aku.
Profile Image for Azrin Fauzi.
Author 19 books45 followers
May 26, 2016
Kali pertama baca rasa bingung.
Kali kedua pula rasa bengang.

Bingung sebab Ridhwan Saidi sudah korban makna kata-kata.
Bengang sebab terjumpa makna-makna baru dalam kata-kata.

Hey, ofkos ai suka gila Holokos!
Profile Image for Ira Nadhirah.
602 reviews
June 6, 2016
Selepas perjalanan yang singkat dan melompat banyak ketidakfahaman, aku masih akhiri perjalanan ini dengan puisi Dewa untuk Jimi. Puisi tu yang paling aku rasa u got me at helo kinda thing.
Profile Image for Afa.
129 reviews
May 25, 2017
Catatan penulis 25 Mei 2017: "apresiasi puisi dalam kerangka makna ini gaya lama dan selalunya si pengapresiasi mengepung potensi puisi itu sendiri.‬"

Pembacaan pertama saya tersangkut-sangkut. Saya dapati saya cuba memahami setiap pucuk sajak, setiap baris ayat, setiap patah kata, setiap simbol. Saya rasa terlalu banyak untuk diproses, dan saya putus asa.

Saya baca kali kedua dan entah kali ke berapa, selepas membaca beberapa buku sajak yang lain. Saya dapati penulis ada menyadur (atau parodi) sajak-sajak popular kepada isu semasa. Kemudian saya berhenti lagi. Proses pembacaan ini memakan masa yang amat panjang buat saya.

'Holokos' tak salah untuk saya anggap (pendapat peribadi) sebagai sebuah buku rujukan teks yang lengkap untuk puisi lama, seperti gurindam, pantun, syair, seloka dan sebagainya, juga puisi moden mahupun kontemporer seperti konkret, mini kata, tanpa kata, mantra dan sebagainya. Amat silap sekiranya pembaca kasual tanpa pernah baca karya Sutardji Calzoum Bachri atau Abdul Ghafar Ibrahim misalannya untuk mencari makna sebuah sajak yang hanya ada nombor 666 dalam sajak 'Holokos', atau dua huruf R berganding membelakangi satu sama lain bertebaran memenuhi sehelai mukasurat, tetapi dalam jarak yang sekata (bukan ditabur sembarangan) dalam sajak yang lain. Ia tidak akan mengajar pembaca kasual menjadi pandai (jika pembaca hanya baca seperti saya pada bacaan pertama) malah mengalami kekecewaan (kerana tidak menemui makna) yang amat teruk. Membaca naskah ini ibaratnya menyinggah sebuah 'higher dimension' kepada kewujudan sajak yang lain, sebuah universal set yang merangkumi rencam karya yang pernah wujud. Ia adalah percubaan yang sukar dan patut dihargai kerana mengangkat kembali kewujudan jenis-jenis puisi yang dilakar oleh orang-orang terdahulu, kreatif bermain dengan huruf dan kata-kata di mesin taip (yang pengguna zaman kini hendak buat 'drop cap' pun kita tak tahu).

'Holokos' menyedarkan pembaca bahawa puisi bukan sekadar pantun nasihat dan sajak-sajak cinta.
Ia jauh lebih menyeronokkan.

(Saya masih tidak tahu, mengapa penulis menulis 'kepada Halimah Ali' ketika menandatangan buku untuk saya. Ia kekal misteri.)
Profile Image for Haifa Balkis.
24 reviews1 follower
May 10, 2016
Holokos
Holokos merupakan buku pertama tulisan Ridhwan Saidi yang saya baca. Secara keseluruhan, sajak-sajak nukilan Ridhwan Saidi luar daripada kotak, melawan kebiasaan. Ibaratnya beliau telah melanggar segala hukum-hakam dan format mainstream para penyajak underground. Pemilihan kata yang tidak keterlaluan jika dikatakan sebagai terlampau rumit sehingga mendesak Kamus Dewan dan Google dijadikan sebagai kitab rujukan. Pantun kegemaran saya ialah Bantal, manakala sajak-sajak pilihan saya pula ialah Graviti, Hati, Rabia dan IX (sub Kerosin). Secara keseluruhan dapat saya simpulkan, "Ridhwan Saidi, you blew my mind!"
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
February 7, 2017
Pertama kali bertemu di sebuah toko buku independen di Jakarta. Dan pandangan pertama langsung suka sebab bikin ketawa setelah dibaca. Beberapa puisinya memang layak ditertawakan, dalam artian positif, akibat nyelenehnya penggunaan kata, dan bahasa. Ada beberapa pula yang puisi dekonstruksi dari puisi atau karya lain, yang setelah menjadi lebih asyik utk dinikmati.
Meski lebih dari 60% saya rasa, saya tidak begitu paham arti kata yang digunakan karena pakai bahasa Malaysia, tapi sungguh bukan penghalang. Tetap menyenangkan untuk dibaca kala santai.
Paling suka yang puisi ada kucing-kucingnya itu!
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.