Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ketika Lampu Berwarna Merah

Rate this book
Melangkahkan kaki ke dunia masyarakat terbuang yang hidup di negara berkaki buntung dalam narasi Hamsad Rangkuti bukanlah seperti menyaksikan mereka dari balik kaca jendela taksi atau mobil pribadi. Realisme Hamsad Rangkuti sigap menyeret siapa pun yang membacanya merasa benar-benar menjadi bagian dari dunia para pengemis dan gembel yang hidup di perempatan lampu merah dan tidur di gubuk-gubuk pinggir rel kereta. Saking detail deskripsi Hamsad Rangkuti, suasana dalam novelnya hampir menjadi sebentuk hiper-realisme.
-Bernard Batubara, penulis dan penyair

228 pages, Paperback

First published March 1, 2001

13 people are currently reading
163 people want to read

About the author

Hamsad Rangkuti

18 books42 followers
Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian dan majalah dalam dan luar negeri. Beberapa cerita pendeknya diterjemahkan dalam bahas Inggris dan Jerman.

Kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000) dan Bibir dalam Pispot (2003).

Novel pertamanya Ketika Lampu Berwarna Merah merupakan pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1981.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (23%)
4 stars
50 (34%)
3 stars
43 (29%)
2 stars
15 (10%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for Palsay  .
259 reviews38 followers
September 22, 2008
Pernahkah kita membayangkan arti dari pergantian warna lampu lalu lintas disetiap perempatan di jalan-jalan raya?

Pernahkah kita merasa peduli, betapa lampu merah memiliki arti kehidupan bagi para pengemis, pengamen ataupun orang-orang lain yang hidup dari belas kasihan orang-orang yang melintas di perempatan saat lampu berwarna merah, ataupun transaksi jual beli yang terjadi di sana?

Novel ini sedikit banyak menceritakan pahit getir kisah para gelandangan dan pengemis yang mencari rejeki di sela-sela pergantian warna lampu lalu lintas, termasuk suasana di kawasan pemukiman kumuh tempat mereka tinggal beserta para preman dan perempuan nakalnya.

Membaca novel ini mau tak mau saya membayangkan setting tahun 70-an saat pembangunan besar-besaran di Jakarta dibawah kepemimpinan Ali Sadikin. Saat itu banyak terjadi penggusuran atas nama pembangunan, terutama di kawasan pemukiman kumuh yang sarat dengan bau kemiskinan dan ketidak berdayaan.

Kisahnya sendiri menceritakan sekumpulan anak-anak gelandangan yang biasa mengemis di perempatan jalan. Ada 8 orang anak kecil yang biasa mengemis di perempatan daerah Monas. Diantara mereka adalah seorang anak yang berkaki buntung sebelah yang bernama Pipin. Karena berkaki satu, maka anak ini selalu mendapat kucuran rasa iba dari para pengemudi yang melintas di perempatan itu. Oleh karena itu, teman-temannya secara bergantian senang menggendong Pipin guna mendapatkan recehan lebih banyak.

Salah satu yang sering menggendong Pipin adalah Basri, seorang anak yang berasal dari desa di daerah Gajah Mungkur, yang lari dari orangtuanya menuju Jakarta demi impiannya melihat Monas.

Menarik, Hamsad Rangkuti menceritakan asal muasal Basri dan Pipin, dan mengapa mereka terjerembab dalam dunia pengemis dan gelandangan. Juga diceritakan usaha ayah Basri mencari anaknya untuk yang terakhir kali sebelum meninggalkan pulau Jawa bertransmigrasi ke Sitiung, Sumatera.

Jadi ingat film Ateng di akhir tahun 70-an, "Ibu Tiri Tidak Sekejam Ibu Kota"..
hehehe...


65 reviews
July 21, 2019
1. Dari segi ejaan, novel ini jauh dari sempurna. Cukup banyak beberapa kalimat yang kurang tanda baca, seperti kurang titik, kurang koma, atau huruf kapital yang ditulis tidak kapital. Contohnya pada kalimat berikut:

Di sebelah wanita itu berbaring seorang anak berumur dua belas tahun duduk memandanginya.

Awalnya saya berpikir, sebenarnya anak itu duduk atau berbaring? Kemudian saya baru ngeh, ternyata sesudah kata berbaring seharusnya ada tanda koma (,). Tentu tidak hanya pada kalimat ini. Masih ada di beberapa kalimat lain. Ini membuat pembaca tidak nyaman tidak, sih?

2. Dari segi cerita, mungkin novel ini berlatar tahun 1970. Setelah cari di google, baru saya ketahui Waduk Gajah Mungkur mulai direncanakan untuk dibangun tahun 1964. Lalu tokoh Sanip dan wanita pemungut puntung rokok diceritakan memiliki latar belakang komunis.

Omong-omong, ini sangat subjektif. Sebenarnya saya tidak begitu suka ceritanya. Narasi kemiskinan, Jakarta sebagai kota impian, dsb. Ceritanya melankolis dan cukup banyak percakapan. Mungkin Hamsad Rangkuti memang lebih suka dialog?
Profile Image for Muhsin Ibnu Zuhri.
23 reviews
November 2, 2025
Pada barisan mobil dan motor di lampur merah, mereka yang terjebak berhenti menunggu lampu menjadi hijau mungkin menempelkan perhatian pada hitungan mundur angka lampu lalu lintas. Perasaan-perasaan tak sabar ingin lekas melaju dan segera enyah dari tempat itu menguat bersamaan dengan mengecilnya angka hitungan mundur. Mungkin mereka juga saya tidak sempat memperhatikan para pengamen yang bernyanyi di baris penyeberangan dengan suara lantang. Ada juga sesekali pengais rezeki itu datang menghampiri menawarkan jasa membersihkan jendela mobil dengan kemoceng yang dibawa ke mana-mana. Sebenarnya masih banyak lagi segala rupa usaha transaksi hiburan di lampu merah yang sering tidak kita hiraukan, termasuk pengemis.

Lampu merah adalah latar yang diangkat oleh Hamsad Rangkuti dalam memotret lebih dekat kehidupan para pengemis dan orang-orang gembel di kota metropolitan. Dia merangkumnya dalam sebuah novel berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah. Novel ini ditulis tahun 1980 dengan menggabungkan dua latar belakang konflik yang penting: program transmigrasi pemerintah dan potret kehidupan kaum miskin dan marjinal di Jakarta.
Cerita ini berkisah tentang Basri seorang anak dari pasangan suami-istri Kartijo dan Surtini. Orang tua Basri ialah petani di Wonogiri yang mulai menutup kenangan hidupnya di desa untuk kemudian membuka lembaran baru di tanah yang dijanjikan pemerintah di pulau Sumatera. Basri sendiri sudah lama pergi karena impiannya melihat Monas. Dia terpesona dengan keindahan Monas Jakarta yang dia lihat di gambar rumah tetangganya. Dia kemudian bermimpi mampu melihat Monas lebih dekat. Ternyata impian itu juga yang akhirnya membukakan jalan pengenalan kerasnya Jakarta dan ketidakmampuan dirinya dalam menggagapi realitas kota metropolitan. Akhirnya Basri menambah jumlah daftar orang yang mengisi rumah-rumah kardus di bantaran kali Ciliwung. Dia menjadi pengemis.

Cerita ini secara sederhana mengemas kerangka alur dengan pendek, seperti judul novelnya itu sendiri. Dimulai dengan Kartijo di hari terakhir sebelum pemberangkatan berjanji dengan Surtini untuk mencari Basri yang terakhir kalinya. Mereka berjanjian bertemu di Tanjung Priok di kapal menuju Sumatera. Harapan Surtini tentu saja suaminya mampu menemukan Basri dan membawanya agar mereka bisa bertemu kembali dan membuka lembar baru di tanah garapan yang baru.

Kemudian plot dibagi ke dalam tiga fokus utama. Pertama, perjalanan Kartijo dari Wonogiri dalam mencari anaknya yang mana kemudian bertemu dengan Sutrisno yang saat itu juga kembali ke Jakarta setelah cuti satu bulan. Fokus kedua, kehidupan Pipin. Dia adalah anak berkaki buntung yang sering dijadikan objek untuk menarik simpati pengendara. Pipin adalah aset bagi teman-temannya. Darinyalah teman-temannya bisa mendapatkan uang lebih saat mengemis. Keberadaannya menjadi pusat penggantungan nasib teman-temannya dalam mengemis. Kemudian dalam fokus ini, Hamsad Rangkuti menyisipkan latar belakang keluarga Pipin yang super gila tragisnya. Fokus ketiga, di dalam sela-sela alur Hamsad Rangkuti memelototi kehidupan orang-orang gembel dengan sangat dekat. Di dalam fokus inilah kekuatan magis penceritaan Hamsad Rangkuti mampu membuat pembaca seperti saya mulai memperhatikan cara-cara berpikir orang gembel di bawah keperkasaan negara dan kota metropolitan. Ternyata para tokoh ini mampu memberikan logika berpikir yang agak lain, yang tentu tidak akan kita kenal kecuali mendekatinya.

Sederhananya, Hamsad Rangkuti menunjukkan kritiknya terhadap kekuasaan pemerintah yang dibungkus dalam label legitimasi kemudian menyandarkannya ke pundak para tokoh-tokohnya. Upaya pemindahan warga Wonogiri ke pulau Sumatera dalam transmigrasi lewat para pamong dilakukan dengan sangat sistematis. Salah satu adegan yang cukup gamblang adalah saat Kartijo menyusuri sawahnya untuk kali terakhir. Dia mulai menanyakan kenapa sawah-sawah di situ tidak lagi terairi. Air makin susah ditebak kapan datangnya. Bila datang hujan, air menerjang sebagai banjir yang merusak.

Kartijo adalah seorang dari jutaan orang yang harus merelakan kedekatan dan nilai-nilai akan tanah berpindah hanya ke dalam ingatan dan kenangan. Pada waktu itu pemerintah orde baru memang berniat melakukan program pemerataan penduduk. Gebrakan itu berwujud pula pada pembangunan waduk Gajah Mungkur untuk menanggulangi luapan air Bengawan Solo dan sekaligus juga sebagai kawasan pembangkit tenaga listrik. Data sensus 2010 mengatakan bahwa setidaknya ada 20 juta total transmigran yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Dari satu adegan di mana Kartijo mengenang masa kecil ketika melihat sawahnya, sebenarnya bisa muncul sebuah praduga bahwa saat itulah ikatan masyrakat dan tanahnya terputus. Dia tidak akan bisa berziarah ke pusara orang tua dan leluhurnya, seperti keinginan istrinya. Tentu saja di kemudian hari tanah pusara keluarganya sudah terendam air waduk yang maha luas itu.

Dalam konflik yang dihadapi Kartijo, sebenarnya dia adalah korban dari kebijakan warisan kolonial. Van Deventer adalah orang pertama yang memelopori kebijakan pemerataan penduduk ke luar jawa. Kebijakan ini masih bagian dari politik etis Belanda. Sebenarnya, yang perlu kita tanyakan, apakah benar bahwa kebijakan ini untuk kemaslahatan masyarakat? Belanda dengan segala monopolinya tentu tidak berorientasi pada masyarakat. Mereka hanya menggunakan politik etis agar masyarakat Hindia Belanda saat itu mampu memenuhi standar Belanda dalam menghadapi kemajuan. Mulai dari pendidikan yang kemudian dibuka untuk bumiputera. Bisa dikritik bahwa sebenarnya tujuan Belanda adalah menciptakan kualitas masyarakat jajahan yang bisa mengisi pekerjaan-pekerjaan di bidang pabrik (mengingat saat itu pabrik dan perdagangan internasional sangat ramai). Dengan cara yang sama, pemerintah orde baru memindah masyarakat produktif untuk dipindah guna membuka hutan agar bisa menjadi penyuplai kebutuhan pangan nasional (yang mana sebenarnya untuk komoditi bisnis elit saja).

Hamsad Rangkuti seperti memberikan bekal pada setiap tokohnya dengan problematika yang memang faktual pada saat itu. Selain konflik transmigrasi Kartijo, ada lagi konflik penting yang ditimbulkan pemerintah yang kemudian disandarkan pada tokoh-tokoh kalahan ini.

Sutrisno yang bertemu Kartijo dalam perjalanan ke Jakarta mewakili gagasan Rangkuti dalam melihat kuasa uang. Sutrisno adalah supir dari pasutri pejabat yang suka sekali menengok daerah-daerah miskin yang mengalami kelaparan ekstrim. Pada suatu waktu, saat suami menjalani kunjungan, dia ditemukan tewas karena kekenyangan. Di sini sungguh menarik cara pandang Rangkuti dalam memberikan kontradiksi keadaan. Bahwa ada kemungkinan orang yang mati karena kenyang. Dengan interpretasinya, Rangkuti menunjukkan kerakusan orang-orang yang seringkali berlagak peduli pada kelaparan. Karena istri merasa kematian suaminya aib, maka dia membayar dokter untuk membuat keterangan palsu. Dia meminta dokter menuliskan diagnosa penyakit jantung atas suaminya. Di sinilah sang majikan ini juga menyumpal Sutrisno untuk tidak mengatakan keadaan sebenarnya. Bahkan dengan berbohong, Sutrisno mendapat cuti satu bulan pulang kampung ke Wonogiri. Dari sini kitab isa membuat sebuah asumsi penting bahwa kebohongan di kota adalah sebuah cara untuk mendapatkan keringanan, kebahagiaan, dan kenikmatan.

Pada konflik lain yang lebih tragis, terutama dalam melamati kekejaman kota, Rangkuti menempelkannya pada tokoh-tokoh gembel. Paling utama adalah keluarga Pipin yang kehilangan kakinya. Ayahnya adalah seorang penjual abu gosok. Dia mati disiksa polisi. Dia disiksa atas kesalahan yang bukan dia niatkan. Saat itu, dia ingin mendekati keramaian yang sedang menyaksikan rombongan tamu negara. Saat ia mendekat, ia membawa pikulan abu gosok. Tak sengaja kakinya tergelincir, sehingga abu gosok itu mubal ke udara. Keadaan menjadi pekat hitam. Para pengemudi tamu negara hilang kendali setir lalu menabrak pagar dan juga menabrak anak-anak. Tidak hanya itu, kecelakaan beruntun itu mengakibatkan terperciknya listrik sehingga menimbulkan kebakaran hebat. Polisi kemudian mencari ayah Pipin dan membawanya untuk diinterogasi. Dia dipaksa mengaku bahwa dirinya bekerjasama dengan pihak-pihak yang ingin mempermalukan negara. Di sini kita bisa mengasumsikan bahwa praktik represi bahkan sampai mengakibatkan kematian masih sering terjadi sampai hari ini.

Kemudian keapesan keluarga Pipin berlanjut. Rumah gubukan yang dihuni keluarganya harus dibongkar paksa karena akan dilakukan pembersihan oleh pemerintah. Karena mereka menempel pada rumah dengan sertifikat resmi, mau tidak mau mereka harus rela. Karena kegamangan ibu Pipin, ia tidak langsung pindah. Tanpa sepengetahuannya, rumah yang ia tempeli dirobohkan bulldozer. Saat kejadian itu menimpa gubuknya, anak-anaknya masih berada di dalam dan tertimpa reruntuhan. Satu dari anak-anaknya itulah Pipin. Saat itu dia masih bayi dan akhirnya dia harus kehilangan kakinya. Keadaan itu membuat ibunya sakit dan terus memburuk sampai dia mati.

Dalam dimensi kehidupan ketiga, Rangkuti tidak hanya menguatkan tokoh dengan latar belakang yang tragis. Rangkuti juga menyuguhkan logika berpikir pada orang-orang yang hidup di bantaran kali Ciliwung.

Sudut pandang tentang kematian disuguhkan secara berbeda. Saat ibu Pipin meninggal, tetangganya tidak berupaya ngopeni mayatnya. Alih-alih mengurusnya, mereka justru membuat momen itu menjadi peluang bisnis. Mereka memanggil si Sanip yang biasa mengurusi mayat. Ternyata Sanip akan mengurusi mayat-mayat di sana dengan menggunakannya demi mendapatkan uang. Mayat itu akan dia bawa sebelum fajar tiba dan ditaruh di depan toko. Sanip akan berpura-pura tidur di samping toko itu. Saat pemilik toko membuka dan kaget karena ada mayat di sana, dia meminta bantuan Sanip untuk memindahkannya. Di sinilah Sanip mulai menawar harga mahal untuk jasanya. Mekanisme ini tidak hanya dilakukan pada satu toko, melainkan bisa beberapa toko sekaligus. Artinya di sini bagi para gembel kematian yang sakral pun dibenturkan dengan cara pikir yang pragmatis.

Selain itu ada juga Tua Tom yang dimintai Kerjasama dengan para tentara. Dia buntung kakinya. Hal ini dimanfaatkan oleh para tentara untuk mendapatkan dana dengan cara menempeli Tom dengan baju tentara lalu mengakukan dirinya sebagai veteran yang berjuang. Bahkan dalam hal ini Tom tidak merasa dilecehkan sebagai objek penipuan. Baginya asal dapat duit buat beli tuak semua aman.

Semua gambaran perilaku para tokoh tidak disuguhkan dengan melankolis untuk mencari simpati. Justru Hamsad Rangkuti menunjukkan sebaliknya. Dia menyuguhkan satu paradigma bahwa para gembel selalu punya cara dengan logika mereka sendiri dalam menghadapi kerasnya kota yang tak henti-hentinya menggencet nasib mereka. Pembaca seperti saya tidak merasa aneh dengan cara berpikir mereka. Justru cara mereka berdialog dan berpikir memberikan satu wawasan perihal kaum marjinal yang survival ratenya sangat tinggi. Hamsad Rangkuti juga tidak menempatkan agama di sini sebagaimana novel-novel lain. Justru Rangkuti menyuguhkan kehidupan tanpa aturan seperti mabuk, seks, dan pembunuhan. Semua benar-benar gamblang digambarkan.

Novel ini terkonsep dengan sangat rapi. Konflik-konflik bawaan para tokoh yang disebabkan pemerintah dikemas dalam realitas pahit yang tangguh. Meskipun Rangkuti memberikan akhir cerita yang bahagia, justru tidak terasa apa-apa akhir cerita ini karena pembaca dibuat terhipnotis akan detil penjelasan selama plot berlangsung.

Novel ini bisa menjadi bahan materi dalam mendiskusikan kehidupan kaum urban dan marjinal di ibu kota. Dengan membaca novel ini, saya terangsang memperhatikan sebuah kehidupan lain yang hanya bisa saya temui sepanjang lampu lalu lintas berwarna merah. Rangkuti benar-benar sukses menyingkap tabir ketidakpedulian kita di jalan dengan cara paling liar secara realistis. Bahwa kemiskinan ibu kota tidak bisa kita simpulkan sebagai objek tunggal. Ia sangat berkait erat dengan negara dan pemerintahnya. Bahwa kemiskinan yang sering kita bahas selalu terjalin ikatannya dengan kekayaan yang sering disuguhkan pejabat kita di berita.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
February 28, 2015
Membaca novel dari seorang maestro cerpen Indonesia. Dan seperti cerpennya hamsad Rangkuti mengisahkan kehidupan orang-orang miskin. Kehidupan anak jalanan di perempatan lampu merah dan sebuah keluarga di Wonogiri yang digusur rumahnya untuk pembangunan waduk Gadjah Mungkur. ada nada pembelaan dalam novel ini, bahwa orang kecil bisa "bahagia" dengan cara mereka sendiri, meski tidak berkemwahan.

Dan yang paling kusukan, si Ripin, si anak jalanan buntung itu mengajarkan bagaimana kehidupan sosial yang baik. Berbagi dan solidaritas tinggi.
Profile Image for Gita.
113 reviews2 followers
November 18, 2019
Entah kenapa sampe pertengahan cerita saya merasa bosen aja, meskipun penuturannya bagus dan karena ceritanya tentang kelas bawah, jadi bikin banyak bersyukur aja, tapi mungkin karena penulis adalah seorang cerpenis, penggambaran suatu hal banyak yang repetitif jadi saya bacanya lompat-lompat paragraf asal uda ngerti intinya aja.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
May 22, 2018
Kita pasti pernah merasa iba terhadap nasib seseorang yang kurang beruntung dibanding kita. Rasa iba itu kemudian kita artikan sebagai sifat manusiawi yang timbul dari amatan kita terhadap keadaan sosial yang timpang. Ketika Lampu Berwarna Merah adalah gambaran bagaimana ketidakberuntungan begitu dekat dengan kita. Pengemis Jakarta serta Para pelaku Bedol Desa yang marak pada masa Orde baru menjadi latar cerita
Hamsad sebagai seorang yang dekat dengan kehidupan urban mampu merekam fenomena hitam dalam kehidupan kota yang pelik. bahwa kehidupan kota yang serba mewah dan penuh hingar bingar terdapat kelompok yang tidak pernah jauh dari bau kemiskinan. Kota dan Kemiskinan sejatinya tidak bisa terpisahkan dan dalam Ketika Lampu Berwarna Merah hal ini menjadi dekat serta bisa rasakan sebagai manusia yang sok peduli terhadap kehidupan soiala mereka. padahal mereka akan baik-baik saja tanpa kita pedulikan,meraka sudah muak dengan kita yang hanya menggunakan mereka sebagai alat kepentingan kita.
Ketika Lampu Berwarna Merah merefleksikan bagaimana kita sebagai manusia harus terus percaya bagaimanapun keadaannya kebahagiaan mudah kita dapat. Kemiskinan buka untuk komoditas kita meraih simpati tapi kemiskinan ada untuk kita menjaga empati
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
December 31, 2021
apa yang terjadi ketika lampu berwarna merah?
kendaraan berhenti, pengemis mendatangi setiap kendaraan sampai lampu berwarna hijau.

jakarta itu kota yang keras. keras bagi orang-orang, termasuk 8 pengemis anak-anak yang diceritakan di dalam novel ini. ini kali pertama aku baca karya Hamsad Rangkuti dan cesss aku bisa ngerasain gimana kehidupan tempat-tempat "kumuh" di sekitarannya, yang hidup susah, miskin, tanpa tempat tinggal alias pindah-pindah, angka kriminalitas tinggi, dkk.

selain itu aku heran pas adegan makan martabak, heh itu kok bisa mereka ga kenyang-kenyang sihhh wkwkwkwkw jengkel banget aku bacanya. martabak, bir, martabak, bir heeesss gak rampung-rampung rekkk

menuju ending, aku merasa agak sedih sih apalagi pas adegan mereka mau pisah. haduuuuhhh
Profile Image for Senopati.
36 reviews1 follower
September 4, 2022
a story about basri, a child from wonogiri, amazed by the wonder of Jakarta he saw on tv, then decided to go to jakarta to see monas, don’t know what to do after visiting monas, he ended up being a beggar in Jakarta.
His family which he left in wonogiri, participated in transmigration program held by government, the people from his village are about to be relocated to a place far in sumatra due to their village is going to be turned into a big dam for irrigation program.
Basri’s father in wonogiri trying to get his family back, and tried so many times to find basri in jakarta, despite of zero results he got so far. he managed to do one last try to find basri at one of thousands traffic lights in jakarta for him to bring to sumatra joining his parents and fellow villagers.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Indrianiia.
6 reviews
January 10, 2021
tentang 8 anak dengan kehidupannya yang berpusat di lampu merah, seorang bapak yang mencari anak terakhirnya yang minggat ke jakarta sebelum migrasi ke sumatra.
karena ceritanya di tahun 70an pas ngomongin duit belum kebayang 20 ribu sebanyak apa, bisnis jual mayat dihargai 20 ribu berarti banyak banget kali yaa.
sampai chapter tentang gimana pipin akhirnya bisa jadi pengemis buntung sedih kesel banget sama pemerintah yang ngejadiin bapaknya pipin tersangka kecelakaan tamu negara, karena polisi butuh tersangka kasus abu gosok tumpah ya rakyat kecil yang jadi tumbal.
Profile Image for Saodah Warsiana.
14 reviews
October 4, 2022
Citra yang kuat dalam novel ini tersusun dari peristiwa kecil dan besar, yang kemudian bukan lagi menjadi kendaraan bercerita, tapi juga memasuki sukma para tokohnya. Novel ini subtil untuk sebuah kenyataan yang Sesungguhnya.
Profile Image for Iqbal Dalimunthe.
34 reviews44 followers
February 5, 2022
Perasaan saya agak campur aduk setelah membaca buku ini. Cerita, latar, dan tokohnya benar-benar membawa saya ke dunia yang berbeda, dunia yang sebenarnya dekat tapi terasa asing dan jauh. Kemudian saya kembali bertanya ke diri sendiri, apa yang bisa dilakukan, atau setidaknya pikiran apa yang harus dibentuk atau yang bisa disampaikan setelah membaca buku ini?
Profile Image for Niskala.
94 reviews1 follower
March 11, 2025
Baguss
Cara bercerita menarik, cerita orang2 terpinggirkan
Profile Image for Soeltra yani.
18 reviews3 followers
July 14, 2008
Mau memaknai kemiskinan? perjuangan? pengorbanan? persahabatan?
Coba aja baca ini buku, di setiap lembaran-lembaran ceritanya mendeskripsikan kehidupan beberapa anak jalanan. Suatu suasana yang umumnya sering kita lihat di kota-kota besar. Tapi kita gak pernah mau tahu atau mungkin mengerti sedikit saja tentang mereka, gak jarang orang-orang sering memicingkan mata atau menganggap mereka sampah.

Padahal kalau mnurut gua pribadi, mereka tergolong manusia2 kuat yang jg berjuang dengan cara mereka untuk mencari hidup, memaknai hidup, memberi juga menerima hidup itu sendiri.

Di Indonesia kasusnya, anak-anak jalanan adalah manusia2 yg di miskinkan oleh struktur, oleh pembesar2 negeri yang gak berhenti2 ;n puas2nya mencomot hak mereka lewat korupsi. Karena gua masih yakin dengan bunyi : "fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara". Tapi, kayaknya jangankan dipelihara, tambah disiksa malah iya!

Ayooo...makes poverty history!
Ada yang mau bikin sesuatu seperti penulis ini? atau seperti Muh Yunus dengan Bank Kaum Miskin nya yang menghasilkan nobel :)

Profile Image for Indah.
73 reviews1 follower
May 6, 2012
Don't read this book when you're in the mood of something light and entertaining. You're not gonna get it.

Everything that is depicted in this book is real life situations of marginalized people in Jakarta. Some of them might be familiar, but I'm sure you'll find one -if not more- surprising aspect of the story.

Well developed, well told, well executed at the closing. I'm just sorry I read this when I was having a happy mood. This sorrowful reality makes me breathe a little bit harder.
Profile Image for Indigo Deville.
38 reviews3 followers
August 14, 2007
Salah satu buku yg cukup meninggalkan kesan bagiku. Membaca buku ini kita seakan-akan diberikan peluang untuk mengintip kehidupan anak-anak jalanan yg selama ini tidak kupandang sama sekali dan kurasakan sebagai parasit.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
February 7, 2009
Mengambil buku ini dari rak perpus Jumat sore dengan asumsi Negeri Bahagia bakal selesai sore itu juga. Eh, ternyata isinya mirip2. Tapi lain. Sangat kurang nyaman dibaca. Jadi bingung mau nulis review-nya seperti apa.
1 review1 follower
Read
June 21, 2011
saya mencari buku ini: Ketika Lampu Berwarna Merah, karya Hamsad Rangkuti. bagi yang memiliki atau di mana saya bisa membeli, saya akan membelinya, saya ingin memilikinya. info ke saya: nama saya Taufiq Wr. Hidayat, kirim info ke saya: ps_bb@yahoo.co.id
Profile Image for Amelia Wulandari.
6 reviews10 followers
August 31, 2016
Membaca buku ini membuat kita tahu kehidupan yang bergerak saat kendaraan-kendaraan berhenti. Saat lampu berwarna merah.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 20 books36 followers
October 21, 2016
Hamsad Rangkuti mengenalkan dunia lain di persimpangan kota, di bawah lampu merah, di gubuk, dan kehidupan lain yang jarang diperhatikan.
3 reviews1 follower
August 28, 2017
Novel ini menceritakan kemiskinan, anak jalanan, daerah Ibukota dan seluk beluknya. Penyampaian keadaan Ibukota menurutku berhasil tersampai dengan baik kepada pembaca, penggambaran penulis tepat dengan pilihan kata yang dipakai. Selain menceritakan kehidupan Ibukota, novel ini juga mengangkat sisi keluarga di desa daerah Jawa seingatku yang akan pindah ke daerah lain, jika dilihat dari kehidupan nyata, novel ini memang sepertinya terinspirasi dari kehidupan nyata yang mana kebanyakan memang masyarakat daerah Jawa memilih untuk pindah ke daerah yang belum banyak penghuninya.
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.