Jump to ratings and reviews
Rate this book

L'Ascension du Haut Mal #1-3

Epileptik 1 [L'Ascension du Haut Mal, Omnibus 1-3]

Rate this book
Epileptik adalah mahakarya David B., seniman komik terkemuka di Eropa. Autobiografi yang emosional ini menceritakan kehidupan bersama abangnya, penderita epilepsi. Epileptik edisi bahasa Indonesia dibagi menjadi dua buku.
Epileptik 1 berkisah tentang hidup keluarga Beauchard yang mendadak berubah ketika anak sulung mereka, Jean-Christophe, terserang epilepsi. Dalam rangka mengobatinya, ibu dan ayah membawa seluruh keluarga mendatangi berbagai ahli akupunktur, terapis magnetik, para medium, dan komunitas makrobiotik. Tapi semua pengobatan itu berakhir mengecewakan. Setelah sempat membaik, kesehatan Jean-Christophe malah makin memburuk. Ia semakin sering kejang pada waktu dan tempat yang tak terduga. Kadang ia pingsan di jalan dan terluka.
Karena marah pada semua penyembuh yang menawarkan harapan palsu, Pierre-Francois, si bungsu alias David, berusaha mengatasinya dengan membuat gambar-gambar yang merupakan jendela menakjubkan tentang kehidupan batinnya. Epileptik adalah potret jujur dan mengguncang tentang penyakit epilepsi, penderitaan serta ketakutan yang ditimbulkannya pada keluarga Beauchard.
Epileptik 1 ini berisi cerita menyentuh tentang riwayat rumit sebuah keluarga. Kita dibawa mengikuti Pierre-Francois membaca hubungan kompleks dengan abangnya, dan usaha keluarga Beauchard menghadapi lingkungan yang tak selalu bisa menerima kondisi Jean Christophe. Pierre-Francois pun akhirnya menutup diri dan tenggelam dalam dunianya yang penuh imajinasi untuk sebentar lari dari tragedi keluarga itu.

164 pages, Paperback

First published January 1, 2002

9 people are currently reading
190 people want to read

About the author

David B.

134 books203 followers
Pierre-François Beauchard, who uses the pen name David B., was one of the initiators of the French alternative editorial house L'Association, and is now well-known among the French comics audience. After his Applied Arts studies, David B. had his first publications in magazines such as Chic, Circus, Okapi and A Suivre. Among his early creations are 'Le Timbre Maudit', a story published in Okapi, and 'the mini-series 'Zèbre' in Chic. As a scenarist, he cooperated with Olivier Legan on 'Pas de Samba pour Capitaine Tonnerre', an album published by Glénat in 1985.

After he co-founded L'Association in 1990, he began using the pseudonym David B. and specialized in short black-and-white stories, detailing nightmarish dreams, collected in the album 'Le Cheval Blême' in 1992. As powerful as his dream imagery is in itself, it is amplified by his masterful use of black and white drawings. In the Association's magazine Lapin, he published series like 'Le Prophète Voilé', 'Le Jardin Armé' and 'Le Voyage de l'Est'. From 1996, Beauchard has concentrated on the autobiographical series 'L'Ascension du Haut-Mal', which earned him the highest praise from comics critics.

In addition to his work for L'Association, David B. cooperated with the publishing house Cornélius, where he published the quarterly comic book Le Nain Jaune from 1993 to 1994, as well as 'Les Quatre Savants' from 1996 to 1998. He was also present in the reviews Fusée and Le Cheval sans Tête (with 'Les Incidents de la Nuit'). Also present at Dargaud, he made 'Le Tengû Carré', an allegory of Japanese legends, and the scenarios of 'La Révolte d'Hop Frog' and 'Les Ogres', which were illustrated by Christophe Blain. For the publisher's collection Poisson Pilote, he made 'Urani - la Ville des Mauvais Rêves' (script by Joann Sfar) and 'Les Chercheurs de Trésor'.

After May 2000 David B's work would reach a wider public when his artwork was featured in the collection Aire Libre by the popular publisher Dupuis. After 'Le Capitaine Écarlate' (with artwork by Emmanuel Guibert) in 2000, David wrote and drew the album 'La Lecture des Ruines' in 2001. David B has also been active as an illustrator for Le Seuil, Automne 67, Albin Michel and Coconino Press.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
105 (24%)
4 stars
161 (36%)
3 stars
122 (27%)
2 stars
38 (8%)
1 star
11 (2%)
Displaying 1 - 30 of 53 reviews
Profile Image for owl.
162 reviews
October 15, 2010
*review pake gaya "ngomong sendiri"*

"ayo di, kita main bola lagi."
"epilepsi bukan penyakit menular dan bukan penyakit memalukan"

inget gak sama iklan layanan masyarakat itu? aku sih sampe sekarang masih keinget. soalnya nempel banget di kepala. karena dulu iklan tersebut jadi bahan guyonan di lingkungan sepermainan aku. semisal, cuma karna pengen ngejek temen, jadi pake kata-kata "ayo di, kita main lagi" yang sama artinya bergurau bahwa temenku itu epilepsi. tapi seriusan, saat itu aku enggak tahu kayak apa penyakit epilepsi itu. soalnya seingetku tidak digambarin si adi itu kena serangan. bener gak? yang aku inget sih gitu. malahan aku sempat berpikir dan menjadi pemahamanku bertahun-tahun bahwa epilepsi itu penyakit polio. dan aku berkeyakinan kalo epilepsi dan ayan adalah penyakit yang berbeda. itu dulu. waktu masih tersandang sekarwangi dibelakang nama depanku: ika. :D

sampai saat menulis review ini, aku belum pernah menyaksikan dengan mataku sendiri bagaimana serangan itu. jadi aku pikir kenapa harus malu. setelah membaca buku ini --dan epileptik 2, aku pun paham mengapa kalimat "bukan penyakit memalukan" itu menjadi penting untuk di sosialisasikan kepada masyarakat.

aku pun paham mengapa fafou (Pierre-François Beauchard a.k.a David B) mengalami pergulatan batin karena epilepsi kakaknya, Jean-Christophe. yang aku tangkap, beban psikologis fafou terjadi akibat dari adanya pandangan negatif masyarakat terhadap Jean-Christophe ketika mengalami serangan. Anggapan penyakit berbahaya, gila, harus dikurung, dsb sehingga masyarakat merasa perlu memanggil polisi untuk "mengamankan" Jean-Christophe. ini yang kemudian menjadi beban psikologis terutama bagi fafou dan ibunya karena epilepsi tidak diterima di masyarakat sebagai penyakit biasa seperti batuk, pilek, dll.

Di satu sisi, fafou memiliki keinginan yang kuat untuk menyembuhkan kakaknya. tapi di sisi lain, putus asa atas segala usaha plus perlakuan masyarakat dan teman-temannya membuat ia dan adiknya berharap kakaknya mati. Ini yang kemudian menjadi refleksi ke diri aku sendiri, apapun itu pandangan negatif masyarakat berpengaruh terhadap keadaan psikologis seseorang yang aku pikir ini dampaknya lebih besar ketimbang pengaruh ke fisik. menjadi penyendiri dan tertutup karena ketidakpercayaan terhadap lingkungan menjadi salah satu dampaknya. lebih jauh bisa jadi bunuh diri. pe-er aku adalah menjadi apa yang dikatakan Pram: "harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan." meskipun kasusnya beda. semoga aku bisa.

sebenarnya yang sangat membekas sekali dihati aku dari perlakuan negaitif masyarakat ini ada di buku kedua. Dari ilustrasinya saja sudah membuat aku ingin marah dan geram. saat Jean-Christophe mengalami serangan, digambarkan mata orang-orang sekitarnya besar-besar dan menjauhi. pengen banget mitesin tuh mata orang-orang.

aku tidak tahu bagaimana kasusnya di Indonesia. aku berharap semoga saja perlakuan-perlakuan seperti itu tidak ada lagi terhadap penyandang epilepsi.

"ayo di, kita main bola, main petak umpet, main PS (:D), makan bareng, beli es krim, ke pantai, wherever u like deh hehe...".





Profile Image for an.
764 reviews22 followers
August 9, 2011
keinginan bebas kita sangat terbatas sehingga hanya mempengaruhi 1% tindakan kita. tapi anakmu, penyakit na mengurangi keinginan bebas na kurang dari rata-rata. kita tidak bebas, tapi dia lebih lagi

imajinasi masa kanak-kanak david yang tinggal dengan seorang kakak yang mengidap epilepsi ternyata telah membawa na pada sebuah karya. dunia suram yang sela ini dia sembunyikan melalui baju baja na yang berupa senyuman ternyata terkuak melalui novel grafis memoar keluarga yang hidup dengan pengidap epilepsi.

bisa dilihat dari gambar na bahwa ini bukan kisah yang bahagia. suram. dengan nuansa hitam penuh kegelapan yang mewarnai coretan kisah ini menunjukkan kekhawatiran masa kanak-kanak. satu nilai positif dari karya ini adalah gambar mendetail yang dicoretkan kartunis na. senang untuk melihat detail-detail yang disajikan na.

dengan dunia kanak-kanak yang mencoba dia hidupkan kembali di masa dewasa ini, dunia kanak-kanak yang penuh dengan imaji dan tak tahu bagaimana lagi harus melarikan diri. jadi ingat beberapa bulan yang lalu saat tingkat bunuh diri pada anak tinggi. ada apa sebenar na ini? mereka yang merasa tidak bahagia atau kondisi sekitar yang kurang dukungan terhadap pertumbuhan mental anak?

pernahkah keinginan itu muncul di masa kanak-kanak kita? jika pernah, pelarian apa yang mungkin kalian pilih sehingga masih bisa menghirup nafas saat ini? apakah kalian juga memasang baju besi untuk menyelamatkan diri?

-64-
Profile Image for Palsay  .
259 reviews38 followers
June 15, 2011
ternyata menjadi seorang yang memiliki penyakit epilepsi atau seseorang yang memiliki keluarga dengan penyakit ini sangat-sangat tersiksa...saya ga pernah nyangka sampai begitu kelamnya hidup David B dan keluarganya, terutama abangnya yang memiliki penyakit ini.

saya ingat dulu ada seorang teman yang serng sekali pingsan di sekolah. namun gejalanya sama sekali tidak mirip dengan epilepsi. saat itu aja saya merasa betapa sulitnya hidup menjadi dirinya, apalagi seperti abangnya David yang setiap tertekan selalu terkena serangan.

terus terang saya tidak suka illustrasi dalam buku ini, entah karena memang sengaja dibuat "dark" atau gaya David B yang seperti itu. Meski saya bisa menangkap penderitaan seorang pengidap epilepsi, namun sebagai adik, David B kurang menunjukkan empati terhadap penyakit kakaknya, malah kesannya seperti berkutat dengan kekacauan alam pikirannya sendiri. Sehingga kalau untuk menggugah perasaan pembaca thd penderita epilepsi, buku ini menurut saya kurang berhasil.

but it was ok-lah..:D

Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
May 19, 2009
(Review Epileptik 1&2)

Ada banyak cara berbagi pengalaman hidup dengan orang lain, terlebih bagi mereka yang merupakan orang-orang terkenal (politikus, artis, wartawan senior, tokoh masyarakat, dll). Umumnya kisah-kisah hidup mereka tersaji dalam bentuk tulisan yang disebut dengan memoir, biografi, autobiografi, dll, dari yang sekedar untuk menonjolkan figur dirinya guna tujuan tertentu, hingga kisah kehidupan sejujurnya baik yang baik maupun yang buruk sebagai pembelajaran kehidupan bagi mereka yang membacanya.

Bentuk memoir/biografi/autobiografi itu biasanya tersaji dalam buku yang tebal, tak jarang berupa hard cover dan dihiasi berbagai foto-foto pribadi sang tokoh. Atau ada juga yang dikemas dalam bentuk fiksi, misalnya Laskar Pelangi yang merupakan memoir dari penulisnya (Andrea Hirata).

Namun apa yang disajikan oleh Piere-Francois alias David B, pendiri L’Association yang merevolusi komik Eropa dengan format, gaya, dan materi yang baru, bisa dibilang unik. Ia menuliskan memoirnya dalam bentuk komik hitam putih. Dan inilah salah satu dari buah revolusi komik yang dilakukan David B, dkk. Dalam karyanya ini ia keluar dari pakem komik mainstream (format album, 48 halaman berwarna , kisah superhero, dll)

David B menulis kisah dirinya dan keluarganya dalam mengatasi penyakit epilepsi yang diderita kakaknya, Jean-Christophe sejak masih kanak-kanak. Dikisahkan bagaimana seluruh keluarga berjuang untuk kesembuhan Jean Cristophe. Berbagai macam cara pengobatan dicoba, mulai dari secara medis hingga berbagai metode alternatif seperti akupuntur, terapi magnetis, menghubungi arwah leluhur lewat para medium, voodo, bergabung dalam komunitas makrobiotik, hingga penyembuhan secara religi. Namun semua usaha pengobatan itu tak berhasil menyembuhkan Jean Christophe, kadang sembuh beberapa saat, namun kembali lagi seragan itu datang dengan pola yang sama, malah semakin sering dan memburuk.

Tanpa disadari penyakit epilepsi yang diderita Jean Christopher mempengaruhi perilaku dan kehidupan seluruh keluarganya. Obsesi seluruh keluarganya untuk menyembuhkan Jean Christophe dan harapan-harapan palsu yang ditawarkan oleh para dokter dan penyembuh lainnya membuat seluruh keluarga ikut menderita dan terguncang secara psikis. Tak terkecuali dengan David, penyakit kakaknya itupun ikut menghantui dirinya. Sesuai dengan bakatnya, ia mengatasinya dengan menggambar dan menulis kisah kehidupan dirinya dan keluarganya lengkap dengan mimpi-mimpi dan apa yang dia rasakan dalam jiwanya yang juga mulai ‘sakit’.

Pada intinya Epileptik adalah potret jujur tentang penyakit epilepsi yang diderita Jean-Christophe, penderitaan serta ketakutan yang ditimbulkannya pada keluarga Beauchard. Melalui komik ini kita akan diajak menyelusuri kehidupan David B (Pierre- Francois) sejak masa kecil, remaja, dan dewasanya. Bagaimana penyakit epilepsi yang diderita kakaknya ini akhirnya menciptakan sebuah hubungan yang rumit dengan kakaknya hingga David berpikir untuk menghabisi saja nyawa kakaknya. Tak hanya itu saja, komik ini juga menceritakan kisah –kisah yang dialami oleh kakek nenek David B. Kita akan diajak ke masa silam ketika kedua kakeknya bertempur dalam kedua Perang Dunia. Seolah penulisnya ingin mengungkapkan bahwa sejarah kehidupan keluarganya adalah sejarah panjang dan melelahkan melawan penyakit dan kematian.

Karena kisah dalam komik ini menceritakan kehidupan penulis dan keluarganya maka bisa dikatakan komik ini adalah sebuah graphic diary. David B menorehkan pengalaman hidupnya dengan gambar-gambar komikal dalam sapuan warna hitam putih yang kuat dimana ia tak segan-segan menggunakan blok warna hitam pekat. Walau tokoh-tokohnya digambarkan secara komikal namun ekpresinya terpancar dengan baik sehingga pembaca dapat menangkap emosi yang dirasakan tokoh-tokohnya. Selain itu David B juga memberi latar pada tiap panel gambarnya secara detail dengan gambar-gambar surealis yang memikat.

Memang bukan hal yang mudah untuk menikmati buku ini. Dengan liar David B mencampur adukkan alur ceritanya, kadang ditengah kisah ia bisa langsung mengajak pembacanya ke masuk ke masa silam ke kehidupan kakek neneknya. Belum lagi mimpi-mimpi David yang tiba-tiba menyeruak kedalam inti cerita. Memang ketika hendak mengisahkan mimpi-mimpinya ada teks yang menjelaskan awal dari mimpi David, namun sayangnya tak ada satupun teks yang memberikan keterangan akhir dari mimpinya sehingga pembaca harus berkonsentrasi dan menebak sendiri apakah panel gambar berikutnya masih merupakan mimpi David atau bukan.

Bagi yang tak terbiasa membaca komik serius, komik ini memang agak melelahkan, apalagi ketika David menjelaskan secara panjang lebar mengenai berbagai upaya penyembuhan yang dilakukan oleh Jean-Christophe dan keluarganya. Namun jika kita sabar membacanya dan mencoba memahami komik ini baik dari segi cerita maupun gambarnya maka kita akan menemukan bahwa komik ini menyajikan secara lugas tentang emosi-emosi wajar manusia dalam menghadapi ketakutan akan penyakit dan kematian.

Dan yang juga tak kalah menarik ketika kita mencoba memahami buku yang unik ini adalah ketika kita ingin menafsirkan dan mencari gambar-gambar tersembunyi didalam panel-panel gambarnya. Memang memerlukan waktu dan konsentrasi, namun justru disinilah letak seni dalam membaca dan memahami komik.

Gambar-gambar dalam komik ini mungkin mengingatkan kita pada Persepolis - Marjane Satrapi (tak heran karena Satrapi merupakan murid dari David B). Namun apa yang dikisahkan oleh David B lebih dalam dan gambarnya lebih mendetail dibanding Satrapi. Dalam edisi aslinya yang berjudul l'Ascension du Haut Mal, memoir ini terdiri dari 6 jilid komik yang terbit sejak tahun 1996 – 2003. Edisi bahasa Inggrisnya terbit dengan judul Epileptic (2003) yang setebal 368 halaman! Bayangkan bagaimana rasanya membaca komik serius setebal itu!

Bersyukur edisi bahasa Indonesianya oleh Gramedia dibagi dalam dua buku yang masing-masing setebal 163 & 198 halaman sehingga tak terlalu lelah membacanya. Selain itu buku ini juga dikemasan dengan cover yang menarik dan dicetak diatas kertas yang tak silau mata, ringan dan mampu menyerap tinta cetak secara sempurna.

Usaha Gramedia untuk menerjemahkan dan menerbitkan komik yang disebut-sebut sebagai salah satu dari sepuluh novel grafis terpuji sepanjang masa ini patut diacungi jempol. Hingga kini bisa tampaknya baru Gramedia yang secara serius dan kontinu menerbitkan komik-komik alternatif kelas dunia. Dan ini semakin membuktikan kepada publik Indonesia bahwa komik bukanlah sekedar kisah superhero yang menghibur. Melalui komik, kini kita bisa belajar memaknai perjuangan manusia dalam meniti kehidupannya.

@h_tanzil
Profile Image for Mikael .
307 reviews1 follower
January 11, 2026
Man skal ikke skue en bog på dens omslag.

Længe har jeg gået uden om denne, alene, baseret på min forestilling om, hvad den var.

Jeg anede det i virkeligheden ikke.

Det store onde handler om kampen mod det onde. Helt specifikt kampen mod den epilepsi, som rammer forfatterens bror ... og som slår revner i hele familien. Men det er også en slægts historie. Og det er en fortælling om, hvordan kampen om magt - kampen om at ville bestemme over andre og dominere andre - korrumperer næsten alt, hvad vi mennesker gør. Ondskab har mange ansigter og mange niveauer, men næsten altid kun et resultat: nedbrudte mennesker. Med-mennesker.

Stilen er gennemført og overvældende. Den er vitterligt på niveau med Maus. Jeg begriber ikke, hvordan man kan overskue sådan et værk. Planche for planche. Fra begyndelse til slutning. Jeg begriber det ikke, men jeg. beundrer det. Og jeg begræder mennesket dets klogskab og dets dårskab.
31 reviews
October 13, 2009
Epileptic 1 by David B. is the first in a three set volume graphic novel that is a nonfiction memoir about David’s life growing up with an older brother (Jean-Christophe) who has epilepsy. This international graphic novel was originally written in French and later translated to English. The drawings in this book are in black and white, which adds to the serious tone of this book and some of the darkness of the topics the plot touches on. During scenes in which there is more intense emotion, the color black is shown more than white. This allows readers to be able to sense the changes in the storyline and emotion. The author literally draws what he is writing about. For the line, “And this begins the endless round of doctors, for my brother and my parents.” To show this “roundness” and the difficulties the family has to face, the mom, dad, and older brother are drawn in the middle. Around them are different doctors holding hands and prancing as though they were like merry-go-round around the parents. Behind these doctors are books that surround them in a circular manner. This seems to represent how the family must feel about getting treatment for their son; they are going around in circles with the doctors and the books, yet still there is no answer. It creates a “headache” type of feeling that the parents are going through. Pierre Francois (David), the main character is also constantly drawing battles and is fascinated by the idea of war (pg .18). This is like the battle he has to deal with in the real world with having a brother who is sick, who is always battling the disease.

B. uses imaginary images and symbolism to reflect his ideas within his drawings too. To represent the dangers of epilepsy that constantly follow Jean-Christophe, a long dark slithering lizard like reptile is shown constantly swarming around him and following him as he gets treatment or eats the specials diets made for him (spooning in the food for him) (pg.51). Or, when Pierre-Francois is fantasizing about how he can save his grandfather from death, he is shown to be the size of the medical equipments that are holding open his grandfather’s chest and wearing a surgeon’s outfit, peering inside to it (pg.35).

Any part of this book would do well as a read aloud, particuallary pages similar to pg. 25, where the family’s history of being involved in different wars is discussed. These scenes would serve as a good place to read aloud and talk about because they are more complicated, as they examine wars (e.g. Algerian War) students are not familiar with or have never heard about which will require the assistant of the teacher to understand fully.

This graphic novel would be great to use with students in high school, mainly to discuss the issue of having to deal with a family member who was different, whether mentally, physically, etc. Since the pictures play a key role in understanding the text through the author’s eyes, uses of imagery and symbolism can be discussed and opened up for interpretation by students. Students can be asked to draw their own symbolic picture of how they read and interpreted a different part of the text. The topic of history can be discussed regarding the world wars, among others, that are brought up and students can also examine the psychological state of characters in the story in order to break down their personality traits and understand their actions better for a character analysis.

I enjoyed this graphic novel a lot and cannot wait to read the other installments. I like how the author recalls his past in a manner that is reflective of how he felt during his childhood. Just reading and looking at the pictures made me sad. I hurt for Pierre Francois because I felt his embarrassment for having a brother who had epilepsy and how he was made fun of by others, yet I also felt saddened for Jean Christophe who seems to be suffering the most…no friends…no one to understand him. Most of all, I found that this story made me more aware of the disorder and how it affects the family that has to deal with it. It makes me mad to know that such stigma existed in the past (and even today) about the disorder, which leads to society shunning these people. Exposing students to this and having them talk about disorders, disabilities, etc. can help them understand them and treat those with it better.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nadia Fadhillah.
Author 2 books43 followers
July 21, 2012
Tadinya aku tidak mengerti apa arti epileptik. Ternyata penyakit Epilepsi. Novel-grafis ini bercerita tentang keluarga penulisnya yang memiliki anak tertua, kakak lelaki David, yang memiliki penyakit epilepsi.

Penyakit epilepsi ini diceritakan dianggap penyakit menjijikkan sehingga dicemooh masyarakat sekitar. Selain itu, penyakit ini pun dimanfaatkan oleh banyak dokter dan ilmuwan untuk diteliti dan nantinya mereka bisa terkenal. Aku suka sekali gambar covernya. Gambar ayah, ibu, dan kakak David yang dikelilingi berbagai macam dokter dan ilmuwan yang memanfaatkan mereka.

Namun komik ini tidak melulu tentang penyakit kakak David. Isinya bahkan ada tentang perang-perang yang pernah terjadi di Prancis, maupun yang di Asia jauh sana, juga perang-perang yang pernah dilakukan oleh kakek-kakeknya. Alasan David memasukkan cerita peperangan itu sangat sederhana. Sejak dulu keluarganya berjuang dalam perang, dan bukankah kakaknya, Jean-Christopher, juga sedang berperang melawan penyakitnya sendiri?

Lagipula David kecil adalah maniak perang. Ia suka sekali pada buku-buku perang, pembunuhan, pembantaian. Maka ia pun sejak kecil sudah menggambar peperangan beserta Jendral-Jendral yang dibayangkan selalu menjaganya. Idolanya Genghis Khan. Ia pun tidak takut hantu. Ia menggambar monster-monster, bahkan roh kakeknya dianggapnya berbentuk burung. Ia juga menggambar penyakit epilepsi, penyakit kakaknya itu, dalam wujud naga totem yang melilit dan menyerang kakaknya kapan saja. David tidak takut semua itu. "Aku mungkin takut manusia, hidup, masa depan. Tapi aku tidak lagi takut hantu, penyihir, vampir, atau setan." katanya.

Aku sendiri kurang mampu memahami keliaran cara pikir David. Ia terlalu banyak menciptakan tokoh imajinasi, juga melompat-lompat dalam bercerita. Tapi anak yang banyak membaca, berpikir merdeka, lalu menggambar imajinasinya adalah anak yang sangat menarik. Tidak ada salahnya membaca buku ini.

Gudang Menghadap Jendela.
Rumah Jogja.
5 Juli 2012.
Profile Image for Sarah.
Author 116 books955 followers
August 17, 2009
This was a tough read. I think it might have done well with some additional editing. The vast expanses of description of the various therapies and movements that the author's family tried in their search for a cure for their son with epilepsy were needlessly long, and there were several vignettes that seemed a bit out of place or unnecessary.
That said, the graphic style was intricate and disturbing; at times the author's style seemed very original, and at times it seemed to be borrowing from others (the various therapists-as-animals reminded me of Maus).
It came across as a very honest work, overall; it is a frank examination of family dynamics in the face of intractable epilepsy. It conveys well the stigma that people with seizures face, and the frustrations of the search for a cure (or at least a respite). I can't say I enjoyed it, or that I would recommend it to any of the younger families I work with who have children with epilepsy. It paints far too bleak a picture. I think families that have been dealing with similarly intractable seizures might take some solace - not comfort, I don't think - in knowing that they aren't alone.
If David B. does one thing really well, it is showing the true meaning of disorder, the dis-order and chaos that it causes in the lives of not only the sufferers but their family and friends.
Profile Image for Zephyr.
13 reviews3 followers
March 6, 2012
The original book was in French and to my amazement it was translated to Indonesia by Gramedia. Kudos for Gramedia for translating this book. It is not a typical commercial book that can get easily sold so there's must be some one in Gramedia who really did enjow the high concept of comic book!

The book, in my humble opinion, is an honest painfull expression of how epilepsy on one man ( the writer's older brother) impact the writer and his family and how they all try to cope with situation, trying all the normal western medicine at first and then all the alternative cure in they encounter in the quest.

The writer is open and honest about his own flaws and failures in dealing with his brother, told through a combination of straightforward text and expressionist imagery (sometime downward strange though) and it has a conclusion that will gently break your heart.

People (especially Indonesians) always think comic is for children, well I definetely suggest all of you to read this book!It is a comic book but the subject is definetely for grown ups.
.
Profile Image for Jessica.
585 reviews23 followers
May 2, 2011
Epileptic 1 translates the first three installments of L'Ascension du Haut-Mal, a six-volume series about the author's childhood experiences, as his brother develops epilepsy and the disease consumes the lives of everyone in his family. Although it deals with heartbreak, suffering, and confusion, it keeps a wonderfully touching and even funny perspective throughout.

I especially liked the way that his artistry complemented his story - what appear to be pictures of ordinary scenes actually conceal strange and mysterious animals, reminding the reader of how close to the edge of reality his family walks throughout their experience with his brother's condition and attempts at rehabilitation.
Profile Image for Kirsten.
2,137 reviews116 followers
June 23, 2014
This is volume one of the awesome memoir of a young man growing up in France in the 1960s and 70s. David's older brother, Jean-Christophe, suffers from intractable epilepsy, sometimes suffering multiple seizures per day. When all medical science can offer is doping Jean-Christophe into catatonia or risky surgery that could lead to blindness or worse, David's parents start to seek answers in alternative medicine and spiritualism.

The artwork and storytelling is truly impressive. David's complex black and white drawings range freely over the page, slotting into new configurations, and the story itself ranges widely in time as well.

I am really looking forward to reading the second half of this memoir.
Profile Image for Summer.
298 reviews165 followers
September 24, 2007
How could I possibly give this version of Epileptic one star while giving another version five stars? Because Fantagraphics royally screwed up in the printing and distribution. I got a deal on Vol. 1 and bought it, planning to get Vol. 2 soon afterwards, but found out that they cancelled the printing of Vol. 2 in favor of making just one big book. So now I'm stuck with a superfluous half-book that's too good to throw away, but who would buy it? Great job, Fantagraphics.
Profile Image for Kate.
792 reviews164 followers
November 29, 2007
The first three parts of a six-part graphic memoir about a French youth whose family life is driven by his older brother's seizure disorder. The family joins various terrible macrobiotic communes while the kids live in their fantasies. Scary, dark, and I can't get it out of my head that the author may have inadvertently caused the epilepsy by pushing his brother down the stairs all those time. I love the monsters representing disease, and the stories about the author's lineage.
Profile Image for Dinna Fitriyana.
24 reviews34 followers
May 19, 2011
have you ever picture your dead grandpa as ugly as a bird? or your yin yang master as a lion? well, david b. has. he "animalized" people. instead of making it funny or annoying, david successfully expressed his strong feeling over it. this is mesmerized me.
another thing is i could proudly say that epileptic is the most honest novel i've ever read. touching? no. it just feels so true... and naive, but true :)


Profile Image for Eva Siagian.
432 reviews6 followers
January 7, 2018
Ceritanya bagus dan lengkap..?? Perpindahan cerita per panel yang cukup drastis terasa mulus buat saya, entah deh kalau pembaca lain. Yang penting saya cukup mengerti. Soal jalan cerita no comment, bagaimanapun ini cerita tentang perjuangan keluarga dan perjalanannya yang kelihatannya absurd bisa jadi memang nyata, mengingat setting waktu dan tempat. Menurutku karya Craig Thompson mirip kayak gini, setipe?!
Profile Image for Elizabeth.
485 reviews53 followers
October 22, 2010
From my blog:

Epileptic has been on my to-read list for a while, and I finally got around to it last night/today. It was quietly violent and a little gut-wrenching and mostly a good, intelligent, memorable read. I would've liked to have read it in the original language (French) - and am also looking forward to David B's other work, if I can find it.
Profile Image for Allie.
11 reviews
April 21, 2011
This seemed so much like a book I would love, but it turned out to be pretty boring. I felt no emotional connection to the text. The illustrations are also very childish, and (for me) detracted from the story. The redeeming qualities of this are its uniqueness and the fact that diseases are drawn as physical creatures.
Profile Image for Milka.
18 reviews2 followers
September 9, 2011
Novel grafis yang satu ini beda banget grafisnya dibandingkan novel-novel grafis lain terbitan GPU. Baru selesai dengan seri 1, dan mulai berharap seri 2 nya bakal sama serunya. Gambar-gambarnya gelap tapi meriah, ceritanya pekat tapi dikisahkan dengan keceriaan. Semacam satir yang membuat kecanduan, tidak tahan tidak membaca sekaligus sampai habis :)
Profile Image for Tarum.
365 reviews29 followers
August 11, 2012

Jadi ingat saudara sepupu yang juga menderita epilepsi. Pengalaman keluarganya juga mirip seperti keluarga David, dari dokter ke dokter, dari pengobatan alternatif satu ke yang lainnya, puncaknya di operasi di Semarang, tapi tidak ada hasil.

Jika seorang anggota keluarga menderita penyakit kronis, semua anggota yang lain pasti merasakan dampak langsung.
Profile Image for Rahman seblat.
24 reviews2 followers
September 18, 2008
novel grafis yang memikat. saat pertama memegang buku ini. jangan hiraukan bacaannya dulu. nikmati goresan dan gambar david b yang dahsyat dan imajinatif. baru, pelan-pelan, kunyahlah isi buku. akan ada petualangan fantastis tentang seorang penderita epilepsi disana.
Profile Image for Mel.
111 reviews
January 14, 2009
dark. tapi coretan gambarnya menurut saya bagus (ini novel grafis).
bagaimana dengan memoar-nya? dengan dibubuhi sedikit fiksi atau tanpa, bagi saya kisah hidup tetap dapat dinikmati. karena telah memberi saya kesempatan untuk membaca 'skenario' hidup orang lain.

3.5 bintang.
Profile Image for Aklam Panyun.
48 reviews6 followers
April 26, 2011
Ini novel grafis keren banget! Ingatan saya langsung terbang ke film Persepolis yang hitam putih itu. Narasinya nggak biasa dan illustrasinya imajinatif. Lebih dari semua itu: buku ini mengajak jujur dengan perasaan kita sendiri.
221 reviews35 followers
December 11, 2011
Epileptik dipenuhi gambar-gambar yang tidak menyenangkan untuk dilihat, suram dan tidak jelas. Tapi ceritanya sangat jujur dan entah bagaimana, saya tidak bisa melepaskan mata saya dari tiap halaman karena penasaran bagaimana kisah ini akan berakhir.
Profile Image for Joe.
18 reviews1 follower
March 20, 2017
This is probably one of the best graphic novel form the 21st century that you will ever read. This heart warming display of how love always triumphs is a great book for all looking for a great comic to read at night or any time of the day. And to top it all off it's all a true story.
Profile Image for HeavyReader.
2,246 reviews14 followers
December 25, 2008
I wasn't so thrilled by this comic.

It is really dark, which is fine, but it just kind of bothered me, instead of making me feel any deep emotion.
Profile Image for Molly.
1,202 reviews53 followers
March 26, 2008
I really, really hate it when graphic novels are broken up into volumes. So this is the first three issues. They're okay. Now I am waiting to read the other half and am annoyed. Grr!
Profile Image for Fahd.
Author 27 books530 followers
May 19, 2008
novel grafis ini keren. ketika pertama kali melihatnya di tokobuku. membolak-baliknya sebentar. membaca beberapa endorstmen di belakangnya. saya langsung penasaran. dan benar saja, buku ini keren.
31 reviews
August 8, 2009
versi indonesia:
mencengangkan, betapa penyakit bisa begitu menggerogoti aktualisasi diri seseorang, bahkan keluarga.
Displaying 1 - 30 of 53 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.