Setelah berita kematian Chandra di dalam sel tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi, Farah merasa nasibnya belum juga puas mempermainkan kehidupannya. Alexa, putri kecilnya, menjadi satu-satunya alasan bagi Farah untuk bertahan di tengah badai kehidupan yang tiada henti menghantamnya.
Perlahan Farah bangkit dari keterpurukan dan kembali ke Tanah Air demi mengungkap konspirasi yang menghancurkan nama baik keluarganya. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, pencariannya benar-benar tak mudah. Belum lagi, dirinya tiba-tiba didiagnosis penyakit mematikan yang mampu mengancam nyawanya.
Cinta segitiga, kekuasaan, dan harta menjadi bola panas yang melingkupi hari-harinya. Hanya dua pilihan yang kini ia punya: ikuti permainan atau mati.
Saat pertama mengambil buku ini terbayang cerita tentang pengungkapan konspirasi yang ada. Terbayang genre thriller dari buku ini. Tapi ternyata porsi cerita dari perjalanan cinta Farah yang terlalu besar. Bahkan kasus konspirasi dan pengungkapannya seolah tertutup dengan cerita cinta Farah hingga berakhir dengan kenelangsaan. Tapi overall meski di luar ekspektasi dalam membaca buku ini, cukup menikmati alur ceritanya hingga akhir.
Asyik sekali membaca upaya membongkar konspirasi pejabat-pejabat negara. Harta, tahta, dan wanita (simpanan) tak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka.
Untuk ukuran novel thriller, saya merasa novel ini kurang menegangkan. Namun, cerita yang disajikan, bagi saya asyik. Ada lucunya, ada romantisnya, tapi banyak adegan yang menyayat hati, terutama melalui tokoh Farah, Reffi, Danisa, dan si kecil Alexa.
setiap kali membaca cerita tentang politik, apalagi politik tentang Indonesia (seperti Negeri Para Bedebah series-nya Tere Liye ataupun First Girl series-nya Luna T) aku jadi makin apatis terhadap pemerintahan. setiap kali ada pemberitaan atau suatu peristiwa, mikirnya "ah ini mah udah diatur untuk kepentingan seseorang/kelompok. suatu hal yang tidak boleh sebenarnya.