Saya sedang dalam misi mengumpulkan karya-karya Pak Pramoedya Ananta Toer. Tapi selain Tetralogi Buru, susah sekali dicari. Saya pertama kali punya karya Pak Pram terbitan Lentera Dipantara yang "Gadis Pantai", dan tiba-tiba saja saya kepingin banget baca karya beliau yang "Calon Arang". Saya lihat di Gramedia, masih ada stok dan itupun hanya tersedia di Gramedia Banda Aceh. Karena sudah kepingin banget baca, saya langsung beli tanpa banyak berpikir dengan harga ongkir yang melebihi harga buku :') Tapi, saya puas sekali!
Buku ini adalah buku kedua terbitan Lentera Dipantara, untuk karya Pak Pram. Saya akan masih giat untuk berburu seri yang lainnya! (Doakan).
Begitu novel ini datang, saya tanpa ba bi bu langsung memilihnya sebagai bacaan selanjutnya. Saya habiskan sekali duduk, hanya dalam 1 jam kurang. Langsung saya lahap hingga halaman terakhir, ya walau memang buku ini hanya kurang-lebih terdiri dari 94 halaman, sih.
Saya adalah orang Bali, dan semenjak saya kecil saya sudah sangat familiar dengan yang namanya "Calon Arang", "Leak", atau "Rangda". Mungkin itulah yang membuat saya sangat ingin membaca novel ini, karena lekat dengan lingkungan masa kecil saya.
"Cerita Calon Arang" mengingatkan saya kepada buku-buku cerita rakyat atau dongeng yang suka saya lahap sewaktu SD di perpustakaan sekolah, karena saya tidak punya teman untuk bergaul - dan memilih bacaan sebagai teman hiburan saya. Seperti kata Pak Pram untuk mengawali cerita ini, "Dongeng adalah medium terindah dalam tradisi lisan Nusantara," lalu "Indonesia kaya akan dongeng, tapi di mana sekarang dongeng yang kaya dan raya itu?". Nah, saat membaca novel ini, saya benar-benar seperti diingatkan kembali apa rasanya membaca cerita rakyat atau dongeng Nusantara.
Dikemas dengan gaya bercerita yang lugas dan mudah dipahami, alur cerita yang maju dan rapi, penokohan yang singkat namun padat, membuat saya sangat menikmati proses penyelesaian membaca buku ini.
"Cerita Calon Arang" mengajarkan saya bahwa seberapa pun kuatnya kejahatan, akan selalu bisa dikalahkan oleh kebaikan. Mungkin di novel ini, terdapat beberapa bagian di mana seorang manusia bisa begitu sakti - tapi, ya, bukankah kita telah banyak diasupi bumbu-bumbu bahwa memang orang dulu sakti-sakti?
"Cerita Calon Arang" berlatar tempat (seperti kata Pak Pram, tidak ada akurasi tempat dan waktu dalam dongeng, oleh karena itu ia berbeda dengan karya ilmiah) pada jaman pemerintahan Baginda Airlangga, kerajaan Kediri (pada waktu itu, Kerajaah Daha). Pak Pram juga menuturkan (dalam tafsirannya) di mana kira-kira letak tempat tinggal Mpu Baradah - yang menurut saya juga agak unik penafsiran ini. Dalam cerita ini, Mpu Baradah dikatakan tinggal di Lemah Tulis. Padahal, jaman ini mungkin dikenal dengan Blora - yang dulu disebut sebagai Wurare. Karena lemahnya kemampuan bahasa masyarakat pada jaman itu, nama ini berkembang dan berubah. Wu yang berarti tanah (bhu), rare yang berarti putra, disebut sebagai Lemah (yang berarti tanah) Putra. Lalu dari sini, melenceng ke Lemah Patra. Patra berarti tulis, surat, atau citra - hingga akhirnya tempat tersebut disebut sebagai "Lemah Tulis".
Cerita ini adalah salah satu contoh bagaimana seseorang bisa berubah sebegitu menyeramkannya karena perlakuan yang ia terima dari sekitarnya. Ambillah Calon Arang yang berubah haluan ke jalan yang gelap dan sesat karena perlakuan jahat orang-orang sekitarnya, yang meributkan mengapa Ratna Manggali, anaknya, tidak kunjung diperistri. Balas dendam tentulah jalan yang keliru, namun hal ini menjadi pelajaran untuk kita semua agar tidak menorehkan luka ke orang lain karena kata-kata yang kita ucapkan. Terbukti, di cerita ini, Calon Arang memohon kepada Mpu Baradah untuk "dibersihkan" atau "disucikan" kembali sebelum mati, karena dosa-dosa yang telah ia perbuat begitu besar hingga mustahil ia dapat diterima "bumi" saat ia mati.
Dari Mpu Baradah, saya seakan bisa mendapatkan esensi dari karakternya yang tenang dan bijak, apalagi saat menghadapi Calon Arang yang terkenal dengan mudahnya telah menumpaskan banyak nyawa. Mpu Baradah sangat tenang saat menghadapi Calon Arang, dan ketika ia tahu tentang betapa dahsyatnya teluh yang dibuat Calon Arang, ia hanya berkata dengan santai kepada Kanduruan agar segera menghadap Calon Arang dengan maksud menikahkan Ratna Manggali dengan Mpu Bahula. Tentunya, dengan maksud agar bisa mengetahui rahasia Calon Arang lebih mudah jika Mpu Bahula ada di dekat Calon Arang. Maksud lain adalah, agar Calon Arang terlampiaskan keinginannya untuk melihat anak perempuan semata wayangnya diperistri lelaki terpandang dan baik-baik seperti Mpu Bahula.
Saat membaca ritual-ritual yang dilakukan Calon Arang dan ketujuh muridnya (Weksirsa, Mahisa Wadana, Lendesi (Lendi), Larung, Gayung, Gandi) saya jadi bergidik sendiri. Masalahnya, saya dapat membayangkan bagaimana kira-kira ritual itu terjadi, terutama saat ketujuh muridnya diberi perintah untuk melakukan penandakan (menandak). Yang paling saya seram, adalah ketika mereka membangkitkan kembali mayat untuk hidup, dan ketika ia telah hidup kembali, ia hanya dijadikan tumbal untuk memanggil Dewi Durga, lalu mati kembali karena dibunuh.
Menurut hemat saya, berbagai karakter dan penokohan di dalam cerita ini bersifat hitam ; putih. Yang hitam hanya jahat-jahat saja yang ada, yang putih hanya baik-baik saja yang ada. Sementara, hal itu bertolak belakang dengan hakikat manusia yang sesungguhnya; bahwa manusia memiliki sisi hitam dan putih, dan yang menggambarkan manusia itu sendiri adalah mana sisi yang memiliki porsi terbanyak. Tapi, tujuan cerita ini adalah sebagai dongeng kepada anak-anak (kepada pembaca yang menurut saya tidak erat dengan usia, sih) dengan tujuan untuk menyampaikan pesan bahwa "berbuat baiklah kepada sesama karena kita adalah saudara". Dan ini termasuk tidak nyinyir kepada sesama, ya, seperti apa yang dilakukan masyarakat kepada Calon Arang hingga membuatnya begitu larut dalam kebencian!
Yang saya sukai lagi, di sini tersilang sejarah (fakta) dengan fiksi. Kita tidak benar-benar tahu dan yakin apakah Calon Arang benar-benar ada, walaupun legenda berkata demikian. Tapi tentang Kerjaan Kediri dan raja Erlangga benarlah adanya. Serta, perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala juga ada sejarahnya.
Yang saya sayangkan, saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang Wedawati. Saya masih kurang mengerti mengapa Pak Pram begitu mengupas Wedawati, yang saya sangka akan memiliki peran dalam melawan teluh Calon Arang. Tapi entahlah, Wedawati yang mengingatkan saya dengan tokoh Cinderella ini mungkin hanyalah bumbu cerita untuk memberi tambahan buah yang dapat dipetik pembaca, yaitu untuk tidak memiliki rasa dendam dan iri dengki seperti ibu tiri Wedawati, dan untuk selalu menjadi pemaaf dan penyabar seperti Wedawati.
Sebagai penutup ulasan ini, saya menguti kutipan Pak Pram:
"Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu, tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara."