Harus diakui bahwa Hamsad Rangkuti adalah pengamat yang cermat atas keadaan sekitarnya, jadi mungkin saja ia juga mengenal perkembangan watak tokoh-tokoh ciptaannya jika itu ada. la menggunakan berbagai teknik penulisan cerita dengan baik, terutama kejutan pada penutupan cerita dan pengulangan, yang terakhir ini menimbulkan suasana yang mencekam sekaligus menggelikan, di samping amanat penting yang tersirat.
Dalam kebanyakan ceritanya, Hamsad sama sekali tidak mengajak kita untuk berfilsafat muluk-muluk; ia dengan cerdik telah menggoda kita agar menjadi penonton yang terpesona oleh peristiwa yang direkanya. —Sapardi Djoko Damono, sastrawan
Dengan begini, rencong itu bukan hanya simbol perlawanan yang kosong, melainkan ada isinya, yakni semangat perlawanan Aceh yang telah dibangun sepanjang sejarah. Bukan rencongnya, tetapi maknanya. —Seno Gumira Ajidarma, sastrawan
Cerpenis ini selain produktif juga mampu menghasilkan kualitas. Dia mampu memberikan sesuatu kepada pembacanya. Cerpen-cerpennya yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil tidak terjebak pada keberpihakan cengeng yang menggunakan idiom-idiom umum. —F. Rahardi, penyair dan cerpenis
Ia seperti menaruh kenyataan, kebenaran, dan apa yang sudah terjadi, yaitu bahan- bahan dasar ceritanya ke dalam sebuah bejana. Ke dalam bejana itu ia bubuhkan berbagai unsur-unsur lain, agar terjadi pertumbuhan alami seperti dilakukan ahli kimia di laboratoriumnya. —Efix Mulyadi, wartawan kebudayaan
Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian dan majalah dalam dan luar negeri. Beberapa cerita pendeknya diterjemahkan dalam bahas Inggris dan Jerman.
Kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000) dan Bibir dalam Pispot (2003).
Novel pertamanya Ketika Lampu Berwarna Merah merupakan pemenang sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1981.
"Orang lupa kepada bahaya karena ia menginginkan sesuatu. Bahaya tidak tampak, bila nafsu untuk memiliki sesuatu telah menguasai seseorang ... Apakah ia bisa mengingat kekurangan-kekurangannya sendiri pada saat nafsu hendak memiliki itu telah menguasai dirinya? Orang lupa pada kesanggupannya. .... Nafsu mengalahkan segalanya." (hlm. 43)
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2017
3,3 dari 5 bintang!
Pertama kali saya berkenalan dengan Hamsad Rangkuti ketika melihat judul karya beliau yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? haha dan saya belum kesampaian membaca bukunya hingga pada akhirnya saya berakhir dengan karya ini
Semua cerpen didalam ini tidak jauh-jauh dari isu sosial politik saat ini. ada juga cerita ketamakan yang menguasai hati manusia, perselingkuhan dan arti akan harga diri. Menarik jika kita telusuri lebih dalam dan masih banyak yang relevan pada saat ini
Sebetulnya saya suka dengan kontennya, karena banyak mengangkat isu-isu sosial yang memang nyata saya lihat di sekitar saya. Tapi sayang, tata bahasanya kurang apik, sehingga terkadang kurang enak dibaca dan kurang "smooth". Mungkin karena buku ini buku lama, sehingga EYD dan remeh-temehnya belum terlalu diperhatikan. Alangkah baiknya bila konten yang menarik dikemas dengan tata bahasa yang juga apik.
Belajar menulis cerpen merupakan salah satu kegiatan yang kini saya lakukan. Hal itu yang mendorong saya untuk membaca karya-karya cerpen dari para penulis yang sudah memiliki nama besar, dan Hamsad Rangkuti salah satunya.
Buku berjudul Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah berisi kumpulan cerpen Beliau yang membuat saya kagum sekaligus bertanya-tanya setelah membacanya. Saya cukup mudah memahami beberapa cerpenya, yang masih awam dengan cerpen, seperti: Perbuatan Sadis, Malam Takbir, dan Penyair Bahman.
Ketiga Cerpen tersebut menceritakan kisah singkat soal kemiskinan, kejahatan, dan politik. Ketiganya diceritakan secara jelas tanpa harus mencernanya lebih lanjut. Dalam cerpen perbuatan sadis misalnya. Cerita tersebut bermula saat tokoh Aku bersama seorang perempuan muda yang tidak dikenalnya sedang menunggu bus di halte. Ada perasaan resah yang menghinggapi tokoh Aku. Keresahan tokoh Aku bukan karena telat menuju suatu tempat atau khawatir bis yang akan ditumpanginya tidak datang, melainkan khawatir jika ada tindakan kejahatan akibat perempuan tersebut.
“Dia mengenakan kalung emas yang kutaksir dua puluh gram…Dia seolah tampak ingin menyombongkan perhiasan itu. Memamerkan miliknya kepada orang lain.” (Hlm.23).
Apa yang dikhawatirkan tokoh Aku menjadi kenyataan. Dua orang laki-laki menghampiri perempuan muda tersebut lantas mengambil secara paksa kalung yang melingkar di leher perempuan tersebut. Akhir kisah ini ditutup dengan tindakan sadis kedua perampok yang kembali menemui perempuan muda tersebut, setelah menyadari kalung yang mereka rampas ternyata imitasi, dan memaksa perempuan muda tersebut menelan kalung imitasinya.
Ceritanya cukup jelas dan sesuai dengan judulnya Perbuatan Sadis. Tapi, jika boleh saya tafsirkan, sebenarnya ada beberapa pesan yang disampaikan dalam cerpen ini.
Pertama, soal kemiskinan. Tindakan kedua perampok tersebut diidentikan dengan perilaku yang erat dengan kemiskinan. Dalam cerpen ini, Hamsad tidak seperti kebanyakan cerpenis lainya yang membela kemiskinan melainkan sebaliknya menertawakanya.
“Jangan Bung pikirkan kejadian itu. Itu kalung imitasi!...Makanya kita sesekali harus mengejek kemiskinan itu. kedua orang itu terkicuh… Sesekali kita harus mengejek kemiskinan itu!tidak ada bahaya kalau kita tidak mengadakan perlawanan…saya di dalam hati mengetawai mereka.” (Hlm. 24).
Penggunaan kalung imitasi oleh perempuan muda tersebut bukan untuk bergaya tanpa perlu khawatir jika kalung itu dirampok, tapi untuk mengejek tindakan kedua perampok –sebagai representasi perilaku masyarakat miskin. Apakah di sini Hamsad berusaha untuk mengejek kemiskinan, dan menjadikan kemiskinan sebagai bahan tertawaan? Silahkan anda baca sendiri dan tafsirkan.
Kedua, soal kritik Hamsad tentang kepalsuan. Perhiasan yang dikenakan perempuan muda tersebut palsu dan anehnya reaksi unik yang ditunjukkan perempuan muda tersebut saat kalungnya dirampok. Uniknya kritik yang dilontarkan mengenai kepalsuan bukan terlontar dari tokoh Aku tapi dari kedua perampok.
“Kau telah menipu kami! Bajingan!... Makan! Telan kalung imitasimu ini. sekarang kamu harus menelan semua kepalsuan ini! Ayo telan!..Ayo buka mulutmu! Telan!.. Ayo telan! Minum dengan air ini supaya mudah kau menelanya. Ayo lakukan!” (Hlm. 25-26)
Terlihat tindakan kedua perampok ini merupakan tindakan kekerasan tanpa makna, tapi jika diamati lebih jauh dalam cerpen ini kedua perampok ini berulang-ulang mengatakan: telan kepalsuanmu. Ada rasa muak yang ingin disampaikan Hamsad melalui mulut kedua perampok ini soal kebencianya terhadap kepalsuan.
Ketiga, mengenai ketidakpedulian. Menurut pemahaman saya, ada sindiran lain yang ingin disampaikan Hamsad soal ketidakpedulian antar sesama. Jika diamati lebih lanjut Tokoh Aku, sebagai tokoh utama, tidak banyak berbuat sesuatu saat kejadian perampokan tersebut. Ada ancaman dari salah satu perampok kepada tokoh Aku jika berani menolong perempuan terebut. Saya yakin tindakan tokoh Aku terlihat rasional jika itu terjadi pada kita. Cukup berdiam diri, dan menjaga nyawa bertahan dalam diri. Tapi, apakah tidak ada tindakan nyata dari tokoh aku selain menasehati perempuan muda tersebut, “Anda bermain-main dengan bahaya! Asli ataupun palsu selalu membahayakan jiwa kita.” (Hlm.24).
Tindakan nyata itu semisal mengiba kepada kedua perampok tersebut, atau menyerahkan sejumlah uang agar keduanya bisa pergi tanpa melukai perempuan muda itu? Sekali lagi, saya mohon maaf mungkin ini tafsir yang terlalu liar.
Cerpen Perbuatan Sadis ini, bagi saya, bukan tindakan sadis yang dilakukan kedua penjahat tersebut, melainkan tindakan sadis atas pengabaian kejahatan yang ditunjukan oleh tokoh Aku. Akhir cerita ini ditutup dengan teriakkan histeris perempuan muda itu: “Tolong! Tolong! Saya menelan perhiasan!” (Hlm. 27).
Selain beberapa cerita yang mudah dicerna, buku ini juga memuat dua cerita yang cukup membingungkan: Untuk Siapa Kau Bersiul dan Sukri Membawa Belati. Bukan dari alur ceritanya,karena cukup sederhana, tapi dari pengulangan adegan yang ditulis berkali-kali. Pengulangan yang saya maksud disini bukan seperti refrain dalam lirik lagu yang diulang sama persis.
Pengulangan adegan yang ditulis Hamsad adalah penulisan ulang adegan yang sama tapi membuat alur cerita menjadi berbeda. Contohnya seperti ini:
“Aku kembali mendatangi warung nasi langgananku. Perut lapar mendorongku untuk segera melahap menu yang tersedia. Dengan segera aku memesan nasi bebek beserta sambal dan lalapan.” Aku kembali mendatangi warung nasi langgananku. Perut lapar mendorongku untuk segera melahap menu yang tersedia. Sembari mengeluarkan uang sepuluh ribu aku lantas memesan nasi uduk, dan segera membawanya pulang.”
Meskipun tidak sama kurang lebih contohnya seperti itu. Sedikit spoiler, saya kutipkan adegan berulang yang ada dalam cerpen Sukri Membawa Pisau Belati.
Sukri di dalam semak-semak mawar meraba pisau belati di pinggangnya. Dia sakit mendengar ucapan itu. Dia melompat dari dalam semak-semak. Dia masuk ke tengah ruangan. Sumarni kaget melihat itu. mukanya merah menahan malu. Pemuda yang memeiliki skuter itu terperanjat. Sikap Sukri mengundang perkelahian. “Kau benar-benar mencintai Sumarni?” Bentak Sukri (Hlm. 174) ….Dia raba pisa belati di pinggangnya. Dia buka pintu pagar rumah Sumarni. Dia lihat ada skuter diparkir. Dia terus masuk ke ruang tamu. “Anjing kamu! Mengganggu kekasih orang. apa kau tidak melihat wanita lain selain Sumarni?” Pekik Sukri.
Kedua adegan tersebut sama, dan masih ada pengulangan adegan seperti tersebut selanjtnya, tapi ada perbedaan dialog dan tindakan Sukri. Awalnya saya mengira ini salah cetak, tapi pengulangan adegan ini ternyata juga saya temui di cerpen Untuk Siapa Kau Bersiul?
Menurut Jamal T. Suryanata dalam esainya Sastra, Biografi, Pikiran: Membaca Sehimpun Cerpen Hamsad Rangkuti, pengulangan adegan yang saya maksud ternyata sebatas imajinasi yang ada dalam benak Sukri (Basabasi.co, 16 Maret 2017). Betapa polos dan dungunya saya ketika menganggap itu sebagai pengulangan adegan. Saya lupa bahwa Hamsad Rangkuti adalah sosok ternama dalam bidang sastra, dan saya, dengan lugunya, hanya membaca karya seorang maestro tanpa berusaha mencernanya lebih keras.
Pengulangan adegan, dalam istilah saya, dan “keterjebakan” saya menunjukkan bahwa karya Hamsad Rangkuti begitu original. Saya belum pernah membaca cerpen semacam ini.
Beliau yang telah wafat pada 26 Agustus 2018, sejatinya masih terus hidup melalui karyanya. Hamsad Rangkuti dan karyanya akan terus “menjebak”, ditafsir, dan dibicarakan sampai kapanpun. Terima kasih Maestro.
Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah adalah kumpulan cerpen karya Hamsad Rangkuti yang berisi 15 karya. Kumcer ini dibagi menjadi dua bagian (atau disebut belahan dalam buku ini). Belahan Pertama berisi 9 karya, sedang Belahan Kedua terdiri dari 6 karya dan 1 esai Seno Gumira Ajidarma.
Yang paling terasa dari cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti adalah kemiskinan. Ada berbagai macam kemiskinan yang dituliskan dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah oleh Hamsad Rangkuti. Ada perampok, gelandangan, orang pinggiran, dan kere-kere.
Dalam cerpen pertama di Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah yang berjudul Perbuatan Sadis misalnya, Hamsad Rangkuti menampilkan kemiskinan dalam dua karakternya: perampok dan wanita yang menggunakan perhiasan palsu. Dialog yang ada juga menunjukkan sindiran terhadap kemiskinan itu sendiri.
“Kau telah permainkan kami dengan kepalsuan. Sekarang kau harus menelan kepalsuian ini!” (h. 25)
Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah karya Hamsad Rangkuti ini bercerita tentang kemiskinan dan kehidupan kaum kere (saya baru kali ini dengar istilah kere digunakan begini) dengan jalinan cerita yang menyentil dan ironi. Sebuah kumcer yang cocok dinikmati dengan santai di sore hari sambil merenungi kehidupan.
Kumpulan cerpen ini adalah karya pertama Hamsad Rangkuti, sastrawan kelahiran Medan, pertama yang gw baca. Edisi yang gw baca merupakan edisi terbitan Penerbit Kompas tahun 2000, sementara edisi terbaru yang diterbitkan oleh Penerbit Senja terhadap karya ini diterbitkan dengan judul Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah.
Penulis, di dalam cerpen-cerpen yang ada di dalam kumcer ini, melukiskan potret perilaku orang-orang yang dihadapkan pada permasalahan kemiskinan, sebuah topik yang sering juga diangkat oleh Ahmad Tohari, seperti di dalam karyanya Senyum Karyamin dan Mata yang Enak Dipandang, walaupun memang cerpen-cerpen Ahmad Tohari lebih menggugah. Hal ini juga dirasakan oleh Sapardi Djoko Damono yang menuliskan kesannya di bagian pengantar:
Dalam kumpulan cerpen ini, perhatian Hamsad terutama adalah pada kemiskinan, atau orang-orang miskin, orang-orang kelas bawah-kalau kita boleh meminjam jargon dari sosiologi Barat. ... . Dalam pikiran, atau perkiraan kita, orang-orang semacam itu juga tentu hanya bisa berpikir sederhana. Jiwanya tidak mengalami perkembangan berarti; dalam jargon ilmu sastra disebut sebagai "tidak ada perkembangan watak." - halaman xiii
Penggambaran cara berpikir sederhana, seperti kesan Sapardi Djoko Damono di atas, terlihat jelas dalam dua cerpen berjudul 'Perbuatan Sadis' dan 'Sampah Bulan Desember'. Cerpen 'Perbuatan Sadis' menceritakan dua orang pencuri kalung yang mengungkapkan kekecewaannya akan tertipunya diri mereka kalau kalung yang mereka curi adalah kalung imitasi dengan memaksa korban yang kalungnya mereka curi untuk menelan kalung tersebut. Di sisi lain, kata-kata yang diucapkan salah seorang pencuri tersebut menyusul perbuatan sadis yang mereka lakukan seperti sindiran terhadap korban.
"Bagus!", katanya (salah seorang pencuri). "Kau telah menelan kepalsuanmu! Untung kau tidak menggantungkan leontin pada kalungmu!" - halaman 8
Dalam cerpen 'Sampah Bulan Desember', diceritakan sekelompok orang-orang yang ingin mengambil cincin, jam tangan, dan gigi emas yang terdapat pada tubuh seonggok mayat yang hanyut di sebuah kali (diceritakan latar tempatnya adalah Kali Ciliwung).
Di kedua tepi sungai, kere-kere datang berlari-lari mendekati pipa air bersih itu dengan galah-galah yang panjang. Mereka mencemplungkan galah ke arah tiang penyangga. Tetapi karena arus demikian deras, galah-galah itu cepat hanyut pada bagian ujungnya. Mereka ingin menyeret mayat itu ke pinggir dan bermaksud merampas cincin dan jam tangannya dan kalau mungkin mengompongkan semua gigi emasnya. - halaman 11
Kesederhaan cara berpikir yang digambarkan oleh Sapardi Djoko Damono di bagian pengantar juga terasa di dalam cerpen 'Sampah Bulan Desember', bagaimana orang-orang berusaha sangat keras, seberbahaya apa pun kondisinya, untuk mengambil perhiasan yang menempel di tubuh mayat tersebut.
Seorang lelaki kere datang berlari-lari dengan galah yang panjang. Di ujung galah terikat sepotong besi behel yang bengkok. Seperti pengait timba. - halaman 12
"Pegang saja pangkal tali itu. Ulur kalau aku telah nyemplung ke dalam air. Kalau aku tidak kuat melawan arus, tarik aku ke tepi!" - halaman 13
Laki-laki yang diikat pinggangnya mengambang dibawa arus. Orang di darat menariknya seperti timba. Dari atas pipa air bersih, laki-laki yang turun dengan tali yang terjuntai di atas kepala mayat, telah sampai menyentuh air. Dia mulai menggerayangi mayat itu. Dengan gopohnya dia mulai mencopot cincin dan jam tangan mayat itu. Tetapi karena daging mayat itu telah membengkak, pekerjaan mencopot benda-benda itu sangat sukar. - halaman 15
Kesederhanaan cara berpikir orang-orang kelas bawah terlihat juga dalam cerpen berjudul 'Cerita Awal Tahun'. Diceritakan seorang laki-laki bernama Tugimin yang nekat menceburkan diri ke dalam kali untuk mengambil segepok uang bernilai puluhan ribu yang ikut hanyut yang berasal dari mobil yang tercebur di kali sebelumnya.
Orang lupa pada bahaya karena ia menginginkan sesuatu. Bahaya tidak tampak, bila nafsu untuk memiliki sesuatu telah menguasai seseorang. Begitulah yang selalu menghinggapi seseorang. Apakah ia bisa mengingat kekurangan-kekurangannya sendiri pada saat nafsu hendak memiliki itu telah menguasai dirinya? Orang lupa pada kesanggupannya. Orang lupa pada kekurangannya. Orang lupa pada kelemahannya. Nafsu mengalahkan segalanya. - halaman 21
Kesederhanaan cara berpikir orang-orang kelas bawah juga tercermin dari cerpen berjudul 'Murni', dengan mengharapkan kekayaan datang seketika. Diceritakan seorang laki-laki bernama Mugeni yang menemukan sosok seorang bayi bernama Murni beserta sepucuk surat di depan pintu rumahnya. Surat tersebut berisi pesan untuk merawat Murni sampai si pengirim surat, orangtua Murni, datang menjemputnya dengan turut pula membawa uang tebusan sebagai tanda balas jasa karena telah merawat Murni. Ketika tiba saatnya orangtua Murni datang dan melunasi janjinya, ia berkata:
"Itulah yang kudapat dari mimpi. Dan ambillah sejumlah uang dengan sekali genggam untuk orang yang beruntung merawat anak itu. Rupanya, pasangan suami istri yang beruntung itu adalah kalian." - halaman 66
Aku hanya menjalankan perintah sebuah mimpi. Mimpi itu yang membikin aku kaya. Satu lembar kubeli untuk mendapatkan seratus dua puluh juta." "Satu lembar Tuan beli?" "Aku miskin seperti kalian! Satu lembar itu membikin aku menjadi kaya." - halaman 67
Suatu ketika, diceritakan Mugeni mengalami mimpi yang sama. Tanpa berpikir panjang, Mugeni dan istrinya melakukan hal yang sama terhadap anaknya, yang juga bernama Murni, dengan orangtua Murni, yang meninggalkan anaknya beserta sepucuk surat di depan pintu rumah orang yang tidak dikenal, dengan harapan mendapatkan petunjuk agar menjadi kaya seperti yang dialami orangtua Murni sebelumnya.
I went to school (junior high) just by Hamsad Rangkuti's house. Hiw wife, if i remember correctly, has a kiosk/warung on the side of the house and sometimes i bought drinks from there. But i didn't know about him, or his works, until i was in High School. After my mother died Hamsad offered to write a story (perhaps a novel?) about her life, but after several discussion my father abandoned this idea due to Hamsad's inclination to write about the family feud. Who can bale the writer for finding the edge in a story, right?
Perdana baca Hamsad Rangkuti. Dalam setiap cerpennya beliau sukses membuat saya terkejut. Keras, menohok, dan mengharukan.
Seluruh cerita ini pernah dimuat di koran, jadi ilustrasi yang ada di koran juga disertakan untuk melengkapi cerita. Menyenangkan sekali, saya terhibur sekali lihat gambar-gambarnya yang oke.
Baiklah. Saya berikan score tiap cerpennya.
1. Perbuatan Sadis (1982) - 4/5 Terjadi penodongan siang hari di halte bis. Wanita muda berkalung emas jadi korban, namun dengan tawa kemenangan ia berkata, “Jangan Bung pikirkan kejadian itu. Itu kalung imitasi.”
2. Sampah Bulan Desember (1983) - 3/5 Di sungai yang kotor dan banyak sampah, terapung mayat. Orang miskin disekitar sungai tak peduli dengan peristiwa yang terjadi, yang mereka lihat hanyalah cincin dan jam tangan yang dipakainya.
3. Cerita Awal Tahun (1979) - 2/5 Mobil Mercy kecemplung kali, barang didalamnya berhamburan terbawa arus. Dengan cepat Tugimin terjun mengejar uang 10rb.
4. Malam Tahun Baru di Sebuah Taman (1981) - 1/5 Saat tengah malam kedua patung itu membuka matanya, lalu bergerak. Waktu menanam padi telah tiba.
5. Kalah (1986) - 3/5 Perjalanan Kasto pulang dari Jakarta ke Brebes membawa mayat adiknya, dibantu Marto dan taksi gelapnya.
6. Karjan dan Kambingnya (1985) - 2/5 Pertemuannya Parman yang sukses sejak balik ke desa, membuat hatinya senang. Seekor kambing dihadiahkan untuknya.
7. Malam Takbir (1993) - 5/5 Bulu ayam milik anak perempuan yang sedang bermain bulu tangkis jatuh ke dalam piring nasi. Ia kepikiran lalu menangis, mengapa bapak tersebut tetap makan nasi yang sudah kotor itu.
8. Mimpi Buruk Murni (1983) -5/5 Bayi yang dibuang di depan pagar rumah mereka, akhirnya diambil ayahnya sembari menyerahkan segepok uang sebagai tanda terima kasih.
9. Penyair Bahman (1987) - 4/5 Tiga kaos partai tak terpakai yang ia berikan pada kawan lamanya, ternyata mengangkat derajat hidupnya. Dari pengamen jalanan menjadi pejabat. Ia pun penasaran, kaos partai yang mana yang membawa hoki.
10. Suara-suara (1982) - 3/5 Setiap kawannya ada yang mati ia gelisah. “Kita kehilangan satu suara. Jaga kesehatanmu. Kita tak boleh kehilangan banyak suara.”
11. Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah (1983) - 2/5 Demi pengobatan ibunya yang sakit, ia rela menjual diri, “Kita harus berani menjual kalau kita mau menjadi pembeli.” Lalu taksi dicegat, “Bawa kami ke rumah sakit.”
12. Rencong (1998) - 3/5 Sebelum perjamuan dimulai, suvenir rencong dari hotel yang dibawanya dititipkan seseorang, lalu ia ke toilet.
Saat di dalam kloset, terdengar dari luar letusan tembakan disertai teriakan panik banyak orang. Rupanya tamu penting tersebut tertusuk rencong miliknya.
13. Di Atas Kereta Rel Listrik (1999) - 4/5 Pelajar yang duduk disebelahnya didatangi gerombolan pelajar sekolah lain. Dengan mata kepalanya, ia melihat pelajar itu dilabrak, diseret, dihajar, lalu di lempar keluar kereta.
14. Sukri Membawa Pisau Belati - 3/5 Pisau belati sudah dipinggangnya. Rencana balas dendam dipikirnya dalam bis. Sukri tak terima Sumarni dekat dengan pria lain.
15. Untuk Siapa Kau Bersiul - 1/5 Pria bersiul dalam bis dengan lagu Gugur Bunga mengganggu telinganya. Ia pun membalas dengan siulan yang sama, supaya si Pria tersebut tahu jika siulan Gugur Bunga menjengkelkan.
Salah satu judul cerpen yang langsung saya buka adalah Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah, sesuai dengan judul buku ini. Dan sekali lagi, saya terkesan dengan semua cerpen yang disajikan oleh penulis. Karakter dari kumpulan cerpen ini memang lebih mengarah pada kritik sosial, menyindir, ironi, sedih, muram. Mengapa saya langsung terkesan dengan judul cerpen ini? Yah, tak lain adalah karena ceritanya. Mengisahkan seorang wanita muda yang belum genap berusia tujuh belas tahun, dia datang ke sebuah hotel mewah untuk menjual diri. Ia berkata kepada pelayan hotel untuk menawarkannya kepada siapa pun yang mampu memberikan penawaran tertinggi.
Ketika sang pegawai hotel menawarkan wanita tersebut ke setiap pelanggan hotel, dia akan kembali dengan mengatakan harga separuhnya dari yang ditawarkan oleh tamu hotel. Jika tamu hotel menawarkan harga seratus ribu, maka pelayan hotel akan kembali dengan mengatakan lima puluh ribu, dan tak lupa tip untuknya.
Akhirnya keesokan harinya wanita muda tersebut keluar dari hotel dalam keadaan sudah tidak perawan lagi. Dia menggendong ibunya dan masuk ke dalam sebuah taksi, menuju rumah sakit. Wanita muda ini telah menjual dirinya sendiri untuk membiaya pengobatan ibunya yang tengah sakit.
“Siapa yang tidak menjual dirinya saat ini, ibu. Semua orang telah menjual dirinya. Karena semua orang mau jadi pembeli.”
Pesan yang ingin disampaikan oleh penulis lewat semua ceritanya mengenai masalah sosial secara lantang yang kini bobrok, baik secara moralitas maupun spiritualitas. Mengenai kemanusian yang kini kian luntur.
Bagi saya, keseluruhan cerpen yang disajikan dalam buku ini memang mengisahkan fenomena sosial dengan lantang. Bahkan menurut saya terbilang berani. Penulis tidak memberatkan cerpen yang ditulisnya pada penokohan, tetapi pada latar peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang kini memang tengah marak di tengah masyarakat kita. Banyak dialog, namun yang ditekankan adalah peristiwa. Walau setiap cerpen yang ditulis singkat, namun banyak kejutan di dalamnya, dengan makna yang sangat dalam jika direnungkan. Begitu usai membaca buku ini, saya dalam hati bergumam, “yah, di sini, saat ini, fenomena seperti dalam cerpen ini, memang ada.”
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seorang dosen pernah berkata bahwa bahwa: sastrawan Malaysia dijamin kesejahteraannya oleh pemerintah. Diam-diam aku juga mengharapkan hal yang sama berlaku di sini. Atau setidaknya, dilindungi-lah haknya.
Baru membuka bungkus plastik kumpulan cerpen ini berbulan-bulan selepas membelinya (atau malah setahun ya?). Jarang mendengar namanya membuatku mengabaikannya, juga ketika aku mendengar berita tentang seorang sastrawan Indonesia yang terbaring sakit. Baru kuketahui setelah membaca kumcer ini bahwa sastrawan yang sakit itu adalah Hamsad Rangkuti. Sedihnya, ternyata pemerintah daerah Depok punya andil membuat laki-laki itu sakit. Sedihnya lagi, saya baru tahunya sekarang, super telat.
Tulisan-tulisannya mengingatkan saya pada karya-karya Budi Darma, seperti menggambarkan sesuatu yang spesifik dengan cara yang abstrak, absurd. Tapi yang ini lebih memihak rakyat kecil kupikir. Hamsad tidak menghujat rakyat yang tidak kecil, hanya saja dia banyak menceritakan dinamika hidup rakyat kecil, kaum urban Jakarta yang ‘kalah’ dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia urban, misalnya. Cerpen itu, “Kalah”, menjadi favoritku. Ironis. Aku kepingin sekali menceritakannya di sini, tetapi aku pikir lebih baik kamu membacanya sendiri. Mungkin itu hanya menghabiskan tiga menit dari keseluruhan hidupmu sebagai manusia yang bisa berpikir dan mungkin, bisa merasa.
Meski buku ini kuberi rating 4, tapi secara kualitas, sebenarnya aku ingin memberi 2.5 bintang saja (nanti kuberitahu alasannya di akhir).
Buku ini berisi kumpulan cerpen karangan Hamsad Rangkuti yang dimuat di media-media nasional circa 80-90an. Sapardi Djoko Damono, dalam kata pengantarnya di awal buku, menyebut beberapa cerita Hamsad yang kental akan nuansa kemiskinan dan kegetiran hidup kaum pinggiran ini "berhasil berteriak lebih lantang dari hal-hal lain yang dimuat di surat kabar".
Hamsad dengan cermat mengamati fenomena di yang terhampar di sekitar dan melukiskannya dengan kata-kata yang terkadang absurd, bahkan terkesan sureal. Aku sempat membaca salah satu review seseorang di sini yang merasa bahwa gaya bercerita Hamsad Rangkuti mengingatkannya pada Budi Darma. Yah, aku sedikit banyak sepakat, mengingat absurditas-absurditas tadi. Cerita favoritku mungkin Suara-Suara; sebuah satir yang secara jenaka menggambarkan seorang politisi yang amat takut kehilangan suara pada ajang pemilihan.
Oke, cukup untuk review isi bukunya, sekarang aku mau beralih ke kualitas cetakan. Jujur kecewa, karena ada beberapa halaman yang tercetak dobel, dan bahkan ada yang terlewat. Contohnya halaman 171-172 yang sama sekali gak ada. Ini mengganggu pengalaman membaca sih, banget banget banget. Ya gimana, ceritanya jadi gak utuh.
Agaknya saya sedih baru selesai membaca kumcer ini pada Januari 2023, tetapi saya bersyukur. Tiap ganti cerita, rasanya seperti harus menyiapkan raga dan sukma terlebih dahulu. Sebab, masing-masing cerpen yang disajikan oleh beliau, Hamsad Rangkuti, terasa sangat nyata dan estetik sekaligus menyayat hati. Tidak ada yang biasa dalam cerpen ini. Anda hanya perlu berpikir 'luar biasa' untuk mampu menghayatinya.
Kumpulan cerpen yang patut dibaca. Beberapa ceritanya horror, beberapa menggelitik. I think it’s better than mediocre but it’s not ‘good’ either. Awal-awalnya bosenin tapi makin akhir makin bagus cerpennya. Cerita Sukri dan Sumarni menjadi cerita yang paling apik. Tapi favoritku tetap cerita terakhir yaitu cerita konyol tentang berbeda paham.
cerpen-cerpennya mengangkat isu sosial di negeri +62 ini. dari kemiskinan sampai politik. beberapa cerpennya bikin ngilu, ada adegan pembunuhan, di awal-awal juga ada sekilas tentang animal abuse.
untuk kumcer ini aku benar-benar menikmatinya, walau ada yang bikin bingung. dikit siihh
Baguss Cerita-cerita yang ada sangat membumi dan menampar realitas yang ada. Kebanyakan merupakan ironi masyarakat yang terpinggirkan, orang-orang yang kalah. Diceritakan dengan sangat baik, sangat menarik, untuk hampir semua cerpen dalam kumcer ini.
Layaknya cerita-cerita pendek klasik yang biasa dibawakan dalam buku-buku klasik juga. Hamsad Rangkuti memang apik dalam menuliskan ceritanya melalui kosakata yang cantik yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.
kata pengantar yang dibuat oleh sapardi djoko damono membuatku tertarik untuk segera membaca buku ini. dan ternyata aku tak salah... buku ini memang menarik. cerpen pertamanya yang berjudul perbuatan sadis awalnya masih belum terlalu menarik perhatianku. namun ketika sampai pada paragraf "sesekali kita harus mengejek kemisknan itu!....."(p 6) membuatku terhenyak dan berkata.. orang ini jujur mengungkapkan pikirannya. cerita-cerita lain juga sangat menarik. salah satunya adalah cerpen karjan dan kambingnya. dialog yang dibangun oleh karjan dan petugas keamanan sangat mengoyak emosi dimana si petugas keamanan benar2 tidak percaya bahwa kambing yang dimiliki oleh karjan adalah memang benar pemberian parman. bahkan petugas itu berkata pada karjan "jangan teruskan bohongmu! orang miskin seperti amu, temannya adalah orang miskin. orang miskin tidak mungkin memberi seekor kambing kepada orang miskin" (p 52). sukri membawa pisau belati (p121 memaparkan sebuah cerita yang beralur agak membingungkan karena adegan sukri membawa belati dan datang ke rumah sumarni terus menerus diulang dengan berbagai versi cerita seolah semua tindakan dan respon itu hanya ada dalam angan sukri. overall its really nice to read this book
Hampir semua cerpen yang ada pada kumcer tersebut pernah diterbitkan di media cetak seperti Kompas, Kartini dan Horison pada masanya. Tidak berlebihan memang jika saya ingin mengucapkan terima kasih untuk Senja yang sudah mempublikasikan kembali karya-karya yang menggambarkan kere dengan apa adanya ini. Paling tidak, saya tidak perlu susah-susah menggali koran Kompas atau Majalah Kartini pada tahun 80-90an. Hore!
Cerpen-cerpen karya Rangkuti mempunyai ciri khas yang terkadang membuat saya geleng kepala, mengiyakan ironi yang ada di negeri ini. Seperti penggunaan tokoh kaum kere yang dikemas secara nyastra, dan tidak melulu melebih-lebihkan betapa sengsaranya mereka. Meminjam istilah dari salah satu tokoh sastra, cerpen Rangkuti menyajikan cerita kaum kere tanpa keberpihakan cengeng.
Di awal-awal, sempat merasa cerpen-cerpen ini terlalu 'ganas' untuk saya. Mungkin karena saya yang baru pertama kali membaca karya Hamsad Rangkuti, dan merasa tema dan gaya penceritaannya sangat 'keras' mengkritik masalah sosial (mungkin juga karena saya lebih familiar dan sering kali berekspektasi sama seperti fiksi berbunga Sanie B Kuncoro) :). Namun, saya dikejutkan dengan kisah "Di Atas Kereta Rel Listrik", dan langsung naksir berat dengan kisah yang satu ini. Karena saya pikir hingga akhir, buku ini akan sangat 'keras. Ternyata di kisah tersebut, penulis berhasil memasukkan sisi 'halus' dengan ekspresi batin sang tokoh utama. Hasilnya, cerpen yang satu itu sukses membekas di kepala saya. :)
Ini kali pertama saya membaca karya Hamsad Rangkuti. Seorang penulis legend yang saya sendiri mungkin tidak akan pernah mengenalnya jika tidak membeli buku ini
Favoritku: - Sampah Bulan Desember - Cerita Awal Tahun - Malam Tahun Baru di Sebuah Taman - Suara-Suara - Di Atas Kereta Rel Listrik - Sukri Membawa Pisau Belati