“Sejak awal memang tak ada yang namanya Asosiasi Peneliti Film.”
“Tapi, ruangan ini, kan…”
“Mudah saja. Aku hanya pergi ke Divisi Kemahasiswaan Universitas, lalu mendaftarkan namaku dan beberapa nama mahasiswa lainnya yang kutulis secara asal dengan dalih telah terbentuk sebuah perkumpulan mahasiswa. Kemudian aku mendapat pinjaman kamar yang kujadikan rumah persembunyiaan ini.”
Haruka memutuskan untuk pergi mengunjungi Asosiasi Peneliti Film untuk berkonsultasi mengenai kejadian mengerikan yang menimpa temannya. Di sana, ia menemui seorang pria bernama Yakumo Saitou.
Yakumo Saitou dikabarkan memiliki kemampuan untuk melihat arwah orang-orang yang sudah meninggal. Ketika Yakumo lahir, ia terlahir dengan satu mata berwarna merah. Ini membuatnya menjadi seorang individu yang tidak hanya istimewa secara fisik tetapi juga secara kemampuan karena berkat mata merah itulah ia dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal.
Dengan kemampuan ini, Yakumo seringkali terlibat dalam kasus-kasus yang janggal dan supranatural.
Pertama-tama, saya sangat menyukai cerita horor seperti ini. Ini sebenarnya klasik, di mana ada kejadian misterius lalu karakter utama kita akan bertemu dengan seseorang yang juga sama misteriusnya dengan kejadian yang dialami. Ada unsur misteri di sini, dan bukan hanya tentang kisah menyeramkan tak berujung yang kejam. Biasanya, setiap arwah yang ditemui oleh Yakumo dan Haruko memiliki kisah mereka sendiri.
Karakter Haruka memanglah baik dan lembut, tetapi ia tidaklah lemah. Ia mandiri dan penyayang, tetapi dengan kisah sedihnya sendiri. Satu-satunya orang tahu mengenai alasan kesedihan dan penyesalan dalam hidup Haruka adalah Yakumo. Arwah dari seseorang terus mengikuti Haruko dan membayangi Haruko dengan rasa bersalah.
Yakumo pun telah banyak menghadapi pahitnya hidup, meskipun usianya masih muda. Karakter ini dikembangkan dengan baik dan masuk akal, karena ia tidaklah kejam, tetapi ia juga tidak simpatis. Ia bukan korban, tetapi juga tidak memandang dirinya sebagai pahlawan meskipun ia telah banyak menolong orang-orang.
Masalahnya adalah dengan matanya yang merah dan kemampuannya melihat arwah, banyak yang takut pada Yakumo, alih-alih memandangnya sebagai bocah biasa yang kesepian. Dan hal seperti ini sudah dialaminya dari sejak sangat kecil, bahkan oleh ibunya sendiri. Karena itu, ada suatu sisi apatis dalam diri Yakumo.
“Dengan kata lain, dalam dunia ini terdapat orang tua yang tak mencintai anaknya, terdapat pula anak yang tak mencintai orang tuanya.”
Yakumo tidak bisa hanya mengandalkan kelebihannya itu untuk menyelesaikan kasus. Karena kemampuannya sebenarnya hanya melihat arwah, maka segala misteri harus mampu ia ungkap sendiri dan terkadang ini artinya ia membutuhkan bantuan Haruko dan seorang kenalannya di kepolisian.
“…Aku tak memiliki indra keenam. Aku hanya mampu melihat orang yang sudah mati.”
“Itu sama saja, kan?”
“Sayangnya berbeda.”
Secara pacing, semuanya terasa pas. Namun ketika kita membicarakan tentang gaya kepenulisan, rasanya kurang nyaman. Saya tidak yakin apakah banyak karya terjemahan dari bahasa Jepang yang memang seperti ini. Tetapi setidaknya ini adalah buku kedua yang saya rasa gaya kepenulisannya agak kaku.