Jump to ratings and reviews
Rate this book

Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali

Rate this book
Suaramu lindap di antara celah tanya
ketika aku bertanya: inikah masanya?

Suaramu menggariskan sebuah cahaya
di jalanku pulang menuju yang baka.

86 pages, Paperback

First published January 1, 2016

16 people are currently reading
138 people want to read

About the author

Adimas Immanuel

12 books103 followers
Adimas Immanuel adalah serorang penyair dan novelis Indonesia. Ia lahir di Solo, 8 Juli 1991.

Tulisan-tulisannya beredar di berbagai surat kabar nasional dan lokal. Karya-karyanya pernah dinominasikan untuk beberapa penghargaan seperti Anugerah Pembaca Indonesia dan Kusala Sastra Khatulistiwa. Adimas kerap diundang dalam festival sastra seperti ASEAN Literary Festival 2015, Ubud Writers & Readers Festival 2015, Melbourne Writers Festival 2016, dan Festival Sastra Banggai 2019. Pada tahun 2019, Adimas terpilih mengikuti residensi penulis di Oslo, Norwegia dengan dukungan Komite Buku Nasional.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
33 (28%)
4 stars
40 (34%)
3 stars
41 (35%)
2 stars
2 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for Dini Annisa Humaira.
187 reviews6 followers
February 5, 2020
description

Laju rindu seperti angin di laut lepas. Kecepatannya tujuh knot. Bertiup sepoi, Kadang sepi. Menyejukkan hati, menyingkirkan kecemasan soal mati. Lalu air laut bercampur butiran garam menetes dari Ingatan, yang terendap tinggal air mata. Rindu dan sunyi itu tanjung dan teluk, keduanya saling mendesak-bertumbuk: hanya untuk menagih peluk.


cr: mienar

Rumahku tak luas memang
tapi aku hafal tiap sudutnya
seperti seorang penjelajah
mengenal setiap lekuk bumi.

Halaman sudah kubersihkan
segala rumput liar kusiangi
pot bunga telah kutata berjajar
mulai dari anggrek sampai kemboja.

Siapa tahu hari kau akan datang
Membawa serta sekuntum hujan,
agar usailah kemarau panjang
dalam jiwa kerontang ini.

Aku hanya pemilik rumah
yang halamannya tak pernah
dipasangi pagar berduri.


description

Batu asah memilih diam
Ketika tukang-tukang batu,
Memecah-mecah tubuh
yang mengeraskan waktu.

Batu asah memilih diam
ketika kauasah amarah
Di permukaan kasar diri.
hingga lahirlah:
sunyi bermata dua
yang tanpa segan
menebas kita lagi.

Aku ini batu asah
yang memilih diam
letika orang-orang
memuji tajam pedangmu.

Aku ini batu asah yang
mencintaimu dari kejauhan
Aku jauhkanmu dari kejatuhan.
Profile Image for Syifa Hana.
96 reviews19 followers
December 15, 2020
setelah membaca ulang sekitar 2/3 buku dengan mood lebih tertata, menyadari harusnya saya menaruh hati sejak sajak pertama.

seperti sepotong bait di 'Buah Naga' dalam buku ini bahwa yang terlalu manis akan membuat limbung dan begitu nyatanya. ini tidak manis tapi saya suka!
Profile Image for Teripena.
1 review1 follower
January 11, 2024
Dalam buku ini, Adimas cerdik mengemas pengamatannya terhadap realita sehari-hari dan kata-kata sederhana menjadi sebuah puisi yang unik sekaligus menarik tanpa mengurangi keindahannya. Setuju dengan apa yang ditulisnya dalam Membangun Puisi, ia berhasil merayakan kenyataan melalui imaji-imajinya. Salah satu baris kesukaan saya adalah dari Melacak Tubuhmu: “…, sebab aku yakin dalam tubuhku telah tergambar sebuah peta di mana kau adalah utara.” Selain berisi sajak cinta, ada sedikit kritik sosial yang disisipkan dalam buku ini. Menarik untuk dibaca saat sendu atau sebagai teman merenungi rumit sekaligus sederhananya relasi antar manusia.
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
January 21, 2020
16 - 2020

Ini buku puisi ketiga Adimas sebenarnya, tapi baru saja dicetak ulang di awal tahun ini bareng sama 2 buku puisi lainnya juga.

Puisinya masih khas Adimas cuma kali ini saya gak bisa kasih lebih dari tiga bintang, karena kayaknya memang puisi-puisi dalam buku ini terasa lebih biasa aja dibanding buku lainnya yang sudah saya baca sebelumnya.

Favorit : Melacak Tubuhmu dan Cinta Tak Pernah Jauh Darimu

Rute

Mulai menganggapmu rumah
berarti menguji diri sendiri
untuk menghafal rute pulang.


Profile Image for Azzahra Mumtaz.
13 reviews1 follower
November 14, 2021
ini pertama kalinya baca karya Adimas Immanuel. melankolis dan tenang sekali. manisnya sangat pas. puisi sederhana dalam romantisme percintaan. dan tidak klise sama sekali.

beberapa puisi favorit saya : Jika Kita Lahir dan Tumbuh Sebagai Kata-kata, Perihal Langit dan Laut, Di Laut Matamu, Buah Naga.

"...sebagai pengingatan bahwa hal-hal yang terlalu manis akan membuatmu limbung."
Profile Image for Bastian Hidayat.
83 reviews
October 17, 2016
Satu yang saya sukai adalah "Yang Menerpa Wajah Kita"
...Maka pertapa itu membiarkan dirinya cair saja, ia leleh dalam lelah orang kota yang gagal bedakan: mana dengus napas dan mana dengus bahasa...
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
March 29, 2022
Makna "Pulang" di buku ini sangat luas ya. Mulai dari pulang ke diri sendiri hingga pulang ke pada Tuhan yang terabaikan. Ya tentu aja itu menurut saya, karena toh pemahaman makna puisi bergantung pada pembaca.

Oh, ini buku puisi pertama yang pernah saya baca dari penulis. Saya suka dengan penulisan puisinya (apa sih, namanya? haha). Banyak banget diksi baru bagi saya, hingga saya perlu mencari tahu terlebih dahulu arti sebenarnya itu apa untuk benar-benar memahami makna puisinya.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
May 30, 2021
Puisi yang dikemas dengan diksi menarik. Saya pikir setiap penyair memiliki ciri khas tersendiri. Begitu pun dengan Adimas.

"Jika kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
saya akan selalu menggarisbawahi kamu
seperti kata yang saya anggap penting,
meski kamu nanti mencetak miring saya
seperti kata yang tak dikenal dan asing."
Profile Image for Fira.
126 reviews
January 21, 2025
Rate: 4.5/5

Saya selalu suka tulisan-tulisan kak Adimas, beberapa yang menjadi favorit saya: Melacak tubuhmu, Aku memilih melata untuk mencapaimu, Tawanan, Kau tak sadar, 2, Sentuhan hujan & Ketika malam tiba.

Saya akan mengutip yang terakhir:
“Lampu-lampu boleh dimatikan
kata-kata boleh padam
tapi yang dipendam jiwa
akan terus jadi nyala”.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
October 7, 2020
Puisi-puisi lapang yang membuatku mencintai lagi laut, taman bunga, petrikor, dan hal-hal baik dari seorang kekasih. Permainan bunyi khas Adimas Immanuel cocok dinikmati dengan sekantong emoji love warna putih.

Catatan: -

Profile Image for Putu Restu.
42 reviews4 followers
October 12, 2020
Dari judulnya, mungkin bisa ditebak akan ada banyak puisi melankolis di dalamnya. Tapi tenang saja, puisinya tidak klise. Penulis menurutku berhasil mengangkat puisi-puisi yang menggelitik dari hal-hal yang sederhana dalam romantisme bercinta.
Profile Image for Isma.
43 reviews2 followers
April 17, 2022
Yang paling saya ingat: "Yang menyekat tubuh dengan tubuh adalah perbedaan kemampuan bertahan dari kecamuk diri". Selebihnya, diwakili oleh larik "Tak meniatkan diri untuk tampak puitis" barangkali memang seperti itu.
Profile Image for Rifqi Septian Dewantara.
14 reviews2 followers
February 20, 2020
Bersamaan dengan ini, aku merayakan malam yang paling gelisah dengan puisi-puisi liris dari penyair melankolis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Natanael Christianto.
54 reviews6 followers
March 14, 2020
Ini kayaknya kumpulan puisi Adimas yang saya suka. Ada banyak yang bikin gemes-gemes sendiri bacanya sama keingetan yang disana.
Profile Image for rodattouille.
3 reviews
July 19, 2024
sudah baca berkali-kali, rasanya tetap sama. menyenangkan selalu.

absolutely my comfort book!!! 🤍
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
February 22, 2025
Hanya Adimas yg bisa bikin sajak tentang angin laut dg sedemikian puitis.
“Rindu dan sunyi itu tanjung dan teluk, keduanya saling mendesak-bertumbuk: hanya untuk menagih peluk.”
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
January 25, 2020
Adimas Immanuel
Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali
Gramedia Pustaka Utama
112 halaman
7.4
Profile Image for intan prw.
51 reviews
March 3, 2020
Jika Kita Lahir dan Tumbuh Sebagai Kata-Kata

Jika kita lahir dan tumbuh srbagai kata-kata,
saya ingin bertemu kamu kamu di kalimat yang tak pernah memuat tanda seru dan berpisah di jalan yang ujungnya tak memuat tanda titik,
saya ingin bercinta dengan kamu kapan saja
di mana saja tanpa dipisahkan koma dan jeda.

Jika kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
saya akan selalu menggarisbawahi kamu
seperti kata yang saya anggap penting,
meski kamu nanti mencetak miring saya
seperti kata yang tak dikenal dan asing.

Jika lahir dan tumbuh sebagai kata-kata,
tanda tanya akan tetap menjadi ular beludak
yang menghasut kita untuk makan buah-kata
pada akhirnya kita telanjang-kata dan sadar:

Kita lahir dan tumbuh sebagai kata-kata
yang berbungkus mewah diksi dan rima,
kita hanya sepasang kekasih telanjang-makna yang saling cinta dan mencintai kata-kata.
Hlm: 22

Salah satu puisi yang kusuka di buku ini. Perpaduan antara kata-kata dengan orang yang menjalin suatu hubungan. Ciamik!
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.