Rumah Tjong A Fie hingga kini masih berdiri di pusat Kota Medan. Tak jauh dari Lapangan Merdeka, hanya lima menit berjalan kaki. Ketika pertama kali ke Medan, kusempatkan berkunjung ke rumah ini yang kini menjadi museum dengan beberapa pernak-pernik dan penjelasan yang mengisahkan peran sosok Tjong A Fie dalam membangun Kota Medan sebagai Kapiten masyarakat Tionghoa hingga wafatnya di tahun 1921. Ia juga sukses dalam berbisnis di berbagai bidang mulai dari perkebunan kelapa sawit dan tebu, perbankan, dan juga perkeretaapian, walaupun lahir dari keluarga miskin yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok. Tjong A Fie juga merupakan tokoh yang berhasil dalam menjalin hubungan erat dengan berbagai kalangan di Medan, hubungannya baik dengan Sultan Deli, dan ia membantu pembangunan rumah ibadah dari berbagai kepercayaan di Medan.
Dari pernikahannya dengan Lim Koei Yap, Tjong A Fie dianugerahi beberapa anak. Queeny Chang atau Tjong Foek-yin, yang merupakan penulis memoar ini, adalah putri sulung dari pernikahan ketiga ini. Diterjemahkan dari “Memories of a Nonya” yang pertama kali terbit di tahun 1982, memoar ini bercerita banyak tentang kehidupan sebagai kaum Tionghoa peranakan di Medan. Walaupun buku ini terjemahan, namun bisa dibilang terjemahannya sangat mengalir. Kehidupan Queeny sebagai putri sulung Kapiten Tionghoa diwarnai dengan banyak privilese, namun bukan tanpa tantangan juga. Pada masa itu, sangat lumrah bagi wanita untuk menikah di usia sangat muda dan ada peran Pak Comblang dalam pernikahan itu.
Queeny juga memiliki kesulitan di masa-masa awal pernikahannya, sebab ia dijodohkan dengan seorang laki-laki yang berasal dari Amoy (sekarang Xiamen, Tiongkok) yang berbicara dialek yang berbeda dengannya (Queeny berbicara dialek Hakka, sementara suaminya Hokkian), serta tradisi yang berbeda antara orang Tionghoa dari Tiongkok dengan Queeny yang dibesarkan dalam tradisi Melayu. Kisah hidup Queeny sebagai nyonya peranakan sangat menarik disimak. Pergumulan politik yang terjadi di Tiongkok pada abad ke-20 dengan runtuhnya Dinasti Qing, dua perang dunia, serta naik tahtanya Mao dan partai komunis juga banyak mempengaruhi kehidupan keluarganya.
Banyak dari cerita Queeny di buku ini yang mungkin terkesan jauh dari kacamata kehidupan sehari-hari wanita di zaman sekarang, namun ceritanya cukup bisa menggambarkan perubahan yang dialami wanita di tanah Melayu dalam satu abad belakangan ini, mulai dari privilese dalam mendapatkan pendidikan, perjodohan, juga perbedaan struktur masyarakat Tionghoa antara di masa kolonialisasi Belanda dengan di masa sekarang. Jaman dulu, masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda disatukan oleh seorang Kapiten yang menjadi penghubung antara orang Belanda, orang Tionghoa, dan masyarakat Melayu. Selain itu, memoar ini juga sedikit banyak membahas pribadi Tjong A Fie sebagai seorang ayah yang berkorban begitu banyak untuk keluarganya, di luar posisi resminya sebagai Kapiten.