akhir-akhir ini memang saya memilih buku kumpulan cerpen sebagai bacaan, sebab cerpen bagi saya seperti pemaparan peristiwa dengan ringkas dan emosionil, dan 'kumpulan cerpen' berarti ada berbagai macam emosi yang saya dapat dari beragam peristiwa yang tersaji dalam satu buku. begitupun dalam buku kumcer Hamsad Rangkuti yang pertama kali saya baca yang diterbitkan tahun 2003 ini (saat itu saya masih anak ingusan kelas 3 SD).
akhir-akhir ini juga, ketika saya hendak membaca buku, saya berkomitmen untuk membaca kata pengantar atau pendahuluan atau prolog (jika ada) sebelum masuk ke bagian inti, sebab nyatanya itu penting untuk memberi gambaran cerita yang akan saya lahap. dan saya pikir, tujuan dari adanya kata pengantar atau pendahuluan atau prolog ini adalah untuk membangun impresi pembaca. kata pengantar di buku kumcer ini menarik dan cukup panjang, yang diberi tajuk
Imajinasi Liar dan Kebohongan (Proses Lahirnya Sebuah Cerpen)
. sesuai tajuknya, kata pengantar ini bercerita bagaimana proses kreatif seorang Hamsad Rangkuti mengawali perjalannya sebagai seorang penulis bersejarah Indonesia dan bagaimana ia menelurkan banyak karyanya. jawabannya adalah: kejadian sehari-hari. sungguh, kata pengantar ini sangat membuka wawasan saya tentang cerita dibalik 16 cerpen dalam buku ini. lucu, menggelitik, menggemaskan.
memang jika dipikir-pikir lagi, dengan penulis memaparkan latar belakang karyanya di awal, imajinasi saya jadi terbatas, karena sebenarnya beberapa cerpen membutuhkan tafsiran lebih lanjut mengenai pesan dan inti cerita yang ingin disampaikan. seperti pada cerpen Lagu di Atas Bus, Dia Mulai Memanjat, dan Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan!. saya punya tafsiran sendiri, tapi tenang saja, tidak akan saya jabarkan di sini. kau harus menikmatinya sendiri dulu. namun ternyata, hal tersebut tidak menjadi masalah besar, sebab Hamsad berhasil membawa saya menikmati setiap alur yang ia sajikan tanpa pemilihan diksi yang aneh-aneh. cerita-ceritanya memang perihal keresahannya akan apa saja yang ia lihat dan dengar di kesehariannya. saya bisa merasakan kegelisahan si maling yang terpaksa menelan kalung yang ia curi dalam cerpen Pispot. saya bisa merasa begitu kasihan dengan Nyak Bedah, si penjual nasi uduk yang kelabakan di tengah jaman modern dalam cerpen Nyak Bedah. saya juga tak bisa menahan tawa ketika membaca kisah Fuad yang berjumpa dengan kawan-kawan lama di desa tempat tinggalnya sepulang merantau dari negeri orang dalam cerpen Teka-Teki Orang Desa
mereka begitu sederhana. cerita-cerita yang lahir dari pengamatan peristiwa sehari-hari yang dikemas atas imajinasi liar dan menghasilkan cerita yang ciamik.
sstt..... sepanjang ulasan ini saya tidak membahas satu judul cerpen Hamsad yang katanya sungguh menarik dan dibicarakan dimana-mana. ialah
Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu
. ya, memang menarik bahkan dengan membaca judulnya saja sudah bergairah, bukan? tidak, saya tidak akan berbicara apapun mengenai cerpen ini. kau harus menikmatinya sendiri dulu.