What do you think?
Rate this book


334 pages, Paperback
First published April 1, 2016
Dia lupa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar sederhana di dunia ini. Sesuatu yang terlihat sederhana pada awal pasti menyimpan kerumitan setelahnya.
Kamu bisa aja ngerencanain hidup kamu lurus tanpa hambatan. Tapi, percaya sama Ayah. Nggak ada hidup yang mulus dan gampang karena perjuangan itu satu-satunya bukti bahwa kita hidup.
"Hidup itu kayak labirin kaca," Wisnu akhirnya berucap setelah keterkejutannya mereda. "Kita kayaknya merdeka, tapi sebenarnya terikat sama benang yang nggak kelihatan: takdir. Konyolnya takdir itu sering kali bikin kita muter di tempat."
"Kenangan adalah campuran dari berkah dan kutukan, tidak ada yang tahu apa yang kamu dapatkan ketika mengingatnya."
"Kita semua cuma sekadar bidak catur dalam permainan semesta.
"Sebagian besar dolce atau dessert itu manis, kan? Beda dengan tiramisu. Tiramisu itu manis, tapi juga ada rasa pahitnya. sama kayak hidup, kan?" Gytha membalas tatapan Wisnu. "Sama juga kayak cinta."
...pemahaman selalu hadir pada saat yang tepat. Ketika kamu sudah siap. (hal.255)
Saat ini waktu adalah musuh terbesar Wisnu. Musuh yang berat karena waktu tidak pernah ingin mengalah kepada siapa pun. [hal. 8]
Dia lupa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar sederhana di dunia ini. Sesuatu yang terlihat sederhana pada awal pasti menyimpan kerumitan setelahnya. [hal. 28]
“Hidup itu kayak labirin kaca. Kita kayaknya merdeka, tapi sebenarnya terikat sama benang yang nggak kelihatan: takdir. Konyolnya takdir itu sering kali bikin kita muter di tempat.” [hal. 132]
“Kenangan adalah campuran dari berkah dan kutukan, tidak ada yang tahu apa yang kamu dapatkan ketika mengingatnya.” [hal. 144]
“Everybody has some loneliness in their hearts.”