Sebuah Usaha Melupakan adalah kumpulan catatan perasaan (konsep penulisan yang sama dengan dua buku sebelumnya, ‘Catatan Pendek Untuk Cinta yang Panjang’ dan buku ‘Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai.’ Satu judul tulisan hanya terdiri dari empat paragraph (beberapa terpaksa 5 paragraf). Cerita yang ditulis juga masih hal-hal ‘ringan’ dan mudah dicerna. Ada sekitar 77 tulisan yang dibagi menjadi sub-bab. Tidak ada keterkaitan satu judul tulisan dengan tulisan lain secara khusus, namun sengaja diurut menjadi 6 sub-bab untuk kenyamanan pola. Secara rinci, sub-bab menceritakan tentang: perasaan awal jadian –kebanyakan cerita LDR, lalu fase bimbang, berlanjut pengkhianatan, memulihkan perasaan, hingga ditutup dengan sub-bab jatuh cinta kembali. Menemukan cinta yang baru kembali.
"Tidak semua orang benar-benar berani melepaskan meski sudah dibunuh paksa hatinya" ~ Boy Candra (Hal.26) Menenangkan Resah. . Buku ini isinya bukan hanya soal melupakan tapi juga tentang kehilangan dan melepaskan. . "Aku melayang-layang tanpa tujuan jatuh ke tanah lalu dipaksa menyerah. Dipaksa ikhlas akan hal-hal yang tak ingin kulepas." [Hal.220] . "Tahukah kamu? Hal-hal kecil sering kali membunuh kita dengan cara yang lebih besar, pelan-pelan, dalam jangka waktu Yang panjang. Semua kebiasaan itu membuatku dihantam kehilangan. Tak usah kamu tanya bagaimana sesaknya. Kamu tahu bagaimana rasanya menjabarkan sedih, tidak akan cukup jika hanya dengan sekadar kata pedih. Kehilangan membuatku tak ingin mengenali diriku sendiri. Aku berusaha untuk menjadi orang lain. Aku mencoba menikmati hari-hari yang bukan diriku lagi. Sebab, menjadi diriku artinya aku sama sekali tidak bisa melepaskanmu." [Hal.222]
"Akhirnya aku belajar melepasmu bukan karena aku tiadk lagi mencintaimu. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun aku sadar, mencintaimu sendirian bukanlah cinta yang wajar" Ini adalah kutipan favorit saya dalam buku Sebuah Usaha Melupakan dari Boy Candra.
Buku ini seperti balas dendam yang sempurna untuk mantan-mantan Boy Candra yang meninggalkan Boy Candra pas lagi produktif-produktifnya. Makanya jangan mutusin penulis kalo masih terikat kontrak sama penerbit! nanti dijadiin tulisan empat paragraf kayak Boy Candra.
The first encounter with this book left me somewhat detached, unable to fully grasp the story it sought to convey. However, as fate would have it, a second reading unearthed a profound connection that I hadn't anticipated. The narrative was no longer distant; it was an intimately shared journey.
For every word poured into its pages, it's as though the author's ink has seeped into the depths of my being, reenacting my own sentiments and experiences. As I read each line, I felt as if he had taken up residence in my soul, articulating the unspoken thoughts and emotions that I myself had grappled with.
Not just a tale of heartbreak, it extends its hands towards the fertile soil of self-improvement and rediscovery. Though this story may be sad, it's also one of hope and glad, for in the end, we'll find a way, to start anew, to love again!
Well, suka sama covernya doang. Liat dari judulnya sempet yakin kalau buku ini bakal mellow abis, tapi.... yah. Nggak tau ya, nggak dapet feelnya. Kurang ngena. Datar. Btw, ini diary nya penulis gitu? Ketipu sama keterangan 'kumpulan cerita' and actually there's no plot here. Just.... ergh, how do I say it? Curhatan?
Lunayan bagus isi dari bukunya, selain diary tentang percintaan di masa hidupnya namun juga mengutip sebuah quotes di setiap halaman dan quotesnya sangat menarik.
Sebuah buku yang bukan memberi tips untuk move on tetapi ianya buku yang memaparkan kehidupan,perasaan penulis terhadap bekas kekasihnya..sebuah usaha penulis untuk berhenti berharap pada suatu yang tidak lagi mengharapkan..melepaskan segala kesakitan..terkadang melepaskan itu merupakan jalan terbaik kerana kesakitan sebuah pengharapan itu lebih pedih daripada kesakitan melepaskan.Ditulis dengan penuh emosi tapi masih rasional agar pembaca mengetahui tidak semua kisah hidup itu berakhir dengan kegembiraan dan kadang dengan kesakitan yang ditempuhi kita akan menjdai lebih baik..satu catatan yang memberi erti pada semua.
Ini adalah pertama kalinya aku membaca buku yang dituliskan oleh Boy Candra. Aku si penyuka cerita sedih sudah tentu tergoda membaca buku ini saat pertama melihat sinopsisnya di bagikan di media sosial. Namun sepertinya aku terlalu bersemangat sehingga tidak mengetahui bahwa buku ini adalah buku non-fiksi.
Sebuah Usaha Melupakan ditulis dalam beberapa bab yang diatur untuk memisahkan cerita dari fase satu ke fase lainnya. Untuk urusan alurnya, aku suka karena proses ceritanya terlihat jelas mulai dari si penulis yang jatuh cinta, menemui konflik, patah hati hingga jatuh cinta kembali.
"Akhirnya kini aku mampu membunuhmu walaupun hanya di dalam puisi yang kutulis dengan hati yang tertatih-tatih. Aku menghabisi semua harapan palsu yang kau tanam di dalam hatiku dengan segala kata-kata manismu. Kukubur kenangan indah yang kini kau ubah menjadi senjata yang mampu melemahkan aku yang masih mengharapkanmu.
Kini, kau bukan lagi sesuatu yang mampu membuat hatiku bergetar setiap kali disebut namamu. Bukan lagi bidadari yang selalu kupuji dan kutunggu kehadirannya di dalam mimpi. Kau kini hanya menjadi langit yang tak berbintang. Hanya ada gelap dan kelam yang tak berujung. Kau akhirnya mati di dalam puisiku." - Untuk kau yang menyia-nyiakan adaku.
Jujur saja, dari awal membaca buku Boy Candra, aku yang dulunya kaku, kini menjadi semakin seseorang yang habis patah hati lalu tiba-tiba menjadi puitis gila yang tak pernah tidur dengan tenang. Hahaha sedikit lebay ya?
Tapi serius, setelah patah hati, aku menemukan buku-buku boy candra, salah satunya adalah buku ini. Dari judulnya saja aku berpikir, kayaknya ini buku yang pas buat teman selagi patah hati. Lalu kuputuskan untuk membacanya, dan ternyata cukup menenangkan isinya.
Dibagian patah hati, boy candra membantuku untuk meluapkan seluruh kekacauan yang ada di hatiku karenamu. Kata-kata yang kejam namun indah. Sajak-sajak yang mampu membuat aku merasa kau bukanlah siapa-siapa selain pembunuh jiwa.
Aku bukanlah seorang reviewer buku yang pro, tapi ini buku yang bagus. Diawali dengan kata-kata indah, lalu membunuh semua yang membuat luka, dan akhirnya kembali menumbuhkan cinta.
Ini adalah novel non fiksi pertama saya dari Boy Candra, karna ini buku pertama saya dari Boy Candra saya tidak menduga kalau ini non-fiksi, hehe. Menurut saya ini buku yang cukup menenangkan untuk menamani proses kamu untuk sembuh dari luka, luka sebab dikhianati oleh orang yang paling di percaya selama ini – tentang cinta. Ini buku Boy Candra paling best seller di masanya, yah saya nunggu beberapa bulan untuk membeli buku ini karna pikirk saya ini buku fiksi dan belum menemukan motivasi pasti untuk membelinya.
Kalau bicara isi menurut saya buku ini tidak berat, bahasanya seolah kita membaca diary tokoh “aku” yang bercerita tentang perjalanan dia mengenal kekasih hati lalu bagaimana toko ini melupakan seseorang yang perna ada di hatinya, cara dia bangun dan menatap masa depan tanpa kekasih yang sangat menyita isi hati dan pikiran tokoh aku disini.
Bahasanya ringan kita bisa ikut terbawa perasaan toko aku disini, kalimat puitis toko aku dalam menggambarkan kekasihnya juga saya suka, tidak banyak menggunakan istilah/Bahasa baku dan intinya buku ini ingin menyampaikan pesan bahwa melupakan seseorang yang sangat penting dihidup kita bukan dengan melupakan orang itu tapi bagaimana kita berproses untuk menerima kekecewaan, melupakan pengharapan kita pada sosok itu dengan begitu perlahan kita akan lebih menerima kesedihan itu dan juga luka hati.
Tiap bab-nya akan diawali dengan quote yang tokoh aku tuliskan untuk menjelaskan perasaannya, dan salah satu yang paling saya suka adalah
Tidak semua orang benar-benar berani melepaskan, meski sudah dibunuh paksa hatinya (Hal 29)
Buku ini mungkin akan jadi paket lengkap buat teman-teman yang mungkin sedang patah hati atau mungkin punya cerita hubungan LDR, buku Boy Candra ini akan membawa kamu pada serangkaian cara untuk melepaskan dan mengikhlaskan harapan yang sempat jadi harapan bersama. kamu yang punya cerita yang sama akan lebih terasa baca ini, kalaupun tidak buku ini tetap punya kesannya sendiri.
Aku sangat suka judulnya, mengena banget di hatiku. Pelampiasan perasaan melalui karya sastra memang bisa melegakan hati yang tersakiti. Aku juga terpana dengan kovernya yang seperti menggambarkan 'pikiran kalut seseorang perlahan menghilang digantikan oleh pikiran bahagia'.
Tipe buku seperti ini memang biasanya bukan bacaanku. Bukan karena cengeng, namun lebih tepatnya karena kata-kata indah yang melimpah itu enggak bisa masuk ke otak dan hatiku. Selain itu, rasanya seperti banyak yang diulang. Konsepnya menarik, tetapi enggak cukup menarik untuk bisa kuselesaikan. Penelaahan buku ini secara psikologis mungkin bakal menjadikannya lebih menarik bagiku.
Di sini pembaca bisa tahu sudut pandang lelaki—khususnya si penulis—ketika mencintai seseorang. Aku menghargai penulis karena berani mengutarakan kesenduan mendalamnya. Secara singkat, ada beberapa hal yang diyakini penulis bisa melanggengkan hubungan percintaan, antara lain: komunikasi, belajar bersama, saling pengertian, dan keseimbangan.
Beberapa pertanyaanku sudah terjawab di buku bagian tentang penulis dan keterangan di Goodreads. Ringkasannya, yakni: buku ini merupakan nonfiksi berisi kumpulan catatan perasaan, memakai teknik penulisan empat paragraf ciptaan sendiri, dan tanggal-tanggal yang tak berurutan berkaitan dengan subbab topik.
Kutipan favoritku ada di halaman 26 dan sepertinya juga menjadi kesukaan pembaca lainnya, yakni: "Tidak semua orang benar-benar berani melepaskan, meski sudah dibunuh paksa hatinya."
Judul: Sebuah Usaha Melupakan Penulis: Boy Chandra Jumlah Halaman: 303 halaman Duradi Baca: 3 hari
Sedang mengumpulkan mood baca yang berserakan. Dan buku ini kupilih untuk menenangkan mood baca yang kacau. Awalnya mau pilih buku-buku self development. Tapi, takut malah gak beres karena lg begini. Jadi, kupilih tulisan Boy yang kadang bisa membuat mood baca naik lagi.
Buku ini berisi banyak catatan tentang perjalanan dirinya—jatuh cinta, mencintai, jatuh dari cinta, putus asa, sampai akhirnya ia merumuskan tentang caranya melupakan. Dan ia bangkit. Menemukan cinta pada seseorang yang lain.
Gaya menulis Boy melekat kuat di sini. Meski aku merasa buku ini cukup datar di awal sampai pertengahan. Tapi penutupnya luar biasa apik. Dari buku ini, aku justru melihat hal lain. Kalau buku ini bercerita tentang orang yang jatuh cinta, berusaha memiliki, dan kemudian jatuh sejatuh-sejatuhnya saat cinta tak bisa menyatukan...
Aku justru dibawa berkelana di awal masa pernikahan. Jatuh cinta yang perlahan. Mencoba mengamati keadaan, lalu menemukan banyak aral rintang dan cobaan. Tak luput pula kami dari rasa saling kehilangan saat salah satu diantara kami termakan emosi. Dan penutup buku ini, lembar-lembar terakhirnya... begitu menguatkan.
Buku ini nggak hanya tentang picisan, tapi juga pelajaran. Bukan cuma tentang pesakitan cinta, tapi juga belajar untuk melihat masa lalu dengan cara yang berbeda.
Buku ini di luar ekspektasi aku sih. Jujur aku menaruh harapan tinggi sama buku ini. Pada saat awal buku ini terbit dan booming aku salah satu dari pemesan yang harus cepet-cepet dapetin buku ini. Tapi sayang awal baca sampai halaman tengah buku pun aku ngerasa kurang dapat feel aja. Hingga buku ini mandek di tengah jalan.
Di awal tahun 2019 aku memutuskan untuk membaca ulang lagi buku ini, dan masih rasanya masih tetap sama. Hingga sempat berhenti baca buku ini 3 harian. Pemilihan kata yang dirangkai menjadi kalimat memang tidak diragukan lagi oleh penulis satu ini. Tapi entah mengapa aku merasa sangat tidak bersemangat. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau membaca buku harus sampai tuntas kalau misal berhenti tengah jalan maka harus kuulangi lagi baca dari awal.
Untuk penataan halaman dan quotes sudah cukup baik.
Kesimpulannya saya tidak ada feel sama buku ini entah mengapa terkesan boring. Sebenarnya kasih bintang 2.5 namun karena penataan halaman buku yang bagus dibulatkan menjadi 3 bintang
Cintai lagi dirimu, seperti kamu pernah mencintainya. Jika dia saja bisa kamu cintai sedalam itu, kenapa kamu mengabaikan dirimu sendiri? Jika dia pernah dengan sungguh kamu perjuangkan. Kenapa dirimu sendiri tak bisa kamu perjuangkan? Bukankah dirimu jauh lebih penting dari kesakitan yang dia tinggalkan? Bukankah dirimu jauh lebih berharga daripada segala luka yang pernah dia torehkan? Ingat lagi siapa kamu, bagaimana kamu memperjuangkan hal-hal yang dulu menjadi semangatmu. (Hal. 213-214)
Buku ini merupakan buku kumpulan cerita. Tentang proses melupakan rasa cinta. Tak hanya tentang melupakan tapi juga tentang melepaskan, merelakan dan menerima.
Ketika baca buku ini berasa kayak baca diary penulisnya -Boy Candra. Setiap bab-nya (betul gak yah aku sebut bab/chapter?) Selalu diakhiri dengan tanggal, dan beberapa quote.
Untuk orang yang sama sekali belum pernah membaca karya Boy Candra, aku rasa buku ini adalah pilihan yang keliru untuk memulai mengenal karyanya. Seperti yang aku rasakan, membaca buku ini begitu berat dan agak membosankan. Aku rasa cukup banyak kalimat yang diulang-ulang dan kurang enak dibaca. Tak jarang membuatku kelelahan dan bertanya-tanya kapan mencapai akhir halaman buku ini? Sungguh aku tidak bisa menikmati buku yang satu ini.
Rupanya buku Boy Candra pertama yang kubaca ini belum mampu membuatku jatuh cinta dan gagal membuatku penasaran akan karya-karyanya yang lain. Tapi bukan berarti aku ‘tutup buku” begitu saja akan karya laki-laki asal Padang tersebut. Hanya saja untuk waktu dekat ini, karya-karyanya dapat kupinggirkan dulu.
Ini adalah buku ke-3 dari Boy Candra yang saya baca. Seperti buku yang sebelumnya, buku ini penuh dengan kalimat puitis. Namun, saya kurang suka dibandingkan dengan buku yang lain bahkan sejujurnya saya tidak selesai membacanya, karena tidak menarik dan terlanjur bosan. Seakan buku ini berisi curahan hati sang penulis layaknya buku harian (diary) tentang kisah romansanya sendiri. Jika memang dominan dengan kalimat puitis, saya lebih suka jika dibuat dalam kumpulan puisi.
*
"Terkadang kita tidak butuh orang yang paham dengan dunia kita. Orang yang sekegiatan dengan kita. Yang kita butuhkan hanyalah orang yang mau menerima dunia kita."
Sebuah catatan hidup Boy Candra perihal mencintai dan melepaskan. Melalui Sebuah Usaha Melupakan dalam tiap bait kalimat yang dibagi dalam beberapa bagian ini, pembaca akan dibawa bertualang dalam kisah cinta penuh liku Boy Candra–dikhianati sampai akhirnya menemukan cinta sejati.
Sejujurnya, I'm not really into this book, lebih tepatnya saya tidak cocok dengan buku yang membahas mengenai kisah kasih asmara percintaan. Terlebih, dalam buku ini banyak pesan yang disampaikan berulang di sejumlah bagian yang membuat saya merasa bosan karena the point that he wanna share is just the same, but di pertengahan, luckily saya cukup menikmati, hanya sekejap namun cukup berkesan.
Kumpulan catatan perasaan yang lama kelamaan menjadi membosankan.
Awalnya saya merasa tersanjung dan tersenyum sendiri membaca berbagai ungkapan yang puitis dalam buku ini. Kata-kata yang dalam, menggebu-gebu. Penuh gairah. Tetapi seperti cinta yang katanya bisa saja membosankan di tengah jalan, tulisan-tulisan yang sebelumnya menggugah perlahan berubah menjadi terlalu spesifik dan tidak lagi membuat hati berbunga-bunga.
Dari membaca cinta, jadi seperti membaca curhatan penulis belaka.
Sebenarnya tidak apa-apa, tapi seolah kata-kata itu kehilangan magisnya dan mulai terasa jenuh. Padahal, buku ini sangat potensial menjadi dialog rasa antara penulis dan pembacanya saja.
Buku ini mostly bercerita tentang kisah cinta dan lika-liku perjuangannya. Mungkin bagi beberapa orang dapat sangat menjiwai apa yang tertulis di buku ini. Apalagi kalau kehidupan cintanya mirip-mirip. Tapi buat saya pribadi, terus terang tidak terlalu menikmatinya. Meski demikian, gak ada salahnya baca buku ini di sela-sela kesibukan kerja dan kebosanan dunia. Kadang, kita butuh percikan-percikan penyemangat dan hal-hal kecil yang menyentuh hati agar tetap waras menghadapi kerasnya dunia. Hehe.
Beli ini di IBF tahun 2017. Dan begitu baca beberapa halaman awalnya langsung merasa tidak nyaman. Terlalu menye-menye menurutku. Mungkin memang dasarnya aku kurang suka bacaan tentang percintaan yang berlebihan jadi yaaa.. hmm.. this is not my cup of tea.
Mungkin buku ini akan cocok bagi mereka yang menyukai kata-kata indah untuk dikutip dan dijadikan caption atau dikutip untuk menemani kegalauan.
aku kasi bintang 3 soalnya; 1. emg dasarnya aku lagi ngga suka buku menye2 2. kan sudut pandangnya dari sisi cowo ya, jd kurang bisa relate akunya
tp temenku cowo sampe nangis2 bacanya, mungkin karena relate sama mereka
sama menurutku, ceritanya tuh kurang konsisten, awalnya dia memutuskan buat ngelepas dan ngga akan mau lagi nerima kembali cewenya yg udah menyakiti dia. tapi kemudian di ending2 dia kayak mempertahankan cewenya gitu
tp keren kok kata2nya mas boy selalu bagus aku suka
Satu pertanyaan pun timbul. Kenapa saya harus membayar untuk membaca buku diary seseorang? Saya kira tadinya buku ini akan se wah yang orang-orang katakan, tp nampaknya saya salah. Ekspetasi saya melempem jatuh. Tidak ada yang salah. Mungkin saya adalah orang tidak suka dengan hal yg menye-menye dan tidak suka sesuatu yang ditulis berantakan tanpa adanya plot. Kalau seadainya ini antologi puisi pun, mungkin penilaian saya ttp sama, diksinya biasa saja.
Well, karena buku ini tentang kumpulan perasaan, maka jelas tergambar seperti memaparkan soal-soal perasaan yang ada pada kedua insan. Buku ini bagus dan recommended, kalimatnya tidak berbelit, sederhana, dan indah jika mampu memaknainya.
Menulis bukanlah hal yang mudah, apalagi soal mencari tema yang bisa mengangkat kisah di dalamnya, so stop insulting people's passion :)
Buat yang lagi patah hati, buku ini cocok buat dijadikan teman gegalauan. Di tambah lagi, banyak kata” yang bisa di quote dari buku ini. Yah setidaknya bisa dijadikan bahan update status buat pancingan ke mantan.
Kenapa ya saya merasa buku ini seperti kisah saya. Dan sampai sekarang saya masi berpegang teguh dengan kalimat di buku. "Saat perasaan itu tumbuh. Aku berusaha untuk selalu membunuhnya. Aku berusaha menenangkan diriku berkali-kali." Karena sudah jenuh dengan patah, lebih baik mencegah.