Hari itu Eiko mengajak Masaya untuk pindah ke Chikuho, tempatnya dibesarkan dulu, tanpa sebuah alasan, Masaya hanya tahu kalau Ayah mungkin saja bukan bagian dari keluarganya. Dalam keluarga mungil itu hanya ada ibu seorang yang terkadang diwarnai oleh Nenek di Chikuho atau Nenek di Kokura. Kehidupan itu terus saja bergulir sampai Masaya dihadapkan pada sebuah keinginan untuk keluar dari lingkaran yang selalu membuat ibu terkungkung menjadi seorang wanita pekerja keras, Masaya ingin ke Tokyo. Ayah sudah mendukungnya bahkan memamerkan impian konyol itu kepada para teman. Ibu berpesan padanya, untuk belajar yang rajin. Masaya berhasil untuk kuliah di Tokyo, namun gaya hidup yang urbanis tak ayal membuatnya lupa akan ibu, ia lebih suka bermain, merokok, mabuk, bahkan mencicipi segala hal, tanpa peduli mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Hingga di suatu hari, ibu menelepon kalau ia menderita kanker tiroid, Masaya sengaja mengundang ibu untuk tinggal bersamanya. Ia tak peduli pada komentar orang tentang seorang bujang berumur tiga puluh tahun yang tinggal seatap dengan ibunya, tapi ia selalu langut pada masa-masa itu, masa-masa lima belas tahun silam kala ia dan ibu tidur di kamar yang bersisian dalam satu atap.
"Tokyo Tower" adalah sebuah autobiografi yang ditulis oleh Lily Franky, Franky yang bekerja sebagai ilustator tak cukup dipanggil sebagai pemuda yang multitalenta. Kepiawaiannya dalam dunia menggambar sungguh tiada duanya, begitu juga dengan dunia broadcasting juga seni peran, namun dalam "Tokyo Tower", Franky sungguh mengupas habis kisah hidupnya dengan kata-kata yang sederhana, tulus, terlebih saat ia mendeksripsikan sosok ibunya yang lebih dari seorang ibu yang mengandung.
Kesan pertama saat membaca "Tokyo Tower" mungkin saja hanya sebatas bacaan biasa, tanpa efek yang meledak-ledak seperti saat membaca novel sarat adegan manuver, tapi di balik sebuah kata-kata yang mengalir yang dituturkan oleh Lily Franky, "Tokyo Tower" tak ayal memberikan pesan dan kesan elok tersendiri; pelajaran tentang hidup, pelajaran tentang selalu menghormati orangtua, dan pelajaran untuk kembali bangkit dari keterpurukan.
Penggunaan alur maju mundur dalam "Tokyo Tower" juga dapat dikateogrikan sebagai hal menarik, sehingga walau ceritanya bergenre memoar, pembaca pun tak merasa monoton untuk selalu menatap ke kisah masa lalu. Lily Franky lebih suka menganggapnya sebagai mengulas yang lalu, lalu mengimbuhinya dengan komentar penyesalannya di masa kini seolah-olah ibunya masih ada dan ia terkurung dalam jiwa Masaya yang berumur tiga tahun, dan selalu bertanya, kenapa ibu dan ayah berpisah?
Franky juga menjelaskan tempat tinggalnya yang berpindah-pindah dengan begitu rinci, seperti selalu saja ada sebuah kekhasan yang muncul dari kebudayaan tiap daerah di Jepang yang pernah disinggahinya, terlebih saat di Chikuho dan menyangkutpautkannya dengan lingkungan sekitar yang rata-rata adalah seorang penambang batu bara. Dari sebuah kisah yang biasa-biasa, selalu saja ada yang bisa dipetik lalu dinikmati dan menjadi wawasan lebih. Mirip karya-karya Haruki Murakami, walaupun tidak bergenre surealis yang memang menjadi beban di otak, namun "Tokyo Tower" sungguh memiliki kemasan yang baik dalam perbendaharaan gaya bahasa juga pernak-pernik latar.
Penjelasan karakternya lebih mengutamakan pada sifat dan polah ketimbang gaya berpakaian dan hal-hal yang kepalang detail. Karakter ayah dijelaskan begitu pelik, tukang mabuk, tukang main perempuan, mirip dengan di filmnya, hanya saja di film, ayah terlihat lebih konyol, sedangkan dalam buku, ayah menjadi sosok yang tetap disegani walaupun latarbelakangnya begitu buruk. Lain dengan ibu, selalu dihormati, namun tak ayal membuat orang-orang di sekitar ingin tertawa dan berbagi. Walaupun komentarnya menyakut kata sederhana, namun sepertinya seru, memiliki kehidupan seperti Masaya, merasakan hidup tidak hanya di bagian manis, tapi juga pahit, dan membingungkan.
Dari lima, lima sendiri adalah rating yang tepat untuk menilai sebuah kesederhanaan yang sungguh jarang dianggap menarik oleh orang.