Indonesia tengah 80-an. Di tengah sapuan gelombang pembangunan, Lerok, desa di Pantura Jawa, sepertinya tak masuk hitungan. Terpencil, tak berkembang, penduduknya harus nyaman dengan segala kekurangan.
Tak merasakan hadirnya negara, Lerok menemukan Malaysia. Bukan saja pekerjaan, negeri itu bahkan memberikan harapan. Dengan itu Lerok menggeliat. Rumah dibangun, masjid dipugar, dan barang-barang elektronik dengan menggebu dibeli. Lerok dulu gelap, kini jadi gemerlap. Jalan-jalan dihaluskan. Kendaraan bersliweran.
Namun tak ada perubahan tanpa rasa kehilangan. Satu demi satu, hal-hal yang dulu jadi tanda pengenal Lerok hilang. Jenis-jenis mata pencaharian pergi bersama gelombang migrasi. Kultur tanam hilang seiring terbengkalainya sawah ladang.
Ulid, tokoh kita, juga harus merelakan banyak hal yang dicintainya. Mulai dari kambing kesayangannya, bapaknya, lalu teman-teman dekatnya, masa lalunya, pun desa melarat yang dicintainya. mencoba tak menjadi bagian dari arus, Ulid bertahan untuk tidak ikut-ikutan ke Malaysia. Ia pancang cita-cita mulia: menjadi pemulia tanaman. Masalahnya, apa segampang itu?
Ulid adalah serangkai catatan, kesaksian atas keadaan, pertemuan, kehilangan, dan yang terpenting, perubahan sebuah masyarakat yang ter-TKI-kan.
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, tahun 2003 dengan skripsi tentang cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Menulis sejak kuliah, pernah menerbitkan cerpennya di Annida, Jawa Pos, Minggu Pagi, dan di beberapa buku antologi cerpen independen.
Bekerja di penerbitan buku sekolah antara 2005–2009 dan menghasilkan serial Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa MI berjudul Bertualang Bersama Tarikh (4 jilid, 2006) dan menulis cergam Seri Peperangan pada Zaman Nabi (3 jilid, 2008). Novelnya yang sudah terbit adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) dan Lari Gung! Lari! (2011). Novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.
Selain menulis dan menjadi editor, sehari-harinya menulis ulasan sepakbola di belakang gawangdan ulasan film India di dushman duniya ka, serta menjadi fasilitator dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI).
“Ulid” adalah nama tokoh utamanya. Sebagaimana novel berjudul (nama) tokohnya, cerita pun berjalan seputar kehidupan si tokoh secara umum. Dengan kata lain, menurutku, nggak ada satu konflik utama yang butuh penyelesaian.
Overall, Ulid bercerita soal romantisme masa lalu dan perubahan-perubahan yang terjadi setelahnya. Lerok, desa kecil yang awalnya tertinggal, mulai merasakan pembangunan. Efeknya nggak cuma ke fisik desa, tetapi juga ke kehidupan sosial masyarakatnya.
Seiring perkembangan zaman, selalu ada hal-hal yang bisa terus dipertahankan, ada yang memang harus menguap karena teknologi.
Pertama-tama, aku mau apresiasi penamaan tokohnya: Muhammad Maulid yang lebih kerap dikenal sebagai Ulid. Tidak menggunakan nama umum (setidaknya buatku begitu), pun panggilannya dipenggal dari nama belakang—berasa lebih riil.
Tak jauh berbeda dengan anak kecil pada umumnya, Ulid sangat penasaran dengan segala sesuatu & sedikit cranky bila keinginannya tak dipenuhi. Ia juga jahil dan sotoy ingin bekerja seperti orang dewasa.
Kebiasaan penduduk di desa Lerok adalah mengumpulkan batu & kayu di hutan yang kemudian akan digunakan untuk membuat gamping di jubung (tungku raksasa). Selain itu, bengkuang juga tumbuh subur di Lerok, bahkan diklaim sebagai yang terenak sebab garing dan manis. Anak-anak seperti Ulid sangat menyukainya, tak jarang ia ikut memanen pula meskipun kebanyakan ngerecokin doang. 😆
TV masih menjadi salah satu alat elektronik yang jarang ada pada masa itu. Warga yang memilikinya pasti bukan sembarangan orang, minimal ketua RT. Anak-anak sering baris-berbaris berkumpul di rumah keluarga yang memiliki TV. Suasana kampungnya dapat banget.
Di usia yang masih belia, Ulid termasuk anak yang unik. Ia hobi mendengarkan radio, padahal usianya baru 5 tahun pada saat itu. Saking demennya, kewajiban-kewajiban harian jadi terabaikan. Ia malas mengaji, mandi, bahkan tak jarang bergadang. Mana pernah ada sejarahnya anak kecantolan sama radio, aku bari dengar, hahaha.
Meskipun usil, ia adalah anak yang pintar. Ia pernah ditunjuk membaca teks Pancasila pada malam tutup tahun di tahun pertamanya masuk TK. Lucunya lagi, ia juga yang akan membaca pidato perpisahan mewakili kelas nol besar yang akan meninggalkan sekolah. Anak TK sudah bisa pidato, well… 😎
Pengaruh ayahnya sebagai kepala sekolah di madrasah ibtidaiyah (MI) memegang peranan penting sih, jadi Ulid disekolahkan lebih awal satu tahun dibandingkan dengan anak sebayanya. Akibatnya, Ulid tumbuh menjadi anak yang pintar.
Sayangnya, kesenangan Ulid tak bertahan lama. Bisnis bengkuang dan gamping tak terlalu bagus, akibatnya banyak warga Lerok yang ingin mencoba peruntungan di negeri orang. Malaysia menjadi pilihan mereka. Tak terkecuali ayahnya sendiri.
Ulid (bisa dibilang) dididik dengan cukup keras oleh keluarganya. Setiap keputusan untuknya selalu diputuskan secara sepihak. Oleh sebab Ulid bukan anak lempeng yang pasrahan, ia selalu melawan bila diperlukan meskipun lebih seringan kalah. Perkara memilih hadiah antara kambing dan sepeda aja ia tak punya kesempatan untuk menentukan mana yang ia inginkan.
Sepeninggal ayahnya, Ulid mesti mengambil alih sedikit tanggungjawab menjaga adik-adiknya. Perkembangan karakter Ulid terasa sekali: dari yang awalnya jahil cengengesan bertambah matang hari ke hari. Ia bahkan membantu ibunya melakukan hal berat guna menunjang kebutuhan hidup.
Taraf kehidupan setelah ayahnya ke Malaysia bukannya berangsur-angsur membaik. Malah bisa dikatakan jauh lebih buruk. Uang tak sering dikirimkan, kabarnya di sana tak kunjung sampai. Sementara itu, ibu Ulid mesti menghidupi dirinya sendiri dan keempat anaknya. Ulid juga semakin besar, ia sudah di pondok dan sebentar lagi lulus SMA.
Bukan namanya novel kalau karakternya nggak dikasih cobaan. Antusiasmenya untuk kuliah memang tak begitu tinggi, mengingat keluarganya tidak mampu. Apalagi adik-adiknya juga perlu biaya untuk menuntaskan sekolah mereka. Sebagai pencinta bengkuang, ketertarikannya untuk melanjutkan pendidikan di bidang pertanian, khususnya, sangat tinggi. Tapi lagi-lagi niat mesti diurung sebab nasib baik sepertinya jauh darinya.
“Ulid Tak Ingin ke Malaysia” memang adalah judul yang tepat, meskipun cetakan spesialnya dipersingkat jadi Ulid saja. Malaysia bagai madu dan racun yang membentuk hidupnya dari kecil hingga besar, dari yang manis sampai pahit.
Manusia boleh merencanakan, tapi belum tentu terealisasikan. Narasi-narasi baik yang diharapkan terjadi, kadang-kadang memang tidak kejadian. Hanya gula yang pasti manis, tidak pada hidup. Mengikuti kisah Ulid membuatku bersyukur pada berkah yang datang sampai hari ini dan mengharap untuk tidak berharap pada pengharapan yang terlalu ideal.
Bagus banget bukunya! Meskipun fiktif, desa Lerok seperti nyata. Cocok banget menggambarkan desa.
Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Ini jadi gambaran kehidupan Muhammad Maulid dari bocah sampe dewasa yang penuh lika liku, nanjak-mudun & pasang-surut.
Buku yang sangat bagus. Mengikuti pertumbuhan dan perkembangan Ulid sejak kecil sampai remaja lewat novel ini sangat menyenangkan. Saya merasa memiliki sedikit kemiripan dengan Ulid: kami sangat senang bernostalgia. Ulid yang menghabiskan semua masa kecilnya di Lerok memiliki ikatan yang sangat kuat dengan tempat itu. Setiap perubahan yang terjadi di sana digambarkan dengan sangat detail dan terkesan alami. Setiap karakternya punya nyawa, bukan hanya karakter di atas kertas. Dan saya sangat mengagumi kemampuan penulisnya soal ini. Di Lerok ada banyak sekali karakter tetapi penulis mampu membuat mereka semua memiliki sifat dan wataknya sendiri yang berbeda-beda. Hal ini sangat menyenangkan karena sebelumnya beberapa buku sastra Indonesia yang saya baca kerap lupa memberi nyawa pada karakter akhirnya masing-masing tokoh jadi seperti orang yang sama. Terima kasih sudah menulis buku bagus ini.
buku ini menceritakan tentang ‘Ulid’ yang merupakan tokoh utama di sini, yang lahir dan besar di desa Lerok.
Awalnya aku kira desa Lerok ini benar-benar ada karena penggambarannya yang sangat detail dan penjabaran kehidupan tokoh-tokoh di Lerok yang beneran nyata. namun pas cek review-review lain dan komentar pembaca lain, ternyata desa Lerok ini sepenuhnya fiktif.
Ulid ini digambarkan sebagai tokoh yang menarik, unik dan punya sisi lincah dengan pemikiran yang terkadang di luar nalar.
Di buku ini akan dijelaskan kehidupan Ulid dari kecil hingga besar, serta kecintaan dia terhadap Lerok.
Selain itu, buku ini juga menyertakan aspek kehidupan rakyat Lerok dalam menangani dinamika kemiskinan serta perubahan sosial di zaman itu—seperti awal masuknya TV, listrik, dan lainnya.
bukunya termasuk gampang di baca dan mudah diresapi. overall cukup puas dalam pembacaan buku ini!
Sempat terkecoh di awal cerita dengan pembukaan yang agak mendebarkan, berpikir bahwa novel ini (seperti banyak novel lainnya) akan bercerita tentang ketidakadilan yang keji. Ternyata, novel ini justru bercerita lancar tentang kehidupan seorang anak di sebuah desa yang biasa saja. Saya begitu terpikat dengan novel ini karena selama dua hari (disambi mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga) berhasil menyeret saya ke masa 6 tahun saya tinggal di desa bersama nenek. Seperti Lerok, desa tempat saya tinggal pun dimeriahkan dengan gegap gempita menjadi buruh migran ke Malaysia, Taiwan, Korea, dan Jepang. Beberapa hal yang terjadi dengan Lerok dan orang-orangnya juga saya rasakan terjadi di desa saya. Meski tak ada jubung dan bengkuang, tak bisa dipungkiri, sawah yang diwarisi kini hanya digarap para orang tua dan menjadi modal berangkat kerja. Sementara anak-anak dititipkan ke kakek-neneknya, para pemuda dan orang-orang yang berusia produktif lebih suka merantau ke luar kota, pulau, dan negeri. Saya suka cara bercerita Mahfud yang mampu menjadi Ulid dari umur 4 yang cerewet hingga Ulid 17 tahun dan seterusnya yang dewasa. Cerita yang disuguhkan pun sederhana sekali, tapi sungguh terasa nyata. Tak salah rupanya jika novel ini memenangkan sayembara penulisan novel DKJ 2014. Thumbs up!
Bukunya tebeeeel banget, tapi nggak ngebosenin dibaca. Cerita mengalir, berasa kayak nonton film krn setiap adegan terasa "membumi". Jika lingkungan si penulis tidak seperti yang ia gambarkan dalam cerita, maka saya bisa bilang kalau penelitiannya luar biasa sehingga menghasilkan cerita dengan latar yang terasa begitu nyata.
Kisah kehidupan desa yang sederhana dengan berbagai konflik hidup yang justru jauh dari kata sederhana. Mengakui atau tidak, seperti inilah kehidupan sehari-hari warga negara kita.
Yang sedikit mengganggu saya tentang karakter si Ulid ini: anaknya kelewat romantis. Tapi saya tidak menemukan, apa yang membentuk ia menjadi seorang yang suka meromantisasi segala hal. Mungkin karena kebanyakan sandiwara radio. Entahlah.
Cerita bisa dibilang berakhir bahagia. Ya, bahagia untuk ukuran orang-orang seperti Ulid, yang pada akhirnya suka tidak suka harus menjalani kehidupan sebagaimana yang dijalani orang tuanya.
Beberapa tulisan pengantar dibuat oleh Mahfud Ikhwan, mengantar penerbitan novel pertamanya, Ulid edisi punggung keras. Dilabeli 15 Tahun Ulid. Dari satu dua tulisan. Dibarengi dengan bonus prapesan berupa kumpulan tulisan ulasan Ulid, membuat saya tidak butuh lama untuk memesan. Jangan berkata-kata lagi. Aku ikut beli! Ini sesuatu yang harus ikut dirayakan. Batin saya. Kemudian dibaca dengan suntuk dalam beberapa hari.
Soal gimmik kumpulan ulasan yang terbit seiring cetak ulang sebuah novel adalah sesuatu yang unik. Ide yang keren. Tulisan-tulisan yang membahas “anak pertama” penulis. Diikutkan. Karena novel ini tidak banyak dibicarakan, tanpa kesan-kesan para penulis tersebut.
Sebelum melanjutkan membaca Bek, sekuel dari Ulid. Saya meniatkan diri untuk menulis sedikit kesan membaca Ulid. Plus, berbagai ulasan Ulid yang disebut pengarangnya di buku bonus dan yang terserak, berdasar catatan penulis di Facebook.
Begini ceritanya:
Pertama kita lihat fisik bukunya lebih dahulu. Dibanderol cukup mahal. Ulid dengan edisi terbaru, dicetak penerbit Shira Media dengan gagah bersampul hitam. Kualitas cetakan prima. Keterbacaan lumayan. Meski saya sedikit merasa ukuran font kok agak kecil. Bandingkan dengan novel Ulid cetakan perdana, terbitan JB, yang kertasnya HVS dan cetak hitam tulisannya agak kabur.
Sehingga membaca Ulid dengan sampul yang mantap digenggam, cetakan hurufnya terbaca benar, adalah senikmat-nikmatnya menyantap suguhan cerita yang disajikan pengarang. Terlebih sebagai penghormatan atas bertahannya novel ini di belantika sastra Indonesia.
Mahfud tidak menulis hingga momen ia kuliah Sastra Indonesia di UGM. Sebagaimana yang saya simak di buku Cerita, Bualan, Kebenaran (Tanda Baca, 2020). Novelis dan esais yang memenangkan Sayembara Roman DKJ 2014, Anugerah Badan Bahasa 2016, Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, Sutasoma 2019, dan Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY 2023, mencoba menulis cerpen untuk honor di koran. Lantas kemudian terbersit menulis novel.
Momen ia merasa mampu menulis novel adalah saat membaca "Pater Pancali", terjemahan Koesalah Soebagyo Toer. Saat saya cari di goodreads, terindeks terbitan KPG di 2017. Juga… terbitan 1996, Pustaka Jaya. Berarti Cak Mahfud membaca edisi terbitan ini, rupanya.
"Ulid: Tak ingin Ke Malaysia", judul lengkap yang tertera di edisi perdana adalah sebuah kisah dongeng, bildungsroman mengikuti sosok Muhammad Maulid, seorang bocah cilik di desa Lerok. Dari dia SD hingga akan memasuki lulus SMA. Drama kehidupan yang riil dijalani bersama masyarakat Lerok. Dari lembar pertama saya terus saja membaca tuturan Mahfud di novelnya. Terpikat karena seolah saya sedang ngamuk bersama Ulid, ikut membakar gamping, mendengar sandiwara radio, juga menonton televisi di rumah teman yang dijodoh-jodohkan.
Saya membaca Mahfud pertama kali lewat novelnya, Dawuk. Saya kesengsem dengan gaya berceritanya. Suka. Lalu dilanjutkan dengan sekuelnya. Yang diterbitkan oleh Marjin Kiri, penerbit yang semua bukunya saya langgani. Juga jual di toko buku kecil di Ambon bernama Ksatria Buku.
Lain Dawuk. Lain Ulid. Saya merasa pengalaman membaca novel panjang Ulid, sebuah pengalaman yang menyenangkan. Saya menikmati setiap suasana. Setiap deskripsi. Semua isu sosial yang diperhadapkan.
Saya tanya. Berapa banyak novel yang membuatmu bisa bergoyang saat membacanya?
Pundakmu perlahan naik turun perlahan mengikuti cerita.
Ulid yang dieditori oleh Ipank Pamungkas. Yang juga mengedit novel Para Pelacur dalam Perahu Seno Gumira Ajidarma. Penuh detail yang enak dibaca. Seakan segenap pengetahuan dan kekaryaan sang penulis dicurahkan dalam karya pertama ini.
“Ulid, yang ditulis tak kurang enam tahun, sangat menghantui. Itu berat, sangat berat, untuk saya yang setiap hari mesti masuk kantor dari jam 7 pagi hingga 5 sore.” Pengakuan Mahfud di wawancara kreatif Dawuk. Tulisan jurnalruang (sungguh memikat isinya!) yang berada di urutan terakhir buku kumpulan tulisan proses kreatif Mahfud, Cerita, Bualan, Kebenaran.
Secara keseluruhan novel Ulid saya setuju, adalah salah satu sumbangsih besar untuk sastra Indonesia. Dia berhasil merekam Indonesia dalam masa orde baru hingga reformasi saat Bapak Pembangunan turun. Mendokumentasikan pengalaman hidup masyarakatnya. Mencatat dan berbagi susah payahnya. Tanpa dilebih-lebihkan. Tanpa diromantisasi.
Novel ini saya rekomendasikan untuk semua pembaca. Penikmat sastra maupuun pembaca awam. Orang yang ingin mencoba membaca novel.
NB: Bila ditanya siapa pengarang favoritmu, Steven?
Saya tidak akan lupa menambahkan nama Mahfud Ikhwan dalam daftar.
Meski sebelum-sebelumnya kadang harus berpikir lama. Sehingga hanya mengucap nama-nama beken yang terlontar di kepala.
Jangan beranjak dulu.
Memiliki novel Ulid edisi pertama, menurut saya ada kelebihannya. Saat ada penggalan kalimat yang dirasa kurang pas. Karena ada kurang titik di akhir kalimat misalnya. Kita bisa membuka cetakan tersebut dan melihat bagaimana naskah aslinya.
Berikut dengan cerita utuh, yang sudah dipangkas 10.000 karakter kata Mahfud di tulisannya di basabasi.co.
Misalkan. Adegan saat Ibu Ulid ditemani Ulid mengambil uang ke bank di gresik. Di edisi 2025, diceritakan sepintas saja.
Namun, saat melihat edisi pertama. Kita tahu, bagaimana situasi yang ditemui Kaswati, saat menuju bank dan naik kendaraan untuk kembali ke Lerok. Mata-mata itu tertuju pada orang-orang yang ingin menukar ringgit. Betapa itu situasi yang agak menakutkan. Membawa pulang duit banyak di angkutan umum.
Jadi, edisi pertama yang dikatakan Dwi Cipta, tidak efisien, rasa-rasanya akan menjadi peneman baca novel edisi 2025 yang bagus.
Andai saja, tentu ini sebuah perandaian yang agak muluk. Diterbitkan lagi edisi pertama Ulid ini. Dengan layout, cetakan yang bagus. Lebih tebal tak apalah. Karena pembaca militan MI, saya kira akan menyambutnya.
Pembaca Ulid, mungkin ingin Ulid yang lebih panjang, sebab ingin menyelami dunia Ulid dengan utuh. Bisa terpuaskan dengan edisi tersebut.
Selamat atas terbitnya Ulid edisi 2025, Edisi 15 Tahun Ulid, Cak Mahfud.
Buku Mahfud Ikhwan yang pertama dibaca. Bukunya terasa "dekat" karena pas Ulid kecil ngegambarin sebagaimana anak kecil pada umumnya. Baca buku ini sampe akhir terharu soalnya serasa ngebesarin anak sendiri alias Ulid ehehehe. Buku ini ngegambarin kondisi kaum marginal. Orang-orang yang ngga dapet haknya sebagai warga negara buat mendapatkan pekerjaan yang layak di negara sendiri. Akhirnya mereka mengadu nasib di negara orang, berharap dapet pekerjaan di negara orang, dan kehidupan yang lebih layak—sekali lagi—di negara orang.
Dulu, setelah membaca "Ronggeng Dukuh Paruk"-nya Ahmad Tohari saat kelas 12 SMA, saya terus-terusan bilang novel ini adalah kisah terbaik untuk memahami desa Indonesia. Setidaknya, Jawa. Plus, Halimunda-nya Eka Kurniawan di "Cantik Itu Luka". Kisah terbaik yang saya maksud adalah betapa kedua novel tersebut mampu memberi imaji berlainan dari yang saban kita sawang di lukisan-lukisan yang kerap terpacak di dinding warung nasi padang: sebentang sawah hijau, langit biru, awan teduh, matahari secukupnya, kebo dan lembu gemuk, serta pak tani yang perkasa.
Semua citra desa macam itu centang-prenang di Dukuh Paruk dan Halimunda. Melarat sejadi-jadinya, kematian kian akrab, saling memarkir kelamin tidak pada tempatnya, dan saling gunting saling sikat dalam politik---itulah menu utama dalam kisah dua desa tersebut. Menu utama yang sering dibayangkan khas kota dan haram hukumnya ada di desa.
Bertahun-tahun setelah menamatkan "Ronggeng Dukuh Paruk" dan dua tahun setelah melumat Halimunda untuk kali kedua, saya berjumpa kisah yang tidak kalah menggugah (kalau tidak bisa dikatakan lebih baik, bahkan) dalam menggambarkan desa. "Ulid" judulnya, Lerok desanya, Mahfud Ikhwan pengarangnya.
"Ulid" bisa dikatakan sebuah roman, tentang tokoh dengan nama sama seperti judul: Ulid; Muhammad Maulid lengkapnya. Sebagaimana roman, novel ini mengisahkan tokoh utama dari orok sampai titik tertentu hidupnya yang dianggap sudah "menyelesaikan permasalahannya". Nyaris seluruh kisah Ulid ditanam di Lerok, desa fiksional di pedalaman Jawa Timur yang tidak kelewat jauh dengan pesisir utaranya. Seting Lerok ini digarap serius, pembaca sejak awal diperkenalkan dengannya. Dengan jubung pembakaran gamping yang butuh kayu-kayu (curian dari kawasan Perhutani) untuk menjaga nyala apinya. Dengan sinder dan tentara hutan yang siap menciduk para pencoleng, termasuk Tarmidi pada gilirannya. Dengan ladang bengkoang. Dengan petani yang punya tanah karena mbahnya punya tanah dan yang tidak punya tanah karena, tentu, mbahnya tidak punya tanah.
Sembari latar tempat dibentang, latar sosial dioprek, manusia seturut jeroannya pun dikisahkan. Ulid dikisahkan tumbuh di keluarga Tarmidi-Kaswati yang bergelayut di antara miskin dan kaya---seringkali lebih condong ke yang pertama. Tanpa tanah garapan, Tarmidi hanya punya dua opsi: menggarap ladang orang atau membakar gamping. Bukan Tarmidi kalau tidak menggarap dua-duanya demi dapur tetap ngebul. Plus satu lagi: Kepala Sekolah sekaligus guru-segala-bisa di Madrasah setempat.
Seting Lerok dengan segala detilnya bukan semata tempelan. Mudah saja mengujinya. Bila Ulid dan teman sepermainannya dilempar ke, taruhlah, Kalimalang, apakah novel "Ulid" akan tetap sama? Apakah ketika Tarmidi-Kaswati melahirkan Ulid di pesisir, bukan di desa pedalaman macam Lerok, ceritanya tetap sama. Tentu beda. Ulid tidak akan punya kegigihan atas bengkoang Lerok, yang tumbuh dari tanah-airnya sendiri. Ulid tidak akan menghadapi nasib keluarganya mampus, keluarga petani tanpa tanah, digencet ambruknya tataniaga bengkoang dan gamping; yang berujung pada nasib mimpinya.
Novel ini cukup tebal (500an halaman) untuk memungkinkan eksplorasi mendalam baik dunia eksternal (Lerok) dan internal (isi hati-kepala para karakter). Novel yang baik tentu novel yang enak dibaca; novel yang bisa bercerita tentang apapun kepada siapapun. Dan itulah yang ditawarkan "Ulid": novel bagus.
Tidak perlu menyentuh jubung dan membakar gamping untuk bisa merasakan manis-getirnya mimpi Ulid bocah: jadi pembakar gamping dan punya jubung sendiri. Tidak mesti tinggal di kampung untuk ikut nyengir sendiri membaca bagian Ulid minggat dari rumah; hanya untuk kembali lagi di malamnya sebab kemarahan tidak bisa meredakan perut keroncongan.
Membaca "Ulid" adalah membaca desa, sekaligus membaca diri kita sendiri. Poin pertama adalah "novel desa yang baik" dan poin kedua adalah "novel baik, apapun temanya, apapun bentuknya".
Dan untuk Mahfud Ikhwan, teman-temanku yang baik, bacalah apapun yang dia tulis. Seberapapun kamu tidak akrab dengan bahasannya, percayalah, kalian akan menemukan celah untuk bisa menikmatinya. Bukankah itu ciri seorang penulis hebat?
Ulid anak lelaki berumur lima tahun, menyaksikan peralihan gaya hidup dan mata pencarian yang cukup substansial seiring keputusan warga desanya memilih menjadi buruh migran di Malaysia termasuk ayahnya.
Novel ini bersetting di subuah desa terpencil bernama Lerok, Jawa Timur. Mata pencaharian yang secara turun - temurun menghidupi penduduk lokal yaitu bengkuang dan gamping kalah karena permainan dinamika pasar. Penduduk Lerok memilih menjadi buruh migran, merantau ke Malaysia. Hanya Ulid yang bersikeras tak ingin ke Malaysia. Ia ingin menjadi peneliti bengkuang yang akan mengangkat kembali budidaya bengkuang. Seiring jalannya cerita dan kedewasaannya, sifat keras kepala tersebut meluntur saat melihat kesusahan ayah dan ibunya di tanah rantau serta masa depan adik - adiknya sementara setelah lulus sekolah ia tak kunjung bekerja.
===!===!===!===!
Sebelum saya membaca _Ulid_, sudah tiga karya Mahfud Ikhwan (MI) yang saya baca sebelumnya, yaitu _Kambing dan Hujan_ (pemenang sayembara Novel DKJ 2014), _Belajar Mencintai Kambing_ dan _Dawuk_. Semua karya MI mengingatkan saya akan karya - karya Ahmad Tohari. Kesan pedesaan dengan pematang sawah, gemericik air sungai, dan suara burung - burung migrasi yang sering disebut sebagai "warna lokal" (Katrin Bandel, xiv) sedikit banyak menghiasi cerita - cerita MI seperti halnya dalam cerpen dan novel Tohari.
Selain itu, MI dan Tohari pun mampu menggambarkan pengalaman manusia beserta pergolakan batinnya yang bisa dikatakan universal misalnya, perasaan bangga, malu, takut, senang, sedih, jaga _image_ yang bisa dialami setiap orang. Tidak hanya hal tersebut, beberapa kali mereka menceritakan latar pedesaan atau pedalaman yang merepresentasikan penderitaan dan kemiskinan yang dialami masyarakatnya.
_Ulid_ lahir dalam senyap, ia tidak banyak dikenal, lantaran kisahnya tentang pertumbuhan tokoh utama sejak masa kecil sampai dewasa, dengan fokus pada pengalaman batin dan perkembangan emosional tidak mengikuti tren yang sedang dominan saat itu, baik di dunia sastra maupun fiksi populer. Awalnya, tahun 2009 novel ini berjudul _Ulid Tak Ingin ke Malaysia_ kemudian berselang 6 thn diterbitkan ulang dengan judul yg lebih ringkas _Ulid, sebuah Novel_ pun keduanya tidak dikenal oleh khalayak ramai. Pilihan MI memilih fokus dan topik yang tidak populer terkesan jujur dan relevan (Katrin Bandel, xxi).
mengisahkan perjalanan hidup seorang Ulid semenjak berusia 5 tahunan sampai ia menamatkan SMA. Berlatar sebuah desa bernama Lerok sekitar tahun 1980 an sampai awal tahun 2000. Setelah harga Bengkuang merosot tajam dan pekerjaan membuat gamping tidak lagi laku di Lerok, banyak orang yang terpikat untuk mencoba peruntungan merantau ke Malaysia Termasuk Ayah Ulid sendiri, Tarmidi. Ulid sendiri sebetulnya tidak menyukai Malaysia, hal itu semakin menjadi-jadi setelah pengetahuannya tentang negeri jiran itu bertambah, Malaysia baginya musuh Indonesia, itu dia ketahui setelah mengingat pelajaran di sekolahnya, Indonesia dan Malaysia hampir saja perang, dan Bung Karno meneriakkan “Ganyang Malaysia.” Ulid lebih sepakat dengan komentar beberapa orang tua di Lerok, lebih baik hujan batu di kampung sendiri dari pada hujan emas di kampung sendiri. Membaca Ulid tak ubahnya melihat gambaran langsung kampung saya sendiri, itulah mengapa saya mengalami pergolakan batin ketika melahap buku ini. Lerok yang di kisahkan Mahfud sangat persis dengan apa yang terjadi di kampung saya. Kendati tidak ada data yang pasti, sepertiga orang di kampung kami punya keterkaitan dan menggantungkan hidup di Malaysia, dan saya yakin, lebih dari separuh warganya pernah pergi ke Malaysia untuk mengais rezeki entah untuk waktu yang lama atau sebentar. Cerita tentang orang yang sukses sesudah merantau ke Malaysia, jatuh bangunnya saat pertama kali tiba, di tendang keluar oleh pihak imigrasi karena ketahuan tidak mempunyai kartu identitas resmi, pulang beramai-ramai ketika Ramahan hendak menjelang sambil menenteng banyak oleh-oleh untuk dibagikan kepada tetangga, atau kisah tentang orang yang menetap dan menjadi warga negara Malaysia setelah mendapat jodoh di situ, bukanlah barang asing bagi kampung kami, dan novel ini sangat mewakili itu semua.
Lakon panjang lebar antara bengkuang melawan salak.
Bengkuang (dan gamping) begitu lama menjadi raja yang memberi kecukupan bagi kebanyakan orang Lerok, sebelum orang-orang kota dan ceramah ndakik-ndakik mereka tentang efisiensi produksi serta hukum permintaan-penawaran (dan tentunya soal monopoli pengurusakan hutan) mengganggu kecukupan itu.
Maka, salak hadir, menyulap kecukupan jadi janji-janji kemewahan. Walaupun sebagaimana kisah-kisah perjuangan, tidak semuanya selalu berbuah keberhasilan itu. Tapi kemewahan yang sedikit itu selalu cukup jadi daya tarik salak.
Tidak bagi Ulid. Ulid tidak suka salak. Atau menolak menyukai salak. Sampai pada akhirnya mau tak mau salak harus dikonsumsinya, sebab bengkuang memang sudah tak ada lagi di Lerok.
Suatu hari, sebagaimana yang Ulid khawatirkan, pun manis kerap kali salak membuat jemari si pengupasnya yang tak berhati-hati terluka. Pernah merasakan kulit salak melesap ke sela-sela kuku jari? Tentu rasa sakitnya tidak ada apa-apanya dibandingkan sisa kerumitan yang ditimbulkan salak ke keluarga Ulid.
Sampai entah dari mana caranya, seperti petarung yang sudah di ambang kekalahan, bengkuang tiba-tiba melepaskan pukulan-pukulan yang cukup telak dan hampir membuat salak tak berkutik. Tapi tak semua momentum itu bisa menjelma jadi pukulan penghabisan, banyak waktu hanya sekadar kepalan-kepalan payah putus asa.
Dan akhirnya salak pula yang menang. Menyisakan bengkuang sebagai kenang-kenangan semata.
"Hampir semua orang percaya, lebih-lebih orang Lerok, Tuhan akan mengubah nasib seseorang jika orang itu mau mengubah nasibnya sendiri. Namun kenyataanya, di Lerok, sampai sejauh ini, jarang sekali ada orang yang mengalami perubahan...." Hal.83.
Lerok adalah sebuah kampung yang ada di Jawa Timur. Tempatnya berada di balik bukit. Umumnya orang-orangnya mencari duit dengan dua cara: berkubang di jubung demi membuat batu kapur, atau berkutat di kebun demi menanam bengkuang. Tak ada bengkuang yang selezat bengkuang yang ditanam di desa Lerok.
Namun, semua berubah ketika orang mulai meninggalkan jubung -karena stoknya menipis, dan tengkulak mulai memilih bengkuang dari desa lain yang walaupun tak selezat bengkuang Lerok, namun lebih murah. Alhasil, masyarakat miskin makin terjepit, termasuk pula Tarmidi dan istrinya Kaswati. Ulid, anak tertua mereka pun harus merasakan dampaknya.
"....orang Lerok juga sangat yakin bahwa kaya dan miskin seseorang itu sudah ditetapkan Tuhan sejak sebelum seseorang lahir. Keyakinan yang belakangan itu artinya jika kamu dilahirkan dari keluarga tanpa sawah, sampai kapan pun kamu tidak akan punya sawah. Jika kamu adalah anak pengembala kambing, sampai nungging seratus tahun pun kamu tidak akan bisa memiliki sapi." Hal.84.
Walau miskin, Ulid bertumbuh dengan bebas. Bapaknya selain mengelola jubung dan menanam bengkuang, juga menjadi pimpinan sekolah sore. Ya, umumnya anak-anak di Lerok sekolah dua kali. Pagi di sekolah umum, sorenya di sekolah agama. Ulid yang berotak cerdas sebetulnya mampu menyerap ilmu di dua tempat itu, tapi bocah kecil itu satu kali mogok sekolah pagi dan hanya mau sekolah sore. Apa pasal?
Sederhana, sebab dengan ia bersekolah ganda, bapak dan ibunya harus mengeluarkan lebih banyak uang pula. Hari ini membeli batik, besok membeli sepatu. Selain itu, di sekolah pagi Ulid sering diperolok suka dengan Juwairiyah, adik kelasnya. Ya, bayangkan saya, bocah halus itu "ditekan" urusan cinta yang orang dewasa saja tak semuanya sanggup :) Namun beruntung, bapak dan ibunya berusaha maklum, dan menuruti kehendak anak sulung mereka itu dengan hanya sekolah sore.
Tapi, tentu saja Ulid harus mendapatkan tanggung jawab lain dari sisa waktu "nganggur"nya di pagi hari. Yakni, ia harus ngangon kambing. Mula-mula ia kesal karena harus membawa kambing itu melewati bukit karena di sanalah banyak rumput tumbuh. Lama-lama, hubungan ia dan kambing semakin mesra. Dan Ulid semakin sayang dan telaten membesarkan kambing itu.
Di satu sisi keadaan Lerok semakin memperihatinkan. Sebuah kesempatan untuk mengais rezeki datang dari negara tetangga -Malaysia. Sebagian warga Lerok -yang mungkin sudah terlalu sengsara, memutuskan untuk mencari peruntungan. Sebagian dari mereka berhasil dan seketika membawa perubahan, tak hanya ke keluarga mereka, namun juga warga Lerok secara keseluruhan.
Siapa yang tak tergiur ketika orang-orang ini pulang, lalu dapat merenovasi rumah, dan mengisinya dengan barang-barang yang tak pernah ada di satu pun rumah di Lerok seperti halnya televisi. Di desa kecil itu, kenikmatan menonton tak hanya dapat dinikmati oleh si yang punya, tapi semua warga, di jam-jam tertentu akan berkumpul dan menyaksikan telenovela. Bagi Ulid kecil, ini adalah jenis hiburan tersendiri selain berkeliaran di hutan, mandi di sungai atau menggigit bengkuang-bengkuang dari kebun.
Memang tak semua berhasil. Pakdenya sendiri termasuk contoh yang gagal. Pulang dari Malaysia, jangankan membeli televisi, oleh-oleh yang ia bawa pun hanya salak. Ironisnya salak itu pun dibeli di pasar kecamatan.
Namun, keberhasilan yang lain, rupanya menyulut semangat di lebih banyak orang yang ada di Lerok. Mulailah orang-orang membentuk kelompok dan berencana berangkat bersama. Tarmidi pun mulai kepikiran untuk mengambil langkah serupa.
"Pak...." Ia colek pundak bapaknya.
Bapaknya yang hampir terpejam menggeragap.
"Tidak usah ke Malaysia," kata Ulid, hampir berbisik.
"Kenapa?"
"Aku tidak suka salak." Hal.108.
Namun, Tarmidi kemudian tak punya pilihan. Bersama beberapa warga Lerok lain, ia kemudian berangkat. Meninggalkan istri dan ketiga anaknya. Kepergian yang mengubah banyak hal di rumah itu, terutama lagi di diri Ulid, yang langsung kehilangan pegangan, sosok yang selama ini menjadi tiang penyanggah utama dalam semua lini hidupnya.
"Kalau boleh, ia ingin marah pada satu hal lagi, pihak yang mungkin paling bertanggung jawab dengan terjadinya semua ini: Tuhan. Dia, Yang Mahakuasa dan Maha-menentukan Segala, seharusnya tak membiarkan keadaan jadi seburuk ini." Hal.356.
Lantas bagaimana kehidupan Ulid, kedua adiknya, ibunya dan juga warga Lerok lainnya ketika semakin banyak orang yang memilih Malaysia sebagai tempat mengais rezeki?
* * *
Pasca menamatkan Dawuk (2017) dan juga Kambing & Hujan (2015), aku semakin terobesi dengan semua tulisan yang dihasilkan oleh Mahfud Ikhwan. Cara bertutut yang sederhana dan kisah-kisah yang terasa dekat adalah kekuatan utama dari tulisan-tulisan yang ia buat.
Kisah Ulid ini, bagi sebagian kecil pembaca mungkin akan terasa membosankan. Kisahnya berkutat di kehidupan Ulid sehari-hari, dari ia kecil hingga kemudian lulus SMA. Buku ini juga terbagi dalam 3 bab besar yakni bab pertama, Ulid AsyikBermain, kedua, Ulid Terlalu Banyak Bermain, ketiga, Ulid Masih Ingin Bermain, keempat, Ulid Tak Lagi Bermain, dan yang terakhir yakni bab kelima, Ulid Tak Main-main yang mana secara tak langsung menunjukkan perubahan pola pikir Ulid dari kanak-kanak menuju dewasa, tentu dengan segala macam masalah yang ia dan keluarganya hadapi.
Baca Ulid, aku jadi teringat tayangan-tayangan di televisi di akhir tahun 90-an (seperti Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan atau 1 Kakak 7 keponakan), jadi ya kayak melihat kehidupan sehari-hari saja tapi dalam bentuk imajinasi dari tulisan. Namun, bukan Mahfud Ikhwan jika gak mengangkat isu-isu penting yang di buku ini tentu saja banyak bicara tentang kemiskinan, dan juga saat-saat di mana Indonesia banyak "mengimpor" tenaga kerja murah ke Malaysia.
Sangat menyenangkan untuk dibaca, sehingga aku sendiri gak mau cepat-cepat menghabiskan buku ini karena kisah perjalanan Ulid ini terasa sangat dekat, kayak melihat kehidupan tetangga di sebelah rumah saja.
Sejauh ini, Ulid adalah karya Mahfud Ikhwan yang paling aku favoritkan.
Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Kisah-kisah manusiawi salam novel ini membuat khalayak patut untuk membacanya barang sekali. Kisah Ulid dan perjuangan hidupnya begitu memikat, membaca buku ini seperti membaca diri sendiri. Beberapa bagian saya hampir menitikan airmata, saya begitu sentimental memang kalau kisah keluarga seperti ini. Memang dalam hidup kemalangan dan perjalanan yang tidak sesuai dengan angan-angan begitu dekat. Ulid menjadi cerminan anak-anak daerah saya yang kebanyakan bapaknya perantau. Jadi menbaca buku ini adalah juga membaca kehidupan saya waktu kecil, yang kebetulan bapak merantau bersama ibu. Ahhh begitu dekat dengan kenyataan saya masa itu. Buku yang nampaknya akan membayangi saya dalam menjalani hidup dimasa dewasa.
Sial. Aku hampir menangis sebelum dua bab terakhir tuntas terbaca. Tarmidi begitu naas hingga harus melihat anaknya mempecundanginya seperti itu.
Tapi, lagi-lagi hanya orang yang tak peka menyalahkan kegagalan orang seperti Tarmidi, ini kemiskinan struktural. Tidak ada lapangan pekerjaan yang cukup hadir di Lerok. Negara juga tidak melakukan apapun ketika pengrajin gamping Lerok harus menghadapi perusahaan semen besar.
Lagi-lagi, sialnya, cerita ‘Ulid’ yang meski ditulis pada era 90-an, ternyata masih relevan dengan kondisi warga negara Indonesia di tahun 2025. Bedanya, kali ini mereka berbondong-bondong pergi ‘kerja-liburan’ ke Australia.
Mahfud masih baik dengan memberikan 2 bab terakhir sebagai akhir hidup bahagia di Lerok. Cerita yang mengharukan.
ketika membaca di bagian awal sampai dengan pertengahan buku ini, saya pribadi suka dengan perubahan setiap karakter novel maupun suasana desa, juga penggambaran detail karakter dan desa dari yang sebelum berubah hingga sudah mengalami perubahan. akan tetapi, ketika saya membaca di akhir antara 1/2 bab sebelum habis atau setelah kaswati memutuskan untuk pergi, saya merasa ada sesuatu yg tiba tiba stop. seakan akan cerita ini tidak lagi sedalam dan se detail di bagian awal yang lebih menggambarkan perasaan atau batin ulid, pada akhirnya menurut saya bagian ini membuat akhir dari cerita seperti keterangan saja. tapii terlepas dari akhir ceritanya, saya suka buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca Ulid. seperti menatap cermin retak yang memantulkan kejujuran. Kita sering terlalu sibuk menatap diri sendiri, lupa pada apa yang bergolak di sekitar kita – desa-desa yang merindu, mimpi-mimpi yang terkubur, dan akar yang perlahan tercerabut. Novel karya Mahfud Ikhwan ini, berlatar di desa kecil Lerok, Jawa Timur, bukan sekadar kisah tentang Muhammad Maulid – atau Ulid – melainkan sebuah elegi tentang dunia pedesaan yang terhimpit oleh arus urbanisasi. Ulid mengajak kita berhenti sejenak, merenungi apa yang hilang ketika modernitas menyeret kita jauh dari tanah leluhur.
menarik, menggambarkan kehidupan desa di indonesia dari sudut pandang anak kecil yang beranjak dewasa, mengajak melihat pergulatan batin manusia tumbuh dewasa yang belajar menerima tanggung jawab dan bahwa hidup tidak selalu memenuhi keinginan-keinginan
Novel Ulid bersetting di sebuah desa terpencil bernama Lerok, di Jawa Timur. Penghasilan penduduk setempat diperoleh dari batu gamping. Untuk membuatnya, orang-orang membangun tungku yang disebut “jubung”. Bangunan itu semacam tabung raksasa, dapat memuat dua sampai tiga ton batu, memiliki tiga lubang yang satu di antaranya digunakan untuk memasukkan kayu untuk membakar gamping (hlm. 17). Selain itu, pada masa tertentu, Lerok akan semarak dengan panen bengkuang. Perayaan itu juga dirasakan oleh Tarmidi, bapak Ulid.
Ulid sejak kecil selalu ikut bapaknya ke jubung. Ia mempunyai tekad jika sudah dewasa akan menjadi penghasil gamping seperti bapaknya. Ia juga sangat memuji manisnya bengkuang yang dipanen dari sawah. Sayangnya, kenyataan berkata lain. Harga gamping anjlok di pasaran. Inilah yang memaksa warga Lerok memutar otak agar perekonomian keluarga tetap berjalan. Jawaban dari kegelisahan itu adalah Malaysia.
Berbondong-bondong orang pergi ke Malaysia. Ada yang tertangkap dan dipulangkan dengan membawa utang, dan lebih banyak yang berhasil memulangkan uang.
Ulid tumbuh bersama dengan perkembangan di desanya. Seiring berjalannya waktu, juga lahirnya ketiga adik Ulid, Tarmidi yang awalnya tidak akan pergi ke Malaysia, mengingkari janjinya. Sebelumnya, Ulid sudah dibuat kesal karena tidak dibelikan sepeda, tetapi malah harus memelihara kambing. Ketika sudah mencintai kambingnya, ia harus merelakan kambing itu dijual untuk membiayai keberangkatan Tarmidi ke Malaysia (hlm. 168).
Tidak hanya sampai di situ, ketika hampir lulus SMA, Ulid yang berniat ingin kembali mengelola bahkan meneliti bengkuang, harus mengubur impiannya. Ayahnya tertangkap polisi, yang akhirnya dipulangkan. Keuangan harus terus berputar, sehingga ibunya yang menggantikan ke Malaysia. Tak cukup sampai di situ, Ulid pun akhirnya juga pergi ke Malaysia.
Seperti dalam kata pengantarnya, Katrin Bandel menyebutkan bahwa pengalaman pertumbuhan emosional yang digambarkan lewat tokoh Ulid tidak jauh berbeda dengan anak kecil di mana pun. Misalnya tentang kekesalan Ulid kepada Kaswati—ibunya, karena mencabut baterai sehingga ia tidak bisa mendengarkan sandiwara radio. Ini yang membuat Ulid mengambil keputusan kabur dari rumah (hlm. 85). Selain itu juga pengalaman sewaktu diejek berpacaran dengan salah satu teman perempuan di sekolah (hlm. 99), bahkan perasaan kesal karena waktu bermain yang diganggu oleh adik yang masih kecil (hlm. 131).
Pada akhirnya, Lerok pun berubah wajah, lebih modern. Namun, di dalam rumah yang dibangun megah, masjid yang berubah lebih indah, terdapat banyak kekosongan. Orang-orang Lerok tidak lagi menghuni desa tersebut.
Membaca novel ini, saya jadi mengikuti perkembangan Ulid dari ia kecil sampai lulus SMA. Ceritanya pun sungguh mengalir sehingga saya tidak bosan dan terus penasaran tentang yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, karena mengambil latar tempat di pedesaan kecil bernama Lerok, saya jadi teringat tempat tinggal mendiang nenek saya yang juga berada di salah satu desa di Jawa Timur. Lebih lanjut, bisa dibaca ulasan singkatnya di sini: https://www.agungwicaks.com/2023/05/u...