Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ganti Hati

Rate this book
Ini adalah sebuah kisah tentang kemenangan semangat manusia; tentang penghargaan atas kehidupan yang dikisahkan oleh seseorang yang menyelamatkan hidupnya dengan hatinya, pandangan hidupnya, rasa cintanya, agamanya, tidak sebagai seorang suci tetapi sebagai manusia biasa seperti kita semua dalam sisi harkatnya, dengan pahit dan manisnya kehidupan; kesedihan dan kegembiraan serta beragam bumbunya…

Dua belas bulan terakhir merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Saya mendampingi seorang sahabat yang hebat dalam pertarungan hidupnya; berbagai setiap momen atas rasa sakit dan penderitaannya tetapi kami berdua tidak pernah kehilangan rasa kagum pada kehidupan dan alam; keindahan lanskap serta pemandangan Indonesia dan Tiongkok hingga koridor-koridor gelap berbagai rumah sakit di kota-kota kecil yang jauh di ujung-ujung negeri tengah itu. Waktu beberapa bulan itu seperti seumur hidup rasanya bagi kami di saat kami berpacu dengan waktu untuk mencari solusi ideal bagi keadaan kesehatannya; waktu yang tidak berpihak pada kami karena sirosis yang semakin parah setiap harinya…dan bila tidak dirawat akan membawanya ke kematian.

328 pages, Paperback

First published January 1, 2008

46 people are currently reading
437 people want to read

About the author

Dahlan Iskan

15 books73 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
148 (34%)
4 stars
175 (40%)
3 stars
83 (19%)
2 stars
18 (4%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 51 reviews
Author 15 books73 followers
September 20, 2008
saya hanya ingin berterima kasih atas penerimaan buku Ganti Hati saya. Dalam 9 bulan ini sudah dicetak ulang 9 kali.
sekarang saya lagi di Guiyang setelah kembali dari Kamboja, India dan Macau. Saya masih akan ke Xian dan kemudian lebaran di Tianjin, sambil melakukan pengecekan (check up) hati baru saya, setelah tepat setahun ganti hati. Tahun lalu saya juga lebaran di Tianjin, saat baru saja operasi.
Rasanya tidak ada masalah sama sekali. Saya merasa sangat sehat dan bisa melakukan perjalanan ke mana-mana tanpa hambatan.
Saya sangat senang mengikuti blog ini, bisa mengikuti jalan pikiran teman-teman yang sangat beragam dan kritis.
terima kasih pada pengelola blog ini. Siapa sih, namanya?
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
August 16, 2008
Buku ini adalah kompilasi tulisan yang dimuat secara bersambung di koran Jawa Pos dan jaringannya, di mana pemegang saham mayoritasnya ya Pak Dahlan Iskan ini sendiri. Inti ceritanya adalah hari-hari menjelang dan setelah menjalankan transplantasi liver di Tianjin, Cina. Namun buku ini juga menyisipkan memori hidup seorang raja media atas masa kecilnya yang miskin, dan juga berbagai pandangan pribadinya atas persoalan bangsa ini.

Cara dan bahasa yang dipakai sederhana dan karenanya begitu mudah mengalir dan dimengerti oleh semua kalangan. Tuturannya juga jenaka, termasuk saat menggambarkan kekhawatiran akan liver barunya yang harus beradaptasi dalam rongga perutnya.

Memoar yang bagus. Artinya, bisa membuat pembaca membuat refleksi, baik tentang hidupnya sendiri maupun diri penulis buku ini. Bukankah itu sebaiknya yang dicapai oleh penulis kisah kehidupan?
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
July 2, 2012
600 - 2012

Subjudul buku ini kayaknya kurang pas, bisa bikin salah paham buat mereka yang belum pernah tahu atau baca cerita bersambung Pak Dahlan Iskan tentang operasi ganti livernya di harian Jawa Pos. Yang mengharapkan tulisan dengan tema tantangan yang dihadapi beliau setelah ganti jabatan dari Dirut PLN ke Meneg BUMN pasti merasa kecele. Ada sekilas sih, itu pun di bagian pengantar yang cuma beberapa halaman.

Di luar subjudul yang misleading itu, buku ini enak dibaca, mengalir begitu saja, dan tahu-tahu habis.

Pilih Jaguar dan Mercy, atau pilih sehat?
Profile Image for Alwin.
16 reviews2 followers
December 25, 2022
Buku ini mengkisahkan semangat seorang Dahlan iskan menyelamatkan hidupnya dengan penggantian hati. Serta pandangan hidupnya ,rasa cintanya ,agamanya, bukan sebagai orang suci tetapi semangat dan kerja kerasnya mampu bangkit dari kemiskinan dan doronngan niat yang mulia kekayaan membuntutinya hingga akhirnya pernah menjabat Direktur utama Pln dan mentri Bumn dan sebagai orang biasa seperti kita semua dalam sisi harkatnya dengan pahitnya dan manisnya kehidupan , Kesedihan dan kegembiraan .dan tidak terlepas dari dukungan keluarga terdekat dan kerabatnya pasca menjalani oprasi transplantasi hati dirumah sakit tiongkok sampai proses penyembuhan .dalam esensi buku ini dapat disimpulkan menjaga kesehatan,kerja keras, berbagi kesesama dan terus berkarya.
Profile Image for Muhammad Khoirul Wafa.
47 reviews
May 4, 2020
Baca buku pak Dahlan Iskan yang berjudul "Ganti Hati" agak ngeri-ngeri sedap. Terlebih judul bukunya bukan semata majas yang sarat makna hiperbolik atau metaforik. Judul itu memang kata sebenarnya. Bahasa yang lebih mudah dimengerti daripada istilah transplantasi.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman beliau ketika menjalani transplantasi hati di kota Tianjin China. Dan setelah buku ini terbit, seingat saya buku ini menjadi semacam "bacaan wajib" bagi pasien yang akan menjalani proses transplantasi di rumah sakit Tianjin tersebut. Bahkan versi bahasa Mandarin nya sudah tersedia. Hitung-hitung berbagi pengalaman. Berbagi semangat. Tapi bahkan buku ini tidak pernah terbersit masuk dalam daftar tunggu buku yang ingin saya baca tahun ini. Meskipun punya buku ini sudah lama, namun dulu mau membuka sampul plastiknya saja masih sungkan.

Di Indonesia, istilah transplantasi memang agak tabu. Agak menyeramkan. Karena memang belum jamak. Tidak seperti penyakit stroke yang oleh seorang yang sempat saya ajak ngobrol sudah dianggap sebagai penyakit "pasaran". Sudah seperti masuk angin saja. Dan orang tidak lagi gumun kalau ada tetangga atau kerabat yang terkena penyakit tersebut. Beda sekali dengan waktu saya kecil. Dimana hal semacam itu bisa jadi pembicaraan hangat. Bahan ngrumpi di teras rumah, sambil metani.

Adalah nasihat baik. Bahwa sesibuk apapun, harus tetap peduli pada kesehatan. Peduli pada diri sendiri. Sehebat apapun orang bisa mengatur negara, atau membesarkan sebuah perusahaan menjadi demikian merajalela, orang juga punya tugas kecil. Mengurus diri sendiri. Hal kecil yang kadang terbalik, bisa mengelola kerajaan bisnis raksasa, tapi tidak memperhatikan raga sendiri. Atau terlalu memperhatikan badan hingga tak melakukan hal apapun yang berguna untuk nusa bangsa. Istirahatlah sesekali, agar jika nanti butuh benar-benar istirahat, istirahatmu tak terlalu lama. Atau bahkan ... Ups,

Banyak pengetahuan penting tentang fakta kesehatan. Rasanya tangan ingin menulis banyak sekali. Setelah membaca tulisan itu. Tapi sedikit ditahan. Kan saya bukan pakar kesehatan. Janganlah nantinya terjebak pada pemahaman satu sisi. Walaupun dari sumber terpercaya. Baru baca satu referensi, perasaan sudah merasa menjadi seperti seorang ahli saja.

Pak Dahlan Iskan menuliskan dua pengalaman pribadi beliau tentang dua kali operasi besarnya dengan begitu detil. Beliau memang sempat dua kali operasi besar. Dengan dua sakit berbeda. Pertama, operasi pengangkatan liver, sekaligus proses transplantasinya. Kedua operasi pemasangan stent, atau orang awam menyebutnya ring. Bukan ring jantung, tapi ring yang dipasang di pembuluh darah. Kurang lebih intinya sama. Meskipun sebenarnya jauh berbeda. Tapi ini agak lebih "mengerikan". Karena stent yang dipasang sekitar setengah meter. Selang fiber yang super kokoh dan bertahan permanen. Tentu saja karena fiber lebih kuat dari baja. Kalau orang biasa pasang ring jantung jumlahnya satu, dua tiga, lima atau berapa. Tapi ini ibarat memasang 570 ring. Bergidik rasanya membaca hal itu. Membaca itu jadi merasa amat bersyukur. Pemberian Yang Kuasa memang yang terbaik. Pembuluh darah, walau nampak tak sekuat fiber buatan manusia, tapi bisa bertahan sampai berpuluh puluh tahun lamanya. Tergantung usia manusia. Dan pembuluh darah pemberian Yang Kuasa tidak butuh perawatan ekstra. Beda dengan stent atau ring. Yang pemakainya dilarang mengkonsumsi makanan tertentu, berlemak misalnya. Agar tidak terjadi penyumbatan yang tidak diinginkan. Kalau sampai ada lapisan lemak yang menggumpal di ring dan terlepas, bisa menyumbat aliran pembuluh darah. Dan berakibat penyakit stroke. Jantung buatan, baterainya bisa habis dalam sekian tahun. Dan sekian tahun harus diganti. Tapi jantung asli pemberian Yang Kuasa bisa bertahan bahkan satu abad lamanya. Terus berdenyut selama seratus tahun tanpa berhenti sedetikpun. Alangkah hebatnya. Alangkah besarnya anugerah Yang Kuasa.

Hal-hal kecil dan sederhana sampai sempat beliau tulis. Begitu mencirikan khas wartawan senior. Khas penulis sejati. Yang bisa "darah tinggi" jika punya tulisan bagus tapi gak ditulis. Bisa pusing dan galau tanpa sebab ketika ide yang sudah meluap-luap tidak dilampiaskan. Bisa masuk angin saat seminggu saja tidak melihat komputer atau buku. Ibarat orang cerewet kok disuruh diam, disuruh jangan bicara sama sekali. Sehari mungkin bisa. Tapi seminggu tidak boleh mengucapkan sepatah kata pun? Pasti gak akan betah. Meronta-ronta sejadi-jadinya. Satu khas tulisan beliau, kalimatnya pendek. Tulisan yang begitu lengkap seolah-olah membuat pembaca terbawa suasana, dan merasakan sendiri bagaimana kengeriannya.

Dan zaman sudah berganti. Fakta menyajikan itu. Bagaimana teknologi transplantasi sudah demikian maju, tapi donor organ sangat terbatas. Dunia medis memiliki devisit donor organ. Di negara maju yang sudah mampu melakukan transplantasi, antrian untuk mendapatkan donor organ bisa bertahun-tahun. Lima sampai sepuluh tahun di Australia dan Amerika. Itu sebelum tahun 2010. Sekarang? Jangan tanya. Ini menjadi semacam kenyataan yang harus dihadapi. Lebih-lebih dalam konteks orang muslim, masih pro kontra apakah boleh donor organ? Kalau ginjal atau hati, bisa separuh. Artinya pendonor masih ada kesempatan hidup. Terlebih donor liver. Liver yang didonorkan bisa tumbuh lagi. Artinya meskipun separuh liver dipotong untuk didonorkan, sekitar tiga bulan kemudian liver bisa kembali utuh seperti sediakala. Dan penerima donor juga livernya bisa tumbuh. Bisa utuh, meskipun cuma mendapatkan donor separuh saja. Tapi kalau donor jantung, harus satu dan utuh. Artinya pendonor harus mati. Atau harus dari orang yang sudah mati. Ini masalah.

Beliau mengakui sakitnya disebabkan banyak faktor. Salah satunya, selain awamnya pengetahuan tentang imunisasi saat masih bayi, juga disebabkan karena aktivitas yang luar biasa padat. Aktivitas yang nyaris tanpa henti sehingga melemahkan sistem pertahanan tubuh beliau sendiri. Dulu, beliau ini biasa kerja mulai pagi hingga lewat dini hari. Tujuh hari seminggu. Tiga puluh hari sebulan. 360 hari setahun. Nyaris tanpa libur selama lima belas tahun. Usaha keras membesarkan Jawa Pos yang nyaris bangkrut. Hingga punya jaringan sebesar ini. Di seluruh Indonesia. Punya percetakan. Punya televisi. Dan lain-lain. Sebenarnya tubuh punya sistem pertahanan tubuh yang alami. Lagi-lagi hebatnya anugerah Yang Kuasa. Tubuh bisa menyembuhkan diri sendiri. Itulah, kenapa dalam beberapa kasus penyakit menular yang belum ditemukan obatnya, seperti virus Corona atau SARS dulu itu, cara terbaik adalah karantina. Biarkan sistem imun melawan virus tersebut secara alami. Yang perlu ditingkatkan adalah kekuatan badan. Badan dijaga tetap fit dengan beragam asupan gizi dan nutrisi. Oleh sebab itu, dulu saat awal teknologi transplantasi baru ditemukan, masalah besar yang dihadapi adalah bagaimana melawan sistem imun tubuh sendiri. Organ baru yang didonorkan seperti hati, atau ginjal akan dianggap benda asing oleh tubuh. Dan tidak akan menjadi masalah jika tubuh menolak organ baru itu. Menyerangnya. Tapi sekarang teknologi sudah kian maju. Setidaknya pengetahuan semacam itu menjawab rasa penasaran saya kenapa orang desa dulu bisa berumur panjang dan sehat sampai tua. Sedangkan orang kota, meskipun menjaga kesehatan dengan berbagai macam cara malah rentan sakit. Pikiran manusia memang sering terlalu was-was dan khawatir akan hal yang tak perlu. Apa yang diberikan oleh Yang Kuasa sudah yang terbaik dan terhebat.

Terakhir, tulisan ini saya tutup dengan sedikit kutipan dari halaman-halaman akhir buku tersebut. "Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Tapi, juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70.000 memang mahal. Tapi, apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini?
Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal.
Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu.
Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
November 23, 2011
Kisah nyata yang menyentuh, menghibur sekaligus mendidik. Uraiannya jelas dan menunjukkan wawasan yang luas. Memberikan pelajaran tentang bagaimana hidup yang harus dipilih, antara menjadi sehat atau sakit, menjadi sukses atau gagal, rendah hati atau rendah diri.

Sangat memuaskan pembaca, meskipun yang tahu tentang kesehatan sekalipun. Karena meski digambarkan dalam bahasa sederhana ala orang awam, tapi tepat dan tidak rancu.

Kesederhanaan dan kerendahan hati yang khas.
Profile Image for Itja.
195 reviews48 followers
May 9, 2013
"Hidup itu seperti air mengalir saja. Tapi, kalau bisa mengalir yang deras. Batu pun kadang bisa menggelundung , kalah dengan air yang deras. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Hidupnya lebih fleksible. Karena tidak punya cita-cita, kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar, ia akan membelok. Tapi, kalau orang berpegang teguh pada cita-cita, bertemu batu pun akan ditabrak. Iya kalau batunya yang nggelundung, lha kalau kepalanya yang pecah gimana?"
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
July 1, 2023
Nggak kerasa ya, 16 tahun sudah Dahlan Iskan melakukan transplantasi liver/hati. Dulu, pemberitaannya lumayan masif. Catatan "perjalanan" beliau dalam melaksanakan pengobatan pun beberapa kali pernah saya baca di harian Sumatra Ekspress (grup Jawa Pos). Namun, baru sekarang saya berkesempatan membaca tulisannya secara utuh dan lengkap dalam sebuah buku.

Pak Dahlan Iskan memang penulis yang andal. Saya suka dengan gaya menulisnya yang apa adanya, dengan bahasa yang lugas dan efektif. Walaupun di buku ini dibuat maju mundur timelinenya, namun sebagai pembaca saya sama sekali tak kesulitan.

Pembahasan sangat lengkap. Di mulai dari kenapa beliau bisa terkena penyakit hati yang sangat parah. Rupanya penyebabnya "sepeleh" yakni dulu tidak imunisasi dengan lengkap. Ya, dulu pemahaman orang tua beliau nggak sampai ke sana. Dahlan Iskan lahir dari keluarga yang sangat miskin. Ibaratnya boro-boro mikirin imunisasi, makan aja susah.

Lalu proses pencarian donor, pemilihan rumah sakit (yang dengan berbagai pertimbangan lantas memilih RS yang ada di Tiongkok). Keresahan keluarga terutama istri yang takut Dahlan meninggal dalam kondisi wajah menghitam sebab sebelumnya ada tokoh nasional yang meninggal pasca transplantasi hati dan wajahnya pun menghitam.

Rupanya ada peran serta dari seorang ulama yang juga yang bilang wajah si tokoh nasional ini menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya.

"Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan." Hal.161.

Tak hanya soal proses pengobatan di Tiongkok dan juga di Singapura, di buku ini Dahlan juga secara nggak langsung menceritakan kesibukannya sebagai petinggi Jawa Pos dan upayanya dalam membantu pembangunan daerah terpencil (terutama mengenai kelistrikan, tak heran jika kemudian di 2011 ia ditunjuk oleh SBY sebagai dirut PLN).

Cara kepimpinan beliau yang sederhana juga saya suka. Misalnya saja, ia melarang semua ruang pimpinan di Jawa Pos Group diberikan toilet. Tujuannya? biar pimpinan tertinggi di sana pun merasakan dan dapat melihat langsung fasilitas yang dipakai oleh bawahannya. Ibaratnya ya bisa kontrol langsung kebersihannya dan apa yang perlu dibenahi.

Hmm apa lagi ya yang dapat saya ceritakan dari buku ini? yang jelas bukunya bagus banget! Bagi yang penasaran berapa biaya transplantasi beliau? yakni 3 miliar, setara mobil mercy yang ia punya. (banyak ya uang dirut surat kabar itu ^^)

Yang menarik, ternyata biaya transplantasinya ya gak sebesar itu. 3 miliar itu lebih banyak kepake untuk bolak balik ke Tiongkok beliau dan keluarga, lalu sewa apartemen, beli mobil (untuk operasional selama di Tiongkok), menyewa sopir dan bayar mahasiswa untuk memperlancar bahasa Mandarin (Dahlan sendiri bisa berbahasa Mandarin dengan baik sejak lama).

Menarik buku ini. Bikin bergidik ngeri juga di beberapa bagian dan bikin nyadar kalau harus jaga kesehatan sebab kesehatan itu luar biasa mahalnya.

Skor 8,7/10
Profile Image for Anggita Wibowo.
4 reviews
January 2, 2017
Cerita Dahlan tentang proses operasi transplantasi hatinya sangat keren. Keren dalam atria cerita dan teknik penulisan. Ceritanya sangat informatif, éducatif, namun masih mengandung unsur humor yang tidak membuat pembaca sepaneng dengan kata-kata medis yang mumetke. Di sini, Dahlan huga sengaja mengekspos kemampuannya mendeskripsikan kejadian lewat tulisan. Bagaimana kamar rumah sakitnya, ruang operasinya, dan perasaannya sebelum dan sesudah operasi dideskripsikan dennen detail dan seperlunya. Bahkan, cerita-cerita Dahlan tentang penyakit ini, yang seharusnya jadi lebay (karens Indonesia kan Raja Drama), huga diceritakan seperlunya, namun ketika ceritanya sedih, pembaca bisa merasakan kesedihan Dahlan lewat karakter cueknya dan dibalik ke'diam'an istrinya. Ketika senang pun, ceritanya tidak berlebihan. Cucok.
Saya pribadi juga merasakan kritik Dahlan terhadap kaum Islam fundamentalis, walaupun dia juge bercerita tentang aliran agamanya di sini, yang juga agama Islam, namun Dahlan juga mengritik orang-orang yang terlalu berpikiran 'ghaib'. Orang-orang tsb berpikiran penyakit datang bukan karena pola makan yang tidak sehat ataupun pola hidup yang kurag olahraga, tapi karena dosanya ke Tuhan. Dalam menyikapi orang-orang series seperti ini pun, cara Dahlan unik. Dijawab guyon. Bagus deh, hanya saja kadang kebablasan, jadi terlihat agak sekuler.
Anyway, good job seperti biasa Pak Dahlan, ndak heran.
Profile Image for Mr Fandi.
20 reviews2 followers
October 4, 2018
Terbitan Gramedia Pustaka
Penulis : Dahlan Iskan

Buku ini sebuah perjalanan dari seorang dahlan Iskan dalam bertahan dan survive dengan penyakit yang dihadapinya dalam kehidupannya dengan segala rutinitas kegiatan sebagai kepala Direktur PT. PLN Indonesia dan sekaligus menjabat sebagai Menteri BUMN yang masa Presiden SBY.

banyak hal dan pengalaman yan g harus dihdapi beliau hingga menuju sehat sampai detik ini, dengan berbagai cobaan yang harus dilaluinya seperti mencari seorang pendonor hati yang cocok dengan tubuhnya dari berkunjung singapura hingga didapatnya di negeri tirai bambu CHINA.

perjuangan beliau tidak sampai disitu karena banyak hal-hal yang terjadi diluar perkiraan beliau dan keluarga, sehingga membutuhkan pemikiran dewasa dalam memutuskan segaloa hal tersebut untuk memulihkan kondisi nya seperti sedia kala.

beliau orang tegar dan kuat dalam menghadapi berbagia cobaan dan tantangan yang ada didalam kehidupannya, namun segala keputusan yang diambil pasti ia melibatkan keluarga dan Tuhan sebagai penciptanya dan maha segalanya.

perjalanan yang baik untuk diikuti oleh para pembaca yang budiman, karena banyak hal yang kita ketahui tentang dunia kesehatan terutama mengenai hal penyakit hati (Liver). banyak informasi yang kita peroleh untuk menambah wawasan dan pemikiran, perjalanan ini pun membawa kita belajar bagaimana menghadapi
Profile Image for Ilham Rusdiana.
157 reviews1 follower
June 22, 2017
Ganti Hati adalah catatan Dahlan Iskan ketika menjalani pengobatan transplantasi liver di Tiongkok. Semua artikel dalam buku ini pernah dimuat di harian Jawa Pos secara berseri. Aku menyukai tulisan beliau di buku ini karena lugas, tidak mendramatisir, dan kadang meyelipkan humor-humor khas beliau.
Profile Image for Rian Irawan.
4 reviews137 followers
February 1, 2018
Saya rating 5 karena saya juga bisa merasakan sebagian apa yang pak DI rasakan
Profile Image for Ulin Nuha.
18 reviews1 follower
April 25, 2019
Sebuah pengalaman yang disuguhkan dengan penuh inspiratif.
1 review
Currently reading
February 12, 2020
belom baca
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Munthe.
17 reviews
August 14, 2024
Seperti biasa, tulisan dahlan iskan sangat mengalir, ringan tetapi tetap memberikan inspirasi
Profile Image for Triningsih Widodo.
6 reviews
November 23, 2013
Membaca buku Pak Dahlan Iskan kali ini seperti mendapat Paket Lengkap; KOMPLIT! Ini buku ke Dua Tulisan pak Is setelah Dua Tangis Ribuan Tawa yg saya Baca. It's Wonderful! Istilah2 medis yg rumit bisa diterjemahkan sedemikian rupa sehingga orang awam pun dapat memahaminya dg baik. Sikap pak Is dalam "Menghayati Penderitaannya" juga patut mendapat acungan Jempol, seperti biasanya beliau orang yang "Blak-Blakan" tanpa tedeng aling2 mengungkapkan penyakitnya dan perjalanan pengobatannya, banyak hal bisa dipetik; dari yang Menginspirasi, mawas diri sampai berani mengakui kesalahan dan keteledoran diri sendiri.
Semoga dengan buku ini akan banyak orang yang terinspirasi untuk menjaga kesehatan dan tidak menganggap remeh setiap gejala penyakit yang dirasakan, pepatah yang mengatakan bahwa Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati rasanya perlu untuk lebih di Hayati.
Doa saya Semoga Pak IS senantiasa diberi Kesehatan dan Kegembiraan selalu serta diberi Kekuatan dan Kesabaran dalam menjalankan tugasnya sebagai Bapak Menteri. Amin.
Profile Image for Mega.
7 reviews11 followers
August 12, 2013
Berawal dari buku yang dipinjam dari Ayah inilah saya mulai mengenal lebih dalam pemikiran2 Pak Dahlan Iskan. Sebagai seorang yang asing dengan urusan BUMN, seharusnya saya sudah mengerutkan dahi saat membaca buku jenis seperti ini.Tapi sebaliknya, saat membaca buku ini, saya justru menikmati, sesekali tersenyum sendiri sambil mencoba menempatkan diri diberbagai tempat dalam tiap sekuen yang di"ceritakan" oleh Pak Dahlan. Sesuatu yang cukup "berat" dibawakannya dengan cara santai sehingga terasa ringan saja membacanya.
Profile Image for Nanik Nur'aini.
515 reviews10 followers
October 31, 2019
My uncle also has sirosis but unluckily didn’t survived, instead he has someplace somewhere in FK UGM as a human cadaver, hoping that someday they (the doctors) will find a way to cure sirosis and patients with sirosis would no longer suffer like him. Through this book, thanks for letting me know that a donor (any kind of it) is still very rarely in Indonesia but very common in another country and being a donor also means giving a life for other people.
Profile Image for rosita rini.
6 reviews
July 12, 2008
Buku ini sebenarnya kumpulan tulisan Dahlan Iskan mengenai diri dan perjalanan Operasi ganti hantinya yang kemudian di terbitkan di Network Group Jawa Pos di seluruh Indonesia, kemudian di jilid, di bubuhi beberapa foto dan beberapa tanggapan pembaca seluruh Indonesia mengenai tulisan itu sendiri. Tapi gaya berceritanya yang malah menjadikan buku ini menarik dan inspiratif.
Profile Image for Millie Huang.
Author 6 books18 followers
October 2, 2008
Sebenarnya saya sudah baca artikelnya yang bersambung di Jawapos, namun ketika ditawarin gratis oleh pihak Jawapos karena meneruskan berlangganan saya sih seneng-senenga aja.

Saya salut dengan Pak Dahlan atas kemauan untuk hidupnya yang keras baik dalam perjalanan panjang selama masa-masa menanti hingga berjalan dan berhasilnya operasi.
Profile Image for Tata.
1 review61 followers
December 25, 2012
Tulisan pak Dahlan ini membuat saya larut dalam berbagai peristiwa yang telah dipaparkan. Alur ceritanya runtut, dengan bahasa yang ringan mudah dipahami. Banyak sekali pelajaran dan pengetahuan yang saya peroleh dari buku ini. Hal yang paling berkesan dari tulisan di buku ini adalah tentang mengintensifkan umur..
Profile Image for Harning.
15 reviews1 follower
April 9, 2013
Terkejut dengan judulnya, penasaran baca(lagi hehehe). bertutur kisah pak dahlan ketika cangkok hati di tiongkok. jujur, apaadanya. Menggerakkan saya untuk merenungi pentingnya gaya hidup sehat, mencari kesehatan tidak mudah harus dijaga. Pak Dahlan disini berkisah sekaligus menasehati kita untuk menjaga kesehatan Hati tanpa menggurui.
Profile Image for Tri Santoso.
2 reviews
March 12, 2016
Buku ini memberi pencerahan akan pentingnya menjaga kesehatan Liver (hati), tak perLu repot2 cari majalah kesehatan untuk mencari tahu tentang hepatitis. Pengalaman Pak DIS menjalani transplant hati di ramu runtut dan detail disini. Gaya tuLisannya khas koran & renyah-dengan jokes khasnya. Yang akhirnya meniadakan segmentasi bagi pembacanya.
Profile Image for Jiwa Rasa.
407 reviews58 followers
February 4, 2012
Kisah perjalanan hidup Pak Dahlan Iskan menghadapi penyakit sirosis dan kanser hati. Ianya berakhir dengan transplan hati. Kisahnya sungguh mendidik, menerang, menginsafkan dan memebri pengajran kepada mereka yang mahu menjalana operasi.
23 reviews
April 9, 2012
buku ini bagus...tentang pengalaman pak dahlan iskan ketika beliau menjalani oprasi transplantasi liver , dari 340an halaman di bukunya 120 halaman diantaranya adalah komentar pembaca dan foto2 beliau waktu oprasi di cina... pokoknya bukunya bagus..
Profile Image for Indah.
22 reviews
October 18, 2012
Pada saat muda orang berlomba-lomba mencari kekayaan, tetapi pada saat tua orang menghabiskan kekayaan untuk mencari kesehatan. Kaya bermanfaat, Miskin bermartabat.
Isi bukunya HEBAT pak..
Saya juga ingin menjadi orang yang hebat seperti pak Dahlan.
Hebat dalam semua ukuran naik surutnya Hidup :)
Profile Image for Edisty Friskanesya.
176 reviews19 followers
January 6, 2013
saya sebelumnya belum pernah mengenal tokoh dahlan Iskan,meski sebatas tulisannya saja. tapi setelah membaca buku ini..saya jadi mengerti kenapa banyak yang ngefans sama beliau,hehe.
inspiratif dan mengandung banyak hikmah :)
Displaying 1 - 30 of 51 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.