Genta seorang cowok yang bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan di Yogya. Suatu hari, perusahaannya pindah ke gedung baru. Di sanalah Genta mengalami banyak hal di luar nalar. Bukan hanya dia, melainkan semua yang bekerja di sana pernah mengalami hal yang sama.
Tanpa disangka, ada seorang perempuan Indigo yang tak sengaja datang ke kantornya. Dari penjelasan perempuan itu, Genta mengetahui misteri apa yang ada di bangunan itu. Dan, pertemuan dengan tiga orang yang belum dikenalnya membuka tabir keluarga tak kasatmata yang selama ini tinggal di kantornya.
Hi guys~ I would like to review the book that I was read. It is a novel that adapted from Kaskus and based on the true story. The novel entitled Keluarga Tak Kasat Mata. The title maybe familiar for you because it was a hot topic at that time and a movie with same title was adapted from this story.
Synopsis: This novel tells the story of Genta, a guy who works part time at a company in Jogjakarta. One day, his company moved to a new building. It was in this new place that Genta and his office colleagues experienced many things beyond reason. They are always bothered by ghosts that are there. Genta experienced strange things not only in the office. Then unexpectedly, there was an indigo woman who visited his office. Because of this woman, Genta understands the mysteries of the 'family' that inhabited the place and what happened before.
The novel is not much different from the one in Kaskus, the novel is a neater version of the story. If you like horror, you have to read this novel. It is classified into a novel that is not too thick because it has only 130 pages; including cover, the information of the writer, etc. In this novel there is also an office map so that the reader does not need to be confused with the locations told. Novel ‘Keluarga Tak Kasat Mata' is not only present the ghost stories but there are also moral values that can be taken.
Genta seorang cowok yang bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan di Yogya. Suatu hari, perusahaannya pindah ke gedung baru. Di sanalah Genta mengalami banyak hal di luar nalar. Bukan hanya dia, melainkan semua yang bekerja di sana pernah mengalami hal yang sama.
Gangguan-gangguan yang berasal dari 'mereka' membuat Genta dan kawan-kawan selalu memasang sikap waspada, adrenalin tak pernah berhenti selama mereka semua berada di dalam kantor. Munculnya sosok-sosok tak biasa ini membuat para pekerja mulai terbiasa akan kehadiran 'keluarga' lain yang menempati gedung itu.
Teror itu tak pernah berhenti. 'Mereka' selalu menunjukkan eksistensinya. Menebar kejahilan dimana-mana. Tak hanya di kantor, dalam perjalanan pulang pun Genta sering mengalami kejadian-kejadian yang tak masuk di nalar.
Namun, berkat semua keganjilan yang menimpanya, Genta mendapat kesempatan untuk menyelami lebih dalam dunia 'mereka'. Menyingkap tabir tentang masa lalu 'mereka'. Memutar waktu, untuk mendapatkan akhir kisah yang kita baca. Bertemu orang-orang yang tak pernah ia sangka untuk mengungkap sebuah kebenaran, dan menjadi jembatan penghubung lewat kisah yang ia ceritakan.
Well, tak banyak yang berubah dengan versi yang dibaca banyak orang di Kaskus. Saya kagum bagaimana sang editor merapikan isi naskah ini. Ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya-tanya saat membaca KTKM di Kaskus. Namun dalam bentuk novel, bagian-bagian itu sudah tersusun secara rapi, dan mudah dipahami.
Saya suka gaya bahasa nya yang ringan, namun tak mengurangi efek mengerikan yang ditimbulkan. Penjabaran setiap adegan, penggambaran tempat kejadian, dan 'penampakan-penampakan' mereka diceritakan dengan jelas membuat kita lebih mudah berimajinasi membayangkan betapa menegangkannya peristiwa-peristiwa ini. Singkat dan tak berbelit-belit.
Sejujurnya, saya kaget mendapati novel ini tak lebih dari 120 halaman. Saya pikir, masih banyak cerita dan pengalaman yang harusnya bisa dibagi di novel ini. Tapi mungkin begini lebih baik. Ada beberapa kisah yang memang seharusnya dibiarkan untuk tetap menjadi misteri.
Masih ada beberapa typo dan salah penyebutan nama di novel ini. Namun semuanya tak menganggu jalan cerita dan mungkin akan direvisi pada cetakan berikutnya.
Bagian-bagian menuju ending memang terasa sulit dicerna akal manusia, rumit untuk bisa membayangkan situasi cerita dan sedikit meragukan label 'kisah nyata' di bagian depan cover buku. Tapi, percaya atau tidak percaya itu urusan setiap pembaca. Yang jelas, Genta sudah menyampaikan apa yang harus disampaikan lewat buku ini.
Banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil. Cerita misteri tak selamanya berisi hantu. Keluarga Tak Kasat Mata terasa segar sebagai bacaan misteri. Saya sendiri percaya, bahwa kita sebagai manusia harus bisa menjaga sopan santun dan tidak mengusik hidup 'mereka' terlalu jauh. Menjaga segala perkataan dan perbuatan yang dapat menyinggung sesama manusia atau bahkan 'mereka'.
Cerita ini ditutup dengan sangat rapi. Dengan pesan moral yang masuk ke hati.
pertama kali baca novel horor, padahal nggak suka baca genre horor dan emank penakut.. :p awal baca dibikin merinding, sengaja baca pagi-pagi buta.. XD endingnya bikin lega dan nggak terlalu takut lagi.. :D
Sebenernya udah pernah baca cerita ini di Kaskus .. Tp cuma sampe Part 7 atau berapa gitu .. Pokonya ga sampai selesai-lah. Eh .. Pas dapet novel ini (secara ga sengaja karena pas order ga baca review ceritanya) seneeengnya ampuuun banget. Secara dulu penasaran banget ama akhir ceritanya.
Kalau ditanya takut atau nggak, saya takut soalnya saya ini orangnya parnoan dan jarang banget-banget baca cerita horror. Terus ini setting-nya kantor, kan jadi parno bayangin kantor sendiri. Keanehan-keanehan pas awal-awal tuh bikin pengen baca cepet saking seremnya.
Tapi lama-lama malah merasa, "Kok alurnya ke mana-mana ya?"
Yah mungkin karena ini kisah nyata jadi begitu(?)
Untuk ukuran buku setipis ini, mahal banget harganya. Untung saya minjem. Ini juga baca karena iseng, sedikit kepo dengan isinya.
Buku ini tipis, bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Desain sampul dan layout isi cukup menarik. Karena sudah biasa menemukan typo di sana sini dalam buku-buku keluaran penerbit ini, jadi sudah tidak aneh lagi sih...tapi tetap saja mengganggu keasyikan membaca.
Untuk ceritanya sendiri, di bagian awal cukup seru...tapi menjelang akhir, jadi terlalu drama dan terkesan terburu-buru diselesaikan. Katanya ini kisah nyata, tapi saya jadi sulit mempercayainya gara-gara penyelesaiannya seperti itu... Nyaris menurunkan rating jadi 2 bintang karena hal itu. Secara keseluruhan, agak kecewa sama buku ini, tapi tidak terlalu parah sampai ingin melemparnya ke dumpster.
Iseng baca untuk selingan dari novel-novel tebel (yang nggak kelar-kelar juga sampai sekarang #sedih). Awalnya nggak ngeh kalau ini ternyata kisah yang dulu pernah heboh di kaskus yang udah pernah saya baca. Serem sih memang di bab-bab awal. Hanya saja makin ke belakang saya jadi makin sulit percaya kalau ini berdasarkan kisah nyata. Entah karena otak ini yang terlalu berpikir logis jadi sulit menerima bagaimana kisah di buku ini berakhir, atau ya memang karena cara penulisannya aja yang jadi kurang serem makin ke belakang.
Penasaran sama buku ini karena lagi booming belakangan ini. Kesan pertama ngeliat buku ini adalah, harganya lumayan mahal tapi bukunya tipis banget.
Sebenernya ceritanya menarik, apalagi dari penampakan2 yang diceritakan dari awal. Cuma menurut gue sih makin ke belakang ceritanya makin nggak nyambung dan terkesan dipaksakan nyambung. Ada beberapa penampakan di awal yang sampe akhir juga nggak ketahuan dia itu sebenernya siapa. Walaupun masa lalu bangunannya udah terkuak.
Kesan setelah gue membaca buku ini sampai selesai adalah, "Ini udah? Endingnya gini doang?"
Tapi sekali lagi, memang ini cerita nyata (katanya penulis) jadi yang bisa dijelaskan ya, emang nyatanya kayak gini.
Yah, gue emang nggak ngikutin di Kaskus. Cuma denger dari temen-temen lagi heboh baca cerita yang rajin diunggah sama Mas Bona ini. Lalu akhirnya gue beli buku ini dan... teronggok begitu aja.
Yah, awalnya sih gue agak parno yah, secara gue baca malem-malem. Sebagai pembuka, gue meringis mulu ngebayangin teror makhluk tak kasatmata yang diceritain Genta.
Tapi lama kelamaan... kok melempem yah? Dan setelah selesai baca, gue cuma bisa mengembuskan napas. It's okay lah... :-D
cepet banget bacanya yaa... lumayan sih bukunya, agak serem juga ya karena memang lokasinya masih sama-sama di tanah Jawa, enggak begitu jauh juga. Dan suka sekali dengan endingnya, pelan-pelan disampaikan.
Jarang2 baca novel horor, giliran coba baca, novel ini ko bemeran serem ya..hee..baru di lembar belasan sdh berasa seremnya. Padahal sengaja bacanya pas nyantai dan pagi2..tp yg seru itu pnjelasan di chapter2 trakhir. Alasan kenapa semua hal tersebut terjadi. Nilai moralnya ok!
Agak spooky siy bacanya. Tapi alurnya jadi kurang jelas dan kurang nyambung. Endingnya agak ga sesuai sama ekspetasi siy. Tapi ini kan kisah nyata ya jadi memang tidak dibuat2.
Jadi awalnya, buku ini masuk daftar baca karena jadi Book of the Week pertama dalam Bibliobattle (dimana kamu berduel dengan buku andalan, dan bukan deck) di mata kuliah Bimbingan Minat Baca.
Sejujurnya, buku seperti ini bukan sesuatu yang akan menjadi favorit saya. Bukan karena saya takut horror, tapi karena buku ini populer (dan bahasanya juga populer, hehe).
Buku ini menceritakan kisah nyata penulis saat bekerja di kantor yang ternyata 'berpenghuni'. Di awal cerita, saya kira memang 'penghuni' kantor tersebut adalah sebenar-benarnya keluarga. Tapi dengan penggambaran yang menurut saya demikian berantakan, saya yakinkan bahwa 'keluarga' yang disebutkan di judul buku ini hanyalah 'sekumpulan makhluk yang tinggal bersama'. Mengikuti cara bertutur, saya rasa penulis telah berhasil dalam bercerita. Tapi tidak untuk seni mempermainkan perasaan pembaca. Sebab diksi yang digunakan jelas dan gamblang. Ketika sampai di bab akhir, ternyata akhir dari buku ini terkesan terburu-buru. Semua ceritanya belum selesai, misalnya, mengapa 'para penghuni' bisa sampai pada wujud demikian? Mengapa Langgeng juga jadi penghuni di tempat tersebut dengan jadi bayangan hitam monyet besar? (hlm. 84, paragraf 2). Pada kesimpulan, buku ini mencoba mengatakan bahwa perbuatan musrik akan berbalik menjadi karma. Dalam budaya Sunda sendiri, kegiatan pesugihan atau perjanjian dengan hal gaib (yaitu berguru atau percaya pada sesuatu yang dinilai gaib untuk mencapai tujuan tertentu secara instan) banyak diceritakan secara lisan maupun tulisan. Salah satunya dalam kumpulan carita pondok karangan Ahmad Bakri. Dalam buku tersebut dikisahkan orang-orang yang hidup dari pamunjungan berakhir tragis dan mengenaskan. Pamunjungan sendiri pada dasarnya adalah perjanjian dengan bangsa gaib untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan imbalan yang sesuai dengan ukuran tujuan tersebut. Apabila perjanjian tersebut tidak ditepati maka akan ada hukuman yang dijatuhkan. Nah, kepercayaan tersebutlah yang dijadikan pedoman dan petuah dari leluhur kita. Meskipun terdengar tidak logis, tapi isinya penuh dengan nasihat agar kita hidup makmur dan damai di dunia (dalam bahasa Sunda sendiri dikenal dengan istilah "pamali"). Hal ini sama dengan kesimpulan yang didapat dari buku ini. Sebagai penutup, kisah buku ini erat kaitannya dengan urban legend yang sangat khas sekali di Indonesia yang agama terdahulunya merupakan kepercayaan animisme dan dinamisme. Saya rasa meskipun zaman telah berkembang, bukan berarti memalingkan wajah dari hal-hal yang tak kasatmata. Sebab, bukankah Tuhan juga tak terlihat?
Sekian untuk review kali ini. Nantikan Book of the Week minggu depan ( ੭ ˙ᗜ˙ )੭
Keluarga Tak Kasat Mata menceritakan tentang pengalaman penulis bersinggungan dengan makhluk astral di tempatnya bekerja.
Awal saya tahu cerita ini tidak lain dan tidak bukan adalah dari thread twitter, akhirnya saya menyambangi laman kaskusnya untuk membaca dari sumber pertama. Sayang seribu sayang, pada saat itu lamannya sudah tidak bisa diakses lagi.
Jujur sih awal baca di thread itu sekujur tubuh saya merinding, saya dapat membayangkan dengan jelas semua makhluk yang ada di ceritanya. Saya semakin tertarik untuk membaca the whole story dari bukunya. Meskipun saya baru bisa baca di pertengahan 2022 ini hehe tapi tak terasa sama sekali. Selain karena ceritanya bikin bulu kuduk merinding, pun bukunya tidak terlalu tebal untuk saya.
Tapi, saya sangat menyayangkan alur cerita dari pertengahan sampai akhir buku yang menurut saya agak sedikit rancu dan loncat-loncat. Mungkin karena ini adalah pengalaman pribadi, tapi bagi saya sebagai pembaca agak sedikit membingungkan. Ceritanya pun terkesan terburu-buru dan deskripsi kejadian kurang menarik, jadi membuat saya bengong setelahnya. It feels like, "Loh udah gitu aja?"
Overall, cukup menyenangkan membacanya.. Apalagi dibaca di malam hari dalam kondisi lampu di matikan hehe.
Buku yang berkisah pengalaman nyata penulis tentang apa yang terjadi di dalam kantornya, pengalaman diluar nalar ini sangat membekas bagi penulis sehingga penulis ingin membaginya lewat tulisan. berkisah tentang teror di dalam sebuah rumah yang dijadikan kantor. Teror dari sebuah keluarga tak kasat mata yang juga menyisakan pesan tersendiri untuk dibaca bagi yang masih hidup. "sampaikanlah kepada yang masih hidup, janganlah mengikuti jalan kami. Ingin mendapatkan harta dengan cara instan tapi malah kehilangan keluarga", begitu pesannya.
Saat aku baca buku ini dari bab ke bab, ada rasa begidik, mungkin ini karena imajinasiku saja. Tapi di bab terakhir penulis berkata "saat membaca ini, mungkin 'mereka' ada di dekat kalian ikut membaca tulisan ini", pantesan bulu tangan pada berdiri. Tak perlu waktu lama membaca buku ini, tulisan yang apik membuat pengalaman membacaku lebih mengalir. Buku ini memang tidak terlalu tebal, namun rasa horror dan pesan utama dari buku ini tersampaikan telak dari awal hingga akhir.
This is Indonesian book that tell a ghost story, almost historical or gothic.
This is basically about a family of ghost, who suffering before they turned into a ghost by their own despair.
Genta, who is the writer and also the main chara, is really despretly wanted to know what is happening in their new office house. And there it is, How every needle starts to connect, why every ghost show up and why everything is so sad and connected.
What i can learned is that, İndonesia culture seems to be odd but, we believe that some people have an ability to help communicate us to sold our soul to devil (in order to achieve a crazy rich and instant money out of nowhere), and that's it. We can't achieve something without paying. Everything must done with a reason. And they do not deserved a very bad death due to their father who seek for a wealth. So irritating.
Ceritanya cukup menghibur walaupun tidak terkesan sperti suatu kesatuan cerita melainkan kumpulan cerita-cerita horror di kantor. Ada beberapa bagian yang terasa dilompati terlalu jauh seperti kemunculan grup 13-13-13 yang tiba-tiba tanpa ada pendahuluan yang jelas dan kemunculan sosok gaib (lupa namanya) yang mengirim penulis ke dimensi lain. Buku ini terkesan seperti sebuah diary yang tanpa akhir dan karena mau diterbitkan makanya harus ada akhir dan dikaranglah sebuah ending yang tidak jelas kaitannya dengan cerita sebelumnya. Kadang saya bertanya-tanya apakah penulis dan penerbit mungkin adalah kenalan lama atau sanak saudara sehingga tulisan dengan kualitas seperti ini bisa di terbitkan.
Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Sajian dalam buku ini berupa cerita-cerita pendek yang diangkat dari pengalaman yang dialami penulis sendiri. Bukunya juga cukup pendek hingga dapat dibaca dalam satu kali duduk. Gaya penulisannya menggunakan bahasa sehari-hari jadi cerita dapat dimenegrti dengan sangat mudah. Ceritanya sendiri sangat menarik, terlebih lagi bagian klimaksnya. Menurut saya pengalaman yang dialami penulis sangat berpotensi untuk menjadi cerita yang bagus. Hanya saja, cara penyampaian cerita lumayan membosankan. Kata-kata yang digunakan dapat dipilih lebih baik agar dapat membangun suasanya yang menakutkan sehingga bisa memberi reaksi yang lebih besar.
ok... buku ini buku horor pertama di tahun 2018, sebenernya udah ngikutin di kaskus, tp baru sempet baca full sekarang ceritanya kalo menurut gw semakin ke akhir semakin menurun karena bikin bingung, dan menurut gw tetep aja nggantung akhirnya, but maybe itu style authornya dengan menyisakan ending dgn rasa penasaran overall, mayan lah dibaca pas senggang karena dikit aja dan ga perlu mikir (kecuali buat endingnya)
Pertama kali baca di KasKus, bacanya waktu itu hanya pas pagi karena berasa serem banget. Setelah baca versi bukunya masih serem tapi agak kecewa dengan bagian-bagian akhirnya, seperti kita dibawa dari situasi horor ke situasi fantasi. Mungkin karena penulis tidak tau bagaimana mengakhiri cerita ini, jadi dibuatlah versi tersendiri. Entahlah.
Jujur awalnya aku kira buku ini isinya cerita karangan, karna seeeehoror itu. Dan ternyata kisah nyata. Kok masih ada yang berani bertahan lembur di kantor badahal sejak hari pertama pindah udah ga beres? Ngeri banget. Awalnya seru aja baca kumpulan cerita horor si Genta, tapi pas bagian akhir muncul pasukan 13-13-13 yang mau ngungkap cerita di balik seramnya kantor itu yang menurutku agak maksa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kesekian kalinya baca novel horror, krn emang nggak begitu suka novel horror but this one is so recommended! Baca ini krn penasaran bakal di filmin dan tadaaa! Lumayan lah plot nya, sukses banget bikin parno tengah malem 😂
Mungkin karena gue pernah baca threads yang booming duluan pas dikaskus jadi udah cukup paham tekukan ceritanya gimana. Apalagi waktu baca thread tuh bener2 disuguhin soundtrack yang pas sama agan genta, sehingga makin mendukung creepy creepy nya. Overall oke sih~
Hmm. Lumayan merinding sih. Tapi kayak ga ada kesatuan cerita. Memang ada cerita tentang asal muasal 'mereka'. Sayangnya itu ga membantu keutuhan cerita menurut saya. Tiap bab kayak punya cerita sendiri-sendiri aja gitu.
cerita yang membuat bulu kuduk merinding. apalagi saat baca sendirian di kamar, lumayan mengerikan. hanya saja saya merasa ada kejanggalan yang lumayan aneh.