Traveling di Afrika artinya harus siap menahan emosi dan bersikap low profile. Kita tidak bisa seenaknya berkeliaran di sebuah kota di Afrika sambil menenteng gadget keluaran terbaru yang mahal. Pandangan warga sekitar yang penuh selidik dan buas akan mengikuti ke mana pun kita pergi tanpa kita ketahui. Risiko dirampok dan mungkin terbunuh bukanlah hal yang mustahil terjadi. Cerita perampokan yang dilakukan oleh “teman” orang lokal yang baru kita kenal adalah cerita klise di Afrika.
Di kepala mereka, msungu (orang asing) adalah orang kaya. Mereka juga dengan mudah menawarkan bantuan tanpa diminta dan terkadang dengan penuh paksaan tentunya dengan imbalan yang tidak sedikit sebagai balas "jasa". Belum lagi tipu menipu soal harga, gangguan para calo yang sangat keras kepala, pelayanan yang sangat tidak memuaskan dalam hal apa saja, keterlambatan waktu yang sangat parah, dan sebagainya.
Semuanya bisa membuatku menjadi sangat emosional, tapi kemudian aku sadar bahwa orang-orang Afrika ini hanya berusaha sedikit “kreatif” untuk mempertahankan hidup mereka yang sudah sangat sulit. Semua kesulitan yang dihadapi cukup dibalas dengan celetukan, “TIA....This is Africa!”
Kisah-kisah dalam buku ini adalah catatan perjalananku saat menjelajahi Mesir, Tanzania, dan Malawi.
Read more: http://www.pengenbuku.net/2015/07/thi... Follow us: @pengenbuku on Twitter | pengenbuku on Facebook
Cerita-cerita dalam buku sangat menarik. Masih jarang traveler Indonesia yang bertualang ke Afrika. Kagum juga dengan penulis yang berani ke sana sendirian. Perjalanannya juga dilakukan di era teknologi belum sememudahkan sekarang. Terlihat di beberapa perjalanan penulis harus menengok peta, bukan Google Maps.
Makin tahu situasi dan kondisi di negara-negara yang dikunjungi oleh penulis, makin merasa beliau keren. Dengan kondisi banyaknya warga lokal yang sedikit-sedikit minta uang dan kriminalitas masih tinggi, penulis santai saja mengeksplorasi dengan menaiki kendaraan umum. Sayangnya yang dibahas dalam buku hanya tiga negara di benua Afrika, yaitu Mesir, Tanzania, dan Malawi. Meskipun begitu, buku ini cukup tebal dengan masing-masing pengalaman yang dibagi tidak membosankan. Ada yang menegangkan, lucu, hingga romansa. Saya sampai cari info apakah penulis memiliki buku lanjutan yang membahas negara-negara lainnya yang dia kunjungi.
Saat membaca buku ini, saya agak terganggu dengan cara penulis menggambarkan traveler perempuan. Sedikit-sedikit berkomentar cantik bahkan seksi. Ada bagian si penulis mengharapkan agar lebih banyak traveler perempuan yang berdandan cantik, membandingkan traveler perempuan kebanyakan yang terlalu kasual. Memang pendapat pribadi ya. Hanya saja dengan latar belakang penulis yang pergaulannya luas dan pemikirannya terbuka kok masih terkesan memandang perempuan sebagai objek.
Secara keseluruhan buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Saya tetap menunggu kelanjutan buku dari penulis. Tidak harus di tanah Afrika, di benua lain pun saya penasaran membaca petualangannya.
Awalnya sempat skeptis sama buku ini, karena kebetulan dapat dari sale harbolnas . Ternyata saya salah , justru buku ini sangat menghibur melalui penceritaan yang ringan dan mengalir dari satu bab ke bab lainnya. Humor nya juga menyenangkan, informas yang diberikan juga kadarnya pas sehingga kita gak kebosanan karena penulis kebanyakan cerita hal-hal behind the scene. Underrated lah pokoknya
PS : Kalau J. Erickson Ginting ngebaca review ini, you just gained yourself a new fan! Please make a new book about your other "hardcore travel" .
Saya agak trauma membaca buku catatan perjalanan. Hampir semua buku sejenis yang saya baca selama ini cenderung "kering", sebatas catatan "saya pergi dari titik A memakai kendaraan B ke titik C". Sangat jarang menceritakan interaksi dengan manusia sekitarnya. Saya yang skeptis pun tak berharap banyak dengan buku ini, terlebih bukunya saya dapatkan dengan harga super sale. Namun ekspektasi saya ternyata terpenuhi oleh buku ini. Buku ini adalah versi paling dekat dengan versi buku perjalanan yang ideal menurut saya. Tidak menggurui dengan so called filosofi "para pengembara dunia", penuh interaksi humanis dan humoris dengan sesama pejalan dan orang sekitar. Saua sangat suka buku ini.
Penjelasanya detail dan kocak. Saya yang memang suka buku traveling, jadi makin semangat untuk suatu hari pergi ke Afrika lalu menerapkan bagaimana pengalaman si penulis di buku ini 😅
Buku ini kumpulan dari kisah yang sebelumnya dituangkan di blog penulis. Sebagai orang yang hobi travelling versi ‘cupu’ dan belum kepikiran untuk travelling ke Afrika (karena serem), buku ini membuka mata banget akan banyak kemungkinan di Afrika sana. Ikut ketawa saat baca perjalanan bareng Tim yang ceria, deg-degan di bagian diuber-uber sekelompok emak-emak, senyum-senyum saat kisah bareng wanita disana, dan banyak jadi ikutan nyengir, kesel, dan seneng di cerita perjalanan lainnya. Sayang buku keduanya belum diterbitkan, padahal lebih enak baca buku begini daripada buka layar untuk baca kelanjutannya di blog.
Terima kasih Bang Jhon Erickson Ginting untuk sharingnya. Ditunggu kelanjutan cerita perjalannya, soalnya blognya juga udah lama ngga diupdate :(
Beberapa hari lalu saya coba cek tawaran free seat A*rAs*a. Lihat rute Kuala Lumpur-Mauritius langsung nguing nguing, radar menyala. Nggak sampai Rp1,5 juta, one way. Wuih, murcee, secara Mauritius letaknya di Afrika sana, dekat Madagascar. Tapi terus cek tentang visa. Semangat langsung drop, karena WNI perlu visa untuk masuk ke Mauritius. Dari 197 negara, hanya 21 negara yang warga negaranya harus mengajukan visa untuk masuk Mauritius. Selain Indonesia, 20 negara lainnya adalah: Afghanistan, Bangladesh, Irak, Iran, Korea Utara, Laos, Libya, Mali, Pakistan, Palestina, Republik Saharawi, Somalia, Sri Lanka, Sudan, Sudan Selatan, Suriah, Taiwan, Vietnam, dan Yaman. Bah!
Jujur, saya sebal lihat daftar tsb. Betapa Indonesia masih belum dipercaya banyak negara agar WNI bisa bebas visa atau paling tidak visa on arrival. Mungkin sesebal penulis buku ini dengan negara Zambia. Bayangkan, staf di kedutaan Zambia langsung menjawab "I can't give you visa!" saat penulis ingin mencari info aplikasi visa dan menyebut Indonesia sebagai negara asal. Et dah, asem beneerr :'D
"... aku hanya bisa geleng-geleng kepala, kok bisa negara semiskin Zambia membuat aturan sulit bagi WNI untuk masuk negaranya?" Begitu tulis penulis di halaman 86.
Kalau saya diperlakukan seperti penulis, balik kanan dah nggak jadi berkunjung ke negara tsb. Ih, soridorimori deh. Akika tuh mau kasi pemasukan buat negara jij, kenapa jadi dipersulit...? *iya, saya emang cemen :P*. Ya, secara belum banyak negara yang saya kunjungi, jadi cari yang visanya gampang aja dulu :P. Beda banget memang dengan penulis yang suka banget tantangan. Sengaja "menyasarkan diri" ke negara-negara konflik seperti Irak, Palestina, Israel, Nepal, Kenya, Rwanda, Uganda, dll.
Buku ini sendiri bertutur tentang pengalaman penulis "nyasar" di Mesir, Malawi, dan Tanzania. Nano-nano tentunya. Ada banyak yang bikin melongo juga. Dari soal bakshees, felucca trip (18 jam naik kapal cuma 1 kilometer! o em ji!), kereta "VIP", hingga bau aneh orang Afrika :D. Seru bacanya, apalagi cerita tentang backpacker Korea yang "medit". Ya ampuuun... demi ngirit 5000 perak, harus 2 jam keliling cari hostel murah :D.
Afrika masuk dalam dream list saya sih, tapi jujuurr... nggak dalam waktu dekat :D. Kecuali Maroko (alhamdulillah sudah, meski paket flash :D) dan Mesir. Mungkin juga Afrika Selatan. Negara Afrika lainnya? Gara-gara baca buku ini jadi berkurang nafsunya :D