An eclectic and interesting volume of essays, some of which were fascinating, others that were rants or overly intellectual. Book is divided into a few solid essays on Orwell, a mix of essays on totalitarianism, and then a long and fairly boring historical essay about "post-totalitarianism" in Eastern Europe. Best essays were Howe's reflections on Orwell and Nisbet's essay on conservative interpretations of totalitarianism. Overall, mainly a book for people who are interested in totalitarianism as a historical theme and/or want to snag a bunch of useful sources from the bibliography, which is short but useful.
Bila saya pernah bercita-cita jadi penyemir sepatu itu dulu. Karena melihat mereka ada di saban setasiun yang saya lewati kalau pulang ke kampung orang tua saya. "Enak yah jadi tukang semir sepatu, bisa jalan kemana-mana!" Bayangan konyolnya begitu. Tapi saya tak pernah membayangkan pernah jadi pemulung buku. Namun buku ini katakanlah pernah membuat saya menjadi pemulung.
Salah satu koleksi perpustakaan di kantor. Isinya ulasan mengenai karya Orwell, 1984, yang belum saya baca secara langsung. Wujud fisik koleksi kantor tidak menarik memang. Namun saya sudah membacanya dengan hasil cukup memahami kenapa Orwell jadi sedemikian legendaris dengan 1984-nya. Buku ini karena fisiknya dianggap perlu "dibuang". Demikianlah kiranya ketika saya melihat dia teronggok bersama beberapa kertas bekas, dan sampah perpustakaan lainnya. Belum masuk bak sampah ketika saya melihatnya. Saya pungutlah. Eman-emang buku bagus seperti itu dibuang.
Isinya pun pantas membuat saya memungutnya. Salah satu isinya mengingatkan kepada ungkapan Plato yang menandaskan bahwa ketidakpedulian kaum terdidik pada kekuasaan yang akan menyebabkan kekuasaan itu menjadi menyeramkan karena tidak berada di tangan yang benar. Totalitarianisme negara yang dimaksud Orwell saya kira tidak dimaksud hanya berlangsung di negara komunis yang salah satunya menjadi adikuasa penanding kekuatan Barat. Di negara Barat dengan kebebasan berpendapat relatif lebih baik dari negara-negara komunis juga bisa terjadi totalitarianisme meski ada kebebasan. Totalitarianisme di Barat bisa lahir ketika negara (pemerintah) menjadi sendirian dalam mengurusi maslahat orang banyak. Sementara orang banyak (massa) sibuk dengan hal-hal yang dianggapnya primer dan juga diprimer-primerkan. Pengalihan dari masalah kenegaraan yang diakibatkan tuntutan hidup dan juga kemakmuran bahkan. Katakanlah hiburan atau berita media massa yang mengaburkan dari isu pokok yang sedang berlangsung. Pengalihan perhatian massa ini yang berpeluang ada pihak yang membajak kepentingan publik tanpa publik sendiri menyadarinya.
Untuk buku penting serupa buku ini, ketidakpedulian dengan menempatkannya teronggok bersama sampah saya kira bisa memunculkan totalitarinisme tersebut. Ketika kita disibukan dengan bacaan yang jauh lebih pokok. Meski pokok dalam turunanya bisa berbeda dalam tiap individu, saya kira tetap utama menghargai buku dengan isi syarat penyadaran. Sehingga kita tahu, jangan biarkan buku terbuang. Apalagi buku bagus.