Jump to ratings and reviews
Rate this book

Asal Muasal Pelukan: Sekumpulan Puisi

Rate this book
Tanpa perempuan di sisinya,
laki-laki hanya memeluk udara.
Padahal pun bagi perempuan,
lelaki itu asal-muasal pelukan.

***

Bagi Candra Malik, inti kehidupan adalah kerinduan untuk menyatu dengan Sang Pencipta. Boleh dikatakan, itu jugalah yang telah melahirkan semua tulisannya selama ini – tidak terkecuali buku ini.
SAPARDI DJOKO DAMONO, Penyair

Saya termasuk orang yang membaca dan mengapresiasi puisi-puisi Candra Malik. REMY SYLADO

Puisi bagi Candra Malik itu seperti yoga. Yoga dalam berbahasa. Sebagai penyair, Candra Malik adalah yogini unggul.
HASAN ASPAHANI, Penyair

Sebuah perpaduan menarik antara kedalaman spiritual dan keakraban dalam berkomunikasi.
ACEP ZAMZAM NOOR, Penyair

Karya-karya Candra Malik ini subtil, bahkan telah mencapai sublim.
UMBU LANDU PARANGGI, Penyair "Presiden Malioboro"


Tentang Penulis
Candra Malik adalah seorang Sufi yang bergiat di bidang kesenian, kebudayaan, dan kesusastraan. Ia telah melahirkan dua album religi, satu extended play dalam Bahasa Inggris, sejumlah single, video klip, serta soundtrack film bioskop dan televisi, juga memenangi Piala Vidia untuk Kategori Penata Musik Terbaik dalam FFI 2014.

Sebagai penulis, Candra Malik telah menerbitkan sembilan buku. Satu di antaranya bertema sosial budaya, yaitu Sekumpulan Esai Republik Ken Arok. Empat judul bertemakan Tasawuf: Makrifat Cinta, Menyambut Kematian, Ikhlaskanlah Allah, dan Meditasi, Mengenal Diri. Dan empat lainnya adalah karya sastra: Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu, novel Mustika Naga, kumpulan cerpen Mawar Hitam (Bentang Pustaka, 2016), serta buku ini: sekumpulan puisi Asal Muasal Pelukan.

168 pages, Paperback

First published June 1, 2016

14 people are currently reading
168 people want to read

About the author

Candra Malik

12 books48 followers
Lahir di Solo, 25 Maret 1978. Sosok seniman serba bisa. Telah melahirkan album religi Kidung Sufi berkolaborasi dengan para maestro, berkeliling dengan tur konser bersama legenda, melintas batas genre, mewarnai film nasional dengan soundtrack dan scoring, dan meraih Piala Vidia FFI 2014 untuk FTV.

Sufi, penulis lagu dan penyanyi, penulis buku, esai, kolom, dan cerita pendek di media cetak dan online; jurnalis, penyair, pembicara, pemeran, dan pengasuh pesantren. Belajar Tasawuf kepada delapan mursyid dan kini belajar kepada sufi penyair Umbu Landu Paranggi di Bali.

Delapan tahun bekerja sebagai wartawan Jawa Pos; posisi terakhir Koordinator Liputan Jakarta. Lalu, dua tahun silih berganti sebagai kontributor Majalah Art Indonesia, Tabloid Nyata, Travel Lounge Magz, dan dua tahun penuh sebagai kontributor The Jakarta Globe.

Sejak 2012, Candra Malik menjadi Kepala Biro Sastra dan Budaya Pengurus Pusat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, namun tidak aktif lagi menulis laporan jurnalistik sejak memilih berkesenian dan berdakwah. Masih menulis buku serta esai dan kolom di sejumlah media.

Candra Malik meraih Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang untuk Film Televisi (FTV). Mengembangkan Tausiakustik (Tausiah & Akustik), kini ia memperkenalkan DialoQustik (Dialog & Akustik) dan terus berkeliling daerah. Mengasuh Kelas Sufi dan dua tahun ini menyelenggarakan Santri Bernyanyi ke pesantren-pesantren.

Dalam setiap penampilannya bermusik, Candra Malik diiiringi oleh Minladunka Band dan Whirling Dervishes atau Penari Sufi Berputar.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (33%)
4 stars
45 (41%)
3 stars
17 (15%)
2 stars
6 (5%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Nura.
1,058 reviews30 followers
August 16, 2019
Kak Roos yang memperkenalkan buku Gus Can ini kepada saya. Langsung autolike. Bagian pertama yang kental dengan suka dukanya bercinta menyulut keingintahuan saya untuk terus membalik halaman demi halaman. Pun ketika berbicara tentang keimanan seorang hamba. Menurut seorang teman, beliau adalah seorang kyai menyamar jadi penyair. Saya sepakat tanpa debat, apalagi setelah menonton salah satu siraman rohani yang diberikannya di suatu kajian yang tayang di kanal video. Dibalut humor khas Nahdliyyin, kata-kata mengalir lugas dan merengkuh bagai sebuah pelukan hangat.

semua akan rindu pada waktunya, aku tidak terburu-buru mencintaimu. Toh, semua akan rindu pada waktunya, juga kamu terhadapku. p. 37

#courtesy of iPusnas
Profile Image for Zalila Isa.
Author 14 books54 followers
August 15, 2020
Nama Candra Malik begitu asing bagi saya. Buku ini pun saya lupa membelinya tahun bila. Mungkin ketika ke Jakarta tahun 2016 atau ke Jogja hujung tahun 2017.

Membaca blurb, ulasan daripada penyajak hebat Indonesia seperti Sapardi, Hasan Aspahani dan Acep Zamzam memungkinkan Candra Malik ialah seorang penulis sajak yang sudah kukuh tapaknya di Indonesia.

Membaca buku ini menemukan saya dengan hal-hal halus dalam diri berkaitan perasaan yang bercabang ke arah cinta sesama makhluk dan juga cinta kepada Tuhan.

Sajak-sajaknya bersifat komunikatif dan mudah difahami apatah lagi dimengerti. Membaca sajak-sajak dalam buku ini mengembalikan saya kepada perasaan cinta awal remaja, cinta dalam fasa kedewasaan dan akhirnya memupuk rasa cinta kepada kehidupan ini.
Profile Image for Ali Athi Ullah.
34 reviews
March 3, 2017
Sekumpulan puisi Candra Malik ini terbilang lincah seperti ilustrasi cover nya "rusa", rima penuh makna, mengguncang dada! saya sendiri hanya bisa membayangkan "bagaimana bisa ia menuliskannya!?" [WAJIB KOLEKSI]
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
June 2, 2018
Membaca puisi-puisi di dalam buku ini terasa seperti dipeluk oleh kata-kata indah.


Puisi kesukaan saya seperti judul yang dijadikan judul sekumpulan puisi ini.

Tuhan Menciptakan manusia
dari tempat persembunyian-Nya
di mana tidak ada siapapun melihat-Nya meramu Lamun.

Dari segenggam sunyi,
dijadikan-Nya segumpal hati.
Dari ramai cuma sekepal,
dicipta-Nya sebongkah akal.

Tetapi Tuhan seperti sengaja
membuat hati tidak sempurna.
Dari dada yang menyimpan kalbu, direnggut-Nya tulang rusuk satu.

Tuhan menyebut manusia
yang terluka itu sebagai laki-laki.
Lalu dari luka itulah wanita
dicipta bagai permata sanubari.

Digegar oleh detak jantung
laki-laki tak kuat menanggung.
Dari sinilah awal mula doa:
"Tuhan kami ingin bahagia."

Di mana letak kesabaran,
jika bukan di dalam dada?
Di mana syukur diletakkan,
jika bukan di dalam dada?

Tetapi dada tak sempurna
sejak satu tulang rusuknya pergi,
Segala yang dilihat jadi fana,
hanya kerinduanlah yang abadi.

Tanpa perempuan di sisinya,
laki-laki hanya memeluk udara.
Padahal bagi perempuan,
lelaki itu asal muasal pelukan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,651 reviews112 followers
May 21, 2019
112 - 2019

Kali pertama baca buku puisinya Candra Malik nih.
Beberapa halaman awal, hmm... biasa aja sih nih puisinya, tapi makin pindah halaman ternyata malah menemukan banyak puisi yang bagus dan quoteable gitu.

Dan puisi di dalam buku ini bukan cuma tentang pelukan, tentang cinta tapi banyak dari agama, sindiran atas kasus kekerasan seksual Yun di Bengkulu, sampe soal kritik Candra Malik tentang penguasa. Takjub saya. Pas baca baca ternyata penulis seorang jurnalis juga, wah saya kayaknya mau baca buku Candra Malik yang lainnya selain puisi.

Waktu.

Hidup itu soal usia,
mati itu soal waktu.
Demi sebaik-baik usia,
maka aturlah waktu.


Profile Image for Deta NF.
234 reviews6 followers
November 2, 2017
Saya menyukai puisi-puisi hubungan vertikal yang digubah Candra Malik. Juga puisi yang dijadikan sebagai judul, Asal Muasal Pelukan.
.
Tanpa perempuan di sisinya,
laki-laki hanya memeluk udara.
Padahal pun bagi perempuan,
lelaki itu asal muasal pelukan.
.
Senang rasanya menuntaskan buku kumpulan puisi di pekan ini.
Profile Image for Marissa SF.
172 reviews4 followers
October 16, 2018
Telah Padam


Rindu tak banyak yang membicarakan.
Lebih banyak yang merasakannya.
Lebih banyak lagi yang mendiamkannya.

Kita hidup di zaman ketika kesibukan
telah mengalahkan kerinduan.
Dan kita merasa tak dijajah oleh keterpisahan.

Kerinduan bagai apai yang telah padam
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
December 30, 2018
Tidak terlalu buruk. Gus Can sebagai penyair sebenarnya juga cukup baik. Kita bisa melihat bgmn dia bermain kata dan rima dengan asyiknya seperti mengolah segala sesuatu dengan sederhana. Tema-temanya juga tak rumit dan berbelit toh bisa dinikmati siapa saja.
Profile Image for Sana Azzahro.
14 reviews8 followers
May 25, 2021
Puisi-puisi Gus Can memang selalu menyentuh. Membuatku menjadi intropeksi dan bercermin lebih lagi ke dalam diri. Menyadarkan bahwa diri ini memang bukan siapa-siapa, dan sangat jauh dari apa-apa yang disebut hebat.
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
May 7, 2017
Bagaimana jika puisi mengajakmu berbicara panjang, merenungi kehidupan bersama-sama. Begitulah buku puisi Candra Malik ini.
Profile Image for Irli.
69 reviews7 followers
April 5, 2018
Tanpa perempuan di sisinya,
laki-laki hanya memeluk udara.
Padahal pun bagi perempuan,
lelaki itu asal-muasal pelukan.
Profile Image for Devi N..
51 reviews1 follower
January 24, 2020
Chandra selalu bisa menghipnotis pembacanya dengan kata-kata sihir mengenai kerinduan. —Seumur Hidup— adalah yang paling mengena; bagiku. Karena; "Mencintai itu tak pernah alpa. Suka tak suka harus seumur hidup." 🌼 Aku sangat jatuh hati dengan puisi. Chandra menuliskan; "Adakah yang lebih jujur dari puisi? Bahkan untuk berdusta pun, syair harus disusun dengan kata hati." 💖
Profile Image for Septian Hung.
Author 1 book9 followers
July 12, 2016
Beberapa puisi yang ditulis Guscan membuat saya merasa intim dengan Sang Pecipta. Beberapa puisi lagi seperti menyindir halus makhluk-makhluk yang sekarang sedang duduk di kursi kekuasaan. Buku puisi ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya baca selain karya-karya M. Aan Mansyur.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.