Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dover

Rate this book
In 2000 worden 58 Chinese vluchtelingen in Rotterdam het slachtoffer van mensensmokkel.

De haven van Dover, juni 2000.
De Britse douane opent de laadruimte van een Nederlandse vrachtwagen en vindt daarin achtenvijftig dode Chinezen. Tussen deze slachtoffers van mensensmokkel zijn slechts twee overlevenden.

In havenstad Rotterdam, startpunt van de fatale reis, komen verschillende werelden samen. Een jonge vluchteling houdt zich verscholen in een Chinese keuken, dag na dag werkt hij in het restaurant van Mr. Chow. Hij leert de Nederlandse taal via de ondertitels van films en ontmoet een bereisde jonge fotografe die zijn ondergrondse bestaan verlicht. Zijn beste vriend is een Afrikaanse krantenbezorger die leeft met de angst voor ontdekking. Tegelijkertijd ontfermt een verbitterde asieladvocaat zich over een tot prostitutie gedwongen meisje.

In Dover vechten de personages voor een veilige bestemming, een laatste land om te blijven.

220 pages, ebook

First published January 1, 2008

3 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Gustaaf Peek

13 books16 followers
Gustaaf Peek's second novel, Dover, was nominated for the BNG Prize 2008. He won the BNG Prize 2010 for his third novel Ik was Amerika.

His fourth novel Godin, held was published in 2014 to rave reviews. It was awarded 'Book of the month' at DWDD and it was nominated for the Libris Literatuur Prize 2015.

Photo (c) Maria Hermes

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (1%)
4 stars
13 (19%)
3 stars
35 (53%)
2 stars
14 (21%)
1 star
3 (4%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
June 15, 2015
Sampul edisi Indonesia ini sangat mencerminkan isi buku. Penerbitannya pada bulan Juni 2015 ini terasa aktual, saat hari2 kita sekarang dipenuhi berita manusia pengungsi dari Bangladesh, Irak, Afghanistan, Suriah, dan Myanmar yang terombang-ambing di perairan Nusantara, dan diusir dengan berbagai cara dari negara2 yang mengaku berdaulat. Belum lagi pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika yang juga puluhan ribu jumlahnya mengarungi Mediterania menuju Eropa. Di banyak negara mereka dianggap sampah, harus dibuang lewat pintu belakang. Dilamun ombak, badai, kelaparan, dan ketidakpastian nasib serta masa depan.

Tapi buku yang aslinya terbit tahun 2008 ini bukan cuma paparan nasib malang. Ada latar belakang yang beragam dari berbagai penjuru dunia, mengapa seseorang musti harus angkat kaki dari negeri tempat lahirnya, sebagian besar bukan dengan sukarela. Ada paksaan dan kekerasan, kerasnya perjuangan dan harapan. Di bagian harapan, di sana ada limpahan sinar matahari, kehangatan pasir pantai, dan letupan rasa cinta.

Banyak orang berkelindan nasibnya dalam labirin sosial kota Rotterdam, Belanda. Ada selebritas politik negara asing yang lara; ada pelarian nasib akibat prasangka rasial di Indonesia; ada prajurit Afrika yang gantung sepatu lars dan senjata; seorang gadis Asia Tengah petualang cinta yang terjebak nestapa; dan tak henti2nya muncul kelompok anonim dari Asia Timur dan Afrika yang membawa mimpi orangtua. Di antara mereka ada gadis Belanda yang galau hanya karena masalah keluarga; pengacara kulit putih Belanda dan makelar2 pendatang gelap itu, baik makelar berkulit terang maupun berkulit gelap.

Beragam tokoh dan kisah mereka dibawakan kepada pembaca sesuai sudut pandang masing2, berganti2 bahkan dalam satu bab. Buat saya hal ini tidak masalah, namun bisa membuat pembaca yang senang duduk tenang bisa gerak badan dengan gelisah bagai menonton sirkus di mana pertunjukan beruang tahu2 berganti dengan atraksi trapeze tanpa ada pergantian tirai panggung atau pun pengantar dari pembawa acara.

Saya belum pernah ke Belanda, dan belum mau googling sekarang tentang Rotterdam. Namun bayangan tentang kota pelabuhan ini terasa seperti api asmara di hari yang suram. Kesuraman membuat kita muram, dan asmara menjadikan jantung berdebar penuh asa. Dunia selalu penuh kemungkinan. Baik bagi kita yang selama ini hanya membaca berita, atau bagi mereka yang tak pernah buka peta. Demikian pula akhir buku ini, tidak membawa bahagia bagi semua.

Namun bilamana selama kita hanya pembaca berita, kita bisa menjadi pembawa berita baik, dengan ikhtiar kuat, dengan satu hal kecil yang niscaya bisa kita lakukan setiap kali: peduli pada sesama.

PS: Judul buku ini "Dover", di Inggris, tapi ya... Ternyata hingga halaman terakhir kita tidak sampai diajak menginjakkan kaki ke sana :)
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,034 reviews64 followers
June 2, 2018
Pelarian. Semua tokoh dalam buku ini adalah pelarian dengan alasannya masing-masing, dari yang terpaksa hingga sebagai sebuah pilihan. Tony, Bas, Bernard, Kiki dan Aylin, lima karakter yang memutuskan "lari" dengan kisah yang disampaikan lewat sudut pandangnya di beberapa bab.

Tony, warga tionghoa keturunan Indonesia yang melarikan diri saat kerusuhan 1998; Bas, kabur dari tentara yang menangkapi tokoh untuk dihukum mati; Bernard; pengacara yang memilih menyingkir dari kebusukan dunia hukum, tapi terjebak dengan kegelapan dunia imigrasi ilegal; Kiki, memutuskan menyingkir dari konflik kedua orangtuanya; dan Aylin, terjebak godaan kekasihnya yang malah menggiringnya pada prostitusi.

Sebenarnya dari membaca sinopsis, saya berpikir Dover berusaha mengupas tentang dunia imigrasi ilegal, tapi sepanjang membaca alurnya terasa lambat, dan penulis lebih fokus pada konflik tokoh. Meski begitu, penulis menggambarkan "jalan" bagaimana imigrasi ilegal dapat terjadi, lewat Mr Chow dan Abdu, yang menggunakan Bernard sebagai pengacara, dan Aylin, korban yang terjebak dunia prostitusi. Penggambaran bagaimana seorang pendatang gelap selalu tidak ingin terlihat, digambarkan dengan apik lewat sosok Bas.

Tetapi, terkadang saya bingung dengan susunan ceritanya, sudut pandang, dan apa yang disampaikan penulis pada bagian tertentu, meski begitu maksud dari keseluruhan cerita masih bisa tertangkap, dan ditutup dengan menyedihkan. 😯😯
Profile Image for Budi Susanto.
80 reviews3 followers
September 26, 2015
mengambil latar belajang kejadian di Dover Inggris 18 Juni 2000, novel ini sangat menyayat...namun fasenya menurut saya lambat, masih di beberapa bagian cerita yang memaksa imajinasi saya untuk terus bekerja keras...
Pada akhirnya cerita sedih ini masuk akal ketika membaca berita-berita lama terkait kejadian Dover ini.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
September 4, 2015
MEski agak lambar alurnya, namun sebenarnya keren. Ingat pengungsi Suriah.
Profile Image for Paulus Voerman.
114 reviews
November 19, 2021
Dover - Gustaaf Week (1975) - Querido 2008

Erg fragmentarisch, gebeurtenissen in het verleden en toekomst door elkaar gehusseld, soms raak je de weg kwijt, soms onbegrijpelijke personages, alles op weg naar de ontknoping die al in de eerste zin van het boek wordt gegeven: We hebben het niet gehaald; het eindpunt van een fatale reis, een Nederlandse vrachtwagen in de haven van Dover, met achtenvijftig dode Chinese illegalen op weg naar een beter leven.

Gustaaf Peek schrijft gladjes en met verve. Maar ik houd niet zo van z'n taalgebruik. Vind dat er meer gezwegen zou moeten worden, maar hij kakelt met kwetterende sigaretten en omhelsde knieën.

Een paar regeltjes:

Langzaam kon hij vormen onderscheiden. Maar de contouren bleven vaag, gezichten werden niet ingevuld, schaduwen kwamen niet los van elkaar, een mensenbrij, alsof niemand een eigen lichaam had, ook zijn eigen handen, die zijn neus en wangen aanraakten om de illusie van zijn vingers in stand te houden, leken ondergedompeld in donker water. Twee smalle kieren voor in de laadbak hapten naar licht, iets leek buitenlucht naar binnen te wapperen. Tony vermoede eerst dat het een zeil over een opening in de oplegger was, maar het flikkerende ritme maakte te veel lawaai, het moest een losse plank of deur zijn. Tony dacht dat hij nog af en toe de oude straten kon ruiken, de laatste sporen van zijn stad. (184)

Ze zou later de schuld geven aan het einde van de reis, ze was dan altijd gevoeliger en verdrietig omdat alles weer voorbij zou zijn, maar liggend op bed, tijdens haar laatste nacht in het laatste hotel, kneep haar borst samen, haar ogen druppelden dicht, ze huilde na de troost, de aanraking van de vrouw als een oud en dierbaar slaaplied om alle tijd machteloos te maken. (196)

Het einde van de reis. De liegende horizon.
Profile Image for Wikaranosa Supomo.
15 reviews
February 14, 2023
Membaca novel ini merupakan salah satu usahaku, sekali lagi, mempertanyakan arti rumah. Seluruh tokoh pada novel ini mencari suaka. Mereka imigran yang terkikis dari kampung halamannya dan terpaksa berkubang gelap menuju Belanda dengan harapan menemukan rumah.

Aku dapat menilai novel ini pelik. Diterjemahkan oleh sembilan orang alih bahasa dari Bahasa Belanda, novel ini diterjemahkan dengan cukup indah. Kata-katanya mengalir dengan halus membentuk sebuah kalimat. Lompatan ruang dan waktu pada plot terkesan sangat absurd tapi juga sangat rewarding ketika selesai dibaca.

Seluruh tokoh berpusar pada konflik pencarian rumah, hanya saja gejolak emosi dan kekalutan kepala mereka sangat jelas berbeda. Ada yang ingin melupakan kejahatan yang ditimpanya pada masa lalu, ada yang ingin menjadi orang baru karena merasa dirinya butuh nilai baru, dan bahkan ada yang ingin lepas dari keterbelakangan daerah asalnya. Semuanya punya alasan yang berbeda dan nantinya siksaan di tanah asing dan tuan rumahnya yang berbeda pula.

Namun demikian, seperti halnya tiap mahluk hidup membutuhkan usaha-usaha di luar ambang batas adaptasi, tanah asing tak selalu dapat dengan mudah menerima dan diterima sebagai rumah. Melalui novel ini, aku menyadari bahwa persepsiku tentang rumah masih belum lengkap. Rumah bukan hanya sekadar penerimaan, melainkan ada rasa percaya dan aman. Tanpa hal-hal tersebut, manusia tidak akan semudah itu untuk menemukan rumah.
Profile Image for José Van Rosmalen.
1,460 reviews29 followers
August 20, 2025
In het jaar 2000 opende de Britse douane de laadruimte van een Nederlandse vrachtwagen en trof daar 58 dode Chinezen aan. Er waren twee overlevenden. De fatale reis was in Rotterdam begonnen. Gustaaf Peek probeert in deze roman het spoor terug te volgen, maar dat leidt wat mij betreft niet tot een helder resultaat. Je krijgt beelden van mensen die illegaal in Nederland verblijven en in restaurants werken, een schimmige wereld met tussenpersonen die zichzelf verrijken. Anderen worden tot prooi gemaakt gemaakt, bijvoorbeeld in de prostitutie. We volgen een jonge vluchteling die in Engeland een beter leven probeert te vinden. Zijn illusies zullen in rook opgaan, evenals die van de andere slachtoffers.
Profile Image for Δάσκαλος.
146 reviews
September 3, 2022
Novel ini diterjemahkan dari bahasa Belanda. Penerjemahnya sampai sembilan orang. Tokoh utama cerita ada lima: Tony/Marlon, Kiki/Patricia, Bas/Georges, Aylin, dan Bernard. Mereka dikisahkan dengan kepelikan hidup masing-masing.
Profile Image for Sylvia.
86 reviews3 followers
April 1, 2019
Ya ampun ini flat sekali ceritanya. Padahal premisnya oke lho
Profile Image for Lusiana Hevita.
Author 1 book7 followers
February 6, 2017
Bintang tiga setengah untuk buku sederhana tapi sarat cerita ini. Tentang orang-orang yang melarikan diri ke negara baru dengan identitas baru. Tentang ketidakeksisan mereka di muka publik. Persoalan-persoalan yang dihadapi, dengan segala kemelut kehidupan yang harus ditelan. Buku ini sebetulnya penuh penderitaan, tapi kita hanya akan menangkapnya dalam bayangan-bayangan tipis yang cuma bisa dirasakan, karena tidak ada adegan brutal, penganiayaan sadis atau apa pun. Penulis hanya mengungkapkan dalam kalimat yang cenderung puitis, samar, butuh intepretasi sendiri. Tapi saya suka gaya penulisannya. Efektif dan efisien, tidak berlebihan. Dan justru karena itu buku ini cukup istimewa bagi saya.

Meski banyak tokoh yang diceritakan, tokoh utamanya adalah pelarian kerusuhan 98 ke Eropa (Belanda) dari Indonesia. Lainnya dari berbagai belahan dunia yang lain, Asia dan Afrika.. Buku ini mengingatkan saya pada para pengungsi yang belakangan menyerbu Eropa, juga ketika ada tokoh berkulit hitam - dari Afrika yang lari ke Paris - saya teringat dengan wajah-wajah seperti mereka yang saya lihat disekitar Eiffel, menjajakan souvenir tapi dengan sikap dan mata yang seolah selalu waspada. Mengapa hanya tiga negara Eropa yang menonjol diceritakan di buku ini sebagai negara tujuan para 'pencari suaka?' Belanda, Perancis dan Inggris, tiga negara ini mungkin primadona. Menjanjikan kehidupan yang baru, ada link-link rahasia yang bisa dikontak untuk mencari keamanan sementara, negara yang menjanjikan kebebasan? Entahlah... Saya hanya bisa merasakan betapa terasing dan sepinya kita saat menjadi orang baru di negara asing tanpa adanya pengakuan dari publik tentang siapa diri kita. Jika dibandingkan dengan di kampung sendiri, tamu yang datang 2x24 jam saja perlu lapor pak erte...hehehe.

Bukunya sih tipis, tapi alurnya lambat. Sangat lengkap dengan ditambah akhir yang tidak happy ending...hehe Tapi saya tidak menyesal membacanya, malah merasa beruntung, saya pernah baca buku ini meski bukan dari jenis buku yang saya sukai :D
Profile Image for Frederique.
309 reviews34 followers
July 5, 2020
Indrukwekkend verhaal over de verschrikkelijke gebeurtenis in Dover. Dover vertelt de verhalen van illegalen, vluchtelingen, slachtoffers van mensenhandel, allen gewone mensen die dromen van een voor ons vaak vanzelfsprekend leven.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.