Jump to ratings and reviews
Rate this book

Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi

Rate this book
Buku Tentang Ruang Kumpulan Puisi
Avianti Armand

155 pages, Paperback

First published June 20, 2016

54 people are currently reading
691 people want to read

About the author

Avianti Armand

23 books166 followers
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Radian," terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
113 (22%)
4 stars
233 (45%)
3 stars
139 (27%)
2 stars
14 (2%)
1 star
11 (2%)
Displaying 1 - 30 of 73 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews82 followers
May 14, 2019
RUANG ADALAH...

BAGI Avianti Armand, ruang bukanlah sesuatu yang memiliki pusat. Ruang bukanlah ruang dengan batas-batas beku seperti yang kerap kita pahami. Ruang bukan sesuatu yang benar-benar terpisah, antara "di luar" atau "di dalam". Kita tak lagi percaya ada sesuatu yang menjepit, atau mengkotak-kotakkan, di antara batas. Saya kutip sebagian sajak Paviliun:

Realitas telah menyembunyikan luar dari dalam dan dalam dari luar. Lalu pohon-pohon kau letakkan begitu saja dalam kotak-kotak kaca agar mereka percaya bahwa mereka tetap berada di luar juga aman di dalam. Dan tanah gembur itu menjulurkan lidah, percaya bahwa hujan yang terhalang atap akan jatuh pada mereka satu hari kelak.


Avianti Armand berusaha mempuisikan makna dengan melakukan personifikasi pada benda-benda: pohon-pohon yang percaya bahwa mereka akan aman, dan tanah gembur yang percaya bahwa hujan akan turun membasahinya. Tetapi kenapa sang pengarang mengira bahwa pohon-pohon dan tanah gembur akan percaya?

Ada yang ambigu di sana. Pohon-pohon dipersepsikan tidak lagi elemen suatu landskap, melainkan elemen yang ekuivalen dengan bangunan dalam ruang yang kita huni. Sebuah paviliun, ruang dengan batas antara ada dan tiada, seperti satu upaya penggambaran untuk bebas dan lepas dari satu sisi perspektif. Mereka menyatakan sesuatu. Tapi apa yang kita tahu?

Avianti Armand menulis sajak Paviliun di atas "untuk Junya Ishigami". Perlu kita ketahui, Junya Ishigami adalah arsitek dengan konsep tertentu tentang arsitektur. Dalam satu interviu di Kortrijk, Ishigami menyebut orang-orang sering melekatkan karyanya dengan sesuatu yang transparan, ringan, dan berkaitan dengan alam. Ia tak menolaknya. Ishigami ingin berbicara batas baru dalam arsitektur, seperti dinding yang tak kelihatan di udara. Sebagai hasilnya: paviliun "Extreme Nature: Landscape of Ambiguous Spaces" yang dipamerkan dalam Venice Biennale 2008. Paviliun itu dibatasi dinding kaca yang tebalnya hanya 8 milimeter. Jika kita berjalan di dalamnya, di antara tanah, pohon, dan kaca, kita akan segera merasa apa yang interior dan eksterior menjadi hilang atau samar. Dari situ saya kira sajak Paviliun menangkap idenya.

Dalam Buku tentang Ruang, tiga sajak lain yang ditulis Avianti Armand "untuk Junya Ishigami" adalah sajak Kubus, Meja, dan Hutan. Dengan sedikit riset, kita akan mengetahui bahwa judul-judul itu merupakan kata kunci yang meringkas tema besar karya Ishigami: "Balloon" berbentuk kubus di The Museum of Contemporary Art di Tokyo tahun 2007; "Little Gardens" berupa meja yang berisi 370 gelas kecil dengan panjang 12 meter dan ketipisan hingga 5 milimeter; serta studio dengan tiang-tiang putih tipis dan tanaman di dalam yang serupa hutan di Kanagawa Institute of Technology, Tokyo. Melalui karya-karya itu Avianti Armand menulis sajak tentang "kubus raksasa yang melayang" dan memiliki "sudut yang tajam" (dalam puisi Kubus), "satu bidang putih" berbentuk meja yang ketipisannya serupa "sunyi" (Meja), dan ruang kerja yang seperti "hutan putih" dengan tiang-tiang berwarna putih yang bisa dibayangkan sebagai pohon abstrak (Hutan).

Satu hal yang saya lihat, baik Avianti atau Ishigami memperlihatkan kemahiran masing-masing untuk merepresentasikan obyek-obyek (yang seolah-olah hidup) dalam medium yang berbeda. Pilihan tema dalam sajak-sajak Avianti berhasil ikut serta menunjukkan semangat Ishigami untuk tidak terpaku pada struktur bangunan seperti gedung yang selama ini menahan potensi yang dibayangkan orang tentang arsitektur. Dalam puisi Kubus, misalnya, kita mengamati refleksi Avianti terhadap balon kubus Ishigami―dan kita menyebutnya arsitektur.

Dari latar belakang itulah kita merasa bahwa suatu benda bukan semata-mata alat-alat pengisi ruang, melainkan menyatu dengannya. Benda dan ruang tidak berhenti sebagai pemikat pandangan. Benda-benda, bersama arsitektur lainnya, seperti berbicara mengungkapkan ekspresi dirinya pada kita. Maka jika ruang membuka tafsirnya secara luas sebagai suasana yang tercipta dari benda dan tempat, mulai dari situ kita menganggap kenangan-kenangan lama, peristiwa-peristiwa, atau ingatan-ingatan kecil yang muncul sebentar sebagai elemen penting dari ruang―yang seterusnya direkam dalam sajak.

Dan bila saya tak keliru, itu berarti ruang adalah gelas atau pintu atau pagi yang "memilih/ memorinya sendiri". Atau patio yang berusaha untuk tidak berterus terang sebagaimana saya kutip di sini:

Patio itu punya segala hal yang dia butuhkan
untuk bisa hidup dengan baik:
oksigen, cahaya, dan sudut yang tepat
untuk menunggu.
Ingatan yang negatif telah dicetaknya
jadi halaman-halaman positif di pangkuan.
Tatapan murung. Ekspresi bosan.
Tak ada yang akan percaya.
Katanya: "Kita perlu latihan
untuk bisa bersedih
dengan meyakinkan."


Patio itu tak berhenti menjadi ruang yang mandeg dan terpajang: ia juga sebentuk perasaan. Patio itu diam, seperti menunggu, seperti bosan, tapi arsitektur membuatnya dramatis. Detik-detik, benda-benda, udara, cakrawala, momen-momen yang lambat, bisa jadi penting di sini. Dan dari sana, di bawah sorotan cahaya, hal-hal itu terhubung. Lalu puisi membangkitkannya menjadi kata yang menghadirkan suatu emosi dan pikiran tertentu. Puisi Avianti, arsitektur Ishigami, memberi nafas pada patio, jendela, gelas, atau paviliun untuk menegaskan diri bukan sekedar sebagai konstruksi atau seni.

Melalui puisi, ruang dan benda yang diam adalah juga ingatan perasaan atau bisikan dari gelora hati sehari-hari.

description
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
July 18, 2016
"Kata mereka, cuma ada satu matahari.
Kataku, itu milikku.
Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu."

*

"Seperti biasa,
kita terdampar lagi
pada chorus terakhir sebuah karusel
dan satu malam sepia."

*

4.5
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
July 16, 2016
Sepertinya buku ini adalah buku puisi ter-awesome sepanjang 2016. Saya memang bukan pandai membaca puisi/mengkritisi/apalgi menyibak makna di dalam puisi. Tetapi buku puisi ini terasa kompak dan padu dengan konsep cover, ilustrasi, dan pilihan-pilihan kata yang ada di dalamnya.

Kesan bahwa teks-teks yang sepi, sendiri, dan gloomy memang cocok dengan cover serba putih dan ilsutrasi yang mirip sketsa ruang. Suka. dan Suka.
Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
September 1, 2016
Reading poems is never easy for me. Enter Avianti Armand.
And I always have these similar eerie feelings of helplessness, haunted, yet always mesmerised.

I certainly love this:

"Mungkin aku somnambulis."

Di balik gaun malam
dan mata yang terpejam, bukan tidur
yang meminta mimpi,
tapi kehilangan
yang mencari tuan.
Profile Image for Alvina Djoened.
27 reviews16 followers
March 26, 2017
(4.5 stars)

Kumpulan puisi yang cocok dibaca untuk teman sepi.

Saya masih pemula di dunia puisi ini. Mungkin karena itu saya menganggap bahasa yang digunakan oleh Avianti Armand ini cukup susah, hampir sesusah tulisan Pak Sapardi Djoko Damono.

Judul buku puisi ini, menurut saya, sangat eksplisit menggambarkan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Si penulis menggunakan banyak pengandaian yang benar-benar "tentang ruang". Karakter tulisan Mbak Avianti ini sangat menggambarkan pekerjaan aslinya, yaitu arsitek, dan karakter itulah salah satu alasan mengapa saya suka dengan puisi-puisi ini.

Ada beberapa judul yang membuat saya menganga dan berkaca-kaca ketika membaca puisi karangan Mbak Avianti ini, seperti Hantu Waktu, Seperti Biasa, Topografi dan Puisi-Puisi Tanpa Judul. Bahkan ada yang membuat saya tertawa, seperti Hal-Hal yang Wajar Hari Ini. Namun, puisi yang paling membekas di benak saya adalah Serigala.

Kesimpulannya, buku kumpulan puisi tentang kehidupan ini sudah masuk ke dalam daftar buku yang akan saya rekomendasikan ke teman-teman saya.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
Read
November 10, 2016
Entah saya yang lemot, atau bukunya emang terlalu absurd. Saya nggak ngerti puisi-puisi di buku ini. Maap.

p.s.: saya belum berani nge-rate deh, mungkin nanti, setelah saya baca ulang lagi.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
October 18, 2020
Laki-laki: Kamu bisa merasakan tanganku?
Perempuan: Ya.
Laki-laki: Kamu tahu kalau ini aku?
Perempuan: Tidak.
Laki-laki: Sekarang kamu mengerti maksudku.


(dalam puisi "Tentang Sebuah Rumah")

Puisi-puisi dalam buku ini lembut, putih, beruas-ruas. Entah karena desain sampul dan ilustrasi-ilustraso minimalis di dalamnya, adegan demi adegan yang dibangun terasa lamban dan tenang. Persis seperti hidup itu sendiri. Jika puisi-puisi pada "Perempuan yang Dihapus Namanya" memiliki efek menyayat, "Buku Tentang Ruang" jauh lebih manusiawi. Ia mengupas entitas ruang tanpa cepat-cepat menyimpulkan,

Di dalam atau di luar, manusia sama hidup. Disekat dinding atau transparan, manusia selalu menampilkan peristiwa.
Profile Image for yun with books.
724 reviews244 followers
February 13, 2017
Aku bukan penggemar puisi/sastra. Tetapi, puisi ini cukup membuat aku betah untuk membacanya sampai habis.

RUANG. PERPISAHAN. HARAPAN. EROTIKA.
Berbagai hal yang termasuk ke dalam puisi ini membuat aku lebih mengetahui tentang dunia literasi dan sastra. Memang butuh berbagai praktek supaya bisa mengerti isi keseluruhan puisi yang saya baca,
Profile Image for Nura.
1,058 reviews30 followers
August 29, 2018
Sebuah ruang bukan selalu tentang batas.
Tak pula tentang waktu selintas.
Ruang adalah tentang aku.
Tentang kamu.
Tentang kita.
Pada suatu ketika.

***

Puisi favoritku:

Cinta adalah tentang waktu.
Tak baik bertemu orang yang tepat
terlalu cepat atau terlambat.

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin
yang mengganti namaku menjadi Biru.


Ruang yang Jauh



#courtesy of iPusnas
Profile Image for Susyi Illona.
31 reviews
September 20, 2016
ini buku puisi yang membuat saya nahan napas tiap kali membuka lembar demi lembar halamannya. sangat suka. meski aku gagal menyelesaikan kumcer dari Mba Avianti karena merasa terlalu "berat" tapi di buku ini aku cuma bisa bilang. kece. keren. suka!!
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
August 20, 2016
Ada banyak hal yang sepertinya penulis kemukakan namun tak dapat kutangkap. Mungkin memang aku tidak ditakdirkan untuk menikmati buku puisi.
Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
February 2, 2017
Menggabungkan arsitektur dan puisi. Menangkap ruang dan batas dalam kata dan makna. Ternyata bisa. Ternyata.

Buku keempat di 2017.
Profile Image for Alifa Imama.
133 reviews10 followers
October 11, 2018
Saya suka puisi. Tapi kenapa ya saya ga paham puisi-puisi yg ingin disampaikan di buku ini. Rasanya tidak ada penarik dalam cerita-ceritanya. Mungkin harus coba baca ulang lagi nanti.
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
January 29, 2019
35 - 2019

Buku ketiga dari Avianti Armand yang saya baca bulan ini.
Kali ini tentang ruang, dan saya merasa suka sama buku kali ini. Kalo kesan 'dark' terasa dalam buku Museum Masa Kecil dan Perempuan Yang Dihapus Namanya, kali ini kesan itu gak ada, tetap menyenangkan saja membacanya. Dilengkapi dengan gambar sketsa yang sederhana tapi tetap bagus aja gitu.

Banyak yang saya suka, bagian Ruang Tunggu terutama.

Kekasih,
jika saja kita bisa menghindari kontak mata, kita tentu bisa bertahan.

Kekasih,
ketika kamu menguning nanti, di atas meja yang redup akan tertinggal hanya cetak biru dari yang tak pernah kita miliki.
Profile Image for bila.
57 reviews2 followers
May 3, 2019
Akhirnya diberi kesempatan juga membaca buku ini. Ruang selalu memiliki makna dan cerita entah itu pertemuan, konflik maupun perpisahan. Rasa menghantui mengakar terus di dalam perasaan setelah membaca buku ini setiap puisinya memberikan rasa penasaran dan keinginan untuk memahami puisi itu sekali lagi. Mungkin kalau baca buku ini harus berulang ulang kali.
Profile Image for Jihan Suweleh.
37 reviews
April 29, 2020
"Tak ada yang pernah tuntas
mengukur panjang
kesepian."

(Cafe Muller - hlm. 149)
Profile Image for Fahrul Khakim.
Author 9 books98 followers
February 25, 2017
Paling suka puisi 'Buku Harian' yang pernah dimuat Kompas. Narasinya begitu personal dan liris.
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
August 20, 2021
1 tahun merupakan waktu yang lebih dari cukup untuk menginterpretasikan suasana dan pengalaman puisi. Upaya kesekian kali untuk mendapatkan sesuatu yang murni & utuh, dan sajak "Zinnia" yang saya ciptakan dari fragmen-fragmen puisi Avianti Armand, membawa kenagan itu kembali, walaupun tentu sayangnya tidak berakhir dengan kisah-kisah bahagia. Salah satu yang buat saya begitu menggandrungi buku/sastra (sebagai medium yang paling intens merepresentasikan emosi), adalah mozaik memori yang meresap. Satu tahun sebelumnya, saya masih berkutat dengan skripsi. Satu tahun sebelumnya, "Zinnia" hadir dan kami perlahan mengenal diri kami masing-masing; Trauma romansa kita di masa lampau, pesan-pesan lugu ucapan selamat malam, berapa jumlah saudara, hobi, dan pesan menjelma esai yang saya kirimkan mengungkapkan betapa gandrungnya saya akan sastra, dan Clair de Lune yang dia mainkan, dan gaun biru kelabu yang saya bayangkan dapat saya lihat saat kencan pertama saat pandemi berlalu (yang sayangnya kedua hal ini tidak dapat terlaksana).

Buku Tentang Ruang, kumpulan puisi dari Arvianti Armand ini, mengingatkan saya akan kenangan pahit manis ini. Betapa sakral, dan menyenangkannya dapat mengingat memori ini, hanya dengan pembacaan ulang kedua. Referensi berbagai film juga turut dituliskan dalam puisi-puisi ini. Film-film Wong Kar Wai, dan biografi balet, Pina terutama yang begitu jernih dan melakolisnya dituliskan oleh Arvianti Armamd. Oh, begitu teduh dan lirihnya, membangkitkan memori yang meskipun cukup pahit, dapat disimpan, dan menjadi bekal untuk upaya tanpa henti selanjutnya menemukan yang murni dan utuh.
Profile Image for Lourdes.
11 reviews
March 8, 2017
Melalui buku ini, saya lihat penulis menyimpan sesuatu. Setidaknya ada keyakinan terhadap sebuah ketiadaan yang dijadikan mengada. Pun sebaliknya. Terlepas masuk akal atau tidak, ia tetap menulisnya dan meruntuhkan ruang yang ada dengan kata.
Profile Image for Mazdan Assyayuti .
58 reviews3 followers
December 22, 2021
(#BukuUntuk2021)
Selesai baca buku ke-6

Selama membaca Nagabumi, aku selingi dengan membaca buku puisi. Sayang, aku dapat buku ini dengan kualitas gudang, meski sebenarnya tidak masalah, kondisi masih sangat bagus untuk dibaca, hanya covernya saja agak rusak dengan adanya lipatan vertikal. Tidak buruk juga karena menambah estetik, hahaha.

Buku puisi ini cenderung memiliki dimensi yang tebal karena adanya ilustrasi dan tata letak yang sangat boros. Mungkin ini strategi agar lebih enak atau memiliki daya tata letak yang khas, tetapi hal ini cukup menjadi kunci jawaban dari pertanyaan kenapa tebal. Kalau buku karya ku dan kawanku kemarin tata letaknya begini, bisa jadi juga sama tebalnya.

Gaya kepenulisan puisi memang berbeda tiap pujangga. Tidak bisa disamakan dan tidak etis untuk diperbandingkan. Semuanya memiliki ciri khas masing-masing untuk mengekspresikan warna dan bentuk yang sedang dirasakan. Diabstraksikan pun juga sepertinya kurang tepat karena aku bukanlah peneliti sastra yang paham dengan epistimologi ilmu sastra.

Sebagai menikmat buku-buku puisi, menurutku karya Avianti Armand ini menggunakan banyak metafora yang harus diselami untuk dapat menangkap maksud-maksud tertentu yang disampaikan. Bisa jadi, memiliki celah-celah interpretasi yang salah jika serampangan menafsirkannya. Aku pun juga bukan penafsir dan memiliki wewenang itu.

Sejatinya, puisi-puisi dalam buku ini indah dan menceritakan tentang hal-hal yang berbau ruang. Sejalur dengan pengambilan judul buku ini. Sangat cocok. Satu ulasan puisinya yang berjudul “Orang-orang Yang Sendiri”. Ketika pmembaca puisi ini, paling cocok kalau kita memposisikan diri sebagai awan. Lalu coba hayati ketika membacanya, akan sangat mengalir rasanya puisi itu ke dalam diri kita.

Buku ini sangat pantas mengisi rak dari kumpulan buku-buku puisi, bisa bersanding di sisinya Eyang Sapardi atau pujangga lainnya. Coba lihat mungkin dikira buku cerita daripada buku puisi karena tebalnya. Hahaha.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
November 18, 2017
Satu Matahari.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Setahun yang lalu aku telah melihat sesuatu yang tak seharusnya kulihat.
Mereka bilang: matahari.
Mataku menangkap: Dia.
Tubuhku seketika mengerang oleh cahaya yang terlalu terang. Dan terlalu gelap.
Lalu dia bergantian mendenyutkan ingin yang akut - seperti desah dalam lipatan daging
Terang - gelap - terang - gelap.
Cadar ini terlalu tipis untuk menyembunyikan rasa.

Apa yang kau lihat di jalan itu?
Genangan air yang jadi hijau?
Merah, kataku. Hujan merah.
Di balik garis-garis basah, dia indah dan selamanya berpendar.
Di sini, gambar-gambar memudar.

Setelah itu, mereja mencoba menghilangkan cahaya dari ingatanku.
Tapi aku masih bisa merasakan panasnya.
Kata mereka, cuma ada satu matahari.
Kataku, itu milikku.
Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu.


Membaca buku kumpulan puisi ini seperti membaca kisah cinta yang tengah saya alami. Ah, sungguh tak tergambarkan, sama seperti buku ini yang memuat banyaknya rangkaian kata yang tak luput pula dengan disertai beberapa gambar sebagai ilustrasi pendukung yang cukup menyentuh membantu memahami puisi-puisi yang ada.
Saya baru pertama kali membaca karya Avianti Armand. Diksi yang cukup bagus dan dapat dengan mudah dipahami. Saya menyukai buku ini. Sungguh sederhana sekali dan sesederhana saya ketika saya memilih buku ini karena mencantumkan kata 'Ruang' di judulnya.

Saya suka.
5 reviews
August 2, 2021
43
4.
Mimpi pergi, ketika asap bakaran sampah mendesak masuk ke kamar lewat kisi-kisi kayu yang rapat namun ompong di sana-sini. Besok, tak akan ada lagi kerat roti yang kau olesi mentega asin di piring. Kakimu tak lagi bisa mengusik debu di depan pintu yang biasanya terbuka pada ketok ketiga Tak bakal kulihat lagi kopi susu menyaputi sebelah susumu yang separuh terbuka

sungguh, aku tak kehilangan apa apa.

109
ORANG ORANG TUA
Di bawah tiap jam, duduk orang-orang tua yang menunggu dengan bidak-bidak catur yang menolak bergerak. Benda-benda itu tahu, tiap langkah adalah petualangan yang patologis. Waktu telah berubah jadi papan dua warna yang menempatkan cerita-cerita dalam kotak-kotak suara. Ada anak-anak di sana. Anak-anak dengan sayap yang hanya terlihat dari jauh. Hanya jika ada yang melihat. Tapi setelah terbang begitu lama, mereka pasti lapar. Orang-orang tua itu telah menyiapkan meja makan untuk bertiga, berempat, berdelapan. Tapi hingga subuh, hanya mereka yang ada.

113
Cina
Nasib tak dibuat di Cina. Kecuali yang kawe.
Profile Image for Pearl.
12 reviews2 followers
January 20, 2022
Mungkin ini kali kedua saya baca buku ini sampai selesai, dan berkali kali lainnya yang hanya saya baca di bagian puisi-puisi tertentu saja ( alasannya karena kangen ). Puisi karya Avianti Armand dengan semua ke-ambiguannya sumpah bikin aku kecanduan baca, setiap menulis puisi, beliau seakan mempersilahkan pembaca untuk memaknai sendiri apa arti puisi-puisinya. Memang membaca puisi tidak selalu harus dipahami, kadang akupun juga hanya membaca karena puisinya terasa indah, tanpa harus memikirkan maknanya. Pemilihan katanya juga sangat puitis dan mungkin terkesan rumit, terkadang feelnya kaya lagi baca puisi Pak Sapardi.

Buat aku, Buku Tentang Ruang ini punya sihir sendiri yang bikin aku selalu keinget baitnya. Puisi favorit aku ada, Puisi Puisi Tanpa Judul, Satu Matahari, Menit, Seperti Biasa, Topografi, Buku Harian, Tentang Sebuah Rumah. Ada juga puisi simple dan menurutku lucu, di Hal Hal yang Wajar Hari Hari Ini.

Untuk orang-orang yang suka dengan puisi yang agak berat tapi nggak berat berat banget, aku rekomendasiin banget buku ini.
Profile Image for Limya.
97 reviews6 followers
December 23, 2020
Rasanya sulit untuk tidak memberikan bintang lima untuk antologi ini. Avianti Armand memang tidak menarik saya dengan Museum Masa Kecil, tetapi sukses membuat saya tersaruk dalam Buku Tentang Ruang ini.

Seperti namanya, buku ini memang tentang ruang-ruang. Sebagian besar dari mereka adalah ruang hampa yang belum pernah diisi, sebagian lainnya pernah diisi, ditinggal dengan atau tanpa sebab.

Suatu hari saya ingin membeli buku ini dan menyesap lebih dalam kata-kata di dalamnya. Suatu hari saya ingin membaca bentuk fisik dari buku ini dan menyembunyikan diri dalam ruang-ruang yang telah diciptakan.


Ruang Kosong
—Untuk Avianti Armand

puisi-puisi itu
meninggalkan aku dalam ruang kosong

hampa
tertinggal di udara

NB: Bagian favorit saya kebanyakan ada di bagian "Ruang yang Sebentar".
Profile Image for Innike Sumarni.
17 reviews
February 18, 2025
Aku suka cara Avianti Armand mengawinkan kata-kata dan menyoleknya sebegitu elok. Meskipun aku sedikit kesulitan menyelami hal tersirat di balik lautan kalimat itu. Barangkali karena aku sudah lama tidak menyentuh buku-buku puisi dan membahasnya bersama kawan. Atau, memang Avianti enggan terang-terangan dalam sajaknya? Entahlah, karena ini kali pertama aku membaca satu utuh karyanya.

Tiga kata buat buku ini: Apik, gelap dan pelik.

Salah satu penggalan puisi yang aku suka:

“Aku mencarimu.”

Hingga jauh. Hingga jatuh.
Seperti gema tubuhku terpental-pental
pada dinding dan menganggap
pada kaki goyah meja dan kursi
yang terserak di jam panjang yang kosong.

Apakah yang direnggut oleh perang selain hidup?




Profile Image for Aufa Shofi Iskarimah.
81 reviews14 followers
November 29, 2017
"Cinta," katamu,
"lebih baik tidak diucapkan.
Atau dia akan
lenyap."

Seperti biasa,
kita akan segera lupa
bahwa kita selalu pulang
pada luka
yang sama.

(Seperti Biasa)

Hmm. Jelas bukan puisi untuk saya. Terlalu sulit untuk saya mengerti (memang gak pandai baca puisi juga sih.) Tapi beberapa bait terasa sangat indah dan mengena. Suka juga dengan gambar dan tampilan bukunya yang sangat bersih dan rapi.
Profile Image for Dhia Awanis.
32 reviews31 followers
June 12, 2018
Kumpulan puisi yang cerdas, lugas, dan memiliki makna ambiguitas—yang menurut saya justru adalah bagian terkuat dari buku ini. Pembacanya dipbolehkan untuk memaknai tiap kata rangkaian puisi sesuai dengan perspektifnya masing-masing.
Profile Image for asih simanis.
211 reviews136 followers
December 9, 2018
This book was a delight. Avianti has such a sarcastic, lyrical , yet quiet voice that it will probably be interesting to see her work mature in the future. She definitely has the potential in being one of the great poets of Indonesian literature —says me, the amateur poetry lover.
Displaying 1 - 30 of 73 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.