Jump to ratings and reviews
Rate this book

Megamendung Kembar

Rate this book
Megamendung warna merah yang tersimpan di lemari itu adalah hasil dialog antara jiwa dan jemari Sinur dengan canting, malam, kain primisima, bara tungku, dan akar mengkudu. Memuat kisah rahasia tentang cinta terlarang, luka, perjuangan, sekaligus kepasrahan. Niat Sinur, rahasia lebih dari setengah abad itu akan dibawanya sampai mati.

Namun, Awie bukan cucu yang rela membiarkan kisah masa lalu yang tak tuntas itu menjadi rahasia selamanya. Apalagi ketika dia tahu ada batik serupa yang diperlakukan bagai benda keramat di tempat lain...

Yang membuat Awie bimbang, apakah mengungkap kisah Megamendung kembar itu akan memulihkan sebuah hubungan, atau justru merusak harmoni?

360 pages, Paperback

First published July 11, 2016

17 people are currently reading
109 people want to read

About the author

Retni S.B.

14 books105 followers
Lahir di Cirebon pada 22 Maret, suka sekali membaca buku. Tetapi dari sekian banyak buku yang dibacanya, buku-buku resep masakan dan kuelah yang paling membuatnya seolah kesetrum. Retni memang hobi masak, apalagi memasak untuk keluarga kecilnya yang telah membuatnya merasa menjadi perempuan istimewa.

Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (22%)
4 stars
61 (43%)
3 stars
38 (27%)
2 stars
9 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 56 reviews
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books461 followers
July 4, 2024
Udah pernah baca dulu banget, bukunya juga udah kujual. Tapi seingatku aku sangat menikmati buku ini, terutama pernak-pernik tentang batik cirebon.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
August 7, 2016
Lelah dengan pekerjaannya yang semakin menggila di Jakarta, Awie memutuskan untuk berlibur dan mengunjungi neneknya di Kalitengah-Cirebon selama seminggu. Sudah lama ia tak mengunjungi sang nenek. Apalagi tidak ada keluarganya yang tinggal bersama nenek, ia hanya tinggal bersama Mbak Tum, seorang ART yang dipekerjakan.

Di Kalitengah, Awie merasakan kerinduan neneknya akan perihal membatik. Neneknya dulu seorang pembatik yang mahir, tetapi semenjak kakek meninggal, nenek berhenti dari segala aktivitas membatik. Sayangnya, tak ada anak-anaknya yang melanjutkan kegiatan membatik tersebut.

Meskipun berhenti dari membatik, nenek masih memiliki banyak koleksi kain batik di lemarinya. Ketika ia memperlihatkan tumpukan kain tersebut kepada Awie, tanpa sengaja Awie melihat sebuah kain Megamendung yang amat menarik. Jika biasanya Megamendung berdegradasi warna tujuh macam, kain yang satu ini berdegradasi sembilan macam warna. Tentu bukan sembarangan orang bisa membuatnya, dan dilihat dari batikannya, kain ini jelas dibuat oleh nenek. Sayangnya, ketika Awie menanyakan perihal kain tersebut, nenek malah diam, membeku, mimik mukanya langsung berubah dan terlihat jelas ia tak mau membahas kain Megamendung tersebut.

Sebenarnya sejak lama Awie sudah tahu bahwa nenek memiliki ikatan khusus dengan batik-batiknya. Dulu nenek sering membatik sampai meneteskan air mata, entah mengapa. Dan kali ini rasa penasaran Awie makin menjadi setelah reaksi nenek terhadap kain Megamendung tersebut. Nenek menjadi murung, raut wajahnya menampakkan terluka, serta dia akan buru buru mengelak dan menyimpan kain tersebut. Yang lebih aneh lagi, Awie menemukan kain Megamendung serupa di sebuah toko batik tak jauh dari Kalitengah. Kain Megamendung tersebut dipajang dan terlihat jelas kalau kain tersebut dikeramatkan dan tidak dijual.

Mengapa bisa ada dua kain Megamendung yang sama persis? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh nenek?

Sebenarnya saya agak penasaran waktu membaca buku ini. Meski tahu kalau genrenya romance, saya masih berharap ada bumbu-bumbu misteri atau apalah gitu dalam ceritanya. Ternyata yaa, buku ini hanya bercerita tentang kisah cinta. Cinta yang mendua, pengharapan cinta, cinta dalam keluarga, intinya sih penuh dengan tema cinta. Sebagai seorang pembaca yang agak kurang dapat menikmati cerita tentang cinta, saya mulai khawatir, jangan-jangan buku ini nggak akan selesai saya baca.

Tapi ternyata, buku ini asyik dibaca. Ada suasana pedesaan yang kental dalam ceritanya. Mungkin karena penggunaan bahasa Cirebonan dalam dialognya, mungkin juga karena penulis cakap dalam mendeskripsikan latar cerita, baik tempat maupun unsur yang terkait dengannya. Misalnya dalam mendeskripsikan batik dan perlengkapan yang digunakan dalam membatik itu sendiri.

Diraihnya canting cecek lima. Diamatinya kelima lubang kecil tempat mengalirnya malam yang formasinya serupa lingkaran. Ini canting untuk isen-isen, mengisi area kosong dalam motif batik dengan lima buah titik.


Percakapannya sih lumayan asyik, gampang diikuti meski menggunakan bahasa daerah, tapi saya lebih menikmati deskripsi dalam novel ini. Jadi kayak ikut jalan-jalan ke Cirebon sana. Tapi memang alurnya lambat sih, dan agak membosankan juga karena kisah cinta si Awie agak-agak menyebalkan gitu. Mungkin karena di sini sosok Awie adalah wanita yang cuek, bebal, dan nggak peka sama kode kode cinta dari cowok. Padahal udah diseriusin, eh masih aja dianggap bercandaan ama dia. Beuh, pingin mites kepalanya kalau ketemu beneran deh.

Terus dalam buku ini juga ada kisah balik ke Indonesia di tahun setelah proklamasi, ketika Belanda menyerang kembali dengan Agresinya. Sebenarnya malah bagian ini yang saya suka, konfliknya kerasa banget dan penyelesaiannya juga nggak maksa kayak bagiannya Si Awie.
Yah kalau penasaran, baca aja sendiri yak XD

Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
August 17, 2016
Lelah dengan rutinitas pekerjaannya di Jakarta membuat Awie pulang ke kampung halamannya mengunjungi Mbah yang sudah lama tidak ditengoknya.
Mbah Awie adalah seorang pembatik di desanya pada zamannya. Usianya yang sudah tua tidak membuatnya lupa akan kecintaannya pada batik.
hal itu mengelitik Awie untuk menetap di desa dan mengurus Mbah. Biar perlu membantu usaha batik Mbah.

Di desa, Awie bertemu dengan teman masa kecilnya Is. Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Is jadi sering mengunjungi Awie di rumahnya. Selalu ada alasan Is agar dapat bertemu dengan Awie. Padahal Is sudah punya pacar di Bandung, dan karena kelakuan Is sering mengunjungi Awie menimbulkan gosip yang beredar tidak sedap di kampungnya. Awie dituduh perebut pacar orang.

Suatu hari saat Awie memutuskan keluar desanya untuk jalan-jalan sebentar sambil melihat-lihat industri batik yang sedang berkembang, Awie bertemu dengan suatu karya batik yang mirip sekali dengan buat Mbah. Mustahil ada pembatik yang mampu membuat sebuah karya mirip. Adakah hubungannya dengan Mbah?

Bagaimana akhirnya Awie dapat memecahkan misteri kisah masa lalu Mbah? Dan siapakah yang akhirnya Awie pilih menjadi pasangannya?

Saat pertama kali tau Retni SB menulis sebuah karya yang beda dengan karyanya sebelumnya, gue jadi penasaran dan langsung beli bukunya. Sinopsisnya menarik, tema yang diusung juga unik.

Penulis paham betul akan seluk beluk dunia batik dan penggambaran desa dalam cerita ini. Membaca kisah ini menambah info bagi pembaca yang sama sekali tidak tau seluk beluk dunia batik serta bahasa daerah. Penulis memberikan catatan kaki disetiap istilah asing yang digunakan.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga menjadi pihak yang serba tahu, penulis membawa kisah ini dengan alur maju mundur. Terdapat 3 bagian cerita yang tidak dapat dibaca sambil lalu, harus memerlukan konsentrasi lebih.

Hanya saja menurutku keputusan membuat 3 bagian alur dalam cerita ini kurang tepat. Aku pribadi, sebagai pembaca yang menggemari tulisan Retni SB dahulu, menjadi bosan membaca tulisan ini. Entahlah, mungkin karena banyak sekali istilah asing batik, bahasa daerah dan sejarah yang tidak aku mengerti.
dan seperti yang aku bilang sebelumnya, pembagian bagian dalam cerita ini memerlukan konsentrasi lebih saat membacanya, agar menjadi paham akan keutuhan cerita yang dibuat penulis.

Aku juga jadi tidak paham akan penggunaan sapaan Mbah. Dalam pikiranku Mbah juga mengindentikan sebagai kakek. Namun ternyata maksud penulis disini seorang nenek.

Penggunaan banyak sekali istilah dan catatan kaki yang menerangkannya benar-benar mengganggu dan membuat pusing. Karena sebentar-sebentar aku harus melihat arti istilah asing tersebut di catatan kaki. Hal yang benar-benar asing dan tidak mungkin aku baca sambil lalu, karena istilah itu menjadi bagian penting dalam cerita.

Narasinya panjang bener! Mungkin hal ini juga yang membuat aku mengantuk berkali-kali saat membacanya dan membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikan buku ini. Disetiap babnya penulis menggunakan narasi yang benar-benar panjang dan membosankan. Perbab nya juga panjang.

Lalu saat rahasia kisah masa lalu tokoh perlahan terbongkar juga dieksekusi begitu saja. Bikin kesel :/
aku memang kurang suka saat adanya penggambaran cewek memendam rasa sayang teramat sangat kepada seorang cowok, padahal dya sudah menikah. Entahlah, apakah zaman dulu atau kehidupan di desa hal itu dianggap wajar? Karena aneh aja, udah menikah tapi masih mencintai pria lain.

Hal itu diperparah dengan saat si tokoh mencapai usia tua. Si tokoh tetap mencintai sosok cowok masa lalunya. Padahal mereka dipertemukan saat keduanya sudah sama-sama tua. Dan anehnya lagi, keduanya mati barengan! Zzzzzz...

Endingnya juga berakhir begitu saja.

Sorry to say, tapi genre baru Retni SB ini kurang berkesan.
Profile Image for Annisa Rifka N.
10 reviews
April 25, 2022
Novel ini mengingatkan saya kepada Gadis Kretek sebab saya membaca Gadis Kretek terlebih dulu. Novel ini ternyata bukan hanya membuat saya manggut-manggut seperti bocah baru tahu istilah-istilah dunia batik, melainkan juga terheran dengan plot twistnya. Kisah cinta milik Sinur dan Musa saya yakin ada berjuta-juta dengan akhir kisah serupa; tetap mencintai dan memendamnya di dasar hati.
Profile Image for Amaya.
748 reviews58 followers
April 25, 2025
Capek dengan kehidupan di kantor, Awie memutuskan kembali ke rumah Simbah yang sudah lama tidak dikunjungi akibat sibuk bekerja. Ketika bertemu kembali dengan teman masa lalunya, Awie dilanda rasa ragu sekaligus takut. Usianya yang terbilang matang dan perhatian si teman membuat posisinya sulit. Dia dituduh merayu karena si lelaki punya pacar. Setidaknya itu yang Awie dengar, Is juga tidak pernah mengaku terang-terangnya soal statusnya.

Awie pulang dengan tujuan menemani Simbah dan diam-diam menelusuri jejak usaha membaik Simbah yang sudah lama ditinggalkan karena ketahanan tubuh tuanya. Ketika menunjukkan beberapa karya indahnya pada masa kejayaan, Awie melihat kain batin bermotif megamendung yang punya 9 lingkar(?). Agak menyalahi aturan dan tidak lazim. Ketika bertanya pada Simbah soal kain tersebut, Simbah terlihat tidak senang dan tidak menjelaskan apa pun.

Jawabannya Awie peroleh ketika mengunjungi salah satu showroom di daerah Simbah dan menemukan kain motif serupa dipajang dalam etalase dengan tulisan "not for sale". Mulai dari situ, mengalirlah semua cerita masa lalu dua kain bermotif megamendung kembar tersebut.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: kedatangan Awie, masa lalu Simbah (bernama SInur), dan kembali ke masa depan. Kupikir waktu masuk ke bagian masa lalu ini Awie sudah paham soal masa lalu neneknya. Ternyata belum. Jadi, semacam dipotong di tengah jalan cerita.

Cerita yang paling mengena ya masa lalu Simbah a.k.a Sinur. Ada banget sedih, gundah, sampai haru. Kesan jadulnya dapet banget, apalagi keadaan ekonomi masa itu serba susah.

Somehow agak iri sama kemampuan Sinur membatik. She puts her heart into it. Sampai nggak ngerti lagi gimana bisa waktu melakukan sesuatu tanpa terusik sama sekitar. Yah, mungkin juga karena masa lalu sih, ya. Cerita cinta terlarang yang bikin sakit hati pembaca (terutama aku). Paham banget konsekuensi mencintai orang yang sudah terikat pernikahan, yang salah pasti pihak perempuan. Oh, tepatnya pihak yang miskin ini, sih. Den Musa menurutku pantas merasa menderita, merana, you name it, soalnya udah bikin hidup Sinur jadi nggak tenang. Mana kemiskinan keluarganya menghimpit banget. Aku cuma baca kisah Sinur, tapi entah kenapa ikutan sesak tiap kali mereka mesti mencari kerjaan dengan upah seuprit demi bisa makan sesuap.

Bagian Awie sebenarnya kayak udah melebur gitu karena memang kisah Sinur lebih banyak ambil emosi di sini. Bisa dibilang memang sebagai pemanis gitulah. Sebel sih sama Is, tapi Awie juga sama aja agak nyebelin. Tapi lagi, paham kenapa Awie mendesak dan memutuskan buat menjauhi Is, karena memang posisinya nggak enak. Dia hidup di kampung yang mana masalah orang lain jadi masalah bersama.

Anyway, buku ini bakalan cocok banget bagi yang lagi cari bacaan soal sejarah, terutama soal batik membatik (esp. batik khas Cirebon). Kisah romansanya jangan ditanya, deh, kombinasinya maut banget. Bakalan diajak naik-turun gunung emosi pembacanya.
Profile Image for Yoyovochka.
312 reviews7 followers
July 7, 2024
Ulasan ini hanya opini pribadi, ya. Selera orang bisa beragam pastinya.

Jujur saya agak kecewa sama buku ini. Dibandingkan buku-buku Mbak Retni S.B. yang lain, yang ini hawanya bikin saya kesal gimana gitu. Padahal, biasanya saya suka sama tokoh-tokoh perempuan kuat di buku Mbak Retni. Kali ini, tidak. Kenapa? Karena ada unsur-unsur instalove alias cinta kilat dan cinta segitiga yang memang kurang mengena di hati saya.

Dari segi penulisan, diksi, dan pemilihan kata, saya pastinya selalu suka dengan gaya menulis Mbak Retni yang mengalir. Plus pengetahuan tentang batik yang nggak main-main. Pasti risetnya bagus, nih. Penokohan dan alur, terutama inti cerita bikin saya engap.

Saya sebal dengan tokoh Sinur dan Den Musa yang kurang jelas alasan sukanya. Ujug-ujug, cuma berbincang sebentar, sapa sekilas, langsung jatuh cinta sebegitu dalamnya sampai menyakiti orang-orang yang notabene ada lebih lama dalam kehidupan mereka. Serius, mereka bercakap-cakap cuma sebentar. Bukan yang punya hubungan kerja sama, interaksi yang lebih mendalam dan sejenisnya (kalau seperti ini saya maklumi mereka bakal ingat satu sama lain hingga ajal menjelang). Jadi, berbekal saling lirik, saling goda sekilas, dan mengobrol di pondok malam itu, Sinur sampai nggak bisa lupa sama sekali sama Den Musa ini. Saya bacanya sambil geleng-geleng kepala. Ini, sih, namanya hasrat. Saya pernah merasakan hal ini saat kuliah dan sudah, sudah menikah bayangan orang itu hilang tak berbekas, terutama yang interaksinya minim banget begini.

Menurut saya, Sinur sama Den Musa ini agak nggak tahu diri. Dan sayangnya, selingkuh batin begini diromantisasi. Maaf, saya nggak kenal toleransı sama perselingkuhan. Dari sudut pandang beberapa orang, mungkin kisah cinta kilat Sinur dan Den Musa ini 'kelihatan' romantis. Coba sedikit bayangkan dari sisi Lanang dan Den Hayu, masih bisa kalian bilang romantis? Saya rasa tidak. Raga bersama kita, pikiran dan hati melayang ke mana.

Tokoh Awie, Is, dan Wigie menurut saya juga kurang kuat. Bisa-bisanya Is menyalahkan Awie karena dia berpaling dari perempuan satu ke Awie. Yang saya agak kurang suka, penulis (mungkin karena perempuan) mengambil sudut pandangnya dari sisi perempuan yang merasa selalu benar:

- saat Lanang menuduh Sinur menangis karena Den Musa, entah kenapa Sinur yang lebih marah, dan di sini Lanang yang seolah-olah dibuat merasa bersalah, padahal memang benar Sinur lagi mengkhayalkan Den Musa. Dan kayaknya sedihnya sampai segitu banget. Bertahun-tahun pula!! Bayangkan perasaan Lanang sebagai suami yang sudah berkorban sejauh itu. Serius, deh, saya dikasih suami kayak Lanang yang bertanggung jawab dan pengertian, dibandingkan Den Musa yang bisa-sisanya melirik perempuan lain saat sudah punya istri, pasti saya luluh. Luluh dalam artian nggak bakalan nangisin orang kayak Den Musa lagi, selamanya. Apalagi sampai jadi embah-embah.

- ucapan Awie dalam hati soal Elis yang kurang sempurna karena tidak bisa menjaga hati Is ke satu orang saja. Hei! Kalau selingkuh itu ada dua pihak, mengapa Elis yang disalahkan, Is juga salah karena bermain api. Dan kelakuannya sumpah menurut saya red flag sekali. Dan bisa-bisanya Is menumpahkan kesalahan pada Awie, padahal Is sendiri yang kegatelan. Kok penjahat selingkuh menyalahkan pasangan selingkuhnya. Sama aja ibaratnya orang yang batal puasa dan menyalahkan makanan yang terhidang di depan matanya. Pengin saya cubit usus si Is deh..

Terlepas dari ketidaksukaan saya pada hal-hal di atas, saya lumayan suka sama gaya Mbak Retni menyentil kita sekilas dengan isu-isu aktual seperti toa masjid (hehe), main hakim sendiri, sampai soal bos-bos dan atasan beracun yang saya akui jumlahnya memang segudang di Jakarta. Plus kelakuan tetangga (terutama di wilayah pedesaan) yang hobi mengorek masalah orang lain seolah masalahnya sendiri belum cukup.

Meski begitu, buku setebal 300-an lebih halaman ini lumayan saya nikmati berkat penulisannya yang mulus, meski ceritanya kali ini tak mengena di hati saya. Mohon maaf jika pendapat saya menyinggung. Mungkin saya aja kali kurang senang sama karakternya hehe.
Profile Image for Amel  Armeliana.
509 reviews31 followers
February 3, 2020
⭐⭐⭐⭐ to Megamendung Kembar by Retni SB

Awie, seorang gadis yg sudah merasa tak nyaman dgn suasana kerja di Jakarta, memutuskan pindah ke kampungnya di Kalitengah, Cirebon dan meneruskan usaha batik neneknya, yg dia panggil Embah. Embah adalah seorang pembatik hebat tapi menyimpan rahasia masa lalu yg masih menyisakan cerita yg belum usai. Awie merasa terusik dgn kain batik megamendung yg disimpan rapat2 oleh Embah di lemarinya, tapi di suatu showroom batik terkenal, kain batik yg persis sama dipamerkan dgn penuh kebanggaan. Awie curiga ada rahasia yg tersimpan antara Kakek sang pemilik showroom dgn Embahnya dan Awie sangat ingin tahu rahasia apa yg sebenarnya yg mereka sembunyikan.
Bisakah Awie menyingkap rahasia masa lalu tersebut? Dan ada apa sebenarnya antara Embah dan Si Kakek?

Buku Mba Retni SB kesekian yg saya baca dan ini yg paling saya suka. Saya memang suka sekali dgn cerita yg mengulik rahasia2 masa lalu, apalagi berbau tradisional macam Megamendung Kembar ini. Setelah membaca buku ini rasanya jadi kepingin ke Cirebon, terutama ke Trusmi dan Kalitengah, desa2 penghasil batik yg diceritakan di buku ini. Tokoh Sinur, Den Musa dan Kang Lanang sangat berhasil menyita perhatian. Cinta yg terlarang, cinta yg tidak ingin menyakiti siapapun sehingga dibawa sampai mati. Sangat suka dgn cara bercerita Mba Retni di sini, jelas sekali penulis mengerti dgn obyek yg ditulisnya. Jadi tahu banyak ttg membatik dan istilah batik berkat buku ini. Recommended.
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
September 14, 2016
Novel ini menceritakan tentang Awie yang memutuskan untuk berpindah profesi menjadi pembatik seperti Neneknya.  Awalnya,  Awie sedang bermasalah dengan lingkungan kerjanya di Jakarta, guna melepaskan penatnya ia memutuskan utk menjenguk neneknya di Cirebon. Siapa sangka di Cirebon ia malah berganti haluan ingin menjadi seorang pembatik. Dan siapa sangka pula, disanalah Awie dipertemukan dengan Wigie dan Is.  Dua pria yg juga mencintai batik.

Suatu ketika,  saat sedang berjalan2 melihat2 di Toko milik Wigie,  Awie melihat batik Megamendung dengan 9 gradasi warna. Wigie bilang itu batik buatan Kakeknya yg tidak diperjualbelikan. Dan kebetulan motif batik itu sangat mirip dengan batik milik Nenek Awie. Siapa sangka di balik dua batik itu tersimpan cerita masa lalu yg tidak pernah dilupakan oleh kedua pemiliknya. Ini cerita cinta dua generasi yang masih berkaitan :)

Bagus.  Apik.  Kangenku dengan karya mb Retni terobati dengan karyanya yg satu ini. Walau narasinya cukup panjang,  walau ceritanya uda ketebak diawalnya. Tapi percayalah itu semua nggak mengurangi keasyikan saat membacanya proses yg dituliskan mb Retni.

Mba Retni jago dalam menjalin cerita. Ritme cerita. Diksinya apik. Tiap adegannya ditulis dengan baik,  manis, dan nggak berlebihan. Dan tetap romantis. Bikin senyum2 sendiri. Bikin hati kecut2 sendiri. Bikin terharu.  Ahhh.. Pokoknya bagus. Suka. Suka.  Suka.

Dan mba Retni tetep dengan ciri khas ceritanya. Wanita sederhana tanpa dilengkapi dengan asesoris merk2 ternama. Lelaki yang walaupun diceritakan kaya (tanpa embel2 merk mobil, dll) dan tampan,  tetap terkesan santai,  memukau dan bikin aku MELELEH. Intinya jalan cerita yg mb Retni suguhkan itu selalu mudah dijangkau oleh kaum sederhana macam diriku ini. Dan lebih mendekati realistis. Wis pokok e aku fans berat karyanya mb Retni!!!!

Aku menunggu karya mb Retni selanjutnya!! :)



*mohon maaf kalau komentarku banyak curhatnya. Tolong dimaklumi, aku lagi baper karena sekarang banyak banget cerita nggk masuk akal ttg lelaki muda (under 25) yg udah menjabat sebagai CEO beberapa perusahaan yg kena hubungan romantis dengan cewek yg tidak kaya (entah masih mahasiswa, entah bekerja sebagai OG, entah masih SMA)*
2 reviews
June 5, 2025
Alur cerita pembuka yang cukup klise "Seseorang yang rindu keluarga di kampung halaman", tapi aku suka sih dengan narasi perjalanan dia kembali ke Cirebon (Meski aku heran kok bisa ada orang yang cuti selama 7 hari, mana posisi dia bukan yang tinggi-tinggi banget). Mengenai seseorang bernama Awie.

Ada beberapa review lain yang bilang bosan karena narasinya terlalu detail dan panjang, tapi aku suka sih dengan narasi yang penulis buat, karena benar-benar menggambarkan tempat di sana (perjalanan Awie pulang ke Cirebon), suasana setiap kejadian. Apalagi juga dicampur dengan bahasa daerah (bahasa Cirebon).

Buku yang tentunya ditulis penuh dengan riset mendalam tentang batik dan kehidupan di desa, perhaps ada pengalaman pribadi penulis? Aku rasa buku ini cocok kalau dipakai sebagai bentuk promosi batik, tapi bagi demografi pembaca Young Adult, kenapa? karena ini adalah buku romance-(historical) fiction.

Ini bukan kisah romansa yang membuat pembaca kesengsem sendiri, karena ini adalah kisah cinta terlarang. Menurutku ini menarik untuk dianalisis dengan banyaknya faktor-faktor yang mendasari. Sebelum membicarakan tentang kisah cinta Nenek Awie, yaitu Sinur, ada banyak elemen dalam cerita yang perlu diperhatikan, jadi cerita cinta di buku ini bukan cuma ada sebagai buku yang "entertain" pembaca.

Banyak kritik yang dilontarkan oleh penulis,
Tentang perekonomian, masyarakat konservatif dan patriarkis
Kritik terhadap industri batik yang hanya mencari cuan, melupakan seni dari batik itu sendiri, alias kalau istilahnya sekarang "fast fashion", iya dengan batik printing bisa menghasilkan banyak pakaian dengan cepat dan dengan motif yang sesuai dengan tren di masyarakat, tapi kualitasnya? nilai seninya? minim.

Elemen historisnya bukan cuma sebagai "latar" yang ada begitu saja. Tetapi waktu pada masa itu sangat mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat (tetapi khusus di bagian 2 saja, karena di bagian 1 dan 3 kembali di zaman sekarang)

Sentimen kepada orang Cina, ketika krisis seperti ini yang mana keadaan rentan, maka memang pasti akan ditunjuk siapa kah yang sekiranya adalah pengkhianat, orang Cina memang sasaran empuk.

Tema besar buku ini, Batik.
Dalam membaca buku ini dan narasinya ketika membuat (dan membahas) batik,
it feels intimate, aku ikut merasakan kedekatan dan perasaan sentimental yang sama terhadap batik, seolah-olah proses membuat batik seperti mengasuh anak sendiri. Lalu juga dijelaskan dalam pabrik batik setiap orang punya job-nya masing-masing (mungkin nanti bakal lebih panjang lagi ttg bagian ini)

Tema besar kedua yang ga kalah penting, Perempuan.
Ini buku Retni SB pertamaku, tapi aku sempat liat di review lain kalau penulis ini memang suka (atau sering?) menulis karakter perempuan yang kuat. Dan ya, di buku ini karakter perempuannya memang kuat, kuat untuk hidup di tengah masyarakat yang sangat patriarkis.

Perselingkuhan (batin, i guess). Aku bisa membedakan yang mana "salah" dan mana yang "benar" dalam hal perselingkuhan seperti ini.
Kejadian antara Sinur-Den Musa, menurut pendapatku Sinur did nothing wrong :)
She is the victim. "Tapi Sinur juga ada perasaan ke Den Musa?" yes, tapi even kata psikolog (secara langsung ya bukan kutipan di medsos) perasaan suka itu tidak bisa dikontrol (ada atau tidaknya). Apa yang bisa kita kontrol? yes, tindakan kita. Mari kita ingat kembali apa reaksi Sinur ketika dia mulai menyadari bahwa timbul candu akan hadirnya Den Musa dalam pikiran dia. Ingat, Sinur hanya tenggelam dalam kebahagiaan (yang bercampur rasa bersalah dan khawatir) ketika dia memikirkan Den Musa, namun ketika bertemu Den Musa, Sinur berusaha sekuat jiwanya untuk bisa "menjaga jarak" dengan Den Musa, kita dinarasikan berkali-kali kalau Sinur "takut" untuk tiba-tiba berhadapan dengan majikannya, dia selalu terngiang-ngiang dengan "istri cantik" Den Musa dan juga petuah emaknya mengenai "buruh dan majikan tidak setara, wong cilik jangan berani macam-macam". Kenapa ketika didekati, diajak bicara, dan disentuh Sinur bergeming? Bukan karena Sinur menikmati semua hal ini (ya, samar-samar ada, namun ingat perasaan suka tidak bisa dikontrol begitu saja), tetapi mari kita perhatikan relasi kuasa antara Sinur dan Den Musa,
Selain itu, pemikiran bahwa perempuan harus lemah lembut, nrima (pasrah) juga masih sangat melekat terhadap pemikiran

Sinur sadar, bahwa mau bagaimana pun ia bersuara, tidak ada yang akan mendengar, siapa sih Sinur? hanya seorang buruh ngerengreng, mana mungkin seorang majikan tampan menggoda buruh dekil bau malam seperti dirinya, lalu Sinur juga perempuan "pasti" genit, kucing kalau ada ikan yang wanginya enak mana mungkin tidak menerkam, kan?
Seperti itu lah yang terjadi di buku itu.

Aku harap tidak ada pembaca yang memandang karakter Kang Lanang sebagai Pahlawan, sebagai tokoh laki-laki yang "idaman".
Memang, Kang Lanang "menyelamatkan" Sinur, tapi ingat, Lanang tetaplah laki-laki, meski dia emang tidak kasar, tidak banyak menuntut, dan lain-lain, dia tetap memiliki pola pikir patriarkis, yang dengan dipaparkan oleh penulis, salah satu contohnya, "Padahal perempuan ini sudah jadi istrinya, dia bebas menyentuhnya kapan pun dia mau, takkan disalahkan pula jika dia memaksa." (hlm 200) Sebenarnya kalimat ini masih samar, apakah ini kalimat dari narator itu sendiri atau narator memaparkan isi pikiran Lanang. Tetapi aku asumsikan sebagai pemikiran Lanang, dikarenakan dari perilaku Lanang lainnya, yang bisa dibilang manusiawi, yaitu ingin bersetubuh dengan Sinur. Begini, dia sudah tahu dari awal kalau Sinur sama sekali tidak ada perasaan kepadanya, menikah pun dengannya tetap dilaksanakan meski mulut Sinur tak mengucapkan sepatah kata pun pernikahan tetap terjadi meski Sinur menelan kenyataan pahit bahwa ia terpaksa tidak menolak pernikahan itu demi semuanya tidak kacau.

Lanang ini orangnya juga oportunis, menyelamatkan sekalian mendapatkan pasangan impiannya? atau mendapatkan pasangan impiannya sekalian menyelamatkannya?

"Sudah cukup dia bersabar selama ini" (hlm 237)
"Padahal apa yang sudah dilakukannya untuk Sinur selama ini? Dia selalu berjuang keras agar istrinya merasa senang." (hlm 238)

Iya, tapi sadar lah kalau Sinur dari awal ga ada perasaan sama kamu.

Beban Sinur sebagai anak perempuan pertama, tinggal di desa dengan masyarakat yang konservatif, masih percaya takhayul, patriarkis, hidup dalam keluarga miskin, berada di zaman (pasca) penjajahan, dan yang membuatnya diujung tanduk adalah, dianggap sebagai pelakor.

Sinur dalam pernikahannya, bukan dia yang perlahan cinta kepada Lanang, tetapi dia secara terpaksa me-mati rasa-kan rasa yang sesungguhnya dia miliki, dia mengubur apa yang dia sebenarnya inginkan, oleh karena rasa bersalah kepada orang yang "menyelamatkan" dia. Sinur tidak punya pilihan (alamak aku kasihan kepada Sinur :<). Sinur masih punya perasaan dan sering terbayang Den Musa bahkan setelah 2 tahun pernikahannya.

Sebagai anak perempuan sulung yang jadi tulang punggung ketiga keluarga, yang terus dituntut orang tuanya berbagai macam hal, seperti uang dan permintaan untuk segera menikah, dia sudah terbiasa segala hal dibebankan kepadanya, jadi ketika dia terlewat atau gagal memenuhi suatu hal yang dia anggap sebagai kewajibannya, dia merasa sangat bersalah. Dia lebih baik manut dan nerima saja dibanding membuat perkara dengan orang lain.

"Dia sangat biasa." (hlm 241)

"Lihat, apa yang sudah diberikan Sinur kepadanya. (...) Bahwa Sinur sudah menyerahkan jiwa dan tubuhnya hanya kepadanya, bukan kepada Den Musa!" (hlm 249)

[to be continued]
Profile Image for Catz Tristan.
20 reviews2 followers
September 12, 2016
suka dengan cara-cara Ante Retni menyelipkan sindiran untuk hal-hal yang terjadi belakangan ini di Indonesia. Tenggang rasa, prasangka buru serta main hakim sendiri.

^^
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
May 17, 2025
Rasa ingin tahu saya terhadap karya-karya dari para pengarang tanah air yang menulis dengan jiwa dan suara tempatnya tumbuh, membawa saya pada lembar-lembar awal Megamendung Kembar karya Retni S. B. Bukan sekadar dorongan untuk menikmati kisah, melainkan kehendak untuk memahami sejauh mana bahasa Indonesia dapat menjadi alat untuk menyuarakan rasa, menyimpan sejarah, dan membentangkan budaya dalam bentukan yang puitis namun tetap mengandung daya gugat.

Dari halaman-halaman pertama, saya disambut oleh keindahan diksi yang terpilih dan berlapis makna. Ada kesungguhan dalam merangkai kata, dan ada pula kepiawaian dalam menyulam suasana. Novel ini menyajikan bahasa sebagai pengalaman, bukan sekadar kendaraan. Saya menemukan kembali kekayaan leksikal yang telah lama tersisih dari keseharian, dan dari situlah rasa hormat saya kepada penulis mulai tumbuh.

Namun keindahan kata tidak selalu seiring dengan keutuhan bentuk. Ketika alur cerita mulai berkembang, saya sempat terperangkap dalam kebingungan akibat pergantian waktu dan sudut pandang yang tidak dibingkai secara terang. Perpindahan dari masa kini ke masa lalu, dari satu tokoh ke tokoh lainnya, kerap terjadi mendadak tanpa transisi yang cukup. Meski kemudian saya menyadari bahwa alur cerita memang dibangun secara maju-mundur, kesan awal itu tetap menyisakan gangguan dalam kenikmatan membaca.

Novel ini mengambil batik Megamendung sebagai poros makna, bukan hanya sebagai benda budaya, melainkan sebagai lambang dari pergulatan batin, luka sejarah, dan identitas yang terbelah. Cirebon, tempat asal motif batik itu, tidak sekadar menjadi latar geografis, tetapi medan dari ingatan kolektif dan kesaksian zaman. Tahun 1948 dijadikan titik penting, masa ketika kemerdekaan belum sepenuhnya berwujud dan tanah ini masih diguncang pemberontakan serta persekongkolan politik yang mengguncang harga diri bangsa.

Lebih jauh, tema yang diangkat tidak berhenti pada perkara sejarah dan budaya. Dalam kisah ini, rasa mengendap di antara dua jiwa yang telah disekat oleh takdir. Seorang lelaki, yang sejatinya telah bersandar pada pohon pilihannya, masih juga bernafsu memetik bunga dari dahan lain. Dan perempuan yang satu pun, entah karena cinta atau keraguan pada dirinya sendiri, tidak menampik, malah menyimpan harum bunga itu dalam dadanya. Saya pribadi tak dapat menerima jalan cinta yang demikian. Namun bicara soal cinta sejati dan nafsu belaka, benarkah kita mampu membedakan keduanya saat keduanya menyamar dalam wujud yang sama mengelabunya?

Selain itu, entah mengapa saya merasa kesal kepada tokoh-tokoh lelaki dalam kisah ini, Musa dan Is misalnya, dua di antara yang terus-menerus menampakkan sikap yang tak henti-hentinya mengusik. Sikap dan pandangan mereka sungguh membuat dada ini tak nyaman hingga membuncah menjadi amarah yang tak tertahankan.

Mungkin karena latar yang diangkat adalah masa lampau, penulis menempatkan dalam jiwa tokohnya pandangan-pandangan yang lazim pada zaman itu. Salah satunya adalah keyakinan bahwa seorang perempuan belum dikatakan menjadi perempuan seutuhnya sebelum menimang anak. Pikiran seperti ini, sungguh, adalah hal kelam yang tak patut diwariskan. Sejak dulu, beratus pandangan sempit mengotak-ngotakkan perempuan, menjerat dan mengurungnya dalam belenggu yang tak tampak, bahkan hingga kini sering menampakkan diri dalam rupa baru. Pandangan seperti ini harus kita tinggalkan jauh-jauh, karena ia merendahkan kemanusiaan dan martabat perempuan. Namun saya memahami bahwa penulis mungkin bermaksud menggambarkan Sinur sebagaimana realita lingkungan dan zamannya, yang membentuk cara pikirnya demikian.

Secara keseluruhan, dari sisi bangunan cerita, saya menilai penulis menunjukkan kesungguhan dalam merangkai konflik, membangun ketegangan, dan menghadirkan dunia yang hidup dan bernapas. Namun akhir cerita bagi tokoh seperti Awie dan Sinur terasa kurang memuaskan, belum mencapai harapan yang saya sandang. Terlebih bagi Awie, saya merindu akhir yang lebih.

Meski begitu, saya merekomendasikan buku Megamendung Kembar karya Retni S. B. kepada siapa pun yang ingin merasakan bagaimana kata-kata mampu membungkus sejarah, rasa, dan luka dalam motif yang tak lekang oleh masa. Saya pun menanti dengan penuh harap diskusi-diskusi mendalam yang mungkin akan membuka cakrawala baru. Karena sesungguhnya, pandangan manusia berbeda-beda, dan dari sanalah saya percaya pembelajaran hakiki akan hadir, melengkapi apa yang mungkin luput dari pengamatan saya semasa menikmati karya ini.
Profile Image for Deasy.
164 reviews
December 3, 2020
Buku ini keren, termasuk salah satu buku yang 'berani' mengambil tema historical romance Indonesia, walau keputusan penulis untuk mengambil 2 cerita dalam 1 buku agak sedikit mengganggu buat saya.
Kenapa saya bilang ada 2 cerita dalam 1 buku? Karena buat saya, agak sedikit blur, ini buku cerita tentang Awie, atau cerita tentang si mbahnya.
Kalau saya lebih cenderung bilang, buku ini sebenernya lebih berat ke cerita tentang si mbahnya. karena cerita tentang beliau lebih dalam daripada cerita tentang Awie.
Well, ga ada yang salah sih, mau cerita yang mana pun juga, cuman pengambilan cerita 2 kisah ini yang menurut saya bikin buku ini serasa terlalu 'penuh'. kalau menurut saya banyak sisi Awie yang yang terekspolore dengan baik saking kepenuhannya. jadi pas part ke 3, menurut saya terlalu tergesa gesa ga sedetail part ke 2, kisah tentang mbahnya.
Kenapa yah, kalau saya lebih suka kalau kisah Awie dipakai cuman buat intro aja, ga usah mendetail tapi bikin plotnya tergesa gesa gitu. mungkin kalau part kisah Awienya diringkas, bisa bikin kisah si mbahnya jadi lebih detail lagi, ga kecepetan juga.
but after all, bagus kok bukunya.... ^.^
Profile Image for cher.
107 reviews1 follower
May 25, 2022
Mengangkat genre historical-romance, patut diakui, novel ini kerasa banget 'tradisional' nya saat dibaca. Penjelasan tentang dunia per-batik-an dideskripsikan dengan sangat jelas menggunakan pemilihan kata yang enak dibaca bangettt!! Dalam tulisannya, beliau juga seolah-olah menyelipkan sarkasme untuk menyindir oknum-oknum tertentu. Tapi menurutku, buku ini rasannya seperi agak dipaksakan (?) karena ada dua lovestory yang berbeda di buku ini (di masa kini dan masa lalu) yang kurang kena aja gitu klimaksnya. Main conflict nya sama-sama tentang love triangle.... which is not really my fav.

Well, it took me a little long to finally managed to finish this book karena jujur aja buku nya agak sedikit terlalu spesifik sehingga gampang bikin bosen. Apalagi jumlah halamannya yang tergolong cukup banyak (hampir 360 halaman) dan ditambah dengan font tulisan yang sedikit kecil ngebuat jadi males baca. Must admit, even though it's poetic and beautifully written, it still managed to put me in a short-term-reading-slump. Overall, it was ok. Cocok buat kalian yang lagi nyari referensi bacaan historical romance!

Profile Image for Aro~.
241 reviews9 followers
April 6, 2021
Alih-alih tertarik dengan kisah Awie-Is-Wigie, aku justru lebih tertarik dengan kisah Sinur-Lanang-Musa.

Kisah cinta segitiga beda masa itu begitu terasa bedanya. Tapi sejujurnya, aku sedikit bingung dengan penempatan kisah Sinur-Lanang-Musa yang ditempatkan di tengah-tengah. Meski diceritakan, kisah Sinur-Lanang-Musa terasa tak menyatu dengan kisah Awie-Is-Wigie. Seolah-olah ia berdiri sendiri sebagai cerita lain.

Usaha Awie untuk mengungkapkan kisah di balik megamendung kembar yang dimiliki Embah dan Kakek tak menunjukkan kemajuan berarti-setidaknya menurutku. Alih-alih diceritakan melalui usaha Awie, pembaca justru mendapatkan sajian lengkap tentang kisah Embah begitu saja. Entah kenapa itu membuatku kurang nyaman. Karena seolah-olah kisah Sinur-Lanang-Musa tak terkait dengan kisah Awie-Is-Wigie
Profile Image for Diannanda Eka Yuniar.
7 reviews
January 15, 2023
Jadi ini tuh bukunya terdiri dari 2 cerita. Yang pertama ceritanya Awie, Is dan Wigie, yang kedua ceritanya Sinur, Musa dan Lanang.

Semuanya berawal dari Awie yang pulang ke cirebon untuk jenguk mbahnya, Sinur, yang dulu merupakan seorang pembatik, jadi beliau punya satu kain baik motif megamendung 9 gradasi yang mana menyalahi pakem (harusnya 7 gradasi).
Nah satu waktu, Awie lihat ada kain batik dg motif, warna dan gradasi yang sama persis dg punya embahnya.
Kemudian ceritanya flashback ke masa embahnya muda, cerita hidup embahnya berputar antara Musa dan Lanang.

Aku sebenernya lebih suka cerita antara Sinur, Lanang dan Musa mungkin karena flashback dan jadi kunci cerita buku ini jadi kisahnya diceritakan dg runtut, kalau cerita tentang Awie, Is dan Wigie terkesan terburu-buru dan dipaksakan.

Jujur aku kurang sreg sama endingnya karena menurutku agak dipaksakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Freyja.
261 reviews10 followers
July 17, 2023
I'm sorry. It just irks me that Sinur was only SIXTEEN when her older EMPLOYER keeps flirting with her despite the fact that he was already MARRIED. She was sane enough to avoid him but this man-who's-hinted-to-be-10-years-older-than-her INSISTED on making a move on her until they were caught by the wife, and of course Sinur was the one to blame. I wouldn't think too much about it if they had taken this opportunity to make a social commentary about the huge power imbalance and how society shamed women on things beyond their control, but no, this book tried so hard on writing them as the most tragic romance ever.

I still enjoyed the parts about batik, the author did a great and thorough job on understanding and conveying it in their narrative. It's good to know that there are still people who care so much about this art. Thank you again to Kak Merma for the gift<3
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ayanapunya.
338 reviews13 followers
July 4, 2017
Karena merasa rindu pada sosok sang nenek, Awie memutuskan cuti dari pekerjaannya di Jakarta dan mengunjungi neneknya yang tinggal di Cirebon. Saat berada di rumah sang nenek, Awie tanpa sengaja menemukan sebuah koleksi batik megamendung dengan motif yang tak biasa. Nenek Awie dulunya memang merupakan seorang pengrajin batik yang sudah menghasilkan karya-karya indah. Anehnya, saat ditanyakan perihal batik megamendung ini sang nenek malah terlihat menghindar. Hal ini tentu saja membuat Awie penasaran. Rasa penasarannya kemudian bertambah saat kemudian menemukan batik bermorif sama di sebuah showroom batik besar di daerah Cirebon. Awie yakin ada sebuah rahasia yang tak ia ketahui berkaitan nenek dan usaha batiknya.
Profile Image for perwitasari.
9 reviews
December 20, 2021
Buku ini punya sensasi yang berbeda dibandingkan buku lain yang pernah kubaca. Sensasi tradisional yang khas banget kurasa. Dan karena ada kisah sejarah di dalamnya, makin membuatku suka dengan buku satu ini.

Saat membaca kisah sang nenek, aku ngerasa hangat sekaligus sedih aja bawaannya. Bau malam yang dicairkan di atas wajan kecil juga asap kompor minyak bisa mencapai penciumanku. Kesan yang ditinggalin buku ini kuat banget di ingatanku. Apalagi soal batik mega mendungnya.

Unik banget. Walau nangis pas baca, tapi itulah kekuatan buku ini. Rasanya pas baca ada hawa tenang dari rumah nenek yang hanya bisa didapat pas pulang kampung atau ke desa tiap hari raya.
Profile Image for Harum IP.
87 reviews
January 12, 2022
akhirnya selesai jugaaaa. jujur novel ini pace-nya lambat banget-nget, ditambah adanya kesibukan + kena sindrom males baca, jadi butuh waktu lebih lama dari biasanya buat nyeselesaiin novel yg cuma 300-an halaman ini.

ceritanya oke, seru, apalagi ini tema yg belum pernah aku punya di koleksi perpusku, jadi bisa nambah pengetahuan tipis-tipis tentang batik. tapi yg bikin novel ini menarik (walau lambat) adalah gaya penulisannya. ya ampun bagus banget dah penggunaan kosakata bahasa Indonesia-nya di sini. runut, teratur, pelan tapi pasti. rasanya kayak sesuai sama tema & background sejarah yg diangkat.
Profile Image for Ana  Fitriana.
160 reviews32 followers
January 15, 2018
3,5🌟/5😆🌟
Aku menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk. Sempat menangis dengan hati yg rasanya nyeriiii banget. Turut sedih untuk Embah Sinur-Den Musa-Kang Lanang. Iya, aku selebay itu kalau nemu buku yg bagus. Bisa terlalu menghayati sampe lupa masalah sendiri😂
Buat aku, tulisan kak Retni tuh "jujur".Caranya bercerita itu loh yg bikin jatuh cinta. Tulus dan dengan kerendahan hati. Nggak nemu deh kesan menggurui atau kesombongan terselubung. Itu yang bikin aku betah baca buku-buku beliau. Sederhana dan ngerasa nyaman.
Profile Image for pat.
65 reviews2 followers
December 25, 2023
Wow ternyata selesai sebelum tutup tahun, walaupun dengan dipaksa haha.

I'd say the only (two) things that impressed me tuh cuman batik dan kisah Sinur–Den Musa–Kang Lanang. Sisanya cuma kisah cinta muda-mudi jamet, dengan lelaki bangsat alias si Is.

Haduh, sumpah deh Is adalah alasan kenapa aku kasih rate buku ini 3/5. He's jerk. Walaupun dia bukan main characternya tapi kayak slsksjshsg. How could he blame Awie for his own decision for leaving Elis??? Terus Awienya masih mau-mau aja lagi sama si Is yaelah... malu sama Kang Lanang lah Is...
Profile Image for Valerie.
75 reviews
October 16, 2024
this is honestly so absurd. i thought this is gonna be historical fiction and i was so happy bc the storyline was close enough like gadis kretek. i thought this book could helped me to dig deep about batik TURNS OUT, ending nya malah menitikberatkan di romance dan kisah den musa sama mbah and what happened to them ngga dibahas lg. what happened sm toko nya?? and megamendung nya?? what happened to suami mbah?? seeing awie and is tgt is expected but i didnt expect that it’s gonna be the ending, and plus, it’s wack.

This entire review has been hidden because of spoilers.
20 reviews3 followers
December 5, 2016
Aku bingung mau review apa. Yang jelas, ini novel bagus pake banget. Ceritanya membumi, tokoh-tokohnya pas, gak ada yang too good too be true. Gaya bahasanya mudah dimengerti, plotnya jelas dan pas. Konfliknya bagus, mengangkat kisah cinta dipadukan dengan latar budaya setempat yang membuatku jadi pengen pulkam hehehe...
Profile Image for Novie.
46 reviews
July 13, 2018
Saya terkecoh. Saya pikir ini hanya buku romantis biasa yang ceritanya ringan dan bisa ditebak akhir ceritanya. Nyatanya, buku ini menculik saya demikian dalam dan tidak mau dibebaskan. Baca deh. Nanti bisa merasakan sendiri. (review macam apa ini? hahahhaaa). Terima kasih Mbak Resti, sudah menulis novel yang indah ini. Saya suka, saya suka! 😊
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
August 8, 2018
Seru bangeeetttt novelnyaaaa!
Ceritanya kerasa nyata banget. Perasaan campur aduk dibuatnya. Kadang kesel, sedih, gregetan, sampe 'yampun kenapa sampe kayak gitu siih'. Seru alurnya, dibikin bingung mau ngedukung si Awie sama siapa, Sinur sama siapa. Keren si, gak terlalu ketebak alurnya karena dibikin banyak pilihan dan kemungkinan gitu.
Profile Image for Anisa Fadilah.
33 reviews2 followers
November 28, 2019
Semenarik itu bukunya :) Penggunaan bahasanya sangat santai dan berhasil membuatku tidak melewati satu katapun, bahkan sejak halaman pertama.
Penceritaan penulis tentang Sinur, mampu membuatku merasa melihat langsung tiap kejadiannya.
Pada akhirnya, buku ini bercerita tentang kisah cinta yang dibalut 'warisan budaya' membatik yang diceritakan dengan cukup membumi.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
October 8, 2020
Ketika tak sengaja melihat buku ini di area obralan, saya langsung tertarik. Harganya memang tidak termasuk harga obralan yang bisa membuat melonjak-lonjak, tapi saya yakin isinya sangat sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Dugaan saya tak salah!
Buku yang tak ingin diletakkan jika belum tamat kisahnya
https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Profile Image for Rika Meliana.
4 reviews
June 1, 2021
Kisah sinur dan musa yang diceritakan dengan sangat apik. Saya sangat senang dengan bagaimana alir cerita ini yang tidak tergesa-gesa dan bisa sampai pada pembaca dengan baik. Saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca diwaktu luang saat kalian suntuk dengan pekerjaan karena ceritanya sangat ringan.
Profile Image for Emma.
8 reviews1 follower
August 8, 2021
Latar yang kental dengan budaya jadi lirikan pertama saat membaca buku ini. Menjadikan kisah romantis yang apa adanya tapi penuh dengan makna dan seyogyanya dalam memilih teman hidup. Canting dan malam yang terukir di kain primisima jadi saksi kisah haru.
Displaying 1 - 30 of 56 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.